• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PERKAWINAN BEDA AGAMA MENURUT KETENTUAN

C. Ketentuan yang mengatur perkawinan beda agama

a. Perkawinan beda agama sebelum berlakunya UU Perkawinan No.1 Tahun 1974

Hukum perdata di Indonesia pada masa penjajahan masih bersifat pluralistik. Dikatakan pluralistik karena hukum yang berlaku di Indonesia berbeda-beda dari masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain. Hal ini dikarenakan pada saat itu terjadi penggolongan penduduk di Indonesia, hal tersebut berdasarkan pada Pasal 131 IS dan Pasal 163 IS62. Hukum Perkawinan yang termasuk ke dalam bagian hukum perdata juga bersifat pluralistik dan didasarkan pada pembagian golongan penduduk. Hukum-hukum perkawinan yang berlaku pada saat itu adalah :

1. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgelijk Wetboek) yang berlaku bagi golongan eropa.

2. Perkawinan bagi golongan timur asing keturunan Tionghoa berlaku hukum perkawinan sebagaimana diatur di dalam KUHPerdata kecuali bagian kedua dan bagian ketiga dan keempat.

61 Ibid hal 91.

62 Djaja S.Meliala, Op Cit hal 16

3. Hukum adat masing-masing bagi golongan Timur Asing non-Tionghoa.

4. Hukum Islam dan hukum adat bagi golongan bumi putera yang beragama Islam.

5. Huwelijks Ordonantie Christen Indonesiers(HOCI)staatsblad 1933 Nomor 1974 bagi golongan bumiputera yang tinggal di Jawa, Minahasa dan Ambon beragama Kristen

Hukum perkawinan di Indonesia beragam setiap golongan penduduk berlaku hukum perkawinan yang berbeda dengan golongan penduduk yang lain,Persoalan ini menimbulkan masalah hukum perkawinan antar golongan, yaitu tentang hukum perkawinan manakah yang akan diberlakukan untuk perkawinan antara dua orang dari golongan yang berbeda. Dalam rangka memecahkan masalah tersebut, maka pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan Penetapan Raja tanggal 29 Desember 1896 No.(Stb.1898 No.158) yang merupakan peraturan tentang perkawinan campuran atau Regeling op de Gemengde Huwelijk (GHR)63. Dengan kata lain, perkawinan campur pada masa Hindia Belanda diatur dalam GHR tersebut dan meliputi perkawinan antar golongan dan antar agama (perkawinan beda agama).

Perkawinan beda agama termasuk dalam pengertian perkawinan campuran. Hal ini dapat dilihat pada Pasal 1 GHR itu yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan perkawinan campuran ialah “perkawinan antara orang-orang di Indonesia yang tunduk kepada hukum-hukum yang berlainan.”Berdasarkan pasal GHR tersebut, para ahli hukum berpendapat bahwa yang dimaksud perkawinan campuran adalah perkawinan antara laki-laki dan

63 Ibid hal 77

perempuan yang masing-masing pada umumnya takluk pada hukum yang berlainan.64

Dalam Pasal 7 ayat (2) GHR dinyatakan bahwa dalam perkawinan campuran ini, perbedaan agama, bangsa, atau asal sama sekali tidak jadi halangan untuk melangsungkan perkawinan.65 Berdasarkan paparan tersebut maka perkawinan beda agama sebelum berlakunya UU Perkawinan, termasuk dalam perkawinan campuran yang diatur dalam GHR, dan pelaksananya dicatatkan di kantor catatan sipil.

b. Perkawinan beda agama setelah berlakunya UU Perkawinan No.1 Tahun 1974

Setelah berlakunya UU Perkawinan, terjadi unifikasi di lapangan hukum perkawinan. UU Perkawinan yang baru ini mengatur tentang perkawinan campuran/ perkawinan beda agama. Pengertian perkawinan campuran dalam UU Perkawinan dalama Bab XII Pasal 57 yaitu yang dimaksud dengan perkawinan campuran dalam Undang-undang ini ialah perkawinan antara dua orang yang di Indonesia tunduk pada hukum yang berlainan, karena perbedaan kewarganegaraan dan salah satu pihak berkewarganegaraan Indonesia.

Perumusan Pasal 57, dalam UU No.1 Tahun 1974 telah mempersempit pengertian perkawinan campuran66 dan membatasinya hanya pada perkawinan antara seseorang warga negara Republik Indonesia dengan warga negara asing.

