• Tidak ada hasil yang ditemukan

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Akhir dari sebuah penulisan sejarah yang telah diungkapkan secara sistematis dan kronologis, untuk menutup sebuah penulisan agar tidak terjadi kerancuan, maka penulis memberikan sebuah kesimpulan. Kesimpulan atas keseluruhan pembahasan skripsi yang diharapakan dapat menarik benang merah dari uraian pada bab-bab sebelumnya menjadi suatu rumusan yang bermakna. Pada bab VI ini sekaligus sebagai penutup sebuah tulisan walaupun tidak menutup kemungkinan penelitian dapat dilanjutkan kembali.

Penelitian ini diberi judul “Perkebunan Kelapa Sawit Rakyat di Desa Batang Pane II

Kecamatan Padang Bolak (1982-2000)”. Mayoritas penduduk di sini berprofesi sebagai

petani yang dimulai sejak tahun 1982 ditandai dengan kedatangan mereka ke daerah ini. Desa Batang Pane II merupakan suatu wilayah yang sengaja disediakan pemerintah untuk daerah transmigarasi dari Pulau Jawa. Di pemukiman yang baru ini mereka diberi fasilitas sebuah rumah dilengkapi dengan peralatan, selain itu setiap masing-masing kepala keluarga mendapatkan jatah tanah seluas 2 ½ ha. Tanah yang seluas 2 ha dijadikan modal awal untuk dijadikan areal pertanian pangan (padi dan palawija), sedangkan ½ ha sebagai pekarangan termasuk rumah yang dilengkapi dengan peralatannya.

Penduduk mulai mengerjakan lahan pertanian sejak tahun 1983. Pengerjaan untuk pembukaan lahan pertanian ini dibutuhkan tenaga yang kuat, karena secara fisik dan keadaan lahannya masih hutan rawa. Dalam kurun waktu 1-2 tahun mereka sudah berhasil

menggubah hutan rawa menjadi areal pertanian, meskipun hingga tahun ketiga masih sulit ditanami apalagi tanah yang terdapat di dataran tinggi yang kesannya tandus.

Pengelolaan lahan untuk tanaman pangan ini tidak dapat diandalkan bagi pendapatan petani selamanya dan hanya bertahan 8-9 tahun saja (1982-1990). Hasil produksi pertanian penduduk yang mengalami penurunan dalam tiap tahunnya mengakibatkan kebutuhan pokok tidak terpenuhi secara baik. Penurunan hasil-hasil produksi pertanian mereka sangat dipengaruhi oleh segi teknis dan lingkungan alam, tidak adanya sistem rotasi, pemupukan tidak rutin, efisiensi kerja tidak teratur serta alam yang kurang mendukung.

Menghadapi hasil produksi yang kurang menguntungkan dalam tiap tahunnya, maka mereka melakukan usaha peralihan tanaman. Akhirnya pada tahun 1990 mereka mulai mencoba menanam tanaman keras (kelapa sawit dan karet) berdasarkan ide sendiri. Dalam perkembangannya mereka lebih memilih kelapa sawit, karena dari segi pengelolaan dan perawatannya sangat sederhana serta dari segi pendapatan sangat menjanjikan. Untuk mengelola usaha kebun kelapa sawit, pengetahuan diperoleh dari pengalaman kerja sebagai buruh perkebunan di Kota Rantau Prapat dan Aek Nabara.

Pengetahuan yang didapatkan dari tempat kerjanya, misalnya tata cara penanaman, pemeliharaan, penyakit tanaman, serta tata cara memanen kelapa sawit, kemudian diusahakan di atas lahan seluas 2 hektar itu. Luas lahan 2 hektar itu dalam setiap tahunnya juga mengalami perubahan, ada penduduk yang lahannya berkurang dan ada yang bertambah.

Awal tahun 1990 tidak semua lahan milik penduduk dialihkan untuk menjadi lahan tanaman kelapa sawit. Hal ini disebabkan karena mereka masih khawatir pada hasil dari tanaman baru ini tidak mampu memenuhi kehidupannya kelak. Akan tetapi, ada juga petani yang secara keseluruhan lahannya dijadikan tempat tanaman kelapa sawit. Bagi petani yang

mengalihkan secara keseluruhan menganggap sebelum berumur 3-4 tahun tanaman kelapa sawit masih bisa diselingi dengan tanaman lainnya, seperti sayur-sayuran, kacang-kacangan, tanaman palawija dan padi.

