• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. Sajian Data dan Pembahasan. A. Sajian Data

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II. Sajian Data dan Pembahasan. A. Sajian Data"

Copied!
152
0
0

Teks penuh

(1)

28

BAB II

Sajian Data dan Pembahasan

A. Sajian Data

Berikut ini disajikan data yang telah dikumpulkan meliputi : a.) Struktur naskah wayang Serat Kresna Kembang Waosan Pakem yang meliputi lapis bunyi, lapis arti, lapir objek, lapis dunia, dan lapis metafisis. b.) resepsi pembaca tentang ajaran sejatining lanang dan sejatining wadon. c.) resepsi intensitas penghayatan pembaca yang terdiri atas : tema, kondisi social, relevansi konflik, amanat, bahasa, tokoh, karakter, imajinasi, ironi, ketegangan cerita, dan keseluruhan cerita.

1. Struktur naskah wayang Serat Kresna Kembang Waosan Pakem

Serat Kresna Kembang berbentuk tembang macapat (puisi Jawa lama). Roman Ingarden (dalam Wellek, 1968: 151) menyebutkan norma-norma dalam puisi terdiri atas lapis bunyi, lapis arti, lapis objek, lapis dunia, dan lapis metafisis.

1.1 Lapis Bunyi

Puisi berupa satuan-satuan suara: suara suku kata, kata, dan berangkai merupakan seluruh bunyi/suara sajak: suara frasa dan suara kalimat. Analisis puisi lapis bunyi ditujukan pada bunyi-bunyi atau pola bunyi yang bersifat “istimewa” atau khusus, yaitu yang dipergunakan untuk mendapatkan efek puitis atau nilai seni. Berikut beberapa lapis bunyi dalam Serat Kresna Kembang Waosan Pakem.

(2)

29

a. Kutipan:

…/ tuladha carita kuna / kang utama…(pupuh

Dhandhanggula bait 1) Terjemahan:

…contoh cerita lama yang utama… (pupuh Dhandhanggula bait 1)

Baris ke-8 dan ke-9 pupuh Dhandhanggula pada 1 ini mengandung asonansi a, asonansi a dalam puisi ini dipergunakan untuk memperindah bahasa atau estetika sastra.

b. Kutipan:

/ wus pinacang sang rêtna / nênggih dhaupipun / kalawan

Pandhita Drona/

Terjemahan:

sudah dijodohkan sang wanita canti yaitu pernikahannya dengan Pandhita Drona

Baris di atas menunjukkan asonansi a, asonansi a dalam kutipan di atas juga digunakan untuk memperindah bahasa dan untuk memenuhi konvensi tembang.

c. Kutipan:

// kagyat sang wiku umulat / praptaning wayah sang pêkik / karuna kalara- lara / kadya patraping pawèstri / nungkêmi suku kalih / marma sang wiku agupuh / andangu krananira / aris dènira sang rêsi / atatanya ing wayah kang lagya prapta // ( pupuh v sinom pada 1)

(3)

30

Terjemahan:

kaget sang resi melihat, kedatangan cucunya yang tampan, tampak tersakiti, seperti datangnya wanita, menghimpit kedua kaki, sang resi segera menyapa,bertanya perihal kedatangannya, halus sang resi, bertanya kepada cucunya yang baru datang(pupuh V sinom, bait 1)

Bait di atas menggunakan asonansi a untuk menunjukkan sauna penuh keterkejutan, dalam hal ini kalimat kagyat sang wiku umulat ditandingkan dengan kalimat karuna kalara-lara dan kadya praptaning

pawestri. Kalimat-kalimat tersebut menunjukkan bentuk keterkejutan

tokoh melihat apa yang ada di hadapannya dimana cucunya datang dengan tampak tersakiti dan bertingkah layaknya perempuan menangis.

d. Kutipan:

// kadya obah kang pratala / sing gêtêring swara kagiri-giri / nanging tan arsa ru biru / sikara marang janma / datan nana tumbak kang arsa tumanduk / brahala kinèn dhingina / wus tita dadya abali // (pupuh pangkur, bait ke-

52) Terjemahan:

seperti bergeraknya tanah, yang bergetar swara menyeramkan, tetapi tidak segera berlari, bertindak kasar kepada mahkluk tidak ada tombak yang akan mengenai, raksasa diminta, sudah menjadi (pupuh pangkur, bait ke-52)

(4)

31

Asonansi a pada bait pertama, keempat dan kelima yang kemudian ditandingkan dengan kalimat setelahnya dipergunakan untuk memperkuat suasana seram untuk menumbuhkan rasa takut.

e. Kutipan:

sirna dèning wak mami /sukuné sun sêmpal / bauné ingsun pokah(pupuh Durma, bait ke-34, baris ke 2-3)

Terjemahan:

h i l a n g ol e hk u, k a ki n ya a k u p ut u s , pu nda k n ya a k u p a t ah k a n. (pupuh Durma, bait ke-34, baris ke 2-3)

Kutipan di atas terdapat aliterasi s untuk menguatkan perkataan sebelumnya dan diperjelas lagi di baris selanjutnya. Hal ini digunakan untuk menunjukkan sebuah kesungguhan atau untuk menumbuhkan kepercayaan lawan bicara.

Lapis bunyi juga terdapat dalam pola persajakan atau konvensi dari tembang-tembang yang ada di dalam karya sastra ini. Berikut sajian pola persajakan pada setiap pupuh dalam karya sastra ini:

a. Pupuh Dhandhanggula

Pupuh Dhandhanggula memiliki konversi tembang berupa 10i, 10a, 8e, 7u, 9i, 7a, 6u, 8a, 12i, 7a, artinya pada setiap baris memiliki aturan yang berbeda. Tembang Dhandhanggula terdiri atas sepuluh baris. Baris pertama terdiri atas 10 suku kata dan vocal terakhir berupa huruf (i), baris kedua juga memiliki 10 suku kata dengan

(5)

32

huruf vocal akhir (a), baris ketiga terdiri atas 8 suku kata dan huruf vocal terakhir (e), baris ke-empat memiliki 7 suku kata dengan huruf vocal akhir (u), baris kelima terdiri atas 9 suku kata dan huruf vocal akhir (i), baris ke-enam mempunyai jumlah suku kata 7 dan huruf vocal akhir (a), baris ke-tujuh memiliki 6 suku kata dengan dan huruf vocal akhir (u), baris kedelapan mempunyai 8 suku kata dengan huruf vocal akhir (a), baris kesembilan mempunyai julah suku kata sebanyak 12 dan huruf vocal akhir (i), baris terakhir mempunyai 7 suku kata dan vocal akhir (a). Berikut ini kutipan tembang Dhandhanggula yang terdapat dalam Serat

Kresna Kembang Waosan Pakem.

Kutipan:

// Lir brêmara dènira mangungsir / amarsudi maduning kusuma / lumrèng kisma panuruté / mangkana dènya ngapus / ing kintaka mawa kakawin / mrih jênak kang nupiksa / nênggih critanipun / tuladha carita kuna / kang utama pinèt lupiyani mangkin / pinirit prayoganya // (Pupuh I Dhandhanggula, bait 1)

Terjemahan:

Seperti kumbang ketika berburu, mencari madunya bunga, sampai lelah menuruti, seperti itu caranya mengikat, di dalam surat sebagai kakawin, agar nyaman yang membaca, contoh cerita jaman dulu, yang baik supaya menjadi contoh nanti, dicontoh sebaik-baiknya. (Pupuh I Dhandhanggula, bait 1)

(6)

33

b. Pupuh Pangkur

Pupuh pangkur memiliki konsversi tembang berupa 8a, 11i, 8u, 7a, 12u, 8a,8i. Artinya pada setiap bait pupuh pangkur akan terdiri atas 7 baris dengan aturan, baris pertama terdiri atas 8 suku kata dan vocal akhir (a), baris kedua memiliki 11 suku kata dengan huruf vocal akhir (i), baris ketiga terdiri atas 8 suku kata dengan huruf vocal akhir (u), baris ke-empat mempunyai jumlah suku kata sebanyak 7 dan vocal akhir (a), baris kelima memiliki 12 suku kata dengan vocal akhir (u), baris ke-enam terdiri atas 8 suku kata dengan vocal akhir (a), baris terakhir ata ketujuh memiliki jumlah suku kata 8 dan huruf vocal akhir (i)

Kutipan:

// ingkang kapungkur wus lama / Sri Naréndra Madura Narapati / dupi miyarsa ing dangu / Kumbina wartanira / putri nata among sajuga sang ayu/ Dyah Rugmini parabira / kalangkung èndah kang warni // (pupuh pangkur, bait ke-1)

Terjemahan:

Yang dahulu telah lama sang Raja Madura ketika melihat berita dari negara Kumbina, putri raja hanya satu-satunya sang ayu Dyah Rukmini namanya, terlalu indah rupanya.

(7)

34

c. Pupuh Mijil

Pupuh mijil memiliki 6 baris di setiap baitnya dengan aturan penulisan 10i, 6o,10e,10i,6i,6u. Bait pertama mempunyai 10 suku kata dan huruf vocal akhir (i), bait kedua terdiri atas 6 suku kata dengan huruf vocal akhir (o), bait ketiga memiliki 10 suku kata dan huruf vocal akhir (e), bait ke-empat mempunyai 10 suku kata dengan vocal akhir (i), bait kelima memiliki jumlah suku kata sebanyak 6 dengan huruf vocal akhir (i), bait terakhir terdiri atas 6 suku kata dengan huruf vocal akhir (u)

Kutipan:

// aturira sang rêtna anangis / anglês ingkang batos / dhuh kakang mas wau ngandikané / sru jumurung lamun amba panggih / kalawan sang rêsi / sulaya ing kayun // (pupuh mijil, bait ke-1)

Terjemahan:

Katanya si cantik sambil menangis, lega di hati, duh kakak tadi berkata tegas jika aku bertemu dengan sang resi, tidak damai di hati. (pupuh mijil, bait ke-1)

d. Pupuh Pocung

Pupuh pocung memiliki 5 baris di setiap baitya, aturan penulisan tembang pocung adalah 4u, 8u,6a,8i,12a. intinya pada setiap bait ada aturan berupa baris pertama mempunyai 4 suku kata dengan huruf vocal akhir (u), baris kedua harus berisi 8 suku kata dengan huruf vocal akhir (u), baris ketiga terdiri atas 6 suku kata dengan

(8)

35

huruf vocal akhir (a), baris selanjutnya berisi 8 suku kata dan huruf vocal akhir (i), bait terakhir memiliki 12 suku kata dengan huruf vocal akhir (a).

Kutipan:

// kang tinutur / lêmah bang sanggrahanipun / Madura Dyan Arya / Narayana miwah ari / Dyah Sumbadra

ingadhêp lawan Udawa // (pupuh pocung, bait ke 1)

Terjemahan:

Yang diceritakan tanah merah tempat tinggalnya Madura Raden Narayana dan adiknya Dyah subadra dihadap oleh Udawa. (pupuh pocung, bait ke 1)

e. Pupuh Sinom

Pupuh sinom mempunyai aturan penulisan 8a, 8i, 8a, 8i, 7i, 8u, 7a,

8i, 12a. Baris dalam satu bait tembang sinom berjumlah 9. Baris pertama sampai dengan ke-empat terdiri atas 8 suku kata dengan huruf vocal akhir (a) dan (i). Baris kelima mempunyai 7 suku kata dengan vocal akhir (i). Baris ke-enam jumlah suku katanya 8 dan vocal akhirnya (u). Baris ke-tujuh memiliki 7 suku kata dan vocal akhir (a). Baris kedelapan mempunyai jumlah suku kata sebanyak 8 dengan vocal akhir (i). Baris terkahir terdiri atas 12 suku kata dengan vocal akhir (a). Pupuh sinom memiliki keunikan lain yaitu di setiap baris genap mempunyai suku kata sebanyak 8. Berikut

(9)

36

satu kutipan tembang sinom dalam Serat Kresna Kembang Waosan

Pakem:

Kutipan:

// kagyat sang wiku umulat / praptaning wayah sang pêkik / karuna kalara- lara / kadya patraping pawèstri / nungkêmi suku kalih / marma sang wiku agupuh / andangu krananira / aris dènira sang rêsi / atatanya ing wayah kang lagya prapta // (pupuh sinom, bait ke-1)

Terjemahan:

kaget sang resi melihat, kedatangan cucunya yang tampan, tampak tersakiti, seperti datangnya wanita, menghimpit kedua kaki, sang resi segera menyapa,bertanya perihal kedatangannya, halus sang resi, bertanya kepada cucunya yang baru datang. (pupuh sinom, bait ke-1)

f. Pupuh Durma

Pupuh Durma mempunyai aturan penulisan baitnya berupa 12a, 7i,

6a, 7a, 8i, 5a, 7i. Baris pertama terdiri atas 12 suku kata dengan vocal akhir (a). Baris kedua memiliki jumlah suku kata sebanyak 7 dan huruf vocal akhir (i). Baris ketiga mempunyai 6 suku kata dengan vocal akhir (a). Baris ke-empat memiliki jumlah suku kata 7 dengan huruf vocal akhir (a). Baris kelima berisikan 8 suku kata dengan huruf vocal akhir (i). Baris ke-enam mempunyai suku kata sebanya 5 dan huruf vocal akhir (a). baris terakhir terdiri atas 7

(10)

37

suku kata dengan vocal akhr (i). Berikut salah satu bait tembang

Durma dalam Serat Kresna Kembang Waosan Pakem:

Kutipan:

// Brataséna wus cakêt pan adu muka / lawan brahala nuli / mancêrêng tumingal / andik ing nétranira / mung nganti dipundhingini / ing yudanira / nging lumuh andhingini // (pupuh Durma, bait ke-1)

Terjemahan:

Bratasena sudah dekat sekali saling berhadapan, lalu segera menyembah, terlihat menyeramkan,dekat dengan matanya, waspada jika diawali, dalam pertarungannya, tetapi tidak mau memulainya(pupuh Durma, bait ke-1)

g. Pupuh Asmaradana

Tembang asmaradana terdiri atas 7 baris di setiap bait dengan

susunan 8i, 8a, 8e, 8a, 7a, 8u, 8a. Baris pertama sampai dengan baris ke-empat terdiri atas 8 baris dengan urutan huruf vocal akhir (i), (a), (e), (a). Baris kelima merupakan baris dengan jumlah suku kata 7 dan huruf akhir (a). Baris ke-enam dan ke-tujuh juga terdiri atas 8 suku kata dengan vukal akhir (u) dan (a). Berikut salah satu bait pupuh asmaradana dalam Serat Kresna Kembang Waosan

Pakem:

Kutipan:

// kunèng gantya kang winilis / nênggih nagari Ngamarta / Dyan Kunthi pinarêk mangké / lan putra sang Arya Parta /

(11)

38

déné piniji têngga / umèntar sing ngêndi kulup / têka daléya ing karya // (pupuh VIII Asmaradana, bait ke 1)

Terjemahan:

berganti yang diceritakan yaitu Negara Ngamarta, Dewi Kunti duduk di singgasana, dan putranya Arya Parta, sedang melakukan tugas untuk menunggu negara, yang mana anakku, sampai pada tugas. (pupuh VIII Asmaradana, bait ke 1)

h. Pupuh Kinanthi

Pupuh Kinanthi memiliki 6 baris disetiap baitnya, aturan

penulisannya adalah 8u, 8i, 8a, 8i, 8a, 8i. ada keunikan tersendiri dari pupuh kinanthi daripada tembang macapat lainnya yaitu dalam setiap barisnya memiiki 8 suku kata dengan urutan huruf vocal akhir (u), (i), (a), (i), (a), (i). Keunikan lainnya disetiap baris yang genapa atau baris 2, 4, dan 6 mempunyai huruf vocal yang sama yaitu (i). berikut salah satu kutipan bait pupuh Kinanthi:

Kutipan:

// mung raka ingayun-ayun / Dyanira wisatèng ratri / sabênira byar rahina / kondurira sang apêkik / déné ing mangkya alama / kongsi nyipêng tigang ratri // (Pupuh IX Kinanthi bait ke-1)

Terjemahan:

Hanya kakak (laki-laki) yang diharapkan, lalu ia pergi di waktu malam, setiap tiba di pagi hari, pulangnya sang

(12)

39

kekasih, adapun di waktu beikutnya, sampai menginap selama tiga malam. (Pupuh IX Kinanthi bait ke-1)

1.2 Lapis Arti

Satuan terkecil arti disebut dengan fonem. Satuan fonem berupa kata serta suku kata. Kata bergabung menjadi kelompok kata, kalimat, alinea, bait, bab, dan seluruh cerita. Kesemuanya merupakan satuan arti. Lapis arti dalam Serat Kresna Kembang Waosan Pakem diantaranya sebagai berikut:

a. Kutipan:

// wruhanira babatangané yêkti / tan mêksa tinamboh /

sajatining priya ing yêktiné / iya priya kang among ing èstri / kang bisa ngayomi / karya sukèng kalbu //. (pupuh mijil bait

ke-11) Terjemahan:

sejatinya seorang lelaki itu adalah suami yang bisa mengarahkan dan membimbing istrinya, mengayominya, dan membuat hati istrinya senang.

Suami yang mampu mengarahkan dan membimbing istrinya adalah laki-laki yang menempatkan dirinya sebagai kepala keluarga, dimana ia mengarahkan keluarganya menjadi keluarga yang baik intinya keluarga yang tahu adat istiadat di lingkungan tempat tinggalnya, pada dasarnya suami harus mampu mendidik keluarganya menjalani kehidupan sesuai dengan norma yang berlaku di masryakat, selain itu, juga menjadi keluarga religius

(13)

40

sesuai dengan ajaran-ajaran agama yang dianut. Seorang suami juga harus mengayomi keluarganya (istri dan anak-anaknya) maksudnya seorang suami itu mampu memberikan rasa nyaman kepada keluarganya sehingga merasa aman dan terlindungi jika berada di sampingnya atau di rumah tinggalnya. Suami juga harus mampu membuat keluarganya bahagia intinya bertanggungjawab dan mampu memberi nafkah lahir batin, kehidupan harmonis, serta keluarga yang hangat penuh kasih sayang.

b. Kutipan :

// sajatining pawèstri sayêkti / kang bêkti Hyang Manon /

marang priya anggusti patrabe / ora cidra kang suci ing galih / gumati nlgadѐni / marang kakungipun //. (pupuh Mijil bait

ke-12) Terjemahan:

sejatinya seorang perempuan adalah istri yang berbakti kepada Tuhan YME, berbakti kepada suaminya tidak berbeda dengan baktinya kepada Tuhan YME, tidak berbohong dan suci hatinya, serta perhatian terhadap suaminya. (pupuh Mijil bait ke-12)

