• Tidak ada hasil yang ditemukan

TEMUAN DAN ANALISIS

B. PARTISIPASI MAHASANTRI DALAM ORGANISASI

2. Partisipasi Mahasantri Dalam Struktural Oganisasi

Keterlibatan semua anggota baik laki-laki maupun perempuan dalam struktur

organisasi merupakan cerminan ideal suatu organisasi. Dan dalam tegaknya organisasi

yang baik pula, seharusnya semua anggota laki-laki maupun perempuan dapat terlibat

secara proporsional terlebih dalam menentukan suatu kebijakan yang diharapkan tidak

saling merugikan satu sama lain. Namun nyatanya dalam struktur organisasi ini masih

terlihat bahwa keterlibatan anggota perempuan sangatlah minim dan sangat tidak

proporsional. Tercatat sejak berdirinya organisasi FKMSB ini pada tahun 2008 di

Jabodetabek, tak pernah sekalipun perempuan mendapatkan posisi baik sebagai ketua

maupun wakil ketua. Hanya sekali menjadi sekretaris pada tahun 2011/2012 dan dua kali

menjadi bendahara pada tahun 2010/2011 dan 2011/2012. Padahal sampai tahun

2014-2015 organisasi ini terhitung sudah memasuki tujuh periode, dimana organisasi ini

seharusnya sudah berkembang dan sosok perempuan seharusnnya sudah sangat

diperhitungkan. Namun realita yang ada tidak sesuai fakta dan harapan perempuan pada

umumnya, bahwa perempuan masih saja kurang mendapatkan hak yang sama.

Berikut data pertisipasi mahasantri dalam struktur organisasi dalam beberapa

63

Tabel.III.B.II.Partisipasi Mahasantri Dalam Sruktur Organisasi

Struktur Organisasi Selama Tujuh Periode

No Tahun Ketua dan wakil Sekretaris Bendahara Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan

1 2008/2009 2 2009/2010 3 2010/2011 4 2011/2012 5 2012/2013 6 2013/2014 7 2014/2015

(Sumber Data: Sekretaris Umum FKMSB Jabodetabek 2014/2015)

Dari data ini tergambar jelas dimana sosok perempuan tidak pernah sekalipun

menjadi ketua ataupun wakil dalam struktur FKMSB Jabodetabek. Dan tampak betapa

dominannya anggota laki-laki dalam jabatan ketua sekretaris maupun bendahara.

Kurangnya partisipasi perempuan dalam jabatan ketua maupun wakil, menurut

mantan ketua wilayah FKMSB periode 2014/2015 disebabkan oleh perempuannya

sendiri:

Belum ada memang selama ini perempuan yang mau menjabat jadi ketua. Mungkin karena perempuannya yang memang belum siap mencalonkan, sebenarnya bisa-bisa aja mencalonkan... tapi itu tadi kendalanya di perempuannya aja yang mungkin belum kepikiran kesana, kalaupun ada kendala yang lain saya kurang tau itu. (Wawancara pribadi dengan AR, Jakarta, 26 Maret 2015).

Kalau untuk mencalonkan diri dari perempuannya tidak mungkin juga sih... kebetulan perempuannya juga sedikit, yah... tetap kalah jumlah sama laki-laki. Ya udah ngikutin aja...(Wawancara pribadi dengan BS, Mampang, 28 maret 2015 19:00)

Alasan informan pertama menyatakan penyebabnya adalah dari perempuannya sendiri, bahwa perempuan dianggapap belum siap menjabat sebagai ketua maupun wakil, namun alasan dari informan perempuan bukanlah faktor dari perempaunnya. Melainkan karena dominasi laki-laki dalam keanggotaan yang secara kuantitas lebih banyak daripada perempuan, sehingga perempuan merasa akan sia-sia bila mencalonkan diri. Namun, lagi-lagi problem yang sama juga dikemukakan oleh informan laki-laki bahwa bukan karena dominasi keanggotaan, melainkan karena perempuannya sendiri yang dipandang belum siap dan belum ada yang dinilai punya kapasitas

