• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkebunan Rakyat di Kabupaten Lima Puluh Kota Tahun

III. KERANGKA PEMIKIRAN

3.2. Teori Pemasaran Komoditas Pertanian

3.2.2. Konsep Efisiensi Pemasaran

3.2.2.5. Keterpaduan Pasar

Pengertian keterpaduan pasar adalah sampai seberapa jauh pembentukan harga suatu komodidas pada suatu tingkat lembaga pemasaran dipengaruhi oleh harga di tingkat lembaga pemasaran lainnya. Pengaruh ini dapat diduga melalui regresi sederhana, analisis korelasi harga di setiap tingkat baik secara vertikal maupun horizontal dan melalui elastisitas transmisi harga (Et). Dalam suatu sistem pasar terpadu yang efisien akan terlihat adanya korelasi positif yang tinggi sepanjang waktu dari beberapa pasar (Heytens, 1986). Pada umumnya pendekatan ini banyak dipakai untuk menguji apakah pasar setempat terpadu dan efisien. Dalam hal ini kelancaran informasi dan

46

pengangkutan memberi peranan yang penting dalam membentuk perdagangan antarpasar yang efisien. Pengujian akan hubungan harga-harga ditambah dengan pengamatan tentang kegiatan perdagangan merupakan metode uji hipotesis yang berguna. Harga-harga pada suatu sistem pasar yang efisien cenderung bergerak bersama-sama, tetapi hal ini dapat terjadi karena sebab- sebab yang lain. Pergerakan harga umum, musim bersama atau setiap faktor kebersamaan, dapat memberikan perubahan harga yang selaras walaupun pasar tersebut tidak berhubungan (Heytens, 1986).

Pendekatan lain yang digunakan adalah metode autoregresive distributed lag yang dapat mengatasi masalah kelemahan model regresi sederhana yang menganggap perubahan harga di tingkat konsumen dan produsen bergerak pada waktu yang sama. Model ini dikembangkan oleh Ravallion (1986) dan Heytens (1986). Model didasarkan pada hubungan bedakala (lag) bersebaran autoregresive antara harga disuatu tingkat atau pasar tertentu dengan harga di pasar atau tingkat lainnya. Analisis ini dapat menerangkan adanya hubungan antara perubahan harga di suatu pasar tertentu dengan harga di pasar lainnya. Lebih lanjut dapat diungkapkan proses pembentukan harga, misalnya Pit adalah harga di pasar i waktu t, sedangkan PAt adalah harga di pasar acuan waktu t, maka model dapat dirumuskan sebagai berikut:

(Pit– Pit-1) = (αi- 1) (Pit-1- PAt-1) +βi0 (PAt- PAt-1) +

(αi +βi0 +βi1-1) PAt-1 +γi X + e ...(5) dimana:

Pit = Harga di pasar i waktu t PAt = Harga di pasar acuan waktu t

e = Error term di pasar i waktu t

Persamaan (5) menjelaskan bahwa perubahan harga di suatu tempat adalah fungsi dari selisih harga pasar setempat dengan pasar acuan pada waktu yang sebelumnya, perubahan harga pasar acuan pada waktu sebelumnya, harga di pasar acuan waktu sebelumnya dan ciri-ciri pasar setempat. Persamaan (5) bisa disederhanakan dengan mengubah lambang-lambang koefisien: αi – 1 = b1, βi0= b2 dan αi + βi0 + βi1-1 = b3, sehingga persamaan dapat ditulis sebagai berikut:

(Pit- Pit-1) = b1 (Pit-1– PAt-1) + b2 (PAt– PAt-1) + b3 PAt-1

+ b4 X + e ...(6) Persamaan (6) dapat disusun kembali menjadi persamaan:

Pit = (1+b1) Pit-1 + b2 (PAt–PAt-1) + (b3-b1) PAt-1 + b4 X + e ...(7) Apabila pasar acuan kita anggap berada pada keseimbangan jangka panjang maka (PAt–PAt-1) = 0 dan juga b4 = 0, sehingga didapatkan:

