c. arahan penanganan kawasan budidaya; serta
d. pengaturan kelembagaan pengelolaan kawasan lindung dan budidaya.
Paragraf 3
Arahan Pemanfaatan Ruang Untuk Penetapan Kawasan Strategis Pasal 73
Pemanfaatan ruang untuk penetapan kawasan strategis sebagaimana dimaksud pada pasal 54 meliputi :
a. mengendalikan perkembangan ruang sekitar kawasan strategis kabupaten;
b. memantapkan fungsi lindung pada kawasan sosio-kultural;
c. memantapkan kawasan perlindungan ekosistem dan lingkungan hidup.
Pasal 74
Pemanfaatan ruang untuk penataan kawasan pesisir dan kepulauan meliputi :
a. konservasi kawasan Pulau Salura, Pulau Kotak, Pulau Manggudu dan Pulau Nusa
sesuai fungsinya sebagai kawasan wisata;
b. mempertahankan dan memperbaiki ekosistem pesisir
Pasal 75
Pemanfaatan ruang untuk penataan tata guna tanah, tata guna air, tata guna udara, dan tata guna sumberdaya alam lainnya meliputi :
a. meningkatkan keserasian antar fungsi dalam penatagunaan tanah;
b. pemantapan fungsi kawasan dalam mendukung penatagunaan hutan;
c. pemantapan fungsi dalam penatagunaan air;
d. pengaturan keselamatan dan kenyamanan pada penatagunaan udara; serta
e. penatagunaan sumberdaya lainnya.
B A B VIII
KETENTUAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG Bagian Kesatu
Umum Pasal 76
(1) Ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang diselenggarakan melalui penetapan peraturan zonasi, perijinan, pemberian insentif dan disinsentif, dan pengenaan sanksi. (2) Ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang digunakan sebagai acuan dalam
pelaksanaan pengendalian pemanfaatan ruang dan prosedur pelaksanaan pembangunan wilayah kabupaten.
(3) Pengendalian pemanfaatan ruang terdiri atas:
a. peraturan zonasi wilayah; b. perizinan;
c. pemberian insentif dan disinsentif; serta d. sanksi.
Bagian Kedua Peraturan Zonasi Wilayah
Pasal 77
(1) Peraturan zonasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76 disusun sebagai pedoman pengendalian pemanfaatan ruang.
(2) Peraturan zonasi pada setiap butir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat tentang apa yang harus ada, apa yang boleh dan apa yang tidak boleh.
(3) Peraturan zonasi sistem wilayah meliputi indikasi arahan peraturan zonasi untuk struktur ruang dan pola ruang, yang terdiri atas :
a. struktur ruang dan sistem perkotaan; b. sistem jaringan prasarana wilayah; c. kawasan lindung dan budi daya.
Paragraf 1
Peraturan Zonasi Untuk Struktur Ruang Dan Sistem Perkotaan Pasal 78
Peraturan zonasi untuk sistem perkotaan wilayah dan jaringan prasarana wilayah meliputi :
a. Zonasi pemanfaatan ruang di sekitar jaringan prasarana wilayah untuk mendukung
berfungsinya sistem perkotaan wilayah dan jaringan prasarana wilayah terdiri dari kegiatan lindung dan budidaya sesuai dengan fungsi yang telah ditetapkan;
b. Pelarangan melakukan pemanfaatan ruang yang menyebabkan gangguan terhadap
berfungsinya sistem perkotaan wilayah dan jaringan prasarana wilayah; dan
c. Pembatasan intensitas pemanfaatan ruang agar tidak mengganggu fungsi sistem
perkotaan wilayah dan jaringan prasarana wilayah.
