• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANGGOTA FRAKSI PARTAI DEMOKRASI INDONESIA PERJUANGAN (MERCY CHRIESTY BARENDS, S.T.):

Pak Ketua, mungkin sebelum ke meja Pimpinan. Pak Ketua, satu menit Pak Ketua. Mungkin tidak masuk daftar list, tapi mungkin.

KETUA RAPAT: Silakan, silakan.

ANGGOTA FRAKSI PARTAI DEMOKRASI INDONESIA PERJUANGAN (MERCY CHRIESTY BARENDS, S.T.):

Iya

Terima kasih Pak Ketua.

Saya Mercy Barends, Dapil Maluku, Fraksi PDI perjuangan, A-228.

Saya langsung saja, Pak Kepala Pertamina dan jajaran, mungkin banyak teman-teman sudah bicara dari hulu ke hilir semuanya, saya karena mewakili wilayah-wilayah yang sulit di wilayah kawasan kepulauan, Maluku dan sekitarnya, kita punya persoalan dengan SPDN (Solar Packed Dealer Nelayan), kemarin waktu reses saya melakukan pertemuan resmi dengan kepala Pertamina dan jajaran Hiswana Migas dengan seluruh agen-agennya, ada satu persoalan yang sangat krusial per tahun lalu nomenklatur untuk pembangunan Solar Packed Dealer Nelayan dihilangkan di Kementerian DKP. Yang kedua ketika pembangunan Solar Packed Dealer Nelayan, ternyata ada persoalan cukup serius berkaitan dengan lay out dan speck pembangunannya tidak sesuai dengan konstruksi yang disarankan oleh Pertamina. Pada saat pertemuan hari itu dengan Kepala Pertamina kita memikirkan bagaimana kalau Solar Packed Dealer Nelayan itu dibangun saja oleh Pertamina sekalian, karena memang harus sesuai juga dengan spesfiikasi tangkinya, perpipaan atau piveline dan seterusnya. Nanti kemudian baru dibicarakan dengan Hiswana Migas atau dengan koperasi nelayan. Tetapi mungkin karena persoalan marginnya yang sangat tipis baik koperasi maupun Hiswana Migas ogah-ogahan untuk membangun ini SPDN karena ini untuk akses bagi BBM bagi nelayan-nelayan kecil di wilayah pesisir di pulau-pulau yang sangat sulit. Jadi Bapak-bapak kita tidak bicara yang besar-besar, yang sangat luas sekali, tetapi untuk kepentingan masyarakat kita di wilayah-wilayah pesisir lihat minyak saja susahnya minta ampun. Jadi kita minta juga sikap resmi dari Pertamina kalau memang betul mau

67 membangun SPDN ini maka ini saya akan umumkan resmi ketika saya pulang reses Pak.

Sekian dan terima kasih. KETUA RAPAT:

Oke, terima kasih. Pak Daryatmo silakan.

ANGGOTA FRAKSI PARTAI DEMOKRASI INDONESIA PERJUANGAN (Ir. H. DARYATMO MARDIYANTO):

Terima kasih Ketua dan anggota yang terhormat, serta Direksi Pertamina. Ya karena waktunya sudah mepet jadi singkat saja. Sebenarnya apa yang kami sampaikan sejalan dengan yang disampaikan Bu Mercy dan beberapa teman lain, yaitu soal posisi Pertamina sebagai BUMN yang ditugasi oleh negara atau pemerintah untuk menyalurkan BBM subsidi. Saya kira itu standing yang ingin kami sampaikan dan sangat berkepentingan berkaitan dengan besaran subsidinya. Maka ketika paparan tentang harga ini yang sudah diumumkan di publik oleh Menteri ESDM dan juga oleh Direksi Pertamina disampaikan di sini, ya maka sebenarnya persoalan yang muncul adalah apakah sudah ada skenario dari Pertamina bersama ESDM ketika premium dinyatakan sebagai harga pasar, saya kira ini sebuah soal, karena pada saat ini dengan pengumuman ESDM di Indonesia ada 3 jenis harga premium ya. Kategori Jawa, Bali, luar Jawa, Bali dan Bali. Dengan demikian ini pertanyaan penting apakah secara sadar memang Pertamina sudah melepaskan diri dari tugasnya yang disampaikan oleh pemerintah atau negara untuk menyalurkan BBM subsidi maupun BBM lainnya. Saya kita itu satu hal, sehingga kami ingin menanyakan itu.