FKMSB Jabodetabek memang belum saatnya dipimpin oleh kaum perempuan, karena berbagai faktor internal dan eksternal juga. Selain karena perempuannya

64

yang memang masih belum siap saya kira, anggota perempuan juga belum ada yang cukup pantas dicalonkan untuk saat ini. Terdapat faktor eksternal yang sifatnya sangat erat kaitannya dengan pesantren. Sejauh ini diakui atau tidak pesantren Banyuanyar itu masih menganut faham patriaki yang secara tidak langsung kurang memberi ruang kepada perempuan menjadi pemimpin (Wawancara pribadi dengan KR, Jakarta, 27 maret 2015)

Hal ini juga secara tidak langsung diamini oleh informan perempuan yang

mempunyai latar belakang pendidikan islam fundamentalis aliran timur tengah, bahwa

sejatinya kurang setuju atas keterlibatan perempuan dalam struktural kepengurusan:

Pada dasarnya kalau perempuan menjadi ketua itu bisa menyalahi fitrah perempuan. Ia kalau masih ada laki-laki yaa… ngapain harus perempuan..!? yah.... walaupun ini organisasi yang seharusnya demokratis, tapi menurut saya gak harus perempuan juga yang jadi ketuanya kan... Perbandingannya sih perempuan itu dua tapi laki-laki satu itu sudah cukup. (Wawacara pribadi dengan HO, Mampang, 29 Maret 2015 21:30).

Namun terlepas dari alasan yang dituturkan oleh informan laki-laki dan sebagian informan perempuan yang mempunyai latar belakang pendidikan islam fundamentalis itu, ternyata masih ada dua informan perempuan yang berpendapat bahwa perempuan pada dasarnya juga bisa menjadi pemimpin dan terlibat aktif secara demokratis dalam struktur organisasi ini.

Menurut saya sah-sah saja perempuan jadi ketua dan terlibat dalam struktural, karena memang di AD-ART cukup jelas kalau perempuan juga punya hak yang sama dengan anggota yang lain. (Wawancara pribadi dengan IM, Jakarta, 21 Maret 2015 19:00)

Kenapa tidak,,,? Perempuan juga punya hak, dan saya rasa perempuan juga banyak yang punya kapasiatas dalam mempimpin (Wawancara pribadi dengan MZ, Jakarta, 26 Maret 2015 17:30)

Penuturan dua informan ini sekaligus membuka pandangan bahwa dalam organisasi ini masih ada sebagian kecil anggota perempuan yang menginginkan menjadi ketua, dan tentunya sedikit banyak mengerti bagaimana seharusnya menjadi ketua, karena pada dasarnya menurut (Richard I Lester : 1991) menjadi ketua atau pemimpin adalah sebuah seni mempengaruhi dan mengarahkan orang lain dengan cara kepatuhan, kepercayaan dan rasa hormat. Dan dari beberapa unsur tersebut bukanlah hal yang sulit bagi mahasantri atau sosok perempuan untuk tidak memilikinya juga.

65

Namun yang menjadi dasar alasan dan faktor kurangnya partisipasi perempuan dalam struktural, dalam hal ini sebenarnya tak terkecuali beberapa perbedaan pandangan terhadap setuju tidaknya perempuan terlibat dalam struktur organisasi yang lebih demokratis dalam konteks AD-ART. Untuk lebih jelasnya berikut penulis sertakan perbedaan pandangan tersebut dari semua informan yang dirangkum ke dalam bentuk tabel dibawah ini:

Tabel.III.B.II.Keterlibatan Mahasantri Dalam Struktur Organisasi No Nama

Informan

Jenis Kelamin

Latar Belakang

Pendidikan Menjadi Ketua

Menjadi Sekretaris Menjadi Bendahara Boleh Tidak Boleh Boleh Tidak Boleh Boleh Tidak Boleh 1 IM Pe r empu a n UIN - - -2 HO Lipia - - -3 MZ UMJ - - -4 HZ Al-hikmah - - -5 JU Al-hikmah - - -6 EV Lipia - - -7 BS Al-hikmah - - -8 AH L a k i-la k i Hidayatullah - - -9 AK Unindra - - -10 AR UIN - - -11 ME UIN - - -12 KR Ganesha - - -JUMLAH 9 3 12 0 12 0

Dari data tersebut menunjukkan bahwa dalam konteks AD-ART FKMSB, sebagian besar informan membolehkan perempuan menjabat dalam struktur organisasi, baik menjadi ketua, seksretaris ataupun bendahara. Namun dari 12 informan terdapat tiga informan yang masih berpendapat bahwa perempuan tidak boleh menjadi ketua.

Ia tetap gag boleh lah... sudah jelas juga kan ayatnya, Arrijalu qowwamuna

alannisa’. iya... walaupun FKMSB gag ngelarang itu juga. (Wawancara pribadi dengan BS, Mampang, 28 Maret 2015 19:00)

Pada dasarnya kalau perempuan menjadi ketua itu bisa menyalahi fitrah perempuan.Ia kalau masih ada laki-laki yaa… ngapain harus perempuan..!?”

yah.... walaupun ini organisasi yang seharusnya demokratis, tapi menurut saya gak harus perempuan juga yang jadi ketuanya kan... Perbandingannya sih perempuan itu dua tapi laki-laki satu itu sudah cukup. (Wawacara pribadi dengan HO, Mampang, 29 Maret 2015 21:30).

Bukan berarti saya tidak setuju kalau perempuan terlibat, Cuma kalau untuk menjadi ketua menurut saya itu langkah yang terlalu berani, menjaga itu akan

66

lebih baik saya rasa. (Wawancara pribadi dengan EV, Mampang, 29 April 2015 13:15)

Dari pengakuan tiga informan perempuan tersebut menunjukkan bahwa

perempuan memang tidak ingin terlibat dalam struktural hususnya menjadi ketua. Hal ini

semakin menguatkan bahwa latar belakang pendidikan aliran timur tengah menjadi satu

alasan yang juga berpengaruh kuat terhadap tegaknya demokratisasi organisasi dimana

perempuan selalu menjadi sosok The second class. Namun disisi lain menurut

Nasaruddin Umar (2000 : 49) Seorang cendekiawan kontemporer yang menyatakan

bahwa tidak ada satupun dalil, baik dari al-qur’an maupun hadist yang melarang kaum perempuan untuk terjun ke dalam bidang politik baik sebagai pejabat maupun pemimpin

negara. Fakta sejarah mengungkapkan bahwa perempuan-perempuan di sekitar Nabi

terlihat aktif dalam dunia politik. Nasaruddin Umar juga menegaskan bahwa kata

Khalifah pada surat al-baqarah ayat 30 tidak merujuk hanya kepada satu jenis kelamin

tertentu, laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki fungsi sebagai Khalifah di muka

bumi yang akan mempertanggung jawabkan kepemimpinannya di hadapan Allah SWT.

Faktor pemahaman agama tersebut sangat menarik walaupun disisi lain tidak

dapat dipungkiri bahwa ada banyak perempuan yang sangat ingin terlibat ke dalam

struktur organisasi bahkan menjadi ketua sekalipun. Namun, kembali pada konteks

partisipasi dalam kepengurusan ternyata dapat disimpulkan bahwa memang terjadi

ketimpangan dalam struktural. Walaupun faktornya adalah perempuannya sendiri yang

menyatakan kurang setuju jika perempuan menjadi ketua, namun sebagaimana organisasi

modern dan tertuang dalam AD-ART, bahwa semua anggota FKMSB memiliki

kesempatan yang sama dalam struktural. Mengingat sebagian perempuan juga

67

anggota perempuan tidak selalu mendapatkan posisi yang bias gender yang selalu

diposisikan diseksi konsumsi dan perlengkapan saja.