Pada tahun 1990 diketahui kebun kelapa sawit di Desa Batang Pane II seluas 386 hektar, maka setelah tahun 2000 luas perkebunan sekitar 2.230 ha. Berarti perkembangan perkebunan berjalan cepat, sementara itu lahan usaha pertanian (sawah) berkurang. Oleh karena perkebunan kelapa sawit mulai berproduksi, para petani mulai memperluas perkebunannya dengan cara mengumpulkan modal sebagai hasil dari perkebunan sendiri. Untuk memperluas kebun kelapa sawitnya, petani melakukan dua cara, yaitu membeli lahan di sekitar pemukiman dan di luar daerah yang jauh dari tempat tinggal.

Peralihan dari tanaman subsisten menjadi tanaman komoditi ekspor ini tentu membawa perubahan tersendiri bagi kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Pengembangan perkebunan rakyat kelapa sawit oleh petani di Kecamatan Padang Bolak, khususnya Desa Batang Pane II menunjukkan perbedaan manfaat ekonomi. Kontribusi kelapa sawit terhadap pendapatan rumah tangga petani sangat dirasakan perubahannya jika dibandingkan dengan kontribusi dari tanaman pangan sebelumnya. Secara ekonomis dapat dikatakan mulai pada tahun 2000, petani kelapa sawit di desa ini telah menikmati hasil panen tanamannya.

Secara horizontal dapat dilihat dengan munculnya pekerjaan-pekerjaan baru, seperti buruh perkebunan (pembukaan lahan, penanaman, pemeliharaan, pemanenan) di lingkungan pemukiman. Hal ini menunjukkan bahwa penduduk Desa Batang Pane II mengalami peningkatan ekonomi baik signifikan ataupun yang tidak. Sebagian dari mereka masih bekerja sebagai buruh, karena mereka belum memiliki usaha kebun kelapa sawit atau terkadang areal perkebunan yang dimiliki terbatas, walaupun pada awalnya mereka memiliki

tanah seluas 2 ½ hektar. Di dalam stratifikasi sosial, bahwa mereka yang tidak memiliki usaha kebun kelapa sawit dan hanya bekerja sebagai buruh perkebunan merupakan kelompok masyarakat yang menempati lapisan sosial paling bawah dengan rincian upah sekitar Rp 600.000-900.000/bulan.

Berbeda dengan masyarakat yang memiliki areal perkebunan kelapa sawit yang termasuk luas lahan yaitu di bawah 5 hektar dipandang sebagai kelompok lapisan menengah. Alasannya dapat dilihat berdasarkan perbedaan pendapatan per kapita petani. Sesuai penjelasan di atas bahwa petani yang memiliki kebun kelapa sawit 1 ha pendapatannya dibawah Rp 2.000.000, dan jika diratakan pendapatan per kapita petani untuk kebun kelapa sawit di bawah 5 hektar, yaitu Rp 3.000.0000-Rp 4.000.00/bulan.

Di samping itu terdapat minoritas penduduk yang kehidupannya cukup mengalami perubahan yang signifikan. Mereka ini awalnya juga hanya memiliki tanah-tanah seluas 2 ½ hektar, dan dengan usaha perkebunan kelapa sawit, berhasil mengangkat taraf kehidupan ekonominya. Mereka muncul dengan profesi sebagai pedagang atau toke kelapa sawit.

Selain itu terdapat juga kelompok masyarakat yang memiliki lahan kebun kelapa sawit yang luasnya di atas 5 hektar yang jumlahnya hampir 50 % dari jumlah keseluruhan penduduk di Desa Batang Pane II. Selain berhasil dalam usaha kebun, mereka ini juga berpofesi sebagai Pegawai Negeri Sipil (guru), usaha dagang, bengkel, dan penjualan jasa.

Petani kelapa sawit yang berhasil ini terlihat jelas dengan pendapatan per kapita tiap- tiap penduduk yaitu di atas Rp 5.000.000, sehingga mereka mampu membangun rumah besar, berhaji, dan menyekolahkan anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi. Dalam status sosialnya, mereka juga dianggap kelompok masyarakat yang menduduki stratifikasi sosial paling atas.

6.2 Saran

Perkebunan kelapa sawit rakyat merupakan salah satu pendapatan daerah yang diperhitungkan oleh pemerintah, baik pusat dan daerah. Dalam hal ini pihak-pihak yang berkepentingan seharusnya mengembangkan dan meningkatkan kualitas perkebunan rakyat. Kelapa sawit yang dihasilkan dari petani kecil ini sangat berbeda dengan perkebunan besar yang mutu dan kualitasnya lebih besar.

Adapun saran-saran yang diberikan penulis untuk perbaikan ke depan dari skripsi ini sebagai berikut:

1. Kepada pemerintah daerah untuk memberikan perhatian khusus, seperti 1.) Memperbaiki dan meningkatkan pembangunan sarana jalan yang kondisinya sangat parah untuk dilintasi, agar proses penyaluran hasil produksi kelapa sawit tidak terhambat, 2.) Menyediakan pupuk bersubsidi dan stok agar petani dengan mudah mendapatkan pupuk dengan harga yang bisa dijangkau petani, sehingga pemupukan tidak sering terhambat.

