BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.4 Keterpakaian Jasa Koleksi Audio Visual
Media Audio telah digunakan secara luas untuk mengkomunikasikan pesan dan informasi kepada kelompok atau individu. Media ini merupakan media yang cukup populer digunakan dalam mempelajari informasi dan ilmu pengetahuan.
Sedangkan Pribadi (2005, 22) mengemukakan bahwa: “Audio adalah media yang relatif murah untuk mengkomunikasikan pesan dan informasi tertentu.
Media audio mempergunakan beberapa jenis sumber suara seperti suara manusia, suara binatang, dan suara lingkungan sekitar untuk mengungkapkan pesan dan informasi”.
Dapat diketahui bahwa Audio merupakan media yang menyampaikan suatu pesan atau informasi melalui suara/bunyi. Secara khusus pengertian koleksi audio adalah Bahan pustaka atau informasi dalam bentuk suara seperti: piringan hitam, pita kaset suar(audio tape cassette), Compact disc (CD),dan pita open reel.
Visual adalah salah satu jenis koleksi yang dapat dilihat atau koleksi tanpa suara. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005, 1706)mengemukakan bahwa
“visual adalah sesuatu yang berkenaan dengan pengelihatan; dapat dilihat oleh indera.”
Dapat diketahui bahwa visual merupakan sesuatu yang berhubungan dengan indera pengelihatan. Dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa koleksi visual merupakan bahan pustaka atau informasi yang penggunaanya melalui indera pengelihatan atau dapat dilihat seperti : gambar diam, bahan-bahan grafis, realia, model.
Dalam Online Dictionary for Library and Information Science mengemukakan bahwa Audiovisual merupakan: “A work in a medium that combines sound and visual images, for example, a motion picture or videorecording with a sound track, or a slide presentation synchronized with audiotape.” yang artinya Sebuah karya dalam media yang menggabungkan gambar suara dan visual, misalnya sebuah film atau video recording dengan jalur suara, atau presentasi slide disinkronkan dengan rekaman
Sehubungaan dengan hal di atas Lismurtini (2013) mengemukakan bahwa:
Media audio-visual adalah media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar.
Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik, karena meliputi kedua jenis media auditif (mendengar) dan visual (melihat). Media Audiovisual merupakan sebuah alat bantu audiovisual yang berarti bahan atau alat yang dipergunakan dalam situasi belajar untuk membantu tulisan dan kata yang diucapkan dalam menularkan pengetahuan, sikap, dan ide.
Sedangkan Dalam Pedoman Teknis Pengembangan Koleksi Layanan Perpustakaan Nasional R.I (2002, 17) dikemukakan bahwa “koleksi Audiovisual adalah Semua bentuk bahan pustaka yang bisa didengar dan dilihat.”
Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa Audio-visual adalah sesuatu yang dapat didengar atau dilihat serta sesuatu yang dapat dilihat dan didengar.
Dalam pengertian yang lebih khusus koleksi Audio-visual adalah semua bahan pustaka yang dapat dilihat oleh panca indera (media gambar) atau yang dapat didengar (media suara) dan yang dapat dilihat serta didengar (media video).
Contohnya seperti rekaman suara, rekaman video, rekaman gambar, seperti kaset, audio visual, mikrofilm, mikrofis, piringan hitam, video kaset, dan CD-ROM.
2.4.2 Jenis Koleksi Audio Visual
Adapun jenis koleksi Audiovisual adalah sebagai berikut: kaset video, VCD (Video Compact Disc), DVD (Digital Video Disc).
1. Kaset Video
Video kaset merupakan salah satu koleksi audiovisual yang jarang ditemukan saat ini karena kelangkaan jenis koleksi ini bahkan disebagian perpustakaan koleksi jenis video kaset tidak disediakan lagi.
Cubbit (1993, 11) mengemukakan bahwa Rekaman Video “merupakan medium rekaman yang menggunakan pita magnetik untuk menyalurkan sinkronisasi antara suara dan gambar.
Sedangkan Fothergill yang dikutip oleh Anita (2007, 18) menyatakan bahwa “dipasaran dunia dikenal tiga sistem kaset video yang banyak digunakan oleh masyarakat, yaitu:”
a. U-Matic yang menggunakan pita berukuran 19,05 mm dengan kecepatan 9,5 cm/detik dan kemasannya berukuran 221 x 140 x 32 mm. Jenis ini dikeluarkan oleh Sony dan digunakan untuk para profesional. Keuntungan U-Matic adalah kualitas gambar tinggi dan jenis ini banyak digunakan dalam pelatihan di perusahan-perusahaan dan kantor-kantor berita telivisi.
b. VHS (Video Home System) banyak digunakan untuk komersil. Sistem ini menggunakan pita ukuran 12,7 mm dengan kecepatan standar 2, 34 cm/detik. Kemasannya berukuran 188 x 104 x 25 mm. VHS dikeluarkan oleh JVC dan banyak terdapat dipasaran. Namun kualitas video rendah dan jika sering digunakan akan menurunkan mutu gambar dan suara.
c. Kaset dengan pita ukuran 8 mm dengan kemasan 9,2 x 6,2 x 1,4 cm (3,6 x 2,4 x 0,6 in). Jenis ini sering disebut dengan Camcorder dan digunakan oleh semi-profesional. Sistem lain yang banyak digunakan di Indonesia adalah format Beta, yaitu format video setengah inci yang dibuat oleh Sony. Bentuk kaset ini lebih ringkas dari VHS (Video Home System).
