B. Kajian Isi
3. Ketepatan Pemakaian Dodotan dan Makna Simbolik
Budaya sebagai hasil dari tingkah laku atau hasil kreasi manusia
memerlukan bahan, material atau alat penghantar untuk menyampaikan
maksud atau pengertian yang terkandung di dalamnya (Budiono, 2008:137).
Bagi orang Jawa budaya berpakaian adat memiliki penilaian rasa,
seperti penilaian pantas atau tidaknya pakaian yang digunakan, baik atau
tidak baiknya dan sebagainya. Sesuai yang diutarakan Budiono (2008:14),
sesuatu yang dikerjakan manusia di dalamnya mengandung sebuah nilai.
Nilai yang terkandung di dalamnya dapat bermacam-macam, misalnya: nilai
sosial, ekonomi, keindahan, kegunaan dan sebagainya. Dalam mengenakan
dodotan tidak diperkenankan asal memakai, akan tetapi dalam pemakaian
harus disesuaikan dengan pangkat dan jabatan. Oleh karena itu, tradisi Jawa
mengenal beberapa istilah terhadap nilai berpakaian, diantaranya:
1. Sebutan yang dianggap kurang baik:
a. Wagu : tidak pantas
b. Wadag : tidak halus atau kasar
d. Saru : kurang sopan
e. Degsura : tidak sesuai dengan martabatnya
2. Sebutan yang dianggap baik
a. Sembada : seimbang, sesuai
b. Jinem : sopan
c. Luwes : menampakkan kehalusan, lembut
d. Dhemes : lemah gemulai, pantas
e. Prayoga : baik, pantas
f. Prasaja : sederhana
g. Nimis : terlihat kepriyayiannya
Istilah-itilah di atas menunjukan pada corak pakaian orang
berpakaian. Hal tersebut memberikan gambaran bahwa orang Jawa
memiliki penilaian terhadap wujud berpakaian seseorang harus sesuai
dengan lingkungannya. Penyesuaian tersebut tidak hanya pada lingkungan
melainkan (1) ketepatan orang yang memakai dodotan, dan harus
mengetahui (2) makna simbolik yang terkandung di dalam kelengkapan
busana dodotan.
1) Ketepatan Pemakaian Dodot
Dodotan sebagai busana adat Jawa yang tidak sembarang orang
bisa memakainya. Dalam masyarakat Jawa dodot dapat digunakan ketika
melaksanakan pernikahan. Dodotan memiliki simbol kepangkatan, maka
yang tepat. Dalam lingkungan keraton ketepatan pemakaian dodot sesuai
dengan motif atau corak kampuh, sebagai berikut:
a. Kampuh bermotif Parang rusak atau parang lainnya, digunakan oleh
Sri Susuhunan, Pangeran Adipati Anom, Pangeran Putera, Pangeran
Sentana, Bangsawan Sentana dengan sebutan Harya. Sedangkan pada
waktu sidang pengadilan Sri Susuhunan memakai Busana Kampuh
bermotif parang barong (Moeryati, 2003:73)
b. Batik kampuh motif udan riris digunakan oleh Patih
c. Motif rejeng-rejeng digunakan oleh prajurit, kolonel komandan,
letnan kolonel, dan mayor.
d. Motif semen latar putih, dipakai oleh Bupati, Bupati Anom jawi,
Bupati Anom lebet gandhek
e. Motif padhas gempal, digunakan oleh Panèwu prajurit
f. Panèwu untuk golongan carik menggunakan motif kampuh tambal
miring
g. Panèwu golongan kadipaten Anom, motif batik kampuh jamblang
h. Motif slobog, Panèwu mantri kebawah golongan niyaga
i. Motif ayam puger, digunakan Panèwu mantri kebawah golongan
yogaswara
j. Motif wora-wari rumpuh, digunakan oleh Panèwu mantri ke bawah
golongan Pangeran Praja
k. Motif batik kampuh krambil sacukil, digunakan oleh Panèwu mantri
l. Lurik perkutut jenis motif batik yang di gunakan oleh Panèwu mantri
ke bawah golongan Priyantaka
m. Motif batik kampuh sindur, digunakan oleh canthang balung
golongan Kridhastama
Pemakaian Dodotan harus lengkap dengan kelengkapan-kelengkapannya.