2. Khususnya dinas perkebunan setempat untuk membantu dan meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai tanaman kelapa sawit, agar petani memahami dengan benar seluk-beluk tanaman tersebut, seperti perlu adanya penyuluhan dan kursus kontak petani secara rutin.

3. Untuk lembaga atau organisasi desa seharusnya membangkitkan dan meningkatkan peranan Koperasi Unit Desa (KUD) guna mempermudah dalam penyaluran hasil produksi kelapa sawit, menyediakan sistem simpan pinjam petani guna meningkatkan perkebunan rakyat.

4. Toke-toke kelapa sawit harus bersikap adil dalam memberi penetapan harga kepada petani.

5. Masyarakat seharusnya lebih memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan tanaman kelapa sawit, misalnya memberikan pemupukan rutin agar dapat berproduksi secara efektif.

6. Golongan masyarakat yang sudah mempunyai kemajuan di bidang ekonomi, untuk selanjutnya melaksanakan pembaharuan dan pembangunan ataupun mendekati daerah yang lebih maju serta memberikan dorongan kepada anak- anaknya untuk bersekolah agar tidak ketertinggalan pendidikan.

7. Pertanian monokultur yang dikerjakan masyarakat di desa ini sangat berbahaya untuk kelangsungan hidup mereka, karena jika sewaktu-waktu terjadi kegagalan panen atau penurunan harga dapat berdampak terhadap pendapatan rumah tangga. Oleh sebab itu, petani seharusnya memiliki usaha pertanian tanaman sampingan yang sifatnya lebih multikultur.

DAFTAR PUSTAKA

BUKU:

AAK, Budidaya Tanaman Padi, Yogyakarta: Kanisius, 1990.

Ahmad, Rofiq, Perkebunan dari Nes Ke PIR, Jakarta: Puspa Swara, 1998.

Fauzi, Yan, dkk., Kelapa Sawit: Budi Daya Pemanfaatan Hasil dan Limbah Analisis Usaha

dan Pemasaran, Jakarta: Penebar Swadaya, 2002.

Geertz, Clifford, Involusi Pertanian: Proses Perubahan Ekologi di Indonesia, Jakarta: Bhratara Karya Aksara, 1983.

Gottschalk, Louis, Mengerti Sejarah, terjemahan dari Nugroho Notosusanto, Jakarta: UI Press, 1985.

Kartodirdjo, Sartono dan Djoko Suryo, Sejarah Perkebunan di Indonesia: Kajian Sosial

Ekonomi, Yogyakarta: Adytia Media, 1991.

Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah, Yogyakarta: Bentang Pustaka, 1995. ___________, Metodologi Sejarah, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2003.

Levang, Patrice, Ayo Ke Tanah Sabrang: Transmigrasi di Indonesia, Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 1995.

Mubyarto, Pengantar Ekonomi Pertanian, Jakarta: LP3ES, 1972.

Nuhung, Iskandar Andi, Bedah Terapi Pertanian Nasional: Peran Strategis dan Revitalisasi, Jakarta: Bhuana Ilmu Populer Kelompok Gramedia, 2006.

Pelzer, Karl J, Toean Keboen dan Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria 1863-

1947, terj. Rumbo, Jakarta: Sinar Harapan, 1985.

Sajogyo, Ekologi Pedesaan: Sebuah Bunga Rampai, Jakarta: Rajawali, 1987.

Scott, C. James. Moral Ekonomi Petani: Pergolakan dan Subsistensi di Asia Tenggara, Jakarta: LP3ES. 1976.

Sigiro, Junner, “Peralihan Tanaman Padi ke Tanaman Bawang di Desa Hutaginjang 1977- 1987” Skripsi S-I, belum diterbitkan, Medan: Universitas Sumatera Utara, 1989.

Soetrisno, Loekman dan Retno Winahyu, Kelapa Sawit: Kajian Sosial ekonomi, Yogyakarta: Aditya Media, 1991.

Sugito, Kelapa Sawit: Usaha Budidaya Pemanfaatan Hasil dan Aspek Pemasaran, Jakarta: Penebar Swadaya, 1997.

Sumarno, Edi, “Pertanian Karet Rakyat Sumatera Timur (1863-1942)” Tesis S-2, belum diterbitkan, Yogyakarta: Universitas Gajah Mada, 1998.

U, Adlin, Pengantar Manajemen Perkebunan Kelapa Sawit (Elaeis Guineensis Jacq.), Medan: Pusat Penelitian Kelapa Sawit (RISPA), 1994.

