• Tidak ada hasil yang ditemukan

105 Keterangan : Penilaian rating menggunakan skala 1

HASIL DAN PEMBAHASAN Profil Wilayah Kabupaten Kepahiang

105 Keterangan : Penilaian rating menggunakan skala 1

Posisi Strategi Berdasarkan data faktor-faktor internal dan eksternal didapatkan skor pembobotan untuk faktor kekuatan = 193; faktor kelemahan = 0,86; faktor peluang = 213 dan faktor ancaman = 058 Dari skor pembobotan di atas selanjutnya diplotkan pada gambar analisa diagram SWOT yang terdiri dari 4 kuadran yaitu : kuadran I (Agresif), kuadran II (Investasi), kuadran III (defensif) dan kuadran IV (Diversifikasi) Adapun perhitungannya sebagai berikut:

Skor pembobotan - Faktor KEKUATAN : 170 - Faktor KELEMAHAN : 108 - --- P : 062 (sumbu x) - Faktor PELUANG : 155 - Faktor ANCAMAN : 105 - --- Q : 050 (sumbu Y)

Dari perpotongan keempat garis faktor kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman, maka didapatkan koordinat ( 06 ; 050 ) yang mana koordinat ini masuk pada kuadran I, yakni Strategi AGRESIF (Gambar 12)

Gambar12 Kuadran analisa SWOT Sinkolema

Peluang

II. INVESTASI I. AGRESIF

Kelemahan Kekuatan

III. DEFENSIF IV. DIVERSIFIKASI

Penyusunan Strategi. Analisa SWOT ditujukan untuk mengidentifikasi berbagai faktor perumusan strategi Dari berbagai faktor internal dan eksternal terpilih dan disusun strategi untuk pengembangan sinkolema

Memanfaatkan peluang mengoptimalkan Kekuatan

a. Optimalisasi pemanfaatan SDA bekerjasama dengan Perguruan Tinggi b. Merealisasikan Visi dan Misi dengan member bekal pengetahan murid

SMK

c. Peningkatan mutu dan produksi madu untuk memenuhi kebutuhan konsumen

Menanggulangi kelemahan dengan memanfaatkan peluang)

a. Mendapat bimbingan PTN dalam mendapatkan modal dari sumber

keuangan dan membentuk kelembagaan yang kuat

b. Optimalisasi transfer teknologi dari PT/PTN

c. Mengurangi mpenggunaan pestisida untuk menghasilkan madu yang aman

dikinsumsi

d. Dibuat program pengembangan ternal lebah bekerjasama engan SMK

Pembenahan sarana dan prasarana produksi untuk memberikan layanan kebutuhan madu dengan cepat dan bermutu

Memakai kekuatan untuk mengantisipasi tantangan/ancaman)

a. Memanfaatkan fasilitas dan akses yang yang dimiliki PEMDA untuk ajang promosi

b. Pembenahan infrastruktur (jalan) dan akselerasi pelaksanaan terwujudnya

Kabupaten Kepahiang sebagai Kota tujuan Arowisata

Memperkecil kelemahan dan mengatasi tantangan/ancaman) :

a. Menggalang kerjasama dengan berbagai pihak untuk kegiatan promosi b. Pemanfaatan secara optimal sumberdaya Pemda yang dimiliki

Rekomendasi Rencana Aksi (Action Plan) Sinkolema. Rencana aksi yang disusun dalam tataran operasional perlu didasarkan pada hasil analisisn SWOT di atas Dilihat dari kekuatan dan peluang yang mendominasi maka rencana aksi ini disusun agresif dan dibagi berdasarkan jangka pendek, menengah dan panjang

Aksi jangka pendek terdiri dari;

1. Meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan wawasan petani kopi melalui penyuluhan, pelatihan dan magang

2. Pembentukan dan penataan kelompok-kelompok tani dan lembaga lain yang tekait peningkatan ketermpilan dalam memfungsikan lembaga, dan menciptakan jaringan dengan instansi/lembaga terkait

