12. Kawasan Peruntukan Pertanahan dan Keamanan Negara
2.3. ASPEK PELAYANAN UMUM
2.3.1. Urusan Pemerintahan Wajib Pelayanan Dasar
2.3.1.5 Ketentraman, Ketertiban Umum, dan Perlindungan Masyarakat
Kondisi wilayah yang aman dan tertib menjadi jaminan bagi kehidupan masyarakat yang sejahtera. Upaya untuk memenuhi dan menciptakan rasa aman pada masyarakat merupakan langkah strategis yang turut mempengaruhi keberhasilan pembangunan. Terciptanya dan terpenuhinya rasa aman dapat memberikan suasana kondusif bagi masyarakat dalam melakukan berbagai aktifitas.
Dalam konteks ini, isu tindak kejahatan dan kriminalitas menjadi hal penting yang harus diselesaikan.
Pemerintah Kota Bengkulu juga memiliki salah satu harapan dalam delapan (8) tekat yaitu Bengkuluku Aman. Angka kejahatan dan jumlah kejahatan yang diselesaikan di Kota Bengkulu disajikan dalam tabel berikut:
Tabel 2. 34
Jumlah Kejahatan yang Dilaporkan dan Jumlah kejahatan yang Diselesaikan Tahun 2013-2016
No Rincian 2013 2014 2015 2016 2017
1 Jumlah Kejahatan yang dilaporkan 1.228 1.011 2.048 2.445 2.516 2 Jumlah kejahatan yang
diselesaikan
591 523 616 674 694
3 Persentase Penyelesaian 48,12% 51,73% 30,00% 28.00% 2,758%
Sumber: Kota Bengkulu Dalam Angka 2016 dan 2017
Berdasarkan jumlah laporan yang terhimpun, dalam kurun waktu 4 tahun terakhir angka kejahatan di Kota Bengkulu mengalami tren yang fluktuatif dan relatif meningkat. Peningkatan yang paling signifikan terjadi pada tahun 2014 ke 2015 yaitu sebesar 102,57 persen. Rata-rata pertumbuhan jumlah kejahatan yang dilaporkan setiap tahunnya mencapai 34,76 persen. Kondisi ini mengindikasikan bahwa tingkat kejahatan di Kota Bengkulu masih tinggi. Angka kejahatan di Kota Bengkulu yang cukup tinggi menjadi salah satu fokus perhatian baik pemerintah maupun aparat keamanan.
Rata-rata penyelesaian kejahatan di Kota Bengkulu dalam kurun waktu 4 tahun terakhir hanya mencapai angka 39 persen. Persentase penyelesaian terbesar terjadi pada tahun 2014 yaitu mencapai 51,73 persen dan paling rendah adalah pada tahun 2016 yaitu mencapai 28 persen. Kondisi ini mengindikasikan bahwa angka penyelesaian tindak kejahatan di Kota Bengkulu masih sangat rendah.
Tabel 2. 35
Jumlah Kejahatan setiap 10.000 Penduduk (%)
Sumber: Kota Bengkulu Dalam Angka 2016 dan 2017
Jumlah orang yang beresiko terkena tindak kejahatan setiap 10.000 penduduk di Kota engkulu mengalami tren yang fluktuatif. Pada tahun 2013, sejumlah 1200 orang menjadi korban tindak kejahatan, turun menjadi 1000 orang pada tahun 2014, meningkat menjadi 2000 orang pada tahun 2015 dan menjadi 2400 orang pada tahun 2016. Rata-rata jumlah kejahatan per 10.000 penduduk di Kota Bengkulu sejak tahun 2013 sampai 2016 adalah 57.740 orang.
Keberadaan satuan perlindungan masyarakat (Satlinmas) di suatu wilayah menjadi sebuah hal yang penting. Satlinmas memiliki beberapa tugas dan fungsi, diantaranya adalah membantu upaya pertahanan negara, membantu penanggulangan bencana, membantu kegiatan pemilu, membantu kegiatan sosial kemasyarakatan dan membantu memelihara ketentraman dan ketertiban masyarakat.
