• Tidak ada hasil yang ditemukan

Latar Belakang Informan dan Dinamika Proses Wawancara

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Latar Belakang Informan dan Dinamika Proses Wawancara

studi S1 di Yogyakarta. P1 lahir di Jakarta dan pindah ke kampung halaman ayahnya yaitu Jambi ketika berusia kurang lebih 3 tahun. P1 merupakan anak pertama dari tiga bersaudara dan memiliki satu adik laki-laki yang terpaut usia 4

tahun dan satu adik perempuan yang terpaut usia 10 tahun. Kedua orang tua P1 berusia 47 tahun saat ini dan berprofesi sebagai wirausahawan.

Kedua orang tua P1 masih merupakan keturunan Tionghoa Totok dimana kakek P1 bermigrasi ke Indonesia ketika beliau berusia kurang lebih 6-8 tahun. Ayah P1 merupakan keturunan suku Tionghoa Tiociu sedangkan Ibu P1 merupakan keturunan suku Tionghoa Khek/Hakka. Adanya perbedaan suku Tionghoa antara kedua orang tua P1 membuat keluarga P1 berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Namun, P1 mengaku masih dapat memahami beberapa kosakata dalam kedua bahasa tersebut. P1 mengaku keluarganya, terutama ayahnya, termasuk masih menjalankan praktek-praktek budaya dan tradisi Tionghoa dengan taat. Ayah P1 cukup merasa bangga sebagai keturunan Tionghoa dan masih menanamkan kepercayaan-kepercayaan serta ajaran budaya Tionghoa kepada anak-anaknya, misalnya mengajarkan cara bersembahyang kepada leluhur, tradisi sembahyang kubur, menceritakan sejarah Thi Kong (Tian Gong) yang merupakan sebutan untuk Tuhan Yang Maha Esa dalam budaya Tionghoa, Lao Cun (Tai Shang Lao Jun) yang merupakan dewa tertinggi dari semua dewa-dewi yang ada pada agama Buddha, dan lainnya. Beberapa tradisi kecil seperti tidak boleh potong rambut dan memegang sapu pada hari raya Imlek juga masih dijalankan di keluarga P1. Ayah P1 juga cukup mempercayai Feng Shui dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari, seperti tidak boleh memakai baju warna hitam karena memberikan aura gelap, tidak boleh berpotongan rambut dengan poni atau menutupi dahi, mengikuti tanggal tertentu untuk memotong rambut, melihat keberuntungan hari

ketika akan bepergian dan masih banyak lainnya. Selain itu, ayah P1 juga mengunjungi orang pintar untuk menanyakan jurusan yang sesuai untuk P1.

Ayah P1 merupakan anak ke-enam dan anak laki-laki ke-lima dalam keluarganya. Saat ini, kakek P1 tinggal bersama dengan keluarga P1 dan banyak dari tradisi keluarga yang dijalankan oleh ayah P1 selaku anak laki-laki yang tinggal bersama dengan orang tua (kakek P1), seperti sembahyang kubur dan lainnya. Namun seiring berjalannya waktu, ayah P1 mulai tertarik dan mempelajari ajaran agama Buddha dan sering mendengarkan ceramah-ceramah terkait agama Buddha. Hal ini kemudian membuat praktek-praktek Feng Shui dan pantangan yang dijalankan oleh P1 tidak lagi sekuat ketika P1 masih kecil. Meskipun demikian, ayah P1 tetap menganut agama Kong Hu Chu dan tidak memandang dirinya sebagai seorang Buddhis. Ayah P1 juga tetap menjalankan agama Kong Hu Chu seperti bersembahyang setiap hari pertama dan hari ke lima belas penanggalan Cina dan terkadang sembahyang pada hari Kamis.

Dalam interaksinya dengan anggota keluarga, P1 merasa memiliki relasi yang paling dekat dengan ayahnya namun P1 pernah mengalami kebingungan karena perlakuan ayahnya yang hangat-dingin. P1 mengaku sempat berkutat dengan dilema antara perasaan disayangi atau tidak disayangi karena perlakuan ayahnya tersebut namun sudah mulai bisa menerima hal tersebut dan berusaha memahami alasan ayahnya berperilaku seperti itu. P1 menyadari bahwa ada saatnya ayahnya mengalami masa yang cukup sulit dan juga dikarenakan lingkungan keluarga ayahnya yang tidak sempurna. Ayah P1 pernah mengalami beberapa permasalahan yang cukup berat sehingga mempengaruhi cara ayah P1

dalam memperlakukan anak-anaknya dan berperan sebagai seorang ayah. Secara umum, meskipun seringkali mendapatkan perlakuan yang tidak konsisten dari sang ayah, P1 merasa tetap memiliki keterikatan yang kuat dengan sang ayah dan memandang ayahnya sebagai seorang role model dalam hidupnya.

