• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ketepatan Pemakaian Dodotan dan Makna Simbolik

Dalam dokumen BAB II ANALISIS DATA (Halaman 72-83)

B. Kajian Isi

3. Ketepatan Pemakaian Dodotan dan Makna Simbolik

Budaya sebagai hasil dari tingkah laku atau hasil kreasi manusia

memerlukan bahan, material atau alat penghantar untuk menyampaikan

maksud atau pengertian yang terkandung di dalamnya (Budiono, 2008:137).

Bagi orang Jawa budaya berpakaian adat memiliki penilaian rasa,

seperti penilaian pantas atau tidaknya pakaian yang digunakan, baik atau

tidak baiknya dan sebagainya. Sesuai yang diutarakan Budiono (2008:14),

sesuatu yang dikerjakan manusia di dalamnya mengandung sebuah nilai.

Nilai yang terkandung di dalamnya dapat bermacam-macam, misalnya: nilai

sosial, ekonomi, keindahan, kegunaan dan sebagainya. Dalam mengenakan

dodotan tidak diperkenankan asal memakai, akan tetapi dalam pemakaian

harus disesuaikan dengan pangkat dan jabatan. Oleh karena itu, tradisi Jawa

mengenal beberapa istilah terhadap nilai berpakaian, diantaranya:

1. Sebutan yang dianggap kurang baik:

a. Wagu : tidak pantas

b. Wadag : tidak halus atau kasar

d. Saru : kurang sopan

e. Degsura : tidak sesuai dengan martabatnya

2. Sebutan yang dianggap baik

a. Sembada : seimbang, sesuai

b. Jinem : sopan

c. Luwes : menampakkan kehalusan, lembut

d. Dhemes : lemah gemulai, pantas

e. Prayoga : baik, pantas

f. Prasaja : sederhana

g. Nimis : terlihat kepriyayiannya

Istilah-itilah di atas menunjukan pada corak pakaian orang

berpakaian. Hal tersebut memberikan gambaran bahwa orang Jawa

memiliki penilaian terhadap wujud berpakaian seseorang harus sesuai

dengan lingkungannya. Penyesuaian tersebut tidak hanya pada lingkungan

melainkan (1) ketepatan orang yang memakai dodotan, dan harus

mengetahui (2) makna simbolik yang terkandung di dalam kelengkapan

busana dodotan.

1) Ketepatan Pemakaian Dodot

Dodotan sebagai busana adat Jawa yang tidak sembarang orang

bisa memakainya. Dalam masyarakat Jawa dodot dapat digunakan ketika

melaksanakan pernikahan. Dodotan memiliki simbol kepangkatan, maka

yang tepat. Dalam lingkungan keraton ketepatan pemakaian dodot sesuai

dengan motif atau corak kampuh, sebagai berikut:

a. Kampuh bermotif Parang rusak atau parang lainnya, digunakan oleh

Sri Susuhunan, Pangeran Adipati Anom, Pangeran Putera, Pangeran

Sentana, Bangsawan Sentana dengan sebutan Harya. Sedangkan pada

waktu sidang pengadilan Sri Susuhunan memakai Busana Kampuh

bermotif parang barong (Moeryati, 2003:73)

b. Batik kampuh motif udan riris digunakan oleh Patih

c. Motif rejeng-rejeng digunakan oleh prajurit, kolonel komandan,

letnan kolonel, dan mayor.

d. Motif semen latar putih, dipakai oleh Bupati, Bupati Anom jawi,

Bupati Anom lebet gandhek

e. Motif padhas gempal, digunakan oleh Panèwu prajurit

f. Panèwu untuk golongan carik menggunakan motif kampuh tambal

miring

g. Panèwu golongan kadipaten Anom, motif batik kampuh jamblang

h. Motif slobog, Panèwu mantri kebawah golongan niyaga

i. Motif ayam puger, digunakan Panèwu mantri kebawah golongan

yogaswara

j. Motif wora-wari rumpuh, digunakan oleh Panèwu mantri ke bawah

golongan Pangeran Praja

k. Motif batik kampuh krambil sacukil, digunakan oleh Panèwu mantri

l. Lurik perkutut jenis motif batik yang di gunakan oleh Panèwu mantri

ke bawah golongan Priyantaka

m. Motif batik kampuh sindur, digunakan oleh canthang balung

golongan Kridhastama

Pemakaian Dodotan harus lengkap dengan kelengkapan-kelengkapannya.