Kondisi jumlah satlinmas di Kota Bengkulu adalah sebagai berikut:
Tabel 2. 36
Jumlah SATLINMAS di Kota Bengkulu Tahun 2013-2016 (orang)
Kota 2013 2014 2015 2016
Bengkulu 737 737 737 737
Sumber: Kota Bengkulu Dalam Angka 2016 dan 2017
Jumlah Satlinmas di Kota Bengkulu dalam kurun waktu 4 tahun terakhir tidak mengalami perubahan. Kondisi ini masih menjadi permasalahan mengingat banyaknya tindak kejahatan. Kondisi tersebut dapat disebabkan oleh kurangnya minat penduduk mendaftar menjadi tenaga satlinmas.
Upaya penciptaan kondisi lingkungan yang aman, tertib dan tentram bukan hanya menjadi tugas pemerintah, namun juga menjadi tugas masyarakat. Upaya tersebut dilakukan dengan membentuk dan mengaktifkan Pos Sistem Keamanan Lingkungan (Poskamling). Kondisi jumlah pelayanan poskamling di Kota Bengkulu dijabarkan sebagai berikut:
Tabel 2. 37
Cakupan Pelayanan Poskamling di Kota Bengkulu Tahun 2014 – 2017
Indikator 2014 2015 2016 2017
Cakupan Pelayanan Poskamling 97,41 40,90 59,53 46,83
Sumber: Badan Kesbangpol Kota Bengkulu, 2018
No Uraian 2013 2014 2015 2016
1 Jumlah Kejahatan per 10.000 Penduduk 0,12 0,10 0,20 0,24
Cakupan pelayanan poskamling di Kota Bengkulu mengalami tren fluktuatif. Pada tahun 2016, cakupan pelayanan poskamling di Kota Bengkulu mengalami penurunan. Pada tahun 2016, cakupan pelayanan poskamling di Kota Bengkulu mengalami peningkatan. Pada tahun 2014-2017, cakupan pelayanan poskamling di Kota Bengkulu mengalami penurunan yang mencapai 52 persen. Kondisi tersebut mengindikasikan belum optimalnya pelayanan poskamling di Kota Bengkulu.
Perkembangan penyelenggaraan urusan ketentraman, ketertiban, dan perlindungan umum juga dapat dilihat melalui jumlah pelanggaran Peraturan Daerah (Perda) dan demonstrasi. Adanya demonstrasi mengindikasikan bentuk kekecewaan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah termasuk perda yang dinilai merugikan masyarakat. Kondisi capaian pelanggaran Perda dan demonstrasi di Kota Bengkulu sebagai berikut:
Tabel 2. 38
Jumlah Pelanggaran Perda dan Demonstrasi Kota Bengkulu Tahun 2013-2017 (kasus)
Jenis Data Tahun
2013 2014 2015 2016 2017
Jumlah pelanggaran Perda NA NA 15 22 12
Jumlah Demo NA NA 35 75 5
Sumber: Badan Kesbangpol Kota Bengkulu, 2018
Kinerja pelanggaran perda pada tahun 2013 hingga 2017 mengalami perkembangan yang fluktuatif. Pada tahun 2016, Pemerintah Kota Bengkulu menghadapi pelanggaran perda tertinggi yakni mencapai 22 kasus pelanggaran perda. Pada tahun 2017, kinerja tersebut menurun 45 persen. Namun, jumlah demo mengalami tren peningkatan. Pada tahun 2015-2016, jumlah demo di Kota Bengkulu mengalami pertumbuhan yakni mencapai 114,3 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa pelayanan ketentraman dan ketertiban umum di Kota Bengkulu belum optimal. Kondisi tersebut dapat disebabkan oleh lemahnya pengawasan penegakan Perda ketertiban, ketentraman, dan keindahan (K3 dan kurangnya pemahaman masyarakat terhadap substansi Perda.