Setiap kelengkapan tersebut juga memiliki makna simbol kepantasan dan
kepangkatan seseorang yang memakainya, berikut kelengkapan dari dodotan
beserta simbol kepangkatan:
1. Kuluk
a. Kuluk kembang wewehan (biru muda), dipakai oleh pangeran putra,
pepatih dalem atau pengantin temu. Berikut gambar kuluk biru muda:
Gambar 44 : Kuluk Biru muda
(sumber http://images.google.com/)
b. Kuluk biru tua dipakai oleh pangeran sentana dan orang atas disebut
panunggul
c. Kuluk Kanigara, dipakai oleh pangeran pepatih dalem, para pangeran
arya bawah, arya atas, letnan kolonel, dan para mayor atau penganten
d. Kuluk ireng, dipakai oleh Bupati atau abdi dalem prajurit, letnan kolonel
kebawah. Untuk kesehariannya disebut kuluk preji. Berikut tampilan dari
kuluk ireng:
Gambar 45 : Kuluk ireng
(sumber http://images.google.com/)
e. Kuluk putih yang terbuat dari bahan tipis, dikenakan oleh para bupati
ketika hari besar disebut kuluk mathak. Jika menggunakan yang
rangkapan calumpring disebut mathak balibar
f. Kuluk putih yang terbuat dari kain sutra, dipakai oleh abdi dalem
berpangkat sejajar. Guna untuk mendekatkan diri pada leluhur. Berikut
adalh gambar kuluk yang dibalut dengan kain sutra:
Gambar 46 : Kuluk Putih
2. Songkok
Bentuk Songkok Tugel Semongka dan di belakang memakai tedeng,
terbuat dari bludru hitam. Dipakai oleh Raja ke bawah sampai abdi
dalem, bupati dan mayor.
3. Makutha
Disebut juga kuluk atau panunggul, digunakan sejak zaman Mataram
sampai keraton Surakarta. Dipakai oleh Sri Susuhunan, pangeran (para
putera), patih kebawah sampai pangkat jajar dan juga mempelai.
4. Mathak
Mathak adalah tutup kepala. Bentuknya menyerupai kuluk. Warnanya
biru atau putih.
a. Balibar Manggis (mathak putih atau biru) dibagian dalam dilengkapi
calumpring, dipakai saat hujan (Mooryati, 78:2003)
b. Putih dipakai oleh bupati ke bawah sampai pangkat .lurah
5. Keris
Sebagai senjata, yang juga menjadi pelengkap busana.
