• Tidak ada hasil yang ditemukan

THE EMPIRE STATE OF CURRICULUM A. Kerangka Berpikir

E. Ketidak-Harmonisan Interrelasi dalam Praktik

Sebagaimana telah dikemukakan bahwa kurikulum, pembelajaran, penilaian mempunyai keterkaitan yang erat antara satu dengan yang lainnnya. Kerangka berpikir dibangun atau hubungan diantara ketiga unsur tersebut dengan berdasarkan pada fungsi-fungsi dari ketiga hal tersebut. Kurikulum tidak akan berarti apa-apa jika tidak dioperasionalkan melalui pembelajaran dan penilaian; pembelajaran tidak akan berarti apa-apa jika tidak ada kurikulum sebagai acuannya dan tidak disertai dengan ukuran pencapaiannya; begitu pula penilaian tidak akan berarti apa-apa jika tidak ada substansi yang diukur dan/atau dinilai. Namun dalam praktiknya sering kali hubungan ideal antara kurikulum, pembelajaran, dan penilaian jauh dari impian dan kenyataannya. Beberapa fakta yang menunjukkan ketidak-harmonisan hubungan tersebut yaitu antara lain sebagai berikut:

Kesenjangan Kurikulum dan Pembelajaran ---Curriculum Gap.

Suatu kurikulum, yang dirancang untuk mengembangkan potensi peserta didik yang mencakup pengetahuan-sikap-keterampilan, biasanya memuat secara ideal tujuan yang yang ingin dicapai, apa yang akan diajarkan, pengalaman belajar yang diorganisasikan, dan cara untuk mengukur

- 37 -

ketercapaiannya. Agar pengembangan potensi tersebut berlangsung secara lengkap, kurikulum menuntut pelaksanaannya dalam pembelajaran dengan menggunakan metode berbasis masalah, inkuiri, berpikir logis dan kritis, dan diskusi.

Namun dalam kenyataannya semua itu tidak berjalan sepenuhnya, karena banyak di antara guru yang hanya melaksanakan pembelajaran dengan cara jitu dan seolah-olah tiada pilihan lain, kecuali ceramah dan mencatat. Kondisi inilah yang menyebabkan ketidak-sesuaian antara tuntutan kurikulum yang seharusnya dan pelaksanaan kurikulum melalui pembelajaran.

Mengajar Hanya Untuk Menghadapi Ujian ---Teaching to the Test.

Guru mengajar lebih diarahkan hanya untuk menghadapi soal-soal ujian, atau guru cenderung hanya mengajar apa yang akan diujikan. Mengajar untuk tes adalah jelek dalam praktik sekarang ini, karena begitu banyak tes menanyakan pertanyaan sempit mengenai fragmen informasi yang terpenggal. Jadi mengajar untuk tes mengarahkan guru untuk melatih pelajar pada jawaban benar daripada mengajar dengan pemahaman konsep yang mendalam.

Kesenjangan prestasi peserta didik diakibatkan oleh guru untuk mengambil waktu lebih dari berbulan-bulan sebelum ujian yang diawali dengan mengajar dan membahas bahan-bahan yang akan diuji, jadi jelas mereka mengajar untuk tes, daripada mengajar untuk memahami materi secara mendalam dan holistik. Kegelisahan Menghadapi Ujian Nasional ---National Test Fear-Provoking. Seluruh mata pelajaran yang wajib dimuat dalam kurikulum adalah dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional, jadi tidak ada mata pelajaran yang perlu dikecualikan secara khusus. Muncul pertanyaan, mengapa hanya beberapa mata pelajaran saja yang diujikan secara nasional? Apapun argumentasi yang diberikan untuk menjawab pertanyaan ini, semuanya tidak masuk akal dan kalaupun ada jawaban yang diberikan, pasti jawabannya tidak akan masuk akal.

Mengapa terjadi fear-provoking ketika menghadapi ujian nasional? Beberapa kasus yang diungkap oleh berbagai media massa, antara lain Kompas dan Media Indonesia, menunjukkan bahwa ujian nasional telah memprovokasi ketakutan atau kecemasan (national test fear-provoking) terhadap berbagai kalangan, bukan saja peserta didik, tetapi juga kepala sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat.

- 38 -

Tabel 3.1 Beberapa Kasus Terkait Ujian Nasional yang Telah Diungkap oleh Media Massa

Harian Umum Berita Terkait Ujian Nasional

Kompas (2009) Standar kelulusan telah menghantui para peserta ujian

nasional. Di balik ujian nasional, sejumlah siswa SMA merasakan kecemasan. Utamanya terkait dengan standar nilai kelulusan yang oleh pemerintah dinaikkan dari 5, 25 menjadi 5, 5 untuk semua mata pelajaran yang diujikan. (28 April)

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) akan mengevaluasi kebijakan pemerintah dalam penyelenggaraan ujian nasional, karena banyaknya persoalan, termasuk berbagai kecurangan dan kebocoran soal tingkat SMP dan SMA. DPR menganggap bahwa tingkat kelulusan sangat ditentukan oleh nilai mata pelajaran yang diuji-nasionalkan. Nilai mata pelajaran lainnya selama tiga tahun siswa belajar terabaikan. Peran guru pun yang selama tiga tahun mendidik tidak ada, karena kelulusan ditentukan oleh nilai ujian nasional. (1 Mei)

Ratusan siswa SMA dari beberapa daerah didapati

memperoleh nilai hasil ujian nasional kososng pada sejumlah mata pelajaran, seperti Bahasa Indonesia dan Biologi. Pengumuman kelulusan pun terpaksa ditunda akibat persoalan yang diduga dipicu kesalahan pemindaian ini. Kondisi ini salah satunya terjadi di Provinsi Jawa Barat. Ini adalah sebuah kesalahan fatal dan kelalaian teknis yang mengakibatkan siswa tidak lulus, sehingga akhirnya siswa dirugikan. (17 Juni)

Media Indonesia (2009) Perbuatan yang memalukan dalam dunia pendidikan terjadi di Kabupaten Bengkulu Selatan, yaitu kepala sekolah dan guru bersekongkol mengisi jawaban soal-soal ujian nasional SMA, karena takut banyak siswa yang tidak lulus. Mereka langsung diciduk dan di tahan di kantor polisi setempat, termasuk Kepala Bidang Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan Kabupaten Bengkulu Selatan. (1 Mei)

Di Purwokerto, seorang siswi SMA pingsan akibat stress menghadapi ujian nasional. (1 Mei)

Di Kendal, beberapa siswa SMA mengundurkan diri untuk tidak mengikuti ujian nasional karena belum siap dengan tingginya beban standar kelulusan ujian nasional 5, 5. (1 Mei)

Berbagai bentuk kecurangan pada ujian nasional selama ini merupakan alasan sangat nyata (obvious) yang digunakan pengelola perguruan tinggi negeri untuk menolak hasil ujian nasional dijadikan syarat masuk perguruan tinggi. Berbagai kejadian memilukan pada saat ujian nasional itu sebenarnya bukanlah sesuatu yang tidak bisa diantisipasi. Namun, mengingat keterbatasan yang dimiliki BSNP, menyebabkan tumbuhnya perilaku koruptif secara berulang dalam ujian

- 39 -

nasional. (1 Juni)

Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf

mengisyaratkan perlu peninjauan ulang terhadap ujian nasional. Hal itu terkait dengan relative tidak setaranya akses para pelajar di kota besar dan kota kecil atau desa. Fakta itu menjadi persoalan saat standar akhir ujian nasional disamakan secara menyeluruh untuk setiap daerah di Indonesia. Apalagi jika menjelang ujian nasional ada peserta yang kemudian terganggu kesehatannya, sehingga tidak bisa bersiap secara penuh dan kemudian tidak lulus. (17 Juni) Kompas (2010) Setelah hasil ujian nasional SMA sederajat diumumkan

Senin (26/4) kemarin, sejumlah sekolah langsung memanggil siswa yang tidak lulus untuk diberi pengarahan dan jadwal ujian ulang pada 10-14 Mei. Sekolah juga menyiapkan jadwal pendalaman materi.

Kepala SMA 79 Jakarta mengatakan, di sekolah ini dalam pengumuman kelulusan di web site sekolah, para siswa yang tidak mampu memenuhi standar minimal nilai ujian nasional itu dinyatakan dengan status “mengulang”.

Di SMA 70 Jakarta, pendalaman materi dan latihan soal

ujian ulang belum dijadwalkan karena menunggu siswa yang tidak lulus tenang dulu secara psikologis. “Mungkin mereka masih stress. Nanti kami Tanya orangtua mereka, apakah anak-anaknya sudah siap belajar atau belum. Kalau sudah siap, kami akan mulai lagi pendalaman materi,” ungkap Osman Sitompul, guru senior bagian Pengendali Mutu di SMA 70 DKI Jakarta.

Mengacu pada beberapa fakta yang dimuat oleh berita harian tersebut, pelaksanaan ujian nasional tampak di satu sisi belum bisa mengakomodasi kepentingan masyarakat luas, tetapi di sisi lainnya kepentingan sepihak pemerintah telah terakomodasi. Meskipun ujian nasional dirancang untuk mengendalikan mutu, namun dalam pelaksanaannya terjadi sebagai berikut: 1. sangat diskriminatif yang dibuktikan dengan penyelenggaraan ujian

nasional hanya untuk beberapa mata pelajaran;

2. selalu mengundang masalah kontroversial di kalangan masyarakat luas, sehingga menimbulkan keresahan psikologis yang meluas;

3. tidak memiliki format baku (inkonsisten) yang dibuktikan dengan perubahan aturan hampir setiap tahun.

- 40 -

Terkait dengan hal itu, Kompas (2010) memuat salah satu bentuk inkonsistensi dan kontroversi sebagai berikut:

Evaluasi Siswa: Tak Ada Ujian Nasional Ulang. (31 Desember)

Dalam penyelenggaraan Ujian Nasional 2011, ada beberapa perubahan di antaranya tak ada lagi ujian nasional ulang. Bagi yang tidak lulus ujian nasional tetap bisa mengikuti ujian Paket C untuk siswa SMA. “Hasil ujian Paket C itu tetap bisa dipakai untuk masuk perguruan tinggi,” kata Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh, Kamis (30/12). Perubahan lainnya, nilai akhir kelulusan siswa dihitung dengan menggabungkan nilai ujian nasional dengan nilai ujian sekolah. Formulanya, 60% untuk bobot nilai ujian nasional dan 40% nilai ujian sekolah. “Prestasi siswa selama kelas I, II, dan III akan diperhitungkan untuk kelulusan siswa,” kata Nuh. Melalui pembobotan tersebut, kata Nuh, siswa akan lulus meski nilai ujian nasional 4 untuk mata pelajaran tertentu, tetapi ujian sekolah harus mendapat nilai minimal 8. “Sebaiknya nilai ujian nasional yang diraih siswa tidak minimal sehingga nilai ujian sekolah yang harus dicapai siswa tidak terlalu besar untuk meraih kelulusan,” kata Nuh.

Menanggapi perubahan formula ujian nasional 2011, Direktur Eksekutif Institute for Education Reform di Universitas Paramadina Mohammad Abduhzen menilai, pemerintah sebenarnya hanya mengulang format lama dan tak ada perubahan mendasar. “Ini perubahan alakadarnya saja karena sejak awal pendirian pemerintah itu ujian nasional harus ada,” ujarnya. Abduhzen menilai, ujian nasional bukan satu-satunya cara untuk memetakan mutu pendidikan karena hasil belajar siswa hanya salah satu komponen pengukur. Masih ada komponen lain, seperti kualitas guru dan sarana belajar yang harus ditingkatkan. (LUK)

Dengan kondisi semacam itu, ujian nasional akan selalu menimbulkan masalah kontroversial di tengah masyarakat. Selain itu, masalah kontroversial juga muncul karena mutu pendidikan tidak bisa diukur hanya oleh keberhasilan mencapai skor tinggi dari mata pelajaran yang diujikan pada ujian nasional. Pada hakikatnya, semua mata pelajaran memberikan kontribusi yang sama dan signifikan terhadap pembentukan watak atau karakter peserta didik sebagaimana yang dirumuskan dalam Tujuan Pendidikan Nasional.

- 41 -

BAB IV

GAMBARAN SEKOLAH MENENGAH