Wawancara dengan P1 dilakukan sebanyak satu kali, yaitu pada tanggal 8 Mei 2019 yang sudah mencakup penyampaian informed consent, wawancara latar belakang dan wawancara terkait isi penelitian. Wawancara tersebut dilakukan di Lantai 2 Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma. P1 mengenakan kaos berwarna biru dongker dengan rambut digerai, celana jeans dan sandal. Wawancara dilakukan selama kurang lebih 1 jam 30 menit dan berjalan cukup kondusif. Ketika wawancara berlangsung, terdapat acara dengan volume musik yang cukup kencang di kejauhan sehingga peneliti harus lebih mendekatkan alat perekam ke arah P1. Meskipun demikian, P1 tetap dapat bercerita dengan volume suara yang cukup jelas sehingga proses wawancara dapat berjalan dengan baik. Secara keseluruhan, P1 cukup tenang dalam menyampaikan ceritanya dan beberapa kali tersenyum dan tertawa kecil sambil menyampaikan ceritanya. Namun, ketika menceritakan pengalaman masa kecilnya baik dengan ayah atau ibunya, volume suara dan kecepatan bicara P1 menjadi lebih pelan dan beberapa kali terlihat menundukkan kepala.

Informan kedua atau P2 saat ini berusia 22 tahun dan sedang menempuh studi S1 di Yogyakarta. P2 lahir di Medan dan pindah ke Pekanbaru saat berusia 5 tahun. P2 merupakan anak terakhir dari dua bersaudara dan memiliki satu kakak laki-laki yang terpaut usia 2 tahun. Kedua orang tua P2 berusia 65 tahun saat ini.

Ayah P2 berprofesi sebagai penerjemah dari Bahasa Mandarin ke Bahasa Indonesia, dan sebaliknya sejak tahun 2016. Sebelumnya saat P2 masih kecil, ayah P2 seringkali berganti-ganti pekerjaan dan bekerja lepas (freelance) dalam banyak bidang. Sedangkan Ibu P2 saat ini berprofesi sebagai Ibu Rumah Tangga dan pernah berprofesi sebagai penjahit sewaktu di Pekanbaru. Saat ini P2 dan keluarganya tinggal dan menetap di Yogyakarta. Kedua orangtua P2 menyusul P2 dan kakak laki-lakinya dan menetap di Yogyakarta sejak akhir tahun 2016.

Kedua orang tua P2 masih merupakan keturunan Tionghoa Totok dimana kakek dan nenek P2 yang melakukan migrasi ke Indonesia. Ayah P2 merupakan keturunan suku Tionghoa Khek/Hakka sedangkan Ibu P2 merupakan keturunan suku Tionghoa Hainan. Adanya perbedaan suku Tionghoa antara kedua orang tua P2 membuat keluarga P2 berkomunikasi menggunakan bahasa Mandarin dalam kehidupan sehari-hari. Namun, kedua orangtua P2 masih fasih berbahasa Hokkian Pulau (Hokkian Medan) karena lahir dan besar di Medan. Selain itu, ayah P2 juga masih menguasai bahasa Khek, dan ibu P2 masih menguasai bahasa Hainan.

P2 mengaku keluarganya, terutama ayahnya, termasuk masih menjalankan praktek-praktek budaya dan tradisi Tionghoa dengan taat. Ayah P2 masih menanamkan kepercayaan-kepercayaan serta ajaran budaya Tionghoa kepada anak-anaknya, misalnya mengajarkan cara bersembahyang kepada leluhur, membakar kim cua atau uang emas kertas, merayakan Peh Cun (perayaan makan bakcang), Tiong Ciu (perayaan makan kue bulan), tradisi Cheng Beng (sembahyang kubur), Qi Yue Ban (sembahyang arwah), dan tradisi-tradisi lainnya. Beberapa tradisi kecil juga masih dijalankan di keluarga P2 seperti tidak boleh

potong rambut, memegang sapu atau bekerja dan menyalakan api pada hari raya Imlek, dan juga gas dan api kompor di dapur tidak boleh berhenti dalam waktu yang lama karena bisa memutus rejeki keluarga tersebut. Selain itu, ayah P2 juga masih mempercayai Feng Shui dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari seperti ketika akan mengontrak rumah, ayah P2 terlebih dulu melakukan pengecekan terkait Feng Shui rumah tersebut dari segi tata letak dan lainnya.

P2 mengaku penanaman pengetahuan tentang tradisi-tradisi tersebut banyak dilakukan oleh ayahnya terutama ketika mereka masih di Pekanbaru. P2 dapat mengobservasi langsung dan ikut mempraktekkan tradisi-tradisi tersebut ketika orang tuanya menjalankan tradisi tersebut. Namun, semenjak pindah dan menetap di Yogyakarta, mereka tidak lagi terlalu aktif menjalankan tradisi-tradisi tersebut dan hanya bersembahyang di rumah saja dikarenakan kesulitan mencari tempat atau klenteng yang selalu melakukan tradisi-tradisi tersebut tiap tahunnya.

Dalam hal berinteraksi denganbudayalain, P2 mengaku ayahnya cukup membatasi diri dan kurang terbuka ketika berinteraksi dengan orang non-Tionghoa. Ayah P2 lebih banyak berinteraksi dengan orang-orang Tionghoa ketika masih berada di Pekanbaru. Kemudian ketika menjalankan pekerjaannya sebagai penerjemah, ayah P2 juga lebih banyak berinteraksi dengan klien yang merupakan orang Cina. Ayah P2 lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sejak pindah ke Yogyakarta dikarenakan kurang terbuka dengan orang-orang non-Tionghoa.

Ayah P2 merupakan anak ke-empat dari enam bersaudara dan merupakan anak laki-laki ke-empat pula. Kedua kakek dan nenek P2 dari kedua belah pihak

orang tua sudah meninggal dan keluarga besar P2 juga tinggal di kota yang berbeda-beda sehingga tidak pernah berinteraksi dengan keluarga besar lagi. Dalam interaksinya dalam lingkup keluarga kecilnya, P2 merasa paling dekat dengan Ibunya. P2 memandang ayahnya sebagai sosok ayah yang tegas dan keras dalam keluarga dan seringkali menyampaikan sesuatu dengan suara yang keras. Saat P2 kecil, ia mengaku lebih dekat dengan ayahnya dibanding ibunya. Namun, seiring bertambahnya usia, P2 merasa lebih nyaman untuk bercerita banyak hal dengan ibunya. P2 memandang ayahnya sebagai sosok yang berperan sebagai pencari nafkah dan menanamkan nilai-nilai pada anak-anaknya. Selain itu, ayah P2 juga masih memiliki pandangan yang tradisional bahwa anak perempuan harus mengurus pekerjaan rumah (bersih-bersih, masak, dan lainnya) serta merawat orang tua di rumah. Hal ini sedikit banyak membuat P2 merasa kakak laki-lakinya lebih diutamakan dalam keluarganya karena lebih banyak diberi kelonggaran dan diutamakan dalam banyak hal.

Wawancara dengan P2 dilakukan sebanyak satu kali, yaitu pada tanggal 11 Mei 2019 yang sudah mencakup penyampaian informed consent, wawancara latar belakang dan wawancara terkait isi penelitian. Wawancara tersebut dilakukan di Ciao Gelato, Gejayan. P2 mengenakan kemeja hitam bermotif bunga-bunga kecil, celana jeans dan juga sepatu. Pada saat wawancara dilakukan, suasana cafe cukup kondusif dan sepi sehingga wawancara dapat berjalan dengan lancar. Wawancara dilakukan selama kurang lebih 1 jam 18 menit. Pada awal wawancara, P2 masih terlihat ragu dalam bercerita. Namun, seiring berjalannya proses wawancara, P2 menjadi lebih lancar dalam bercerita dan terlihat lebih ekspresif dalam

menjelaskan kejadian-kejadian serta perasaan yang ia rasakan terkait kejadian tersebut. P2 bercerita dengan semangat dan dengan intonasi dan gestur yang cukup banyak untuk menunjukkan kekecewaan atau kekesalannya.

Informan ketiga atau P3 saat ini berusia 20 tahun dan sedang menempuh studi S1 di Yogyakarta. P3 lahir dan besar di kota Bandar Lampung. P3 merupakan anak terakhir dari dua bersaudara dan memiliki satu kakak laki-laki yang terpaut usia 1 tahun. Ayah P3 berusia 67 tahun dan ibu P3 berusia 61 tahun saat ini. Ayah P3 berprofesi memiliki toko emas dan ibu P3 berprofesi sebagai Ibu Rumah Tangga sekaligus membantu ayah P3 di toko emas tersebut.

Kedua orang tua P3 masih merupakan keturunan Tionghoa Totok dimana kakek dan nenek P3 bermigrasi ke Indonesia, khususnya kota Palembang ketika mengalami perang di Cina. Kakek dan nenek P3 hanya dapat berkomunikasi sehari-hari menggunakan bahasa Indonesia, namun tidak dapat membaca atau menulis dalam bahasa Indonesia. Ayah P3 merupakan keturunan suku Tionghoa Konghu sedangkan ibu P3 merupakan keturunan suku Tionghoa Hokkian. Adanya perbedaan suku Tionghoa antara kedua orang tua P3 membuat keluarga P3 berkomunikasi menggunakan bahasa Mandarin dalam kehidupan sehari-hari. Ayah P3 masih menguasai bahasa Konghu, dan begitu pula ibu P3 juga masih menguasai bahasa Hokkian.

P3 mengaku keluarganya, terutama ayahnya, termasuk masih menjalankan praktek-praktek budaya dan tradisi Tionghoa dengan taat. Ayah P3 masih beragama Buddha sedangkan ibu P3 serta P3 dan kakak laki-lakinya sudah beragama Katolik. Namun dalam hal tradisi Tionghoa, P3 dan keluarganya masih

menjalankan kepercayaan-kepercayaan serta ajaran budaya Tionghoa. P3 juga masih diajarkan beberapa tradisi Tionghoa misalnya cara bersembahyang kepada leluhur, merayakan Peh Cun (perayaan makan bakcang), Sin Cia (Imlek), tradisi Cheng Beng (sembahyang kubur), perayaan makan ronde, dan tradisi-tradisi lainnya. Beberapa tradisi kecil dan pantangan-pantangan lainnya seperti tidak boleh potong rambut dan memegang sapu pada hari raya Imlek, serta pantangan-pantangan ketika sedang berduka atau ada kerabat dekat yang meninggal juga masih dijalankan di keluarga P3. P3 mengaku kedua orang tuanya tidak memberikan paksaan kepada anak-anaknya ketika mengajarkan tradisi-tradisi Tionghoa tersebut sehingga P3 dan kakaknya hanya sebatas tahu terkait tradisi-tradisi tersebut. Namun, orang tua P3, khususnya ibu P3 juga masih terus mengingatkan P3 agar tidak meninggalkan tradisi dan adat istiadat Tionghoa yang mereka miliki.

Ayah P3 merupakan anak kedua dari tujuh bersaudara dan merupakan anak laki-laki ke-dua. Kedua kakek dan nenek P3 dari pihak ayah saat ini tinggal bersama tante P3. Dalam interaksinya dalam lingkup keluarga kecilnya, P3 merasa memiliki relasi yang dekat dengan semua anggota keluarganya. P3 khususnya memandang ayahnya sebagai pencari nafkah utama dan juga sebagai sosok ayah yang tidak banyak bicara dan terlihat cuek di permukaan. P3 seringkali berdiskusi terkait hal-hal yang berat dengan ibu ataupun dengan kakak laki-lakinya, sedangkan P3 lebih banyak berinteraksi dengan ayahnya dalam hal-hal yang menyenangkan. Meskipun P3 memiliki pandangan bahwa anak laki-laki lebih diutamakan dalam keluarga Tionghoa karena kelak akan menjadi penerus

keluarga, P3 tidak merasa diperlakukan berbeda dan bahkan merasa memiliki relasi yang lebih dekat dengan ayahnya dibanding kakak laki-lakinya.

Wawancara dengan P3 dilakukan sebanyak satu kali, yaitu pada tanggal 16 Mei 2019 yang sudah mencakup penyampaian informed consent, wawancara latar belakang dan wawancara terkait isi penelitian. Wawancara tersebut dilakukan di Laboratorium Farmasi, Universitas Sanata Dharma ketika P3 sedang menunggui alat ekperimen untuk tugasnya. P3 mengenakan jas laboratorium berwarna putih dengan rambut digerai, celana jeans dan juga sepatu. Wawancara dilakukan selama kurang lebih 2 jam dan berjalan cukup kondusif. Meskipun P3 harus mengganti botol pada peralatan eksperimennya, ia tetap dapat fokus pada pembicaraan dalam proses wawancara dan dapat menjawab pertanyaan yang diajukan dengan baik. P3 juga lebih banyak tersenyum sepanjang wawancara berlangsung dan beberapa kali terlihat cukup bersemangat ketika menceritakan hal-hal yang menurutnya lucu dalam interaksinya dengan keluarga.

Dokumen terkait