Capaian pembangunan urusan ketentraman dan ketertiban umum juga dapat ditinjau dari penyelesaian kasus K3. Apabila kasus K3 semakin sedikit yang diselesaikan, maka kinerja sektor K3 dinilai belum optimal. Capaian penyelesaian kasus K3 di Kota Bengkulu adalah sebagai berikut:
Tabel 2. 39
Jumlah Kasus Ketertiban, Ketentraman, dan Keindahan (K3) yang diselesaikan di Kota Bengkulu Tahun 2015-2017
No Jenis Data Tahun
2013 2014 2015 2016 2017
1 Jumlah Penyelesaian Kasus
Pelanggaran Ketertiban, Ketentraman, dan Keindahan (K3)
NA NA 85 105 154
Sumber: Hasil Kompilasi Data Tim RPJMD Kota Bengkulu 2018
Jumlah kasus K3 yang diselesaikan di Kota Bengkulu mengalami tren peningkatan. Jumlah kasus K3 yang diselesaikan di Kota Bengkulu mengalami peningkatan 81,18 persen. Capaian tersebut merupakan hasil positif dari upaya Pemerintah Kota Bengkulu untuk menerapkan Peraturan Daerah (Perda) No 3 Tahun 2008 Tentang Ketentraman dan Ketertiban Umum dalam Wilayah Kota Bengkulu.
Namun, capaian tersebut dapat dinilai belum signifikan. Angka kasus K3 semakin meningkat tiap tahunnya. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa Pemerintah Kota Bengkulu masih mengalami masalah tingginya kasus K3. Kondisi tersebut dapat disebabkan oleh lemahnya pengawasan penegakan Perda K3 dan kurangnya pemahaman masyarakat terhadap substansi Perda tentang pentingnya ketentraman dan ketertiban umum dalam wilayah Kota Bengkulu.
Tingkat konflik sosial dapat mempengaruhi perkembangan K3. Sebab perkembangan hidup manusia tidak lepas dari adanya konflik. Apabila konflik sosial meningkat, maka ketentraman dan keamanan masyarakat menjadi terganggu. Capaian tingkat sosial di Kota Bengkulu adalah sebagai berikut:
Grafik 2. 30
Tingkat Konflik Sosial di Kota Bengkulu Tahun 2015-2017 (kasus)
Sumber: Hasil Kompilasi Data Tim RPJMD Kota Bengkulu 2018
Konflik sosial di Kota Bengkulu mengalami tren peningkatan yaitu mencapai 71,43 persen pada periode tahun 2015-2017. Capaian tersebut mengindikasikan bahwa Kota Bengkulu mengalami masalah masih lemahnya pencegahan terhadap gangguan keamanan. Kondisi tersebut dapat disebabkan oleh belum optimalnya ruang mediasi/dialog antar kelompok masyarakat dan belum maksimalnya sistem pengamanan berbasis komunitas seperti sistem deteksi dini konflik sosial.
Pemerintah Kota Bengkulu berusaha mengurangi konflik masyarakat dengan membina lembaga swadaya masyarakat/organisasi masyarakat (LSM/Ormas) sebagai mitra pemerintah.
