• Tidak ada hasil yang ditemukan

Resepsi Ajaran Sejatining Lanang Dan Sejatining Wadon

Teori Sruktural Roman Ingarden

2. Resepsi Ajaran Sejatining Lanang Dan Sejatining Wadon

Berdasarkan pengumpulan data melalui wawancara diperoleh penilaian terhadap informan yang menangkap ajaran tentang sejatining lanang dan sejatining wadon dalam Serat Kresna Kembang Waosan Pakem. Mahasiswa Sastra Daerah angkatan 2012 dan 2013 mampu menangkap apa yang terkandung di dalam ajaran sejatining lanang dan sejatining wadon yang

136

terdapat dalam karya sastra ini. Seluruh informan memberikan penilaian yang alasan atau pemaparan yang berbeda. Informan menangkap apa yang dimaksudkan dalam ajaran ini dan merelevansikan ke kehidupan nyata tentang pentingnya ajaran dan maksud dari ajaran tersebut. Ajaran sejatining lanang dan sejatining wadon dalam karya sastra ini dapat dijadikan pedoman pendidikan bagi mereka yang akan dan telah berumah tangga, ajaran ini menunjukkan bagaimana individu dalam keluarga (dalam hal ini pihak laki-laki dan pihak perempuan) seharusnya bersikap, bagaiman kwajiban laki-laki-laki-laki dan kwajiban perempuan dalam kehidupan rumah tangga. Berikut ini pemaparan informan yang mendukung pernyataan penulis:

Kutipan:

Kalau mengomentari cerita yak an ada satu pertanyaan yang diajukan oleh Dewi Rukmini. Apasih sejatinya lanang dan sejatinya wadon? Terus kemudian dua orang menjawab yaitu Panditha Drona dan Narayana. Nah Pandhita Drona itu menjawab seperti kayu jati, ibaratnya kayu jati yang utuh dan yang memiliki lubang. Nah kemudian untuk yang Narayana itu menjawab bahawa laki-laki itu harus ysng bisa mengayomi, kemudian bisa menjaga seorang peremuan, nah untuk yang untuk perempuan sendiri itu sejatinya perempuan adalah berbakti kepada Tuhan dan juga kepada suaminya. Itu kalau menurut saya dua-duanya itu benar, ya pendapatnya antara Pandhita Drona dan Narayana tapi beda pendapat gitu lho. Kalau yang pendapatnya Drona itu lebih ke fisik, mungkin penggambaran secar fisik dan realitas gitu. Kalau yang pandangan jawaban Narayana itu lebih ke fisik lagi melainkan sifat batiniyah seorang laki-laki dan perempuan seperti itu. Kalau menurut saya mengarahkan dan membimbing istri itu lebih kepada bagaimana dia itu bisa berperan dalam statusnya. Kan dalam kehidupan ini, berumah tangga ya berarti, dalam kehidupan rumah tangga itu seorang istri kemudian seorang suami itu memiliki perannya masing-masing kemudian juga tugasnya masing-masing dan kwajibannya masing-masing. (Syafirilla Sari M, 19 April 2016)

137

Pendapat Syafirilla, berdasarkan apa yang diperolehnya dari membaca karya sastra Serat Kresna Kembang Waosan pakem bahwa dua pendapat antara Pandhita Drona dan Narayana itu sama-sama benar.

Kutipan:

Naskah ini memang mengisahkan tentang gimana sih cara dan pentingnya memiliki pendamping hidup yang baik biar rumah tangganya romantis dengan ajaran utamaya yaitu sejatining lanang dan sejatining wadon . dalam budaya jawa sejak dahulu mungkin kalau generasi sekarang menganggapnya ajaran itu kolot tetapi memang benar bahwa seorang perempuan itu harusnya memenuhi kodratnya sebagai perempuan sebagai pendamping laki-laki terutama seorang istri itu harusnya menuruti keinginan laki-laki atau suaminya dalam hal kebaikan, dan seorang laki-laki harus bisa memberikan perlindungan pengayoman dan keadilan bagi seorang istri. Ya mungkin kalau sekarang jaman sekarang wanita karir lebih penting tetapi ingat bahwa wanita karir sekalipun mempunyai kwajiban untuk mendidik anaknya, mengasuh anaknya dan menjaga kepercayaan suaminya agar rumah tangganya tetap berjalan harmonis.(Purwanti, 15 April 2016)

Purwanti memaparkan naskah ini berisikan bagaimana cara dan pentingnya memiliki pendamping hidup dengan ajaran utama sejatining lanang dan sejatining wadon.