Kemudian yang kedua adalah berkaitan dengan solar dari kategori 46 juta kiloliter 2015 tentu ada solar, dan ini ada solar subsidi yang harganya 1.000, dan ini tugas diberikan kepada Pertamina maka yang ingin kami tanyakan adalah soal yang berhubungan dengan di sini ada margin, margin SPBU dan sebagainya, ada perhitungan dan sebagainya. Lalu perhitungan Alpha yang selama ini ada, perlu kita ketahui adalah Alpha adalah biaya distribusi yang ditanggung oleh negara ya. Formula ini penting untuk kita ketahui. Jadi posisi Alpha ini sebenarnya menempatkan Pertamina tidak akan rugi, tetapi Pertamina diberi rupiah oleh negara untuk menyalurkan kepada keperluannya yaitu seluruh rakyat Indonesia. Maka formula di sini apakah masih formula lama ataukah sudah ada konsolidasi baru dengan Kementerian ESDM dengan penugasan-penugasan ini. Apa sebabnya kemudian di dalamnya di sini ditulis bahwa beberapa keterangan misalnya tentang solar adalah nol ke seluruh NKRI misalnya, kompensasi biaya distribusi ke seluruh NKRI untuk solar nol, ya dipaparan anda. Kemudian kompensasi biaya distribusi keluar Jawa Bali 2 persen harga dasar 114 sekian. Kemudian kompensasi biaya

68 distribusi ke luar Jawa Bali tidak ada keterangannya atau nol. Jadi ini yang penting kami tanyakan sebagai BUMN yang selama ini secara sadar, secara terus menerus untuk menyalurkan BBM subsidi.

Dengan demikianlah, berikutnya adalah soal yang berhubungan dengan catatan keuangan, ketika kita menyusun APBN selalu ada keluhan yang namanya carry over, utang pemerintah kepada Pertamina setiap tahun yang selalu di-carry over pada setiap pembahasan APBN. Kalau ini menyangkut soal kinerja maka selain kinerja-kinerja yang kita maksudkan tadi apakah soal kinerja yang menyangkut keuangan ini sudah dapat dikatakan bahwa pemerintah tidak punya hutang sama sekali, dan dengan demikian Pertamina memperoleh piutangnya itu, dimanakah tempatnya piutang itu masuk di dalam neraca yang ada ini.

Kemudian yang terakhir adalah soal SPBU, di sini tidak diterangkan tetapi dalam catatan kami selama 5 tahun distribusi seluruh BBM ini paling ujung hanya SPBU, terserahlah masyarakat mau menerima harga berapapun yang penting I sudah nurut Pertamina karena Alpha dan sebagainya. Titik terjauhnya hanya SPBU. Dimanakah letak tanggung jawab yang namanya BUMN Pertamina ini, yang ketika dilahirkan berada pada posisi yang mengambil alih seluruh aset-aset kolonial. Dengan demikian sebagai sebuah contoh di sebuah kabupaten di Saumlaki, kabupaten apa Mba Mercy namanya, ya Maluku Barat Daya, kalau kita lihat 5.000 SPBU di sana hanya ada satu SPBU seluruh Kabupaten Maluku Barat Daya, Kota Saumlaki. Maka muncullah SPDN untuk nelayan, SPBB, APMS dan sebagainya. Tetapi itu tidak masuk di dalam kerangka skenario bisnis maupun skenario penugasan Pertamina. Pada posisi ini kami ingin memberikan penjelasan atau memperoleh penjelasan kemudian dan kemudian kita sampaikan kepada ESDM dimanakah letak posisi negara dalam melindungi masyarakatnya dalam memperoleh hajat hidup orang banyak yang namanya BBM ini, khususnya BBM solar yang masih memperoleh subsidi maupun BBM premium yang sudah ada skenario atau keterangan seperti itu. Keputusan politik di manakah yang kemudian melepaskan ini bahwa Pertamina sudah tidak mengurus BBM subsidi premium. Pertanyaan ini kepada anda juga untuk Pertamina, tetapi akan kita sampaikan kepada ESDM.

Terima kasih. KETUA RAPAT:

Terima kasih.

Apabila selesai dari anggota saya persilakan dari meja Pimpinan, Pak Mul dulu terus Pak Kardaya.

PIMPINAN KOMISI VII DPR RI (Ir. H. MULYADI/FRAKSI PD): Terima kasih.