Paragraf 2
Peraturan Zonasi untuk Sistem Perkotaan Pasal 79
Peraturan zonasi untuk PKL disusun dengan memperhatikan pemanfaatan ruang untuk kegiatan ekonomi berskala kabupaten yang didukung dengan fasilitas dan infrastruktur perkotaan yang sesuai dengan kegiatan ekonomi yang dilayaninya;
Paragraf 3
Peraturan Zonasi untuk Sistem Jaringan Prasarana Wilayah Pasal 80
(1) Peraturan zonasi untuk sistem jaringan prasarana wilayah kabupaten disusun dengan meliputi jaringan sarana prasarana transportasi, jaringan dan sarana prasarana Telekomunikasi, jaringan sarana prasarana pengairan, jaringan sarana prasarana energi dan jaringan sarana prasarana lingkungan.
(2) Peraturan zonasi pada jaringan sarana prasarana transportasi sebagaimana dimaksud ayat (1) meliputi:
a. pemanfaatan ruang di sepanjang sisi jalan Nasional dan Kabupaten harus sesuai dengan ketentuan perundangan yang mengatur tentang jalan; dan
b. pengendalian ketat dilakukan pada kawasan dengan kecenderungan perkembangan tinggi dengan memperhatikan bangkitan dan tarikan laulintas, ketersediaan sarana prasarana jalan dan persimpangan lalulintas.
(3) Peraturan zonasi pada jaringan sarana prasarana Telekomunikasi sebagaimana
dimaksud ayat (1), meliputi :
a. pengembangan jaringan Telekomunikasi disesuaikan dengan kebutuhan dan peraturan yang berlaku; dan
b. penempatan sarana dan prasarana Telekomunikasi bisa memanfaatkan kawasan lindung maupun budidaya selama tidak mengganggu fungsi dasar yang telah ditetapkan dalam rencana tata ruang, dengan tetap memperhatikan aspek keamanan dan keselamatan aktivitas kawasan di sekitarnya.
(4) Peraturan zonasi pada jaringan sarana prasarana pengairan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi :
a. pengembangan jaringan pengairan disesuaikan dengan kebutuhan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
b. pembatasan dan pengendalian pemanfaatan ruang budidaya di sepanjang sisi jaringan pengairan dan di kawasan yang peka terhadap fungsi dan keberadaan jaringan sarana prasarana pengairan; dan
c. pemanfaatan ruang di sepanjang jaringan sarana prasarana pengairan tidak boleh mengurangi dan mengganggu fungsi dan keberadaan sarana prasarana yang ada. (5) Peraturan zonasi pada jaringan sarana prasarana energi sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) meliputi :
a. pemanfaatan ruang di sekitar pembangkit listrik harus memperhatikan jarak aman dari kegiatan lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku; dan b. pelarangan pemanfaatan ruang bebas di sepanjang jalur transmisi sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
(6) Peraturan zonasi pada jaringan sarana prasarana lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi persampahan dan sanitasi lingkungan.
a. peraturan zonasi pada jaringan sarana prasarana persampahan meliputi :
1. pemanfaatan ruang di sekitar lokasi TPA harus memperhatikan jarak aman dari kegiatan lain sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku; dan
2. pemanfaatan ruang pada sekitar jaringan persampahan harus memperhatikan aspek kesehatan dan keselamatan lingkungan dan meminimalisasi kemungkinan terkena dampak.
b. Peraturan zonasi pada jaringan sarana prasarana sanitasi meliputi:
1. pemanfaatan ruang diwajibkan mempertimbangkan penyediaan sanitasi dan mendukung pengembangan sistem pengelolaan sanitasi wilayah.
2. pemanfaatan ruang di sekitar lokasi instalasi pengelolaan limbah harus memperhatikan dampak yang akan timbul dari kegiataan pengelolaan.
Paragraf 4
Peraturan Zonasi Kawasan Lindung dan Budidaya
Pasal 81
Peraturan zonasi untuk kawasan lindung dan kawasan budidaya disusun dengan memperhatikan:
a. pemanfaatan ruang untuk kegiatan pendidikan dan penelitian tanpa mengubah bentang
alam;
b. ketentuan pelarangan pemanfaatan ruang yang membahayakan keselamatan umum;
c. pembatasan pemanfaatan ruang di sekitar kawasan yang telah ditetapkan sebagai kawasan rawan bencana alam;
Paragraf 5
Peraturan Zonasi Kawasan Lindung Pasal 82
(1) Peraturan zonasi kawasan lindung diarahkan pada kawasan-kawasan lindung yang ditetapkan sebagai fungsi lindung dan berdasarkan kewenangan perencanaan sampai pengelolaannya.
(2) Peraturan zonasi kawasan hutan lindung disusun dengan memperhatikan:
a. arahan peraturan zonasi kawasan hutan lindung dilakukan pada kawasan yang ditetapkan fungsi sebagai hutan lindung yang menjadi kewenangan daerah.
b. pemanfaatan ruang wilayah kabupaten untuk wisata alam tanpa merubah bentang alam.
c. pemanfaatan ruang kawasan untuk kegiatan budidaya hanya diizinkan bagi permukiman penduduk asli dengan luasan tetap/terbatas, tidak mengurangi fungsi lindung kawasan, dan di bawah pengawasan ketat secara teknis oleh instansi terkait yang berwenang.
d. ketentuan pelarangan seluruh kegiatan yang berpotensi mengurangi luas kawasan hutan dan tutupan vegetasi.
(3) Peraturan zonasi untuk kawasan resapan air disusun dengan memperhatikan:
a. pemanfaatan ruang secara terbatas untuk kegiatan budi daya tidak terbangun yang memiliki kemampuan tinggi dalam menahan limpasan air hujan.
b. penyediaan sumur resapan dan/atau waduk pada lahan terbangun yang sudah ada. (4) Peraturan zonasi untuk sempadan pantai disusun dengan memperhatikan:
a. prioritas pemanfaatan ruang untuk ruang terbuka hijau dan fungsi konservasi lainnya. b. pengembangan struktur alami dan struktur buatan untuk mencegah abrasi.
c. pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang kegiatan pelabuhan, perikanan dan rekreasi pantai.
d. ketentuan pelarangan pendirian bangunan selain yang dimaksud pada huruf c kecuali bangunan penunjang pelabuhan dan perikanan.
e. ketentuan pelarangan semua jenis kegiatan yang dapat menurunkan luas, nilai ekologis, dan estetika kawasan.
(5) Peraturan zonasi untuk sempadan sungai dan kawasan sekitar bendungan disusun dengan memperhatikan:
a. pemanfaatan ruang untuk ruang terbuka hijau.
b. ketentuan pelarangan pendirian bangunan kecuali bangunan yang dimaksudkan untuk pengelolaan badan air dan/atau pemanfaatan air.
c. pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang fungsi taman rekreasi maupun fasilitas pendukungnya, dengan memperhatikan dan mempertimbangkan kualitas dan daya dukung-daya tampung sungai dan atau bendungan yang ada serta keamanan dari masyarakat secara umum yang memanfaatkan ruang tersebut.
d. penetapan lebar sempadan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(6) Peraturan zonasi untuk ruang terbuka hijau disusun dengan memperhatikan:
a. RTH dimanfaatkan sebagai ruang untuk kegiatan rekreasi, perlindungan kawasan, makam, pendidikan dan penelitian serta kegiatan sejenis.
b. RTH diperuntukan kepentingan publik maupun privat, dimana RTH publik antara lain taman kota, taman pemakaman umum dan jalur hijau sepanjang jalan, sungai dan pantai; sedangkan RTH privat antara lain kebun atau halaman rumah/gedung milik masyarakat atau swasta yang ditanami tumbuhan.
c. Pendirian bangunan dibatasi hanya untuk bangunan penunjang kegiatan rekreasi dan fasilitas umum lainnya.
d. Ketentuan pelarangan pendirian bangunan permanen selain yang dimaksud pada huruf b.
e. Fungsi dasar RTH tidak boleh berkurang karena pendirian bangunan penunjang RTH dimaksud.
(7) Peraturan zonasi untuk taman nasional, disusun dengan memperhatikan: a. pemanfaatan ruang untuk penelitian, pendidikan, dan wisata alam. b. ketentuan pelarangan kegiatan selain yang dimaksud pada huruf a.
c. pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang kegiatan sebagaimana dimaksud pada huruf a.
d. ketentuan pelarangan pendirian bangunan selain yang dimaksud pada huruf c; dan e. ketentuan pelarangan terhadap penanaman flora dan pelepasan satwa yang bukan
merupakan flora dan satwa endemik kawasan.
(8). Peraturan zonasi untuk Kawasan pantai berhutan Bakau disusun dengan memperhatikan: a. pemanfaatan ruang untuk kegiatan pendidikan, penelitian, dan wisata alam;
b. ketentuan pelarangan pemanfaatan kayu bakau; dan
c. ketentuan pelarangan kegiatan yang dapat mengubah mengurangi luas dan/atau mencemari ekosistem bakau.
(9). Peraturan zonasi untuk kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan disusun dengan memperhatikan:
a. pemanfaatan untuk penelitian, pendidikan, dan pariwisata; dan
b. ketentuan pelarangan kegiatan dan pendirian bangunan yang tidak sesuai dengan fungsi kawasan.
(10). Peraturan zonasi untuk kawasan rawan tanah longsor disusun dengan memperhatikan: a. pemanfaatan ruang dengan mempertimbangkan karakteristik, jenis, dan ancaman
bencana;
b. penentuan lokasi dan jalur evakuasi dari permukiman penduduk; dan
c. pembatasan pendirian bangunan kecuali untuk kepentingan pemantauan ancaman bencana dan kepentingan umum.
(11). Peraturan zonasi untuk kawasan rawan banjir disusun dengan memperhatikan: a. penetapan batas dataran banjir;
b. pemanfaatan dataran banjir bagi ruang terbuka hijau dan pembangunan fasilitas umum dengan kepadatan rendah; dan
c. ketentuan pelarangan pemanfaatan ruang bagi kegiatan permukiman dan fasilitas
umum penting lainnya.
(12). Peraturan zonasi untuk kawasan sempadan mata air disusun dengan memperhatikan: a. pemanfaatan ruang untuk ruang terbuka hijau; dan
b. pelarangan kegiatan yang dapat menimbulkan pencemaran terhadap mata air. Paragraf 6
Peraturan Zonasi Kawasan Budidaya Pasal 83
(1) Peraturan Zonasi untuk Kawasan Budidaya diarahkan pada kawasan-kawasan budidaya yang ditetapkan sebagai fungsi budidaya dan berdasarkan kewenangan perencanaan sampai pengelolaannya.
(2) Peraturan zonasi untuk kawasan hutan produksi disusun dengan memperhatikan:
a. pembatasan pemanfaatan hasil hutan untuk menjaga kestabilan neraca sumber daya kehutanan;
b. pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang kegiatan pemanfaatan hasil hutan; dan
c. ketentuan pelarangan pendirian bangunan selain yang dimaksud pada huruf b.
(3) Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan pertanian lahan basah (sawah) disusun dengan memperhatikan:
a. pemanfaatan ruang untuk permukiman petani dengan kepadatan rendah;
b. ketentuan pelarangan alih fungsi lahan menjadi lahan budidaya non pertanian (terbangun) kecuali terbatas untuk pembangunan sistem jaringan prasarana utama, dan fasilitas pendukung pertanian yang sangat mempengaruhi pada upaya peningkatan produktivitas dan pengolahan hasil panen sesuai Ketentuan/Peraturan yang berlaku;
c. ketentuan pelarangan alih fungsi lahan menjadi lahan budidaya non pertanian (terbangun) sebagaimana dimaksud pada huruf a dan huruf b termasuk sebagai lahan pertanian pangan berkelanjutan atau yang ditetapkan sebagai sentra lahan pertanian basah (sawah); dan
d. ketentuan alih fungsi lahan pertanian sawah mengikuti ketentuan yang berlaku.
(4) Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan pertanian lahan kering disusun dengan memperhatikan:
a. pemanfaatan ruang untuk rencana pengembangan kawasan pertanian sawah tadah hujan, tegalan, ladang, kebun campur, perkebunan, hortikultura, peternakan, serta perikanan darat, sesuai kebijakan dan strategi pengembangan dari masing-masing jenis kawasan;
b. ketentuan pelarangan alih fungsi lahan menjadi lahan budidaya non pertanian (terbangun) kecuali terbatas untuk pembangunan sistem jaringan prasarana utama, dan fasilitas pendukung pertanian yang sangat mempengaruhi pada upaya peningkatan produktivitas dan pengolahan hasil panen sesuai Ketentuan/Peraturan yang berlaku; serta
c. ketentuan pelarangan alih fungsi lahan menjadi lahan budidaya non pertanian (terbangun) sebagaimana diuraikan pada huruf a dan b diatas, yang termasuk sebagai Kawasan Sentra budidaya pertanian khusus sesuai ketentuan/peraturan yang berlaku.
(5) Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan perikanan (pantai dan laut) disusun dengan memperhatikan:
a. pemanfaatan ruang untuk permukiman petani dan/atau nelayan dengan kepadatan rendah;
b. pemanfaatan ruang untuk kawasan penghijaun dan/atau c. kawasan sabuk hijau; serta
d. pemanfaatan sumber daya perikanan agar tidak melebihi potensi lestari.
(6) Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan pertambangan disusun dengan memperhatikan:
a. ketentuan pelarangan pemanfaatan pertambangan pada kawasan dengan fungsi lindung, kawasan pertanian lahan basah (sawah), serta kawasan budidaya terbangun (permukiman, industri, pariwisata, dan sejenisnya termasuk sistem jaringan prasarana utama); serta
b. ketentuan pemanfaatan pertambangan pada kawasan yang telah diarahkan sebagai rencana pengembangan penambangan, dengan memperhatikan keseimbangan antara biaya dan manfaat serta keseimbangan antara risiko dan manfaat, termasuk pengaturan bangunan lain disekitar instalasi dan peralatan kegiatan pertambangan yang berpotensi menimbulkan bahaya dengan memperhatikan kepentingan, berdasarkan analisa teknis dari instansi teknis yang terkait.
(7) Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan industri dan pergudangan disusun dengan memperhatikan:
a. pemanfaatan ruang untuk kegiatan kawasan industri, Kawasan Peruntukan Industri, dan Industri rumah tangga (Home Industri);
b. pemanfaatan ruang untuk kegiatan industri baik yang sesuai dengan kemampuan penggunaan teknologi, potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia di wilayah sekitarnya;
c. pembatasan pembangunan rumah tinggal di dalam lokasi Kawasan Peruntukan Industri untuk mengurangi dampak negatif pengaruh dari keberadaan industri terhadap permukiman yang ada;
d. ketentuan pelarangan peruntukkan lain selain industri maupun fasilitas pendukungnya dalam Kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan industri sesuai Ketentuan/Peraturan yang berlaku, kecuali Kawasan Peruntukan Industri, Home Industri serta kawasan industri;
e. pemanfaatan ruang kawasan industri, diarahkan untuk pemanfaatan rumah tinggal, kegiatan produksi, tempat proses produksi, fasilitas pendukung/penunjang permukiman maupun industri akan diatur tersendiri secara khusus berdasarkan peraturan yang berlaku;
f. pemanfaatan ruang untuk Industri rumah tangga (Home Industri) diijinkan pemanfaatannya dalam kawasan permukiman dengan pembatasan pada luasan lahan, dan dampak yang ditimbulkan (berdasarkan batasan kapasitas produksi, tenaga kerja, transportasi yang dihasilkan, dan limbah yang dihasilkan berdasarkan analisa daya dukung dan daya tampung lokasi) sesuai peraturan yang berlaku; serta g. pemanfaatan ruang untuk pergudangan antara lain berupa gudang untuk industri,
perdagangan, stasiun pengisian bahan bakar dan kegiatan sejenis diijinkan pemanfaatannya dalam kawasan permukiman dengan pembatasan pada luasan lahan, dan dampak yang ditimbulkan sesuai peraturan yang berlaku.
(8) Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan pariwisata disusun dengan memperhatikan: a. pemanfaatan potensi alam dan budaya masyarakat sesuai daya dukung dan daya
tampung lingkungan;
b. perlindungan terhadap situs peninggalan kebudayaan masa lampau;
c. pembatasan pendirian bangunan (kecuali permukiman penduduk) pada koridor jalur wisata utama maupun kawasan/obyek wisata hanya untuk kegiatan/peruntukan lahan yang menunjang kegiatan pariwisata; dan
d. ketentuan pelarangan pendirian bangunan selain yang dimaksud pada huruf c.
(9) Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan permukiman disusun dengan memperhatikan:
a. pemanfaatan ruang untuk peruntukkan Industri rumah tangga (Home Industri) dengan kepadatan rendah dan batasan khusus sesuai ketentuan yang berlaku; b. penetapan fasilitas pendukung kegiatan permukiman dan aktivitas masyarakat yang
dibutuhkan secara proporsional sesuai peraturan yang berlaku, antara lain berupa fasilitas pendidikan, kesehatan, peribadatan, rekreasi, olah raga dan lain-lain sesuai kebutuhan masyarakat setempat;
c. penetapan amplop bangunan;
d. penetapan tema arsitektur bangunan;
e. penetapan kelengkapan bangunan dan lingkungan; dan
f. penetapan jenis dan syarat penggunaan bangunan yang diizinkan.
Bagian Ketiga Ketentuan Perizinan
Pasal 84
(1) Pendayagunaan mekanisme perizinan pemanfaatan ruang dan lokasi pembangunan merupakan bagian dari pengendalian terhadap pemanfaatan ruang wilayah agar pemanfaatan ruang atau pembangunan sesuai dengan RTRW Kabupaten.
(2) Pendayagunaan mekanisme perizinan pemanfaatan ruang dan lokasi pembangunan dilakukan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut :
a. tahap gagasan/ide.
b. tahap pemberian izin lokasi. c. tahap kegiatan pembangunan. d. tahap kegiatan berusaha.
e. tahap perubahan pembangunan.
f. tahap evaluasi kesesuaian pemanfaatan ruang dengan rencana tata ruang wilayah. (3) Tahap gagasan/ide sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a yaitu
investor/masyarakat/pemerintah memberi suatu studi kelayakan seperti prastudi kelayakan, studi kelayakan, kelayakan ekonomi dan lingkungan.
(4) Tahap pemberian izin lokasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b meliputi:
a. persetujuan prinsip pencadangan tanah. b. persetujuan penguasaan peruntukan ruang. c. persetujuan pembebasan peruntukan ruang.
d. persetujuan ruang.
e. persetujuan tetangga sekitar.
f. penyelesaian administrasi pertanahan.
(5) Tahap kegiatan pembangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c yaitu pengaturan dan pengendalian proses fisik pembangunan kawasan lindung, kawasan budidaya dan kawasan khusus yang terdapat pada wilayah perencanaan.
(6) Tahap kegiatan berusaha sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d yaitu mengontrol
kegiatan-kegiatan berusaha/ usaha yang diisyaratkan sehingga tercapai pertumbuhan ekonomi wilayah yang diharapkan.
(7) Tahap perubahan pembangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf e yaitu upaya penyesuaian fungsi-fungsi kawasan sesuai dengan perkembangan yang terjadi serta dampak-dampak yang ditimbulkannya.
