BAB 3 PROFIL WILAYAH KOTA BOGOR
3.3. Penataan Ruang dan Infrastruktur
3.3.4. Ketersediaan Pengeolahan Air Limbah yang Aman
Ketersediaan sistem jaringan pengolahan air limbah yang aman di Kota Bogor dari tahun 2015-2018 dapat dijelaskan pad table berikut.
Tabel 3.5 Ketersediaan pengolahan air limbah yang aman
Uraian 2015 2016 2017 2018
Rumah tangga dilayani sistem air limbah yang aman (%)
66,80 66,80 73,10 67,21
Sumber: RPJMD Kota Bogor 2019-2024
BAB 4
PROFIL EKONOMI KOTA BOGOR
4.1. Kondisi Ekonomi
4.1.1. PDRB dan Struktur Ekonomi
Berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik Kota Bogor, nilai Produk Domestik Bruto (PDRB) Kota Bogor pada tahun 2020 mencapai 45.940.259,90 juta rupiah berdasarkan harga tahun berlaku, dan 32.083.513,00 juta rupiah berdasarkan harga konstan tahun 2010. Adapun struktur perekonomian Kota Bogor dilihat dari proporsi masing-masing sektor perekonomian terhadap total PDRB, dalam kurun waktu 2018-2020 Tabel 4.6 Produk domestik regional bruto (PDRB menurut lapangan usaha (juta rupiah)
Kategori PDRB Atas Harga Berlaku PDRB Atas Harga Konstan 2010
2018 2019 2020 2018 2019 2020
Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan
293.700,7 305.493,2 317.861,1 238.277,2 239.771,3 245.163,9
Pertambangan dan Penggalian - - - - -
-Industri Pengolahan 7.840.380,2 8.351.600,1 8.285.399,3 5.737.431,3 5.986.823,1 5.954.301,8 Pengadaan Listrik dan Gas 1.917.407,3 1.967.250,1 1.814.864,0 808.244,4 804.768,3 730.827,1 Pengadaan Air, Pengelolaan
Sampah, Limbah dan Daur Ulang
46.135,5 49.170,9 53.314,3 30.703,9 32.725,6 33.592,0
Konstruksi 4.937.626,3 5.615.544,0 5.283.735,7 3.493.782,5 3.829.210,2 3.578.700,2 Perdagangan Besar dan Eceran,
Reparasi Mobil dan Sepeda Motor
8.697.451,7 9.388.980,4 8.967.697,2 6.494.415,5 6.744.719,9 6.220.448,4
Transportasi dan Pergudangan 5.252.716,1 5.988.705,3 5.765.779,0 3.622.762,6 3.935.190,1 3.861.855,6 Penyediaan Akomodasi dan Makan
Minum
2.008.792,5 2.199.470,3 2.269.202,7 1.422.342,4 1.503.114,8 1.530.332,8
Informasi dan Komunikasi 2.063.111,8 2.170.434,0 3.034.044,5 2.095.540,8 2.253.816,0 3.039.811,2 Jasa Keuangan dan Asuransi 3.075.475,1 3.346.217,5 3.325.974,4 2.083.321,7 2.187.588,8 2.225.258,4
Real Estat 919.284,1 1.010.806,6 984.525,6 684.186,5 736.540,9 725.168,8
Jasa Perusahaan 890.568,6 1.046.281,0 935.529,4 632.731,1 691.035,5 599.778,2 Administrasi Pemerintahan,
Pertahanan & Jaminan Sosial Wajib
1.174.496,7 1.239.619,0 1.202.430,4 697.658,8 726.854,5 718.132,2
Jasa Pendidikan 1.266.508,7 1.435.963,5 1.596.798,5 887.107,4 979.826,8 1.036.697,5 Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 558.376,9 641.408,9 663.087,2 434.265,6 479.727,4 485.700,0 Jasa Lainnya 1.318.988,5 1.466.412,2 1.440.016,8 1.050.802,9 1.121.796,1 1.097.744,8 Jumlah 42.261.020,7 46.223.356,9 45.940.259,9 30.413.9574,6 32.253.509,5 32.083.513,0
Sumber: BPS Kota Bogor 2021
didominasi oleh sector perdagangan besar dan eceran, industri pengolahan, transportasi dan pergudangan, konstruksi serta jasa keuangan dan asuransi.
