• Tidak ada hasil yang ditemukan

TEMUAN DAN ANALISIS

D. MANFAAT YANG DIDAPATKAN DALAM ORGANISASI

Manfaat dalam Gender Analysis Pathway (GAP) adalah: Apakah perempuan dan

laki-laki menikmati manfaat yang sama dari hasil pembangunan? Dalam konteks ini

penulis ingin melihat pada beberapa program yang sudah dijalankan, dalam konteks

organisasi FKMSB ini perempuan dan laki-laki idealnya bisa mendapatkan manfaat yang

sama dan setara. Dan untuk terwujudnya kesetaran dan keadilan gender ditandai dengan

tidak adanya diskriminasi antara perempuan dan laki-laki, dan dengan demikian mereka

memiliki akses, berpartisipasi, dan kontrol atas organisasi serta memperoleh manfaat yang

setara dan adil antara laki-laki dan perempuan (Faqih : 1997- 13)

1. Manfaat Keterlibatan Mahasantri Dalam Program FKMSB

Aspek pengambilan manfaat yang sama ini menjadi salah satu aspek yang

paling nyata dalam konteks relasi antara laki-laki dan perempuan, kurangnya akses dan

77

pengambilan manfaat yang rendah dan tidak setara, begitu juga melemahnya kontrol

dari perempuan itu sendiri menyebabkan proses pengambilan manfaat yang tidak sama

dengan laki-laki. Dengan demikian anggota perempuan akan sangat dirugikan. Dalam

konteks yang lebih konkrit ini misalnya anggota perempuan memang tidak banyak

terlibat dalam diskusi mingguan, kepenulisan modul dan beberapa pengembangan skill

dan knowledge sehingga hal itu sangat berdampak pada aspek manfaat yang sampai

saat ini perempuan kurang bisa merasakan mendapatkan manfaat yang sama.

Kuranglah... mungkin kedepannya bisa ditingkatkan lagi, dan perempuan lebih banyak terlibat (Wawancara pribadi dengan IM,Jakarta, 21 MARET 2015 19:00)

Informan laki-lakipun juga menuturkan

Memang Kurang sih..., mungkin masih proses aja menuju kesetaraan. Ini perjuangan dan saya rasa ini tidak gampang (Wawancara pribadi dengan ME, Jakarta 30 Maret 2015)

Dari beberapa data sebelumnya sudah menunjukkan bahwa dalam beberapa

program kegiatan, anggota perempuan mengalami subordinasi dan selalu

mendapatkan perlakuan kurang profesional, bahkan dalam struktur kepengurusan juga

mengalami stereotype bahwa perempuan lemah dan kurang pantas menjadi leader.

Sehingga tak pernah sekalipun anggota perempuan menjadi ketua, wakil maupun

sekretaris dalam suatu program FKMSB, seperti terlihat jelas pada tabel (III,B,I

Partisipasi Perempuan Dalam Skill Managerial) Dan dapat disimpulkan bahwa dalam

konteks manfaat ini perempuan sangat tidak mendapatkan manfaat yang sama dengan

78

Tabel.III.D.I. Manfaat Mahasantri Dalam Pelaksanaan Program FKMSB

PROGRAM KEGIATAN FKMSB

No Kegiatan 2014/2015 Menjadi ketua panitia Menjadi Sekretaris Menjadi Bendahara

Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan

1 Musyawarah Besar - -

-2 Pengkaderan Anggota Baru - -

-3 Milad 50 Tahun FKMSB - - -

3 Rakornas - -

-4 Musywil - -

-5 Perayaan Maulid Nabi - -

-6 Seribu waqaf Al-qur’an - -

-Jumlah 5 0 5 0 4 1

Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa semua kegiatan-kegiatan yang

sudah dilaksanakan, ternyata tak sekalipun anggota perempuan terlibat di dalamnya.

Hal ini menunjukkan bahwa, ternyata dalam setiap acara FKMSB anggota perempuan

tidak mendapatkan manfaat yang sama dalam proses merealisasikan beberapa acara

tersebut. Baik pemanfaatan dalam struktural maupun dalam relasi keduanya dalam

suatu agenda yang melahirkan ilmu pngetahuan dan wawasan.