Pembinaan kepada LSM/ormas menjadi penting untuk membantu pemerintah memberdayakan masyarakat. Semakin tinggi tingkat pembinaan LSM/ormas, maka partisipasi sosial masyarakat dapat meningkat. Capaian LSM/ormas yang dibina di Kota Bengkulu adalah sebagai berikut:
0 20 40
2015 2016 2017
21 25 36
Grafik 2. 31
LSM/Ormas yang dibina di Kota Bengkulu Tahun 2016-2017 (%)
Sumber: Hasil Kompilasi Data Tim RPJMD Kota Bengkulu 2018
Pembinaan LSM/ormas di Kota Bengkulu mengalami tren peningkatan. Capaian tersebut menggambarkan Pemerintah Kota Bengkulu berusaha memenuhi amanat dalam Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Masyarakat. Pembinaan LSM/ormas dilakukan untuk meningkatkan kinerja dan keberlangsungan hidup ormas. Pembinaan dilakukan atas dasar menghormati dan mempertimbangkan aspek sejarah, rekam jejak, peran dan integritas ormas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
2.3.1.6. Sosial
Pemerintah daerah memiliki kewajiban menyelenggarakan urusan sosial dalam pelayanan dasar. Kewajiban tersebut merupakan kepanjangan dari UU nomor 11 Tahun 2009 Tentang Kesejahteraan Sosial yang menyebutkan bahwa negara bertanggung jawab atas penyelenggaraan kesejahteraan sosial. Pemerintah Kota Bengkulu juga memiliki salah satu harapan dalam delapan (8) tekat yaitu Bengkuluku Peduli. Dalam prakteknya, urusan sosial lebih fokus pada penanganan dampak atau fenomena sosial yang membutuhkan intervensi sosial seperti penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS). Kondisi PMKS di Kota Bengkulu dapat dipaparkan melalui beberapa indikator yaitu:
jumlah PMKS, persentase PMKS yang memperoleh bantuan sosial untuk pemenuhan kebutuhan dasar, persentase PMKS yang ditangani, dan persentase panti sosial yang menerima program pemberdayaan sosial melalui Kelompok Usaha Bersama (KUBE) atau kelompok sosial ekonomi sejenisnya.
Tabel 2. 40
Jumlah Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial di Kota Bengkulu Tahun 2014-2017 (orang)
Jenis Masalah 2014 2015 2016 2017
Lanjut Usia Terlantar 208 210 217 225
Anak Cacat 110 115 120 145
Penyandang Cacat/Disabilitas 231 332 345 360
Anak Jalanan 11 25 26 33
Anak Berhadapan Dengan Hukum 15 16 18 30
0 20 40 60 80
2016 2017
22
76
Anak Terlantar 13 25 533 571
Pekerja Seks Komersil 122 140 145 162
Eks. Narapidana 120 150 180 220
Keluarga Miskin 15.469 15.469 15.469 16.629
Wanita Rawan Sosial Ekonomi 317 350 377 385
Korban Bencana Alam 13 9 8 14
Korban Bencana Sosial 21 12 16 14
Jumlah 16650 16853 17454 18788
Sumber: Kota Bengkulu Dalam Angka 2017
Jumlah PMKS di Kota Bengkulu mengalami tren peningkatan. Jenis PMKS terbesar di Kota Bengkulu adalah keluarga miskin, wanita rawan sosial ekonomi, dan lanjut usia terlantar. Kondisi tersebut menggambarkan bahwa Kota Bengkulu mengalami permasalahan tinggi penduduk PMKS.
Kondisi ini disebabkan beberapa faktor yaitu: belum optimalnya kualitas dan kuantitas pelayanan masalah sosial, belum optimalnya ketersediaan pelayanan sosial dalam menjangkau penerima layanan, belum optimalnya jumlah dan kompetensi pekerja sosial, rendahnya kuantitas lembaga sosial, belum optimalnya penanganan dan pemberian bantuan lanjut usia terlantar, rendahnya pendapatan PMKS, belum optimalnya pembinaan kepada anak cacat, dan penyandang disabilitas, belum optimalnya fasilitasi manajemen usaha bagi keluarga miskin, belum optimalnya fasilitasi program keluarga harapan serta belum optimalnya pendampingan wanita rawan sosial ekonomi.