(8) Penataan yang dilakukan oleh seluruh pihak terkait dengan pelaksanaan RTRW Kabupaten sebagai kebijakan matra ruang akan diberikan insentif atau disinsentif yang akan diatur dengan Peraturan Bupati.
Bagian Keempat
Ketentuan Insentif dan Disinsentif Pasal 85
(1) Dalam pelaksanaan pemanfaatan ruang agar pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana tata ruang wilayah dapat diberikan insentif dan/atau disinsentif oleh Pemerintah dan pemerintah daerah.
(2) Insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan perangkat atau upaya untuk memberikan imbalan terhadap pelaksanaan kegiatan yang sejalan dengan rencana tata ruang, berupa:
a. keringanan pajak;
b. pemberian kompensasi;
c. subsidi silang, imbalan, sewa ruang, dan urun saham; d. pembangunan serta pengadaan infrastruktur;
e. kemudahan prosedur perizinan; dan/atau
f. pemberian penghargaan kepada masyarakat, swasta dan/atau pemerintah daerah. (3) Disinsentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan perangkat untuk
mencegah, membatasi pertumbuhan, atau mengurangi kegiatan yang tidak sejalan dengan rencana tata ruang, berupa:
a. pengenaan pajak yang tinggi disesuaikan dengan besarnya biaya yang dibutuhkan untuk mengatasi dampak yang ditimbulkan akibat pemanfaatan ruang; dan/atau b. pembatasan penyediaan infrastruktur, pengenaan kompensasi, dan penalti.
(4) Insentif dan disinsentif diberikan dengan tetap menghormati hak masyarakat.
(5) Insentif dan disinsentif dapat diberikan oleh: a. pemerintah kepada pemerintah daerah;
b. pemerintah daerah kepada pemerintah daerah lainnya; dan c. pemerintah kepada masyarakat.
(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai bentuk dan tata cara pemberian insentif dan disinsentif diatur dengan Peraturan Bupati.
Bagian Kelima Arahan Sanksi
Pasal 86
Arahan sanksi sebagaimana dimaksud dalam Pasa 76 ayat (3) huruf d merupakan acuan dalam pengenaan saksi terhadap :
a. pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana struktur ruang dan pola ruang
wilayah Kabupaten Sumba Timur;
b. pelanggaran ketentuan arahan peraturan zonasi sistem kabupaten;
c. pemanfaatan ruang tanpa izin pemanfaatan ruang yang diterbitkan berdasarkan RTRW
d. pemanfaatan ruang tidak sesuai dengan izin pemanfaatan ruang yang diterbitkan
berdasarkan RTRW Kabupaten Sumba Timur;
e. pelangaran ketentuan yang ditetapkan dalam prasyarat izin pemanfaatan ruang yang
diterbitkan berdasarkan RTRW Kabupaten Sumba Timur;
f. pemanfaatan ruang yang menghalangi akses terhadap kawasan yang oleh peraturan
perundang-undangan dinyatakan sebagai milik umum; dan/atau
g. pemanfaatan ruang dengan izin yang diperoleh dengan prosedur yang tidak benar.
Pasal 87
(1) Terhadap pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 86 huruf a, huruf b, huruf d, huruf e, huruf f, dan huruf g dikenakan sanksi administrasi berupa :
a. peringatan tertulis;
b. penghentian sementara kegiatan;
c. penghentian sementara pelayanan umum;
d. penutupan lokasi;
e. pencabutan izin;
f. pembatalan izin;
g. pembongkaran bangunan; h. pemulihan fungsi; dan/atau
i. denda administratif.
(2) Terhadap pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 86 huruf c dikenakan sanksi
administratif berupa : a. peringatan tertulis;
b. penghentian sementara kegiatan;
c. penghentian sementara pelayanan umum;
d. penutupan lokasi;
e. pembongkaran bangunan;
f. pemulihan fungsi ruang; dan/atau
g. denda administratif.
BAB IX
HAK, KEWAJIBAN DAN PERAN MASYARAKAT