• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PERKAWINAN BEDA AGAMA MENURUT KETENTUAN

B. Syarat dan Prosedur perkawinan beda agama menurut

Sebelum berlakunya Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (selanjutnya disingkat UU perkawinan).Perkawinan campur diatur dalam Regeling op de Gemengde huwelijk stbl.1989 Nomor 158, yang biasanya disingkat dengan GHR.Dalam Pasal 1 GHR ini disebutkan bahwa perkawinan campur adalah perkawinan antara orang-orang yang di Indonesia tunduk pada hukum yang berlainan. Menurut Sudargo Gautama, pasal tersebut mempunyai pengertian sebagai perbedaan perlakuan hukum atau hukum yang berlainan, yang di dalamnya antara lain disebabkan karena perbedaan kewarganegaraan, kependudukan dalam religi, golongan rakyat, tempat kediaman atau agama57. Adapun setelah berlakunya UU Perkawinan, perkawinan campur dinyatakan dalam Pasal 57 yaitu perkawinan campur dalam undang-undang ini ialah perkawinan antara dua orang yang di Indonesia tunduk pada hukum yang berlainan, karena perbedaan kewarganegaraan dan salah satu pihak berkewarganegaraan Indonesia.

57 Octavia Eoh, Perkawinan Antar Agama dalam Teori dan Praktik, (Jakarta:Sri Gunting,1996), hal 9

Perkawinan beda agama juga merupakan polemik tersendiri, UU Perkawinan yang tidak mengatur secara jelas dan tegas tentang perkawinan beda agama, membuat pelaksanaan perkawinan beda agama, membuat pelaksanaan perkawinan beda agama tersebut menjadi relatif sulit. Dalam UU Perkawinan Pasal 2 hanya disebutkan bahwa perkawinan adalah sah apabila dilaksanakan menurut agama dan kepercayaan masing-masing58.Dari pasal ini dapat dinyatakan bahwa perkawinan di Indonesia adalah perkawinan berdasarkan atau menyalahi hukum agama dianggap tidak sah. Dari pasal tersebut, biasanya ditarik pengertian juga bahwa perkawinan beda agama yang tidak diperbolehkan oleh suatu hukum agama, menjadi tidak sah pula. Akan tetapi di daerah perbatasan Indonesia Malaysia dan Indonesia, terutama di daerah Sambas. Didaerah ini sering terjadi perkawinan campur yang beda agama. Didaerah ini hidup suku Dayak Kalimantan yang menganut kepercayaan Kaharingan dan sekarang mayoritas Kristen katholik, serta suku melayu yang beragama Islam.Melayu begitu sebutan orang Islam disana, temasuk warga Malaysia.Orang melayu identik dengan orang yang menganut agama Islam.Sehingga, orang Dayak yang masuk Islam, juga dianggap sebagai melayu.

Di daerah ini perkawinan antara warga Dayak yang menganut Kaharingan atau Kristen Katholik dan warga Melayu yang beragama Islam sering terjadi.

Begitu juga, warga dayak Kalimantan dan warga Melayu Malaysia dapat melaksanakan perkawinan. Perkawinan yang terjadi diantara mereka tersebut merupakan perkawinan campuran dan beda agama. Namun yang menarik adalah perkawinan mereka dilaksanakan dengan hukum adat, baru kemudian dicatatkan

58 Pasal 2 UU Perkawinan

ke kantor catatan sipil inilah the living law yang terjadi di masyarakat perbatasan tersebut. Perkawinan campuran antar warga negara Malaysia dan warga negara Indonesia, yang berbeda agama yaitu satu pihak beragama Islam (Melayu) dan yang satu menganut Kaharimgan (Dayak) namun, hukum adat menjadi praktik alternatif pelaksanaan perkawinan tersebut.

Perkawinan beda agama antara warga Dayak dan Melayu, Perkawinan beda agama yang relatif sulit dilaksanakan di Indonesia, juga dialami oleh para pasangan beda agama di daerah perbatasan Indonesia Malaysia. Diantara cara yang mereka lakukan adalah dengan salah satu pasangan mengikuti agama yang lain sesuai dengan kesepakatan, atau menggunakan dua cara keagamaan.