Dengan demikian perkawinan antara sesama warga negara Indonesia yang tunduk kepada hukum yang berlainan tidak termasuk ke dalam rumusan Pasal 57.

64 Ibid hal 78

65 Djaja Meilala, Op.Cit hal 17.

66 Purwoto S.Gandasubarta: Tinjauan Mengenai Perkawinan Antar Agama dengan Berlakunya Undang-Undang Perkawinan (UU No.1/1974) sebuah Paper 1987, hal 1

Menurut Dr. Hazairin SH, hal ini sejalan dengan pandangan pemerintah Indonesia yang hanya mengenal pembagian penduduk atas warga negara dan hukum yang dituangkan dalam ketentuan-ketentuan undang-undang tersebut.

Peraturan Pelaksanaan Perkawinan Campur di Indonesia

Pelaksanaan perkawinan campur dapat dilihat dalam Pasal 60 dan Pasal 61 UU Perkawinan. Yaitu, pertama dengan memenuhi persyaratan perkawinan sesuai dengan hukum yang berlaku bagi masing-masing pihak, hal ini sebagaimana tercantum dalam Pasal 60:

1. Perkawinan campuran tidak dapat dilangsungkan sebelum terbukti bahwa syarat-syarat perkawinan yang ditentukan oleh hukum yang berlaku bagi pihak masing-masing telah terpenuhi.

2. Untuk membuktikan bahwa syarat-syarat tersebut dalam ayat (1) telah terpenuhi dan karena itu tidak ada rintangan untuk melangsungkan perkawinan campuran, maka oleh mereka yang menurut hukum yang berlaku bagi pihak masing-masing berwenang mencatat perkawinan, diberikan syarat keterangan bahwa syarat-syarat telah terpenuhi.

3. Jika pejabat yang bersangkutan menolak untuk memberikan surat keterangan itu, maka atas permintaan yang berkepentingan, pengadilan memberikan keputusan dengan tidak beracara serta tidak boleh dimintakan banding lagi tentang soal apakah penolakan pemberian surat keterangan itu beralasan atau tidak.

4. Jika pengadilan memutuskan bahwa penolakan tidak beralasan, maka keputusan itu menjadi pengganti keterangan yang tersebut ayat (3).

5. Surat keterangan atau keputusan pengganti keterangan tidak mempunyai kekuatan hukum lagi jika perkawinan itu tidak dilangsungkan dalam masa 6 (enam) bulan setelah keterangan itu diberikan.

Adapun tentang pencatatan perkawinan campuran sebagaimana tercantum dalam Pasal 61:

a. Perkawinan campuran dicatat oleh pegawai pencatat yang berwenang.

b. Barangsiapa melangsungkan perkawinan campuran tanpa memperlihatkan lebih dahulu kepada pegawai pencatat yang berwenang surat keterangan atau keputusan pengganti ketererangan yang disebut dalam Pasal 60 ayat (4) undang-undang ini dihukum dengan hukuman kurangan selama-lamanya 1(satu) bulan.

c. Pegawai pencatat perkawinan yang mencatat perkawinan sedangkan ia mengetahui bahwa keterangan atau keputusan pengganti keterangan tidak ada, dihukum dengan hukuman kurungan selama-lamanya 3 (tiga) bulan dan dihukum jabatannya67.

67 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Pekawinan

BAB III

KEDUDUKAN HUKUM ANAK YANG LAHIR DARI PERKAWINAN YANG TIDAK DIDAFTARKAN DIKANTOR CATATAN SIPIL

A. Kedudukan/Status Anak Yang Tidak Didaftarkan Dikantor Catatan Sipil.

Anak dalam kedudukan hukum dimensi-dimensi yang mendasar dari Hukum Perlindungan Anak menurut Pasal 42 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 jo. Pasal 99 Kompilasi Hukum Islam meliputi kedudukan subsistem hukum antara seorang anak dengan sistem hukum yang mengatur manusia/orang dewasa dalam kinerja hukum positif68. Dalam cara pandang ini perlu diketahui status anak atau pengertian anak dalam kareteristik umum yang akan mengelompokkan status yang berbeda dari keadaan hukum dari orang dewasa. Artinya anak diletakkan ke dalam subjek hukum yang digolongkan sebagai subjek hukum yang mampu untuk bertanggung jawab terhadap perbuatan hukum yang dilakukannya.

Pengertian anak dalam kedudukan hukum meliputi pengertian kedudukan anak dari pandangan sistem hukum atau disebut kedudukan dalam arti khusus sebagai subjek hukum. Kedudukan anak dalam artian dimaksud meliputi pengelompokan ke dalam subsistem dari pengertian sebagai berikut :

1. Pengertian anak dalam UUD 1945

Pengertian anak atau kedudukan anak yang ditetapkan menurut UUD 1945 terdapat dalam kebijaksanaan pasal 34. Pasal ini mempunyai makna khusus terhadap pengertian dan status anak dalam bidang politik, karena yang menjadi esensi dasar kedudukan anak dalam kedua pengertian ini,

68 Pasal 99 Kompilasi Hukum Islam

yaitu anak adalah subjek hukum dari sistem hukum nasional, yang harus dilindungi, dipelihara dan dibina untuk mencapai kesejahteraan anak69. 2. Pengertian anak dalam hukum perdata

Pengelompokan anak menurut hukum perdata, dibangun dari beberapa aspek keperdataan yang ada pada anak sebagai seorang subjek hukum yang tidak mampu. Aspek-aspek tersebut sebagai berikut :

a. status belum dewasa (batas usia) sebagai subjek hukum b. hak-hak anak di dalam hukum perdata.

Dalam hukum perdata khususnya Pasal 330 ayat (1) mendudukkan status anak sebagai berikut: “belum dewasa adalah mereka yang belum mencapai umur genap 21 tahun, dan tidak lebih dahulu telah kawin”. Dalam pasal 330 ayat (3) mendudukkan anak sebagai berikut. “seseorang belum dewasa yang tidak berada dibawah kekuasaan orang tua akan berada dibawah perwalian”.70

3. Pengertian anak dalam hukum pidana

Dalam KUHP tidak ditemukan secara jelas definisi tentang anak melainkan hanyalah tentang “belum cukup umur (minderjarig)”. Serta beberapa definisi yang merupakan bagian atau unsur dari pengertian anak yang terdapat pada beberapa pasalnya, seperti pada bab IX yang memberikan salah satu unsur pengertian anak pada Pasal 45 didefinisikan sebagai anak yang belum dewasa apabila berumur sebelum 16 tahun71.

69 Undang-Undang Dasar 1945

70 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata 71 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

4. Pengertian anak dalam Undang-Undang No. 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak

Pasal 1 angka 2 UU Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan anak menjelaskan pengertian Anak adalah seseorang yang belum mencapai umur 21 tahun dan belum kawin72. Menurut UU ini, batas usia 21 tahun ditetapkan berdasarkan pertimbangan kepentingan usaha kesejahteraan sosial, tahap kematangan sosial, tahap kematangan pribadi dan tahap kematangan mental. Pada usia 21 tahun, anak sudah dianggap mempunyai kematangan sosial, kematangan pribadi dan kematangan mental.73

5. Pengertian anak dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak

Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.

6. Pengertian anak dalam UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM

Anak adalah setiap manusia yang berusia di bawah 18 (delapan belas) tahun dan belum menikah, termasuk anak yang masih dalam kandungan apabila hal tersebut adalah demi kepentingannya.74

Dari undang-undang diatas tidak menjelaskan kedudukan atau status anak yang tidak didaftarkan di kantor catatan sipil, meskipun dalam UU kependudukan pencatatan akta kelahiran seorang anak yang lahir atas perkawinan yang sah sangat penting, sebagai identitasi si anak untuk mendapatkan status/kedudukan

72 UU Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan anak

73 Waluyadi, Hukum Perlindungan Anak, (Cirebon:Mandar Maju,2009) hal 5 74 UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM

dihadapan hukum serta hak-hak yang melekat pada anak yang dilindungi oleh undang-undang. Dalam Undang-Undang Dasar 1945 menegaskan anak “fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara”. Status anak yang tidak didaftarkan di kantor catatan sipil termasuk anak yang ditelantarkan oleh orangtuanya dalam UUD 1945 memberi jaminan perlindungan bagi seorang anak yang ditelantarkan untuk tetap mendapat pengakuan dan perlindungan dihadapan hukum. Status atau kedudukan seorang anak yang tidak didaftarkan dikantor catatan sipil sama halnya terhadap anak yang terlantar sebagaimana dimaksud dalam UUD 1945.

