Bapak Ketua dan Bapak-Bapak terima kasih ini sudah jam 11 kurang 11 menit, jadi saya mengucapkan terima kasih dalam lanjutan pertemuan dalam bentuk dialog ini. Dari Pak Darus, dari Pak Nusyirwan, dari Pak Azwar Anas, dari Pak Bomer, dari Pak Syamsul Hilal dan terakhir dan dari Dirjen.
Dari Pak Darus ini semuanya sangat bermanfaat buat kami didaerah, hanya kalau Pak Nursilan tadi meminta kepada saya tentang RT/RW nanti kami serahkan. Tetapi kami juga belum dapat rancangan RUU, saya bagaimana mau mengoreksi atau memberikan saran karena tidak punya. Tetapi kata Pak Ketua ini besok katanya melalui Propinsi akan diberikan draftnya, tetapi dari kami yang Pak Nursyirwan minta ya ... .
Tetapi pembicaraan tidak bisa jalan karena belum baca kan, jadi besok malam. lni saya tanya Pak Ketua kapan ini ketetapan RUU selesai, akhir tahun katanya, masih lama masih ada waktu, masih bisa ke Jakarta, masih bisa sering ketemu. Jadi yang dari Pak Darus, Pak Darus terima kasih ada RUU, ada Undang-undang, ada Perda. Nanti Perda yang sudah kita buat memang sudah kita selesai Pak sebetulnya. Jad;i menurut tadi Ketua Bapeda kan menurut Bangda, Dirjen Bangda Departemen Dalam Negeri bahwa RT/RW Kata Bandung ini terbaik di Indonesia, ini yang bicara seorang Dirjen. Walaupun kata Pak Nur Johanes diuji lagi, silahkan itu kan bagus.
Karena yang lulus di uji lagi kan lebih bagus, jadi supaya jadi cum laude.
Jadi apa yang sudah kita lakukan, pembuatan RPM sendiri tentu sudah pengujian lisan saja dan pendalamannya melalui penelitian dHapangan itu sudah bagus. Kemudian prosesnya sangat alot Pak, jadi 1 tahun antara koordinasi konsultasi antara Propinsi dengan Pusat dan Alhamdullilah Pak Dirjen sampai saat ini masih konsisten, tadi pertanyaan Pak Dirjen, saya mencatat kata Pak Dirjen tadi bahwa yang disampaikan oleh Ketua Bapeda tentang rambu-rambu di pucuk 20-80, 20 penataan 80 penghijauan, saya setuju dan cepat masukan kedalam yang lebih rinci lagi. Dan Pak Dirjen saya laporkan tadi siang jam 3 saya menandatanggani RDRK untuk Gede banye, belum Cibenying, mungkin Cibeunying dalam waktu singkat.
Jadi yang kita lakukan Gedebage dahulu karena Gedebage kita akan mengembangkan daerah yang berdekatan dengan Kabupaten Bandung Tega! Luar yaitu membuat saranaolahraga, stadiun tingkat internasional. Karena kita juga kan jadi terdorong untuk memotivasi Bandung, Bandung belum mempunyai stadion internasional. Sedangkan Kabupaten sudah punya. Kita akan
ARSIP
DPR
RI
membuat disana seluas 43 hektar, tadinya 90 hektar Pak. Kalau Pak Nusyirwan tadi, ini saya tertarik sekali ini ada titik lemah kata Pak Nusyirwan, lahan sudah dikuasai tetapi regulator kan Pemerintah, ini sudah di'lakukan Pak Nusyirwan.
Jadi walaupun juga ada kesepakatan kami menetapkan sarana olahraga di. Bandung Timur di Gedebage yang pada tahun 1987, PP 1687 dikembangkan Kota Bandung dan Kabupaten Bandung dan 89 masuk ke Walikota Bandung kemudian dia belum terbangun sampai hari ini, sehinggga merasa dianak tirikan. Untung dia tidak akan membuat Kabupaten baru atau Kota baru kota Gedebage. Sehingga floting kami untuk sarana olahraga yang tingkat internasional itu 90 hektar. T etapi setelah kami bermusyawarah dengan yang punya tanah para pengembang yang ada 100 hektar, yang 50 hektar dan sebagainya tetap dia minta ini pendekatannya, pendekatan social apabila kita hanya membangun sarana olahraga. Tetapi minta kami juga sebagai pengusaha yang punya tanah ingin pendekatan ekonomi. Sehingga urun rembug, disepakati dari kita punya stadion yang terpadu dengan berbagai cabang olahraga seperti senayan 90 hektar, kita sepakati 43 hektar. Karena mereka rugi, karena mereka punya tanah menguasai, regulator itu regulator musyawarah tidak bisa. Saya punya perencanaan untuk stadion 90 hektar, tanah Bapak kami ambil ternyata tidak bisa begitu juga. Kami ternyata mengalah, mengalah sambil musyawarah, kami hanya diberikan disitu 43 hektar untuk stadion.
Kemudian yang kedua kita memindahk:an terminal terpadu yang sekarang Bapak lihat di terminal Leuwipanjang, Terminal Jawa, Bandung, Surabaya, Bali kemudian Cicaheum ini juga kesana lebih kurang 30 hektar. Kemudian kita pabrik sampah, tadi kan kata Pak Dirjen ini saya sudah sejalan dengan tadi yang disampaikan oleh Pak Dirjen bahwa kami akan membuat pabrik pengolahan sampah menjadi energi diwilayah masih Bandung Timur, kita punya perencanaan 20 hektar, 5 hektar untuk pabrik, 5 hektar untuk terbuka hijau., dan 10 hektar untuk penghijauannya dan dekat dijalan tol. Disitu tanah pengembang juga, disitu dia punya tanah, jadi tadi lahannya yang dikuasai. Tanah dikuasai oleh pengembang 35 hektar, dia maunya "saya mau ini tanah saya, punya 35 hektar saya akan buat perumahan". Saya bilang ini RTRW saya bilang ini adalah bukan untuk rumah, ini adalah untuk pergudangan dan industri non polutan. Dan disitu akan saya buat untuk pabrik sampah, dia menyerahkan. Silahkan Pak Walikota, tanah saya 35 hektar silahkan untuk Pak Walikota bukan untuk saya maksudnya untuk Pemerintah. Untuk Pemerintah silahkan 25 silakan 35 silakan ya sudah saya melakukan itu. Jadi amanat Pak Nusyirwan dari PDl-P sudah saya laksanakan.
Kemudian stadiun dari 43 hektar, ada juga PT Djarum yang di Bandung 35 hektar, 43-35 yang 35 karena dia juga membuat rumah tetapi saya tidak bisa anda membuat rumah walaupun anda punya tanah regulator ada dikami. Saya akan buat stadiun silahkan Pak buat saja Pak, mau dibeli 35 silahkan. Jadi tadi ada lahan dikuasai, regulator Pemerintah, regulator jangan kalah, saya tidak kalah. Jadi olahraga, kemudian sampah tidak kalah, jadi lahan sudah dikuasai, tetapi izin oleh Pemerintah harus sesuai Tata Ruang sudah itu, jadi kami sudah melakukan.
Kemudian dari Pak Azwar Anas, jadi jangan sampai negara lain kata Pak Azwar Anas, kenapa dia maju karena penduduk kecil, betul itu. Tetapi saya hanya RRT/China, China itu penduduk banyak tetapi maju, yang lainnya maju itu karena kecil. Malaysia maju karena kecil, Brunai maju karena kecil, Singapura maju karena kecil penduduknya. Kita banyak penduduknya, luasnya kecil penduduk banyak kok potensinya juga kurang tetapi kita juga ingin urutan China.
China penduduknya banyak tetapi juga bisa maju. Kemudian kataPak Azwar ini RPH dikorbankan untuk kepentingan PAD .. Harusnya sebaliknya fungsi-fungsi lain dibuat menjadi ruang terbuka hijau. Di Bandung ini Pak 5 porn bensin di taman Padi saya resmikan di Jalan Dago, 2000 meter.
Jadi kita punya 5 porn bensin df taman, 10.000 meter atau satu hektar itu satu Jalan Cikapayang Dago sudah saya resmikan, tinggal Sukajadi, kemudian Propinsi Jawa Barat saya juga mau diambil kembali ketaman walaupun punya Gubernur. Kemudian depan pramuka, jalan Riau, dan jalan Ahmad Yani itu punya 5, baru 1 kita buat tadi kerjasama dengan Pemprov APBD. Jadi di Bandung tidak lagi RPH malahan ada yang sudah ambil kembali jadi taman.
Kemudian insentif dan disinsentif kita lakukan bagaimana pun juga karena pengembang jangan sampai dirugikan tetapi kita juga butuh RPH. Bisa saja ancaman hukuman berlaku surut,
ARSIP
DPR
RI
oleh karena itu karena saya takut walaupun saya belum tahu juga RUU. Hotel Planet dekat gubernuran, sekarang kalau misalnya berlaku surut saya aman karena Hotel Planet itu saya izinkan 4 lantai dia bangun 6 lantai, sampai hari ini tidak bisa jalan. Upayanya bagaimanapun juga mau nyogok tidak bisa saya Pak. Jadi sudah dilakukan oleh kita, ini sudah, jadi saya minta kepada jajaran saja diplanet itu tidak bisa. Apalagi sekarang ada itu izin yang salah dihukum 5 tahun, lebih dari itu 9 tahun, tidak mau saya jadi itu planet salah satunya. Kemudian Dago juga Factory Outletnya tidak lagi yang sudah ya sudah. Wartawan bertanya bagaimana yang sudah, sementara ya tidak karena dia juga kasihan, sudah sewa rumahnya kembali kan perubahan fungsinya. Karena kehidupannya yang jalan Dago itu kecil sehingga disewakan Pak. Kita juga jadi tertekan dengan masalah-masalah yang tidak normative. Ada Walikota sebelumnya juga yang tidak normative, tetapi sekarang apalagi kalau ada sanksi itu ini yang normative ini kita jalankan.
Kemudian dari Pak Bomer Pasaribu, anggaran tadi bagus sekali Pak, anggaran tadi sama dengan Pak Nursiwad tadi bahwa pasaran insistusi. Kalau kita misalnya terlalu mengandalkan pasar ini rakyat yang rusak tetapi kalau juga merugikan insistusi ini komunis, jadi gabtmgan lah antara insistusi dengan pasar. Sehingga sarana olahraga yang saya butuh 90 hektar, internasional tetapi dengan 43 hektar bisa internasional. Jadi masing-masing bagaimana pendekatan social, bagaimana pendekatan ekonominya. Kemudian tinggal pengadilan yang sesuai dengan Undang-undang pengaturan yang baru.
Kemudian tentang 15 tahun ke Pak Wakil Bupati, kemudian saya masuk kepada saran bahwa persoalan tata ruang ini persyaratan intern dan kordinasi. Jadi RUU Tata Ruang ini kita mengharapkan bagaimana kita juga aman, enak didaerah tetapi juga yang lebin penting bagaimana kita juga mengatur tata ruang dalam bentuk koordinasi dengan daerah Tk. II lain. Kami secara pribadi dekat dengan Beliau, dengan Pak Wakil Bupati, saya juga secara pribadi juga dekat Bupati Bandung tetapi sampai dengan pengaturan kadang-kadang juga jadi diatur seperti Pak Dandi dengan Pak Sutiyoso. Tetapi juga Pemerintah Pusat mengatur ke Sutiyoso kan suka lama ... DPR nya dipanggil kesana 2 Gubernur disana. Kami juga pada saat misalnya pada saat 41 hari juga, pada saat Leuwigajah ambrol, kemudian setelah ambrol kita masih diterungan Kabupaten Bandung di Cilegong juga ditutup, kemudian setelah ditutup kami punya 2 lokasi kecil 4 hektar habis kemudian April ditutup. Mei 2006 baru dapat tempat itu 41 hari, jadi kalau rata-rata 7500 kubik per hari sampaih, 41 itu sudah 400.000 meter kubik, itu tidak bisa. Walaupun kami dengan masyarakat juga melakukan hal-hai tetapi masih kecil Pak, hal-hal menyelesaikan masalah. Ada pembuatan kompos masing-masing, kemudian membakar insenarator tetapi kecil dihitung-hitung hanya sekitar 25 meter kubik. Alhamdul/i/ah Gubernur turun dengan Panglima baru kita diizinkan oleh Pertani tetapi sebelumnya kenapa mesti 41 hari..
Oleh karena itu pengaturan tata ruang ini kalau misalnya Kata Bandung, Kata Cimahi, Semarang, Surabaya, Medan, jangankan yang Kata, Kota/Kabupaten saja Subang kemudian Kabupaten Cirebon ini sudah menyatakan bahwa sekarang ini membuang Subang ini ke perbatasan Karawang, berbatasan dengan Subang. Sementara itu penuh bagaimana juga Subang membuang sampah, padahal itu Kabupaten dengan Kabupaten Pak. Oleh karena itu saya mengharapkan, tata ruang yang akan datang, bagaimana kalau misalnya Kota Bandung, Kota Semarang, Kota Cimahi, Kota Surabaya dan lain-lain pada permasalahan sampah untuk misalnya sampah dikelola di Kabupaten tetapi masalahnya sudah tidak ada masalah lagi Pak sudah clear, ini mana bisa Pak. Ya belum juga karena ini crash program karena musibah Pak Nur dan ini juga Perhutani di Kabupaten Bandung hanya 5 tahun, kita kan dibiayai antara Departemen Menteri Bapenas kemudian Ristek dan Menneg ditambah Propinsi Kabupaten Cimahi, Kabupaten Bandung dan Kota Bandung kemudian Rp. 30 miliar untuk mengelola 5 tahun, pembuatan sampah menjadi kompos, janji kita. Karena masyarakat disana juga tidak mau kalau hanya pembuangan sampah, dan sampah ini yang sekarang kalau tidak diolah juga tidak mau dia akan rusak, merusak lingkungan, sehingga diolah dahulu dan waktunya 5 tahun. Oleh karena itu kalau 5 tahun ini ditutup juga oleh Perhutani, Kata Bandung akan menjadi musibah kedua. Sehingga kami membuat kerjasama dengan konsorsium yang sudah pakai proses pemiilihan Bulan Maret tahun 2005 seizin Gubernur kemudian gabung dengan IPB, gabung dengan PLN sebagai pembeli energinya dan masyarakat, jadi sudah tidak ada masalah. Dan kalau ini terjadi bukan hanya di Jawa Barat tetapi
ARSIP
DPR
RI
juga di RI namer satu Kata Bandung Pak, nikmatnya disitu, musibah yang membawa nikmat, jadi itu barangkali Pak Syamsu.
Kemudian bagaimana pengaturan yang melindungi, apa yang sudah kami punya RTRW yang tadi Pak Dirjen itu kan pernyataan Pak Dirjen itu kan pernyataan yang konsisten. Pada saat kami menandatanggani bersama RTRW sehingga Pak Dirjen mengatakan kalau ini Kata Bandung RTRW nya dijalankan dengan betul dan kemudian RDP RK nya sudah selesai pengaturannya.
Rambu-rambu 20% penataan, 80% buat penghijauan bisa dilakukan ini merupakan yang pertama juga di Indonesia kata Pak Dirjen dan akan didatangi oleh orang Kata Bandung. Dan akan mendapatkan penghargaan Republik, Walikota Bandung ini kata Pak Dirjen. Jadi Pak Dirjen ini persis ternyata pernyataannya sampai hari ini terima kasih Pak Dirjen.
Ya saya kira itu saja barang kali Pak dari kami, apa yang kami jelaskan seperti itu Kata Bandung. Dan kemudian apa yang kami usulkan, apa yang sudah kami buat jangan sampai oleh Rancangan Undang-Undang tata ruang ini dirusak karena pendapat Pemerintah Pusat kita juga.
Dari Bappenas sudah setuju, dari Departemen Perhubungan Udara sudah setuju, Departemen Dalam Negeri sudah setuju, Gubernur sudah setuju. Hanya kami sekarang punya RT/RW yang sekarang akan dilakukan dengan RDP RK yang sudah dilakukan dengan rambu-rambu itu. Kalau misalnya berlaku surut ada pengaturan sehingga RTRW kami Perda RTRW, kalau kata Bapak tadi, cobalah Dewan ini dengan Eksekutif buatlah RT/RW kami sudah.