69 Saya langsung saja Pak, Pak Dwi. Saya sudah melihat tadi hitungan pertama, kami terima kasih Pak, karena ini adalah salah satu perdebatan ya, Pak Ramson, sekarang pemerintah sudah membuat hitung-hitungannya yang selama ini kita tanya walaupun ada beberapa hal memang masih menjadi pertanyaan Pak. Pertanyaan saya adalah waktu 8.500 itu hitungannya bagaimana Pak? Waktu pemerintah pertama kali menaikan 8.500, hitung-hitungannya seperti ini tidak? Konsisten tidak seperti ini? Atau itu hanya berdasarkan perkiraan. Saya minta tolong dibikin hitungan seperti ininya Pak. Waktu MOPs-nya satu bulan terakhirmya seperti apa, kalau tidak, saya melihat Bapak sudah geleng kepala berarti tidak, berapa keuntungan pemerintah yang belum pernah dilaporkan ke DPR akibat kenaikan yang 8.500 itu? Karena saya yakin Pak waktu menaikan 8.500 waktu itu rata-ratanya sekitar 80 ya Pak ya. 80 US Dollar ya harga ICP-nya ya maupun Brand dan WTI-nya kurang lebih segitu. Begitu juga kalau kita hitung dari Mobs Singapur. Tolong itu kita diberi Pak, dibantu, walaupun mungkin Pertamina tidak dilibatkan, kira-kira bagaimana hitungannya. Itu nanti akan menjadi pertanyaan kita kepada menteri Pak. Begitu juga kalau yang kemarin 7.000 berapa, penurunan pertama sudah Pak ya, sudah seperti ini? Kalau sudah saya percaya saja Pak, tolong diberi saja hitungannya, itu MOPs-nya menggunakan rata-rata satu bulan seperti yang ini Pak ya.

Pertanyaan saya yang berikutnya Pak, kalau memang seperti ini sepertinya akan kita lepas ke harga pasar. Pertanyaan saya masyarakat jangan sampai di dininabobokan atau dibohongi Pak, pada saat harga minyak mentah dunia turun ini tidak ada masalah Pak. Tidak ada masalah. Sekarang harga minyak mentah turun terus Pak, tapi Bapak coba bikin asumsi pada saat harga minyak mentah nanti naik sampai di atas 100 US Dollar harga minyaknya akan dilepas sampai 150, misalnya terjadi saya mau bertanya apa pemerintah juga akan menggunakan harga pasar? Nah ini yang menjadi pertanyaan mendasar. Karena saya mendengar menterinya mengatakan akan melepas ke harga pasar, itu bisa menjadi 15.000 Pak per liter. Ini jelas melanggar konstitusi Pak. Karena pasal yang berkaitan dengan harga pasar itu sudah dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi, jadi di sana harus diperlukan kehadiran negara Pak, untuk melindungi rakyat. Kalau cuma dibiarkan berdasarkan harga pasar tidak ada negara pun, semua juga bisa Pak, tidak pemerintah pun bisa Pak. Di sinilah peran dari negara dan pemerintah melindungi rakyatnya. Nah ini persoalannya adalah sekarang harga minyak mentahnya turun, tidak ada masalah, kita mau bermain makin lama makin turun bisa turun terus. Tapi lihat pada suatu saat konsistensi dari pemerintah saya mau lihat apakah akan menggunakan juga harga pasar, itu pertanyaan mendasar saya. Kalau tidak, bilang tidak, kalau iya bilang iya. Nah, karena ini akan menjadi persoalan yang menurut pendapat ahli hukum termasuk Pak Yusril saya baca itu melanggar konstitusi Pak, kalau kita lepas, tapi sekarang kan tidak ada masalah Pak, karena harga minyak lagi turun Pak. Tidak masalah, tapi nanti masalahnya akan timbul pada saat harga minyak mentah itu naik Pak. Mahal. Beberapa tahun kemudian saya tidak tahu Pak, saya tidak ahli analisis perminyakan.

Kemudian ini yang menjadi pertanyaan yang sering ditanya oleh konsituen saya Pak, itu menghitung LPG itu bagaimana caranya Pak, saya sendiri belum tahu

70 juga Pak. Kalau ini kan jelas ini Pak. Hitung-hitungnya jelas sehingga akhirnya muncul 6.700 untuk di Jawa, Madura dan Bali, kalau yang di ini 6.600, yang LPG tolong Pak, bagaimana hitung-hitungannya, karena sering ditanya juga Pak, cara menghitung bagaimana. Kenapa itu sudah naik, dinaikan, diturunkan lagi, bagaimana menghitungnya dan berapa penurunannya. Karena juga menyangkut kepentingan masyarakat banyak, kenaikan LPG waktu itu yang sempat dinaikkan hanya mengalihkan semakin banyak memakai yang 3 kilogram.

