Berisi tentang kesimpulan terhadap permasalahan yang telah dibahas serta memberikan saran yang bermanfaat.
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
BAB II
TINJ AUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Perancangan, Pengembangan dan Inovasi Produk. 2.1.1 Perancangan Pr oduk.
perancangan produk adalah suatu kegiatan yang dimulai dari timbulnya persepsi bahwa ada kesempatan di pasar, dan berakhir dengan produksi, penjualan, dan pengiriman produk. Perancangan dan pembuatan produk merupakan bagian yang sangat besar dari kegiatan teknik yang ada. Perancangan adalah kegiatan awal dari suatu rangkaian kegiatan dalam proses pembuatan produk. Dalam tahap perancangan tersebut dibuat keputusan-keputusan penting yang mempengaruhi kegiatan-kegiatan lain yang menyusulnya. Diantara keputusan penting tersebut, termasuk keputusan yang membawa akibat apakah industri dalam negeri dapat berpartisipasi atau tidak dalam suatu pembangunan proyek (http://vercomfo.blogspot.com/perancangan-produk-design-product.html).
Perancangan produk merupakan sebuah langkah strategis untuk bisa menghasilkan produk-produk industri yang secara komersial harus mampu dicapai guna menghasilkan laju pengembalian modal. Dalam bentuk yang paling sederhana, hasil rancangan dapat berupa sebuah sketsa atau gambar sederhana dari produk yang akan dibuat, namun tetap pada konsep yang menyangkut pemilihan dan perhitungan kekuatan material, toleransi dan standard kualitas yang harus dicapai, dan sebagainya, yang kesemuanya akan sangat menentukan kualitas dan reliabilitas produk untuk memenuhi tuntutan sehingga spesifikasi teknis yang
diharapkan seperti kenyamanan dan kelayakan operasional dari sebuah produk dapat di capai (http://www.its.ac.id/sritomo-ie-Ergonomi Rancangan Produk.pdf). 2.1.2 Pengembangan Pr oduk.
Pengembangan produk merupakan usaha meningkatkan mutu dari barang atau jasa dan penemuan barang atau jasa baru yang akan menambah kepuasan konsumen. Dari pengertian pengembangan produk tersebut tampak sekali bahwa segala bentuk barang dan jasa yang dihasilkan selalu berkaitan dengan kepuasan konsumen. Agar proses pengembangan produk dapat berjalan secara tepat dan akurat yang sesuai dengan keinginan konsumen dalam menunjang kelancaran usaha pada perusahaan maka diperlukan suatu biaya yang maksimal, sehingga ada pemisahan yang jelas antara biaya pengembangan produk dengan biaya volume penjualan (Prasetyo, Yoanda Dwi. 2012).
Tujuan perusahaan dalam mengembangkan produk adalah agar dapat memenangkan persaingan terhadap barang sejenis, sehingga volume penjualan dan laba perusahaan dapat meningkat serta perusahaan dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya dan dapat memperluas usahanya. Pengembangan produk dapat pula dilakukan dengan cara memperbaiki produk yang sudah ada (modifikasi produk), perbaikan produk yang sudah ada dilakukan dengan cara: perbaikan mutu/kualitas, perbaikan segi/feature baru, dan perbaikan corak/motif. Disamping menciptakan produk yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan konsumen, perusahaan juga menciptakan suatu strategi pengembangan produk (http://tdi_437_handout_disain_produk.pdf.).
2.1.3 Inovasi Pr oduk.
Menurut etimologi, inovasi berasal dari kata innovation yang bermakna ‘pembaharuan; perubahan (secara) baru’. Inovasi adakalanya diartikan sebagai
penemuan, tetapi berbeda maknanya dengan penemuan dalam arti diskoveri atau invensi. Diskoveri mempunyai makna penemuan sesuatu yang sesuatu itu telah
ada sebelumnya, tetapi belum diketahui orang; contohnya penemuan benua Amerika. Sebenarnya, benua Amerika sudah ada sejak dahulu, tetapi baru ditemukan pada tahun 1492 oleh orang Eropa yang bernama Columbus. Invensi adalah penemuan yang benar-benar baru sebagai hasil kreasi manusia; contohnya teori belajar, mode busana, dan sebagainya. Inovasi adalah suatu ide, produk, metode, dan seterusnya yang dirasakan sebagai sesuatu yang baru, baik berupa hasil diskoveri atau invensi yang digunakan untuk tujuan tertentu (Prasetyo, Yoanda Dwi. 2012).
Pengertian inovasi tidak hanya terbatas pada benda atau barang hasil produksi, tetapi juga mencakup sikap hidup, perilaku, atau gerakan-gerakan menuju proses perubahan di dalam segala bentuk tata kehidupan masyarakat. Jadi, secara umum, inovasi berarti suatu ide, produk, informasi teknologi, kelembagaan, perilaku, nilai-nilai, dan praktik-praktik baru yang belum banyak diketahui, diterima, dan digunakan/diterapkan oleh sebagian besar warga masyarakat dalam suatu lokalitas tertentu, yang dapat digunakan atau mendorong terjadinya perubahan-perubahan di segala aspek kehidupan masyarakat demi terwujudnya perbaikan mutu setiap individu dan seluruh warga masyarakat yang bersangkutan (Prasetyo, Yoanda Dwi. 2012).
2.2 Ergonomi
2.2.1 Sejar ah dan Per kembangan Er gonomi
Istilah "ergonomi" mulai dicetuskan pada tahun 1949, akan tetapi aktivitas yang berkenaan dengannya telah bermunculan puluhan tahun sebelumnya (Nurmianto, Eko. 2003). Beberapa kejadian penting sebagai berikut:
1. C.T. Thackrah, England., 1831.
Thackrah adalah seorang dokter dari Inggris/ England yang meneruskan
pekerjaan dari seorang Italia bernama Ramazzuu, dalam serangkaian kegiatan yang berhubungan dengan lingkungan kerja yang tidak nyaman yang dirasakan oleh para operator ditempat kerjanya. la mengamati postur tubuh pada saat bekerja sebagai bagian dari masalah kesehatan. Pada saat itu Thackrah mengamati seorang penjahit yang bekerja dengan posisi dan dimensi kursi, meja yang kurang sesuai secara anthropometri, serta pencahayaan yang tidak ergonomis sehingga mengakibatkan membungkuknya badan dan iritasi indera penglihatan. Disamping itu juga mengamati para pekerja yang berada pada lingkungan kerja dengan temperatur tinggi, kurangnya ventilasi, jam kerja yang panjang, dan gerakan kerja yang berulang-ulang (repetitive work).
2. F. W. Taylor, U.S.A., 1898.
Frederick W. Taylor adalah seorang insinyur Amerika yang menerapkan
metoda ilmiah untuk menentukan cara yang terbaik dalam melakukan suatu pekerjaan. Beberapa metodanya merupakan konsep ergonomi dan manajemen modern.
3. F .B. Gilberth, U.S.A., 1911.
Gilbreth juga mengamati dan mengoptimasi metoda kerja, dalam hal ini lebih
mendetail dalam Analisa Gerakan dibandingkan dengan Taylor. Dalam bukunya Motion Study yang diterbitkan pada tahun 1911 ia menunjukkan bagaimana postur membungkuk dapat diatasi dengan mendesain suatu sistem meja yang dapat diatur naik-turun (adjustable).
4. Badan Penelitian untuk Kelelahan Industri (Industrial Fatigue Research Board), England, 1918.
Badan ini didirikan sebagai penyelesaian masalah yang terjadi di pabrik amunisi pada Perang Dunia Pertama. Mereka menunjukkan bagaimana output setiap harinya meningkat dengan jam kerja per hari-nya yang menurun. Disamping itu mereka juga mengamati waktu siklus optimum untuk sistem kerja berulang (repetitive work systems) dan menyarankan adanya variasi dan rotasi pekerjaan.
5. E. Mayo dan teman-temannya, U.S.A., 1933.
Elton Mayo seorang warga negara Australia, memulai beberapa studi di suatu
Perusahaan Listrik yaitu Western Electric Company, Hawthorne,Chicago. Tujuan studinya adalah untuk mengkuantifikasi pengaruh dari variabel fisik seperti misalnya pencahayaan dan lamanya waktu istirahat terhadap faktor efisiensi dari para operator kerja pada unit perakitan.
6. Perang Dunia Kedua, England dan U.S.A.
Masalah operasional yang terjadi pada peralatan militer yang berkembang secara cepat (seperti misalnya pesawat terbang) harus melibatkan sejumlah
kelompok interdisiplin ilmu secara bersama-sama sehingga mempercepat perkembangan ergonomi pesawat terbang. Masalah yang ada pada saat itu adalah penempatan dan identifikasi untuk pengendali pesawat terbang, efektifitas alat peraga (display), handel pembuka, ketidaknyamanan karena terlalu panas atau terlalu dingin, desain pakaian untuk suasana kerja yang terlalu panas atau terlalu dingin dan pengaruhnya pada kinerja operator.
7. Pembentukan Kelompok Ergonomi.
Pembentukan Masyarakat Peneliti Ergonomi (the Ergonomics Research
Society) di England pada tahun 1949 melibatkan beberapa profesional yang
telah banyak berkecimpung dalam bidang ini. Hal ini menghasilkan jurnal (majalah ilmiah) pertama dalam bidang Ergonomi pada Nopember 1957. Perkumpulan Ergonomi Internasional (The International Ergonomics
Association) terbentuk pada tahun 1957, dan The Human Faktors Society di
Amerika pada tahun yang sama. Di samping itu patut diketahui pula bahwa Konperensi Ergonomi Australia yang pertama diselenggarakan pada tahun 1964, dan hal ini mencetuskan terbentuknya Masyarakat Ergonomi Australia dan New Zealand (The Ergonomics Society of Australia and New Zealand). 2.2.2 Definisi Ergonomi
Ergonomi atau ergonomics (bahasa inggrisnya) sebenarnya berasal dari kata Yunani yaitu Ergon yang berarti kerja dan Nomos yang berarti hukum. Dengan demikian ergonomi dimaksudkan sebagai disiplin keilmuan yang mempelajari perancangan mesin dan peralatan yang mempertimbangkan manusia sebagai pembuat dan penggunanya (Wignjosoebroto, Sritomo. 2000). Istilah
ergonomi lebih populer digunakan oleh beberapa Negara Eropa barat. Di Amerika istilah ini biasa disebut dengan human factors engineering atau human
engineering. Demikian pula ada banyak istilah lainnya yang secara praktis
mempunyai maksud yang sama seperti Biomechanis.Bio-technology, Engineering
Psychology atau Arbeltswissensschaft (Jerman). Disiplin ergonomi secara khusus
akan mempelajari keterbatasan dari kemampuan manusia dalam berinteraksi dengan teknologi dan produk-produk buatannya. Disiplin ini berangkat dari kenyataan bahwa manusia memiliki batas kemampuan baik jangka pendek maupun jangka panjang pada saat berhadapan dengan keadaan lingkungan system kerjanya yang berupaperangkat keras (mesin, peralatan kerja dll) dan atau perangkat lunak (metode kerja, system dan prosedur, dll). Dengan demikian terlihat jelas bahwa ergonomi adalah suatu keilmuan yang multidisplin, karena disini akan mempelajari pengetahuan-pengetahuan dari ilmu kehayatan (kedokteran, biologi) ilmu kejiwaan (psikologi) dan kemasyarakatan (sosiologi). Pada prinsipnya disiplin ergonomi akan mempelajari apa akibat-akibat jasmani, kejiwaan dan sosial dari teknologi dan produk-produknya terhadap manusia melalui pengetahuan-pengetahuan tersebut pada jenjang mikro maupun makro. Karena yang dipelajari adalahdampak dari teknologi dan produk-produknya, makapengetahuan yang khusus dipelajari berkaitan engan Biomekanika, Anthropometri teknik, Teknologi produksi, Lingkungan fisik (temperature, pencahayaan, dsb) dan lain-lain (Wignjosoebroto, Sritomo. 2000).
Maksud dan tujuan dari disiplin ergonomi ialah untuk mendapatkan suatu pengetahuan yang utuh tentang permasalahan-permasalahan interaksi manusia
dengan teknologi dan produk-produknya, sehingga dimungkinkan adanya suatu rancangan system manusia-manusia (teknologi) yang optimal. Dengan demikian disiplin ergonomic melihat permasalahan interaksi tersebut sebagai suatu system dengan pemecahan-pemecahan masalahnya melalui proses pendekatan system pula (Wignjosoebroto, Sritomo. 2000).
Human engineering atau sering pula disebut ergonomi didefinisikan
sebagai perancangan “man-machine interface” sehingga pekerja dan mesin (ataupun produk lainnya) bisa berfungsi lebih efektif dan efisien sebagai system manusia-mesin yang terpadu. Disiplin ini akan mencoba membawa ke arah proses perancangan mesin yang tidak saja memiliki kemampuan produksi yang lebih canggih lagi, melainkan juga memperhatikan aspek-aspek yang berkaitan dengan kemampuan dan keterbatasan manusia yang mengoperasikan mesin tersebut. Tujuan pokoknya adalah terciptanya desain system manusia-mesin yang terpadu sehingga efektifitas dan efisiensi kerja bisa tercapai secara optimal (Wignjosoebroto, Sritomo. 2000).
Dengan demikian ergonomi dimaksudkan sebagai disiplin keilmuan yang mempelajari manusia dalam kaitannya dengan pekerjaannya sehingga pekerja dan mesin (ataupun produk lainnya) bisa berfungsi lebih efektif dan efisien sebagai system manusia-mesin yang terpadu.
2.3 Anthropometri
2.3.1 Sejar ah dan Per kembangan Antr hr opometri
Istilah "Anthropometri" sebenarnya sudah ada sejak berabad-abad silam, akan tetapi aktivitas yang berkenaan dengannya baru digunakan secara luas
beberapa puluh tahun yang lalu yang lalu (Purnomo, Hari. 2013). Beberapa kejadian penting diilustrasikan sebagai berikut:
1. Vitruvius, abad 1 SM
Seorang filsuf yang hidup pada abad 1 SM yang bernama Vitruvius menyatakan bahwa pusar manusia adalah merupakan pusat tubuh manusia. 2. Leonardo da Vinci
Adalah pembuat gambar manusia yang diilhami oleh konsep yang dikemukakan oleh seorang filsuf tersebut sehingga terbentuk gambar sedemikian rupa:
Gambar 2.1 Proporsi Tubuh Manusia Oleh Leonardo Da Vinci Sumber: Hari Purnomo, 2013
3. Panero dan Zelnik, 1979
Panero dan Zelnik, dari gambar seorang pelukis terkenal dan konsep yang
dikemukakan oleh seorang filsuf Roma ia menyimpulkan dan menyatakan “jika seseorang dibaringakan secara rata terlentang dengan kedua tangan dan kakinya direntangkan dan sebuah jangka dipusatkan pada pusarnya, maka
jari-jari kaki dan jari-jari-jari-jari tangannya akan menyentuh batas garis lingkaran yang dibuatnya dan jarak dari telapak kaki hingga kepala akan sama panjangnya dengan ukurang lengan yang terentang”.
4. Kromer et al., 1994
Dalam bukunya ia menyebutkan seorang ahli statistik bangsa Belgia bernama
Adolphe Quetelet adalah orang yang memperkenalkan antropometri dengan
mengaplikasikan konsep statistik pada data antropologi. Kromer et al. Ia juga menyebutkan bahwa antrhopometri mulai digunakan secara luas pada berbagai disiplin ilmu mulai pada akhir abad 19, pada masa itu pula antropometri bersama-sama dengan biomekanika menjadi sesuatu yang sangat menarik bagi ahli rekayasa.
2.3.2 Definisi Anthropometri
Antropometri berasal dari kata latin yaitu "anthrpos" yang berarti manusia dan "metron" yang berarti pengukuran, dengan demikian antropometri mempunyai arti sebagai pengukuran tubuh manusia (Bridger, 1995). Sedangkan (Pulat, 1992) mendefinisikan antropometri sebagai studi dari dimensi tubuh manusia. Lebih lanjut (Tayyari and Smith, 1997) menjelaskan bahwa antropometri merupakan studi yang berkaitan erat dengan dimensi dan karakteristik tertentu dari tubuh manusia seperti berat, volume, pusat grafitasi, dan kekuatan kolompok otot. (Sanders and Mc. Cormick, 1987) menyatakan bahwa antropometri adalah pengukuran dimensi tubuh atau karakteristik fisik tubuh lainnya yang relevan dengan desain tentang sesuatu yang dipakai orang. Dengan mengetahui ukuran dimensi tubuh pekerja, dapat dibuat rancangan peralatan kerja, stasiun kerja, dan
produk yang sesuai dengan dimensi tubuh pekerja sehingga dapat menciptakan kenyamanan, kesehatan, dan keselamatan kerja (Purnomo, Hari. 2013).
Dengan demikian antropometri mempunyai arti sebagai studi pengukuran dimensi tubuh manusia yang berkaitan dengan karakteristik tubuh manusia seperti berat, volume, pusat grafitasi, dan kekuatan kolompok otot.
Secara definitif antropometri dapat dinyatakan sebagai satu studi yang berkaitan dengan pengukuran dimensi tubuh manusia. Manusia pada dasarnya akan memiliki bentuk, ukuran (tinggi, lebar dsb.) berat dan lain-lain. Yang berbeda satu dengan yang lainnya. Antropometri secara luas akan digunakan sebagai pertimbangan-pertimbangan ergonomis dalam proses perancangan (desain) produk maupun sistem kerja yang akan memerlukan interaksi manusia (Wignjosoebroto, Sritomo. 2000). Data antropometri yang berhasil diperoleh akan diaplikasikan secara luas antara lain dalam hal :
1. Perancangan areal kerja (work station, interior mobil, dll ).
2. Perancangan peralatan kerja seperti mesin, equipment, perkakas (tools) dan sebagainya.
3. Perancangan produk konsumtif seperti pakaian, kursi/meja komputer dll. 4. Perancangan lingkungan kerja fisik.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa data antropometri akan menentukan bentuk, ukuran dan dimensi yang tepat yang berkaitan dengan produk yang dirancang dan manusia yang akan mengoperasikan / menggunakan produk tersebut. Dalam kaitan ini maka perancangan produk harus mampu mengakomodasikan dimensi tubuh dari populasi terbesar yang akan menggunakan
produk hasil rancangannya tersebut. Secara umum sekurang-kurangnya 90%- 95% dari populasi yang menjadi target dalam kelompok pemakai suatu produk haruslah mampu menggunakannya dengan selayaknya.
2.3.3 Data Anthropometr i dan Cara Pengukurannya
Manusia pada umumnya akan berbeda – beda dalam hal bentuk dan dimensi ukuran tubuhnya. Ada beberapa faktor yang akan mempengaruhi ukuran tubuh manusia , yaitu (Wignjosoebroto, Sritomo. 2000; Purnomo, Hari. 2013) : 1. Umur
Secara umum dimensi tubuh manusia akan tumbuh dan bertambah besar seiring dengan bertambahnya umur yaitu sejak awal kelahiran sampai dengan umur sekitar 20 tahunan. Dari suatu penelitian ysng dilakukan oleh A. F. Roche dan G. H. Davila (1972) di USA diperoleh kesimpulan bahwa laki-laki akan tumbuh dan berkembang naik sampai dengan usia 21,2 tahun, sedangkan wanita 17,3 tahun. Meskipun ada 10 % yang masih terus bertambah tinggi sampai usia 23,5 tahun (laki-laki) dan 21,1 tahun (wanita). Setelah itu, tidak lagi akan terjadi pertumbuhan bahkan justru akan cenderung berubah menjadi pertumbuhan menurun ataupun penyusutan yang dimulai sekitar umur 40 tahunan.
2. Jenis kelamin (sex)
dimensi ukuran tubuh laki-laki umumnya akan lebih besar dibandingkan dengan wanita, terkecuali untuk beberapa bagian tubuh tertentu seperti pinggul, dan sebagainya.
3. Suku bangsa (etnic)
Setiap suku bangsa ataupun kelompok etnic akan memiliki karakteristik fisik yang berbeda satu dengan yang lainnya. Dimensi tubuh suku bangsa Negara Barat pada umumnya mempunyai ukuran yang lebih besar daripada dimensi tubuh suku bangsa negara Timur.
4. Keacakan/ Random
Hal ini menjelaskan bahwa walaupun telah terdapat dalam satu kelompok populasi yang sudah jelas sama jenis kelamin, suku atau bangsa, kelompok usia dan pekerjaannya, namun masih akan ada perbedaan yang cukup signifikan antara berbagai macam masyarakat.
5. Jenis Pekerjaan
Beberapa jenis pekerjaan tertentu menuntut adanya persyaratan dalam seleksi karyawan. Misalnya, buruh dermaga harus mempunyai postur tubuh yang relatif lebih besar dibandingkan dengan karyawan perkantoran pada umumnya. Apalagi jika dibandingkan dengan jenis pekerjaan militer.
6. Pakaian
Tebal tipisnya pakaian yang dikenakan, dimana faktor iklim yang berbeda akan memberikan varisi berbeda dalam bentuk rancangan pakaian. Dengan demikian dimensi tubuh akan berbeda dari satu tempat dengan tempat yang lainnya. 7. Faktor Kehamilan
Kondisi semacam ini akan mempengaruhi bentuk dan ukuran tubuh khususnya bagi perempuan. Hal tersebut jelas memerlukan perhatian khusus terhadap produk-produk yang dirancang bagi segmen seperti ini.
8. Tubuh Cacat
Hal ini jelas menyebabkan perbedaan antara yang cacat dengan yang tidak terhadap ukuran dimensi tubuh manusia.
9. Posisi tubuh (posture)
Sikap ataupun posisi tubuh akan berpengaruh terhadap ukuran tubuh oleh karena itu harus posisi tubuh standar harus diterapkan untuk survei pengukuran.
Berkaitan dengan posisi tubuh manusia dikenal dua cara pengukuran, yaitu: a. Antropometri Statis (Structural Body Dimensions).
Disini tubuh diukur dalam berbagai posisi standard dan tidak bergerak (tetap tegak sempurna). Dimensi tubuh yang diukur meliputi berat badan, tinggi tubuh, dalam posisi berdiri, maupun duduk, ukuran kepala, tinggi/panjang lutut, pada saat berdiri/duduk, panjang lengan, dan sebagainya.
b. Antropometri Dinamis (Functional Body Dimensions).
Disini pengukuran dilakukan terhadap posisi tubuh pada saat berfungsi melakukan gerakan-gerakan tertentu yang berkaitan dengan kegiatan yang harus diselesaikan.
Selanjutnya untuk memperjelas mengenai data antropometri yang tepat diaplikasikan dalam berbagai rancangan produk ataupun fasilitas kerja, diperlukan pengambilan ukuran dimensi anggota tubuh (Wignjosoebroto, Sritomo. 2000). Penjelasan mengenai pengukuran dimensi antropometri tubuh yang diperlukan dalam perancangan dijelaskan pada Gambar 2.2.
Gambar 2.2 Antropometri untuk Perancangan Produk Sumber: Sritomo Wignjosoebroto, 2000
Gambar 2.3 Antropometri Tinggi Badan Berdiri dan Duduk Sumber : Sritomo Wignjosoebroto, 2000
Keterangan Gambar 2.2 di atas, yaitu:
1 : Dimensi tinggi tubuh dalam posisi tegak (dari lantai sampai ujung kepala). 2 : Tinggi mata dalam posisi berdiri tegak.
3 : Tinggi bahu dalam posisi berdiri tegak.
4 : Tinggi siku dalam posisi berdiri tegak (siku tegak lurus).
5 : Tinggi kepalan tangan yang terjulur lepas dalam posisi berdiri tegak (dalam gambar tidak ditunjukkan).
7 : Tinggi mata dalam posisi duduk. 8 : Tinggi bahu dalam posisi duduk.
9 : Tinggi siku dalam posisi duduk (siku tegak lurus). 10 : Tebal atau lebar paha.
11 : Panjang paha yang di ukur dari pantat sampai dengan. ujung lutut. 12 : Panjang paha di ukur dari pantat sampai bagian belakang dari lutut betis. 13 : Tinggi lutut yang bisa di ukur baik dalam posisi berdiri ataupun duduk. 14 : Tinggi tubuh dalam posisi duduk yang di ukur dari lantai sampai paha. 15 : Lebar dari bahu (bisa di ukur baik dalam posisi berdiri ataupun duduk). 16 : Lebar pinggul ataupun pantat.
17 : Lebar dari dada dalam keadaan membusung (tidak tampak dalam gambar). 18 : Lebar perut.
19 : Panjang siku yang di ukur dari siku sampai dengan ujung jari-jari dalam posisi siku tegak lurus.
20 : Lebar kepala.
21 : Panjang tangan di ukur dari pergelangan sampai dengan ujung jari. 22 : Lebar telapak tangan.
23 : Lebar tangan dalam posisi tangan terbentang lebar kesamping kiri kanan (tidak ditunjukkan dalam gambar).
24 : Tinggi jangkauan tangan dalam posisi berdiri tegak. 25 : Tinggi jangkauan tangan dalam posisi duduk tegak.
26 : Jarak jangkauan tangan yang terjulur kedepan diukur dari bahu sampai dengan ujung jari tangan.
Tabel 2.1 Perkiraan Antrophometri Untuk Masyarakat Hongkong, Dewasa, Dapat Diekivalensikan Untuk Masyarakat Indonesia (Dasar Kesamaan Etnis Asia) (mm)
No. Dimensi Tubuh Pria Wanita
5% X 95% S.D 105% X 195% S.D
1 Tinggi Tubuh Posisi Berdiri 1.585 1.680 1.775 58 1.455 1.555 1.655 60
2 Tinggi Mata 1.470 1.555 1.640 52 1.330 1.425 1.520 57
3 Tinggi Bahu 1.300 1.380 1.460 50 1.180 1.265 1.350 51
4 Tinggi Siku 950 1.015 1.080 39 870 935 1.000 41
5 Tinggi Genggaman Tangan
(Knuckle) Posisi kebawah 685 750 815 40 650 715 780 41
6 Tinggi Badan Posisi Duduk 845 900 955 34 780 840 900 37
7 Tinggi Mata Posisi Duduk 720 780 840 35 660 720 780 35
8 Tinggi Bahu Posisi Duduk 555 605 655 31 165 230 295 38
9 Tinggi Siku Posisi Duduk 190 240 290 31 165 230 295 38
10 Tebal Paha 110 135 100 14 105 130 155 14
11 Jarak dari Pantat ke Lutut 505 550 595 26 470 520 570 30
12 Jarak Lipat Lutut ke Pantat 405 450 495 26 385 435 485 29
13 Tinggi Lutut 450 495 540 26 410 455 500 27
14 Tinggi Lipat Lutut (Popliteal) 365 405 445 25 325 375 425 29
15 Lebar Bahu (bideltoid) 380 425 470 26 335 385 435 29
16 Lebar Panggul 300 335 370 22 295 330 365 21
17 Tebal dada 155 195 235 25 160 215 270 34
18 Tebal Perut (abdominal) 150 210 270 36 150 215 280 39
19 Jarak Sikut ke Ujung Jari 410 445 480 22 360 400 400 24
20 Lebar Kepala 150 160 170 7 135 150 165 8
21 Panjang Tangan 165 190 195 9 150 165 180 9
22 Lebar Tangan 70 80 90 5 60 70 80 5
23 Jarak Bentang dari Ujung Jari
tangan Kanan ke Kiri 1.480 1.635 1.790 95 1.350 1.480 1.610 80
24 Tinggi Pegangan Tangan
Vertikal ke atas & duduk 1.835 1.970 2.105 83 1.685 1.825 1.965 86 25 Tinggi Pegangan Tangan
Vertikal ke atas & duduk 1.110 1.205 1.300 58 855 940 1.025 51
26
Jarak genggaman tangan (grip) ke punggung posisi tangan ke depan (horizontal)
Tabel 2.2. Antrophometri Orang Indonesia Didapat Dari Interpolasi Masyarakat
British Dan Hongkong (Phesant, 1286) Terhadap Masyarakat Indonesia (mm)
No. Dimensi Tubuh Pria Wanita
5% X 95% S.D 105% X 195% S.D
1 Tinggi Tubuh Posisi Berdiri 1.532 1.632 1.732 61 1.464 1.563 1.662 60
2 Tinggi Mata 1.425 1.520 1.615 58 1.350 1.446 1.542 58
3 Tinggi Bahu 1.247 1.338 1.429 55 1.184 1.272 1.361 54
4 Tinggi Siku 932 1.003 1.074 43 886 957 1.028 43
5 Tinggi Genggaman Tangan
(Knuckle) Posisi kebawah 655 718 782 39 646 708 771 38
6 Tinggi Badan Posisi Duduk 809 864 919 33 775 834 893 36
7 Tinggi Mata Posisi Duduk 694 749 804 33 666 721 776 33
8 Tinggi Bahu Posisi Duduk 523 572 621 330 501 550 599 30
