Q Sumber: Djijono (2002)
2.7 Keterbaruan (novelty) dari Penelitian
No Peneliti Judul Penelitian Hasil Penelitan
2 Miarni (2004)
Kajian Ekologi dan Ekonomi Rumput Laut Alami di Desa Rancapinang, Taman Nasional Ujung Kulon
Ekosistem rumput laut di muara sungai Ciguha sanpai Tanjung Sodong merupakan komunitas pendukung bagi kehidupan akuatik di laut yaitu sebagai sumber pakan bagi moluska, ikan herbivor dan penyu serta merupakan daerah perlindungan binatang akuatik. Penduduk hanya memetik rumput laut dari jenis Gellium sp, Gracilaria coronopifolia, Eucheuma serra, Gellidiella aserosa, dan Eucheuma edule
karena merupakan rumput laut yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi, karena tidak memahami teknologi pascapanen yang baik maka tanpa diolah rumput laut tersebut langsung dijual kepada pengumpul setelah dikeringkan dengan harga yang murah yaitu Rp. 3.500/kg. nilai ekonomi total ekosistem rumput laut di Desa Rancapinang, Taman Nasional Ujung Kulon adalah Rp. 56.763.420,64/tahun. Sumbangan nilai yang terbesar adalah manfaat langsung ekosistem rumput laut yaitu Rp. 53.222.257,14/tahun, disusul dengan manfaat keberadaan, manfaat pilihan dan manfaat tidak langsung.
2.7 Keterbaruan (novelty) dari Penelitian
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya yang terkait dengan permintaan, surplus, dan nilai ekonomi wisata adalah lokasi dan waktu penelitian. Selain itu aspek keterbaruan dari penelitian ini adalah berkaitan dengan konservasi. Terkait dengan kegiatan wisata alam di kawasan konservasi masih sedikit atau belum ada penelitian yang melihat kontribusi pengembangan wisata alam terhadap kegiatan konservasi di kawasan tersebut. Penelitian ini mencoba untuk mengkaji dan mengestimasi apakah pengembangan wisata alam di kawasan konservasi (Taman Nasional) dapat memberikan kontribusi terhadap biaya konservasi.
21 III. KERANGKA PEMIKIRAN
Objek Wisata Taman Nasional Ujung Kulon merupakan tempat wisata yang memanfaatkan potensi alam sebagai daya tarik utamanya. Objek wisata tersebut memiliki keindahan alam yang alami, kondisi udara yang segar, panorama pantai yang indah, dan hutan yang mengelilinginya menjadi nilai tambah tersendiri bagi tempat wisata ini. Kegiatan konservasi di TNUK membutuhkan biaya pelaksanaan. Adanya pengembangan wisata alam berbasis ekowisata diharapakan dapat berkontribusi terhadap kegiatan konservasi di TNUK, sehingga prospek pengelolaan dan pengembangan wisata alam di TNUK sangat potensial untuk dilakukan secara berkelanjutan.
Objek wisata di TNUK berhubungan erat dengan pengunjung sehingga sangat penting bagi pengelola untuk mengetahui bagaimana karakteristik pengunjung, faktor-faktor yang mempengaruhi permintaaan wisata, penilaian pengunjung terhadap objek wisata TNUK, surplus konsumen dan tiket optimum yang bersedia dibayar oleh pengunjung. Wisata yang dilakukan oleh pengunjung pada suatu daerah tujuan wisata pasti akan mengeluarkan sejumlah biaya tertentu yang disebut dengan biaya perjalanan. Biaya perjalanan ini terdiri atas biaya transportasi, dokumentasi, konsumsi, parkir, dan biaya lain disamping biaya tiket masuk ke daerah wisata tersebut.
Permintaan wisata selain dipengaruhi oleh biaya perjalanan juga dipengaruh oleh faktor sosial ekonomi pengunjung, seperti total pendapatan, tingkat pendidikan, umur, jarak dan waktu tempuh dari tempat tinggal menuju lokasi wisata, jumlah tanggungan, jenis kelamin, waktu di lokasi, dan lama mengetahui lokasi. Biaya perjalanan dan faktor-faktor sosial ekonomi
22 pengunjung yang telah diketahui, kemudian dilakukan analisis pada model regresi sehingga akan didapatkan fungsi permintaan wisata di TNUK. Jika permintaannya telah diketahui maka akan diketahui nilai ekonomi atau manfaat barang tersebut melalui perhitungan surplus konsumen.
Harga tiket masuk kawasan yang terlalu rendah dapat mengarah kepada open acces, dimana jumlah pengunjung terus meningkat yang dalam jangka panjang dikhawatirkan dapat mengakibatkan over carrying capacity (Ress, 1996). Penentuan tarif merupakan salah satu upaya dalam membatasi jumlah kunjungan untuk menghindari terjadinya over carrying capacity dalam jangka panjang. Adapun pengeluaran yang dibayarkan pengunjung tidak selalu sama dengan keinginan membayar yang sebenarnya ingin dibayarkan oleh pengunjung sesuai dengan konsep willingness to pay (WTP).
Penetapan tiket optimum berdasarkan WTP atau berdasarkan surplus konsumen dapat pula memberikan kontribusi berupa dana konservasi yang diperlukan untuk kegiatan konservasi di kawasan tersebut (Vanhove, 2005). Besarnya biaya pengembangan wisata dan kegiatan konservasi perlu diketahui, yaitu melalui pendekatan alokasi dana untuk kegiatan pengembangan wisata dan kegiatan konservasi yang diberikan pemerintah melalui dana APBN (Statistik BTNUK, 2011). Dana tersebut dibandingkan dengan estimasi pendapatan dari tiket masuk kawasan wisata untuk mengetahui share/kontribusi terhadap biaya pengembangan wisata dan kegiatan konservasi di TNUK.
23 Pengelola objek wisata TNUK dalam rangka pembangunan ekowisata juga memiliki rencana pengembangan ekowisata yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan dari objek wisata tersebut. Rencana pengembangan wisata oleh pengelola akan lebih bijak jika dapat disinkronkan dengan persepsi dan harapan pengunjung mengenai objek wisata tersebut. Sehingga pengembangan wisata yang akan dilakukan akan dapat bermanfaat baik bagi pengelola, pengunjung, bahkan masyarakat sekitar objek wisata. Hasil pengkajian ini diharapkan dapat memberikan informasi tambahan dalam penetapan kebijakan oleh pihak-pihak terkait. Adapun alur kerangka berfikir ditunjukkan pada Gambar 4.
24 Keterangan:
Kegiatan Wisata Alam Mendukung Kegiatan Konservasi di TNUK Gambar 4. Kerangka Alur Berpikir
Potensi Nilai Ekonomi wisata TNUK Pengunjung Fungsi permintaan wisata TNUK Analisis Regresi Linier Berganda Penerimaan Tiket Masuk Kawasan TNUK Kontribusi Terhadap Konservasi Persepsi pengunjung
terhadap objek wisata TNUK
Peranan Kegiatan Wisata di TNUK terhadap Kegiatan Konservasi
Analisis Deskriptif Surplus Konsumen WTP pengunjung terhadap harga tiket masuk TNUK Harga Tiket Optimum Harapan perbaikan fasilitas objek wisata yang diinginkan pengunjung Valuasi Ekonomi
Travel Cost Method
Nilai Ekonomi wisata TNUK Dana Pengembangan Wisata dan Konservasi Dari Pemerintah Taman Nasional Ujung Kulon
Kegiatan Wisata Alam di Zona Pemanfaatan
Fungsi Konservasi
Penerimaan Pengelola
25 IV. METODE PENELITIAN