Pemerintah Kota Bengkulu berusaha untuk menangani PMKS. Beberapa kebijakan yang dilakukan adalah memberikan bantuan sosial PMKS dan pemberdayaan sosial melalui kelompok usaha bersama (KUBE) atau kelompok sosial ekonomi sejenisnya melalui panti sosial. Capaian PMKS yang ditangani oleh Pemerintah Kota Bengkulu adalah sebagai berikut:
Grafik 2. 32
Persentase PMKS yang Ditangani di Kota Bengkulu (%) Tahun 2013-2017
Sumber: Hasil Kompilasi Data Tim RPJMD Kota Bengkulu 2018
30 30 30 30
60
0 10 20 30 40 50 60 70
2013 2014 2015 2016 2017
Pemerintah Kota Bengkulu mengalami dua tren dalam penanganan PMKS yaitu tren stagnasi dan peningkatan. Tren stagnasi terjadi pada tahun 2013 hingga 2016, sedangkan tren peningkatan ditunjukkan pada tahun 2017. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Pemerintah Kota Bengkulu masih mengalami permasalahan belum optimalnya penanganan PMKS. Sebab faktual dari kondisi tersebut adalah ketersediaan pelayanan sosial dalam menjangkau penerima layanan belum optimal dan rendahnya pendapatan PMKS.
Pemberian bantuan sosial bertujuan agar PMKS mampu memenuhi kebutuhan dasarnya, sehingga mudah untuk mencapai hidup layak. PMKS memiliki kesulitan untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Kesulitan tersebut dapat disebabkan PMKS memiliki kehidupan yang tidak layak secara kemanusiaan dan memiliki kriteria masalah sosial yakni kemiskinan, ketelantaran, kecacatan, keterpencilan, ketunaan sosial dan penyimpangan perilaku, korban bencana, korban tindakan kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi. Capaian persentase PMKS yang memperoleh bantuan sosial untuk pemenuhan kebutuhan dasar di Kota Bengkulu adalah sebagai berikut:
Grafik 2. 33
Persentase PMKS yang memperoleh bantuan sosial untuk pemenuhan kebutuhan dasar di Kota Bengkulu (%) Tahun 2013-2017
Sumber: Hasil Kompilasi Data Tim RPJMD Kota Bengkulu 2018
Persentase PMKS yang memperoleh bantuan sosial untuk pemenuhan kebutuhan dasar di Kota Bengkulu mengalami peningkatan persentase sebesar 100 persen pada tahun 2017. Kondisi tersebut menunjukkan hasil yang positif dari upaya Pemerintah Kota Bengkulu membangun sektor sosial di daerahnya. Namun, capaian tersebut juga menunjukkan bahwa bantuan sosial belum bisa dinikmati oleh semua PMKS (belum 100 persen) di Kota Bengkulu.
Perkembangan urusan sosial juga dapat ditinjau dari aspek kebencanaan. Bencana yang berpotensi melanda Kota Bengkulu adalah bencana kebakaran, gempa, banjir, dan tsunami. Bencana kebakaran termasuk bencana yang sering terjadi di Kota Bengkulu mengingat pertumbuhan penduduk dan tingginya aktivitas pembangunan perumahan di Kota Bengkulu. Berdasarkan data Dinas Pemadam Kebakaran, pada tahun 2016 tercatat ada 54 kasus kebakaran yang terjadi di Kota Bengkulu. Pada tahun 2017, kasus kebakaran meningkat menjadi 67 kasus kebakaran. Selain itu, sarana prasarana pemadam kebakaran merupakan hal penting dalam penanggulangan bencana kebakaran. Jumlah armada pemadam kebakaran Kota Bengkulu tahun 2018 dijelaskan pada tabel berikut:
30 30 30 30
60
2013 2014 2015 2016 2017
Tabel 2. 41
Jumlah Armada Pemadam Kebakaran Kota Bengkulu Tahun 2018
Armada Jumlah Kondisi
Brandweer 11 rusak ringan dan rusak berat
Tengki 3 rusak ringan
Rescue 1 Baik
Mobil Tangga 1 Baik
Jumlah Total 16
Sumber: Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bengkulu, 2018
Kota Bengkulu memiliki armada kebakaran yang terdiri dari brandweer, tengki, Rescue dan mobil tangga. Jumlah armada tertinggi yang dimiliki Kota Bengkulu yaitu brandweer. Sebagian besar armada brandweer dalam kondisi rusak ringan atau sebesar 77,8 persen dari jumlah total brandweer, sedangkan sisanya dalam kondisi rusak berat. Seluruh armada tangki Kota Bengkulu dalam kondisi rusak ringan, sedangkan armada Rescue dan mobil tangga dalam kondisi baik.
