BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Perpustakaan Khusus
2.1.1 Pengertian Perpustakaan Khusus
Perpustakaan khusus sering disebut juga perpustakaan kedinasan, karena keberadaannya pada lembaga-lembaga pemerintah dan lembaga swasta.
Perpustakaan tersebut diadakan sebagai sumber informasi dan ilmu pengetahuan yang berkaitan, baik langsung maupun tidak, dengan instansi induknya. Dengan adanya perpustakaan tersebut maka kebutuhan informasi dan bahan rujukan dapat dengan mudah diperoleh. Oleh karena itu tugas dan fungsi perpustakaan khusus adalah menyediakan sumber-sumber informasi dan mendukung kelancaran pelaksanaan kegiatan organisasi yang menaungi perpustakaan itu.
Perpustakaan khusus merupakan tempat penelitian dan pengembangan, pusat kajian, serta penunjang pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia/pegawai. Dalam hal tertentu orang luar, dapat diperbolehkan menggunakan perpustakaan, misalnya untuk suatu penelitian, setelah mendapat izin atau rekomendasi dari pejabat yang berwenang/berkepentingan.
Perpustakaan tersebut disebut perpustakaan khusus karena kekhususan koleksi, pemakai, tempatnya, dan pengelolanya. Istilah perpustakaan kedinasan, karena tugas dan fungsinya dikaitkan dengan tugas-tugas kedinasan lembaga induknya yang harus difasilitasi dan ditunjang agar berlangsung baik.
Menurut Sutarno(2006), perpustakaan khusus sering disebut perpustakaan kedinasan, karena adanya pada lembaga-lembaga pemerintahan atau swasta.
Perpustakaan tersebut diadakan sebagai sumber informasi dan ilmu pengetahuan yang berkaitan, baik langsung maupun tidak, dengan instantsi induknya.
Perpustakaan khusus merupakan perpustakaan yang memiliki koleksi-koleksi perpustakaan yang khusus, yang digunakan sebagai sarana penunjang kegiatan suatu lembaga dan instansi. Menurut Suhstyo-Basuki (1991:49)
“Perpustakaan khusus adalah perpustakaan yang diselengarakan oleh sebuah
dapartemen, lembaga, lembaga negara, lembaga penelitian, organisasi massa, militer, industri maupun perusahaan swasta”.
Perpustakaan Nasional RI memberi pengertian mengenai perpustakaan khusus adalah salah satu jenis perpustakaan yang dibentuk oleh lembaga (pemerintah/swasta) atau perusahaan atau asosiasi yang menangani atau mempunyai misi bidang tertentu dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan di lingkungannya baik dalam hal pengelolaan maupun pelayanan informasi pustaka dalam rangka mendukung pengembangan dan peningkatan lembaga maupun kemampuan sumber daya manusia.
Perpustakaan khusus memiliki sebuah ciri atau karakter yang berbeda dari perpustakaan lainnya di antaranya adalah koleksi dan layanan. Koleksi perpustakaan khusus lebih difokuskan pada koleksi mutakhir di dalam subyek yang menjadi tujuan perpustakaan tersebut atau untuk mendukung kegiatan badan induknya. Koleksi suatu perpustakaan khusus adalah tidak terletak dalam banyaknya jumlah bahan pustaka atau jenis terbitan lainnya melainkan ditekankan kepada kualitas koleksinya, agar dapat mendukung jasa penyebaran informasi mutakhir serta penelusuran informasi. Layanan yang diberikan oleh perpustakaan khusus berbeda dibandingkan dengan perpustakaan lainnya. Layanan yang diberikan oleh perpustakaan khusus biasanya disesuaikan dengan permintaan pengguna atau kebijakan dari perpustakaan itu sendiri. Salah satunya adalah layanan koleksi audio visual yang ada di perpustakaan Pusat Penelitian Kelapa Sawit Medan.
2.1.2 Fungsi Pepustakaan Khusus
Fungsi perpustakaan khusus adalah sebagai pusat referensi dan penelitian serta memperlancar pelaksanaan tugas instansi atau lembaga yang bersangkutan.
Juga melaksanakan pembinaan perpustakaan dan membantu pembinaan teknis pengelolaan perpustakaan.
Menurut Soetminan (1992 : 28) “Fungsi perpustakaan khusus adalah seabagai pusat referal dan penelitian serta untuk memperlancar pelaksanaan tugas instansi yang bersangkutan. Sedangkan tugas perpustakaan khusus adalah
melayani suatu kelompok masyarakat khusus yang memiliki kesamaan dalam kebutuhan dan minat terhadap bahan pustaka dan informasi”.
Berikut ini beberapa fungsi yang dimiliki perpustakaan khusus (pawit,2010 : 386), yaitu:
1. Fungsi edukatif
Perpustakaan khusus menyediakan buku-buku yang sesuai dengan kebutuhan pemustaka, sehingga membantu pemustaka dalam meningkatkan minat baca. Semua informasi yang dimiliki perpustakaan khusus, dimaksudkan agar pemustaka aktif memanfaatkan koleksi secara optimal.
2. Fungsi informatif
Perpustakaan tidak hanya menyediakan koleksi yang berupa buku-buku saja, tetapi juga menyediakan koleksi lain, seperti majalah, surat kabar, bahkan koleksi berupa non buku seperti VCD. Tersedianya koleksi-koleksi itu akan memberikan semua informasi yang dibutuhkan oleh pemustaka. Segala informasi yang dimiliki perpustakaan khusus diharapkan dapat menjawab pertanyaan pemustaka akan pentingnya informasi.
3. Fungsi rekreatif
Fungsi rekreasi yang dimaksud adalah rekreasi secara psikologis.
Pemustaka dapat berimajinasi dengan memanfaatkan koleksi perpustakaan.
Selain itu, pemustaka juga dapat mengisi waktu luang mereka dengan membaca novel, surat kabar ataupun majalah yang ada di perpustakaan.
Kondisi masyarakat yang sangat beragam, baik pada tingkat pengetahuan, pendidikan, maupun usianya, membuat sumber informasi yang disediakanpun harus disesuaikan dengan keragaman kondisi masyarakat tersebut (Sutarno, 2003 : 39).
Ketiga fungsi di atas dapat dikatakan sebagai fungsi perpustakaan khusus secara umum, karena ketiga fungsi tersebut juga dimiliki perpustakaan jenis lainnya. Sedangkan fungsi perpustakaan khusus secara khusus yaitu:
Mengembangkan koleksi yang menunjang kinerja lembaga induknya. Dalam hal ini, perpustakaan khusus menyediakan koleksi yang berkaitan dengan instansi
sebagai langkah awal memperkenalkan dan membantu kinerja lembaga yang itu sendiri.
Menjadi focal point untuk informasi terbitan lembaga induknya, yaitu menyediakan koleksi yang berhubungan dengan panduan-panduan birokrasi, koleksi yang sesuai dengan kebutuhan kedinasan dan perlu melakukan identifikasi kebutuhan koleksi berdasarkan kebutuhan personal.
Mengorganisasi lembaga induknya. Merupakan pusat informasi tentang substansi kedinasan.
Mendayagunakan koleksi, dilakukan dalam rangka memberikan layanan kepada para pemustaka, sehingga peningkatkan secara umum kegemaran membaca harus menjadi budaya, mencerdaskan seluruh personal/karyawan agar menjadi cerdas dalam rangka memberikan layanan secara prima dan profesional.
Menerbitkan literature sekunder dan tersier dalam bidang lembaga induknya, baik cetak maupun elektronik. Dalam hal ini biasaanya lembaga induk dapat menerbitkan majalah atau buletin mengenai profil lembaga dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan.
Menyelenggarakan pendidikan pemustaka, hal ini sangat penting karena penggunaan perpustakaan menyebabkan tidak banyak pemustaka yang mau memanfaatkan jasa layanan perpustakaan. akibatnya pemustaka kurang tahu tentang kegunaan perpustakaan, begitu juga dengan bahan pustakanya. sehingga membutuhkan dorongan dan ajakan untuk berkunjung ke perpustakaan.
Melestarikan materi perpustakaan, baik preventif maupun kuratif; Menyediakan sarana atau tempat untuk menghimpun berbagai sumber informasi untuk dikoleksi secara terus menerus, diolah dan diproses.
Ikut serta dalam kerjasama perpustakaan serta jaringan informasi. Agar dapat membantu secara maksimal, maka perpustakan berperan aktif dalam membangun kerjasama dengan perpustakaan lain dan melakukan berbagai inovasi baru supaya menjadi perpustakan yang lebih baik.
2.1.3 Tugas Perpustakaan Khusus
Berdasarkan Buku Pedoman Pengelolaan Koleksi Perpustakaan Perguruan Tinggi (1999 : 34) tugas perpustakaan khusus adalah “Menyusun kebijakan dan melakukan tugas rutin untuk mengadakan, mengolah, dan merawat pustaka serta mendayagunakannya baik bagi instansi tersebut maupun diluar instansi tersebut”.
Tugas perpustakaan khusus instansi pemerintah adalah:
1. Menunjang terselenggaranya pelaksanaan tugas lembaga induknya dalam bentuk penyediaan materi perpustakaan dan akses informasi.
2. Mengumpulkan terbitan dari dan tentang lembaga induknya.
Memberikan jasa perpustakaan dan informasi.
3. Mendayagunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk menunjang tugas perpustakaan.
4. Meningkatkan literasi informasi.
Untuk keperluan tersebut diatas dibutuhkan kerjasama yang erat antara pustakawan dan peneliti agar semua koleksi serta fasilitas yang disediakan betul betul yang dibutuhkan oleh user (pengguna).
2.1.4 Unsur Pengelolaan Perpustakaan Khusus
Ada beberapa unsur yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan perpustakaan khusus, yakni:
1. Koleksi
Koleksi perpustakaan khusus difokuskan pada koleksi muktahir di dalam subyek yang menjadi tujuan perpustakaan tersebut atau untuk mendukung kegiatan badan induknya. Koleksi suatu perpustakaan khusus adalah tidak terletak dalam banyaknya jumlah bahan pustaka atau jenis terbitan lainnya melainkan ditekankan kepada kualitas koleksinya, agar dapat mendukung jasa penyebaran informasi muktahir serta penelusuran informasi. Pembinaan koleksi perpustakaan khusus menekankan pada beberapa jenis bahan pustaka seperti referensi, buku teks, majalah, jurnal ilmiah, hasil penelitian dan sejenisnya dalam bidang khusus, baik dalam bentuk tercetak maupun media rekam lainnya.
2. Sumber Daya Manusia
Penanganan perpustakaan khusus memerlukan seorang “ahli” dalam bidang/subyek yang ditangani. Hal ini akan mempermudah perpustakaan dalam memberikan apa yang menjadi tuntutan dan kebutuhan pemakainya. Untuk itu biasanya dalam perpustakaan khusus ini dibutuhkan seorang pustakawan yang mengerti dan paham akan bidang kerja/bidang yang ditangani oleh lembaga induknya. Sehingga kebutuhan akan “pustakawan khusus” adalah penting.
3. Pengolahan
Proses pengolahan dalam perpustakaan khusus pada prinsipnya tidak jauh berbeda dengan perpustakaan pada umumnya. Hanya biasanya dalam proses pengolahan dituntut untuk lebih memberhatikan kecepatan dalam temu kembali informasi dan penyajian. Sehingga terkadang dalam klasifikasi contohnya disesuaikan dengan kebutuhan dan karakter perpustakaan tersebut.
4. Pengguna
Perpustakaan khusus dalam pemilihan dan setting pengelolaan sangat disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik penggunanya. Hubungan antara pengguna dan pengelola perpustakaan sangat erat terutama apabila dihubungkan dengan pemenuhan kebutuhan dan pengembangan perpustakaan itu sendiri. Tidak sedikit pengguna akan ikut andil dalam menentukan pola pengelolaan dan juga penentuan koleksi/informasi yang perlu disediakan oleh perpustakaan. Pengguna mempunyai arti penting karena pengguna merupakan faktor penting mengapa perpustakaan khusus itu ada.
5. Layanan
Layanan perpustakaan khusus harus dapat memberikan nilai lebih kepada pengguna dan organisasi/badan induk yang membawahinya. Untuk itu pengelola perpustakaan perlu selalu memberikan alternatif-alternatif dalam penyampaian informasi kepada penggunanya. Aspek layanan menjadi penting untuk
diperhatikan dikarenakan tuntutan kebutuhan penyajian informasi yang cepat, tepat dan terbaru selalu ada.
Jenis layanan perpustakaan khusus dapat bersifat terbuka maupun tertutup, tergantung pada kebijakan organisasi, pengelola dan tipe penggunanya. Namun kebanyakan perpustakaan khusus menerapkan sistem terbuka dengan akses terbatas. Hal ini untuk lebih memberikan peluang kepada penggunaan yang lebih luas namun tetap terkontrol. Terbuka artinya siapapun dapat memanfaatkan koleksi yang ada, sedangkan akses terbatas adalah pengaturan terhadap proses pemanfaatan koleksi seperti fasilitas pinjam, fasilitas baca, fotokopi, dan sebagainya.
2.2 Koleksi Perpustakaan
Koleksi Perpustakaan merupakan informasi yang disampaikan perpustakaan kepada pengguna. Koleksi membahas semua bidang ilmu pengetahuan yang akan disesuaikan dengan kebutuhan pengguna di sebuah perpustakaan.
Pengertian koleksi perpustakaan menurut Siregar (2002, 2) adalah “Semua bahan pustaka yang dikumpulkan, diolah dan disimpan untuk disajikan kepada masyarakat guna memenuhi kebutuhan pengguna akan informasi”.
Selain pendapat di atas Yulia (1993, 3) mengemukakan bahwa “Koleksi perpustakaan merupakan kumpulan bahan perpustakaan yang dimiliki suatu perpustakaan yang dilayankan kepada pengguna. Ada beberapa jenis koleksi bahan pustaka yang tercakup dalam koleksi dan telah dikelompokkan menurut jenisnya diantaranya adalah karya cetak, karya non cetak, karya dalam bentuk elektronik”.
Menurut buku Pedoman Pembinaan Koleksi dan Pengetahuan Literature (1998 : 2), ”Koleksi perpustakaan adalah semua bahan pustaka yang dikumpulkan, diolah, dan disimpan untuk disajikan kepada masyarakat guna memenuhi kebutuhan pengguna akan informasi”. Sedangkan menurut Ade Kohar (2003 : 6), “Koleksi perpustakaan adalah yang mencakup berbagai format bahan
sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan alternatif para pemakai perpustakaan terhadap media rekam informasi”.
2.2.1 Pengertian Koleksi
Koleksi sendiri merupakan istilah yang digunakan secara luas di dunia perpustakaan untuk menyatakan bahan pustaka apa saja yang harus diadakan di sebuah perpustakaan. Menurut ALA Glossary of Library and Information Science(1983) koleksi merupakan sejumlah kegiatan yang berkaitan dengan penentuan dan koordinasi kebijakan seleksi, menilai kebutuhan pemakai, studi pemakaian koleksi, evaluasi koleksi, identifikasi kebutuhan koleksi, seleksi bahan pustaka, perencanaan kerjasama sumberdaya koleksi, pemeliharaan koleksi dan penyiangan koleksi perpustakaan.
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan pasal 1 ayat 3, koleksi perpustakaan adalah “semua informasi dalam bentuk karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam dalam berbagai media yang mempunyai nilai pendidikan, yang dihimpun, diolah, dan dilayankan”.
Koleksi atau bahan pustaka merupakan unsur pokok dalam perpustakaan, yang sangat besar peranannya dalam menunjang pelayanan informasi yang diberikan kepada pengguna. Koleksi atau bahan pustaka adalah semua bahan pustaka yang dikumpulkan, diolah, disimpan, dan disajikan kepada pengguna perpustakaan.
Koleksi atau bahan pustaka disimpan guna keperluan untuk disebarluaskan kepada pengguna perpustakaan, bahan pustaka yang disimpan juga berbeda menurut tujuan dan fungsi perpustakaan, misalnya perpustakaan umum pasti berbeda koleksi atau bahan pustakanya dengan perpustakaan khusus, ini disebabkan oleh pengguna perpustakaan yang berbeda sehingga tujuan dan fungsinya berbeda.
2.2.2 Jenis-Jenis Koleksi Perpustakaan
Menurut Yulia (1993, 3) Ada beberapa jenis koleksi bahan pustaka yang tercakup dalam koleksi perpustakaan diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Karya Cetak
Karya cetak merupakan hasil pikiran karya manusia yang dituangkan dalam tulisan atau cetak, yaitu seperti berikut :
a. Buku:
Buku merupakan bahan pustaka yanng merupakan satu kesatuan yang utuh dan yang paling umum terdapat dalam koleksi bahan perpustakaan. Berdasarkan standar dari Unesco tebal buku paling sedikit 49 halaman tidak termaksud kulit maupun jaket buku. Diantaranya buku fiksi, buku teks, dan buku rujukan.
b. Terbitan Berseri:
Merupakan bahan pustaka yang direncanakan untuk diterbitkan terus dengan jangka waktu terbit tertentu. Yang termaksud dalam bahan pustaka ini adalah harian (surat kabar), majalah (mingguan, bulanan, dan lainya), laporan yang terbit dengan jangka waktu tertentu, seperti laporan tahunan, triwulan, dan sebagainya.
2. Karya Non cetak
Karya Nontercetak adalah hasil pikiran manusia yang dituangkan tidak dalam bentuk cetak seperti buku atau majalah, melainkan dalam bentuk lain seperti rekaman suara, rekaman video, rekaman gambar dan sebagainya.. Yang termaksud jenis bahan pustaka Audiovisual adalah sebagai berikut:
a. Rekaman Suara: Merupakan bahan pustaka dalam bentuk pita kaset dan piringan hitam.
b. Gambar Hidup dan Rekaman Video: Merupakan bahan pustaka yang bentuknya seperti film dan kaset video.
c. Bahan Grafika: Bahan grafika terdiri dari dua jenis yaitu bahan pustaka yang dapat dilihat langsung
d. Bahan Kartografi :Yang termaksud bahan pustaka kartografi adalah peta, atlas, bola dunia, foto udara.
e. Bentuk Mikro : Bentuk mikro adalah suatu istilah yang digunakan untuk menunjukan semua bahan pustaka yang menggunakan media film dan tidak dapat dibaca oleh mata melainkan harus memakai alat yang dinamakan microreader. Yang termaksud bahan pustsaka bentuk mikro adalah sebagai berikut:
1. Mikrofilm: Bahan pustaka bentuk mikro berbentuk gulungan film yang ukurannya 16 mm, dan 35 mm.
2. Mikrofis: Bahan pustaka bentuk mikrofis berbentuk lembaran film dengan ukuran 105 mm x 148 mm (standar) dan 75 mm x 125 mm.
3. Microopaque:Bentuk micro dimana informasinya dicetak kedalam kertas yangmengkilat tidak tembus cahaya.
Ukurannya sebesar microfis.
3. Karya dalam Bentuk Elektronik
Hastuti (2012, 2) mengemukakan bahwa: “Sumber daya elektronik adalah informasi yang dituangkan dalam bentuk buku atau jurnal ektronik yang biasa dikenal dengan istilah electronic collection (e-collection)”. Contoh sumber daya elektronik adalah CD-ROM (Compact Disk-Read Only Memory), disket, jurnal online.
Uraian di atas menyatakan bahwa koleksi perpustakaan terdiri dari bermacam koleksi yang perubahannya dipengaruhi oleh perkembangan teknologi dan informasi. Dengan adanya teknologi informasi, maka informasi dapat dituangkan kedalam media elektronikseperti pita magnetis dan cakram atau disc.
Untuk membacanya diperlukan perangkat keras seperti komputer, CD-ROM player, dan sebagainya. Perubahan koleksi ini menyebabkan kemudahan dalam mengakses informasi bagi pengguna.
2.3 Keterpakaian Jasa Koleksi
Kohn (2013:88) “metode evaluasi koleksi berbasis keterpakaian koleksi berfokus pada permintaan pengguna”. Permintaan ini berasal dari data sirkulasi yang berasal dari dalam perpustakaan sendiri maupun yang berasal dari luar perpustakaan yang biasa disebut dengan Inter Librarian Loan.
