BAB IV TEMUAN PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
3. Keterbacaan
Tingkat penilaian terakhir untuk mengetahui kualitas terjemahan adalah keterbacaan, dimana untuk mengukur serta mengetahui tingkat keterbacaan
kalimat tanya pada subtitle film Sherlock Holmes dibagikan kuesioner kepada
responden. Dimana pertanyaan tersebut menyangkut aspek readibility dan
legibility. Aspek readibility menyangkut pada perubahan-perubahan kualitatif dan kuantitatif dalam pengalihan informasi pada bahasa sumber agar dapat
dipahami oleh pemirsa, sedangkan legibility mengacu pada penampilan
(appearance) teks pada layar.
Jawaban yang didapat dari beberapa responden yang menyangkut pada
legibilty dalam subtitle, seluruh pemirsa mengungkapkan bahwa subtitle atau
teks terjemahan pada film Sherlock Holmes terutama fokus penelitian pada
Berterima 93% Kurang Berterima 7%
Keberterimaan
commit to user
kalimat tanya tidaklah terlalu panjang, dalam satu kali tayang maksimal terdapat dua baris yang berjumlah 15 kalimat tanya sedangkan sisanya 106 kalimat tanya muncul bersamaan dengan kalimat lainya. Menurut perhitungan yang telah dilakukan sebelumnya, jumlah karakter dari dua baris terdiri tidak lebih dari 40 karakter termasuk spasi dan tanda baca. Pada baris ke dua sesuai dengan aturan pada subtitle baris yang kedua lebih pendek dari pada baris yang pertama.
Untuk pengaturan posisi subtitle, semua respoden menyatakan bahwa
kemunculan subtitle di bawah tengah layar dengan huruf yang berukuran cukup
besar dan jelas, sehingga tidak mengganggu respoden saat memperhatikan gambar pada layar.
Berkaitan dengan penayangan subtitle pada film Sherlock Holmes,
durasi penayangan pada satu baris subtitle minimal tidak lebih dari tiga detik sedangkan dua baris subtitle tidak lebih dari lima detik. Untuk hasil sinkronisasi antara gambar dan suaranya, seluruh responden menjawab tidak ada permasalahan yang didapat terutama pada objek penelitian yaitu kalimat tanya.
Pertanyaan seputar readibility, didapat bahwa tidak ada responden
yang menyatakan bahwa terjemahan kalimat tanya pada subtitle film ini sulit.
Meskipun terdapat pula kalimat tanya yang sedikit kurang dimengerti oleh responden, hal ini dapat langsung tertutupi dengan jawaban dari pertanyaan tersebut, sehingga keseluruhan pesan yang disampaikan dapat dimengerti oleh
responden. Dengan adanya subtitle yang terdapat pada film Sherlock Holmes
commit to user
penyampaikan keseluruhan pesan dapat tersampaikan dengan baik, antara alur cerita satu dengan yang lain menjadi satu kesatuan yang utuh.
3.1. Tingkat Keterbacaan Tinggi
Berdasarkan penilaian dari sejumlah kuesioner didapat terjemahan yang rata-rata memiliki tingkat keterbacaan tinggi karena secara kata, istilah, teknis, frasa, kalusa dan kalimat terjemahanya dapat difahami dengan mudah oleh pemirsa. Dalam penelitian ini teridentifikasi 118 data (97,52 %) termasuk kategori keterbacaan tinggi antara lain dapat dicontohkan melalui kalimat dibawah tanya dibawah ini:
Tabel 4.21.Contoh Keterbacaan Tinggi
No Data Bsu Bsa
031 So that's, no to the opera then? Jadi kau tidak mau pergi ke
opera?
032 Care to come along? kamu mau ikut?
033 How can I help? apa aku bisa membantumu?
045 What she after, anyway? Apa yang dia inginkan?
Konteks situasi pada data 031: Diujarkan oleh Holmes kepada Watson sebagai wujud menyakinkan kembali untuk mengajak Watson.
Konteks situasi pada data 032: Sebuah ajakan dituturkan oleh Holmes pada temanya Watson agar ia mau menemaninya menemui Blackwood di penjara, akan tetapi ajakan tersebut akhirnya ditolak oleh Watson.