Terus juga pemerintah sering menyampaikan bahwa peningkatan pengolahan di kilang kita ...(terpotong interupsi).

DIRUT PT. PERTAMINA:

Mohon izin, mau sholat sebentar, Pak. Nanti Pak Syamsul. PIMPINAN KOMISI VII DPR RI (Ir. H. MULYADI/FRAKSI PD):

Silakan Pak. Boleh digantikan Pak. Silakan.

Menjadi 1,6 juta Pak. Ini saya pernah beberapa kali membaca di media cetak. Pemerintahan sekarang akan meningkatkan menjadi 1,6 juta, saya tidak tahu sekarang berapa Pak, saya gunakan interaktif sebentar, sekarang berapa kilang kita yang mengolah Pak, pengolahan minyak keluar menjadi minyak yang sudah jadi berapa Pak? Berapa? 850.000. Kalau kebutuhan satu, kan diperkirakan 1,6 juta ya sekarang Pak. Tidak, kebutuhan ini, kebutuhan minyak minyak yang sudah jadi yang dipakai masyarakat berapa Pak per hari?

PT. PERTAMINA:

Jadi crude yang diolah itu sekitar 850.000 barel per hari Pak. PIMPINAN KOMISI VII DPR RI (Ir. H. MULYADI/FRAKSI PD):

Per hari. PT. PERTAMINA:

Crudenya Pak.

PIMPINAN KOMISI VII DPR RI (Ir. H. MULYADI/FRAKSI PD):

71 PT. PERTAMINA:

Jadi kira-kira sekitar 95 persen yield-nya Pak. Khusus untuk valuable product seperti BBM dan sebagainya itu sekitar 74 persen dari 850.000 barel tadi Pak. PIMPINAN KOMISI VII DPR RI (Ir. H. MULYADI/FRAKSI PD):

Apapun itu yang paling penting pertanyaan mendasar saya bagaimana Pak, perencanaan dari Pertamina terkait rencana pemerintah yang akan menaikan menjadi 1,6 juta itu Pak, saya pernah baca pernyataan presiden atau menteri ya.

Kemudian juga menyangkut hutang Pertamina Pak, saya tidak tahu berapa utang Pertamina sekarang Pak. Berapa Pak? Berapa ratus trilyun Pak? Itu bagaimana mekanisme penyelesaiannya tolong tolong kita juga nanti diberikan Pak ilustrasi Pak ya terkait dengan utang Pertamina ini Pak. Mohon jadi, iya Bapak, tidak apa-apa Pak, nanti tolong diberikan informasi dan bagaimana pola penyelesaiannya ke depan.

Terus kemudian ini Pak saya mendukung Pak sebetulnya dan memberikan dukungan kepada Direksi yang baru untuk melakukan efisiensi dan efektivitas Pak terhadap perusahaan Pertamina. Dan saya juga pernah mendengar ada perusahaan, anak perusahaan Pertamina yang namanya PDSI Pak, ada tidak Pak? Kerjanya waktu itu beli rig ya Pak. Pertamina Drilling Service. Ada keluhan-keluhan katanya itu membeli, ada masukan membeli apa, membeli rig-nya terus menerus dengan harga yang mahal dan menyewakan dengan harga yang murah, sehingga orang berinvestasi di-rig itu tidak mampu bersaing katanya. Nah ini tolong kewajaran harganya juga Pak, tolong dilihat. Jangan sampai modal Pertamina malah digunakan untuk membeli-beli rig ya dengan harga yang tidak kompetitif Pak ya. Apalagi ada titipan-titipan.