3. Pengadaan lebah madu yang berkualitas melalui pengembangan koloni- koloni lebah terutama dari peternakan yang sudah berhasil di Bengkulu atau di luar Bengkulu

4. Perbaikan sarana dan prasarana produksi untuk memberikan layanan kebutuhan produksi madu dengan cepat dan bermutu

5. Meningkatkan skala pemeliharaan budidaya kopi dan lebah madu untuk memenuhi kebutuhan konsumen

6. Menjalin kerjasama terstruktur dengan instansi terkait

7. Melengkapi sarana edukasi (brosur, juknis, poster, dll) untuk diterapkan di SMK

8. Membentuk lembaga tingkat nasional yang menangani satwa harapan Aksi jangka menengah terdiri dari;

1. Melakukan ajang promosi pada tingkat regional, nasional bahkan Internasional

2. Didirikan beberapa rumah madu sinkolema yang berfungsi memasarkan dan sekaligus tempat pusat informasi permaduan dan perkopian di Kepahiang

3. Mendidik kader-kader yang memenuhi syarat untuk dididik menjadi ahli madu

4. Melengkapi sarana edukasi dari aspek budidaya satwa secara keseluruhan dan aspek prosesingnya (media elektronik, tulisan dan perlengkapan praktek)

Aksi jangka panjang terdiri dari;

1. Menjadikan Kepahiang bahkan Propinsi Bengkulu sebagai kota/Propinsi madu

2. Menjalin kerjasama dengan pihak swasta yang tertarik di untuk menanamkan investasi di bidang kopi dan madu

3. Terciptanya beberapa kawasan sinkolema di Kabupaten Kepahiang yang memproduksi madu kopi

4. Membentuk lembaga tingkat nasional yang menangani satwa harapan

Analisis Keberlanjutan

Analisis keberlanjutan dilakukan untuk menilai tingkat keberlanjutan peternakan madu yang di integrasikan dengan kebun kopi di wilayah Kabupaten Kepahiang, Bengkulu Penilaian tingkat keberlanjuan ini dilakukan dengan menggunakan metode multidimensional scaling (MDS) yang disebut Rafbee hasil adopsi metode Rapfish Indikator yang digunakan dalam analisis keberlanjutan menggunakan indikator yang disusun berdasarkan hasil akuisisi para stakeholders dalam bentuk Fokus Group Discussion (FGD) dan wawancara (pengisian questioner) Analisis dilakukan dua kali yaitu awal kegiatan sebagai database dan pada akhir kegiatan sebagai dampak dari penerapan sinkolema untuk melihat adanya pengaruh dari sinkolema terhadap indek keberlanjutan,

Keberlanjutan usaha lebah madu dikelompokkan kedalam 5 dimensi, yakni teknologi (budidaya), lingkungan, ekonomi, hukum/kelembagaan dan sosial budaya, masing-masing sebanyak 10, 10, 9, 10 dan 9 atribut atau keseluruhan ada 48 atribut Hasil analisis disajikan pada Tabel 13 yang menunjukkan bahwa Indeks keberlanjutan budidaya lebah madu sebelum dan setelah diterapkannya sistem integrasi lebah madu dan kebun kopi di Kabupaten Kapahiang Bengkulu untuk masing-masing komponen berkisar antara 49 dan 86 pada skala sustainability 0-100

Tabel 13 Indek keberlanjutan budidaya lebah sebelum dan sesudah sinkolema

No Dimensi IkRafbee Status

Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah 1 Budidaya/Teknologi 4911 7619 Kurang Sangat Baik 2 Ekologi/Lingkungan 6953 8420 Baik Sangat Baik