Wanita itu seharusnya menjadi pribadi yang taat kepada Tuhan dan memiliki kepribadian sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya. Wanita juga harus berbakti kepada laki-laki (suaminya) layaknya ia berbakti kepada Tuhan sebagai simbol bahwa suami itu adalah wakil Tuhan di dunia ini, harus patuh pada apa dikatakan suami yang menuju pada kebaikan, tetapi jika perintah itu merujuk

(14)

41

pada pelanggaran norma-norma sebagai seorang istri haruslah bisa menasehati suami agar kembali ke jalan yang sesuai dan tidak diikuti keinginan yang menjerumuskan itu, selain itu juga harus bisa mendidik putra dan putrinya. Seorang istri juga tidak boleh berbohong harus suci hatinya intinya dia memiliki sifat santun dan terbuka terhadap keluarganya apapun itu. Istri juga harus perhatian dan mampu melayani suaminya baik secara lahir maupun batin. c. Kutipan :

// kadya gulêt mangun yuda / sang Sangkuni réwa-réwa kasêlip / grêgêtên sajro tyasipun / wong tuwa luru karya / arsa krama wanudya yu kênya tulus / têmahan dadya drawala / karya gègèring para ji // (pupuh pangkur, bait ke-42)

Terjemahan:

seperti bertempur dalam peperangan/ sang Sangkuni dibuat sibuk/jengkel di dalam hatinya/ orang sudah tua mencari masalah/ ingin menikahi wanita cantik jelita/ sehingga menjadi masalah/ sehingga ramai para raja// (pupuh pangkur, bait ke-42)

Cuplikan di atas menunjukkan keinginan yang berdasarkan nafsu kemudian dituruti itu akan membuat masalah, bukan hanya kepada diri sendiri tetapi juga orang sekitar. Seperti keinginan Drona yang sudah tua tetapi mengharapkan istri yang cantik dan muda, yang kemudian malah membuat suasana ricuh. Sebagai orang tua atau sesepuh harusnya dapat menahan nafsunya dan menjadi tauladan yang baik bagi generasi dibawahnya.

(15)

42

1.3 Lapis Objek

Lapis yang ketiga berupa objek-objek yang dikemukakan, latar, pelaku, dan dunia pengarang. Pelaku atau tokoh misalkan si aku. Latar waktu contohnya malam terang bulan. Latar tempat seperti laut yang terang (tidak berkabut), berangin kencang (angin buritan). Dunia pengarang yang dimaksudkan adalah ceritanya, yang merupakan dunia yang diciptakan oleh pengarang. Hal ini merupakan gabungan dan jalinan antara objek-objek yang dikemukakan, latar, pelaku, serta struktur cerita (alur). Lapis objek dalam Serat Kresna Kembang Waosan Pakem diantara lain sebagai berikut :

Pelaku atau tokoh yaitu Narayana dan Dewi Rukmini, salah satunya dapat diambil dari kutipan berikut:

a. Kutipan:

// yata Raden Narayana / duk umulat solahira kang rayi / ing driya wêlas kalangkung / miwah nandhang asmara / dadya madêg samana suraning kalbu / dènirarsa nanggêl lampah / angalap sang Dyah Rukmini // (Pupuh II Pangkur,

bait ke 12) Terjemahan:

raden Narayana, ketika melihat tindakan adiknya, hatinya merasa kasihan, dan juga jatuh cinta, menjadi tekad dalam hatinya, dirinya memutuskan, menculik Dyah Rukmini.

(16)

43

b. Kutipan:

// Dyah Rukmini wanudya linuwih / lantip ing pasêmon / tajêm limpat nênggih graitané / susila rum parigêl ing kardi / wuwusé mrak ati / patitis ing tanduk // (pupuh III Mijil, bait

ke 22) Terjemahan:

Dyah Rukmini wanita yang memiliki kelebihan, lantip cara berpikirnya, tajam tanggap hatinya, kelakuannya penuh tata karma, kata-katanya menyenangkan hati, tepat dalam perbuatan. (pupuh III Mijil, bait ke 22)

Selain menyebutkan tokoh juga dijelaskan karakter dari tokoh tersebut misal Raden Narayana dikatakan ketika melihat saudranya, hatinya merasa kasihan, dan tengah jatuh cinta, mengebu-gebu perasannya, ingin sekali memotong jalan untuk menculik sang Dyah Rukmini. Narayana melihat apa yang terjadi pada saudaranya yaitu Dewi Rukmini timbul rasa kasihan dan cinta mencerminkan Narayana sebagai pemuda yang welas asih terhadap sesama, dan timbul keinginannya untuk menolong walau pada akhirnya yang terlintas adalah ingin menculiknya.

c. Kutipan:

// kunèng gantya kang winilis / nênggih nagari Ngamarta /

Dyan Kunthi pinarêk mangké / lan putra sang Arya Parta /

déné piniji têngga / umèntar sing ngêndi kulup / têka daléya ing karya // (pupuh VIII Asmaradana, bait ke 1)

(17)

44

Terjemahan:

berganti yang diceritakan yaitu Negara Ngamarta, Dewi Kunti duduk di singgasana, dan putranya Arya Parta (Arjuna), sedang melakukan tugas untuk menunggu negara, yang mana anakku, sampai pada tugas. (pupuh VIII Asmaradana, bait ke 1)

Kutipan di atas menunjukkan salah satu objek yaitu tokoh di dalam cerita. Tokoh tersebut adalah Dewi Kunti dan Arya Parta atau Arjuna. Kutipan tersebut menunjukkan adegan yang dilakoni oleh Dewi Kunti dan Arjuna di Negara Ngamarta sebagai latar tempat.

Latar juga dapat dilihat dari kutipan berikut ini:

a. Kutipan:

// sinigêg wau lampahnya / samana jroning wanadri / ana ditya sasomahan/ yèku rasêksa rasêksi / marma mangkya kang margi / tan kambah janma asêrung / gawat kaliwat-liwat / samana wau rasêksi / asasambat mring priya aminta têdha //. (Pupuh V Pangkur, bait ke 20)

Terjemahan:

singkat cerita, begitulah yang ada di dalam hutan, ada sepasang raksasa, yaitu rasaksa laki-laki dan rasaksa perempuan, begiulah yang ada di jalan, tidak terjamah oleh manusia, sangat berbahaya, ketika itu raksasa perempua,

(18)

45

mengeluh kepada laki-lakinya meminta makan. (Pupuh V

Pangkur, bait ke 20)

Latar tempat yang diutarakan adalah di dalam hutan, selain tempat dalam kutipan di atas pengarang juga menunjukkan latar suasana di dalam hutan seperti hutan sebagai tempat tinggal rasaksa maupun raseksi yang ada di dalamnya tidak pernah terjamah manusia, keadaannya gawat menyeramkan, rasaksi merintih pada suaminya meminta makan. Suasana yang tergambar jelas dalam kutipan adalah bagaimana menyeramkannya keadaan hutan yang akan dilewati Arjuna, sudah tidak pernah terjamah manusia yang ada suara raseksi (raksaksa perempuan) yang terus-terusan meminta makan pada suaminya.

b. Kutipan:

// agêtêr sasambatira / ing jro puri ana kang gigiris / rupa dudu rupanipun / lir ditya Sang Hyang Kala / saprabata gêngira dahana murub /kagyat wau duk miyarsa / Dyan Rukmara angèndhangi // (pupuh VI pangkur, bait ke 34)

Terjemahan:

bergetar tangisannya, di dalam puri yang menakutkan, rupa bukan rupanya, seperti raksasa Bathara Kala, sebegitu besarnya api menyala, kaget ketika melihat, Raden Rukmara yang menyambangi. (pupuh VI pangkur, bait ke 34)

(19)

46

Kutipan di atas menunjukkan latar tempat dan latar suasana dimana latar tempat adalah puri dan suasananya mencekam. Diceritakan suasana dalam puri begitu menyeramkan karena adanya raksasa serupa dengan Bathara Kala (Dewa Raksasa) besar menyala-nyala seperti api yang membara membuat kaget yang melihat.

c. Kutipan:

// kunèng gantya kang winilis / nênggih nagari Ngamarta / Dyan Kunthi pinarêk mangké / lan putra sang Arya Parta / déné piniji têngga / umèntar sing ngêndi kulup / têka daléya ing karya // (pupuh VIII Asmaradana, bait 1)

Terjemahan:

berganti yang diceritakan yaitu Negara Ngamarta, Dewi Kunti duduk di singgasana, dan putranya Arya Parta (Arjuna), sedang melakukan tugas untuk menunggu negara, yang mana anakku, sampai pada tugas. (pupuh VIII Asmaradana, bait 1)

Kutipan di atas menunjukkan latar tempat yaitu Negara Ngamarta, dimana diceritakan bahwa yang ada disana adalah Dewi Kunti dan Arjuna yang sedang menunggui kerajaan.

d. Kutipan:

//ingiring parêpat katri /datan winarna ing marga /Kumbina kocap ing mangka/ sadangunya ngarsa-arsa /

(20)

47

marang Sang Dananjaya / samana pêpak pra ratu /alênggah anèng pandhapa // (pupuh VIII Asmaradana, bait

ke 9)

Terjemahan:

menggiring seperempat malam, tanpa diduga di jalan, Kumbina yang diceritakan, selamanya mengharap, kepada Dananjaya, ketika itu lengkap para raja, duduk di pendhapa. (pupuh VIII Asmaradana, bait ke 9)

Bait di atas menunjukkan latar waktu seperempat malam, dan juga latar tempat di jalan dan di pendhapa kerajaan Kumbina.

Dunia pengarang merupakan cerita yang diungkap oleh pengarang. Dunia pengarang dapat tercermin dalam berbagai aspek di intensitas penghayatan pembaca seperti tema, amanat, karakter, alur, bahasa, ironi, kekompleksan cerita, tokoh, keterlibatan emosi pembaca, dan imajiasi.

Tema dalam karya sastra ini dapat diambil dari kesimpulan setelah membaca isi karya sastra. Tema karya sastra ini,diungkapkan repsonden diantaranya seperti berikut:

Kutipan:

Dari segi tema ya, kalau menurut saya tema karya sastra yang berjudul Kresna Kembang itu temanya itu lebih menitikberatkan pada perjuangan dalam pencarian pasangan hidup seperti itu.. (Ghonimatul B, 19 April 2015)

(21)

48

Ghonimatul mengungkapkan tema dari karya sastra ini adalah pencarian pasangan hidup antara Naryana dengan Dewi Rukmini. Kutipan:

Tema di dalam karya sastra yang berjudul Serat Kresna Kembang ini menceritakan tentang perjodohan. (Syafirilla Sari M, 19 April 2016)

Syarilla menyampaikan tema tentang perjodohan. Kutipan:

Dari segi tema naskah yang berjudul Serat Kresna Kembang Waosan Pakem ini umumnya menggambarkan tentang percintaan yaitu percintaan tentang Narayana atau Prabu Kresna dengan Dewi Rukmini. (Purwanti, 15 April 2016).

Purwanti mengutarakan tema berupa percintaan.

Disimpulkan tema yang diangkat oleh pengarang dalam karya sastranya antara lain berupa pencarian pasangan hidup, perjodohan, dan percintaan.

Alur yang digunakan dalam karya sastra ini sama dengan alur cerita pewayangan pada umumnya dengan menggunakan alur spiral dimana suatu kejadian diceritakan berkelanjutan tetapi dikatakan terjadi bersamaan, hal ini dibuktikan dengan penggunakan kata-kata bergantilah yang diceritakan ataupun sementara itu. Kata-kata tersebut menunjukkan bahwa kejadian itu berada dalam kurun waktu yang hampis bersamaan tetapi diceritakan dalam kurun waktu yang bekelanjutan.

(22)

49

Amanat utama dalam karya sastra ini tersurat dalam pupuh mijil bait ke-11 dan ke-12, sebagai berikut:

Kutipan;

// wruhanira babatangané yêkti / tan mêksa tinamboh / sajatining priya ing yêktiné / iya priya kang among ing èstri / kang bisa ngayomi / karya sukèng kalbu //. (pupuh mijil bait

ke-11) Terjemahan:

sejatinya seorang lelaki itu adalah suami yang bisa mengarahkan dan membimbing istrinya, mengayominya, dan membuat hati istrinya senang. (pupuh mijil bait ke-11)

Kutipan:

// sajatining pawèstri sayêkti / kang bêkti Hyang Manon / marang priya anggusti patrabe / ora cidra kang suci ing galih / gumati nlgadѐni / marang kakungipun //.(pupuh mijil bait ke-12)

Terjemahan:

sejatinya seorang perempuan adalah istri yang berbakti kepada Tuhan YME, berbakti kepada suaminya tidak berbeda dengan baktinya kepada Tuhan YME, tidak berbohong dan suci hatinya, serta perhatian terhadap suaminya. (pupuh mijil bait ke-12)

Ajaran ini memberikan penjelasan mengenai kwajiban antara laki-laki dan perempuan dalam sebuah rumah tangga.

(23)

50

Pandangan pengarang lainnya juga tercermin dari aspek penggunaan bahasa di mana bahasa yang digunakan adalah bahasa tembang yang menyesuaikan dengan konversi tembang yang dipakai.

Kutipan:

Untuk bahasanya mungkin kebanyakan karya satra jawa memang menyisipkan bahasa arkais yaitu sebuah diksi yang diperuntukkan bagi karya satra agar menambah estetikanya. (Purwanti, 15 April 2016)

Penggunaan kata-kata arkais menurut Purwanti diperuntukkan untuk menambah estetika suatu karya sastra

Untuk kekompleksan cerita dapat dilihat dari konflik-konfil yang diangkat oleh pengarang seperti yang diungkapkan oleh Ghonimatul berikut ini:

Kutipan:

Kalau menurut saya cerita ini kompleks mengapa? Konflik dalam cerita tersebut, banyak konflik-konflik kecil yang muncul. Bagian akhir ceritanya terselesaikan dengan baik sehingga menurut saya sangat kompleks cerita tersebut. (Ghonimatul B, 19 April 2016)

Menurut Ghonimatul cerita ini kompleks dengan konflik-konflik yang dimunculkan serta adanya penyelesaian cerita yang baik dari pengarang.

Tokoh utama dalam naskah ini adalah Raden Narayana (Kresna) dan Dewi Rukmini, karena naskah ini bentuk wayang maka ada beberapa tokoh dengan nama lain seperti Narayana yaitu Kresna, Arjuna yang

(24)

51

disebut dengan Janaka atau Arya Parta. Informan masih tetap dapat memahaminya dengan bantuan kamus dan juga terjemahan sinopsisnya.

Keterlibatan emosi pembaca juga menjadi dunia pengarang tersendiri dimana pengarang mengemas cerita itu dan membuat pembaca merasakan atau terbawa emosi. Pembaca memiliki keterbawaan emosi sendiri-sendiri saat membaca, contohnya seperti berikut ini:

Kutipan:

Ya saya terbawa perasaan saat itu, si Narayana atau Kresna itu, seolah-olah saya itu kalau melihat hal yang seperti itu saya juga ingin melakukan seperti Narayana, melihat wanita yang cantik pintar tapi kok dijodohkan sama orang tua yang dia itu nggak dicintai oleh Rukmini gitu lho. Terus saya mikirnya kaya merasa ingin sekali, saya itu seperti Narayana ya saya akan menjadi seperti dia, apa yang dia lakukan. (Kusuma W, 20 April 2016)

Kusuma terbawa suasana atau lebih tepatnya terbawa emosi atau perasaannya dengan apa yang dilakukan oleh tokoh Narayana di dalam cerita.

Kutipan:

Iya saya ikut merasakan alurnya, seperti rasa sebal, kecewa, marah, sedih, campur aduk pokoknya. (Anita Retno M, 18 Mei 2015)

Anita lebih terbawa pada alur cerita yang membuatnya merasakan rasa sebal, kecewa, marah, dsb.

Ironi merupakan suatu yang berkebalikan dengan dugaan dari pembaca. Biaasanya saat membaca pembaca akan menduga atau memprediksi kisah selanjutnya, namun apa yang diduga tersebut ternyata berbeda dengan yang ditampilkan pengarang maka saat itu pembaca mendapatkan ironi di dalam karya sastra yang dibacanya. Berikut salah

(25)

52

satu contoh ironi dalam Serat Kresna Kembang Waosan Pakem yang dirasakan oleh pembaca:

Kutipan:

Naskah ini mengandung unsur ironi. Ada pemikiran bahawa akhir cerita Rukmini menikah dengan Janaka, tetapi ternyata Narayana yang saya pikir itu sudah meninggal itu kemudian hidup lagi dan bisa menikah dengan Rukmini.(Syafirilla Sari M, 19 April 2016)

Syafirilla menduga Rukmini akan menikah dengan Janaka di akhir cerita tetapi nyatanya Narayana tidak meninggal dan menikah dengan Rukmini. Hal ini merupakan salah satu bentuk ironi

Imajinasi juga merupakan salah satu dunia pengarang yang ada dalam karya sastra. Sering kali pengarang mengimajinasikan sesuatu yang sangat berbeda dengan apa yang ada di kehidupan pembaca. Bagaimana pengarang memulai cerita menunjukkan konflik dan mengakhiri cerita dengan imajinasinya menjadi salah satu daya tarik pembaca untuk membaca karya sastra tersebut. Berikut penuturan salah satu pembaca terhadap imajinasi yang ada dalam Serat Kresna Kembang waosan

Pakem:

Kutipan:

Cukup imajinatif karena ini kan cerita wayang, dan disitu banyak hal-hal yang terkadang dalam kehidupan sehari-hari itu itu diluar nalar tapi kan yang namanya wayang pasti disitu ada filosofinya tidak secra langsung diungkapkan seperti itu.(Binti Nur K, 27 April 2016)

(26)

53

Binti menunjukkan bahwa karya sastra ini memiliki penggambaran hal-hal di luar nalar dan tidak ada di kehidupan nyata, tetapi dalam wujud kisah pewayangan hal-hal tersebut tentunya memiliki sebuah filosofi. 1.4 Lapis Dunia

Lapis dunia yang tak usah dinyatakan atau dikemukakan, tetapi sudah implisit ada di dalam cerita sebagai berikut :

Jika dicermati lebih dalam naskah wayang Serat Kresna Kembang Waosan Pakem ini tidak hanya berisi tentang kisah perjodohan antara Dewi Rukmini dengan Narayana (Kresna) saja tetapi juga ada beberapa nilai lain misalkan:

a.) adanya hubungan antar negara seperti yang ada pada pupuh

Dhandhanggula bahwa Prabu Bismaka menyuruh Rukmara untuk

mengantarkan surat ke Ngamarta, Mandura, dan Lesanpura yang kemudian diadakannya pertemuan membahas pernikahan Rukmini yang entah kapan terselenggaranya karena mengajukan pertanyaan.

Kutipan:

nênggih Radyan Rukmara / nêmbé praptanipun / saking dinuta ing rama / mring Ngamarta kinèn angulêm ulêmi / Sang Prabu Yudhisthira // (pupuh dhandhanggula, bait ke-5)

Terjemahan:

Yaitu Raden Rukmara, baru saja datang setelah diutus ayahnyake Ngamarta untuk memberikan undangan kepada Prabu Yudhistira. (pupuh dhandhanggula, bait ke-5)

(27)

54

b.) ajaran sejatining lanang dan sejatining wadon pada pupuh

mijil sebagai syarat yang diajukan Dewi Rukmini sebagai salah satu

bentuk nilai moral yang ada dalam karya sastra ini, tidak hanya ajarannya saja yang sangat bermanfaat tetapi tindakan Rukmini ini juga menunjukkan bahwa sebagai seorang wanita harus memiliki kriteria tersendiri dalam menentukan pasangan.

Kutipan:

// wruhanira babatangané yêkti / tan mêksa tinamboh / sajatining priya ing yêktiné / iya priya kang among ing èstri / kang bisa ngayomi / karya sukèng kalbu //. (pupuh mijil bait ke-11)

// sajatining pawèstri sayêkti / kang bêkti Hyang Manon / marang priya anggusti patrabe / ora cidra kang suci ing galih / gumati nlgadѐni / marang kakungipun //.(pupuh mijil bait ke-12)

Terjemahan:

sejatinya seorang lelaki itu adalah suami yang bisa mengarahkan dan membimbing istrinya, mengayominya, dan membuat hati istrinya senang. (pupuh mijil bait ke-11)

sejatinya seorang perempuan adalah istri yang berbakti kepada Tuhan YME, berbakti kepada suaminya tidak berbeda dengan baktinya kepada Tuhan YME, tidak berbohong dan suci hatinya, serta perhatian terhadap suaminya. (pupuh mijil bait ke-12) Nilai moral lain yang disampaikan seperti saat Narayana mengatakan kepada Dewi Rukmini jika telah mengajukan persyaratan dan ada yang bisa menjawabnya siapapun itu harus menepati janjinya untuk melayani atau mau dipersunting orang yang menjawab, ini menunjukkan pada kita bahwa kita harus menepati janji yang diucapkan.

(28)

55

Kutipan:

// yèn sang rêsi ambatang tumuli / kumudu linakon / tan amêksa iku salawasé / ing uripé jumênêng pribadi / walaka mandhiri / lir suksma linuhung //( pupuh mijil bait ke 13)

Terjemahan:

Jika sang resi bisa menjawab, harus dijalani, tidak memaksa itu selamanya, di hidupnya pribadi, jujur mandiri, seperti sukma yang luhur. (pupuh mijil bait ke 13)

Tindakan Arjuna yang ketika bertemu dengan Kresna juga menunjukkan nilai moral yang baik diman sebagai seorang ksatria dia harus memenuhi janji yang telah dianggupinya, jika tidak cacatlah gelar ksatria yang dimilikinya.

Kutipan:

// kalamun ulun sêdani / amba priyôngga kécalan / lamun ulun ladosaké / nama wiring amba barang / amba katut awirang / among tapa ngungun ulun / kadi / paran karsa tuwan //

// dènè karsa anglampahi / alampah dhusta lir kumpra / dènè satriya wataké / saking kondhênging tyas amba / kadi paran ing mangkya / luhung kawula kang lampus èwêting driya kawula //

// mangkana dupi miyarsi / Narayana aturira / ari makatên aturé / nulya angrangkul karuna / pêgat-pêgat ngandika / adhuh yayi ariningsun / satuhu satriya tama // (pupuh asmaradana, bait ke 60-62)

Terjemahan:

Jika aku bunuh, aku sendiri yang kehilangan, jika aku lanjutkan, namaku juga yang akan tercoreng, aku ikut malu, hanya berdoa harapanku seperti apa keinginanmu

(29)

56

Jika bersedia menjalani, berlaku dusta, tetapi watak ksatriya berdasarkan pemikiran yang matang, bagaimanapun saat ini, lebih baik aku yang mati menjaga diriku sendiri

Begitu melihat adiknya seperti itu, Raden Narayana segera merangkut dengan erat, sambil berkata, dhuh adikku, kau memang ksatriya sejati. (pupuh asmaradana, bait ke 60-62) 1.5 Lapis Metafisis

Lapis kelima adalah lapis metafisis yang menyebabkan pembaca berkontemplasi/merenung. Berikut contoh lapis metafisis yang ada dalam

Serat Kresna Kembang Waosan Pakem:

a. Kutipan:

// tanpa rangu / kalihira wus sarujuk / kênthêl ciptanira / sang kalih pratignyèng galih / labuh pati tan mawi aringa-ringa // (pupuh IV Pocung, bait ke 27)

Terjemahan:

tanpa ragu, keduanya telah sepakat, kuat tekadnya, keduanya teguh hatinya, rela mati tanpa takut. (pupuh IV Pocung, bait ke 27)

Kutipan di atas menunjukkan lapis metafisis yang membuat kita merenung tentang labuh pati atau rela mati tanpa takut. Bagaiman seseorang rela menyerahkan nyawa demi orang yang dicintai.

b. Kutipan:

// datan nyana kakang sira sarèh arja / ingsun miyarsa warti / lamun sira sirna / campuh lawan brahala / tan étung

(30)

57

ingsun labuhi / samangkya panggya / ing mau ana ngêndi //

(pupuh 7 Durma, bait ke 7) Terjemahan:

tanpa terduga kakak engkau sabar, aku melihat berita, jika kau tiada, bertarung dengan raksasa, tanpa berkikir aku membela,sekarang juga bertemu, di mana tadi. (pupuh 7

Durma, bait ke 7)

Cuplikan bait di atas menunjukkan kita bagaimana seorang tanpa takut membela saudaranya ketika mendengar saudaranya menderita bahkan telah dikabarkan mati. Hal ini membuat kita merenung bagaimana ikatan saudara itu penting, saudara yang menjaga kita, dan saudara pula yang rela berkorban untuk kita.

Berdasarkan apa yang ditemukan penulis mengenai lapis bunyi, lapis arti, lapis objek, lapis dunia, dan lapis metafisis Serat Kresna Kembang Waosan

Pakem terdapat semua unsur itu di dalamnya. Unsur-unsur yang ada menunjukkan

bahwa karya sastra ini mampu memenuhi norma-norma puisi berdasarkan teori Roman Ingarden.

2. Resepsi Pembaca Tentang Ajaran Sejatining Lanang lan Sejatining Wadon

Kutipan:

// wruhanira babatangané yêkti / tan mêksa tinamboh / sajatining priya ing yêktiné / iya priya kang among ing èstri / kang bisa ngayomi / karya sukèng kalbu //

// sajatining pawèstri sayêkti / kang bêkti Hyang Manon / marang priya anggusti patrapé / ora cidra kang suci ing galih / gumati ngladèni / marang kakungipun //(pupuh III mijil bait ke 11 dan 12)

(31)

58

Terjemahan:

sejatinya seorang lelaki itu adalah suami yang bisa mengarahkan dan membimbing istrinya, mengayominya, dan membuat hati istrinya senang. Lalu sejatinya seorang perempuan adalah istri yang berbakti kepada Tuhan YME, berbakti kepada suaminya tidak berbeda dengan baktinya kepada Tuhan YME, tidak berbohong dan suci hatinya, serta perhatian terhadap suaminya. (pupuh III mijil bait ke 11 dan 12) Berikut ini penjabaran dari tugas atau kewajiban suami sejati yaitu: a. Kutipan:

priya kang among ing èstri (pupuh III mijil bait ke 11)

Terjemahan:

Laki-laki yang membimbing perempuan. (pupuh III mijil bait ke 11) Artinya suami yang dapat mendidik dan membimbing istri, pria yang berperan sebagai seorang kepala rumah tangga bertugas memberikan penjelasan dan pengarahan kepada sang istri dalam membina kehidupan rumah tangga dan mengasuh anak-anaknya.

b. Kutipan:

priya kang bisa ngayomi (pupuh III mijil bait ke 11)

Terjemahan:

Laki-laki yang bisa mengayomi (pupuh III mijil bait ke 11)

Artinya suami yang dapat mengayomi istri. Dalam hal ini seorang suami sebagi tempat perlindungan serta selalu menolong istrinya baik dalam keadaan suka maupun duka.

