BAB II. LANDASAN TEORI
B. Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan di Budaya Tionghoa Totok
paternal involvement atau father involvement.Lamb (2010) menjelaskan bahwa
keterlibatan ayah dalam pengasuhan merupakan keikutsertaan positif ayah dalam kegiatan yang berupa interaksi langsung dengan anak-anaknya, memberikan kehangatan, melakukan pemantauan dan kontrol terhadap aktivitas anak, serta
bertanggungjawab terhadap keperluan dan kebutuhan anak.Keterlibatan ayah dalam pengasuhan secara umum dipercaya mampu memberikan banyak dampak positif dengan memberikan warna tersendiri dalam pembentukan karakter anak, perkembangan kognitif, emosional dan well-being, perkembangan sosial dan kesehatan fisik (Allen & Daly, 2007).
Konsep keterlibatan ayah yang paling berpengaruh dikemukakan oleh Lamb dan kolega-koleganya (Lamb, 1987; Lamb, Pleck, & Levine, 1985, dalam Parke, 2000) yang mengidentifikasikan tiga komponen utama dari keterlibatan ayah, yaitu interaksi (interaction), ketersediaan (availability) dan tanggung jawab (responsibility). Konsep interaksi (interaction) mengacu pada kontak langsung antara ayah dan anak dengan cara mengasuh dan berbagi aktivitas. Sedangkan ketersediaan (availability) merupakan konsep terkait ketersediaan potensi ayah untuk melakukan interaksi, berdasarkan kehadiran atau apakah ayah dapat diakses atau tidak oleh anak, baik interaksi terjadi secara langsung atau tidak.Terakhir, konsep tanggung jawab (responsibility) mengacu pada peran yang ayah ambil dalam memastikan bahwa anak sudah dirawat dengan baik dan mengatur kebutuhan-kebutuhan yang dibutuhkan oleh anak (Lamb, Pleck, Charnov & Levine, 1987, dalam Parke, 2000).
Pleck (dalam Lamb, 2010) kemudian menawarkan versi revisi teori keterlibatan ayah dengan mempertimbangkan perkembangan penelitian terkait keterlibatan ayah seiring berjalannya waktu. Pleck (dalam Lamb, 2010) membagi keterlibatan ayah menjadi 5 komponen yang terdiri dari:
1. Positive Engagement Activities
Aktivitas keterlibatan secara positif (positive engagement activities)
merupakan interaksi yang lebih intensif dengan anak dan cenderung mendukung perkembangan anak.Positive engagement activities merupakan pengembangan dari komponen interaction yang digagas oleh Lamb, Pleck & Levine (1985, dalam Parke , 2000) dan kemudian di tahun 1987 direvisi Lamb menjadi engagement. Positive engagement activities merupakan komponen yang paling banyak diteliti selama ini dibandingkan komponen-komponen lainnya. Apabila komponen interaction pada awalnya diukur berdasarkan jumlah waktu yang dihabiskan bersama anak (tanpa memandang aktivitas apa yang dilakukan bersama), positive engagement activities lebih berfokus pada waktu berkualitas yang dihabiskan bersama anak sembari terlibat dalam aktivitas-aktivitas yang dapat mendukung perkembangan anak, misalnya bermain bersama, membacakan buku cerita, olahraga bersama, menonton TV, berdiskusi bersama dan banyak aktivitas lainnya.
2. Warmth-Responsiveness
Kehangatan dan responsivitas (warmth-responsiveness) mengacu pada perilaku yang menunjukkan kehangatan dan responsif pada anak, misalnya memeluk, menunjukkan afeksi, memberikan apresiasi atas apa yang telah dilakukan oleh anak, dan memberikan dukungan emosional kepada anak.
3. Control
Kontrol (control) berfokus pada peran ayah untuk mengawasi anak, misal keterlibatan dalam pembuatan keputusan terkait anak, mengetahui keberadaan dan kondisi anak, membuat batasan-batasan untuk anak, dan pendisiplinan. 4. Indirect care
Indirect care mengacu pada aktivitas yang dilakukan untuk anak dan bukan
terlibat secara langsung dalam aktivitas bersama dengan anak (dukungan finansial tidak termasuk). Jadi keterlibatan ayah dalam komponen ini dilihat ketika ayah terlibat secara tidak langsung dalam pengasuhan anak, misalnyamemastikan bahwa kebutuhan anak terpenuhi, serta mengatur dan menyediakan sumber daya yang dibutuhkan oleh anak. Indirect care dan
process responsibility merupakan pengembangan komponen tanggung jawab
(responsibility) dari gagasan Lamb, Pleck & Levine (1985, dalam Parke, 2000) terkait keterlibatan ayah. Indirect care kemudian dibagi lagi menjadi 2 jenis, yaitu:
a. Material Indirect Care
Material indirect care terdiri dari aktivitas membeli dan mengatur
kebutuhan dan keperluan anak, misalnya memilih tempat kursus, membuat asuransi untuk anak, membuat rencana untuk pendidikan anak, dan lain sebagainya.
