• Tidak ada hasil yang ditemukan

Trasek Dari Simpang Pauh Sampai Sungai Terap

Dalam dokumen Persepsi Perempuan Terhadap Perceraian A (1) (Halaman 172-179)

Yang Tersembunyi Dibalik Identitas Orang Rimbo

F. Trasek Dari Simpang Pauh Sampai Sungai Terap

Di bawah ini adalah gambar transek dari lokasi-lokasi ketiga tumenggung yang kami datangi adalah berawal dari Simpang Pauh sebagai pusat perbelajaan yang sering didatangi orang rimba sampai dengan lokasi terjauh yang kami datangi yakni Sungai Terap yang saat ini dihuni rombong T. Nyenong. Saya membuat gambar ini bersama kawan-kawan—sebagai pemberi masukan jika ada yang kurang—bersumber dari data mentah dalam buku catatan kecil saku saya. Karena panjangnya gambar saya membagi menjadi 5 foto. Setiap foto memiliki catatan singkatberupa temuan, problematika dan perubahan yang terjadi di tempat tersebut.Peneliti mencoba menjelaskan catatan tersebut jika terasa belum cukup.Adapun foto-fotonya adalah sebagai berikut.

Gambar. 4 Transek Dari Simpang Pauh menuju PT Imal

Yang tertulis dalam problematika di daerah Simpang Pauh, peneliti menulis “Penduduk jadi karyawan”. Peneliti melakukan wawancara kepada seorang ibu pemilik warung gorengan di depan grosir milik orang Jambi. Dia menceritakan bahwa penduduk di Simpang Pauh banyak yang menjadi karyawan di toko para pedagang pendatang yang memiliki modal besar.Orang rimba setiap pagi dan sore berbelanja di grosir ini.Orang rimba yang berdagang ada yang menyewa kamar untuk mereka bermalam. Di tempat itu banyak mobil berhenti untuk istirahat. Pedagang kaki lima yang menjual pecel lele, sea food dan makanan cemilan lainnya bermuculan di tempat itu.Penduduk setempat banyak yang ikut membeli ketika kami jajan di tempat ayam goreng.

Ketika kami di Pos WARSI, nama Simpang Pauh adalah tempat yangsering menjadi tujuan semua orang-orang rimba bertempat di Sungai Terap yang dipimpin T. Nyenong. Rombong di area kebun karet PT. Wahana Perintis Hutan Tanaman Industriyang dipimpin T. Maritua dan rombong di area kebun Sawit PT Imal yang dipimpin T. Ngamal menjual hasil hutan atau belanja ke Simpang Pauh.

Di simpang Imal saya menulis orang rimba menjadi selebrities.Peneliti menemukan betino-betino rimba yang bersedia di foto dengan bayaran uang. Dia meminta untuk satu wanita dewasa seharga Rp. 20.000, sedangkan untuk anak-anak Rp. 10.000 satu orang. Setelah ditarik keterangan dari ibu Sri Wahyuni penunggu warung nasi di Simpang Imal, wanita rimba ini anggota rombong yang sangat miskin bukan berasal Kedundung Muda atau Sungai Terap. Dia pun tidak bisa memberi keterangan lebih mengenai asalnya.Rombong miskin ini tidak di terima di kedua daerah tersebut.

Gambar. 5 Transek dari Pos PT. Imal s.d. Pos HTI

Peneliti mendapat informasi dari tiga rekan kami Pak Junaidi, Ihsan Sanusi dan Ibnu Fikri yang melakukan survey ke rombong T. Ngamal dan rombong Bebalang Batin (Nyamping) bahwa di daerah ini sungai telah tercemari pupuk sawit. Orang rimba tetap menggunakan air sungai tersebut untuk MCK dan minum—yangmenyebabkan mewabahnya muntaber, gatal-gatal, batuk dan malaria. Bahkan ketiga surveyor ini menyarankan kelompok peneliti Sungai Terap untuk tidak life in bersama rombong T. Ngamal karena resiko tertular penyakit terlalu tinggi. Sangatlah menyedihkan keadaan orang-orang rimba di area ini.Sudung mereka sering terbang karena tertiup angin kencang yang tidak berkompromi, disebabkan angin tidak lagi bisa dijinakkan oleh pohon-pohon hutan, karena hutan di area ini sudah berubah menjadi kebun sawit. Mereka tetap bertahan dilokasi ini untuk menjaga 53 Ha kebun sawit yang menjadi bagian orang rimba. Padahal perusahaan memberikan bagian untuk orang dusun dan orang rimba sebanyak 2000 Ha. Kemampuan orang rimba dalam berhitung dan membaca yang lemah telah dimanfaatkan orang-orang dusun untuk mendapat bagian yang lebih banyak. Namun orang rimba belum banyak mempersoalkannya karena pada saat panen,mereka tetap berani memanen kebun sawit bagian orang dusun.Karena mereka memahami batang pohon memang dimiliki secara perorangan untuk diwariskan, namun buah pohon bisa diambil siapa saja yang membutuhkan, tentunya dengan berbagi hasil atara pemanendan pemilik batang pohon. Pohon-pohon sawit tersebut masuk dalam wilayah adat orang rimba yang mereka akui sebagai warisan nenek moyang mereka, maka hukum adat mereka harus dijalankan.

Gambar 6. Transek dari Pos HTI s.d. Tower Pemantau

Di rombong T. Terap (Maritua) pada bagian perubahan peneliti menulis lahirnya undang-undang baru (isu gender). Undang-undang tersebut mengenai mas kawin yang harus disediakan untuk menikahi budak gadis adalah satu buah mobil. Undang-undang baru ini dipelopori dua bini T. Maritua dan diaminkan oleh betino-betino rimba di daerah Sungai Terap. Undang-undang ini berefek pada dendo adatmenjadi dua kali lipat. Contohnya dendo adat sumbang mata adalah 100 keping kain dirubah menjadi 200 keping kain.Keadaan ini telah berakibat kepada gejala sosial yakni banyak bujang yang memilih menikah dengan gadis dusun dan banyak gadis lapuk di kalangan orang-orang rimba—dalam empat tahun ini.Anak gadis tunggal T. Maritua sudah cukup umur untuk menikah, namun karena undang-undang, belum juga menikah.Tiga tumenggung lainnya tidak setuju dengan undang-undang ini, namun betino-betino di rombong mereka terpengaruh Sang Ratu Rimbo. Munculnya undang- undang di dikalangan orang rimba sangat dipengaruhi oleh wanita.Hypogamy, yakni perkawinan antara seorang wanita dengan laki-laki yang lebih rendah kedudukannya, sejauh pengamatan, tidak pernah terjadi di rombong-rombong ketemenggungan Sunagi Terap.Namun hypergamy, perkawinan antara seorang wanita dengan pria yang lebih tinggi kedudukannya terjadi—jikawanita memiliki kelebihan dalam kecantikan atau kerajinannya bekerja.Matrilineal inheritance atau kewarisan melalui garis ibu adalah ideology budaya mereka.Laki-laki jika mati mewariskan seluruh hartanya kepada isrti dan anak wanitanya.Anaklaki-laki atau mamak (paman)bertugas membagi dengan adil supaya tidak ada pertengkaran.Ideologi matriarchy, pemerintahan oleh golongan wanita secara de’ facto terjadi, garis keturunan matrilineal, pola kediaman matrilokal dimana laki-laki bertempat tinggal di tepat keluarga

bini, dan matripotestalitas (wewenang yang berpusat pada ibu) adalah pola-pola hubungan laki-laki dan wanita rimba. Terbukti dari kisah Rajo Sokola (namayang dihadiahkan orang rimba untuk Prof. Muntolib pada tahun 1993) ketika akan membawa seorang anak laki-laki untuk sekolah di Jambi ternyata dilarang oleh ibunya. Anak tersebut akhirnya tidak bias ikut karena kuasa ibu sanagat besar atas dirinya . Dalam penamaan kepada anak-anak laki-laki seperti Mariam Bungo, Margo Bungo, Besiap Bungo adalah ideologi matronymic, yaitu sikap pewarisan nama ibu atau nenek moyang dari pihak ibu kepada anak-anak laki-laki mereka. Bungo adalah nama wanita—terbukti ketika nama Tanggul Bungo telah dihadiahkan kepada saudari Siti Tatmainul Qulub dan Besujud Bungo dihadiahkan kepada saudari Helnanelis, rekan-rekan kami yang meneliti di Kedundung Mudo.

sejauh ½ jam perjalanan dari rombongnya. Selain para jenton sedang disibukan untum panen sawit, kami pun dikarantina di tempat yang jauh karena orang luaritu penuh penyakit dalam pandangan mereka. Jamhuri, seorang dusun yang setia menemani kami mengusulkan pada kami untuk tinggal di kawasan luar saja, karena tidak akan kuat denagn bau kotoran yang sudah sangat menyengat di lingkungan rombong mereka. Mereka mempunyai sumber air yang kecil namun anggota rombong mereka paling banyak diantara semua rombong di Bukit 12.Akan sulit memahami makna bersih menurut orang rimba jika kita melihat dari kacamata orang luar.

Dibawah ini telah dideskripsikan sistem kekerabatan Tumenggung Terap (Maritua).Yang tertua dari kekerabatan ini adalah T.Kayo kakek dari T. Nyenong—yang menjadi informan. Generasi kedua adalah T. Berambai yang meninggal tahun 1995. Dahuluorang-orang rimba sangat berkecukupan mengenai makanan.Tamu-tamu luar telah dijamu oleh T. Berambai, apakah itu makanan berupa ubi rebus atau buah- buhan hutan. Sejak tahun 1995. T. Mija menggantikannya, tata karma kepada tamu luar masih terjaga di masa itu. Robert WARSI hadir pada saat T. Mija masih hidup.Namun seiring waktu, pengaruh luar seperti pemberian hadiah-hadiah dari perusahaan-perusahaan kayu, karet dan sawit telah berdatangan. Bantuan pemerintah sering diberikan. Seperti biasa, itu semua tidak berlangsung lama. Ketika tanah orang rimba bisa di kuasai untuk perkebunan, maka hadiah-hadiah tersebut makin sedikit. Sementara sikap menerima pemberian telah menjadi kebiasaan. Ketika datang tamu, siapa pun mereka, apakah tamu perusahaan yang bermodal atau para peneliti atau mahasiswa yang bermodal kecil tetap harus memberikan bakon

(bahan kontak) yang tentunya akan memberatkan sebagian pihak.

Di balik gambar kekerabatan ini penuh cerita perceraian, istri tumenggung yang dibawa lari rakyatnya, seseorang mempertahankan kekuasaan tumenggung dengan menjadi mantu lima tumenggung, tumenggung menikahi anak angkat sendiri, dan anak tiri tumenggung yang menyukai ibu tirinya— mantan istri tumenggung.Intinya kisah cinta mereka penuh intrik politik dan kacau wapek (istilah rimba yang berarti kacau balau).

Gambar.7 Transek dari Sungai Jelutih s.d. Batas Taman Nasioanl Bukit 12

Dalam gambar ini, pada bagian perubahan di daerah Sungai Jelutih sebagai batas HTI dan perkebunan karet orang dusun dan orang rimbo, tertulis bahwa PT Imal akan membangunkan jalan dan lapangan bola atas permintaan orang rimba. Rencana untuk menjadikan orang rimba lebih akrab

dengan budaya populer (budaya dangkal) telah membuahkan hasil denganindikator permintaan mereka. Akan terjadi rekayasa sosial yang sangat cepat jika jalan baru itu diwujudkan. Berdatangannya sponsor rokok yang membiayai pertandingan bola disertai sensualitas para sales promotion girl-nya, yang menjadi lambang budaya populer,akan merasuk keruang hidup orang rimba. Video-video bola, lagu- lagu dangdut dan India telah ada di HP-HP mereka. Sesalung384 menjadi mudah melalui HP. Cewot tidak lagi menjadi kebanggaan budak-budak bujang.Berjudi sudah dibiarkan terjadi didepan Tumenggung dan Menti Terap.Sangat mengherankan ketika Menti memberikan modal kepada anaknya untuk berjudi saat itu. Di malam yang sama sebelum berlangsung perjudian, Theo memberikan pembelajaran menggambar dan mewarnai. Ketika anak-anak mulai bosan, mereka mulai bermain domino untuk berjudi. Anak yang ikut berjudi berseloroh,“Judi ini memang dosa, tapi nenek moyang kita tidak pernah melarangnya.”Keberadaan Pos WARSI di Sungai Dangku Besar adalah penetrasi kebudayaan luar ke dalam kehidupan orang rimba.

Gambar 7.a Pendidikan di Rimba oleh Theo dari WARSI bersama Murid-Muridnya

Gambar 7.b Pola asuh ala Rimba: tiga murid Theo ikut serta. Rekan Al-Husni dari STAI SMQ Bangko mengamati di sisi paling kanan.

384Sesalung adalah komunikasi jarak jauh, yang pesannya di teriakan dari satu rombong ke rombong lainnya.Bisa pesan berupa undangan atau panggilan. Bisa juga berupa pesan betino yang akan lewat ditempat yang ada jenton-nya atau sebaliknya. Upaya ini dilakukan untuk menghindari pertemuan antara mereka supaya tidak terjadi pelanggaran adat.

Gambar 8. Transek dari Sungai Danku Besar sampai dengan Sungai Terap

Dalam gambar di atas, di bagian ladang-ladang orang dusun terdapat pondok milik Pak Umar, Qodri, Jamhuri dari Jambi, dan Pak Mokhtar dari Jawa.Mereka membuka ladang di tanah yang sangat dekat dengan Taman Nasional. Kecemburuan antar pemilik ladang telah terjadi karena Menti Terap sering memberikan ijin pada seseorang dikalangan orang dusun untuk membuka hutan tanpa sepengetahuan T. Nyenong.

Orang-orang dusun ini telah mengenalkan cara membuat teh dicampur gula—dulu orang rimba menggunakan sari tebu atau madu sebagai pemanis—dan mengenalkan cara berladang padi. Terjadi

custom imitaton yakni bentuk peniruan terhadap adat istiadat secara tidak sadar oleh karena adanya pengendalian sosial secara persuasif dari kalangan orang dusun.

Pada bagian problematika di robong Depati Terap terdapat dua kata: “cinta lokasi”. Maksud dari kata-kata tersebut adalah penolakan Depati terhadap anak muda (Besilo) yang menyukai anak gadisnya, karena Depati menyukai adik Besilo yang cantik. Lidah Penado adalah bepak Besilo yang miskin. Secara adat, yang kaya kawin dengan yang kaya, yang miskin kawin dengan yang miskin385. Namun

dalam prekteknta terjadi pernikahan antara wanita dengan laki-laki yang lebih tinggi kedudukannya karena kecantikan atau kerajinan yang dimiliki wanita.

385 Wawancara tanggal 19 Desember 2013 dengan Lidah Penado yang sudah sangat tua dan juga keluarga miskin yang merasa kebingungan untuk menikahkan anaknya Besilo karena sangat besarnya mas kawin yang diminta. Itulah yang membuat Besilo lebih memilih wanita dusun dari pada wanita rimba.

Gambar 9. Peta Rombong T. Serengam di Sungai Terap

Inilah peta rombong yang menjadi daerah terjauh yang kami kunjungi dari peta transek yang dibuat. Pohon kedundung yang paling mencolok warnanya adalah calon pohon sialong.Dalam upaya konservasi lebah madu orang rimba menggunakan ideologi budaya fetisisme dalam menyikapi pohon-pohon muda yang akan menjadi pohon sialong, suatu sikap yang menganggap adanya kekuatan, ruh dan daya pesona tertentu yang bersemayam pada pohon kedundung yang tumbuh di tengah-tengah rombong.Untuk membuka ladang, semua pohonyang lebih besar telah ditumbangkan dan dibakar kecuali pohon ini.

Hal lain yang menarik adalah sudung induk dan nenek Merajat yang terpisah di balik hutan karet. Mereka dilarang membuat sudung di tengah-tengah anggota rombong yang lain karena keluarga ini pernah tinggal di HTI dua bulan lamanya untuk membantu keluarganya memanen sawit. Orang-orang rimba yang datang dari HTI berarti membawa penyakit, mereka dinamai bunaron.Mereka tidak boleh mendekat sebelum satu atau dua minggu tinggal di lokasi yang terisolir dalam rangka pengarantinaan. Jika terbukti sehat dalam satu atau dua minggu maka diperbolehkan masuk.

Pembagian lahan ladang yang dibuka adalah pembagian untuk para bini. Laki-laki tidak memiliki harta berupa ladang.Begitu juga hutan karet yang dulunya dimiliki perusahaan. Sekarang diambil alih kepemilikannya oleh orang rimba semenjak SK taman Nasional diberlakukan. Itupun tetap dimiliki para bini. Bini T. Maritua bahkan ikut memiliki ladang yang dibuka dan sebagian besar hutan karet.Pembagian lahan untuk penggarap yakni T. Serengam (Nyenong) adalah 2/3 bagian.Sedangkan pembagian lahan untuk T. Maritua sebagai penguasa lahan adalah 1/3 bagian.Anggota Rombong yang totalnya adalah 39 jiwa harus puas dengan bagian tersebut.Karena kuasa menentukan luasnya lahan ladang. Orang rimba jika ditanya tanah sekitar Sungai Terap milik siapa, maka akandijawab,“Milik T. Terap, tapi kami boleh mengelolanya.”Ideology yang dipakai dalam politik kekuasaan di kalangan orang rimba adalah paham

territorialism, dimana konsetrasi dari kekuasan politik berada ditangan pemilik tanah-tanah yang luas. Terbukti Tumenggung Terap beserta kedua bininya sangat berpengaruh kepada dijalankannya regulasi- regulasi baru di kempat ketumenggungan ini.

Dalam dokumen Persepsi Perempuan Terhadap Perceraian A (1) (Halaman 172-179)