(32)

59

c. Kutipan:

priya kang karya sukèng kalbu (pupuh III mijil bait ke 11)

Terjemahan:

Laki-laki yang bisa membuat hati senang (pupuh III mijil bait ke 11) Artinya suami yang dapat menyenangkan hati istri. Seorang suami harus dapat membahagiakan hati istri dengan menyayangi serta mengasihi sang istri, serta membuat hatinya bersuka cita baik secara moril maupun fisik. (Estuningsih, 2010)

Berikut ini penjabaran dari tugas atau kewajiban istri sejati yaitu: a. Kutipan:

pawèstri kang bêkti Hyang Manon (pupuh III mijil bait ke 12)

Terjemahan:

Perempuan yang berbakti kepada Tuhan (pupuh III mijil

bait ke 12)

Artinya istri yang berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa. Seorang istri taat beribadah dan selalu memohon petunjuk kepada Tuhan YME dalam menjalankan kehidupan rumah tangganya, dengan melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya sesuai dengan agama dan keyakinan yang dianut.

b. Kutipan

pawèstri kang bêkti marang priya anggusti patrapé (pupuh III mijil bait ke 12)

(33)

60

Terjemahan:

Perempuan yang berbakti kepasa laki-laki (suami) seperti layaknya Berbakti kepada Tuhan. (pupuh III mijil bait ke 11) Artinya istri yang berbakti kepada sang suami, sama halnya ketika seorang istri berbakti kepada Tuhan YME. Seorang istri harus hormat dan memiliki sifat setia kepada sang suami, mematuhi dan menaati perintahnya dalam bergai keadaan. Hal tersebut tidak ubahnya dengan bakti seorang istri terhadap Tuhan YME.

c. Kutipan:

pawèstri ora cidra kang suci ing galih (pupuh III mijil bait ke 11)

Terjemahan:

Perempuan tidak berbohong yang suci hatinya (pupuh III mijil

bait ke 11)

Artinya istri yang tidak berbohong, selalu jujur serta suci hatinya. maksudnya seorang istri harus selalu tulus dan jujur dalam berbakti kepada sang suami.

d. Kutipan:

pawèstri gumati ngladèni marang kakungipun (pupuh III mijil bait ke 11)

Terjemahan:

Perempuan yang cekatan dalam melayani suaminya (pupuh III

(34)

61

Artinya istri yang dapat merawat, memberikan perhatian serta dapat melayani sang suami. Maksudnya seorang istri harus dapat mengetahui bagaimana caranya merawat diri sendiri, suami, maupun merawat anak-anaknya, dan selalu memperhatikan segala kebutuhan suami dan anak-anaknya, serta mengetahui bagaimana caranya dapat melayani suami baik secara moril maupun fisik. (Estuningsih,2010)

Ajaran sejatining lanang dan sejatining wadon dalam karya sastra

Serat Kresna Kembang Waosan Pakem ini terdapat pada pupuh III berupa tembang Mijil. Berikut ini disajikan data resepsi informan mengenai ajaran sejatining lanang dan sejatining wadon :

Informan memiliki beragam pendapat mengenai ajaran sejatining

lanang dan sejatining wadon dalam Serat Kresna Kembang Waosan Pakem.

Berikut pendapat-pendapat informan tentang ajaran tersebut : Kutipan:

Menurut saya perlu karena sekarang cowok eh pria sekarang tuh agak tidak paham mengenai sejatining pria ya kalau dari cerita di atas kan pria itu harus bisa menafkahi, melindungi, mengayomi, terus menjadi panutan istri, dan sabar. Hal itu sangat perlu dicontoh oleh pria-priya jaman sekarang karena pria jaman sekarang malah yang matre itu bukan cewek tapi malah pria itu sendiri, cari cewek yang harus gini-gini. Wanita sendiri ya seperti karya diataskan wanita itu memang harus taat kepada Tuhan Yang Maha Esa dan ketaatan itu, taatnya kepada pria itu harus sesuai dengan sama seperti patuh kepada Tuhan Yang Maha Esa, terus sabar dalam menghadapi suami tapi wanita itu juga harus berani, menurut saya wanita itu juga harus berani. Berani yang saya maksud adalah berani mengingatkan jika suami itu salah. (Kharisma P., 13 April 2016)

Informan di atas berpendapat bahwa ajaran seperti ini perlu karena si informan melihat realita banyak laki-laki yang menurutnya tidak paham mengenai sejatinya laki-laki yang harus menafkahi, melindungi, mengayomi,

(35)

62

menjadi panutan istri, dan sabar. Secara langsung informan membeberkan apa yang dianggapnya sebagai kwajiban seorang pria dalam berumah tangga. Menurutnya keadaan saat ini tidak lagi wanita yang matre tetapi si prialah yang matre dan terlalu menuntut kepada perempuan dalam berbagai bentuk.

Dapat disimpulkan informan dalam memahami ajaran ini, ia cerminkan langsung dengan apa yang ada di masyarakat kemudian membandingkannya. Selanjutnya penulis mengajukan pertanyaan tentang bagamanakah laki-laki yang bisa membimbing dalam rumah tangga, berikut jawaban Kharisma :

Kutipan:

Menurut saya lelaki yang bisa memberi rasa nyaman ya jadi kita tidak khawatir seumpama kita bakal hidup sama dia nggak perlu khawatir walaupun besok itu kita akan hidup susah tapi kan karena nyaman jadi susah itu hilang. Kenyamanan dulu. (Kharisma , 13 April 2016)

Informan menyampaikan satu kriteria sederhani tentang laki-laki yang menurutnya bisa mengayomi ialah laki-laki yang bisa memberi rasa nyaman, mampu menghilangkan segala rasa khawatir ketika kita memutuskan untuk dengan laki-laki itu. Menurutnya, bahkan ketika susah jika laki-laki mampu memberi rasa nyaman, susah atau musibah yang dialami itu terasa ringan atau hilang. Intinya kenyamanan yang menjadi prioritas utama.

Berbeda dengan Kharisma, informan berikutnya manjabarkan ajaran sejatining lanang dan sejatining wadon berdasarkan dua perbedaan pendapat

(36)

63

yang ditemukannya dalam karya sastra, yaitu pendapat antara Pandhita Drona dan Narayana.

Berikut tanggapan oleh Syafirilla :

Kalau mengomentari cerita yak an ada satu pertanyaan yang diajukan oleh Dewi Rukmini. Apasih sejatinya lanang dan sejatinya wadon? Terus kemudian dua orang menjawab yaitu Panditha Drona dan Narayana. Nah Pandhita Drona itu menjawab seperti kayu jati, ibaratnya kayu jati yang utuh dan yang memiliki lubang. Nah kemudian untuk yang Narayana itu menjawab bahawa laki-laki itu harus ysng bisa mengayomi, kemudian bisa menjaga seorang peremuan, nah untuk yang untuk perempuan sendiri itu sejatinya perempuan adalah berbakti kepada Tuhan dan juga kepada suaminya. Itu kalau menurut saya dua-duanya itu benar, ya pendapatnya antara Pandhita Drona dan Narayana tapi beda pendapat gitu lho. Kalau yang pendapatnya Drona itu lebih ke fisik, mungkin penggambaran secar fisik dan realitas gitu. Kalau yang pandangan jawaban Narayana itu lebih ke fisik lagi melainkan sifat batiniyah seorang laki-laki dan perempuan seperti itu. (Syafirilla Sari M, 19 April 2016)

Pendapat Syafirilla, berdasarkan apa yang diperolehnya dari membaca karya sastra Serat Kresna Kembang Waosan pakem bahwa dua pendapat antara Pandhita Drona dan Narayana itu sama-sama benar.

Tanggapan:

Kalau menurut saya mengarahkan dan membimbing istri itu lebih kepada bagaimana dia itu bisa berperan dalam statusnya. Kan dalam kehidupan ini, berumah tangga ya berarti, dalam kehidupan rumah tangga itu seorang istri kemudian seorang suami itu memiliki perannya masing kemudian juga tugasnya masing dan kwajibannya masing-masing. (Syafirilla Sari M, 19 April 2016)

Menurut Syafirilla yang dinamakan dengan mengarahkan dan membimbing itu lebih kepada peran dalam statusnya dalam kehidupan rumah tangga dimana ada tugas dan kwajiban masing-masing anggota keluarga. Pendapat berikutnya datang dari Siti Amanah sebagai berikut :

Sejatining lanang yang mampu menjadi imam yang baik mampu menuntun istrinya juga selain itu bisa memenuhi lahir dan batin, sejatining wadon

(37)

64

mampu berbakti kepada suami itu seperti dia bakti pada Tuhan yang dipaparkan disini selain itu juga sama bisa memenuhi kebutuhan lahir dan batin. (Siti Amanah, 27 April 2016)

Berdasarkan Siti Amanah, sejatining lanang ialah imam yang baik mampu menuntun istrinya dan juga bisa memberi nafkah lahir dan batin. Sejatining wadon menurut Siti Amanah adalah wanita yang berbakti kepada suami seperti berbakti kepada Tuhan dan bisa memenuhi kebutuhan lahir dan batin keluarganya. Lebih lanjut informan mengatakan naskah ini perlu disebarluaskan melihat kondisi sosial dan moral yang menurut informal dalam tahap miris atau kritis.

Kutipan tanggapan Siti Amanah:

Ya perlu banget soalnya ya kondisi sekarang ini miris kondisi soasialnya, moralnya seperti itu. (Siti Amanah, 27 April 2016)

Menanggapi tentang ajaran sejatining lanang dan sejatining wadon Purwanti memaparkan naskah ini berisikan bagaimana cara dan pentingnya memiliki pendamping hidup dengan ajaran utama sejatining lanang dan sejatining wadon. Ajaran yang sepengetahuannya telah dianggap kolot oleh generasi muda saat ini padahal ajaran ini mengandung suatu kebenaran bahwasannya seorang perempuan harus memenuhi kodratnya sebagai pendamping laki-laki dalam artian menjadi seorang istri yang kepribadiannya selalu menuruti keinginan suami dalam hal kebaikan, dan seorang laki-laki harus bisa memberikan perlindungan, pengayoman, dan keadilan bagi seorang istri. Fenomena sekarang banyak yang lebih mementingkan karir tetapi informan berharap walaupun karir itu penting tetap mempunyai kwajiban

(38)

65

untuk mendidik anak, mengasuh anak, dan menjaga kepercayaan agar keharmonisan rumah tangga tetap terjaga.

