• Tidak ada hasil yang ditemukan

PIMPINAN KOMISI VII DPR RI (Dr. Ir. H. KARDAYA WARNIKA, DEA/FRAKSI PARTAI GERINDRA):

Waduh, kalau belum ada, ini sesuatu yang murah tapi belum ada, nanti sesuatu yang mahal bisa ada ini agak agak itu, karena statement-nya bagus loh, harganya begini-begini-begini. Jadi tolong nanti disampaikan secara tertulisnya kenapa Pertamina tidak jadi membeli minyak yang murah ya karena kan minyaknya murah itu. Kenapa tidak jadi gitu. Ya tidak tahu ya murah.

Yang kedua.

ANGGOTA FRAKSI PARTAI KEBANGKITAN BANGSA (H. SYAIKHUL ISLAM ALI, Lc., M.Sos.):

Pimpinan interupsi.

74 PIMPINAN KOMISI VII DPR RI (Dr. Ir. H. KARDAYA WARNIKA, DEA/FRAKSI PARTAI GERINDRA):

Nanti Pak, takut waktu saya habis nantinya. Waktu saya habis nantinya. KETUA RAPAT:

Nanti offline saja, offline, offline.

PIMPINAN KOMISI VII DPR RI (Dr. Ir. H. KARDAYA WARNIKA, DEA/FRAKSI PARTAI GERINDRA):

Yang kedua mengenai harga BBM, harga BBM tadi dibagi menjadi 3 region. Dulu atau sebelumnya, tidak dulu sekalilah, sebelumnya kira-kira berapa, minggu yang lalu masih atau seminggu yang lalu yang masih sama harganya. Perlu kami sampaikan kebetulan saya kerja lebih duluan dari Bapak-bapak di pemerintah jadi saya mengikuti dasar pemikiran harga BBM di seluruh Indonesia uniform price harganya sama, adalah semata-mata hanya demi NKRI. Pada waktu itu para senior-senior mengatakan ini kita Negara NKRI senang bareng, bahagia bareng, sengsara kita hindari bersama. Karena itu maka kebijakannya harga BBM itu disamakan, nanti tidak ada complaint Pak Ketut menyatakan kenapa saya lebih mahal dari ini, atau yang lain kenapa saya ini, itu. Nah pertanyaan saya apakah konsiderasi atau pertimbangan itu sudah di dicabut. Itu harus clear. Karena masuk ke DPR saya baru 3 bulan Pak, jadi masih belajar ini di DPR ini, waktu di Lemhanas itu NKRI harga mati, jadi saya ingat, jadi harga minyak, BBM ini harus harus satu. Pertanyaannya itu apakah sekarang tidak dipertimbangkan lagi gitu atau bagaimana ada pertimbangan lain yang lebih penting dari NKRI.

Yang ketiga adalah saya coba-coba menghitung harga bukan harga pokok ya, harga pengadaan BBM itu, bukan menghitung sih, membandingkan yang lama, pakai asumsi yang disampaikan oleh Pak Direksi, Pak Direktur apa, Pemasaran atau apa namanya, itu tadinya harganya sekian lalu sampai ke MOPS itu kira-kira 4.000 sekian rupiah kalau pakai yang lama antara, kesepakatan antara DPR waktu zamannya Pak Satya, lalu zamannya siapa lag, itu formulanya itu 103% kali MOPS ditambah sekian jatuhnya itu 5.000 berapa gitu. Kalau sekarang pakai formula yang disusun ini jatuhnya 6.000 sekian, jadi bedanya ini ribuan gitu. Ya 1.000-an, 1.000 sekianlah bedanya. Nah pertanyaannya apakah yang dulu disepakati dengan DPR itu selalu lalu diubah tanpa, bukan persetujuanlahlah, tanpa konsultasi atau tanpa ya pantes-pantasnya kan dulu disepakati bareng, begitu mau tidak bersepakat tidak bersetuju lagi maka ya disampaikan. Nah itulah yang 3 hal itu yang kami inginkan karena kalau bedanya cuma 100 atau 200 mungkin rakyat lupa gitu, tapi kalau bedanya kira-kira kalau dengan harga sekarang bisa 20 persen maka susah lupanya Pak. Itu yang tolong dijelaskan secara ini, tidak perlu inilah tertulis, karena sebagai bahan untuk nanti kita akan rapat kerja dengan Menteri ESDM, biasanya, biasanya yang saya saksikan di TV aja biasanya Dirut Pertamina ikut mendampinginya. Jadi pertanyaan ini akan kami ulangai pada waktu rapat dengan Menteri ESDM dan

75 mudah-mudahan dari Pertamina sudah menyiapkan ininya, apa namanya, bahan-bahan ininya jadi saya tidak perlu di dijawab sekarang Pak, tertulis saja , karena dijawab sekarang juga nanti waktunya tidak cukup.