3 Ekonomi 5706 7924 baik Sangat Baik

4 Hukum dan Kebudayaan 4962 5490 Kurang Baik

5 Sosial Budaya 7318 8528 baik Sangat Baik

6 Sinkolema 5950 7600 Baik Sangat Baik

Indeks keberlanjutan budidaya lebah madu (IkRafBee) sebelum dan sesudah implemtasi sinkolema sebesar 5950 dan 7600 ini berarti keberlanjutan sebelum sinkolema berstatus baik meningkat menjadi berstatus sangat baik setelah dilaksanakan sinkolema Peningkatan status keberlanjutan sinkolema tercapai karena semua atribut keberlanjutan mengalami peningkatan status Peningkatan status keberlanjutan yang paling tinggi adalah dimensi budidaya/teknologi yaitu dari kurang menjadi sangat baik Penelingkatan status dimensi budidaya terjadi karena pada saat pelaksanaan penelitian, peternak ditingkatkan keterampilannya melalui pelatihan budidaya lebah Nilai keberlanjutan yang masih rendah adalah dimensi hukum dan kelembagaan, hal ini agak sulit ditingkatkan masyarakat karena erat kaitannya dengan peran pemerintah Jadi untuk dapat menaikan status menjadi sangat baik, peranan pemerintah dalam melakukan pengawasan dan pembinaan sangat diperlukan Perubahan nilai keberlanjutan antara sebelum dan setelah sinkolema dapat dilihat pada diagram layang-layang Gambar 13

Nilai stress dan nilai determinasi (R2) baik sebelum maupun sesudah penerapan sinkolema menunjukan bahwa hasil analisis sudah baik dan penggunaan peubah sudah tepat Hal tersebut ditunjukan dengan nilai koefisien determinasi >80% ( Tabel 14) dan nilai stress <0,25 (Tabel 15)

Gambar 13 Diagram layang layang (A) sebelum dan (B) setelah diterapkan sinkolema 0 20 40 60 80 Budaya – Tekonologi Ekologi – Lingkungan Ekonomi Hukum – Kelembagaan Sosial - Budaya (A) 0 20 40 60 80 100 Budidaya – Tekonologi Ekologi – Lingkungan Ekonomi Hukum – Kelembagaan Sosial - Budaya (B)

Tabel 14 Nilai stress dan nilai determinan (R2) awal kegiatan

No DIMENSI PEL NILAI

INDEKS STATUS PEL NILAI STRESS R2 (%) 1 Budidaya – Tekonologi 4911 Kurang baik 01428 949 2 Ekologi – Lingkungan 6953 Baik 01362 9525 3 Ekonomi 5706 Baik 01368 934 4 Hukum – Kebudayaan 4862 Kurang baik 01456 9493

5 Sosial - Budaya 7318 Baik 01339 9506

Tabel 15 Nilai stress dan nilai determinan (R2) akhir kegiatan

No DIMENSI PEL NILAI

INDEKS STATUS PEL NILAI STRESS R2 (%) 1 Budidaya – Tekonologi 7619 Sangat Baik 01375 9530 2 Ekologi –

Lingkungan 8420 Sangat Baik 01315 9522

3 Ekonomi 7924 Sangat Baik 01340 9426

4 Hukum –

Kelembagaan 5490 Baik 01381 9481

5 Sosial - Budaya 8528 Sangat Baik 01339 9419

Hasil analisis Leverage menunjukkan bahwa faktor-faktor sensitif yang diintervensi dalam menganalisis atribut-atribut pada masing-masing dimensi keberlanjutan ada kaitannya dengan peran pemerintah seperti atribut sumber modal, kelompok tani dan tingkat pendidikan menjadi atribut pengungkit utama pada dimensi ekonomi, hukum kelembagaan dan Sosial budaya (Tabel 16 dan Tabel 17) Ketiga atribut ini menjadi tanggungjawab pemerintah Atribut pengungkit utama lain adalah teknologi pakan dan kesuburan lahan menjadi tanggungjawab bersama antara pemerintah, petani dan para stakeholders lainnya

Tabel 16 Faktor pengungkit (key factors) sebelum Penerapan sinkolema

No DIMENSI PEL

FAKTOR PENGUNGKIT (faktor-faktor sensitif yang diintervensi)

Utama kedua ketiga

1 Budidaya –

Tekonologi Teknologi pakan Ketersediaan pakan dari nectar kopi dan kaliandra

Frekuensi panen/tahun 2 Ekologi –

Lingkungan Kesuburan lahan Agroklimat, suhu, curah hujan Penutupan vegetasi 3 Ekonomi Sumber modal Keadaan pasar Prospek permintaan

madu 4 Hukum –

Kelembagaan Kelompok tani peternak pelanggaran hukum Intensitas oleh peternak

Lembaga Keuangan 5 Sosial - Budaya Tingkat pendidikan Pengetahuan terhadap

lingkungan

Jumlah keluarga peternak lebah

Tabel 17 Faktor pengungkit (key factors) setelah Penerapan sinkolema

No DIMENSI PEL

FAKTOR PENGUNGKIT (faktor-faktor sensitif yang diintervensi)

Utama kedua ketiga

1 Budidaya –

Tekonologi transportasi & Teknologi informasi

Pemanfaatan Lebah sebagai pollinator

kopi

Peralatan panen / Frekuensi panen per

tahun 2 Ekologi –

Lingkungan Kesuburan lahan Luas lahan pertanian Agroklimat, suhu, curah hujan 3 Ekonomi Sistem penjualan

produk Cara menjual madu Keadaan pasar 4 Hukum – Kebudayaan Intensitas pelanggaran hukum oleh peternak Keberadaan tokoh panutan Kelompok tani peternak 5 Sosial - Budaya Tingkat pendidikan Jumlah keluarga

peternak lebah Regulasi pemerintah setempat mengenai lebah madu

Kelima dimensi keberlanjutan dibagi menjadi dua kelompok guna membedakan keeratan hubungan dengan budidaya lebah madu Budidaya/teknologi, ekologi/lingkungan dan dimensi ekonomi adalah merupakan kelompok utama, sedangkan dimensi hukum/kelembagaan dan sosial budaya adalah kelompok penunjang dalam budidaya ternak lebah dengan sistem sinkolema

Dimensi Budidaya/Teknologi

Indek keberlanjutan dari dimensi teknologi pada awal penelitian adalah 49,11 naik menjadi 76,19 pada akhir penelitian, berarti bahwa penerapan budidaya madu yang diintegrasikan dengan kebun kopi mampu menaikan setatus kerberlanjutan dari posisi kurang menjadi sangat baik Kenaikan indek keberlanjutan dimensi buidaya ini tidak terlepas dari peningkatan skor pada atribut „prospek perubahan‟ dimana petani punya keyakinan pertumbahan budidaya lebah akan sangat cepat, „pemenfaatan lebah sebagai polinator kopi‟ yang selalu dimanfaatkan dan atribut atribut „frekuensi panen‟ yang mana petani sudah mampu memanen lebah 5 kali/tahun

Berdasarkan analisis leverage yang bertujuan untuk menganalisis atribut yang mana yang paling sensitif terhadap keberlanjutan adalah atribut transportsi dan informasi, pemanfaatan lebah sebagai polinator dan peralatan panen Jika dilihat dari pencapaian nilai indek maka dimensi teknologi dibandingkan dengan dimensi lain, merupakan dimensi paling tinggi perubahnnya Artinya keberlanjutan sinkolema berdasarkan dimensi teknologi sudah mendukung terlaksananya budidaya yang berkelanjutan Dilihat dari kontribusi masing masing atribut, terdapat atribut yang paling tinggi peranannya dalam mendorong terlaksananya sinkolema madu yang berkelanjutan yaitu penggunaan jasa lebah sebagai polinator yang telah terbukti dapat meningkatkan produksi kopi 10 % tanpa penyemprotan perangsang biji berupa kimia yang mungkin merusak lingkungan

