TEMUAN DAN ANALISIS
C. KONTROL MAHASANTRI DALAM ORGANISASI
1. Keterlibatan Mahasantri Dalam Keanggotaan dan Posisi Struktural
Dalam konteks ketimpangan relasi gender dalam aspek kontrol ini, penulis ingin
melihat keseluruhan mahasantri FKMSB dari beberapa tahun terahir ini, baik dalam
jumlah keterlibatan keanggotaan maupun dalam posisi strategis distruktur kepengurusan.
Tentunya dominasi diantara keduanya akan sangat berdampak pada pengambilan
keputusan dan berpengaruh juga pada siapa yang paling punya power dalam menentukan
kebijakan. Berikut data keanggotaan dan beberapa posisi dalam struktur kepengurusan
dalam tiga tahun terahir.
Tabel.III.C.I. Keanggotaan dan Keterlibatan Mahasantri Dalam Posisi Struktural
NO TAHUN Jumlah Keanggotaan Keterlibatan Dalam Struktural Keterlibatan Dalam Posisi Ketua Keterlibatan Dalam Posisi Wakil Keterlibatan Dalam Posisi Sekretaris Keterlibatan Dalam Posisi Bendahara La k i-la k i P er emp u an La k i-la k i P er emp u an La k i-la k i P er ep u an La k i-la k i P er emp u an La k i-la k i P er ep u an La k i-la k i P er emp u an 1. 2014/2015 83 31 20 7 1 0 1 0 1 0 1 0 2. 2013/2014 74 29 18 7 1 0 1 0 1 0 1 0 3. 2012/2013 65 24 15 6 1 0 1 0 1 0 1 0 4. 2011/2012 1 0 1 0 0 1 0 1
71
Dari tabel ini bisa terlihat bahwa anggota laki-laki lebih dominan pada jumlah
keanggotaan maupun dalam posisi struktural. Namun berdasarkan presentase jumlah
keanggotaan dari tahun 2012-2013 sampai 2014-2015 dapat dikatakan keterlibatan
perempuan dalam struktural mengalami peningkatan. Dan pada tahun 2014/2015
ternyata dari 83 anggota laki-laki hampir 40% terlibat dalam struktural, Sedangkan dari
31 anggota perempuan hampir 25% terlibat dalam struktur, presantase ini sudah cukup
dikatakan seimbang dan proporsinal mengingat jumlah keanggotaan laki-laki jauh lebih
banyak daripada anggota perempuan yang kemudian menyebabkan anggota perempuan
lebih sedikit mendapatkan posisi dalam struktural.
Namun yang tetap menarik disisi lain adalah keterlibatan perempuan dalam
mendapatkan posisi yang lebih strategis dalam struktur. Hal ini masih sejalan dengan
data-data sebelumnya bahwa anggota perempuan lebih sedikit mendapatkan posisi
strategis di struktural. Berdasarkan hasil temuan data diatas menunjukkan bahwa, tak
ada satupun perempuan yang pernah mengisi posisi ketua ataupun wakil, dan pada
posisi sekretaris dan bendahara hanya sekali dan itupun pada periode 2011-2012 tiga
tahun yang lalu. Pada konteks ini secara jelas anggota perempuan selalu mendapatkan
posisi yang tidak strategis, sedangkan sebaliknya anggota laki-laki mendapatkan posisi
yang strategis.
Dalam struktur organisasi tentunya posisi yang lebih strategis ini sangat
berpengaruh pada siapa yang mempunyai kontrol dan power, semua kebijakan akan
lahir dari elit organisasi ini. Dan kurangnya keterlibatan perempuan dalam konteks ini
akan sangat merugikan. Terlebih dalam menentukan suatu kebijakan terkadang
perempuan kurang dihiraukan, kurang mendapatkan informasi, bahkan dalam
program-program tertentu seringkali tidak dilibatkan. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian
72
perhelatannya tak pernah sekalipun anggota perempuan diikutkan. Dan masih banyak
lagi dalam beberapa kegiatan yang lain anggota perempuan kurang dilibatkan. Dan
kebenaran ini diakui oleh beberapa informan perempuan
Jarang dilibatkan,,, kadang ngadain acara aja kita tidak tau, dan parahnya lagi taunya dari orang lain bukan dari kelompok kita maksudnya, ini kan aneh masak organisasi kita yang tau programnya malah orang lain. Ia mungkin ada benarnya juga karena dominasi laki-laki, Saya sih sampe beranggapan organisasi ini emang mau diurus oleh laki-laki saja ya... (Wawancara pribadi dengan IM, Jakarta, 21 Maret 2015 19:00)
Dilibatkan sih iya... kan biasanya dibicarakan dalam forum atau rapat gitu... Cuma kurang diberdayakan menurut saya, dalam forum itu kan lebih banyak laki-laki... wajarlah kalau hampir semua kebijakan itu lahir dari laki-laki. Ahirnya Perempuan ikut-ikut aja. kan biar kompak!? (Wawancara pribadi dengan MZ, Jakarta, 26 Maret 2015 17:30).
Salah satu informan mengatakan bahwa, ketika suatu kebijakan selalu
menegedepankan laki-laki saja hal itu tentunnya sudah sangat merugikan perempuan.
Yang jelas ketika dalam suatu kebijakan cuma lebih mengedepankan laki-laki itu sudah merugikan perempuan. Biasanaya kalau ngadain sosialisasi ke pesantren di madura belum pernah FKMSB itu mengutus perempuan, setiap tahun selalu anggota laki-laki (Wawancara pribadi dengan MZ, Jakarta, 26 Maret 2015 17:30)
Hal ini semakin menegaskan bahwa dominasi laki-laki dalam aspek kontrol ini
sangat kental bahwa laki-laki lebih punya otoritas dan sebagai anggota yang lebih
dominan serta sebagai elit organisasi, tentunya dengan posisi tersebut anggota laki-laki
lebih mempuyai otoritas terlebih dalam menentukan suatu kebijakan yang pada
akhirnya akan sangat menguntungkan kelompok mayoritas saja, Menurut Kamla
Bashim (1996: 1) Dominasi laki-laki dalam sebuah kelompok akan sangat
mempengaruhi terhadap pengambilan keputusan dimana selama ini laki-laki selalu
menempati di garis terdepan dan selalu menduduki posisi superior. Sedangkan disisi
lain perempuan senantiasa menjadi sosok yang tersubordinasidan inferior sehingga
73 2. Kontrol Mahasantri Dalam Relasi Organisasi
Dalam suatu organisasi seharusnya relasi antara laki-laki dan perempuan
tercipta suatu hubungan yang harmonis dan saling mendukung satu sama lain. Dari
berbagai ketimpangan yang kemudian menjelaskan adanya kontrol yang kuat dari
laki-laki terlihat dominasi laki-laki-laki-laki dalam setiap lini. Sehingga membuat perempuan lebih
inferior dari anggota laki-laki.
Dalam konteks kontrol mahasantri dalam relasi organisasi ini, ternyata
ditemukan beberapa arahan dan campur tangan keluarga pesantren ( Neng : Putri kiayi)
yang seringkali secara tidak langsung melarang anggota perempuan untuk tidak terlalu
bergabung dengan para anggota laki-laki dalam organisasi. Bahkan dalam beberapa
pertemuan, menurut salah satu informan yang tak ingin disebutkan identitasnya
menyatakan bahwa, Neng seringkali menginstruksikan supaya menggunakan tabir
dalam setiap acara FKMSB.
Salah satu instruksi yang sering Neng tekankan adalah menghadirkan tabir dalam setiap rapat dan pada pertemuan-pertemuan FKMSB. yah... mungkin biar lebih terjaga aja hubungan antara Ikhwan dan Akhwat (Wawancara pribadi dengan X, Jakarta 14, April 2015).
Salah satu informan perempuan yang lain juga menuturkan
Pernah suatu hari ada rapat yang melibatkan anggota perempuan dan laki-laki dan saat itu tidak menggunakan tabir, keesokan harinya mereka dilarang mengikuti kegiatan lagi, dan mengancam pula untuk membentuk organisasi khusus perempuan, yang terpisah secara struktur organisasi (Wawancara pribadi dengan X, Mampang, 23 Maret 2015)
Namun demikian, menurut beberapa informan anggota yang dekat dengan Neng
seperti HB (Mantan Kordinator Akhwat FKMSB Jabodeabek) ahirnya mampu
menegosiasikan hal ini dengan Neng sehingga ancaman itu ahirnya tidak terjadi. Dan
akhirnya kontrol yang mereka punyai dan jalankan lebih banyak berperan dalam
konteks domestik perempuan itu sendiri. Seperti memposisikan dirinya dalam seksi
74
perempuan dalam mendapatkan akses dan partisipasi anggota perempuan dalam proses
berorganisasi secara demokratis dan profesional. Sehingga dalam relasinyapun
berdampak pada kontrol perempuan dalam relasi organisasi yang kurang harmonis
karna disatu sisi ada yang mendukung arahan ataupun instruksi tersebut, dan disisi lain
malah tidak meresponnya. sehingga tidak mengherankan jika anggota perempuan
maupun anggota laki-laki sampai detik ini terkesan kurang harmonis dan kurang
kompak dalam relasi organisasi.
Padahal kalau mengkaji lebih dalam di Al-Qur’an sendiri sebagai pegangan
umat Islam khususnya kaum santri, di samping Al-Hadits, menegaskan bahwa
laki-laki dan perempuan memiliki kapasitas yang sama, baik kapasitas moral, spiritual,
maupun intelektual. Dalam penyampaian pesannya, Al-Qur’an seringkali menggunakan ungkapan “laki-laki dan perempuan beriman” sebagai bukti pengakuannya terhadap kesetaraan hak dan kewajiban mereka. Dalam hal
kewajiban agama, Al-Qur’an juga tidak menunjukkan beban yang berbeda kepada keduanya. Prinsip kesetaraan tersebut dimaksudkan untuk membentuk hubungan
yang harmonis antara keduanya (Ali Munhanif, 2002: xxvi).
Dari data tersebut bisa ditarik kesimpulan bahwa melemahnya kontrol ini tidak
hanya karena dominasi laki-laki dalam struktur ataupun dalam keanggotaan, melainkan
juga adanya campur tangan dan instruksi keluarga pesantren yakni Neng, yang
kemudian lebih banyak mengarahkan untuk tidak teralalu berinteraksi dalam proses
berorganisasi, sehingga relasi antara keduanyapun kurang harmonis dan anggota
perempuan tidak banyak ikut serta membangun dan mengambil kesempatan untuk
terlibat lebih aktif dalam organisasi ini. Dan yang Kedua, budaya patriarkhi yang masih
kental bahwa anggota laki-laki selalu menduduki posisi paling depan, sehingga
75
lebih dominan dalam pekerjaan yang bersifat domestik. Budaya patriarkhi ini juga
mempengaruhi kondisi hubungan perempuan dan laki-laki, yang pada ahirnnya
memperlihatkan hubungan subordinasi, hubungan atas-bawah dengan menunjukkan
dominasi anggota laki-laki dalam setiap lini.
Dari data tersebut tampak dominasi anggota laki-laki sebagai sosok yang
mempunyai kontrol yang akan selalu memberikan perlakuan kurang adil sehingga
perempuan sebagai kelompok minoritas lebih mudah ditindas dan lebih sering
mengalami penderitaan karena tekanan oleh pihak mayoritas, dan hubungan antara
keduanyapun sering menimbulkan konflik yang ditandai oleh sikap subyektif seperti
prasangka dan tingkah laku yang tak bersahabat (Schwingenschlogl, 2007: 32)
Sebagai data yang masih bisa digali lebih dalam, kemudian penulis juga sempat
menanyakan ke beberapa informan sehubungan dengan instruksi Neng yang
menganjurkan penggunaan tabir dan selalu menyarankan perempuan untuk selalu
menjaga diri dan membatasi interaksi dengan laki-laki dalam relasi organisasi dalam
kegiatan FKMSB. Hal ini tergambar jelas bahwa hampir semua informan tidak setuju
dengan instruksi tersebut. Seperti pada tabel berikut :
Tabel III.C.II.Beberapa Bentuk Intruksi Neng Kepada Anggota Perempuan
No Nama
Latar Belakang Pendidikan
Instruksi Penggunakan Tabir dalam suatu acara
Instruksi Membatasi Diri Dengan Dalam Relasi
Organisai . Setuju Tidak
Setuju kondisional Setuju
Tidak Setuju Biasa saja/ Tidak tau 1 IM UIN √ √ 2 HO Lipia √ √ 3 MZ UMJ √ √ 4 HZ Al-Hikmah √ √ 5 JU Al-Hikmah √ √ 6 BS Al-Hikmah √ √ 7 AH Unindra √ √ 8 AM Hidayatullah √ √ 9 KR Ganesha √ √ 10 AR UIN √ √ 11 ME UIN √ √ 12 EV Lipia √ √ Jumlah 4 7 1 4 7 1 12 12
76
Dari data ini menyatakan sebagian besar informan tidak setuju dengan instruksi
Neng. sebanyak 7 dari 12 Informan menyatakan tidak setuju dengan instruksi
penggunaan tabir dalam beberapa acara, dan hanya empat informan saja yang setuju.
Disisi lain instruksi kepada perempuan untuk membatasi diri dengan laki-laki dalam
relasi organisai juga tidak jauh berbeda dengan konteks sebelumnya yakni 7 dari 12
Informan menyatakan tidak setuju, Namun 4 diantaranya menyatakan setuju dengan
beberapa alasan yang berbeda. Hal ini menggambarkan bahwa ternyata tidak semua
instruksi dari Neng disetujui oleh anggota, Namun yang menjadi kemungkinan besar
adalah tingginya nilai-nilai pengetahuan keagamaan yang kemudian anggota FKMSB
selalu menghargai status yang disandangnya sehingga instruksi tersebut seringkali
dipenuhi walaupun terasa berat untuk dijalani.