b. Social Indirect Care
Social indirect care terdiri dari aktivitas mendukung koneksi atau jaringan
relasi anak dengan teman sebayanya, terlibat dalam perkumpulan orang tua dalam komunitas yang diikuti anak, membangun koneksi dalam komunitas anak, dan lain sebagainya.
5. Process Responsibility
Process responsibility meliputiperilaku mengambil inisiatif dan memonitori
apa yang dibutuhkan oleh anak. Coltrane (1996, dalam Pleck, 2010) mengilustrasikan bahwa dalam sebagian besar keluarga, ayah cenderung kurang menyadari apa yang perlu dilakukan, dan menunggu untuk diminta melakukan berbagai hal beserta dengan instruksi yang jelas untuk menyelesaikan tugas-tugas tersebut. Hal ini kemudian membuat kontribusi ayah dalam pengasuhan anak menjadi hanya sebatas “membantu tugas istri”. Maka, process responsibility lebih mengacu kemampuan ayah untuk melihat atau menyadari kebutuhan anak, dan bukan hanya sekedar memenuhi kebutuhan anak. Selain itu, komponen ini juga meliputi peran ayah dalam mengawasi terpenuhinya kebutuhan anak akan keempat komponen keterlibatan ayah sebelumnya, terlepas dari terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan tersebut oleh sang ayah itu sendiri. Jadi, komponen ini dapat lebih terlihat melalui sudut pandang pihak lain, misal istri/ibu dan anak yang mengalami sendiri, terkait apakah sudah terpenuhi atau belum keempat komponen lainnya dan bukan semata hanya berdasarkan sudut pandang ayah saja.
Dalam tradisi keluarga Tionghoa, terutama Tionghoa Totok yang masih menjalankan budaya berorientasi pada budaya Cina, terdapat pepatah Cina lama
yang berbunyi “Nan zhu wai, nü zhu nei” yang berarti seorang laki-laki bertugas untuk mengurus permasalahan di luar rumah, sedangkan perempuan bertugas mengurus permasalahan yang ada di dalam rumah (Shek, 2006, dalam Xu, 2012). Permasalahan di luar rumah di sini mengacu pada hal-hal yang berkaitan dengan lingkungan masyarakat dan sebagai pencari nafkah. Sedangkan permasalahan yang ada di dalam rumah mengacu pada hal-hal yang berkaitan dengan urusan rumah tangga seperti pekerjaan rumah dan pengasuhan anak.
Namun, terlepas dari hal itu, ayah juga memiliki peran penting dalam hidup anak di budaya Tionghoa, khususnya terhadap anak laki-laki. Terdapat ungkapan “Zi bu jiao, fu zhi guo” yang berarti “kesalahan seorang ayah apabila anak tidak diajari dengan baik” (Xu, 2012). Ungkapan tersebut menekankan pada otoritas atau kuasa ayah dalam keluarga dan tugas mereka terhadap anak-anak mereka, terutama dalam mendidik anak laki-laki karena anak laki-lakilah yang kemudian dapat meneruskan garis keturunan keluarga (marga / she) dan bukan anak perempuan. Maka dari itu relasi antara ayah dan anak laki-laki dianggap menjadi relasi yang paling penting dalam budaya Tionghoa, karena tugas ayah adalah membesarkan anak laki-lakinya sehingga suatu hari anak laki-lakinya dapat mengambil alih kekuatan dan tanggung jawab sang ayah. Anak perempuan yang akan menikah suatu hari nanti, akan menjadi bagian darikeluarga lain sehingga menjadi lebih tidak penting dibandingkan anak laki-laki dalam budaya Tionghoa (Lynn, 1974, dalam Xu, 2012).
Padahal, kurangnya keterlibatan ayah pada anak perempuan dapat berdampak negatif bagi perkembangan anak perempuan di kemudian hari. Assa
(2016) dalam penelitiannya juga menemukan bahwa remaja perempuan perokok di Indonesia menilai keterlibatan ayah cukup rendah dalam hidup mereka sehingga mereka menjadi lebih mudah dipengaruhi oleh lingkungan sekitar untuk terlibat dalam perilaku-perilaku menyimpang seperti merokok. Hal ini disebabkan kurangnya kontrol yang tepat sehingga mereka cenderung lebih bebas dalam pergaulan dan melakukan tindakan-tindakan yang membuat mereka nyaman. Selain itu, ketidakhadiran ayah pada pengasuhan anak perempuan juga dapat menyebabkan relasi yang bermasalah dengan lawan jenis di kemudian hari, munculnya gejala-gejala depresif, serta tingkat kepercayaan diri (self-esteem) yang rendah. Apabila anak perempuan dapat tumbuh dalam lingkungan dimana ia merasa dekat dengan ayahnya pada masa remaja, maka kecederungan mereka untuk memiliki relasi romantis yang sehat dan memuaskan akan lebih besar (Flouri & Buchanan, 2004). Keterlibatan ayah yang kurang juga dapat mengarah pada kecenderungan untuk memiliki relasi romantis yang bermasalah dan tidak stabil di kemudian hari (Harvey & Fine, 2010, dalam Zia & Ali, 2018).
Sebaliknya, keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak perempuan dapat memberikan manfaat-manfaat positif, diantaranya anak perempuan akan tumbuh menjadi sosok kompeten dalam lingkungan sosial, lebih aman, dapat menyuarakan pendapatnya, dan dapat memberikan potensi terbaiknya bagi lingkungan sekitarnya. Berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya, diketahui bahwa ayah memiliki peranan yang penting dalam perkembangan anak yang baik, khususnya keterlibatan ayah diketahui memiliki serangkaian dampak positif bagi perkembangan anak (Flouri, 2005; Caberra et al., 2007; Sarkadi et al., 2008,
dalam Lau, 2016). Anak dengan keterlibatan ayah yang tinggi menunjukkan kompetensi kognitif dan pencapaian akademik yang lebih baik (Flouri & Buchanan, 2004; McBride et al., 2005, dalam Lau, 2016), self-esteem lebih tinggi (Deutsch et al., 2001, dalam Lau, 2016), lebih sedikit permasalahan perilaku (Flouri & Buchanan, 2003, dalam Lau, 2016) dan kompetensi sosial yang lebih baik (Parke et al., 2002, dalam Lau, 2016). Berdasarkan penelitian Marsiglio et al. (2000, dalam Lau, 2016), ditemukan bahwa manfaat keterlibatan ayah dalam pengasuhan tetaplah signifikan bahkan setelah variabel keterlibatan ibu dalam pengasuhan dikontrol.
Pentingnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan dalam kaitannya dengan perkembangan remaja perempuan dan juga latar budaya Tionghoa terkait posisi perempuan yang lebih inferior dapat menimbulkan dinamika tersendiri bagi perkembangan remaja perempuan Tionghoa. Su, Kubricht dan Miller (2017) menyatakan bahwa keterlibatan ayah lebih berpengaruh pada perilaku internalisasi pada anak perempuan dibandingkan anak laki-laki sehingga remaja perempuan akan cenderung lebih menunjukkan kesulitan secara psikologis dan emosional.
Terlepas dari tradisi dan nilai-nilai Konfusianisme yang banyak diterapkan dalam banyak aspek kehidupan orang Tionghoa Totok, termasuk dalam hal pengasuhan anak, keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak di budaya Tionghoa Totok masih dapat dikaitkan dengan konsep keterlibatan ayah secara umum. Chuang (2018) dalam penelitiannya terkait keterlibatan ayah pada keluarga Tionghoa di Kanada dan Cina daratan masih menggunakan komponen keterlibatan ayah umumnya, yaitu engagement dan accessibility. Selain itu,
penelitian Lau (2016) melihat keterlibatan ayah berdasarkan beberapa bagian yaitu, kedekatan emosional, pengawasan, waktu yang dihabiskan untuk terlibat secara langsung dengan anak, kehangatan, komunikasi serta bimbingan dan pendampingan pada anak. Berdasarkan penelitian-penelitian tersebut, dapat dilihat bahwa penelitian-penelitian sebelumnya terkait keterlibatan ayah dalam pengasuhan pada keluarga Tionghoa umumnya masih banyak mengacu pada teori dasar keterlibatan ayah yang sering digunakan di latar budaya lain, misal di negara-negara Barat. Hal yang membedakan dengan keterlibatan ayah pada budaya Barat adalah nilai-nilai budaya yang dipegang dalam keluarga Tionghoa Totok karena budaya dan nilai-nilai yang dianut, serta bagaimana cara dan budaya tempat ayah dibesarkan juga dapat mempengaruhi keterlibatan ayah dalam suatu keluarga (Turiano, 2001, dalam Carrillo et al., 2016).