2. VCD
VCD (Video Compact Disc) merupakan bagian dari salah satu gambar hidup atau koleksi audiovisual. Menurut Fothergill yang dikutip oleh Anita (2007, 21) menyatakan bahwa: “Video Compact Disc atau lebih terkenal dengan sebutan VCD merupakan piringan tipis berdiameter 12 cm dan mampu menyimpan video digital berdurasi sampai 74 menit.” Secara fisik, VCD sama dengan audio CD yang biasa dipakai untuk merekam musik. Diameternya sama-sama 12 cm.
Bahan atau materi pembuatnya sama. Keduanya sama-sama mampu memperdengarkan suara berkualitas tinggi.
Dalam infokomputer (2002) “VCD dikembangkan oleh Sony dan Philips sekitar awal 90-an. VCD disandi dengan menerapkan teknik MPEG-1 (Motion Picture Expert Group-1). Teknik ini tidak memerlukan pemprosesan yang tinggi sesuai dengan kebanyakan PC pada masa itu.”
3. DVD
DVD adalah piringan tipis yang sama dengan VCD, namun memiliki ruang penyimpanan yang lebih besar dan merupakan perbaikan dari teknologi CD-ROM/CD-R/CD-RW.
Menurut Dhani (2005, 23) mengemukakan bahwa : “DVD-ROM merupakan media penyimpanan dengan bentuk fisik mirip CD-ROM namun memiliki kapasitas yang lebih jauh tinggi serta kemampuan untuk menyimpan pada kedua sisinya. DVD-ROM biasanya digunakan untuk menyimpan file-file multimedia berukuran besar.”
Dari uraian di atas dapat dikemukakan bahwa Audiovisual/video merupakan rangkaian elektronik yang disertai unsur suara dan gambar. Secara khusus definisi koleksi audiovisual adalah bahan pustaka/informasi yang memiliki unsur suara dan gambar seperti : kaset video, VCD dan DVD.
Menurut Siregar (2012, 17) koleksi audiovisual dikelompokan sebagai berikut :
1. Rekaman Suara (Sound Recording)
Rekaman suara adalah bahan pustaka dalam bentuk pita kaset dan piringan hitam. Sebagai contoh untuk koleksi perpustakaan adalah buku pelajaran bahasa Inggris yang dikombinasikan dengan pita kaset.
Yang termaksud rekaman suara adalah piringan hitam, kaset, katridge, piano rolls, rekaman suara dalam film (sound recording on film) kecuali rekaman yang berfungsi sebagai pelengkap gambar-gambar visual seperti gambar hidup.
2. Gambar Hidup dan Rekaman Video
Gambar hidup dan rekaman video, yang termasuk dalam bentuk ini adalah film dan kaset video. Kegunaannya selain yang bersifat rekreasi juga dipakai untuk pendidikan. Misalnya untuk pendidikan pemakai, dalam hal ini bagaimana mencari bahan pustaka di perpustakaan.
Yang termaksud gambar hidup dan rekaman suara adalah semua jenis film (gambar hidup) dan rekaman video, termaksud film lengkap, kumpulan bagian-bagiam film, trailer.
3. Bahan Kartografi.
Yang termaksud bahan kartografi adalah atlas, Globe (bola dunia), Peta, Peta dua atau tiga dimensi, peta ruang angkasa, foto udara.
4. Bahan Grafika.
Bahan grafika, ada dua tipe bahan grafika yaitu bahan pustaka yang dapat dilihat langsung (misalnya lukisan, bagan, foto, gambar teknik dan sebagainya) dan yang harus dilihat dengan bantuan alat (misalnya slide, transparasi, dan filmstrip).
Yang termaksud bahan grafika adalah lukisan, reproduksi karya seni, bagan, foto, gambar teknik, maupun yang harus dilihat dilihat dengan bantuan alat yaitu banah-bahan yang harus diproyeksikan seperti slide, transparansi, dan filmstrip.
5. Mikroform.
Bentuk mikro adalah suatu istilah yang digunakan untuk menunjukan semua bahan pustaka yang menggunakan media film dan tidak dapat dibaca dengan mata biasa melainkan harus memakai alat yang dinamakan micro-reader.
Yang termaksud mikroform adalah salah satu bentuk koleksi bahan bukan buku yang jika dilihat dari segi fisiknya mencakup mikro-film, mikrofis, microlegap (micropaques yaitu mikroform yang bahannya tidak transparan) dan kartu apentur (apentur card).
6. File-File Komputer
Dengan adanya teknologi informasi, maka informasi dapat dituangkan kedalam media elektronik seperti pita magnetis dan cakram atau disc. Untuk membacanya diperlukan perangkat keras seperti komputer, CD-ROM player, dan sebagainya.
Karya dalam bentuk elektronik ini biasanya disebut dengan bahan pandang dengar(audio-visual) juga merupakan koleksi perpustakaan. Bahan pandang dengan memuat informasi yang dapat ditangkap secara bersamaan oleh indra mata dan telinga. Oleh sebab itu bahan pandang dengar merupakan media pembawa pesan yang sangat kuat untuk bisa ditangkap oleh manusia.