Terima kasih. KETUA RAPAT:

Oke, silakan Pak, ada tambahan dari meja Pimpinan.

PIMPINAN KOMISI VII DPR RI (Dr. H.M. ZAIRULLAH AZHAR/F-PKB): Ya, singkat saja Pak.

Terima kasih.

Bapak Direktur dan seluruh jajaran Pertamina yang kami hormati,

Pertama kami mengapresiasi Bapak Direktur bersama rekan-rekan, karena memang Pertamina ini adalah satu national, company national yang punya peranan yang sangat strategis, dia punya dampak bukan hanya konteks devisa APBN tapi juga punya dampak sosial yang luas. Kami usul ini Pak, kalau kita melihat salah satu ini dari tahun ke tahun kita selalu punya masalah oleh sebab itu, ini kebetulan Pak Direktur katanya tadi S3-nya strategi, ada tidak rencana strategi jangka panjang sehingga kemudian cadangan kita ini bisa mengimbangi atau meningkatkan baik dengan pembukaan kilang-kilang baru seperti yang diusulkan tadi ataupun mungkin ada penelitian, sehingga kemudian kita mendapatkan juga sumber-sumber baru di Indonesia. Sehingga pada akhirnya kita bisa mengurangi impor itu. Nah saya kira ini saja Pak singkat.

Terima kasih.

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. KETUA RAPAT:

Terima kasih.

Ini kita hampir dipenghujung acara paling tidak dari sisi pertanyaan, sebelum saya menyerahkan kepada Direktur Utama saya ingin sedikit saja meminta klarifikasi karena ada beberapa hal yang selama ini agak mengganjal, tadi sudah disebutkan banyak oleh teman-teman Anggota Komisi VII menyangkut nasib dari TPPPI, Pak. Saya pada waktu di Badan Anggaran pernah bicara dengan Menlkeu Perekonomian waktu itu dan juga dengan Menteri Keuangan, karena ini sebetulnya kuncinya di Menteri Keuangan tetapi tidak terlepas dari keinginan Pertamina untuk mau melangkah lebih jauh atau tidak, apakah mungkin untuk dipisahkan sementara antara permasalahan hutang mereka dengan tersedianya fasilitas refinery yang bisa

76 mengkilang sekitar, mengkilangkan sekitar 40.000 barel. Bottom line-nya adalah kalau Pertamina atau negara dalam hal ini ingin memanfaatkan fasilitas itu bisa dengan mekanisme yang lainnya tanpa harus dikaitkan dengan proses penyelesaian daripada masalah restrukturisasi ataupun apa saja yang menyangkut mengenai hutang daripada pemilik lama dan lain sebagainya, karena kalau kita masuk di situ ini idle terus Pak. Bagaimana kalau misalkan kita menyewa saja, Pertamina menyewa, pemerintah menyewa, memanfaatkan fasilitas yang ada di situ secara pararel mereka akan selesaikan, sehingga masuknya Pertamina di dalam TPPPI bukan bukan menjadi keharusan pada saat ini gitu, tetapi kita bisa memanfaatkan fasilitas yang ada. Karena sangat ironis saja gitu, kita menginginkan kilang ya kilangnya susah untuk, diapa, proses pembangunannya susah, tetapi TPPPI bisa kita switch fasilitasnya menjadi refinery yang bisa punya kapasitas sekitar 40.000. Nah kalau Pertamina tidak memberikan satu langkah atau effort yang menunju kepada pemikiran bagaimana memanfaatkan daripada fasilitas yang idle ini saya yakin Departemen Keuangan juga tidak tidak maju juga gitu. Karena mereka selalu mengatakan itu terpulang dari pada Pertamina. Jadi ini bolak balik saja itu dari Pertamina ke Depkeu, Depkeu ke Pertamina ya. Saya mohon supaya ikut dipikirkan bagaimana caranya supaya fasilitas itu bisa dan resources yang ada di sana tentunya tidak akan kesulitan, karena SPSI-nya pernah beraudiensi dengan kita di Komisi VII ini dan sangat memperhatikan sebetulnya, banyak sekali tenaga-tenaga ahli yang bagus yang apabila ini tidak kita perhatikan mereka akan lari kemana-mana dan akan menyulitkan sebetulnya kalau memang kita mempunyai niatan untuk mendayagunakan fasilitas yang cukup bagus itu sebetulnya. Jadi itu yang menjadi pertanyaan supaya, apa sebetulnya yang menjadi kendala utama kalau misalkan itu kita bisa pisahkan untuk sementara waktu.

Lantas yang kedua itu menyangkut mengenai Pertamina atau kemajuan Pertamina dari sisi hulu, dulu saya pernah mengatakan supaya bagaimana memaksimalkan daripada sumur-sumur tua, saya sudah mengatakan waktu Direktur Hulunya Pak Husein, segala macam burden yang ada akibat dari pada perizinan yang menyangkut mengenai SKK Migas, itu kita minta untuk diselesaikan supaya ini bisa kita optimalkan. Lantas tidak perlu Pertamina membatasi misalkan karena takut kalau itu nanti merusak formasi dan lain sebagainya apabila dilakukan pengeboran pada kedalaman tertentu. Kalau tidak nanti apa gunanya gitu loh, ini kan sumur tua kita ingin maksimalkan, kalau dibatasi banyak ya tidak bisa apa-apa. Karena yang terjadi sekarang ini sumur tua dikelola ya kayak orang apa menurut saya pengadaan tenaga kerja saja gitu, tidak ada teknologinya ya, di sana bagaimana ada orang yang mau mengerjakan, membawa latung itu, lantas dijual. Jadi sama sekali tidak meningkatkan produksi secara signifikan kalau menurut saya. Nah dan kita sadari itu kita banyak sekalii. Dulu terpaksa kita sampaikan, karena kita melihat menambah 5.000 barel overall dari produksi kita kan sangat, sehingga saya berpikir apakah itu bisa menjadi satu solusi. Jadi saya mohon ada satu, apa, ada satu niatan paling tidak, karena ... yang terbesar kan dimiliki Pertamina. Tidaklah yang punya lebih gede daripada Pertamina untuk ... Di bidang minyak dan gas ini.

77 Tadi saya lihat di sini kan ada satu ambisi yang luar biasa meningkatkan produksi ya menurut saya cukup signifikan karena di atas 300.000 barrel oil equivalent-nya. Dan dulu kita melihat bahwa Pertamina itu withdrawl rate-nya itu masih rata-rata rendah dibandingkan dengan para PSI yang lain. Mungkin Pak Direktur hulu nanti juga bisa menyampaikan pada kita ya jangan sampai Pak, jangan sampai Pertamina ini mempunyai area ada satu potensi diminta tidak boleh, dikerjakan juga tidak. Nah, ini tolong betul-betul dari sisi hulu itu hambatan-hambatan yang secara signifikan yang selama ini dirasakan oleh baik pemerintah ataupun juga pada masyarakat benar-benar bisa ditiadakan gitu, karena kita betul-betul menginginkan supaya mengoptimalkan dari lapangan yang ada Pak. Kita nanti di dalam konsep Undang-Undang Migas kan jelas akan memberikan privilege kepada Pertamina, sudah nuansanya sudah itu, itu tidak suatu yang tidak bisa lagi kita bendung, tetapi di sisi yang lain kita menginginkan bahwa Pertamina juga betul-betul menunjukkan ya jangan sampai nanti secara politiknya dibantu semua katakan ini untuk blok-blok ya yang masih dikuasai oleh asing dalam tanda petik dikelola atau dioperatoi mereka, diambil semua oleh Pertamina, lantas Pertamina tidak pernah memikirkan portfolio management-nya di dalam sekian tahun, puluhan tahun ke depan ya akhirnya semua numpuk di Pertamina tidak bisa ngapa-ngapain, dikerjasamakan lagi. Jadi sebetulnya jadi secara tidak langsung Pertamina bisa menjadi broker. Nah ini yang tidak kita hendaki, belum terjadi Pak, tetapi kalau nanti privilege itu diberikan otomatis kan banyak beberapa blok yang sekarang ini mungkin dikelola oleh asing bisa ditingkatkan prosentasenya baik itu swasta nasional atau pun kepada Pertamina dengan ... (terpotong interupsi).

ANGGOTA FRAKSI PARTAI GERAKAN INDONESIA RAYA (RAMSON SIAGIAN): Interupsi Pak Ketua.

KETUA RAPAT: