LOGAM TERLARUT
B. Pertanian/Perkebunan Rakyat
1. Kesuburan tanah
Satuan-satuan tanah yang ada di sekitar area PPGM diklasifikasikan berdasar sistem Soepraptohardjo (1961). Adapun kelompok satuan tanah yang ada adalah kelompok Aluvial, Regosol, Litosol, Latosol, Grumusol, dan Lateritik. Masing-masing kelompok terdiri atas
satuan-satuan tanah yang lebih rinci. Masing-masing satuan tanah tersebut beserta persebaran, potensi penggunaan, tingkat kesuburan dan bahayanya diuraikan lebih lanjut berdasarkan hasil survey lapangan dan analisa laboratorium. Pada analisa tingkat kesuburan tanah, parameter yang digunakan adalah tekstur, pH, Bahan Organik, Nitrogen (total dan tersedia), Phospor tersedia, Kapasitas Tukar Kation, Kejenuhan Basa, Unsur Basa (K, Na, Mg, Ca), dan Permeabilitas Tanah.
Tanah aluvial tersebar pada dataran-dataran alluvial. Pada dataran aluvial yang relatif baru tanahnya masih menampakan adanya perlapisan bekas proses pengendapan dengan periode yang berbeda. Macam-macam tanah aluvial di sekitar PPGM berasosiasi dengan Hidromorf Kelabu dan Grumusol. Pada dataran aluvial yang sudah tua, tanah aluvial telah mengalami perkembangan sehingga pada beberapa tempat berubah menjadi tanah Grumusol. Lokasi pengambilan sampel terdapat pada dua daerah yaitu Kini-kini dan Minakarya. Kedua daerah ini termasuk ke dalam bentuklahan dataran alluvial yang setiap tahunnya pada bulan ke tujuh tergenang air. Tingkat permeabilitas yang masuk pada klasifikasi agak lambat (0,88 cm/jam), menyebabkan proses pengatusan air genangan membutuhkan waktu hingga satu minggu.
Dataran aluvial bagian bawah mempunyai muka airtanahsangat dangkal dekat dengan permukaan tanah. Keberadaan airtanah yang dangkal menyebabkan tanah selalu dalam keadaan jenuh air sehingga semua basa atau logam yang ada dalam tanah dalam keadaan tereduksi (valensi rendah). Dalam keadaan yang demikian, tanah menjadi berwarna kelabu. Reaksi tanah dalam keadaan tereduksi, bereaksi masam sehingga beberapa unsur logam di dalam tanah dapat bersifat meracun bagi tanaman. pH tanah bervariasi dari agak masam hingga netral. Tekstur geluh lempungan dengan kapasitas tukar kation yang tinggi. Tingkat kejenuhan basa dari kedua lokasi pengambilan sampel (61,05 % dan 72,25%) menunjukkan bahwa daerah ini adalah daerah subur dan sangat sesuai untuk daerah persawahan, sehingga kualitas lingkaungan dari segi kesuburan tanah adalah tinggi (skala 4).
Tanah Regosol, seperti halnya tanah aluvial merupakan tanah yang belum berkembang. Umumnya tanah Regosol berasal dari bahan induk yang baru diendapkan atau karena ada proses-proses geomorfologi yang bekerja intensif sehingga proses pembentukan tanah tidak berlangsung. Regosol di sekitar daerah PPGM berkembang di tepian pantai dengan luasan
yang relatif sempit. Pada umumnya Regosol di dataran pantai tidak produktif karena terlalu porus yang diakibatkan oleh tekstur tanahnya yang pasiran. Tanah regosol tidak dimanfaatkan sebagai daerah pertanian di daerah ini mengingat tingkat kesuburan yang sangat rendah dan luasannya yang sempit. Dengan demikian kesuburuan tanah ditinjau dari kualitas lingkungannya, tanah ini masuk kategori kualitas sangat rendah (skala 1). Litosol merupakan tanah yang tipis dengan solum < 50 cm dan mengalami kontak langsung dengan batuan induk yang keras yang ada di bawahnya. Litosol mungkin terbentuk pada batuan-batuan dasar yang keras sehingga produksi bahan induk tanah terbatas. Namun, Litosol dapat juga terbentuk dari satuan-satuan tanah yang lain yang telah mengalami pengikisan lanjut. Tanah Litosol terdapat di kompleks perbukitan denudasional berupa perbukitan-perbukitan sisa di Kayoa (jalur pipa). Berdasarkan analisa laboratorium, daerah perbukitan ini memiliki tanah yang cenderung masam (pH H2O 5,42) sedangkan pada daerah lembah memiliki pH mencapai 5,96 (agak masam). Dengan demikian tingkat keasaman tanah menjadi faktor pembatas dalam tingkat kesuburan tanah daerah ini, dan dapat disimpulkan bahwa kesuburan tanah jenis Litosol ini adalah rendah dan dikategorikan kedalam skala kualitas lingkungan rendah (skala 2).
Sebagian lembah di daerah Kayoa ini dipergunakan sebagai lahan pertanian sawah yang kerap mengalami genangan. Genangan ini diakibatkan oleh tertutupnya limpasan air dari atas bukit oleh tanggul saluran irigasi. Kondisi tersebu memperparah kondisi tanah sehingga mengakibatkan pertumbuhan tanaman terganggu. Hal tersebut dapat diamati dari pengamatan langsung di lapangan bahwa padi di daerah ini relatif kurus dan berwarna kuning. Potensi tanah Litosol sangat terbatas dan disarankan untuk penggunaan non pertanian atau bahkan seyogyanya dibiarkan alami apabila tidak tersedia cukup modal. Latosol merupakan tanah yang telah berkembang dibawah pengaruh iklim yang basah dengan membetuk profil tanah yang dalam. Latosol terbentuk pada bahan induk volkanik yang terletak pada kondisi relief yang memungkinkan terbentuknya drainase baik. Pembentukan Latosol di hasilkan oleh air perkolasi yang membawa material halus dari lapisan tanah permukaan ke lapisan tanah bawah permukaan. Oleh karena terbentuk di bawah kondisi drainase dakhil (internal drainage) yang baik maka Latosol dicirikan oleh warna tanah yang seragam kemerahan dari atas hingga bawah dengan struktur tanah
bawah permukaan tiang berukuran halus-sedang. Latosol mempunyai kemasaman yang agak rendah (5.5 - 6.0) sebagai akibat dari pengaruh iklim yang basah yang telah melarutkan sebagian basa-basa yang ada di dalam bahan induk tanah. Latosol terdapat di kompleks Maleoraja dan Matindok dengan batuan induk berupa batupasir dan konglomerat. Latosol merupakan tanah yang potensial untuk pengembangan pertanian, namun juga menyimpan potensi erosi yang besar sebagai akibat dari posisinya pada lereng-lereng perbukitan dan pegunungan. Dalam hal pengendalian banjir, kapasistas infiltrasi Latosol juga baik yang dapat menjamin tersedianya mata air pada lereng bawah dan kaki sepanjang tahun.
Variasi Latosol pada tingkat macam tanah di daerah Matindok dan Maleoraja adalah Latosol Coklat Kekuningan. Latosol Coklat Kekuningan cenderung berwarna pucat merupakan tanah yang telah terlapuk lanjut yang perkembangan tanahnya akan mengarah untuk terbentuknya jenis tanah Oksisols. Meskipun tanah ini telah mengalami proses pelindian akan tetapi kejenuhan basa masih dapat dipertahankan. Hasil analisa laboratorium menunjukkan bahwa kejenuhan basa tanah lebih dari 35%. Kandungan bahan organik juga relatif cukup tinggi di daerah lereng atas perbukitan (3,49%). Pada daerah lembah antar perbukitan kandungan bahan organik mangalami peningkatan prosentase sebagai akibat dari akumulasi endapan material dari lereng-lereng bukit dan pula daerah ini telah dikembangkan sebagai daerah perkebunan yang cukup subur. Daerah perkebunan lembah ini sangat tercukupi akan kebutuhan airnya. Daerah lembah ini juga berasosiasi dengan dataran banjir Sungai Kayoa. Sehingga ada kemungkinan ada periode ulang banjir yang menggenangi daerah lembah ini. Dengan demikian dapat disimpulkan kompleks perbukitan Maleoraja dan Matindok ini mempunyai kesuburan tanah sedang dan dikategorikan kedalam kualitas tanah skala sedang (skala 3).
Gambar 3.11.
Pembukaan Lahan Dengan Cara Pembakaran Hutan Di Maleoraja
Meskipun demikian aspek konservasi harus tetap diperhatikan mengingat terjalnya kemiringan lereng yang nantinya akan berdampak pada erosi dan tanah longsor. Di daerah ini terdapat beberapa pembukaan lahan dengan cara pembakaran hutan. Kondisi ini jika dibiarkan terus menerus akan menurunkan kualitas lahan, ditambah lagi dengan tidak diterapkannya sistem konservasi tanah yang mantab akan mendorong terjadinya degradasi lahan.
Satuan tanah lateritik terdapat di kompleks perbukitan Minahaki dan Dongin. Tanah jenis ini terbentuk di daerah dengan curah hujan tinggi ditambah temperatur yang tinggi. Temperatur tinggi bisa diakibatkan oleh proses intrusi kala umur geologi. Temperatur yang tinggi akan mempercepat proses mineralisasi bahan organik yang dapat mengimbangi proses humifikasi, sehingga terbentuk CO2 dan H2O. Zat-zat ini selanjutnya mempercepat dekomposisi batuan-batuan, dan juga seilikat Al dan Fe dengan melarutkan ion basa K, Ca, Na, dan Mg. Tanah ini terbentuk dari batuan induk berupa batu pasir dan konglomerat dari Formasi Bongka dengan umur pembentukan kala Mieosen-Pliestosen. Umur batuan tersebutlah yang menunjukkan bahwa tanah di daerah ini berumur tua dengan tingkat pelapukan yang intensif. Warna tanah sangat homogen 10 R 4/6. Ketebalan tanah lebih dari 1,5 meter. Berdasarkan hasil laboratorium tanah di daerah Dongin dan Minahaki memiliki kejenuhan basa yang sangat rendah (kurang dari 35%). Meskipun mempunyai tekstur lempung-lempung debuan, tanah ini tetap memiliki kelas permeabilitas yang agak cepat-cepat. Kondisi ini disebabkan oleh struktur tanah yang kuat berupa granuler-remah yang terbentuk dari ikatan Fe dan Al. Tanah tipe ini sangat peka terhadap erosi dan tanah
Gambar 3.12. Tanah Latosol di Matindok
longsor. Dengan demikian tingkat kesuburan daerah ini sangat rendah, dan dikategorikan kedalam skala kualitas lingkungan rendah (skala 2).
Grumusol merupakan tanah lempungan yang mempunyai daya kembang kerut(swelling and shrinking) tinggi sebagai akibat dari adanya tipe lempungsmectite. Lempung tipe ini adalah spesifik terbentuk di bawah iklim tropik. Grumusol berkembang dari sembarang bahan induk yang dapat menghasilkan lempung dalam jumlah yang tinggi (>35%) dan dibawah suasana basa dimana unsur Ca merajai dalam kompleks pertukaran kationnya. Ketersediaan unsur Ca dalam kompleks jerapan ini dapat berasal dari mineral penyusun bahan induk yang didominasi oleh Ca-plagioklas dan atau mendapat imbuhan dari pelarutan Ca atas batuan induk yang ada di sekitarnya. Grumusol merupakan tanah yang cukup potensial untuk pengembangan pertanian apabila kecukupan air. Pada kondisi kering tanah Grumusol akan mengalami retak-retak dengan lebar lebih dari 1 cm dan kedalaman retakan lebih dari 50 cm. Pada beberapa tempat retakan dapat mencapai 10 cm dan kedalaman lebih dari 1 m. Retakan-retakan ini seringkali menimbulkan akibat yang kurang baik pada bangungan-bangunan keteknikan seperti rumah, jalan, dan bahkan jembatan. Persebaran Grumusol di daerah kajian terdapat di kompleks perbukitan Sukamaju. Batuan induk daerah ini adalah batu napal dan lanau dengan kadar Ca yang tinggi. Kondisi tersebut mengakibatkan reaksi tanah dalam suasana basa. Kandungan bahan organik sangat rendah (0,6%) diakibatkan proses erosi yang intensif (Gambar 3.14). Tingkat kejenuhan basa sangat tinggi mencapai 89,45%.
Gambar 3.13.
Tanah Lateritik dengan Warna 10 R 4/6, di Daerah Minahaki
Satuan tanah Grumusol lain yang terbentuk di daerah perbukitan kapur Batui adalah tanah Rendzina. Tanah ini merupakan tanah yang masih baru (perkembangan baru terbentuk horizon A dan C). Tanah berwarna hitam kelabu dengan struktur granuler di lapisan atas. Tanah ini selalu mengandung CaCO3, sehingga pH juga cenderung mengarah pada basa (pH di daerah ini paling tinggi di sekitar area PPGM, mencapai 7,2). Tanah ini kurang sesuai untuk lahan pertanian karena kesuburan yang rendah dan ketebalan tanah yang tipis, sehingga skala kualitas lingkungan dari segi kesuburan tanah adalah rendah (skala 2).