Berikut tanggapan Purwanti:

Naskah ini memang mengisahkan tentang gimana sih cara dan pentingnya memiliki pendamping hidup yang baik biar rumah tangganya romantis dengan ajaran utamaya yaitu sejatining lanang dan sejatining wadon . dalam budaya jawa sejak dahulu mungkin kalau generasi sekarang menganggapnya ajaran itu kolot tetapi memang benar bahwa seorang perempuan itu harusnya memenuhi kodratnya sebagai perempuan sebagai pendamping laki-laki terutama seorang istri itu harusnya menuruti keinginan laki atau suaminya dalam hal kebaikan, dan seorang laki-laki harus bisa memberikan perlindungan pengayoman dan keadilan bagi seorang istri. Ya mungkin kalau sekarang jaman sekarang wanita karir lebih penting tetapi ingat bahwa wanita karir sekalipun mempunyai kwajiban untuk mendidik anaknya, mengasuh anaknya dan menjaga kepercayaan suaminya agar rumah tangganya tetap berjalan harmonis.(Purwanti, 15 April 2016)

Selaras dengan Purwanti, Nila Purwani juga mengatakan kwajiban individu-indivdu dalam rumah tangga.

Berikut tanggapan yang diberikan Nila :

Kalau menurut saya, saya setuju dengan penjelasan tentang Narayana mengenai sejatining lanang dan sejatining wadon itu karena memang seperti itu kwajiban seorang istri selayaknya dalam rumah tangga ya seperti itu dan begitu juga dengan seorang suami harus membimbing dalam keluarga.(Nila Purwani, 20 April 2016)

Nila mengungkapkan bahwa penjabaran sejatining lanang dan

sejatining wadon sesuai yang diungkapkan Narayana merupakan kwajiban

seorang istri dan seorang suami dalam rumah tangga. Perilaku seorang istri harusnya sesuai dengan apa yang ditulis dalam ajaran tersebut, begitu pula seorang suami harus mampu membimbing keluarganya. Lebih lanjutnya

(39)

66

ketika diberi pertanyaan masih perlukah ajaran ini untuk dilestarikan, jawabannya sebagai berikut :

Kutipan:

Kalau saya masih perlu ini karena memang ajarannya kan baguss jadi kalau diterapkan pada era sekarangpun masih relevan masih sesuai, mungkin juga karena memang banyak kasus-kasus yang ada dalam keluarga mengenai perceraian dan sebagainya mungkin dengan ajaran-ajaran seperti ini bisa untuk menimalisir konflik-konflik permasalahan dalam rumah tangga. (Nila Purwani, 20 April 2016)

Menurutnya ajaran ini sangat perlu dilestarikan dan diterapkan, melihat bagaimana saat ini banyak kasus-kasus rumah tanggaseerti perceraian dan sebagainya. Ajaran ini dapat digunakan untuk mengurangi ataupun mencegah terjadinya konflik rumah tangga dengan mengetahui bagaimana individu-individu dalam rumah tangga itu bersikap.

Tanggapan Binti Nur K:

Kalau saya sangat setuju juga dengan apa yang disampaikan dalam naskah Kresna Kembang karena dalam agamapun ajaran agama juga disampaikan kalau laki-laki itu sebagai suami juga harus mengarahkan dan membimbing istrinya, melindungi dan membuat istrinya senang nah yang perempuan juga harus berbakti kepada Tuhan, berbakti kepada suami dan harus bersih hatinya nah itukan apa istilahnya menurut saya pribadi juga sangat-sangat bagus gitu lho dan ajaran agama pun di kehidupan sehari-hari juga begitu. (Binti Nur K, 27 April 2016)

Binti menganggap ajaran ini sesuai dengan ajararan agama yang dianutnya, menurutnya laki-laki sebagai suami itu juga harus mengarahkan dan membimbing istrinya, melindungi dan membuat istrinya senang. Begitu pula dengan seorang perempuan juga harus berbakti kepada Tuhan, berbakti kepada suami, dan harus bersih hatinya. Ajaran-ajaran seperti ini sangat bagus apabila diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

(40)

67

Kutipan:

Yang mengayomi ya yang seperti melindungi lah biasanya kan yang tidak lepas dari tanggungjawabnya sebagaimana suami itu tanggung jawabnya seperti apa, menafkahi lahir batin. (Binti Nur K, 27 April 2016)

Binti menambahkan yang disebut dengan mengayomi itu seperti melindungi dan tidak lepas dari tanggung jawab. Tanggung jawab suami itu juga termasuk memberi nafkah lahir dan batin.

Selanjutnya adalah tanggapan dari Kusuma:

Menurut saya ini sangat bagus karena memberikan ajaran sejatining lanang, bagaimanakah menjadi seorang laki-laki yang sesungguhnya dan menjadi sejatining wadon juga menjadi wanita yang sesungguhnya itu bagaimana. Sebagai laki-laki saya sangat setuju emang kwajiban laki-laki harus menjadi imam yang baik untuk istrinya dan keluarganya, anak-anaknya, dia itu harus menjadi pemimpin yang bagus atau yang baik dan itu akan menjai suri tauladan bagi anak-anaknya. Jadi laki-laki itu harus menjadi pemimpin keluarga itu yang adil, kalau dalam islam itu harus yang sholeh, untuk shalatnya itu harus juga. Jadi pemimpin sesungguhnya itu harus yang apa-apa itu serba yang baik.

Ya menurut saya tidak salah menjadi wanita karir tapi dia juga harus ingat dia itu kodratnya adalah sebagai wanita dan nantinya harus menjai ibu. Jadi dia itu harus seimbang antara mengurus karirnya dan mengurus keluarganya karena memang kodratnya wanita itu nantinya akan menjadi seorang ibu dan mengurus rumah tangga. Kalau pilihan dia menjadi wanita karir itu juga tidak karena emang kan setelah terjadinya emansipasi wanita kan wanita bisa bekerja, maksunya derajatnya sama seperti laki-laki. Tapi wanita itu tidak bisa melawan kodratnya sebagai seorang wanita itu sendiri an sebagai seorang ibu. Jadi kalau wanita karir di juga harus mengimbangi bisa mengurus rumah tangganya dengan baik seperti itu.

Menurut saya ini sangat bermanfaat sekali ya karya sastra ini,. Contohnya Kresna Kembang ini kan karena emang untuk jaman sekarang ini banyak terdapat kekerasan dalam rumah tangga karena emang nggak tau tentang ajaran kalau mereka itu membaca ini pasti mereka tahu bagaimana sejatinya seorang laki-laki itu harus bersikap bagaimana menjadi seorang peminpin. Mungkin karena sudah tergerus jaman jadinya banyak terpengaruh budaya-budaya luar akhirnya mereka itu menjadi kekerasan rumah tangga seperti ini. Seharusnya emang kalau ingin belajar itu membaca karya sastra lama. Terus kalau untuk perempuan menurut saya itu seharusnya mereka juga tahu ya menjadi perempuan itu

(41)

68

bagaimana tapi kalau perempuan sekarang itukan kadang-kadang melupakan kodratnya sebagai wanita, mereka malah sibuk bekerja kadang-kadang anaknya itu udah kaya terlantar nggak diurusin, nggak banyak diawasin orang tua, jarang mendiik anak kadang-kadang malah anaknya itu diberikan kepada babysitter atau dititipkan neneknya seperti itu. Mereka itu sibuk dengan pekerjaan dan mereka itu melupakan sebagai seorang istri jadinya menurut saya sebaiknya generasi sekarang itu marilah kita membaca karya sastra Jawa karena karya sastra Jawa banyak sekali mengandung ajaran-ajaran norma-norma untuk kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. (Kusuma Wardana, 20 April 2016)

Kusuma memberi penjelasan tentang sejatining lanang dan sejatining wadon lebih pada ajaran ini dikaitkan dengan kwajiban dalam rumah tangga. Suami atau laki-laki dianggap harus menjadi pemimpin yang baik sesuai dengan ajaran agama yang diyakini. Kusuma juga merelevansikan apa yang ada di dalam naskah dengan kehidupan nyata dimana banyak fenomena-fenomena rumah tangga yang terjadi, misalkan wanita karir yang kadang meninggalkan tugasnya sebagai ibu rumah tangga, pengaruh budaya luar yang menyebabkan adanya kekerasaan, kesibukan orang tua yang membuat anaknya tidak terurus kehidupannya.

Sejalan dengan Binti, Anita Retno juga menjabarkan sejatining lanang dan sejatining wadon melihat dari ajaran agama yang dianutnya.

Berikut pemaparan dari Anita :

Seperti yang saya ungkapkan tadi, seorang suami itu harus mengarahkan dan membimbing istrinya apalagi mengayomi dan yang paling penting itu membuat istrinya senang. Kalau saya berlandaskan islam jadi kalau mengarahkan dan membimbing itu mungkin dari segi keagamaan dia dapat membimbing kita untuk jadi lebih baik, kemudian melaksanakan shalat, pokoknya yang berhubungan dengan yang berhubungan dengan Tuhan. Kalau mengayomi dia bisa memberikan rasa aman untuk kita. Kalau konsep suami istri itu biasanya workshop, suami yang work kita yang shopping.(Anita Retno M, 18 Mei 2016)

(42)

69

Informan di atas mengungkapkan sejatining lanang dan sejatining wadon apa yang seperti diungkapkan dalam karya sastra Serat Kresna Kembang Waosan Pakem. Berdasarkan pada keyakinan yang dianutnya, yang disebut dengan mengarahkan dan membimbing itu dapat membimbing kita menjadi lebih baik, melaksanakan kwajiban agama dan yang berhubungan dengan Tuhan. Kriteria mengayomi menurutnya bisa memberikan rasa aman untuk kita, konsep suami istri yang diinginkannya ialah suami yang bekerja untuk kebutuhan rumah tangganya dan istri membelanjakan hasil kerja suami untuk keperluan rumah tangganya, yang artinya adanya tanggung jawab dari kedua belah pihak.