Jain (1969:245) “metode yang digunakan untuk melihat keterpakaian koleksi ada 2 metode yang pertama adalah dengan memilih sampel buku dari total koleksi pada perpustakaan”. Setelah itu mengecek tentang pemakaian koleksi tersebut yang dicacat oleh perpustakaan. Metode yang kedua adalah metode yang menggunakan semua populasi menjadi sampel penelitian. Selain mencacat pemakaiannya peneliti juga akan mencacat karakteristik yang dimiliki oleh koleksi. Karakteristiknya berupa subjek dan umur buku saat berada di perpustakaan.
Thompson (1991:443) menyatakan bahwa “pengukuran konsep pemanfaatan perpustakaan dapat diukur dengan tiga indikator yakni intensitas penggunaan, frekwensi penggunaan, dan jumlah koleksi yang digunakan”. Ketiga indikator tersebut mempunyai penjelasan dan tujuan sebagai berikut :
1. Intensitas Penggunaan (intensity of use)
Hal ini menunjukkan tentang sejauh mana keandalan dan kehebatan koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan. Intensitas penggunaan dilihat dari kunjungan yang dilakukan oleh pengguna perpustakaan. Jika pengguna teratur pergi ke perpustakaan maka bisa disimpulkan jika informasi yang di perpustakaan dibutuhkan dan permanfaat bagi pengguna.
2. Frekwensi penggunaan (frequency of use)
Bertujuan untuk menunjukkan seberapa sering pengguna menggunakan koleksi untuk memenuhi kebutuhan informasinya. Pemfaatan ini tidak hanya dari penggunaan koleksi namun juga dari pemanfaatan fasilitas yang ada di perpustakaan.
3. Jumlah yang digunakan (diversity of software pachage used)
Menujukkan tentang sejauh mana ketergantungan pengguna terhadap koleksi yang ada di perpustakaan. Dalam pemanfaatan koleksi pengguna tidak hanya datang untuk meminjam koleksi namun juga untuk menggunakan koleksi di tempat.
2.4 Keterpakaian Jasa Koleksi Audio Visual 2.4.1 Pengertian Audio Visual
Media Audio telah digunakan secara luas untuk mengkomunikasikan pesan dan informasi kepada kelompok atau individu. Media ini merupakan media yang cukup populer digunakan dalam mempelajari informasi dan ilmu pengetahuan.
Sedangkan Pribadi (2005, 22) mengemukakan bahwa: “Audio adalah media yang relatif murah untuk mengkomunikasikan pesan dan informasi tertentu.
Media audio mempergunakan beberapa jenis sumber suara seperti suara manusia, suara binatang, dan suara lingkungan sekitar untuk mengungkapkan pesan dan informasi”.
Dapat diketahui bahwa Audio merupakan media yang menyampaikan suatu pesan atau informasi melalui suara/bunyi. Secara khusus pengertian koleksi audio adalah Bahan pustaka atau informasi dalam bentuk suara seperti: piringan hitam, pita kaset suar(audio tape cassette), Compact disc (CD),dan pita open reel.
Visual adalah salah satu jenis koleksi yang dapat dilihat atau koleksi tanpa suara. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005, 1706)mengemukakan bahwa
“visual adalah sesuatu yang berkenaan dengan pengelihatan; dapat dilihat oleh indera.”
Dapat diketahui bahwa visual merupakan sesuatu yang berhubungan dengan indera pengelihatan. Dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa koleksi visual merupakan bahan pustaka atau informasi yang penggunaanya melalui indera pengelihatan atau dapat dilihat seperti : gambar diam, bahan-bahan grafis, realia, model.
Dalam Online Dictionary for Library and Information Science mengemukakan bahwa Audiovisual merupakan: “A work in a medium that combines sound and visual images, for example, a motion picture or videorecording with a sound track, or a slide presentation synchronized with audiotape.” yang artinya Sebuah karya dalam media yang menggabungkan gambar suara dan visual, misalnya sebuah film atau video recording dengan jalur suara, atau presentasi slide disinkronkan dengan rekaman
Sehubungaan dengan hal di atas Lismurtini (2013) mengemukakan bahwa:
Media audio-visual adalah media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar.
Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik, karena meliputi kedua jenis media auditif (mendengar) dan visual (melihat). Media Audiovisual merupakan sebuah alat bantu audiovisual yang berarti bahan atau alat yang dipergunakan dalam situasi belajar untuk membantu tulisan dan kata yang diucapkan dalam menularkan pengetahuan, sikap, dan ide.
Sedangkan Dalam Pedoman Teknis Pengembangan Koleksi Layanan Perpustakaan Nasional R.I (2002, 17) dikemukakan bahwa “koleksi Audiovisual adalah Semua bentuk bahan pustaka yang bisa didengar dan dilihat.”
Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa Audio-visual adalah sesuatu yang dapat didengar atau dilihat serta sesuatu yang dapat dilihat dan didengar.
Dalam pengertian yang lebih khusus koleksi Audio-visual adalah semua bahan pustaka yang dapat dilihat oleh panca indera (media gambar) atau yang dapat didengar (media suara) dan yang dapat dilihat serta didengar (media video).
Contohnya seperti rekaman suara, rekaman video, rekaman gambar, seperti kaset, audio visual, mikrofilm, mikrofis, piringan hitam, video kaset, dan CD-ROM.
2.4.2 Jenis Koleksi Audio Visual
Adapun jenis koleksi Audiovisual adalah sebagai berikut: kaset video, VCD (Video Compact Disc), DVD (Digital Video Disc).
1. Kaset Video
Video kaset merupakan salah satu koleksi audiovisual yang jarang ditemukan saat ini karena kelangkaan jenis koleksi ini bahkan disebagian perpustakaan koleksi jenis video kaset tidak disediakan lagi.
Cubbit (1993, 11) mengemukakan bahwa Rekaman Video “merupakan medium rekaman yang menggunakan pita magnetik untuk menyalurkan sinkronisasi antara suara dan gambar.
Sedangkan Fothergill yang dikutip oleh Anita (2007, 18) menyatakan bahwa “dipasaran dunia dikenal tiga sistem kaset video yang banyak digunakan oleh masyarakat, yaitu:”
a. U-Matic yang menggunakan pita berukuran 19,05 mm dengan kecepatan 9,5 cm/detik dan kemasannya berukuran 221 x 140 x 32 mm. Jenis ini dikeluarkan oleh Sony dan digunakan untuk para profesional. Keuntungan U-Matic adalah kualitas gambar tinggi dan jenis ini banyak digunakan dalam pelatihan di perusahan-perusahaan dan kantor-kantor berita telivisi.
b. VHS (Video Home System) banyak digunakan untuk komersil. Sistem ini menggunakan pita ukuran 12,7 mm dengan kecepatan standar 2, 34 cm/detik. Kemasannya berukuran 188 x 104 x 25 mm. VHS dikeluarkan oleh JVC dan banyak terdapat dipasaran. Namun kualitas video rendah dan jika sering digunakan akan menurunkan mutu gambar dan suara.
c. Kaset dengan pita ukuran 8 mm dengan kemasan 9,2 x 6,2 x 1,4 cm (3,6 x 2,4 x 0,6 in). Jenis ini sering disebut dengan Camcorder dan digunakan oleh semi-profesional. Sistem lain yang banyak digunakan di Indonesia adalah format Beta, yaitu format video setengah inci yang dibuat oleh Sony. Bentuk kaset ini lebih ringkas dari VHS (Video Home System).
2. VCD
VCD (Video Compact Disc) merupakan bagian dari salah satu gambar hidup atau koleksi audiovisual. Menurut Fothergill yang dikutip oleh Anita (2007, 21) menyatakan bahwa: “Video Compact Disc atau lebih terkenal dengan sebutan
VCD (Video Compact Disc) merupakan bagian dari salah satu gambar hidup atau koleksi audiovisual. Menurut Fothergill yang dikutip oleh Anita (2007, 21) menyatakan bahwa: “Video Compact Disc atau lebih terkenal dengan sebutan