3. Intensitas Penghayatan
1.10 Keterlibatan Emosi Pembaca
Hasil wawancara informan mengenai keterlibatan emosi ketika membaca karya sastra menunjukkan 6 informan mengatakan terbawa suasana ketika membaca, 3 informan mengatakan tidak bisa merasakan keterlibatan emosi ketika membaca, dan 1 informan tidak berpendapat tentang keterlibatan emosi ini. Berikut tanggapan-tanggapan informan mengenai keterlibatan emosi ketika membaca karya sastra Serat Kresna
Kembang Waosan Pakem:
Kutipan tanggapan Purwanti tentang kererlibatan emosi:
Dan karya satra ini melibatkan emosi pembaca yaitu dengan adanya diksi yang dirangkum pengarang dalam naskah yang begitu elok dan bermakna sesuai dengan horizon harapan pembaca dengan makna yang mudah dipahami karena kata-katanya memang arkais tetapi sudah lazim didunakan dalam karya sastra jawa. (Purwanti, 15 April 2016)
Menurut Purwanti karya sastra ini melibatkan emosi pembaca degan diksi yang digunakan pengarang melalui kata-kata arkais (bahasa sastra) yang sudah lazim digunakan dalam karya sastra seperti ini. Berbeda dengan sebelumya 3 informan lain Siti Amanah, Nila Purwani, dan Binti Nur K tidak merasakan adanya keterlibatan emosi ketika membaca.
Tanggapan Siti Amanah:
109
Singkat sekali yang dilontarkan oleh Siti Amanah bahwa informan sama sekali tidak merasakan keterlibatan emosi ketika membaa karya sastra ini.
Kutipan penjelasan dari Nila:
Sebenarnya cukukup menarik Cuma mungkin karena kendala bahasa saya kurang memahami dalam hal itu jadi ya cukup sulit juga tetapi menarik juga untuk dibahas. (Nila Purwani, 20 April 2016)
Menurut Nila karya sastra ini sebenarnya cukup menarik tetapi karena informan terkendala pemahaman bahasa belum bisa menikmati alur cerita yang disampaikan. Binti belum merasa belum terlalu terbawa emosi ketika membaca karena menurutnya pengemasan karya sastra ini sulit untuk dipahami.
Tanggapan dari Binti:
Sejauh ini belum terlalu itu mbak, soalnya cara pengemasan dari karya sastra itu masih sulit untuk dipahami jadi ya belum bisa terbawa. (Binti Nur K, 27 April 2016)
Tanggapan lainnya datang dari Kusuma, Anita Retno , dan Ghonimatul yang merasakan adanya keterlibatan emosi ketika membaca
Serat Kresna Kembang Waosan Pakem.
Berikut ini tanggapan dari Kusuma:
Ya saya terbawa perasaan saat itu, si Narayana atau Kresna itu, seolah-olah saya itu kalau melihat hal yang seperti itu saya juga ingin melakukan seperti Narayana, melihat wanita yang cantik pintar tapi kok dijodohkan sama orang tua yang dia itu nggak dicintai oleh Rukmini gitu lho. Terus saya mikirnya kaya merasa ingin sekali, saya itu seperti Narayana ya saya akan menjadi seperti dia, apa yang dia lakukan. (Kusuma W, 20 April 2016)
110
Kusuma merasakan terbawa emosi dengan tindakan-tindakan Narayana untuk menolong Dewi Rukmini, sebagai seorang laki-laki Kusuma juga akan melakukan hal yang sama jika melihat keadaan yang menimpa Rukmini. Seperti Kusuma, Anita juga merasakan keterlibatan emosi tetapi bukan kepada tindakan satu orang tokoh melainkan segala rasa seperti marah, sedih, kecewa, semuanya.
Kutipan tanggapan Anita
Iya saya ikut merasakan alurnya, seperti rasa sebal, kecewa, marah, sedih, campur aduk pokoknya. (Anita Retno M, 18 Mei 2016)
Ghonimatul juga merasakan emosi ketika menurutnya karena cerita yang kompleks dan jalan ceritanya juga sulit ditebak serta kepiawaian pengarang dalam mendeskripsikan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam adegan cerita.
Kutipan tanggapan dari Ghonimatul:
Ya ikut terbawa ke dalam suasana karena cerita jawa itukan memang sangat kompleks juga susah ditebak juga alurnya. Dan dalam cerita tersebut pengarang itu sangat piawai dalam mendeskripsikan rentang peristiwa yang terjadi dan penggambarannya juga seperti kejadian aslinya seperti itu. (Ghonimatul B, 19 April 2016)
Pada intinya dapat diimpulkan bahwa cerita wayang Serat Kresna
Kembang Waosan Pakem ini mampu membuat pembaca terbawa suasana
yang digambarkan dengan diksi yang digunakan dan kepiawaian pengarang dalam mengatur jalan ceritanya.
111
1.11 Makna
Berdasarkan hasil wawancara dengan 10 informan mengenai pemahaman menangkap unsur makna yang ada dalam karya sastra Serat
Kresna Kembang Waosan Pakem dapat disajikan data 3 informan
mengatakan mudah untuk menangkap makna dalam karya sastra, 4 informan mengatakan sulit untuk menangkap makna karya sastra, dan 3 informan tidak dimintai keterangan mengenai makna. Berbagai pendapat muncul tentang makna yang terdapat dapam karya sastra Serat Kresna
Kembang Waosan Pakem. Berikut beberapa tanggapan dari informan
mengenai unsur makna: Tanggapan Syafirilla:
Makna yang terkandung itu agak susah, bukan tidak ada tapi agak susah. Karena saya baru memahami setelah beberapa kali membaca.(Syafirilla Sari M, 19 April 2016)
Syafirilla mengungkapakan untuk mendapatkan atau menangkap makna yang terkandung dalam karya sastra Serat Kresna Kembang
Waosan Pakem ini susah karena untuk memahaminya informan perlu
berkali-kali membaca. Begitu pula yang di ungkapkan oleh Siti amanah. Berikut tanggapan dari Siti amanah:
Nggak. Harus baca berulang-ulang. Cuma satu kali makanya nggak paham. (Siti Amanah, 27 April 2016)
112
Siti Amanah merasa perlu berulang kali membaca akan tetapi karena hanya satu kali membaca informan tidak bisa menangkap makna yang terkandung di dalam karya sastra ini.
Pendapat di atas berbanding terbalik dengan pendapat Purwanti yang mengutarakan pembaca akan sangat mudah menangkap makna serat ini berupa karya sastra bertemakan percintaan dengan ajaran yang bagus. Untuk ajarannya sendiri lebih merujuk pada sejatining lanang dan
sejatining wadon.
Kutipan tanggapan dari Purwanti:
Pembaca itu mudah menangkap makna bahwasannya serat ini bertemakan percintaan dengan suatu ajaran yang bagus.(Purwanti, 15 April 2016)
Begitupun Kusuma juga mengatakan bahwa makna dalam karya sastra ini mudah dipahami karena kata-kata ajarannya jelas tercantum di dalam karya sastra.
Kutipan:
Ya ini maknanya dapat kita jumpai dengan cukup mudah karena kata-kata yang terdapa tdi dalamnya maksudnya wejangan-wejangan ada dalam karya sastra ini.(Kusuma W, 20 April 2016)
Ghonimatul mengatakan untuk memahami makna dalam karya sastra ini setidaknya memerlukan 2 kali membaca namun jika membaca terjemahannya langsung bisa menangkap maknanya.
113
Berikut tanggapan dari Ghonimatul :
Secara sepintas utamanya dalam bahasa kunanya itu saya perlu baca mungkin 2 kali baru menangkap maknanya karena membutuhkan pemikiran yang lebih daripada terjemahannya, kalau terjemahannya langsung bisa dipahami.(Ghonimatul B, 19 April 2016)
1.12 Imajinasi
Hasil wawancara dengan informan mengenai unsur imajinasi dalam karya sastra Serat Kresna Kembang Waosan Pakem, diperoleh data 7 informan mengtakan karya sastra ini memiliki imajinasi yang tinggi, 1 informan bingung akan tingkat imajinasinya, dan 2 informan tidak memberikan komentar tetang unsur imajinasi. Berikut beberapa tanggapan informan mengenai unsur imajinasi dalam Serat Kresna Kembang Waosan
Pakem:
Kutipan pernyataan Syafirilla:
Karya sastra ini memiliki imajinasi yang tinggi? Menurut saya iya. Karena cerita pewayangan atau cerita wayang terkesan sebagai cerita yang imajinatif dibuktikan dalam karya sastra ini yaitu dengan bertemunya manusia dengan dewa atau raksasa.(Syafirilla Sari m, 19 April 2016)
Syafirilla menangkap kesan yang ada pada masyarakat bahwasannya karya sastra dalam bentuk cerita wayang selalu imajinatif, misalnya bertemunya manusia dengan deta atau rakasasa. Syafirilla mampu menunjukkan contoh bentuk imajinasi yang menurutnya tidak mungkin terjadi di dunia nyata.