Masyarakat Dayak Kalimantan di wilayah perbatasan ini yaitu di Sajingan Besar mayoritas memeluk agama Kristen, tidak menutup kemungkinan menikah dengan warga Melayu Malaysia. Perkawinan beda agama ini dilaksanakan misalnya salah satu pihak mengikuti agama pihak lain. Misalnya pihak muslim megikuti agama Kristen atau pihak Kristen mengikuti agama Islam59.

Pencatatan perkawinan di daerah perbatasan ini sudah dilaksanakan dengan tertib. Jadi misalnya pihak Kristen mengikuti agama Islam, akan menikah dengan pencatatan KUA setempat, dan sebaliknya jika pihak muslim yang mengikuti cara agama Kristen, akan menikah di gereja dan pencatatan oleh kantor pencatatan sipil. Namun demikian, bukan berarti mereka sepenuhnya pindah agama, melainkan hanya ‘penundukan diri’ atau masuk ‘agama semu’, karena masih tetap pada akidah agama dan menjalankan ibadah menurut agamanya masing-masing.

59 Sri Wahyuni, “Hukum Keluarga dan Dinamika Sosial Kajian Adat Masyarakat Samin, Maluku, Kalimantan, dan sasak,” Yogyakarta :Calpulis, 2006. hal 89

Cara lain yaitu dengan menggunakan perkawinan berdasarkan dua agama masing-masing. Misalnya pasangan Kristen dengan Islam, akan melaksanakan prosesi perkawinan dua kali yaitu dengan cara agama Islam dan dengan cara agama Kristen di gereja. Akan tetapi, tetap mereka melaksanakan prosesi perkawinan adat. Sehingga, dapat dikatakan bahwa perkawinan di wilayah ini menggunakan beberapa prosesi perkawinan yaitu perkawinan adat yang tidak pernah ditinggalkan, perkawinan agama dan pencatatan perkawinan berdasarkan hukum negara, yaitu di KUA atau di Kantor Pencatatan Sipil.

Perkawinan beda agama ini juga biasa dilaksanakan oleh masyarakat asli Sajingan yaitu suku Dayak dan pendatang yang biasanya musiman, seperti dari suku Jawa atau Sunda. Warga asli Sajingan besar adalah Dayak dan saat ini mayoritas beragama Kristen.Mereka hidup bertani. Sementara warga muslim adalah pendatang yaitu dari suku Jawa, Bugis, dan Sunda. Disisi lain, warga muslim juga merupakan warga Melayu Malaysia sebagai tetangga mereka.

Polarisasi keberagamaan masyarakat inilah yang menyebabkan potensi perkawinan beda agama60.

Hubungan antara warga muslim dan Dayak Kristen di Sajingan besar ini sangat erat dan penuh dengan toleransi. Kedekatan antara warga Malaysia dan Kalimantan di perbatasan ini, salah satunya disebabkan karena pada hakikatnya mereka adalah berasal dari satu nenek moyang yaitu Dayak.Sebagaimana dinyatakan bahwa warga asli Sajingan adalah suku Dayak, begitu juga warga asli Serawak Malaysia perbatasan ini juga adalah suku Dayak. Adapun warga Melayu muslim adalah pendatang, yang kemudian juga berkembang turun temurun di

60 Ibid hal 90.

wilayah tersebut. Sehingga semua telah membaur dan berinteraksi secara baik dalam masyarakatnya. Dalam kondisi seperti ini, maka perkawinan beda agama, beda suku dan beda kewarganegaraan sangat mungkin terjadi. Dalam kondisi perbedaan dan pluralistis, mereka disatukan dengan adat, yaitu adat nenek moyang setempat, yaitu adat Dayak yang mendominasi, sehingga model perkawinan adat juga dijunjung tinggi, baru kemudian perkawinan berdasarkan hukum negara dan hukum agama61.

Dokumen terkait