Analisis keberlanjutan dan analisis leverage dari dimensi teknologi dan budidaya dapat dilihat pada Gambar 14 dan Gambar 15

Gambar 14 analisis leverage dimensi teknologi sebelum sinkolema

Gambar 15 Analisis Leverage Dimensi Teknologi Setelah Sinkolema

0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5

Produktivitas lebah madu Ketersediaan sarana produksi Pemanfaatan lebah sebagai polinator…

Pemanfaatan tanaman kopi dan… Frekuensi panen/tahun A ttr ib u te Leverage of Attributes 0 1 2 3 4 5

Produktivitas lebah madu Prospek Pertumbuhan teknologi Pakan Pemanfaatan tanaman kopi dan kaliandra sebagai penghasil… Frekuensi panen/tahun A ttr ib u te Leverage of Attributes

Dimensi Lingkungan

Indek keberlanjutan dari dimensi lingkungan/ekologi pada saat sebelum dilaksanakan sinkolema adalah sebesar 6953, yang mengandung arti bhwa posisi dimensi ekologis berada pada kategori baik Dari analisis leverage yang bertujuan untuk menganalisis atribut yang mana yang paling sensitive terhadap keberlanjutan dapat dilihat pada Gambar 19 Dari gambar tersebut , terlihat bahwa atribut yang menjadi pengungkit (key factor) adalah kesuburan tanah, luas lahan dan agroklimat Jadi upaya peningkatan keberlanjutan sinkolema secara ekologi dititik beratkan pada ketiga faktor tersebut

Faktor lain yang dapat diperbaiki segera adalah cara pemeliharaan dan kasus penutupan lahan Perbaikan dari kedua faktor ini mampu meningkatkan status indek kebarlanjutan atribut ekologi dari baik menjadi sangat baik (8420) di akhir kegiatan seperti yang terlihat pada Gambar25 Sebagai faktor pengungkit keberlanjutan sinkolema adalah atribut kesuburan lahan, iklim dan penutupan lahan Memperhatikan indeks keberlanjutan sebelum dan sesudah penerapan sinkolema maka kesuburan tanah tetap menjadi faktor pengungkit, sehingga untuk implementasi sinkolema ke depan perlu ada upaya agar kesuburan lahan dapat ditingkatkan dengan tetap berbasis pada pengembangan usaha yang berkelanjutan

Ketinggian lokasi merupakan atribut yang sudah tetap dan tidak bisa diubah lagi (Ridwan 2006), oleh karena itu ketinggian tempat di Kabupaten Kepahiang merupakan faktor yang perlu dipertimbangankan dalam upaya pengembangan lebah madu berkelanjutan, karena faktor ini sangat erat hubungannya dengan suhu dan kelembaban yang secara teknis sangat mempengaruhi ketersediaan pakan lebah dan kualitas madu yang dihasilkan Komponen daya dukung wilayah secara umum berkaitan dengan skala usaha, sumber pakan, sumber air, pasar dan sarana transportasi

Analisis keberlanjutan dan analisis leverage dari dimensi ekologi/lingkungan dapat dilihat pada Gambar 16 dan Gambar 17

Gambar 16 Analisis Leverage Dimensi Ekologi Sebelum Sinkolema

Gambar 17 Analisis Leverage Dimensi Ekologi Setelah Sinkolema

0 1 2 3 4 5 6

Pemanfaatan Lebah sebagai polinator Daya dukung wilayah Sistem pemeliharaan Ketinggian tempat dpl Agroklimat Suhu, curah

hujan

Kesuburan lahan Luas lahan pertanian Indeks Pertanaman (IP)

Penutupan vegetasi Keanekaragaman vegetasi A tt ri b u te Leverage of Attributes 0 1 2 3 4 5 6 Pemanfaatan Lebah… Daya dukung wilayah

Sistem pemeliharaan Ketinggian tempat dpl Agroklimat Suhu, curah…

Kesuburan lahan Luas lahan pertanian Indeks Pertanaman (IP)