114
Tanggapan Siti Amanah:
Imajinasinya cukup tinggi pada umumnya wayang banyak dewa terus raksasa, hal-hal yang tidak ada dalam kehidupan nyata.(Siti Amanah, 27 April 2016)
Purwanti juga mengatakan karya sastra ini menggunakan imajinasi yang tinggi. Informan juga memaparkan fungsi dan dampak digunakannya imajinasi yang tingi dalam karya sastra diantara dengan imajinasi yang diungkapkan dengan bahasa yang luwes memudahkan pembaca untuk menangkap hal lain dalam karya sastra seperti tema dan ajarannya.
Berikut ini kutipan tanggapan dari Purwanti:
Dengan imajinasi yang tergolong tinggi sih, karena memang imaji yang apik itu dengan bahasa yang luwes sehingga pembaca itu mudah menangkap makna bahwasannya serat ini bertemakan percintaan dengan suatu ajaran yang bagus.(Purwanti, 15 April 2016)
Kusuma memberikan alasan lain yang lebih merujuk pada salah satu tokoh penting dalam karya sastra. Tokoh yang dimaksud adalah Narayana yang mampu merubah wujudnya menjadi raksasa. Sama seperti Syafirilla, Kusuma juga dianggap mampu menunjukkan hal-hal imajinatif yang menurutnya menarik dan tidak masuk akal di dunia nyata.
Berikut pemaparan Kusuma:
Ya imajinasinya tinggi, soalnya ada imajinasi yang tidak masuk akal contohnya Narayana saat dia itu merubah dirinya menjadi raksasa, itu kan kalau di kehidupan nyata tidak ada. Jadi tingkat imajinasina ya cukup tinggi di sini.(Kusuma W, 20 April 2016)
115
Tanggapan selanjutnya dari informan Ghonimatul:
Selanjutnya dari segi imajinasi, menurut saya cerita ini memiliki imajinasi yang sangat tinggi. Mengapa? Karena banyak kejadian dalam cerita itu mempergunakan setting kerajaan sehingga kita juga ikut berimajinasi bagaimana keadaan kerajaan jaman dahulu dan pertikaian, peperangan jaman dahulu seperti itu. (Ghonimatul B, 19 April 2016)
Tanggapan lainnya dari Ghonimatul ini lebih menitikberatkan pada setting yang dipaparkan dalam karya sastra. Informan menunjukkan bahwa setting kerajaan yang diangkat dalam cerita mampu membuat pembaca membayangkan bagaimana kehidupan jaman kerajaan termasuk juga pertikaian dan peperangan antar kerajaan yang pada masa ini sudah tidak ada lagi masa itu. Ghonimatul ini secara tidak langsung mengungkapkan fungsi social dari penggunaan imajinasi dalam suatu karya sastra.
Lain halnya dengan Binti yang mengutarakan karena bentuknya berupa cerita pewayangan sudah pasti banyak hal-hal di luar nalar atau tidak mungkin terjadi di kehidupan sehari-hari, tetapi apa yang disampaikan dalam wayang memiliki filosofi-filosofi sebagai gambaran atau pengibaratan dari tingkah laku manusia di kehidupan sehari-hari. Tanggapan Binti Nur K:
Cukup imajinatif karena ini kan cerita wayang, dan disitu banyak hal-hal yang terkadang dalam kehidupan sehari-hari itu itu diluar nalar tapi kan yang namanya wayang pasti disitu ada filosofinya tidak secra langsung diungkapkan seperti itu.(Binti Nur K, 27 April 2016)
116
Menyangkut unsur imajinasi dalam Serat Kresna Kembang
Waosan Pakem, Nila mengungkapkan bahwa untuk membayngkan
imajinasi dalam karya sastra ini tidak rumit tetapi juga tidak sederhana, tetapi dapat dipahami lewat alur ceritanya. Pembaca mengungkapkan ketika membaca langsung bisa mengimajinasikan gambaran konflik yang diangkat.
Kutipan pernyataan Nila:
Kalau menurut saya kalau terlalu rumit untuk membayangkan itu juga tidak tetapi ya sederhana tapi mudah untuk dipahami alur ceritanya juga pada saat saya membaca Serat Kresna Kembang ini saya langsung bisa mengimajinasi bagaimana gambaran kejadian konfliknya seperti itu. (Nila Purwani, 20 April 2016)
Nila Purwani ini menurut penulis tidak dapat menentukan tingkat imajinasi dalam karya sastra ini namun secara langsung informan hampir sependapat dengan Ghonimatul yang bisa mengimajinasikan konflik-konflik yang terjadi di dalam karya sastra.