Jadi sebetulnya banyak persoalan yang mungkin kami menerima informasi dari masyarakat. Pada prinsipnya kami mendukung Pak perbaikan Pak, itu saja. Selama itu tujuannya untuk melakukan perbaikan kami sebagai wakil rakyat, sebagai wakil rakyat tentu akan mendukung, karena ini Pertamina ini adalah perusahaan yang sudah begitu lama dan kita harapkan memang harus mampu bersaing dengan perusahaan minyak dunia di negara-negara lain, dan ini menjadi andalan kita. Jadi ke depan mohon kiranya ini adalah merupakan rapat pertama kita, ke depan tentu akan kita lakukan hal-hal yang lebih mendalam lagi Pak. Ini kan walaupun sifatnya perkenalan, tapi juga sudah mulai agak mendalam ya, perkenalan tapi agak mendalam Pak. Saya mau mengingatkan ke Pak Dirut Pak, saya hanya mengingatkan hati-hati jadi Dirut Pertamina itu cuma enaknya 6 bulan katanya Pak, sisa enak sekali Pak katanya. Nah ini yang saya beri tahu Pak, hati-hati Pak, enak sekalinya itu Pak. Mohon kiranya ini menjadi perhatian, enak sekalinya mudah-mudahan nanti ke depannya lebih bagus, lebih baik ya. Kita terjemahkan dalam artian positif sajalah Pak. Jadi kepada Dirut dan Direksi yang baru beserta seluruh jajarannya saya baik secara pribadi maupun sebagai Pimpinan Komisi VII berharap

72 ada sesuatu terobosan yang bisa dicatat oleh masyarakat, apa bedanya yang sekarang dengan yang dulu, tentu gampang dilihat dari parameter- parameter tertentu yang memang bisa kita ukur ini nanti Pak. Jadi zaman sekarang kan semuanya sudah transparan ya. Ya Pak Ari ya? Pak Ari ini saya lihat karena 30 tahun manggut-manggut terus, 30 tahun di sana jadi beliau hafal betul Pak. Kalau yang Pak Ari itu sudah kebagian yang enak sekalinya Pak. Apalagi dulu Pak. Sekalinya 2 kali katanya. Enak sekali-sekali. Jadi mudah-mudahan ke depan berapa hal yang menjadi isu-isu strategis Pak termasuk hal-hal yang menjadi sorotan Komisi VII selama ini saya punya catatan-catatan Pak di rapat-rapat sebelumnya walaupun saya dulu di Komisi V, tapi kan saya banyak, saya diberi oleh Sekretariat kesimpulan rapat dengan Pertamina pada rapat-rapat 5 tahun menjadi mitra kerja Komisi VII. Mohon kiranya itu juga menjadi perhatian Pak, apa persoalan-persoalan itu Pak. Tolong Direksi yang baru beserta seluruh jajarannya menjawab tantangan itu. Dan kita selalu akan mendorong Pak, men-support kalau ada persoalan-persoalan atau handicap yang Bapak hadapi selama itu untuk kepentingan bangsa dan negara, sudah kita akan sama-sama Pak.

Saya rasa demikian. Terima kasih.

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. KETUA RAPAT:

Terima kasih Pak Mul.

Ini jam sudah menunjukan pukul 17.50 WIB kalau kita genapkan pukul 18.00 WIB Dirutnya harus menjawab mungkin kurang , kita kebetulan pukul 19.00 WIB ada rapat lagi dengan Dirjen Migas, jadi 18.15 WIB mungkin ya lebih afdolnya ya. Kita sepakati ya 18.15 WIB?

(RAPAT : SETUJU)

Silakan Pak Kardaya.

PIMPINAN KOMISI VII DPR RI (Dr. Ir. H. KARDAYA WARNIKA, DEA/FRAKSI PARTAI GERINDRA):

Terima kasih Pak Pimpinan.

Direksi Pertamina yang kami banggakan, Interaktif sedikit. Ini yang mengurusi impor crude ini kira-kira dari di antara Direksi siapa ya yang lebih dekat?

73 Begini, beberapa bulan yang lalu kita diberikan statement yang sangat menggembirakan dengan pemerintah, oleh pemerintah, oleh presiden kita Bapak Joko Widodo bahwa akan ada impor langsung crude dari Sonangol. Sonangol ya? Sonangol, dari Anggola, itu, dan itu disampaikan, ada harga yang sangat-sangat apa namanya, ada diskonnya dan baik. Dan itu dalam upaya untuk menurunkan biaya pengadaan BBM pertanyaan saya sederhana sudah berapa kargo Pak yang di impor? Itu ya. Kalau bisa interaktif dijawab dulu, satu kargo, dua kargo atau tiga kargo, kira-kira berapa kargo ya Pak? Titik-titik kargo aja.

KETUA RAPAT:

Silakan Pak dijawab saja.

PIMPINAN KOMISI VII DPR RI (Dr. Ir. H. KARDAYA WARNIKA, DEA/FRAKSI PARTAI GERINDRA):

Begini, hanya tanya yang dari Sonangol yang sudah masuk berapa kargo, itu saja. Karena ini kan penting Pak, anunya, diskonnya banyak, segala macam, jadi kita anukan.

PT. PERTAMINA: