Yang Tersembunyi Dibalik Identitas Orang Rimbo
G. Kesimpulan dan Saran
Kelompok orang rimba termasuk dalam kategori: 1) descent group, yakni kelompok yang didasarkan pada prinsip-prinsip genealogis (kelompok garis keturunan); 2) domestic group, yakni kelompok yang karena kebiasaan mempunyai tempat tinggal dan sumber makanan yang sama (kelompok domestic); 3) ethnic group, yakni suatu kelompok yang mempunyai ciri-ciri yang sama pada agamanya, asal rasnya, nasionalitas, ataupun kebudayaannya; 4) genetic group, yakni suatu kelompok yang anggota-anggotanya secara genetik berhubungan dengan nenek moyang yang sama; 5) intimate group, yakni suatu kelompok yang anggotanya-anggotanya mempunyai hubungan afektif yang erat seakli (kelompok akrab); 6) kinship group, yakni suatu kelompok yang terdiri dari orang-orang yang mempunyai hubungan kekrabatan (kelompok kerabat); 7) marginal group, yakni suatu kelompok yang tidak berasimilasi secara sempurna dengan orang-orang dusun di sekitar mereka; 8) totalitarian group, suatu kelompok yang mengatur seluruh aspek kehidupan anggota-anggotanya melalui kaidah-kaidah hukum berupa seloko dan denda-denda adat.
Normative ideology orang rimbo adalah bagian sistem kepercayaan orang rimba berupa seloko- seloko. Melalui pesan-pesan itu terjadi interpersonal control berupa pengendalian yang dilakukan oleh tumenggung sebagai pimpinan tertinggi terhadap rakyatnya. Untuk mendalaminya, perlu metode khusus, karena mereka dalam keadaan buta huruf atau tidak terdidik secara formal. Peneliti menyarankan perlu
nondirective interview, wawancara tidak berstruktur, dimana subjek maupun bentuknya diserahkan kepada responden (wawancara tidak terarah), nonschedule interview, wawancara tanpa menggunakan jadual, open-ended interview, wawancara tanpa alternative jawaban yang pasti (wawancara terbuka). Akan sulit melakukan opinion interview, yakni wawancara untuk memperoleh pendapat orang rimba. Mereka akan kesulitan menjawab dan berkata, “Ya, macam itulah.”
Untuk mempelajari customary law orang rimba, yakni hukum yang timbul dari adat istiadat orang rimba, yang diakui oleh masyarakat, atau diputuskan oleh pejabat adat (hukum tidak tertulis), territorial law, hukum yang berlaku bagi semua penduduk rimba di Bukit 12, personal law, yakni hukum yang berlaku bagi kelompok etnik orang rimba memerlukan teori semiotika hukum.Karena Hukum mereka berdasarkan seloko-seloko yang bias. Memerlukan proses pemaknaan dalam mempelajarinya.
Adapun tentang kepemimpinan orang rimbo, dalam meneliti lebih dalam mengenai perubahan dari monoarchy menjadi oligarchy, perlu metode etnohistory, yakni suatu studi historis terhadap proses akulturasi orang rimba dengan orang dusun, para transmigan, dan perusahaan-perusahaan yang mengepung mereka dari setiap perbatasan adat yang selama ini diyakini orang rimba sebagai kawasan ruang hidup mereka. Perlu menggunakan historicalism, yakni studi tentang unsur-unsur kebudayaan sebagai suatu proses perkembangan, dan historicism, suatu ideology penelitian yang menyatakan, bahwa sejarah sangat penting untuk memahmi keadaan dewasa ini.
Mengenai ciri khas komunitas rimba ini adalah melangun. Pada masa kini dimana orang-orang rimba telah memiliki kebun karet, kebun sawit dan ladang yang harus dijaga, maka tindakan sosial ini merupakan impelled migration, yakni migrasi yang dipaksakan. Anak-anak muda sering kali mengeluh tentang kelelahan yang diderita ketika harus melakukannya. Terkadang melangun hanya dilakukan dalam masa tiga hari saja demi menunaikan kewajiban.Peristiwa melangun termasuk interlocal migration, yakni migrasi dari satu lokasi ke lokasi lainnya, atau intraregional migration, yakni migrasi dalam satu wilayah tertentu. Melangun juga bisa menjadi sebuah political migrationdaneconomy migration, yakni migrasi yang disebabkan keinginan sebagian anggota rombong untuk memisahkan diri supaya bisa mandiri dalam kepemimpinan dan perekonomian. Konsep lain yang bisa mewakiliaksi melangun karena sebab ekonomi dan politik adalah resultant migration, yakni migrasi sebagi hasil pengaruh situasi ekonomis, seperti pembagian hasil buruan yang terlalu sedikit karena semakin besarnya jumlah anggota rombong, yang jika bergabung terus, maka akan terjadi perebutan sumberdaya antar orang
sosial politik, seperti tidak puasnya sebagian rakyat dengan keputusan-keputusan tumenggung, sehingga memilih untuk memisahkan diri dari rombong lama. Bagi kelompok yang berpisah akan terjadi social mobility, yakni gerak seseorang dari satu posisi depati ke posisi tumenggung, menti jadi depati dan lain sebagainya.Bentuk melangun berupa primitive migration, yakni migrasi yang terjadi karena dorongan ekologis masih sering terjadi—seperti yang dilakukan T. Mira yang memilih melangun ke tempat yang lebih jauh untuk mendapatkan sumber daya alam yang lebih kaya.
Mengenai kasus marriage by capture, yakni perkawinan dengan cara menculik calon istri, kadang- kadang dilakukan atas dasar rencana untuk menghindarkan diri dari kewajiban-kewajiban menurut adat istiadat yang terlampau berat, sering terjadi. Alasan lainnya adalah istri orang lain terlihat lebih menarik. Peristiwa ini biasanya terjadi di dalam kelompok yang menganut endogamous group, yaitu suatu kelompok dimana anggota-anggotanya, yakni para wanita rimba dilarang untuk menikah denagn orang di luar. Sementara laki-laki yang ada sangat terbatas. Jika terjadi kasus tersebut maka akan menjadi gossip, yakni pembicaraan tentang pelaku kawin culikdisertai evaluasi moral yang dilakukan masyarakat rimba. Mereka siap dengan denda dan hukuman adat yang harus diterima asalkan mendapatkan pasangan.
Adoptive marriage yakni perkawinan dimana suami diadopsi dalam keluarga isteri, matrilocal marriage, yakni perkawinan yang dilakukan dengan akibat bahwa suami bertempat tinggal di lingkunagn kerabat istrinya adalah indikator-indikator bahwa orang rimba menggunakan ideology matriarchy dalam melangsungkan kepemimpinannya. Istri tumenggung menjadi Ratu Rimba yang sangat berpengaruh terhadap regulasi-regulasi di dalam kehidupan mereka. Karena wanita sangat cenderung pada materi maka cultural materialism, yakni ajaran yang mengutamakan faktor-faktor ekonomi dalam kebudayaan, telah menjadi ajaran yang membuat mereka menawarkan mas kawin sebuah mobil bagi laki-laki yang tertarik padanya. Isu gender ini terjadi empat tahun yang lalu, yaitu tahun 2009. Setelah masuknya Butet Manurung, guru sokola rimbo, yang beragama Kristen. Terjadi gradualisme, yakni suatu cara mengubah masyarakat rimbo secara bertahap dengan mengadakan reformasi-reformasi tertentu untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang direncanakan secara bertahap. Yang pada akhirnya nanti akan terjadi gynocracy, yakni pemerintahan oleh kaum wanita di dalam sudung-sudung orang rimba.
Itulah beberapa nilai yang dianut orang rimba yang masih berwarna Islam terwarnai Hindu dan beberapa undang-undang rimba. Meminjam istilah penelitian terdahulu tentang Islam di daerah Jawa Tengah dan Timur yang membagi Islam menjadi Islam santri dan abangan, di akhir tulisan ini peneliti mengambil kesimpulan bahwa ditemukan ada Islam rimba di Jambi.
DAFTAR PUSTAKA
Laleno, Govar Arian, 2013, Peta Konflik dan Sumber Konflik Di Gorontalo, KESBANGPOL Prov. Gorontalo.
Piliang, Amir Yasraf, 2012, Semiotika dan Hypersemiotika, Bandung, Pustaka Matahari Soekanto, Soerjono, 1993, Kamus Sosiologi, Jakarta, PT Raja Grafindo Persada
VCD Kuliah Piliang, Amir Yasraf, 2012, Semiotika dan Hypersemiotika, Bandung, Pustaka Matahari yang ditulis kembali oleh Govar Arian Laleno, di Jambi tanggal 02 Desember 2013.
Zainuddin, 2009, Sistem Kekerabat Orang Rimba, Komunitas Konservasi Indonesia-WARSI, Jambi Wawancara dengan T. Nyenong di Sungai Terap Tanggal 16 Desember 2013
Robert Aritonang adalah Koodinator Pemberdayaan di LSM Komunitas Konservasi Indonesia WARSI memberikan cerita ini kepada peserta Short Course Metodologi Penelitian Sosial Keagamaan pada
tanggal 4 Desember 2013 di Ruang Senat IAIN STS Jambi, Mendalo, Jambi. Cerita Depati Terap tanggal 30 Desember 2013 kepada kami di Pos WARSI Sungai Terap. Wawancara dengan T. Maritua di HTI tanggal 22 Desember 2013
Wawancara dengan T. Nyenong di Sunagi Terap tanggal 15 Desember 2013.
Wawancara dengan T. Nyenong di Pos WARSI Sungai Dangku Besar tanggal 18 Desember 2013. Bepanji, Bilam (dua budak bujang), serta Margo Bungo dan Meriam m Bungo (dua anak-akak laki-laki
kecil) dari rombong T. Nyenong di Sungai Terap yang kami ajak bermain game bebalas di Pos warsi Tanggal 19 Desember 2013
Diceritakan oleh Jamhuri, orang dusun, yang membawa kami menuju pohon sialong di kaki selatan Bukit 12 tanggal 29 Desember 2013
Wawancara dengan Bepanji dan Bilam di Sungai Terap tanggal 16 Desember 2013.
Wawancara denagn Pak Zulkifli 18 Desember 2013 di Pos WARSI Sungai Dangku Besar.
Wawancara denag Depati di Pos Warsi Sungai Dangku tanggal 19 Desember 2013
Dikisahkan Prof Muntolib (peneliti orang rimbo tahun 1993, yang kini menjadi guru besar di Fakultas Tarbiyah IAIN STS Jambi) dalam acara coaching pelaporan penelitian tanggal 10 Januari 2014 di Aula Hotel Amanah, Jambi.
Wawancara tanggal 19 Desember 2013 dengan Lidah Penado yang sudah sangat tua dan juga keluarga miskin yang merasa kebingungan untuk menikahkan anaknya Besilo karena sangat besarnya mas kawin yang diminta. Itulah yang membuat Besilo lebih memilih wanita dusun dari pada wanita rimba.