B. Hak-hak Anak yang tidak didaftarkan dikantor catatan Sipil

Pasal 1 KUHPerdata dengan menyebutkan sebaga berikut “ anak yang ada dalam kandungan seorang perempuan, dianggap telah dilahirkan, bilamana kepentingan si anak menghendaki”, dijelaskan hak-hak keperdataan anak. Hak-hak anak yang demikian ini menonjolkan Hak-hak untuk dibuktikan, bahwa anak adalah seseorang yang dilahirkan oleh seorang ibu, dan anak mempunyai hak untuk membuktikan dengan jalan menunjukkan bahwa seorang wanita adalah ibunya. Ketentuan ini terdapat dalam Pasal 288 KUHPerdata sebagai berikut:

“menyelidiki soal siapakah ibu seorang anak luar kawin adalah diperbolehkan.

Dalam hal yang demikian, sianak harus membuktikan, bahwa ia adalah anak yang dilahirkan oleh si ibu dan anak tak diperbolehkan membuktikannya, dengan saksi, kecuali kiranya telah ada bukti permulaan dengan tulisan. Hubungan Pasal 2 dan Pasal 288 KUHPerdata sangat erat dan tak dapat dipisahkan dalam penafsiran

hak-hak anak yang timbul dalam lapangan hukum keperdataan75. Meskipun kedudukan anak dalam hukum perdata kedudukanya sangat luas dan bermajemuk;

karena bergantung pada peristiwa hukum yang meletakkan hak-hak anak dalam hubungan lingkungan hukum, sosial, agama, adat istiadat, dan lain-lain.Kedudukan dalam pengertian perdata ini menunjukkan pada hak-hak anak dan kewajiban-kewajiban anak yang dimiliki kekuatan hukum baik secara formal maupun secara material.Hak anak adalah bagian dari hak asasi manusia yang wajib dijamin, dilindungi, dan dipenuhi oleh orang tua, keluarga, masyarakat, negara, pemerintah dan pemerintah daerah. Berikut ini merupakan hak-hak anak menurut beberapa peraturan perundang-undangan yang berlaku Di Indonesia antara lain:

1. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak

Dalam Bab II Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak, mengatur tentang hak-hak anak atas kesejahteraan, yaitu:

a. Hak atas kesejahteraan, perawatan, asuhan dan bimbingan.

b. Hak atas pelayanan.

c. Hak atas pemeliharaan dan perlindungan.

d. Hak atas perlindungan lingkungan hidup.

e. Hak mendapatkan pertolongan pertama.

f. Hak untuk memperoleh asuhan.

g. Hak untuk memperoleh bantuan.

75 Pasal 288 KUHPerdata berbunyi: Menyelidiki siapa ibu seorang anak, diperkenankan.

Namun dalam hal itu, anak wajib melakukan pembuktian dengan saksi-saksi kecualli bila telah ada bukti permulaan tertulis.

h. Hak diberi pelayanan dan asuhan.

i. Hak untuk memeperoleh pelayanan khusus.

j. Hak untuk mendapatkan bantuan dan pelayanan.76

2. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, Hak anak dalam Undang-Undang ini diatur dalam Bab III bagian kesepuluh, Pasal 52-66, yang meliputi:

a. Hak atas perlindungan

b. Hak untuk hidup, mempertahankan hidup, dan meningkatkan taraf kehidupannya.

c. Hak atas suatu nama dan status kewarganegaraan.

d. Bagi anak yang cacat fisik dan atau mental hak:

1) memperoleh perawatan, pendidikan, pelatihan, dan bantuan khusus.

2) untuk menjamin kehidupannya sesuai dengan martabat kemanusiaan,

3) berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

e. Hak untuk beribadah menurut agamanya.

f. Hak untuk dibesarkan, dipelihara, dirawat, dididik, diarahkan, dan dibimbing.

g. Hak untuk mendapatkan perlindungan hukum.

h. Hak memperoleh pendidikan dan pengajaran.

i. Hak memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan sosial.

76 UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan anak

j. Hak untuk tidak dirampas kebebasannya secara melawan hukum.

Selain itu, secara khusus dalam Pasal 66 Undang-Undang 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, tentang hak anak-anak yang dirampas kebebasannya, yakni meliputi:

1) Hak untuk tidak dijatuhi hukuman mati atau hukuman seumur hidup.

2) Hak untuk mendapatkan perlakuan secara manusiawi dan dengan memperhatikan kebutuhan pengembangan pribadi sesuai dengan usianya dan harus dipisahkan dari orang dewasa, kecuali demi kepentingannya.

3) Hak untuk memperoleh bantuan hukum atau bantuan lainnya secara efektif dalam setiap tahapan upaya hukum yang berlaku.

