NO KECAMATAN FASKES KB JARINGAN/ JEJARING 5 KAMPUNG
2) Belanja Langsung
3.1.2. Neraca Daerah
Neraca daerah digunakan sebagai alat analisis kondisi keuangan pemerintah daerah terkait kondisi aset, kewajiban, dan ekuitas dana. Aset dilihat dari nilai uang yang terkandung di dalamnya, serta manfaat sosial dan ekonomi yang dihasilkan dari adanya aset. Kondisi keuangan daerah yang kadang tidak stabil mengakibatkan pemerintah daerah mengambil utang. Utang berdasarkan Permendagri 13 Tahun 2006 didefinisikan sebagai jumlah uang yang wajib dibayar oleh pemerintah daerah dan/atau kewajiban pemerintah daerah yang dapat dinilai dengan uang berdasarkan peraturan perundang-undangan, perjanjian, dan berdasarkan sebab lainnya yang sah. Utang dalam analisis neraca dilihat dari utang atau kewajiban jangka pendek dan jangka panjang. Selisih antara nilai aset dan utang di dalam neraca daerah disebut sebagai ekuitas dana. Kondisi neraca daerah Kota Bengkulu pada tahun 2013 hingga 2017 sebagai berikut:
Tabel 3.28
Rata-rata Pertumbuhan Neraca Daerah Kota Bengkulu 2013-2017
No Uraian 2013
(Rp) 2014
(Rp) 2015
(Rp) 2016
(Rp) 2017
(Rp)
Rata-rata Pertumbuhan 1 Aset (%)
1.1. Aset Lancar 103.477.430.777 178.403.324.424 66.998.833.906 78.884.573.747 59.344.102.700 0,73 1.2. Investasi JangkaPanjang 31.008.315.793 30.278.475.109 28.470.400.235 40.374.875.078 40.593.349.916 8,5 1.3. Aset Tetap 1.705.821.659.967 1.921.231.566.852 1.517.018.084.013 1.590.752.671.965 1.609.199.779.215 -0,59 1.4. Aset Lainnya 28.943.255.000 33.185.158.400 176.908.079.164 210.216.695.022 209.041.772.274 116,5 Jumlah Aset 1.869.250.661.538 2.163.098.524.784 1.789.395.397.317 1.920.228.815.813 1.918.179.004.104 1,41 2 Kewajiban
2.1. Kewajiban JangkaPendek 16.917.701.905 16.607.228.605 17.115.883.672 66.871.865.104 18.747.307.504 54,99
2.2. Kewajiban JangkaPanjang 125.169.365 89.406.689 53.644.014 17.881.338 0 -45,07
Jumlah Kewajiban 17.042.871.270 16.696.635.294 17.169.527.685 66.889.746.442 18.747.307.504 54,6 3 Ekuitas Dana
3.1. Ekuitas DanaLancar 86.559.728.873 161.796.095.819 3.2. Ekuitas DanaInvestasi 1.765.648.061.396 1.984.605.793.672
3.3. Jumlah EkuitasDana Cadangan 0 0
Jumlah Ekuitas
Dana 1.852.207.790.269 2.146.401.889.490 1.772.225.869.632 1.853.339.069.371 1.899.431.696.600 1,37 Jumlah Kewajiban
dan Ekuitas 1.869.250.661.539 2.163.098.524.784 1.789.395.397.317 1.920.228.815.813 1.918.179.004.104 1,41 Sumber: Neraca Daerah Pemerintah Kota Bengkulu 2013-2017, diolah
Berdasarkan perhitungan pertumbuhan pada komponen aset, kewajiban, dan ekuitas di atas, kewajiban merupakan komponen yang memiliki pertumbuhan paling tinggi, yakni rata-rata 54,6 persen selama tahun 2013 hingga 2017. Kondisi tersebut berbeda dengan pertumbuhan aset yang hanya 1,41 persen. Adapun komponen aset yang memiliki pertumbuhan paling tinggi adalah aset lainnya sebesar 116,5 persen. Aset lainnya terdiri dari tuntutan ganti rugi, kemitraan dengan pihak ketiga, serta aset tidak berwujud. Meskipun aset lainnya memiliki pertumbuhan paling tinggi, namun nominal terbesar terdapat pada aset tetap. Aset tetap merupakan aset yang manfaatnya dapat dirasakan masyarakat secara langsung, yakni berupa jalan, irigasi, dan jaringan, gedung dan bangunan, peralatan dan mesin, tanah, serta konstruksi dalam pengerjaan.
Analisis neraca daerah secara lebih mendalam dapat dilakukan melalui tiga cara, yaitu:
rasio likuiditas, rasio solvabilitas, dan rasio aktivitas. Rasio likuiditas terdiri dari rasio lancar yang merupakan perbandingan antara aset lancar dengan kewajiban jangka pendek, serta rasio quick yang merupakan perbandingan antara aset lancar dikurangi persediaan dengan kewajiban jangka pendek.