Penutupan vegetasi Keanekaragaman vegetasi A ttr ib u te Leverage of Attributes

Dimensi Ekonomi

Indek keberlanjutan dari dimensi ekonomi pada saat sebelum dilaksanakan sinkolema adalah sebesar 5706, yang mengandung arti bahwa posisi ekonomi berada pada kategori baik Dari analisis analisis leverage, posisi masing-masing atribut dimensi ekonomi dalam indek keberlanjutan dapat dilihat pada Gambar 26 Dari Gambar 18 tersebut, terlihat bahwa atribut yang menjadi pengungkit (key factor) adalah sistem penjualan produk, cara menjual produk dan keadaan pasar Fakor pengungkit dimensi ekonomi sangat berkaitan dengan atribut pemasaran Jadi upaya peningkatan keberlanjutan sinkolema secara ekonomi dititik beratkan pada pemasaran

Pertumbuhan ekonomi dalam bidang lebah madu berkaitan dengan berapa besar peluang untuk menambah dan memperbesar usaha lebah madu tersebut baik secara individu maupun kelompok Untuk itu agar usaha lebah madu berhasil dengan tetap meningkatkan ststus keberlanjutannya, maka perlu dilakukan optimalisasi pemanfaatan potensi yang ada Bila potensi wilayah sangat potensial, dengan diberikan insentif akan mendorong terjadinya pertumbuhan yang secara dimensi ekonomi berarti adanya keberlanjutan (Ridwan 2006)

Pada akhir penelitian, terjadi pergeseran yaitu munculnya atribut kebutuhan modal, yang menunjukkan bahwa peternak lebah madu di lokasi penelitian sudah berkembang sehingga dibutuhkan modal tambahan yang tidak dapat dipenuhi dari modal keluarga Pengungkit urutan kedua dan dimensi ekonomi pada sinkolema adalah cara menjual madu dan keadaan pasar Untuk meningkatkan keberlanjutan sinkolema secara ekonomi adalah dengan memberi perhatian pada faktor penyediaan modal yang dapat diperoleh baik melalui bantuan pemerintah maupun swadana dalam bentuk iuran anggota kelompok

Menurut Ogaba (2010) budidaya lebah memiliki potensi untuk mengatasi kemiskinan di Uganda dengan memanfaatkan berbagai sumberdaya alam yang berlimpah, mudah diintegrasikan dengan tanaman pertanian, tidak memerlukan teknologi canggih dan modal besar, dan dapat dilakukan oleh petani dengan tingkat pengetahuan yang memadai Beberapa kendala yang perlu diantisipasi adalah kebijakan hukum yang mendukung dan peraturan yang mengatur budidaya lebah, kesulitan peternak mengikuti training dan akses informasi, rendahnya

kualitas produk lebah, terbatasnya pasar dan terbatasnya akses ke sumber dana yang juga ditemukan dalam penelitian ini

Analisis keberlanjutan dan analisis leverage dari dimensi ekonomi dapat dilihat pada Gambar 18 dan Gambar 19

Gambar 18 Analisis Leverage Dimensi Ekonomi Sebelum Sinkolema

Gambar 19 Analisis Leverage Dimensi Ekonomi Setelah Sinkolema

0 2 4 6 8 10 12 14 16

Keuntungan peternak lebah Konstribusi kopi dan madu terhadap…

Pembeli Keadaan pasar Cara menjual madu Sumber modal Prospek permintaan madu

Prospek permintaan kopi Sistem penjualan produk Besarnya subsidi A ttr ib u te Leverage of Attributes 0 5 10 15

Keuntungan peternak lebah Konstribusi kopi dan madu terhadap…

Pembeli Keadaan pasar Cara menjual madu Sumber modal Prospek permintaan madu

Prospek permintaan kopi Sistem penjualan produk Besarnya subsidi A ttr ib u te Leverage of Attributes