Keris ladrang / capu sering digunakan dalam perlengkapan busana adat
jawa (Gusti Puger, 12 Juli 2016). Berikut gambar keris dan tempatnya:
Gambar 47 : Keris
6. Wedhung (pasikon)
Berupa pedang berukuran 40cm. Dalam dodotan dikenakan semua abdi
dalem, kecuali Susuhunan tidak memakai wedhung. Berikut adalah
sontoh gambar wedhung:
Gambar 48 : wedhung
(sumber http://image.google.com/)
7. Ukup
Sepasang potongan kain di bagian belakang dan tengah. Ukup terbuat
dari benang tenun emas dengan rumbai warna emas dan bahan kain yang
berbeda sesuai dengan pangkat pemakainya, sebagi berikut:
Ukup iku amba dawa kandêl tipisé kaya èpèk, nanging ing buri nganggo gèmblèh loro dawané sakilan. Lêté siji lan sijiné amung têlung nyari, déné kang dianggo akèh warnané, kayata : rénda, cindhé, limar, moga, bludru disulam sangkèlat. Kabèh mau wanguné padha, amung ukup moga kang tanpa rénda= bênang mas; iku diarani ukup moga gubêg, ingkang kalilan ngang-[7]go para santana dalêm ingkang sêsêbutan Arya, nontona gambar angka::
Terjemahan:
Ukup itu lebar panjang tebal tipisnya seperti èpèk, hanya yang belakang
menggunakan dua klèmbrèh panjangnya seukuran 2 jari tangan. Jaraknya satu dan satunya hanya tiga lebar jari, sedangkan yang dipakai banyak warnanya, seperti: renda, cindhe, limar, moga, bludru disulam. Semua itu sama pantasnya, hanya ukup moga yang tanpa renda=benang mas, itu
disebut dengan ukup moga gubeg yang berhak memakai para bangsawan dalam keraton yang dimaksudkan Arya, lihatlah gambar angka: :
Jadi, yang berhak memakai ukup moga tanpa renda disebut ukup moga
gubeg hanya para bangsawan yaitu Sri Susuhunan, Pangeran Putra
Sentana dengan sebutan arya, patih, dan bupati anom.
8. Celana atau saruwal
Celana merupakan pelengkap busana yang wajib. Adapun berbagai
macam celana, seperti dalam teks bab dodotan, bab 26
Calana iku uga akèh warnané, kayata; cindhé, limar, uyah sawuku, kêling, gunung guntur, sutra, baludru, lakên lurik, sapanunggalané, kabèh mau wangun lan pamatrapé iya padha baé, calana iku kang dianggêp bêcik dhéwé amung cindhé, calana cindhé iku ana rupa loro, siji gubêg, loro sorot. Gubêg iku agêmé para arya munggah têkan panjênêngan dalêm nata, sorot iku anggoné para bupati, kang dèn arani sorot iku, pucuking cindhé kang tulisé lincip kaya tumpêng jèjèr-jèjèr, kabèh calana pucuké mêsthi nganggo sèrèd rénda ambané kira kira rong sènti mètêr, nontona gambar angka: :”
Terjemahan :
Celana itu juga banyak macamnya, seperti: cindhe, limar, uyah sawuku, keling, gunung guntur, sutra, baludru, laken lurik, dan yang lainnya. Semua itu pantas dan caranya juga sama saja. Celana yang dianggap pantas/baik hanya cindhe. Celana cindhe itu ada dua macam, satu gubeg, dua sorot. Gubeg itu dipakai para Arya ke atas sampai dengan Panjenengan Dalem Nata. Sorot itu kepunyaannya para Bupati, yang di maksudkan sorot itu, ujungnya cindhe yang tulisnya runcing mirip dengan tumpeng (nasi kuning yang dibuat meruncing) ditata sejajar. Semua celana ujungnya pasti menggunakan sered renda lebarnya kira-kira dua senti meter (2cm), lihatlah gambar angka: :
Jadi, dari teks di atas terdapat macam celana yang dapat digunakan
sebelum memakai kain dodot, seperti: cindhe, limar, keling, sutra, bludru,
laken lurik, dan yang lainnya. Tetapi yang dianggap pantas untuk
dipakaikan pada busana adat kususnya sebelum memakai dain dodot
Gambar 49 : pakaian dodot lengkap (Sumber http://images.google.com/) Gambar 50 : èpèk (sumber http://images.google.com/) kuluk Kain dodot Celana cindhe èpèk Warangka keris Gambar 51: Timang
2) Makna Simbolik Kelengkapan Busana Dodotan
Setiap kelengkapan busana pasti memiliki makna maupun simbol yang
tidak setiap orang memahaminya. Selain simbol-simbol kepangkatan yang telah
diutarakan di atas tadi, ada beberapa kelengkapan busana dodotan yang
mengandung makna tak terlihat yang harus diketahui:
1. Kain dodot
Setiap kain dodot memiliki motif berbeda-beda. Motif kain dodot
disesuaikan dengan acara dan pemakainya, tidak hanya itu dalam motif
kain dodot juga memiliki simbol makna yang berbeda-beda. Dalam
pembahasan ini adalah motif kain dodot:
(a) Dodot bangun tulak, motif dodot ini adalah berupa alas-alasan atau
seglanya yang berada di hutan. Dodot bangun tulak memiliki makna
simbolik yang berdasar dari kata bangun atau bango yang merupakan
jenis hewan burung dan dipercaya memiliki umur panjang, sementara
itu tulak yang berarti menolak penyakit (sarat). Jadi, motif bangun
tulak ini memiliki simbol yang sampai sekarang masih diyakini oleh
orang-orang yang mengetahui sebagai kain yang digunakan untuk sarat
menyingkirkan bahaya, agar manusia selamat dengan umur yang
panjang.
(b) Motif kain dodot gadhung mlathi, motif Gadhung mlathi merupakan
kombinasi dari warna hijau dan putih, warna putih terletak di tengah
dan hijau di bagian pinggir. Motif ini sering dipergunakan oleh
pengantin pria maupun pengantin wanita. Motif dodot Gadhung Mlathi
tentram, nyaman. Sedangkan mlathi adalah bunga melati yang berarti
putih dan harum, harum yang dimaksud agar menjunjung tinggi
kesusilaan. Masyarakat jawa pada umumnya masih mempercayai
bahwa dodot gadhung mlathi memiliki simbol kemakmuran baik lahir
maupun batin, sehingga yang memakai motif kain ini, khususnya
pengantin akan mendapat kemakmuran lahir dan batin setelah
menjalankan syariat agama berupa pernikahan.
2. Nyamat
Nyamat adalah benda yang berada tepat di atas kuluk, bentuknya kecil
berupa emas. Semua pemakai kuluk wajib menggunakan nyamat, kecuali
sinuhun tanpa menggunakan nyamat (polosan). Hal ini memiliki simbol
bahwa seorang pemakai kuluk yang bernyamat memiliki pengayom yang
berada di atasnya. Pengayom tersebut yang akan bertanggung jawab atas
segala yang diperintahkan. Sehingga setiap individu juga memiliki
pertanggungjawaban atas apa yang telah dilakukan. Contoh nyamat yang
terdapat dalam kuluk, sebagai berikut:
Gambar 52: nyamat
(sumber http://images.google.com/)
3. Sabuk
Sabuk (Ikat pinggang) dikenakan dengan cara dilingkarkan (diubedke)
pada badan. Sabik merupakan simbol yang memiliki makna bahwa harus
bersedia untuk tekun berkarya, guna memenuhi kebutuhan hidupnya.
Maka dari itu manusia harus ubed yaitu bekerja dengan tekun jangan
sampai pekerjaannya itu sia-sia dan tidak mendapat keuntungan (buk).
4. Epek
Memiliki makna jika bekerja harus yang bagus, baik (apek, golek) dan
ilmu yang berguna.
5. Timang
Bermakna bahwa apabila ilmu yang di dapat harus benar-benar dipahami,
dipilih yang baik, sehingga tidak akan ada rasa samang (khawatir)
6. Selop
Digunakan pada kaki, selop memiliki makna bahwa dalam menyembah
Tuhan harus didasari dengan iman, lahir dan batin sujud menyembah di
kaki Tuhan dengan hati yang suci pasrah kepada Tuhan YME.
7. Keris dan Warangka
Keris dan warangka (tempat/wadah) dikenakan dibagian belakang badan.
Keris beserta tempatnya memiliki makna sebagaimana manusia adalah
ciptaan Tuhan, yang harus berserah diri kepada-Nya. Dan letak keris yang
berada di belakang memiliki makna, jika menyembah Tuhan harus bisa
ngungkurake atau mengalahkan godaan setan yang selalu memngganggu