Konteks situasi pada data 033: Blackwood menuturkan kalimat tanya dengan fungsi pragmatis sebagai ungkapan sindiran pada Holmes yang mungkin masih merasa penasaran terhadap semua kejahatan yang telah ia buat.
commit to user
Konteks situasi pada data 045: Watson dengan nada menyindir mengujarkannya kepada Holmes tentang bantuan yang Irene inginkan dari Holmes.
Penggunaan teknik modulasi pada data 031, 032 dan 045 menjadikan hasil terjemahan pada Bsa lebih mudah untuk difahami dan dimengerti oleh pemirsanya. Penggunaan kata-kata yang tepat dan tidak terlalu panjang juga sudah disesuaikan dengan kaidah dan norma dalam Bsanya menjadikan terjemahannya memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi. Untuk kalimat tanya 033, penggunaan teknik transposisi dirasa sangat tepat sekali dikarenakan ujaran yang diutarakan Blackwood bukanlah pertanyaan yang sesungguhnya akan tetapi hanya sebagai sindiran semata. Blackwood tidak benar-benar ingin membantu Holmes, dia hanya berusaha memancing argumen Holmes tentang dirinya. Sehingga terjemahan terasa tepat dan tidak membingungkan, lain halnya bila diterjemahkan
menjadi “bagaimana aku bisa membantumu?” menjadikan terjemahannya terasa
kaku dan tidak mudah dimengerti oleh pemirsa yang menyaksikanya. Dapat disimpulkan bahwa penggunaan teknik modulasi dan transposisi untuk penilaian tingkat keterbacaan memberikan dampak positif bagi terjemahan yang dihasilkan, sehingga para penikmat film tidak mengalami kesulitan ataupun hambatan yang berarti dalam penerjemahan subtitle film tersebut.
3.2. Tingkat Keterbacaan Sedang
Dari hasil penelitian tentang keterbacaan kalimat tanya terdapat 3 data (2,47%) teridentifikasi pada terjemahan yang memiliki tingkat keterbacaan sedang. Hal ini disebabkan penggunaan padanan yang kurang lazim dalam
commit to user
Bahasa Indonesianya sehingga pemirsa kurang dapat memahami pesan yang disampaikan. Keterbacaan sedang dapat dilihat dari bagan di bawah ini:
Tabel 4.22.Contoh Keterbacaan Sedang
No Data Bsu Bsa
007 Hammer on nail, wasn't it? Palu dan paku bukan?
028 How did you lure them in? Bagaimana kau bisa memikat
masuk?
070 Do you have my cut? Apa kau membawa potonganku
dari pertarunganmu?
Seperti yang sudah dibahas dalam penilaian keakuratan dan keberterimaan, kedua data diatas juga mendapat penilaian dari rater untuk tingkat keterbacaan sedang. Dimana pada data 007 penggunaan teknik transposisi menghasilkan terjemahan yang tidak akurat dan kurang berterima. Begitu pula untuk penilaian keterbacaan, dirasa terjemahanya terasa kaku dan menyebabkan
distorsi makna dimana terjemahan Bsanya “palu dan paku, bukan?” membuat
pembaca menjadi bingung karena yang dimaksudkan adalah kegiatan yang dilakukanya bukan untuk menjelaskan memilih barang yaitu palu atau paku. Untuk data 028 dan 070 penggunaan teknik literal dan amplifikasi linguistik menjadikan terjemahan terasa membingungkan bagi pembacanya, karena dengan penambahan informasi yang kurang tepat membuat pesan menjadi ambigu atau
membingungkan. Padanan kata “lure” yang diterjemahkan secara literal menjadi kata “memikat” menghasilkan terjemahan yang kaku dan kurang sesuai karena kata memikat kurang tepat jika digunakan untuk binatang kunang-kunang. Kata
“my cut” disini diartikan “potongan dari pertarunganku”, yang sebenarnya
commit to user
judinya, dimana kertas tersebut dapat ditukarkan dengan sejumlah uang untuk membayar hutang kepada Watson untuk hilangnya cicin tunanganya. Penambahan informasi yang kurang tepat atau penggunaan teknik amplifikasi diatas menjadikan terjemahan memiliki tingkat keterbacaan sedang karena pembaca mengalami kebingungan dan bahasa terjemahanya tidak biasa dipergunakan dalam kaidah Bsanya. Ketiga data diatas mendapatkan penilaian yang sama dari rater sebesar 2,3 untuk tingkat keterbacaanya.
Gambar 4.3. Diagram Tingkat Keterbacaan Terjemahan