4) Hak untuk membela diri dan memperoleh keadilan di depan Pengadilan Anak yang objektif dan tidak memihak dalam sidang yang tertutup untuk umum.77

3. Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dalam Undang-Undang Perlindungan Anak ini, hak-hak anak diatur dalam Pasal 4 - Pasal 18, yang meliputi:

a. Hak untuk hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

b. Hak atas suatu nama sebagai identitas diri dan status kewarganegaraan.

77 http://eprints.uny.ac.id/22238/4/4%20BAB%20II.pdf, diunduh pada 1 januari 2019,

c. Hak untuk beribadah menurut agamanya.

d. Hak memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan sosial.

e. Hak memperoleh pendidikan dan pengajaran.

f. Bagi anak yang menyandang cacat juga hak memperoleh pendidikan luar biasa,sedangkan bagi anak yang memiliki keunggulan juga hak mendapatkan pendidikan khusus.

g. Hak menyatakan dan didengar pendapatnya.

h. Hak untuk beristirahat dan memanfaatkan waktu luang..

i. Bagi anak penyandang cacat berhak memperoleh rehabilitasi, bantuan sosial, dan pemeliharaan taraf kesejahteraan sosial.

j. Bagi anak yang berada dalam pengasuhan orang tua/ wali, berhak mendapat perlindungan dari perlakuan:

1. diskriminasi;

2. eksploitasi, baik ekonomi maupun seksual;

3. penelantaran;

4. kekejaman, kekerasan, dan penganiayaan;

5. ketidakadilan; dan 6. perlakuan salah lainnya.

k. Hak untuk memperoleh perlindungan dari :

1. penyalahgunaan dalam kegiatan politik;

2. pelibatan dalam sengketa bersenjata;

3. pelibatan dalam kerusuhan sosial;

4. pelibatan dalam peristiwa yang mengandung unsur kekerasan; dan

5. pelibatan dalam peperangan.

l. Hak untuk memperoleh kebebasan sesuai dengan hukum.

m. Setiap anak yang dirampas kebebasannya hak untuk :

1. mendapatkan perlakuan secara manusiawi dan penempatannya dipisahkan dari orang dewasa;

2. memperoleh bantuan hukum atau bantuan lainnya secara efektif dalam setiap tahapan upaya hukum yang berlaku; dan

3. membela diri dan memperoleh keadilan di depan pengadilan anak yang objektif dan tidak memihak dalam sidang tertutup untuk umum.

n. Setiap anak yang menjadi korban atau pelaku kekerasan seksual atau yang berhadapan dengan hukum berhak dirahasiakan.

o. Setiap anak yang menjadi korban atau pelaku tindak pidana berhak mendapatkan bantuan hukum dan bantuan lainnya.

C. Perlindungan Hukum terhadap anak yang dilahirkan dari perkawinan yang tidak didaftarkan di kantor catatan sipil

Perlindungan yang diberikan terhadap anak menurut sistem hukum perdata tidak terbatas pada lahir saja , tetapi meliputi anak yang masih berada dalam kandungan ibunya. Hal ini secara tegas dicantumkan di dalam Pasal 2 dan pasal 3 KUHPerdata dianggap sebagai telah dilahirkan, bilamana kepentingan si anak menghendakinya.Sebelum melahirkan dianggap tidak pernah ada.Tiada suatu hukuman pun mengakibatkan kematian perdata,atau kehilangan segala hak

kewarganegaraan, Hal ini diperkuat dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak bagian kedua kewajiban dan tanggung jawab negara, pemerintah, dan pemerintah daerah Pasal 21 yakni:

ayat (1)

Negara, pemerintah, dan pemerintah daerah berkewajiban dan bertanggung jawab menghormati pemenuhan hak anak tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, jenis kelamin, etnik, budaya dan bahasa, status hukum, urusan kelahiran, dan kondisi fisik dan/ atau mental.

ayat (2)

Untuk menjamin pemenuhan hak anak sebagaimana dimaksud pada ayat (1), negara berkewajiban untuk memenuhi, melindungi, dan menghormati hak anak.

ayat (3)

Untuk menjamin pemenuhan hak anak sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pemerintah berkewajiban dan bertanggung jawab dalam merumuskan dan melaksanakan kebijakan di bidang penyelenggaraan perlindungan anak.

ayat (4)