Setiap kelengkapan tersebut juga memiliki makna simbol kepantasan dan

kepangkatan seseorang yang memakainya, berikut kelengkapan dari dodotan

beserta simbol kepangkatan:

1. Kuluk

a. Kuluk kembang wewehan (biru muda), dipakai oleh pangeran putra,

pepatih dalem atau pengantin temu. Berikut gambar kuluk biru muda:

Gambar 44 : Kuluk Biru muda

(sumber http://images.google.com/)

b. Kuluk biru tua dipakai oleh pangeran sentana dan orang atas disebut

panunggul

c. Kuluk Kanigara, dipakai oleh pangeran pepatih dalem, para pangeran

arya bawah, arya atas, letnan kolonel, dan para mayor atau penganten

d. Kuluk ireng, dipakai oleh Bupati atau abdi dalem prajurit, letnan kolonel

kebawah. Untuk kesehariannya disebut kuluk preji. Berikut tampilan dari

kuluk ireng:

Gambar 45 : Kuluk ireng

(sumber http://images.google.com/)

e. Kuluk putih yang terbuat dari bahan tipis, dikenakan oleh para bupati

ketika hari besar disebut kuluk mathak. Jika menggunakan yang

rangkapan calumpring disebut mathak balibar

f. Kuluk putih yang terbuat dari kain sutra, dipakai oleh abdi dalem

berpangkat sejajar. Guna untuk mendekatkan diri pada leluhur. Berikut

adalh gambar kuluk yang dibalut dengan kain sutra:

Gambar 46 : Kuluk Putih

2. Songkok

Bentuk Songkok Tugel Semongka dan di belakang memakai tedeng,

terbuat dari bludru hitam. Dipakai oleh Raja ke bawah sampai abdi

dalem, bupati dan mayor.

3. Makutha

Disebut juga kuluk atau panunggul, digunakan sejak zaman Mataram

sampai keraton Surakarta. Dipakai oleh Sri Susuhunan, pangeran (para

putera), patih kebawah sampai pangkat jajar dan juga mempelai.

4. Mathak

Mathak adalah tutup kepala. Bentuknya menyerupai kuluk. Warnanya

biru atau putih.

a. Balibar Manggis (mathak putih atau biru) dibagian dalam dilengkapi

calumpring, dipakai saat hujan (Mooryati, 78:2003)

b. Putih dipakai oleh bupati ke bawah sampai pangkat .lurah

5. Keris

Sebagai senjata, yang juga menjadi pelengkap busana.

Keris ladrang / capu sering digunakan dalam perlengkapan busana adat

jawa (Gusti Puger, 12 Juli 2016). Berikut gambar keris dan tempatnya:

Gambar 47 : Keris

6. Wedhung (pasikon)

Berupa pedang berukuran 40cm. Dalam dodotan dikenakan semua abdi

dalem, kecuali Susuhunan tidak memakai wedhung. Berikut adalah

sontoh gambar wedhung:

Gambar 48 : wedhung

(sumber http://image.google.com/)

7. Ukup

Sepasang potongan kain di bagian belakang dan tengah. Ukup terbuat

dari benang tenun emas dengan rumbai warna emas dan bahan kain yang

berbeda sesuai dengan pangkat pemakainya, sebagi berikut:

Ukup iku amba dawa kandêl tipisé kaya èpèk, nanging ing buri nganggo gèmblèh loro dawané sakilan. Lêté siji lan sijiné amung têlung nyari, déné kang dianggo akèh warnané, kayata : rénda, cindhé, limar, moga, bludru disulam sangkèlat. Kabèh mau wanguné padha, amung ukup moga kang tanpa rénda= bênang mas; iku diarani ukup moga gubêg, ingkang kalilan ngang-[7]go para santana dalêm ingkang sêsêbutan Arya, nontona gambar angka::

Terjemahan:

Ukup itu lebar panjang tebal tipisnya seperti èpèk, hanya yang belakang

menggunakan dua klèmbrèh panjangnya seukuran 2 jari tangan. Jaraknya satu dan satunya hanya tiga lebar jari, sedangkan yang dipakai banyak warnanya, seperti: renda, cindhe, limar, moga, bludru disulam. Semua itu sama pantasnya, hanya ukup moga yang tanpa renda=benang mas, itu

disebut dengan ukup moga gubeg yang berhak memakai para bangsawan dalam keraton yang dimaksudkan Arya, lihatlah gambar angka: :

Jadi, yang berhak memakai ukup moga tanpa renda disebut ukup moga

gubeg hanya para bangsawan yaitu Sri Susuhunan, Pangeran Putra

Sentana dengan sebutan arya, patih, dan bupati anom.

8. Celana atau saruwal

Celana merupakan pelengkap busana yang wajib. Adapun berbagai

macam celana, seperti dalam teks bab dodotan, bab 26

Calana iku uga akèh warnané, kayata; cindhé, limar, uyah sawuku, kêling, gunung guntur, sutra, baludru, lakên lurik, sapanunggalané, kabèh mau wangun lan pamatrapé iya padha baé, calana iku kang dianggêp bêcik dhéwé amung cindhé, calana cindhé iku ana rupa loro, siji gubêg, loro sorot. Gubêg iku agêmé para arya munggah têkan panjênêngan dalêm nata, sorot iku anggoné para bupati, kang dèn arani sorot iku, pucuking cindhé kang tulisé lincip kaya tumpêng jèjèr-jèjèr, kabèh calana pucuké mêsthi nganggo sèrèd rénda ambané kira kira rong sènti mètêr, nontona gambar angka: :”

Terjemahan :

Celana itu juga banyak macamnya, seperti: cindhe, limar, uyah sawuku, keling, gunung guntur, sutra, baludru, laken lurik, dan yang lainnya. Semua itu pantas dan caranya juga sama saja. Celana yang dianggap pantas/baik hanya cindhe. Celana cindhe itu ada dua macam, satu gubeg, dua sorot. Gubeg itu dipakai para Arya ke atas sampai dengan Panjenengan Dalem Nata. Sorot itu kepunyaannya para Bupati, yang di maksudkan sorot itu, ujungnya cindhe yang tulisnya runcing mirip dengan tumpeng (nasi kuning yang dibuat meruncing) ditata sejajar. Semua celana ujungnya pasti menggunakan sered renda lebarnya kira-kira dua senti meter (2cm), lihatlah gambar angka: :

Jadi, dari teks di atas terdapat macam celana yang dapat digunakan

sebelum memakai kain dodot, seperti: cindhe, limar, keling, sutra, bludru,

laken lurik, dan yang lainnya. Tetapi yang dianggap pantas untuk

dipakaikan pada busana adat kususnya sebelum memakai dain dodot

Gambar 49 : pakaian dodot lengkap (Sumber http://images.google.com/) Gambar 50 : èpèk (sumber http://images.google.com/) kuluk Kain dodot Celana cindhe èpèk Warangka keris Gambar 51: Timang

2) Makna Simbolik Kelengkapan Busana Dodotan

Setiap kelengkapan busana pasti memiliki makna maupun simbol yang

tidak setiap orang memahaminya. Selain simbol-simbol kepangkatan yang telah

diutarakan di atas tadi, ada beberapa kelengkapan busana dodotan yang

mengandung makna tak terlihat yang harus diketahui:

1. Kain dodot

Setiap kain dodot memiliki motif berbeda-beda. Motif kain dodot

disesuaikan dengan acara dan pemakainya, tidak hanya itu dalam motif

kain dodot juga memiliki simbol makna yang berbeda-beda. Dalam

pembahasan ini adalah motif kain dodot:

(a) Dodot bangun tulak, motif dodot ini adalah berupa alas-alasan atau

seglanya yang berada di hutan. Dodot bangun tulak memiliki makna

simbolik yang berdasar dari kata bangun atau bango yang merupakan

jenis hewan burung dan dipercaya memiliki umur panjang, sementara

itu tulak yang berarti menolak penyakit (sarat). Jadi, motif bangun

tulak ini memiliki simbol yang sampai sekarang masih diyakini oleh

orang-orang yang mengetahui sebagai kain yang digunakan untuk sarat

menyingkirkan bahaya, agar manusia selamat dengan umur yang

panjang.

(b) Motif kain dodot gadhung mlathi, motif Gadhung mlathi merupakan

kombinasi dari warna hijau dan putih, warna putih terletak di tengah

dan hijau di bagian pinggir. Motif ini sering dipergunakan oleh

pengantin pria maupun pengantin wanita. Motif dodot Gadhung Mlathi

tentram, nyaman. Sedangkan mlathi adalah bunga melati yang berarti

putih dan harum, harum yang dimaksud agar menjunjung tinggi

kesusilaan. Masyarakat jawa pada umumnya masih mempercayai

bahwa dodot gadhung mlathi memiliki simbol kemakmuran baik lahir

maupun batin, sehingga yang memakai motif kain ini, khususnya

pengantin akan mendapat kemakmuran lahir dan batin setelah

menjalankan syariat agama berupa pernikahan.

2. Nyamat

Nyamat adalah benda yang berada tepat di atas kuluk, bentuknya kecil

berupa emas. Semua pemakai kuluk wajib menggunakan nyamat, kecuali

sinuhun tanpa menggunakan nyamat (polosan). Hal ini memiliki simbol

bahwa seorang pemakai kuluk yang bernyamat memiliki pengayom yang

berada di atasnya. Pengayom tersebut yang akan bertanggung jawab atas

segala yang diperintahkan. Sehingga setiap individu juga memiliki

pertanggungjawaban atas apa yang telah dilakukan. Contoh nyamat yang

terdapat dalam kuluk, sebagai berikut:

Gambar 52: nyamat

(sumber http://images.google.com/)

3. Sabuk

Sabuk (Ikat pinggang) dikenakan dengan cara dilingkarkan (diubedke)

pada badan. Sabik merupakan simbol yang memiliki makna bahwa harus

bersedia untuk tekun berkarya, guna memenuhi kebutuhan hidupnya.

Maka dari itu manusia harus ubed yaitu bekerja dengan tekun jangan

sampai pekerjaannya itu sia-sia dan tidak mendapat keuntungan (buk).

4. Epek

Memiliki makna jika bekerja harus yang bagus, baik (apek, golek) dan

ilmu yang berguna.

5. Timang

Bermakna bahwa apabila ilmu yang di dapat harus benar-benar dipahami,

dipilih yang baik, sehingga tidak akan ada rasa samang (khawatir)

6. Selop

Digunakan pada kaki, selop memiliki makna bahwa dalam menyembah

Tuhan harus didasari dengan iman, lahir dan batin sujud menyembah di

kaki Tuhan dengan hati yang suci pasrah kepada Tuhan YME.

7. Keris dan Warangka

Keris dan warangka (tempat/wadah) dikenakan dibagian belakang badan.

Keris beserta tempatnya memiliki makna sebagaimana manusia adalah

ciptaan Tuhan, yang harus berserah diri kepada-Nya. Dan letak keris yang

berada di belakang memiliki makna, jika menyembah Tuhan harus bisa

ngungkurake atau mengalahkan godaan setan yang selalu memngganggu

Dalam dokumen BAB II ANALISIS DATA (Halaman 72-83)

Dokumen terkait