Analisis ekonomi sederhana dengan menghitung kenaikan produk kopi dan peroduksi madu menunjukkan bahwa petani kopi di lokasi penelitian mendapat tambahan pendapatan sebesar Rp 3201600 (Tabel 18) yang didasarkan pada harga jual yang petani terima yaitu madu Rp 60000/kg dan kopi Rp 10000000/ton Penerimaan petani sebelum penerapan sinkolema sekitar Rp 10540000 bersumber dari produksi madu 1560 kg/10 koloni/tahun dan produksi kopi 118 ton/ha/tahun, sehingga penerapan senkolema dapat meningkatkan pendapatan petani sebesar 30% Pendapatan tambahan petani akan lebih tinggi bila jumlah kotak lebah yang dibudiyakan opimal sesuai dengan daya tampung kebun kopi Kondisi ini memberikan indikasi bahwa penerapan sinkolema menjadi salah satu upaya yang dapat meningkatkan status ekonomi peternak lebah secara berkesinambungan

Tabel 18 Peningkatan penghasilan petani melalui sinkolema

Jenis Peningkatan produk Harga/unit (Rp/unit) Peningkatan pendapatan (Rp) Produksi madu (kg/10 koloni/tahun) 3336 60000 2001600

Produksi kopi ton/ha 012 10000000 1200000

Jumlah 3201600 (30%)

Dimensi Hukum dan Kelembagaan dan Dimensi Sosial Budaya

Indek keberlanjutan dari dimensi hukum dan kelembagaan pada saat sebelum dilaksanakan sinkolema adalah sebesar 4862, yang mengandung arti bhwa posisi hukum dan kelembagaan berada pada kategori buruk Hal ini terjai karena belum adanya peraturan pemerintah yang diterapkan di lokasi penelitian, disamping itu lembaga yang ada (Kelompok Usaha Produktif) belum berjalan dengan baik

Berdasarkan analisis analisis leverage, posisi masing-masing atribut dimensi hukum dan kelembagaan dalam indek keberlanjutan dapat dilihat pada Gambar 23 yang menunjukkan bahwa atribut yang menjadi pengungkit (key factor) adalah

intensitas pelanggaran hukum, kurangnya tokoh panutan masyarakat dan kelompok tani yang kurang berfungsi Oleh karena itu, untuk meningkatkan nilai indek keberlanjutan, perbaikan faktor kunci menjadi perhatian utama Hal ini perlu didukung oleh kebijakan pemerintah setempat dengan cara menerapkan aturan yang jelas dan penyadaran masyarakat secara informal

Hasil pengamatan pada sinkolema menunjukkan adanya perubahan ditandai dengan meningkatnya nilai indek keberlanjutan hukum dan kelembagaan dari 4862 menjadi 5490 katagori baik Peningkatan kapasitas dan posisi tawar petani dalam usaha lebah madu perlu didukung pula oleh aspek kelembagaan seperti kelompok usaha dan lembaga keuangan Beberapa hal yang terkait dengan sanksi hukum terhadap pelanggaran mengacu pada peraturan yang berlaku perlu disepakati oleh masyarakat setempat

Kelembagaan secara keseluruhan mempunyai posisi yang penting dan menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan adalah unit/lembaga keuangan yang dapat menyediakan kredit murah dengan akses yang mudah kepada petani lebah untuk melaksanakan kegiatan agribisnis Dengan demikian peran kelompok dan anggotanya menjadi penting dan dinamis

Hasil analisis keberlanjutan dan analisis leverage dari dimensi hukum dan kelembagaan dapat dilihat pada Gambar 20 dan Gambar 21

Gambar 20 Analisis Leverage Dimensi Hukum dan Kelembagaan sebelum Sinkolema

Gambar 21 Analisis Leverage Dimensi Hukum dan Kelembagaan Setelah Sinkolema

0 1 2 3 4 5

Keterasediaan peraturan tentang beternak lebah dan perkebunan kopi

Ketersediaan peraturan tentang adat (local wisdom)