Untuk menjamin pemenuhan Hak anak dan melaksanakan kebijakan sebagaimana pada ayat (3) Pemerintah daerah berkewajiban dan bertanggung jawab untuk melaksanakan dan

mendukung kebijakan nasional dalam penyelenggaraan perlindungan anak di daerah.

ayat (5)

Kebijakan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dapat diwujudkan melalui upaya daerah membangun kabupaten/ kota layak anak.

ayat (6)

Ketentuan lebih lanjut mengenai kebijakan kabupaten/ kota layak anak sebagaiman dimaksud pada ayat (5) diatur dalam peraturaan presiden.78

Hukum menjamin perlindungan terhadap anak sebagaimana negara, pemerintah, dan pemerintah daerah berkewajiban dan bertanggung jawab menghormati pemenuhan Hak anak tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, jenis kelamin, etnik, budaya dan bahasa, status hukum, urusan kelahiran, dan kondisi fisik dan/ atau mental. Anak yang lahir dari perkawinan yang tidak didaftarkan di kantor catatan sipil, hukum memberi perlindungan sebagai bentuk pemenuhan hak anak dihadapan hukum tanpa membedakan status hukum si anak serta urusan kelahirannya dicatatkan atau tidak di kantor catatan sipil.

78 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak

BAB IV

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP ANAK YANG LAHIR DARI PERKAWINAN BERBEDA AGAMA YANG TIDAK DIDAFTARKAN DI

KANTOR CATATAN SIPIL MENURUT PASAL 2 UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN

A. Akibat Hukum Terhadap Anak Dari Perkawinan Yang Berbeda Agama Menurut Pasal 2 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974.

Sejak diberlakukannya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, maka berdasarkan Pasal 66 semua ketentuan-ketentuan mengenai perkawinan terdahulu seperti GHR, HOCI, dan hukum perdata barat serta peraturan perkawinan lainnya sepanjang telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 sudah tidak berlaku lagi.79Berdasarkan Pasal 2 ayat 1 Undang-Undang perkawinan menyatakan bahwa perkawinan yang sah adalah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayannya itu.Didalam penjelasan Pasal 2 ayat (1) ini menyatakan bahwa tidak ada perkawinan di luar hukum masing-masing agamanya dan kepercayaanya itu sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945. Sehingga setiap pasangan yang akan menikah tidak boleh melanggar ketentuan dari agamanya sendiri. Misalnya seorang yang beragama Islam yang akan menikah harus memenuhi semua ketentuan agama Islam, demikian juga bagi orang yang beragama Kristen

79 Pasal 66 UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menyatakan bahwa : “ untuk perkawinan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan perkawinan bedasarkan atas undang-undang-undang ini, maka dengan berlakunya undang-undang-undang ini ketentuan-ketentuan yang diatur dalam kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek), Ordonansi Perkawinan Indonesia Kristen (Huwelijks Ordonnatie christen indonesiers S.1933 No.74), peraturan perkawinann campuran (regeling op de gemengde huwelijken S 1898 No.158), dan peraturan-peraturan lain yang mengatur tentang perkawinan sejauh telah diatur dalam undnag-undnag ini dinyatakan tidak berlaku.

Protestan, Kristen Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu tidak boleh melanggar dari ketentuan agama mereka masing-masing. Sehingga dapat disimpulkan bahwa perkawinan beda agama menurut Pasal 2 Undang-Undang Perkawinan adalah perkawinan yang tidak sah, karena perkawinan beda agama telah melanggar ketentuan dari Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Perkawinan dan Pasal 8 huruf f, dimana dalam pasal tersebut berbunyi perkawinan dilarang antara dua orang yang mempunyai hubungan yang oleh agamanya atau peraturan lain yang berlaku dilarang kawin.

Merujuk pada Pasal 2 ayat (1) jo Pasal 8 Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974, Undang-undang perkawinan cenderung menyerahkan sepenuhnya kepada hukum agama masing-masing pihak untuk menentukan boleh tidaknya perkawinan beda agama, artinya bila hukum agama menyatakan sebuah perkawinan agama boleh dilakukan maka perkawinan tersebut boleh dilakukan.

Semua agama di Indonesia melarang perkawinan beda agama, bagi umat Islam setelah dikeluarkannya Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam Pasal 44, Perkawinan campuran beda agama, baik itu

Semua agama di Indonesia melarang perkawinan beda agama, bagi umat Islam setelah dikeluarkannya Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam Pasal 44, Perkawinan campuran beda agama, baik itu

Dokumen terkait