2. Manfaat Keberadaan Basecamp FKMSB Jabodetabek

Dan yang paling menarik lagi, dalam konteks manfaat ini anggota perempuan

juga tidak mendapatkan tempat atau Basecamp khusus seperti yang sudah didapatkan

oleh anggota laki-laki beberapa tahun yang lalu.Sampai saat ini FKMSB Jabodetabek

hanya memfasilitasi anggota laki-laki saja. Dan sebagai informasi bahwa pengadaan

basecamp ini juga sedikit banyak dibantu secara finansial oleh beberapa senior untuk

pembayaran sewa tempatnya. Tentu hal ini akan sangat membantu secara finansial.

Namun tidak demikian dengan anggota perempuan yang kemudian memilih untuk

bertempat tinggal di Kos-kosan.

Iya…. kita ngekos. Kebetulan cewek-ceweknya kan sedikit yang di ciputat, gag, paling kalau ada acara aja ke Basecamp. basecamp itu kan cuma buat laki-laki saja. (Wawancara pribadi dengan MZ,Jakarta, 23 Maret 2015).

79

Iya kan perempuannya kebetulan juga sedikit, paling yang tinggal berdekatan 5 orangan aja, yaudah kita ngekos aja. pengennya sih punya Basecamp juga,, Cuma mau gimana lagi. Kan udah ada cowok-cowoknya. (Wawancara pribadi dengan IM,Jakarta, 21 Maret 2015 19:00)

Hal senada juga disampaikan informan yang lain bahwa Basecamp FKMSB

ini hanya ditempati oleh anggota laki-laki saja.

Iya memang... karna yang tinggal diciputat itu lebih banyak laki-laki jadi ditampung di Basecamp. Gag lah... ntar yang ada timbul fitnah kalau di basecamp perempuan sama laki-laki. (Wawancara pribadi denganKR, Jakarta, 27 maret 2015)

Dari beberapa data tersebut menunjukkan bahwa pengadaan Basecamp ini

hanya ditempati oleh anggota laki-laki saja, tapi tidak dengan anggota perempuan

yang sebenarnya juga menginginkan pengadaan Basecamp tersebut yang dianggap

akan sedikit lebih membantu secara finansial dan tentunya akan lebih fokus dalam

berorganisasi. Namun hal ini tidak pernah terfikirkan oleh pengurus FKMSB.

Tabel.III.D.II. Manfaat Pengadaan Basecamp FKMSB

No Nama Jenis Kelamin

MANFAAT Pengadaan Basecamp

Ada Tidak Ada

1. IMO P er emp u an 2. HOL 3. MUZ 4. HZA 5. JUW 6. SHO 7. EVI 8. AHM La k i-la k i 9. KRA 10. ABR 11. MEL 12. ABH Jumlah 5 7 12

Dalam konteks pengambilan manfaat, Beberapa temuan lebih banyak

disebabkan oleh karena dua hal, pertama, selain karena dominasi laki-laki yang sangat

kuat, juga disebabkan oleh anggota laki-laki yang kurang sensitif dan kurang peka

80

jalani. Akibatnya perempuan tidak dapat mengakses, mengontrol dan mengambil

manfaat secara langsung dalam setiap kebijakan dan dari setiap program yang mereka

agendakan. Tentu logika sederhananya adalah, tanpa terlibat tidak mungkin dapat

mengambil maafaat yang maksimal pada sesuatu yang seharusnya mereka dapatkan.

Kedua, adalah keengganan perempuan untuk terlibat, hal ini besar kemungkinan

disebabkan adanya instruksi Neng yang kemudian berdampak pada pengambilan

manfaat yang belum terpenuhi secara maksimal dan tak sesuai harapan. Bahkan dalam

pengadaan Basecamp sekalipun, tergambar jelas bahwa tidak satupun anggota

perempuan yang bisa menempatinya dan hal itu hanya dikhususkan untuk anggota

laki-laki saja . Hal ini menunjukkan bahwa sampai persoalan fasilitas sekalipun,

ternyata anggota perempuan belum mampu mendapatkan manfaat yang sama, dan

masih sangat jauh dari kata-kata proporsional. Dan disisi lain pengurus FKMSB yang

lebih banyak diisi oleh anggota laki-laki kurang begitu memahami dan tidak punya

inisiatif untuk membentuk Basecamp khusus untuk anggota perempuan. Dalam

konteks ini jelas-jelas kurangnya akses, partisipasi dan kontrol yang lemah yang

dirasakan anggota perempuan, secara otomatis selanjutnya juga akan melahirkan

kurangnya manfaat yang seharusnya bisa dapatkan. Dan dari beberapa hasil penelitian

ini sudah menujukan bahwa dalam relasi mahasantri dalam organisasi FKMSB sejauh

81 BAB IV