Yasin A.Z, Fachri (ed.), Agribisnis Riau: Pembangunan Perkebunan Berbasis Kerakyatan, Pekanbaru: UNRI Press, 2003.

Departemen Pertanian Satuan Pengendali Bimas, Pedoman Bercocok Tanam: Padi Palawija

Sayur-sayuran, Jakarta: Badan Pengendali Bimas, 1983.

ARSIP :

Agenda Desa 1982, Tentang Indek Nomor Untuk Pemukiman Transmigrasi Batang Pane II

Kecamatan Padang Bolak Kabupaten Tapanuli Selatan, Propinsi Sumatera Utara.

Buku Daftar Induk Transmigrasi Tahun 1982-1988, Tentang Unit Pemukiman Tranmigrasi

Batang Pane II.

Buku Pertanahan Desa Batang Pane II tahun 1983.

Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sumatera Utara No. 14041/138/Tahun 1990,

Tentang 4 (empat) Desa Unit Pemukiman Transmigrasi di Daeraah Tingkat II Tapanuli Selatan dan 1 (Satu) Persiapan di Daerah Tingkat II Asahan Menjadi Desa Definitif.

Salinan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri No. SK. 78/ HPL/ DA Tahun 1983, Tentang

Penetapan Areal Tanah Seluas 6.000 Ha Terletak di Desa Hutaimbaru I Kecamatan Padang Bolak, Kabupaten Tapanuli Selatan, Propinsi Sumatera Utara Diuraikan dalam Peta Batas tgl. 29-11-1983.

DAFTAR INFORMAN

1. Nama : Aam Amrullah

Umur : 56 Tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki

Pendidikan : SD

Pekerjaan : Ketua KUD Tani Mukti 1990-2001

2. Nama : Arom

Umur : 63 Tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki Pendidikan : SD Pekerjaan : Petani

3. Nama : Baginda

Umur : 57 Tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki

Pendidikan : SMA

Pekerjaan : Ketua KUD PIR Sungai Pinang

4. Nama : Dikem

Umur : 62 Tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Pendidikan : SR (Sekolah Rakyat) Pekerjaan : Petani

5. Nama : Dono

Umur : 74 Tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki Pendidikan : SD Pekerjaan : Petani

6. Nama : Jamin

Umur : 71 Tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki Pendidikan : SD Pekerjaan : Petani

7. Nama : Kusnanto

Umur : 45 Tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki

Pendidikan : SMA

Pekerjaan : Toke Kelapa Sawit

8. Nama : Mukthar

Umur : 49 Tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki

Pendidikan : SMA

Pekerjaan : Toke Kelapa sawit

9. Nama : Pananggar

Umur : 54 Tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki

Pendidikan : SMA

Pekerjaan : Kepala Desa 2007- sekarang

10. Nama : Ponco

Umur : 58 Tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki Pendidikan : SD Pekerjaan : Petani

11. Nama : Panar

Umur : 63 Tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki Pendidikan : SD Pekerjaan : Petani

12. Nama : Supadi

Umur : 54 Tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki Pendidikan : SD

Pekerjaan : Seketaris Desa 1982-sekarang

13. Nama : Suparno SPd

Umur : 67 Tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki Pendidikan : Sarjana

Pekerjaan : Pegawai Negeri Sipil (Guru)

14. Nama : Surat S.Pdi

Umur : 53 Tahun

Jenis Kelamin : laki-laki Pendidikan : Sarjana

Pekerjaan : Kepala Sekolah

15. Nama : Suyatno

Umur : 63

Jenis Kelamin : Laki-laki Pendidikan : Sarjana

Pekerjaan : PNS (Ketua Dinas Transmigrasi Kecamatan Padang Bolak)

16. Nama : Tunggul Parlaungan Harahap

Umur : 65 Tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki Pendidikan : SI

Lampiran 3

Bibit kelapa sawit dengan polybag yang berumur 8 bulan dan 2 tahun

Sumber: Koleksi pribadi, Tahun 2011

Bibit kelapa sawit baru dipindahkan ke lapangan bebas

Sumber: Koleksi pribadi, Tahun 2011

Pohon kelapa sawit berbuah pasir umur 4-5 tahun

Kebun kelapa sawit berumur 7 tahun

Sumber: Koleksi pribadi, Tahun 2011

Pemanenan Kelapa sawit dengan ketinggian 9-10m ke atas dengan alat arit bergagang panjang atau sering disebut egrek.

Sumber: Koleksi pribadi, Tahun 2011 .

Pengangkutan Tandan Buah Segar (TBS) ke pabrik kelapa sawit

Sumber: Koleksi Pribadi, Tahun 2011

Koperasi Unit Desa (KUD) Tani Mukti di Desa Batang Pane II

Kantor Kepala Desa Batang Pane II

Dokumen terkait