Kondisi armada pemadam kebakaran Kota Bengkulu mengindikasikan bahwa diperlukan peningkatan pengelolaan sarana prasarana pemadam kebakaran. Secara umum, Kota Bengkulu masih mengalami tingginya bencana kebakaran. Kondisi tersebut disebabkan karena masih minimnya pemahaman penduduk tentang pencegahan dini bencana kebakaran dan terbatasnya sarana dan prasarana pendukung seperti mobil pemadam kebakaran.
Tabel 2. 42
Jumlah Kejadian Bencana Wilayah Kota Bengkulu
Jenis Bencana Jumlah
Bencana
Jumlah Kerusakan
RB RS RR Tergenang
2015
Angin puting beliung 3 - 13 3
-Banjir 16 - 52 - 52
2016
Angin puting beliung 7 10 18 -
-Banjir 39 - - 3 2840
Gempa Bumi 3 - 5 18
-2017
Angin puting beliung 4 8 2 9
-Banjir 31 15 - - 2772
Longsor 10 6 - 1
-Petir 1 - - 1
Sumber: Hasil Kompilasi Data Tim RPJMD Kota Bengkulu 2018
Bencana alam yang melanda Kota Bengkulu selama tiga tahun terakhir adalah angin puting beliung, banjir, gempa bumi, longsor dan petir. Bencana angina puting beliung dan banjir selalu melanda Kota Bengkulu selama 3 tahun terakhir. Bencana banjir merupakan bencana yang sering terjadi di Kota Bengkulu pada setiap tahun dan mengakibatkan kerusakan yang cukup banyak. Jumlah titik banjir pada tahun 2016 meningkat cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Pada tahun 2017 terdapat bencana longsor sebanyak 10 kali di Kota Bengkulu. Hal ini mengindikasikan bahwa diperlukan peningkatan ketesediaan sistem drainase sehingga dapat mencegah kelebihan air yang mengikis lapisan tanah dan memicu terjadinya banjir dan tanah longsor.
Tabel 2. 43
Ancaman Bencana di Kota Bengkulu
No Jenis bencana Tingkat Ancaman
1. Sumber: Hasil Kompilasi Data Tim RPJMD Kota Bengkulu 2018
Ancaman bencana di Kota Bengkulu bervariasi mulai dari tingkat rendah hingga tinggi. Kota Bengkulu memiliki ancaman bencana cuaca ekstrim, gempa bumi dan tsunami yang tinggi.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Bengkulu, terdapat 3 kejadian gempa bumi di Kota Bengkulu pada tahun 2016. Kesiapsiagaan bencana di Kota Bengkulu menjadi penting dilakukan. Saat ini, kesiapsiagaan bencana di Kota Bengkulu belum optimal. Berdasarkan hasil wawancara dengan dinas terkait, kondisi ini disebabkan beberapa sebab yaitu: belum optimalnya pencegahan dini dan penanggulangan korban bencana alam, masih lemahnya koordinasi antar dinas terkait dan masyarakat jika terjadi Pra Bencana, belum ada peraturan daerah (perda) tentang bangunan tahan gempa, tempat evakuasi tsunami belum memadai, masih lemahnya koordinasi antara pemerintah, masyarakat dan dunia usaha dalam penanggulangan bencana, belum optimalnya Forum Pengurangan Resiko Bencana di Kota Bengkulu yang melibatkan pemerintah, dunia usaha dan masyarakat, rambu-rambu evakuasi bencana masih kurang, belum lengkapnya sarana tempat evakuasi sementara (TES) bencana (gempa, tsunami dan banjir) di Kota Bengkulu, kondisi jalur evakuasi yang belum memadai, sirine peringatan dini bencana yang masih kurang, peralatan bencana yang belum optimal, dan terbatasnya sekolah dan kelurahan tanggap bencana di Kota Bengkulu.
2.3.2. Urusan Pemerintahan Wajib Bukan Pelayanan Dasar