Pit = (1+b1) Pit-1 + (b3-b1) PAt-1 ...(8) Nilai parameter (1+b1) dan (b3-b1) akan menggambarkan sumbangan relatif harga pasar setempat dan acuan terdahulu terhadap pembentukan harga tingkat sekarang. Apabila harga pasar acuan sebelumnya merupakan penentu dari harga, maka pasar-pasar ini terintegrasi dengan baik. Artinya keadaan penawaran dan permintaan pada pasar acuan akan dikomunikasikan secara efektif ke pasar-pasar setempat dan akan mempengaruhi harga-harga di sana walau bagaimanapun keadaan pasar lokal sebelumnya. Untuk menangkap besarnya pengaruh ini secara efektif, dikembangkan suatu indek hubungan pasar atau Index of Market Connection (IMC) atau disebut juga indek yang

48

dibatasi sebagai nisbah koefisien pasar setempat terdahulu terhadap koefisien pasar acuan terdahulu. Dari persamaan (8) diperoleh:

IMC = 1 3 1 b b b 1   ...(9)

Secara umum, semakin dekat indek tersebut ke-0 atau koefisien bernilai lebih kecil dari 1 maka semakin tinggi derajat keterpaduan pasar.

3.3. Tahapan Penelitian

Upaya peningkatan pendapatan petani tergantung pada pengelolaan produksi dan pengalokasian faktor produksi yang dimiliki, kemudian menindaklanjutinya dengan memasarkan komoditas yang telah diproduksi tersebut. Dengan demikian upaya peningkatan pendapatan petani salah satunya sangat ditentukan oleh faktor bagaimana petani melakukan pengelolaan produksi dan pemasaran komoditas yang diusahakannya. Kegiatan produksi dan pemasaran tidak bisa berjalan sendiri karena saling terkait dalam menentukan keberhasilan usahatani.

Pengusahaan gambir sebagai komoditas pertanian tidak terlepas dari ketergantungan usahatani tanaman tropis ini pada faktor alam. Kondisi alam seperti curah hujan, karakteristik tanah, kesuburan tanah serta faktor lainnya akan sangat berpengaruh pada produksi dan produktivitas tanaman. Disamping faktor alam, teknologi yang digunakan petani dalam proses produksi, kondisi sosial ekonomi dan kelembagaan serta situasi pasar yang berkaitan dengan permintaan, penawaran dan proses pemasaran gambir akan sangat berpengaruh pada pembentukan harga gambir di pasar.

G A M B I R

Salah Satu Komoditas Unggulan Sumatera Barat dan Kabupaten Lima Puluh Kota

Untuk Ekspor

Usahatani perkebunan rakyat yang dikelola secara tradisional dengan teknologi pengolahan sederhana

Masalah utama dalam pengelolaan komoditas gambir selama ini: 1. Produksi, produktivitas, serta mutu hasil gambir yang rendah 2. Rendahnya posisi tawar petani di pasar

Analisis Produksi Analisis Pemasaran

Efisiensi pengalokasian sumberdaya

Profil dan kinerja kelembagaan pemasaran gambir

Pendekatan analisis fungsi produksi Cobb-Douglas dan metode untuk analisis pemasaran menggunakan the market structure-conduct-performance relationship

Gambaran menyeluruh mengenai keragaan usahatani gambir mulai darion farm sampaioff farm secara terpadu

di Kabupaten Lima Puluh Kota

Bagaimana keterkaitan antara sektoron farm denganoff farm usahatani gambir yang terhubung dalam suatu kesatuan sistem pemasaran serta peranannya dalam

menentukan harga gambir

Gambar 6. Tahapan Analisis Produksi dan Pemasaran Komoditas Gambir di Kabupaten Lima Puluh Kota

Masalah utama dalam usahatani gambir seperti yang terlihat dalam di Gambar 6 adalah menyangkut produksi, produktivitas serta mutu hasil gambir

50

yang rendah. Proses produksi gambir memerlukan sumberdaya (input) yang bersifat tetap dan input tidak tetap. Faktor yang akan diuji sebagai hipotesis penelitian adalah bagaimana pengaruh luas areal tanam, jumlah pohon dan umur tanaman, tenaga kerja (curahan waktu kerja) serta penerapan faktor produksi lainnya, terhadap produksi gambir. Apakah pengaruhnya signifikan dan sudah efisien dalam pengalokasiannya. Disamping itu akan dilakukan juga analisis efisiensi pemasaran gambir dengan menggunakan pendekatan SCP untuk mengetahui dan mendapatkan gambaran yang menyeluruh mengenai struktur pasar, perilaku dan keragaan usahatani gambir di Kabupaten Lima Puluh Kota.