4.1.2. Pertumbuhan Ekonomi
Secara umum, perkembangan PDRB Kota Bogor mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, dengan laju pertumbuhan mencapai 6,14 persen pada tahun 2018 dan 6,05 persen pada tahun 2019, meskipun terjadi penurunan pada tahun 2020 yaitu sebesar 0,53 persen. Penurunan ini kemungkinan terkait dengan adanya pandemic covid 19 yang berpengaruh terhadap dinamika perekonomian secara global. Jika dilihat dari nilai laju pertumbuhannya dalam kurun waktu 2018-2020, maka sektor jasa merupakan sektor dengan rata-rata laju pertumbuhan yang paling tinggi.
Tabel 4.7 Laju pertumbuhan PDRB Kota Bogor menurut lapangan usaha
Kategori Laju pertumbuhan PDRB Kota Bogor
menurut lapangan usaha (persen)
2018 2019 2020
Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 2,25 0,63 2,25
Pertambangan dan Penggalian - -
-Industri Pengolahan 7,21 4,35 -0,54
Pengadaan Listrik dan Gas -2,85 -0,43 -9,19
Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang 5,14 6,58 2,65
Konstruksi 7,91 9,60 -6,54
Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor
2,99 3,85 -7,77
Transportasi dan Pergudangan 7,61 8,62 -1,86
Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 9,07 5,68 1,81
Informasi dan Komunikasi 9,15 7,55 34,87
Jasa Keuangan dan Asuransi 6,76 5,00 1,72
Real Estate 6,93 7,65 -1,54
Jasa Perusahaan 7,10 9,21 -13,21
Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial
Wajib 2,06 4,18 -1,20
Jasa Pendidikan 7,32 10,45 5,80
Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 13,85 10,47 1,24
Jasa Lainnya 4,93 6,76 -2,14
Jumlah 6,14 6,05 -0,53
Sumber: BPS Kota Bogor 2021
Meskipun pada tahun 2020, sub sektor jasa perusahaan mengalami penurunan yang paling besar sebagai dampak adanya wabah pandemic covid 19. Adapun sektor informasi dan komunikasi mengalami peningkatan yang sangat signifikan pada tahun 2020, yaitu mencapai 34 persen sebagai konsekuensi adanya pembatasan mobilitas sosial terkait dengan pandemic covid 19. Secara umum, sub sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial memiliki laju pertumbuhan yang paling tinggi dalam kurun waktu 2018-2019 meskipun dengan kontribusi PDRB yang masih relatif kecil.
4.1.3. UMKM dan Perdagangan
Saat ini terdapat 3.757 perusahaan di sektor industri, yang terdiri dari 2.561 unit bergerak di bidang industri kimia, hasil pertanian dan kehutanan, dan 1.196 industri yang bergerak di bidang metal, mesin dan kelistrikan. Dengan keterbatasan lahan yang dimiliki, saat ini Kota Bogor belum memiliki Kawasan industry khusus. Beberapa perusahaan tersebut tersebar di enam kecamatan di wilayah Kota Bogor. Dalam rangka penataan Kawasan ke depan, saat ini Kota Bogor telah memiliki Peraturan Daerah Kota Bogor Nomor 8 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang dan Wilayah Kota Bogor Tahun 2011 s/d 2031. Adapun dari pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), hingga tahun 2019, tercatat 23.706 unit UMKM di wilayah kota Bogor yang terdiri dari bidang usaha kuliner, pakaian, Pendidikan, otomotif, agribisnis, dan jaringan internet. Sebagaimana terlihat pada Tabel 3, bidang usaha kuliner mendominasi jumlah UMKM di Kota Bogor yaitu berkontribusi sebesar 40 persen (9.514 unit) dari total UMKM di Kota Bogor. Adapun dari sisi lokasi, jumlah UMKM terbesar berada di Kecamatan Bogor Utara yaitu mencapai 8.069 (34 persen) dari total UMKM di Kota Bogor.
