• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak

Dalam dokumen WALIKOTA BENGKULU PROVINSI BENGKULU (Halaman 88-92)

12. Kawasan Peruntukan Pertanahan dan Keamanan Negara

2.3. ASPEK PELAYANAN UMUM

2.3.2. Urusan Pemerintahan Wajib Bukan Pelayanan Dasar 1. Tenaga Kerja

2.3.2.2. Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak

Kebijakan pembangunan yang responsif terhadap isu-isu perempuan perlu dikembangkan di daerah. Permasalahan pemberdayaan perempuan pada dasarnya merupakan urusan yang cukup kompleks. Pemberdayaan perempuan merupakan salah satu indikator berdayanya masyarakat suatu daerah. Tingkat keberdayaan perempuan di suatu daerah dapat dilihat melalui Indeks Pembangunan Gender dan Indeks Pemberdayaan Gender (IDG), partisipasi angkatan kerja perempuan, dan rasio APM perempuan/laki-laki pada tingkat SD dan SMP.

75,21 69,57 70,07

75,64 73,45 70,46

75,97 68,76 70,68

75,96 68,86 70,83

Kota Bengkulu Provinsi Bengkulu Nasional 2012 2013 2014 2015 Grafik 2. 34

Indeks Pemberdayaan Gender 2012-2015 (%)

Indeks Pembangunan Gender (IPG) merupakan indeks pencapaian kemampuan dasar pembangunan manusia yang dengan memperhatikan ketimpangan gender. IPG berfungsi untuk mengetahui kesenjangan pembangunan manusia antara laki-laki dan perempuan. Nilai IPG berkisar antara 0-100 persen. Bila nilai IPG semakin tinggi, maka semakin tinggi pula kesenjangan pembangunan antara laki-laki dan perempuan. Kesetaraan gender terjadi apabila nilai IPG sama dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Pada konteks Kota Bengkulu, capaian IPG mengalami tren peningkatan. Capaian IPG Kota Bengkulu sudah lebih tinggi dibandingkan dengan Provinsi Bengkulu dan nasional. Kondisi tersebut mengindikasikan pembangunan gender di Kota Bengkulu sudah optimal. Peningkatan IPG tersebut disebabkan adanya pemerataan pendidikan antara perempuan dan laki-laki di Kota Bengkulu.

Pemerintah Kota Bengkulu juga mempertimbangkan indikator kesejahteraan perempuan di samping IPG, yaitu Indeks Pemberdayaan Gender (IDG). IDG menunjukkan tingkat partisipasi perempuan dibanding dengan laki-laki dalam berbagai aktivitas publik dan kontribusinya dalam pendapatan. Capaian IDG dapat dihitung dari tiga aspek yaitu: keterlibatan perempuan di parlemen, perempuan sebagai tenaga manajer, profesional, administrasi, teknisi, sumbangan perempuan dalam pendapatan kerja.

Sumber: Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan BPS Pusat 2016

Sumber: Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan BPS Pusat 2016 93,53

Indeks Pembangunan Gender 2012-2015 (%)

IDG memperlihatkan sejauh mana peran aktif perempuan dalam kehidupan ekonomi dan politik. Capaian IDG Kota Bengkulu mengalami tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.

Capaian IDG Kota Bengkulu sudah lebih tinggi dibandingkan dengan daerah pembanding lainnya.

Kondisi tersebut mengindikasikan pembangunan gender di Kota Bengkulu sudah optimal. Peningkatan IDG tersebut disebabkan peningkatan partisipasi perempuan di bidang tenaga profesional pada sektor swasta dan sumbangan pendapatan perempuan yang meningkat. Kondisi tersebut tetap penting untuk dipertahankan dan ditingkatkan di masa mendatang.

Peningkatan partisipasi perempuan aktif dalam kegiatan ekonomi harus diimbangi dengan kualitas SDM perempuan. Sebab keberhasilan pemberdayaan perempuan juga dapat ditinjau dari sektor pendidikan. Pendidikan merupakan salah satu aspek penting dari pembangunan manusia.

Ketimpangan gender di semua jenjang pendidikan perlu dihilangkan untuk meningkatkan status dan kemampuan perempuan dan laki-laki untuk berperan dalam pembangunan ekonomi. Indikator kesempatan memperoleh pendidikan antara perempuan dan laki-laki dapat diukur dari rasio APM yang menunjukkan kesetaraan dan keadilan gender di bidang pendidikan. Rasio APM perempuan terhadap laki-laki pada jenjang pendidikan tertentu, seperti SD dan SMP menunjukkan angka di bawah 100 persen, maka kondisi Ini mengindikasikan bahwa pada jenjang pendidikan SD dan SMP lebih banyak murid laki-laki yang bersekolah dibandingkan dengan murid perempuan. Sebaliknya, rasio APM perempuan terhadap laki-laki menunjukkan angka di atas 100 persen menggambarkan murid perempuan lebih banyak dibandingkan murid laki-laki pada jenjang pendidikan tersebut. Kondisi Rasio APM perempuan terhadap laki-laki pada tingkat SD dan SMP di Kota Bengkulu dijabarkan sebagai berikut:

Tabel 2. 48

Rasio APM Perempuan Terhadap Laki-Laki Pada Tingkat SD dan SMP di Kota Bengkulu Tahun 2014-2017 (%)

Indikator 2014 2015 2016 2017

Rasio APM SD Perempuan terhadap laki-laki 100,17 106,88 100,00 98,33 Rasio APM SMP Perempuan terhadap laki-laki 89,87 102,07 95,40 97,96 Sumber: BPS Kota Bengkulu, 2018

Pada tingkat SD, rasio APM SD perempuan terhadap laki-laki mengalami tren fluktuatif. Pada tahun 2015, rasio APM SD perempuan terhadap laki-laki mengalami peningkatan dan menurun pada tahun 2016-2017. Pada tingkat SMP, rasio APM SD perempuan terhadap laki-laki mengalami tren fluktuatif. Pada tahun 2015, rasio APM SMP perempuan terhadap laki-laki mengalami peningkatan, menurun pada tahun 2016, dan meningkat pada tahun 2017. Pada tahun 2017, murid perempuan di tingkat SD dan SMP lebih sedikit dibandingkan dengan murid laki-laki. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa kualitas perempuan masih perlu ditingkatkan, terutama persiapan dalam partisipasi dala pembangunan ekonomi. Kondisi tersebut dapat disebabkan oleh belum optimalnya kapasitas SDM perempuan dan kecakapan hidup perempuan.

Pada sektor perlindungan anak dan perempuan, Kota Bengkulu masih memiliki kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Menurut data dari Yayasan PUPA (dokumentasi dari koran harian Rakyat Bengkulu selama tahun 2017), jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak telah mencapai 173 kasus yang terdiri dari

kasus perkosaan (41 persen), pelecehan seksual (31,5 persen), kekerasan dalam rumah tangga/KDRT (17 persen), penganiayaan (6,1 persen), dan selebihnya adalah kekerasan dalam pacaran, bully, penelantaran hingga femicide (kekerasan yang berakhir pada kematian).

Pemerintah Kota Bengkulu juga memiliki Pusat Pelayanan terpadu Pemberdayaan perempuan dan Perlindungan Anak (P2TP2A). P2TP2A merupakan lembaga penanganan perempuan dan anak korban kekerasan. Capaian P2TP2A di Kota Bengkulu dijabarkan sebagai berikut:

Tabel 2. 49

Capaian Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Kota Bengkulu Tahun 2013-2017 (kasus)

No Indikator Tahun

2013 2014 2015 2016 2017

1 Kasus perempuan dan anak korban kekerasan yang mendapatkan penanganan pengaduan oleh petugas terlatih di dalam unit pelayanan terpadu

NA NA 19 17 17

2 Kasus perempuan dan anak korban kekerasan yang mendapatkan layanan kesehatan oleh tenaga kesehatan terlatih di Puskesmas mampu tatalaksana KtP/A dan PPT/PKT di Rumah Sakit

NA NA NA 7 1

3 Cakupan penegakan hukum dari tingkat penyidikan sampai dengan putusan pengadilan atas kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak

NA NA 8 7 7

4 Kasus Anak Bermasalah dengan Hukum yang dilayani dan dilindungi melalui Pendampingan P2TP2A

NA NA 4 8 6

Sumber: Dinas P3APPKB Kota Bengkulu, 2018

Perlindungan terhadap kasus perempuan dan anak korban kekerasan di Kota Bengkulu masih belum optimal. Berdasarkan kasus kekerasan yang terjadi di tahun 2017, hanya 1 orang yang mendapatkan layanan kesehatan, 7 orang mendapatkan layanan penegakan hukum, 6 orang mendapatkan pendampingan P2TP2A. Kondisi tersebut mengalami penurunan dibandingkan dengan kondisi pada tahun 2015-2016.

Kota Bengkulu mengalami belum optimalnya perlindungan terhadap perempuan dan anak.

Kondisi tersebut dapat disebabkan oleh masih kurangnya pendampingan, perlindungan terhadap perempuan dan anak serta belum optimalnya kapasitas SDM lembaga yang bergerak di perlindungan perempuan dan anak. Fasilitasi terhadap korban dalam rumah tangga (KDRT) sebenarnya sudah dilaksanakan sesuai dengan standard operating procedure (SOP) KDRT. Namun, ada 2 situasi/keadaan yang bisa terjadi diantaranya:

a. Korban KDRT tidak melanjutkan kembali kasusnya ke ranah hukum atau tidak koordinasi dengan P2TP2A tentang kelanjutan kasus setelah dimediasi dengan tenaga pendamping KDRT (psikolog) dan pembuka agama.

b. Korban KDRT menginginkan tindak lanjut kasus sampai ke ranah hukum hingga penjatuhan vonis kepada tersangka KDRT setelah dimediasi dengan tenaga pendamping.

Dalam dokumen WALIKOTA BENGKULU PROVINSI BENGKULU (Halaman 88-92)