Kutipan:

Menurut saya ini sangat bagus karena memberikan ajaran sejatining lanang, bagaimanakah menjadi seorang laki-laki yang sesungguhnya dan menjadi sejatining wadon juga menjadi wanita yang sesungguhnya itu bagaimana. Sebagai laki-laki saya sangat setuju emang kwajiban laki-laki harus menjadi imam yang baik untuk istrinya dan keluarganya, anak-anaknya, dia itu harus menjadi pemimpin yang bagus atau yang baik dan itu akan menjai suri tauladan bagi anak-anaknya. Jadi laki-laki itu harus menjadi pemimpin keluarga itu yang adil, kalau dalam islam itu harus yang sholeh, untuk shalatnya itu harus juga. Jadi pemimpin sesungguhnya itu harus yang apa-apa itu serba yang baik.

Ya menurut saya tidak salah menjadi wanita karir tapi dia juga harus ingat dia itu kodratnya adalah sebagai wanita dan nantinya

138

harus menjai ibu. Jadi dia itu harus seimbang antara mengurus karirnya dan mengurus keluarganya karena memang kodratnya wanita itu nantinya akan menjadi seorang ibu dan mengurus rumah tangga. Kalau pilihan dia menjadi wanita karir itu juga tidak karena emang kan setelah terjadinya emansipasi wanita kan wanita bisa bekerja, maksunya derajatnya sama seperti laki-laki. Tapi wanita itu tidak bisa melawan kodratnya sebagai seorang wanita itu sendiri an sebagai seorang ibu. Jadi kalau wanita karir di juga harus mengimbangi bisa mengurus rumah tangganya dengan baik seperti itu. (Kusuma W, 20 April 2016)

Kusuma memberi penjelasan tentang sejatining lanang dan sejatining wadon lebih pada ajaran ini dikaitkan dengan kwajiban dalam rumah tangga. Suami atau laki-laki dianggap harus menjadi pemimpin yang baik sesuai dengan ajaran agama yang diyakini

Kutipan:

Menurut saya sejatining lanang sejatining wadon ini ya apa itu seperti kalau keluarga sejatining lanang juga harus memimpin keluarga dengan baik kemudian menasehatinya dengan baik, tidak keras kepala sendiri sebagai kepala keluarga. Contohnya kemudian membimbing anaknya pada saat shalat, pada saat mengaji, sinau, belajar diingatkanlah dibimbinglah, diajaklah. Ajak dengan halus bagaimana caranya supaya anaknya, istrinya itu kejalan yang baik. Oh, ini nggak baik harusnya gini tetapi mengingatkan dengan bahasa yang sopan dan yang santun. Sejatining lanang ya seperti itu menurut saya, dan sebagai kepala keluarga ya harus menafkahi. Sejatining lanang untuk para pemuda itukan harusnya banyak mencari ilmu dan bertindak yang baik, kalau dijaman dulu kana da istilah sapa nandur bakal ngunduh. Kalau pemudanya sekarang baik-baik insyaalah ke depannya akan ngunduh atau akan menuai hasilnya juga, baik nanti walaupun sekarang belum nampak insyaallah nanti pas saat keluarga pas saat itu insyaallah hasilnya akan datang sendiri. Untuk sejatining wadon untuk perempuan. Perempuan itu kan sebagai kalau keluarga kan pasangan yang harus bisa mensuport, bisa memberi, saling kepada keluarga saling memberi ya masukan, memberi bimbingan kepada anaknya. Sejatining wadon itu kan harus bagaimana ya? Kalau wadon itu harusnya ya seperti orang perempuan yang harus sopan santun gitulah intinya.(Veris Doni L, 13 Mei 2016)

139

Sejatining lanang menurut Veris Doni dalam konteks keluaraga atau

suami harus bisa memimpin keluarga dengan baik, memberikan nasehat-nasehat yang baik, tidak keras kepala ketika masalah menghampiri rumah tangganya. Untuk sejatining wadon, perempuan dalam keluarga itu sebagai pasangan suami harus bisa memberi dukungan, saling memberi masukan, saling memberi bimbingan kepada anak. Sejatining wadon ya seorang perempuan itu harus bertingkah sopan dan santun.

Perbedaan pendapat terlihat jelas dari apa yang diungkapkan informan di atas. Syafirilla dan Purwanti selaku seorang perempuan memandangnya lebih pada sisi perempuan, dimana Syafirilla melihat apa maksud dari Rukmini meminta syarat ajaran sejatining lanang dan sejatining wadon, sementara itu Purwanti lebih pada tugas seorang suami dan istri. Purwanti juga lebih menekankan pada sisi perempuan yang seorang wanita karir itu diperbolehkan dengan syarat tetap memenuhi kodratnya sebagai seorang istri.

Kusuma dan Veris sebagai seorang laki-laki juga memberikan pengertian berbeda. Kusuma memberikan penjelasan tentang satu presepsi mengenai sejatining lanang dan sejatining wadon yaitu kwajiban laki-laki dan perempuan dalam rumah tangga. Veris memberikan penjabaran sejatining

lanang dan sejatining wadon pada dua aspek berbeda yaitu lelaki dan wanita

dalam aspek sebagai suami istri sebuah rumah tangga dan laki-laki serta perempuan sebagai seorang remaja di lingkungan masyarakat.