1.13 Ironi
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan dapat diketahui tentang unsur ironi dalam karya sastra Serat Kresna Kembang Waosan
Pakem. 6 informan mengatakan ada unsur ironi dalam karya sastra ini, 1
informan mengatakan ironinya biasa saja, dan 3 lainnya tidak menanggapi unsur ironi. Berikut beberapa tanggapan informan mengenai unsur ironi: Tanggapan dari Kharisma:
117
Biasanya kan kalau karya satra cuma monoton-monoton aja tapi kalau ini itu sasya sudah menebak jalan ceritanya akan tetapi tuh ternyata beda gitu lho. Ironinya sangat tinggi terus intensitas ironinya tinggi juga.(Kharisma P, 13 April 2016)
Menurut Kharisma unsur ironi dalam karya sastra ini memiliki intensitas yang tinggi alasannya karena informan sebagai pembaca saat membaca karya sastra membayangkan jalan ceritanya seperti apa, nyatanya jalan cerita yang disampaikan berbeda dengan apa yang dibayangkan informan sebelumnya.
Pendapat informan satu tentang adanya unsur ironi dalam karya sastra ini juga disetujui Syafirilla, akan tetapi Syafirilla memberikan contoh konkrit bagian yang tidak terduga olehnya.
Berikut pemaparan dari Syafirilla:
Kemudian ironi, naskah ini mengandung unsur ironi. Ada pemikiran bahawa akhir cerita Rukmini menikah dengan Janaka, tetapi ternyata Narayana yang saya pikir itu sudah meninggal itu kemudian hidup lagi dan bisa menikah dengan Rukmini.(Syafirilla Sari M, 19 April 2016)
Syafirilla mengatakan bahwa ada unsur ironi ketika membaca karya sastra ini. Sebelumnya infororman menyangka Rukmini akan menikah dengan Arjuna setelah Arjuna membunuh Narayana, nyatanya Narayana masih hidup dan kemudian menikahi Rukmini. Bisa ditangkap bahwa Syafirilla jeli dalam memberikan informasi kepada penulis, hal ini
118
terlihat dari informan mampu memberikan contoh bagian yang menurutnya menunjukkan unsur ironi seperti apa yang diminta penulis.
Beberapa informan lain juga memberikan contoh bagian atau adegan yang tidak terduga saat membaca, salah satunya adalah Siti Amanah. Siti Amanah menduga setelah Narayana menculik Dewi Rukmini cerita itu akan berakhir ternyata masih ada konflik lain diman ada keterlibatan Arjuna di dalamnya.
Kutipan penyataan Siti Amanah:
Ya ada. Saat Narayana menculik itu saya kira udah, terus hidup, ternyata masih ada keterlibatan Arjuna dalam karya sastra. Sedang.(Siti Amanah, 27 April 2016)
Contoh lain juga diungkapkan Binti:
Ada semacam hal-hal yang tidak terduga kayak si Kresna padahal biasanya happy ending menurut saya tpi ternyata dia malah terbunuh oleh Arjuna. (Binti Nur K, 27 April 2016)
Contoh ironi atau hal yang tidak terduga dialami oleh informan 6 ketika informan merasa cerita itu berakhir bahagia begitu saja ternyata ada babak baru dimana Kresna malah terbunuh oleh Arjuna.
Kesan lain tentang ironi disampaikan oleh Ghonimatul:
Ironi dalam sebuah cerita, cerita Kresna Kembang ini sangat bagus dan tidak mudah ditebak sehingga kita kalau membaca itu pengen lanjut dan lanjut terus, nah itu bagaimana akhirnya seperti itu. Intensitas ironi menurut saya tinggi karena dilihat dari kekompleksan cerita alurnya itu membuat ceritanya sulit ditebak. (Ghonimatul B, 19 April 2016)
119
Menurut Ghonimatul ironi dalam cerita ini sangat bagus, karena cerita yang tidak mudah ditebak membuat pembaca semakin penasaran dengan akhir ceritanya, dan rasa penasaran itu menuntun pembaca untuk terus lanjut membaca sampai akhir. Tanggapan berbeda datang dari Purwanti yang menyatakan unsur ironi dalam karya sastra ini biasa saja. Berikut tanggapannya:
Akan tetapi naskah ini mungkin unsur ironinya biasa saja karena Kresna Kembang Waosan Pakem ini sama jalan ceritanya dengan pertunjukan wayang yang sering berjudul Narayana dadi Ratu. Dan teks ini sangat popular sehingga tidak hanya tersimpan dalam satu tempat saja tetapi beberapa tempat dengan koleksi naskah lebih dari satu eksemplar.(Purwanti, 15 April 2016)
Purwanti menganggap unsur ironi dalam naskah ini bisa saja karena setelah membaca informan tidak asing dengan ceritanya. Jalan cerita dari Serat Kresna Kembang waosan Pakem ini mirip dengan lakon pertunjukkan wayang yang pernah ditontonnya dengan judul Narayana
Dadi Ratu.