Kami juga mengusulkan Rancangan Undang-Undang tata ruang yang sudah dibuat secara nasional itu kami di awut-awut lagi. Sebab ada daerah lain, komperasi kami belum punya RTRW sampai sekarang. Kalau tadi kata Pak Nusyirwan mau RTRW mau 15% tidak ada penjelasan rincinya, sekian persen belum punya RTRW. Saya juga tidak mengerti kalau satu Kata Kabupaten yang tidak RTRW bisa membangun. Jadi Rancangan Undang-Undang itu untuk orang yang belum punya RTRW tetapi Rancangan Undang-Undang ini juga jangan sampai mengacak-acak kami yang sudah bagus. Karena kami maju 80-20 itu maju sekali ... tidak ada pengaturan Pak. Jadi pohon itu bisa semuanya bisa habis, tetapi oleh kami 20-80 sehingga pengaturan ... ada 4 kegiataan. Pertama sertifikasi, kedua penghijauan, ketiga penataan, keempat pengawasan. Dan pengawasannya juga kami lakukan antara Pemerintah dengan masyarakat, pakar dengan wartawan, mahasiswa dan sebagainya.
Dan kemudian tadi terima kasih Pak Azwar karena kita juga inginnya semua tetapi karena tidak muat pegawai ini semua dengan pegawai lain tetapi juga tidak muat Pak. Tadi Bapak senang di Parda sehingga di Parda tidak masuk yang kami ajak untuk rapat. Di Parda juga ada tadi disini, karena Parda Bapak tadi di Parda penting, saya suka di Parda didatangkan Pak.
Terima kasih, itu saja barangkali Pak f<:etua.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Kalau toh apa yang kami layani kepada Bapak-Bapak kurang memuaskan kami mohon maaf, mudah-mudahan malam ini bisa dipuaskan.
KETUA RAPAT:
Terima kasih.
Saya kira sudah cukup ya rekan-rekan sekalian, ini sudah jam 22.05 WIB dan Pak Wali ini sebagai Raker terima kasih kami, kami tidak bisa kasih apa-apa. Hanya mengasih cinderamata sedikit dari Pansus DPR-RI dan ini akan disampaikan oleh Pak Bomer Pasaribu karena penting.
Oh iya dari Bapak ada juga rupanya, yang dari Pak Wali akan diterima oleh Pak Dahlan Chudori orang Jawa Baral, urusan pariwisata itu.
F-PDl·P (MARUAHAL SILALAHI) :
Jadi kalau di sana, Pak, ini pengalaman berbagi kepada rekan-rekan sebelum tumbuh betul, itu ditutup dengan plastik baru setelah berumur sekitar 1 tahun baru dibuka plastik itu. Jadi kelihatannya di batu pun bisa tumbuh.
ARSIP
DPR
RI
Saya kira tidak perlu panjang-panjang, Pak. Yang penting saya katakan lagi bukan urusan Departemen Kehutanan tetapi urusan seluruh lapisan masyarakat untuk menghijaukan.
Terima kasih, Pak.
F-KB (DRS. H.M. DAHLAN CHUDORI) :
Assalaamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Pertama saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas rencana Bapak untuk melaksanakan penghijauan. Tentu saja hijau yang rindang dan rimbun dan kata teman saya juga produktif. lni saya sambut, kebetulan saya di Komisi X yang selalu berbicara tentang pariwisata.
Jadi kalau ini nanti merupakan jalan yang mnyenangkan, destinasi wisata akan bertambah. Dengan begitu akan mengurangi kepadatan daerah Jakarta.
Yang keduanya saya berterima kasih karena memang seminggu sekali saya lewat sini.
Berhubung saya berasal dari Tasikmalaya. Apalagi akan dibuka sembahyang Jumat katanya di sini. Jadi hanya itu yang ingin saya sampaikan yaitu yang terbuka hijau, rindang, rimbun, dan produktif.
Terima kasih.
Ada lagi, Bapak?
Baik.