Tabel 4.8 Jumlah usaha mikro kecil dan menengah menurut kecamatan dan bidang usaha pada tahun 2019
Kecamatan Jumlah Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Kuline
r
Pakaian Pendidika n
Otomotif Agribisnis Jaringan Internet
Bogor Selatan 1.239 571 344 346 335 270
Bogor Timur 824 368 224 219 224 186
Bogor Utara 3.241 1.473 870 875 867 743
Bogor Tengah 2.007 902 554 543 552 440
Bogor Barat 1.220 533 330 318 334 272
Tanah Sareal 983 465 274 284 258 218
Kota Bogor 9.514 4.312 2.596 2.585 2.570 2.129
Sumber: Kota Bogor Dalam Angka 2021
Sebagaiamana disebutkan sebelumnya, bahwa sektor perdagangan memiliki kontribusi terhadap PDRB Kota Bogor cukup besar. Jika dilihat dari jumlah sarana perdagangan yang terdapat di Kota Bogor (Tabel 4), hingga tahun 2019 terdapat 570 unit sarana perdagangan yang didominasi oleh sarana perdagangan modern, khususnya jenis minimarket yang mencapai 484 unit dan jenis swalayan sebesar 70 unit. Sementara sarana perdagangan tradisional (pasar tradisional) berjumlah 12 yang sebagian besarnya dikelola oleh pemerintah. Adapun dari sisi lokasi, Kecamatan Bogor Tengah dan Kecamatan Bogor Barat memiliki jumlah sarana pasar modern paling besar dibandingkan kecamatan-kecamatan lainnya.
Tabel 4.9 Jumlah sarana perdagangan menurut kecamatan dan jenis sarana di Kota Bogor
Sumber: Kota Bogor Dalam Angka 2021
4.2. Daya Dukung Investasi
4.2.1. Undang-Undang No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal
Penanaman modal adalah segala bentuk kegiatan menanam modal, baik oleh penanam modal dalam negeri maupun penanam modal asing untuk melakukan usaha di wilayah negara Republik Indonesia. Penanaman Modal dibagi menjadi 2 (dua) Jenis yaitu Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), dan Penanaman Modal Asing (PMA). PMDN adalah kegiatan menanam modal untuk melakukan usaha di wilayah negara Republik Indonesia yang dilakukan oleh penanam modal dalam negeri dengan menggunakan modal dalam negeri. Sedangkan PMA adalah kegiatan menanam modal untuk melakukan usaha di wilayah negara Republik Indonesia yang dilakukan oleh penanam modal asing baik yang menggunakan modal asing sepenuhnya maupun yang berpatungan dengan penanam modal dalam negeri.
1. Kepastian hukum 2. Keterbukaan 3. Akuntabilitas
4. Perlakuan yang sama dan tidak membedakan asal negara 5. Kebersamaan
6. Efisiensi berkeadilan 7. Keberkelanjutan
8. Berwawasan lingkungan 9. Kemandirian
10. Keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional Tujuan penyelenggaraan penanaman modal, antara lain untuk:
1. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional.
2. Menciptakan lapangan kerja.
3. Meningkatkan pembangunan ekonomi berkelanjutan.
4. Meningkatkan kemampuan daya saing dunia usaha nasional 5. Meningkatkan kapasitas dan kemampuan teknologi nasional.
6. Mendorong pengembangan ekonomi kerakyatan.
7. Mengolah ekonomi potensial menjadi kekuatan ekonomi riil dengan menggunakan dana yang berasal, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri.
8. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pemerintah menetapkan kebijakan dasar penanaman modal untuk mendorong terciptanya iklim usaha nasional yang kondusif bagi penanaman modal untuk penguatan daya sang perekonomian nasional, dan mempercepat peningkatan penanaman modal.
Dalam menetapkan kebijakan dasar, Pemerintah:
1. Memberi perlakuan yang sama bagi penanam modal dalam negeri dan penanam modal asing dengan tetap memperhatikan kepentingan nasional.
2. Menjamin kepastian hukum, kepastian berusaha, dan keamanan berusaha bagi penanam modal sejak proses pengurusan perizinan sampai dengan berakhirnya kegiatan penanaman modal sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.
3. Membuka kesempatan bagi perkembangan dan memberikan perlindungan kepada usaha mikro, kecil menengah, dan koperasi.
Penanaman modal dalam negeri dapat dilakukan dalam bentuk badan usaha yang berbentuk badan hukum, tidak berbadan hukum atau usaha perseorangan, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Sedangkan penanaman modal asing wajib dalam bentuk perseroan terbatas berdasarkan hukum Indonesia dan berkedudukan di dalam wilayah negara Republik Indonesia, kecuali ditentukan lain oleh undang-undang.
Penanam modal dalam negeri dan asing yang melakukan penanaman modal dalam bentuk perseoran terbatas dilakukan dengan mengambil bagian saham pada saat pendirian perseroan terbatas, membeli saham dan melakukan cara lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Semua bidang usaha atau jenis usaha terbuka bagi kegiatan penanaman modal, kecuali bidang usaha atau jenis usaha yang dinyatakan tertutup dan terbuka dengan persyaratan Bidang Usaha yang tertutup bagi penanam modal asing adalah:
1. Produksi senjata, mesiu, alat peledak, dan peralatan perang; dan
2. Bidang usaha yang secara eksplisit dinyatakan tertutup berdasarkan undang-undang.
Pemerintah berdasarkan Peraturan Presiden menetapkan bidang usaha yang tertutup untuk penanaman modal, baik asing maupun dalam negeri, dengan berdasarkan kriteria kesehatan, moral, kebudayaan, lingkungan hidup, pertahanan dan keamanan nasional,
serta kepentingan nasional lainnya. Kriteria dan persyaratan bidang usaha yang tertutup dan yang terbuka dengan persyaratan serta daftar bidang usaha yang tertutup dan yang terbuka dengan persyaratan masing-masing akan diatur dengan Peraturan Presiden.
Pemerintah menetapkan bidang usaha yang terbuka dengan persyaratan berdasarkan kriteria kepentingan nasional, yaitu perlindungan sumber daya alam, perlindungan, pengembangan usaha mikro, kecil, menengah, dan koperasi, pengawasan produksi dan distribusi, peningkatan kapasitas teknologi, partisipasi modal dalam negeri, serta kerjasama dengan badan usaha yang ditunjuk Pemerintah.
Penanam modal yang menanamkan modalnya di Indonesia baik PMDN maupun PMA diberikan hak, kewajiban dan tanggung jawab. Hak Penanam Modal:
1. Kepastian hak, hukum, dan perlindungan
2. Informasi yang terbuka mengenai bidang usaha yang dijalankannya 3. Hak pelayanan
4. Berbagai bentuk fasilitas kemudahan Kewajiban Penanam Modal:
1. Menerapkan prinsip tata kelola perusahaan yang baik.
2. Melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan.
3. Membuat laporan tentang kegiatan penanaman modal dan menyampaikannya kepada Badan Koordinasi Penanaman Modal.
4. Menghormati tradisi budaya masyarakat sekitar lokasi kegiatan usaha penanaman modal.
5. Mematuhi semua ketentuan peraturan perundang-undangan.
Tanggung Jawab Penanam Modal:
1. Menjamin tersedianya modal yang berasal dari sumber yang tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan penundang-undangan.
2. Menanggung dan menyelesaikan segala kewajiban dan kerugian jika penanam modal menghentikan atau meninggalkan atau menelantarkan kegiatan usahanya secara sepihak sesuai dengan ketentuan peraturan penundang-undangan (hal lain yang merugikan negara).
3. Menjaga kelestarian lingkungan hidup.
4. Menciptakan keselamatan, kesehatan, kenyamanan, dan kesejahteraan pekerja.
5. Mematuhi semua ketentuan peraturan perundang-undangan.
Penanam modal yang mengusahakan sumber daya alam yang tidak terbarukan wajib mengalokasikan dana secara bertahap untuk pemulihan lokasi yang memenuhi standar kelayakan lingkungan hidup, yang pelaksanaannya diatur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
4.2.2. Undang-Undang RI No. 23 Tahun 24 tentang Pemerintah Daerah
Berdasarkan UU RI No. 23 Tahun 2014, Pemerintah Daerah diberikan wewenang untuk mengelola daerahnya berdasarkan potensi daerah yang dimilki. Hal ini sering disebut juga dengan otonomi daerah. otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri Urusan Pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Asas otonomi adalah prinsip dasar penyelenggaraan Pemerintahan Daerah berdasarkan Otonomi Daerah. Dalam pelaksanaan Desentralisasi dilakukan Penataan Daerah, Penataan Daerah ditujukan untuk:
1. Mewujudkan efektivitas penyelenggaraan Pemerintahan Daerah 2. Mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat
3. Mempercepat peningkatan kualitas pelayanan publik 4. Meningkatkan kualitas tata kelola pemerintahan
5. Meningkatkan daya saing nasional dan daya saing Daerah 6. Memelihara keunikan adat istiadat, tradisi dan budaya Daerah
Penataan Daerah terdiri atas Pembentukan Daerah dan Penyesuaian Daerah.
Pembentukan Daerah dan Penyesuaian Daerah dapat dilakukan berdasarkan pertimbangan kepentingan strategis nasional. Pembentukan Daerah berupa: a.
Pemekaran Daerah; dan b. Penggabungan Daerah. Pembentukan Daerah mencakup pembentukan Daerah Provinsi dan pembentukan Daerah Kabupaten/Kota.
4.2.3. Peraturan Presiden RI No. 44 Tahun 2016 tentang Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persayaratan di Bidang tertentu yang dapat diusahakan untuk kegiatan Penanaman Modal dengan persyaratan, yaitu dicadangkan untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah serta Koperasi, Kemitraan, kepemilikan modal, lokasi tertentu, perizinan khusus, dan penanaman modal dari negara Association of Southeast Asian Nations (ASEAN).
Bidang Usaha Yang Terbuka Dengan Persyaratan terdiri atas:
1. Bidang Usaha Yang Terbuka Dengan Persyaratan yang dicadangkan atau kemitraan dengan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah serta Koperasi.
2. Bidang Usaha Yang Terbuka Dengan Persyaratan tertentu yaitu: batasan negeri 100% (seratus %), dan atau batasan kepemilikan modal dalam kerangka kerjasama Association of Southeast Asian Nations (ASEAN). Kemitraan dilakukan oleh Penanam Modal dengan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah serta Koperasi dengan pola: inti plasma, sub kontrak, keagenan, waralaba, dan pola Kemitraan lainnya.
Sementara itu, mengenai daftar bidang usaha yang tertutup:
1. Budidaya Ganja
2. Penangkapan spesies ikan yang tercantum dalam Appendix l Convention on Intemational Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES).
3. Pengangkatan Benda Berharga Asal Muatan Kapal yang Tenggelam
4. Pemanfaatan (Pengambilan) Koral Karang dari Alam Untuk: Bahan Bangunan, Kapur, Kalsium, Akuarium, dan Souvenir Perhiasan, serta Koral Hidup atau Koral Mati (recent death coral dari Alam).
5. Industri Pembuat Chlor Alkali dengan Proses Merkuri
6. Industri Bahan Aktif Pestisida: Dichloro Diphenyl Trichloroethane (DDT), Aldrin, Endrin, Dieldrin, Chlordane, Heptachlor, Mirex, dan ene
7. Industri Bahan Kimia Industri dan Industri Bahan Perusak Lapisan Ozone (BPO) Polychlorinated Bipheny (PcB), Hexachlorobenzene, dan carbon Tetrachloride (CTC), Methyl Chloroform, Methyl Bromide, Trichloro Fluoro Methane (cFc-11) Dichloro Trijl.uoro Ethane (cFc-12), Trichloro Trifluoro Ethane (cFc-113) Dichloro Tetra Fluoro Ethane (CFC-114), Chloro Pentafluoro Ethane (CFc-115) Chloro Trifluoro Methane (cFc-13), Tetrachloro Difluoro Ethane (cFc-11 2) Pentachloro Fluoro Ethane (cFc-111), Chloro Heptafluoro Propane (cFc 217).Dichloro Hexafluoro Propane (CFC-216). Trichloro Propane (cFC-213). Hexachloro Difluoro Propane (CFC-2 1 Bromo chloro Diluoro Methane (Halon1211), Bromo Trifluoro Methane (Halon-1301), Dibromo Tetrafluoro Ethane (Halon-2402), R-500, R502.
8. Industri Bahan Kimia Daftar 1 Konvensi Senjata Kimia sebagaimana Tertuang Dalam Lampiran I Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2008 Tentang Penggunaan Bahan Kimia sebagai Senjata Kimia.
9. Industri Minuman Keras Mengandung Alkohol.
10. Industri Minuman Mengandung Alkohol: Anggur.
11. Industri Minuman Mengandung Malt.
12. Penyelenggaraan dan Pengoperasian Terminal Penumpang Angkutan Darat.
13. Penyelenggaraan dan Pengoperasian Penimbangan Kendaraan Bermotor.
14. Telekomunikasi/Sarana Bantu Navigasi Pelayaran dan vessel Traffic Information.
15. Penyelenggaraan Pelayanan Navigasi Penerbangan.
16. Penyelenggaraan Pengujian Tipe Kendaraan Bermotor.
17. Manajemen dan Penyelenggaraan Stasiun Monitoring Spektrum Frekuensi seperti penelitian dan pengembangan, serta mendapat persetujuan dari instansi yang bertanggungjawab atas pembinaan bidang usaba tersebut. Sementara itu, bidang usaha diluar dari kedua puluh yang dinyatakan merupakan bidang tertutup tersebut adalah termasuk bidang usaha terbuka dan bidang usaha terbuka dengan persyaratan.
4.2.4. Peraturan Presiden RI No. 38 Tahun 2015 tentang Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur
Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha yang selanjutnya disebut sebagai KPBU adalah kerjasama antara pemerintah dan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur untuk kepentingan umum dengan mengacu pada spesifikasi yang telah ditetapkan sebelumnya oleh Menteri/Kepala Lembaga/Kepala Daerah/Badan Usaha Milik Negara/Badan Usaha Milik Daerah, yang sebagian atau seluruhnya menggunakan sumber daya Badan Usaha dengan memperhatikan pembagian risiko diantara para pihak.
KPBU dilakukan dengan tujuan untuk:
1. Mencukupi kebutuhan pendanaan secara berkelanjutan dalam Penyediaan Infrastruktur melalui pengerahan dana swasta;
2. Mewujudkan Penyediaan Infrastruktur yang berkualitas, efektif, efisien, tepat sasaran, dan tepat waktu;
3. Menciptakan iklim investasi yang mendorong keikutsertaan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur berdasarkan prinsip usaha secara sehat;
4. Mendorong digunakannya prinsip pengguna membayar pelayanan yang diterima, atau dalam hal tertentu mempertimbangkan kemampuan membayar pengguna dan/atau
5. Memberikan kepastian pengembalian investasi Badan Usaha dalam Penyediaan infrastruktur melalui mekanisme pembayaran secara berkala oleh pemerintah kepada Badan Usaha.
KPBU dilakukan berdasarkan prinsip:
a. Kemitraan, yakni kerjasama antara pemerintah dengan Badan Usaha dilakukan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan dan persyaratan yang mempertimbangkan kebutuhan kedua belah pihak;
b. Kemanfaatan, yakni Penyediaan Infrastruktur yang dilakukan oleh pemerintah dengan Badan Usaha untuk memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat.
Adapun infrastruktur yang dapat dikerjasamakan berdasarkan Peraturan Presiden ini adalah infrastruktur ekonomi dan infrastruktur sosial yang mencakup:
1. Infrastruktur transportasi;
2. Infrastruktur jalan;
3. Infrastruktur sumber daya air dan irigasi;
4. Infrastruktur air minum;
5. Infrastruktur sistem pengelolaan air limbah terpusat;
6. Iinfrastruktur sistem pengelolaan air limbah setempat;
7. Infrastruktur sistem pengelolaan persampahan;
8. Infrastruktur telekomunikasi dan informatika;
9. Infrastruktur ketenagalistrikan;
10. Infrastruktur minyak dan gas bumi dan energi terbarukan;
11. Infrastruktur konservasi energi;
12. Infrastruktur fasilitas perkotaan;
13. Infrastruktur fasilitas pendidikan;
14. Infrastruktur fasilitas sarana dan prasarana olahraga, serta kesenian;
15. Infrastruktur kawasan;
16. Infrastruktur pariwisata;
17. Infrastruktur kesehatan;
18. Infrastruktur lembaga pemasyarakatan;
19. Infrastruktur perumahan rakyat.
KPBU dapat merupakan Penyediaan Infrastruktur yang merupakan gabungan dari 2 (dua) atau lebih jenis infrastruktur. Dalam rangka meningkatkan kelayakan KPBU dan/atau memberikan manfaat yang lebih besar kepada masyarakat, KPBU dapat mengikutsertakan kegiatan penyediaan sarana komersial. Pengadaan tanah untuk KPBU diselenggarakan oleh Pemerintah sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai pengadaan tanah bagi pembangunan untuk kepentingan umum. Pendanaan pengadaan tanah untuk KPBU bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan/atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Dalam hal PJPK adalah Badan Usaha Milik Negara/Badan Usaha Milik Daerah, pendanaan pengadaan tanah dapat bersumber dari anggaran Badan Usaha Milik Negara/ Badan Usaha Milik Daerah atau dari Badan Usaha melalui kerjasama dengan Badan Usaha Milik Negara Badan Usaha Milik Daerah yang bersangkutan. Dalam hal KPBU layak secara finansial, Badan Usaha Pelaksana dapat membayar kembali sebagian atau seluruh biaya pengadaan tanah yang telah dilaksanakan oleh Menteri Kepala Lembaga/Kepala Daerah.
4.3. Indeks Pembangunan Manusia
Manusia merupakan unsur utama dari seluruh kepentingan pembangunan yang menempatkan posisinya pada dua peran yaitu sebagai subyek dan sekaligus juga sebagai obyek pembangunan.Oleh karenanya tuntutan kearah terciptanya manusia
yang berkualitas sebagai modal pembangunan semakin besar. Pembangunan manusia sebagai insan dan sumberdaya pembangunan merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan, dilakukan pada seluruh siklus hidup manusia. Upaya tersebut dilandasi oleh pertimbangan bahwa pembangunan manusia yang baik merupakan kunci bagi tercapainya kemakmuran bangsa. Gambaran pencapaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan atas fokus kesejahteraan sosial dapat diketahui melalui Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Bogor meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini disebabkan adanya peningkatan realisasi dari seluruh komponen IPM, baik komponen pendidikan (harapan lama sekolah dan rata-rata lama sekolah), kesehatan (angka harapan hidup) maupun komponen ekonomi (pengeluaran per kapita per tahun). Pada tahun 2015, IPM Kota Bogor sebesar 73.65 persen. Kemudian meningkat pada tahun 2016 menjadi 74.50%, tahun 2017 menjadi 75.16 persen, tahun 2018 menjadi 75.66 persen dan tahun 2019 menjadi 76.23 persen. Pada tahun 2020 IPM mengalami penurunan akibat adanya pandemi Covid-19. Untuk lebih lengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 4.10 Indeks pembangunan manusia Kota Bogor
Indeks Pembangunan Manusia Kota Bogor
Tahun 2015 2016 2017 2018 2019 2020
IPM (Persen) 73.65 74.50 75.16 75.66 76.23 76.11
Sumber: BPS Kota Bogor 2021
4.4. Keunggulan Kota Bogor
4.4.1. Iklim Investasi
Investasi atau penanaman modal dalam pembangunan telah banyak membantu dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi di negara maju maupun di negara yang sedang berkembang. Manfaat investasi sangat dirasakan untuk negara sedang berkembang karena kemampuan dalam menyediakan modal yang relatif rendah. Padahal, di sisi lain, usaha untuk mempercepat pembangunan ekonomi memerlukan modal yang sangat besar. Oleh karena itu, salah satu aspek dalam kebijakan pembangunan perlu melakukan berbagai upaya untuk menarik investasi agar memperoleh lebih banyak dana untuk pembangunan. Arus modal untuk pembangunan dapat dibedakan pada arus modal dalam negeri yang bersumber dari tabungan sukarela masyarakat maupun tabungan pemerintah. Sedangkan yang berasal dari luar negeri meliputi bantuan luar negeri, pinjaman luar negeri, dan penanaman modal asing (foreign investment).
Salah satu cara untuk mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi Kota Bogor adalah dengan memperbaiki iklim investasi agar lebih kondusif. Iklim investasi menyangkut semua kebijakan, kelembagaan dan lingkungan, baik yang sedang berlangsung maupun yang diharapkan terjadi di masa datang, yang bisa mempengaruhi tingkat pengembalian dan
risiko investasi. Secara sederhana dapat pula dikatakan bahwa iklim investasi mencerminkan sejumlah faktor yang berkaitan dengan lokasi tertentu yang membentuk kesempatan dan insentif bagi pemilik modal untuk melakukan usaha atau investasi secara produktif dan berkembang. Dengan kata lain, iklim usaha atau investasi yang kondusif adalah iklim yang mendorong seseorang melakukan investasi dengan biaya dan risiko serendah mungkin dan bisa menghasilkan keuntungan dalam jangka panjang.
Realisasi investasi di Kota Bogor cenderung stabil dari tahun 2014-2018 dan selalu berada di atas target investasi yang ditetapkan. Tahun 2019 terdapat sedikit penurunan realisasi investasi walaupun masih berada di atas target yang ditetapkan. Adanya pandemic Covid-19 pada tahun 2020 menyebabkan realisasi investasi di Kota Bogor mengalami penurunan. Hal ini dapat dilihat pada gambar berikut:
Gambar 4.4 Realisasi investasi Kota Bogor
Berdasarkan data perkembangan realisasi investasi PMA dan PMDN se Jawa Barat periode laporan Januari - Maret tahun 2021, realisasi investasi di Kota Bogor untuk PMDN sebesar 19.417.600.000 dan realisasi investasi PMA sebesar 6.939.911.411. Jadi total realiasasi investasi Kota Bogor untuk periode Januari – Maret 2021 sebesar 46.357.511.411.
4.4.2. Sektor Unggulan (LQ dan SSA)
Mengetahui sektor ekonomi unggulan atau basis sangat diperlukan agar kebijakan ekonomi yang dibuat oleh pemerintah tepat sasaran. Pengertian sektor basis adalah sektor yang mampu memenuhi kebutuhan daerahnya dan juga mampu mengekspor output-nya untuk memenuhikebutuhan daerah lain. Penentuan sektor basis pada penelitian ini menggunakan analisis Location Quotient (LQ). Nilai yang dihasilkan menunjukkan apakah sektor tersebut merupakan sektor basis atau tidak. Nilai LQ berkisar dari nol sampai dengan positif tak terhingga. Nilai LQ kurang dari satu (LQ < 1) menunjukkan bahwa sektor tersebut diklasifikasikan sebagai sektor non basis, sedangkan nilai LQ lebih dari satu (LQ > 1) menunjukkan sektor tersebut diklasifikasikan sebagai sektor basis.
Tabel 4.11 Nilai LQ dan SSA tiap sektor lapangan kerja PDRB
Tabel 4.11 Nilai LQ dan SSA tiap sektor lapangan kerja PDRB