9 Tinggi Siku Posisi Duduk 181 231 282 31 175 229 283 33
10 Tebal Paha 117 140 163 14 115 140 165 15
11 Jarak dari Pantat ke Lutut 500 545 590 272 488 527 586 30
12 Jarak Lipat Lutut ke Pantat 405 450 495 27 488 537 586 30
13 Tinggi Lutut 448 496 544 29 428 472 516 27
14 Tinggi Lipat Lutut (Popliteal) 361 403 445 26 337 382 428 28
15 Lebar Bahu (bideltoid) 382 424 466 26 342 385 428 26
16 Lebar Panggul 291 331 371 24 298 345 392 29
17 Tebal dada 174 212 250 23 178 228 278 30
18 Tebal Perut (abdominal) 174 228 282 33 175 231 287 34
19 Jarak dari Sikut ke Ujung Jari 405 439 473 21 374 409 287 34
20 Lebar Kepala 140 450 160 6 135 146 157 7
21 Panjang Tangan 161 176 190 9 153 168 183 9
22 Lebar Tangan 71 79 87 5 64 71 78 4
23 Jarak Bentang dari Ujung Jari
tangan Kanan ke Kiri 1.520 1.663 1.806 87 1.400 1.523 1.646 75
24 Tinggi Pegangan Tangan
Vertikal ke atas & duduk 1.795 1.923 2.051 78 1.712 1.841 1.969 79 25 Tinggi Pegangan Tangan
Vertikal ke atas & duduk 1.065 1.169 1.273 63 945 1.030 1.115 52
26
Jarak genggaman tangan (grip) ke punggung posisi tangan ke depan (horizontal)
649 708 767 37 610 661 712 31
Tabel 2.3. Anthropometri Telapak Tangan Orang Indonesia (mm)
No. Dimensi Tubuh Pria Wanita
5% X 95% S.D 105% X 195% S.D
1 Panjang Tangan 163 176 189 8 155 168 181 8
2 Panjang Telapak
Tangan 92 100 108 5 87 94 101 4
3 Panjang Ibu Jari 45 48 51 2 42 45 48 2
4 Panjang Jari Telunjuk 62 67 72 3 60 65 70 3
5 Panjang Jari Tengah 70 77 84 4 69 74 79 3
6 Panjang Jari Manis 62 67 72 3 59 64 69 3
7 Panjang Jari Kelingking 48 51 54 2 45 48 51 2
8 Lebar Ibu Jari (LPJ) 19 21 23 1 16 18 20 1
9 Tebal Ibu Jari (IPJ) 19 21 23 1 15 17 19 1
10 Lebar Jari Telunjuk 18 20 22 1 15 17 19 1
11 Tebal Jari Telunjuk 16 18 20 1 13 15 17 1
12 Lebar Telapak Tangan
(metacarpal) 74 81 88 4 68 73 78 3
13 Lebar Telapak Tangan
(sampai ibu jari) 88 98 108 6 82 89 96 4
14 Lebar Telapak Tangan
(minimum) 68 75 82 4 64 59 74 3
15 Tebal Telapak Tangan
(metacarpal) 28 31 34 2 25 27 29 1
16 Tebal Telapak Tangan
(sampai ibu jari) 41 48 47 2 41 44 47 2
17 Diameter Genggaman
(maksimum) 45 48 51 2 43 46 49 1
18 Lebar Maksimum (ibu
jari ke jari kelingking) 177 192 206 9 169 184 199 9
19
Lebar Fungsional Maksimum (ibu jari ke jari lain)
122 132 142 6 113 123 134 6
20
Segiempat minimum yang dapat dilewati telapak tangan
57 62 67 3 51 56 61 3
2.3.4 Aplikasi Distribusi Nor mal dan Persentil Dalam Penetapan Data Anthropometri
Data anthropometri diperlukan agar supaya rancangan suatu produk bisa sesuai dengan orang yang akan mengoperasikannya. Ukuran tubuh yang diperlukan pada hakekatnya tidak sulit diperoleh dari pengukuran secara individual. Adanya variansi ukuran sebenarnya akan lebih mudah diatasi bilamana kita mampu merancang produk yang memiliki fleksibilitas dan sifat “mampu