Ada tokoh panutan yang disegani Intensitas peternak yang melanggar

hukum

Lembaga keuangan Kelompok tani peternak Kelembagaan input Kelembagaan output Manfaat kelompok tani yang

dirasakan anggota A ttr ib u te Leverage of Attributes 0 1 2 3 4 5 6 7

Ketersediaan peraturan tentang… Ada tokoh panutan yang disegani Intensitas peternak yang melanggar…

Lembaga keuangan Kelompok tani peternak Kelembagaan input Kelembagaan output Manfaat kelompok tani yang…

A ttr ib u te Leverage of Attributes

Nilai indek keberlanjutan dimensi sosial budaya (7318) sebelum dilaksanakan sinkolema sudah cukup tinggi namun tingkat pendidikan yang masih rendah (50% petani adalah lulusan SD) sehingga perlu mendapat perhatian yang serius njutan Tingat Pertama Peran serta masyarakat dan keluarga dalam kegiatan yang mendukung keberlanjutan budidaya/usaha lebah madu menunjukan angka yang tinggi Oleh karena itu dengan penerapan sinkolema nilai indek keberlanjutan meningkat menjadi 85,28 yang mengindikasikan tingkat keberlanjutan sangat baik Beberapa aspek sosial budaya yang berhasil diperbaiki adalah kesadaran tentang lingkungan dan peran serta masyarakat dalam melestarikan lingkungan

Berdasarkan analisis leverage dimensi sosial budaya, atribut yang paling sensitive terhadap keberlanjutan baik sebelum maupun sesudah penerapan sinkolema adalah tingkat pendidikan, jumlah anggota keluarga yang terlibat dalam budidaya lebah dan regulasi pemerintah setempat mengenai lebah madu (Gambar 23) Jadi upaya peningkatan keberlanjutan sinkolema dimensi sosial budaya dititik beratkan pada ketiga atribut tersebut

Gambar 22 Analisis Leverage Dimensi Sosial Budaya sebelum Sinkolema

0 2 4 6 8 10

Regulasi pemerintah setempat mengenai lebah madu Jumlah keluarga petani kopi Jumlah keluarga peternak lebah Pengetahuan terhadap lingkungan Tingkat pendidikan Frekuensi konflik Partisipasi keluarga dalam usaha

ternak madu dan kebun kopi Peran masyarakat dalam usaha ternak

lebah madu dan kebun kopi Alternatif usaha lain selain lebah madu

dan kebun kopi

A ttr ib u te Leverage of Attributes

Gambar 23 Analisis Leverage Dimensi Sosial Budaya Setelah Sinkolema

Pembahasan Umum

Pengembangan kawasan sinkolema di Kepahiang Bengkulu diindikasikan oleh ketersediaan lahan kopi yang sudah establish, lingkungan yang mendukung untuk ternak lebah madu dan SDM yang tersedia, walaupun mereka masih perlu ditingkatkan kemampuan (skills) dan pengetahuan (knowledge) tentang budidaya lebah Kabupaten Kephiang telah memiliki jaringan (network) dengan sektor hulu dan hilir dan memiliki kesiapan pranata (institusi) sehingga ini menjadikan suatu keuntungan kompetitif (competitive advantage) bila dibandingkan dengan daerah lain Mengingat pengembangan kawasan sinkolema menggunakan potensi lokal, maka konsep ini sangat mendukung pengembangan budaya sosial local (local social culture) Secara lebih luas, pengembangan kawasan sinkolema dapat mendukung pembangunan pertanian dalam arti luas dengan penerapan sistem yang terintegrasi Dengan demikian, pembangunan pertnian dapat dilakukan secara serasi, seimbang, dan efisien

Efisiensi dalam produksi merupakan ukuran perbandingan antara output dan input (Warsana 2007) Konsep efisiensi diperkenalkan oleh Michael Farrell

Dokumen terkait