Anita juga menjelasakan istri yang baik dalam rumah tangga seperti berbakti kepada Tuhan itu sebagai hasil bimbingan atau pengarahan dari suami, tidak berbohong berusaha terbuka, suci hatinya, hamper sama dengan suami hanya saja dalam kapasitas yang berbeda.

Berikut apa yang diungkapkan Anita Retno:

Kalau untuk sejatinya perempuan istri yang berbakti kepada Tuhan itu hasil dari bimbingan atau pengarahan dari suami tadi sehingga menjadi istri yang berbakti kepada suami layaknya berbakti kepada Tuhan kemudian tidak berbohong, suci hati, perhatian, hampir sama cuma porsinya yang berbeda.Saya sangat setuju dengan apa yang diutarakan dalam naskah dan sangat perlu untuk dishare, soalnya kurang kan nasihat-nasihat jaman dulu dilupakan jadi adanya naskah ini serat ini, dan adanya nasehat yang ada disini juga perlu dipublikasikan ke masyarakat luas supaya dapat menjadi pelajaran bagi mereka yang akan berumah tangga ataupun yang sudah berumah tangga. (Anita Retno, 18 Mei 2016)

Anita menambahkan apa yang ada ada di dalam naskah ini perlu dibagikan kepada masyarakat luas karena di masyarakat pepatah-pepatah

(43)

70

jaman dulu masih sering dilupakan dan dengan di publisasikan ke masyarakat dapat menjadi pelajaran untuk mereka yang akan atau telah berumah tangga.

Pendapat selanjutnya datang dari Veris Doni yang menjelaskan sejatining lanang dan sejatining wadon berdasarkan dua persepektif yaitu sebagai pasangan suami istri dan muda-mudi.

Berikut tanggapan Veris Doni:

Menurut saya sejatining lanang sejatining wadon ini ya apa itu seperti kalau keluarga sejatining lanang juga harus memimpin keluarga dengan baik kemudian menasehatinya dengan baik, tidak keras kepala sendiri sebagai kepala keluarga. Contohnya kemudian membimbing anaknya pada saat shalat, pada saat mengaji, sinau, belajar diingatkanlah dibimbinglah, diajaklah. Ajak dengan halus bagaimana caranya supaya anaknya, istrinya itu kejalan yang baik. Oh, ini nggak baik harusnya gini tetapi mengingatkan dengan bahasa yang sopan dan yang santun. Sejatining lanang ya seperti itu menurut saya, dan sebagai kepala keluarga ya harus menafkahi. Sejatining lanang untuk para pemuda itukan harusnya banyak mencari ilmu dan bertindak yang baik, kalau dijaman dulu kana da istilah sapa nandur bakal ngunduh. Kalau pemudanya sekarang baik-baik insyaalah ke depannya akan ngunduh atau akan menuai hasilnya juga, baik nanti walaupun sekarang belum nampak insyaallah nanti pas saat keluarga pas saat itu insyaallah hasilnya akan datang sendiri.(Veris Doni L, 13 Mei 2016)

Sejatining lanang menurut Veris Doni dalam konteks keluaraga atau

suami harus bisa memimpin keluarga dengan baik, memberikan nasehat-nasehat yang baik, tidak keras kepala ketika masalah menghampiri rumah tangganya. Hal lain yang harus dilakukan suami sebagai kepala keluarga seperti membimbing anaknya melaksanakan kwajiban agama, mengajaknya secara halus, mengingatkan dengan bahasa yang sopan apa yang harus dilakukan anggota keluarganya., selain itu juga harus memberi nafkah.

Sejatining lanang untuk konteks remaja harusnya menjadi pemuda yang

(44)

71

hasilnya nanti ketika dia berumah tangga, mungkin tidak saat itu juga manfaat atau timbal baliknya ada tapi mungkin pada masa-masa selanjutnya.

Kutipan:

Untuk sejatining wadon untuk perempuan. Perempuan itu kan sebagai kalau keluarga kan pasangan yang harus bisa mensuport, bisa memberi, saling kepada keluarga saling memberi ya masukan, memberi bimbingan kepada anaknya. Sejatining wadon itu kan harus bagaimana ya? Kalau wadon itu harusnya ya seperti orang perempuan yang harus sopan santun gitulah intinya. (Veris Doni L, 13 Mei 2016)

Untuk sejatining wadon, perempuan dalam keluarga itu sebagai pasangan suami harus bisa memberi dukungan, saling memberi masukan, saling memberi bimbingan kepada anak. Sejatining wadon ya seorang perempuan itu harus bertingkah sopan dan santun. Selanjutnya Informan 9 memberikan ulasan perlunya ajaran ini.

Berikut kutipan pendapat dari Veris Doni:

Perlu, karena apa? Banyak malah anak-anak muda sekarang itu kan sejatining lanang sejatining wadon itukan hilang karena globalisasi masuk budaya-budaya luar. Budaya-budaya luar masuk sehingga memasuki sejatine orang Indonesia, kan orangnya baik-baik, sopan santun masuk budaya luarcontoh minuman, contoh kenakalan remaja, tawuran itukan budaya luar yang masuk kedalam di negara ini, harusnya itu kita perlu disampaikn kepada kalangan-kalangan muda. Perlu juga tingkatan SD, tingkatan SMP perlu diberkan suatu eskstra atau tambahan pelajaran atau waktu yang mengangkat nilai-nilai moral, nilai-nilai sopan santun, nilai-nilai kebaikan sehingga nanti pertumbuhan, perkembangan anak itu oh dia baik terhadap sesama manusia , orang tuanya, baik terhadap ibunya. Itu kan perlu juga di SD dan SMP dikasihkan suatu tambahan waktu mengenai pendidikan tentang moral karena moral sekarang menurun. (Veris Doni L, 13 Mei 2016)

Ajaran ini dianggap perlu karena Veris Doni melihat banyak anak-anak muda saat ini hilang kepribadiannya karena arus globalisasi dimana masuknya budaya-budaya luar yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia. Contoh-contoh dampak negatif dari globalisasi disampaikan oleh

(45)

72

Veris adalah kenakalan remaja seperti tawuran. Perlu juga di tingat pendidikan dasar dan pendidikan menengah diberi tambahan pelajaran tentang nilai-nilai moral, nilai-nilai sopan santun, dan nilai-nilai kebaikan. Hal ini perlu dilakukan agar perkembangan menjadi pribadi yang baik kepada sesama dan orang tuanya dan melihat menurunnya moral generasi muda saat ini.

Tanggapan terakhir dari Ghonimatul Badriyah yang mengatakan sebagai berikut:

Menurut saya perlu dilestarikan. Mengapa? Karena kita kan sudah melihat bahwa di era sekarang banyak orang yang tidak mengetahui tentang wayang, bahasa wayang, dan juga kurang minat kalau ada pesta rakyat wayangan kaya di UNS sendiri itu. Jadi kita perlu mengembangkan bagaimana menambah daya tarik bagaimana wayang tersebut bisa menjadi nilai plus masyarakat dan semuanya juga menyukainya.Menurut saya yang sejatining lanang dan sejatining wadon itu saya sependapat dengan Kresna. Mengapa? Karena sebagai seorang laki-laki yang akan mempersunting perempuan harus memiliki apa ya membimbing istri, mengayomi, dan juga tanggung jawab kepada istrinya, nah itu perlulah sesuai dengan keadaan sekarang juga. Nah yang dari seginya istri, sisi perempuan itu harus manut kepada laki-laki sesuai dengan ajaran islam. (Ghonimatul B, 19 April 2016)

Menurut Ghonimatul karya sastra ini perlu dilestarikan mengingat sudah berkurangnya masyarakat yang mengetahui tentang wayang, bahkan di kampus UNS yang berada di Surakarta sebagai pusat budaya Jawa pesta rakyat wayangan masih kurang diminati. Untuk sejatining lanang dan sejatining wadon informan 10 sependapat dengan apa yang dijelaskan oleh Narayana dalam karya sastra. Sebagai laki-lakiyang akan mempersunting wanita harus bisa membimbing, mengayomi, dan tanggung jawab, dan itu sangat perlu dilakukan. Seorang perempuan juga harus patuh kepada laki-laki yang menjadi suaminya.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan Peraturan Bupati Nomor 73 Tahun 2016 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi serta Tata Kerja, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten

Pada bab ini menjelaskan mengenai latar belakang permasalahan yang menjadi dasar untuk membuat suatu rancangn usulan perbaikan pada proses produksi gitar akustik

PERANAN BRIZZI DALAM TRANSAKSI BELANJA BAGI PARA NASABAH PADA PT.BANK RAKYAT INDONESIA

Gejala pneumonia meliputi nafas cepat atau sulit bernapas, batuk, demam, menggigil, kehilangan nafsu makan, mengi (lebih sering terjadi pada infeksi virus) pada pneumonia

3. pemantauan, evaluasi, dan pelaporan penelitian dan pengembangan kesehatan di bidang sumber daya dan pelayanan kesehatan; dan 4. pelaksanaan administrasi Pusat. Indikator

Parfum Laundry Lombok Barat Beli di Toko, Agen, Distributor Surga Pewangi Laundry Terdekat/ Dikirim dari Pabrik BERIKUT INI PANGSA PASAR PRODUK NYA:.. Chemical Untuk kebutuhan

Hasil pengujian tersebut menyatakan bahwa variabel ukuran perusahaan tidak mampu memoderasi pengaruh financial leverage pada praktik perataan laba sehingga dapat

Tugas Akhir ini dikhususkan untuk membahas masalah pembebanan-pembebanan yang terjadi pada struktur atas jembatan, menghitung jumlah tendon dan kabel strands serta