Tabel 3.29
Rasio Likuiditas Pemerintah Kota Bengkulu 2013-2017
No Uraian 2013 2014 2015 2016 2017 Rata-rata
1 Rasio Lancar (Current Ratio)
6,11 10,74 3,91 1,17 3,16 5,02
2 Rasio Quick (Quick Ratio)
5,57 10,27 3,45 1,06 2,77 4,63
Sumber: Neraca Daerah Pemerintah Kota Bengkulu 2013-2017, diolah
Perhitungan rasio likuditas Pemerintah Kota Bengkulu memperlihatkan tingkat likuiditas yang cukup baik, yakni dengan rata-rata 5,02 pada rasio lancar dan 4,63 pada rasio quick. Tingkat likuiditas paling tinggi terdapat pada tahun 2014, dimana ketika terjadi penurunan kewajiban jangka pendek, dan disertai kenaikan nilai aset lancar. Kondisi berbeda terjadi pada tahun 2016, dimana terjadi kenaikan kewajiban jangka pendek yang sangat tinggi, namun tidak disertai kenaikan aset lancar secara signifikan. Berdasarkan perhitungan rasio lancar maupun quick, meskipun memiliki tingkat likuiditas yang baik, namun Pemerintah Kota Bengkulu perlu memperhatikan kebijakan dalam pengambilan kewajiban jangka pendek. Kewajiban jangka pendek selalu ada setiap tahun selama 2013 hingga 2017, yang dapat berpotensi mempengaruhi stabilitas keuangan daerah.
Analisis neraca daerah yang kedua dilakukan melalui perhitungan rasio solvabilitas.
Solvabilitas merupakan rasio untuk mengukur kemampuan pemerintah daerah dalam memenuhi kewajiban jangka panjangnya. Rasio solvabilitas dilakukan melalui perhitungan rasio total hutang terhadap total aset, serta rasio hutang terhadap modal. Perhitungan rasio solvabilitas Pemerintah Kota Bengkulu sebagai berikut:
Tabel 3.30
Rasio Solvabilitas Pemerintah Kota Bengkulu 2013-2017
No Uraian 2013 2014 2015 2016 2017 Rata-rata
1 Rasio total hutang terhadap total
aset 0,00911 0,00771 0,0095 0,0348 0,00977 0,0142
2 Rasio hutang
terhadap modal 0,0092 0,0077 0,0096 0,036 0,0098 0,0145 Sumber: Neraca Daerah Pemerintah Kota Bengkulu 2013-2017, diolah
Perhitungan rasio solvabilitas berbeda dengan perhitungan rasio likuiditas, dimana pada rasio solvabilitas semakin kecil perhitungan, maka memiliki kondisi semakin baik atau solvable.
Berdasarkan perhitungan rasio solvabilitas di atas, Pemerintah Kota Bengkulu memiliki kondisi solvable, yang dibentuk nilai rasio rata-rata pada rasio total hutang terhadap aset sebesar 0,0142, sedangkan pada rasio hutang terhadap modal sebesar 0,0145. Kondisi ini memperlihatkan aset maupun modal dapat memenuhi kewajiban jangka pendek maupun panjang.
Analisis neraca daerah yang ketiga menggunakan perhitungan rasio aktivitas, yaitu melihat tingkat aktivitas tertentu pada kegiatan pelayanan pemerintah daerah. Rasio aktivitas terdiri dari rata-rata umur piutang, yaitu rasio untuk melihat berapa lama atau hari yang diperlukan untuk melunasi piutang. Hal ini merupakan upaya untuk mengubah piutang menjadi kas. Rata-rata umur piutang dihitung dari 365 hari dalam satu tahun dibagi dengan perputaran piutang. Guna memperoleh nilai perputaran piutang maka pendapatan daerah dibagi dengan rata-rata piutang pendapatan daerah, sedangkan rata-rata piutang diperoleh dari penjumlahan saldo awal piutang dengan saldo akhir piutang kemudian dibagi dua.
Rasio aktivitas juga dihitung melalui rata-rata umur persediaan, yaitu berapa lama dana tertanam dalam bentuk persediaan, karena dana persediaan dapat digunakan untuk pelayanan publik jika diperlukan. Rata-rata umur persediaan dihitung melalui 365 hari dalam satu tahun dibagi dengan perputaran persediaan. Untuk memperoleh nilai perputaran persediaan, maka nilai persediaan yang digunakan dalam satu tahun dibagi dengan rata nilai persediaan, dimana rata-rata nilai persediaan diperoleh melalui penjumlahan antara saldo awal dan akhir persediaan kemudian dibagi dua.
Tabel 3.31
Rasio Aktivitas Pemerintah Kota Bengkulu 2013-2017 (hari)
No Uraian 2013 2014 2015 2016 2017 Rata-rata
1 Rata-rata Umur
Piutang 12,94 20,29 20,53 16,19 15,76 17,14
2 Rata-rata Umur
Persediaan 328,9 396,7 365,44 364,38 379,6 367
Sumber: Neraca Daerah Pemerintah Kota Bengkulu 2013-2017, diolah
Berdasarkan perhitungan rasio aktivitas, Pemerintah Kota Bengkulu memiliki kemampuan yang baik dalam mengubah piutang menjadi kas, yakni rata-rata selama 17,14 hari. Kemampuan paling cepat terdapat pada tahun 2013, yakni selama 12,94 hari, sedangkan kondisi paling lama selama 20,53 hari yang terdapat pada tahun 2015. Rata-rata umur persediaan memiliki intepretasi yang berbeda dengan rata-rata umur piutang. Semakin lama umur persediaan maka kondisi semakin baik. Rata-rata umur persediaan Pemerintah Kota Bengkulu cukup lama, yakni lebih dari satu tahun atau selama 367 hari. Kondisi ini menandakan relatif tidak ada kebutuhan mendesak untuk menggunakan dana persediaan.