• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keuangan Daerah

Dalam dokumen Ir.H. Achmad Sofyan, MM. (Halaman 129-137)

BAB I PENDAHULUAN

BAB 8 EKONOMI DAN KEUANGAN DAERAH

8.5. Keuangan Daerah

Dalam menjalankan roda pemerintahan dan pembangunan untuk meningkatkan kesejahtraan masyarakat, pemerintah daerah senantiasa berusaha mencari sumber-sumber pendapatan daerah sebagai sumber pembiayaan bagi pembangunan. Dengan diterbitkannya UUD No. 33 tahun 2004 dalam hal kebijakan fiskal perimbangan keuangan pusat daerah, dengan melalaui dana bagi hasil sumber daya alam merupakan modal utama dalam melaksanakan percepatan pembangunan di daerah. Sebagai salah satu daerah penghasil sumber daya alam, besaran pembagian dana perimbangan merupakan keharusan mendesak dan harus diperjuangkan untuk mengajar ketertinggalan pembangunan dengan daerah lain di Indonesia seperti di pulau Jawa. Namun disadari besaran dana tersebut masih belum memadai bila dibandingkan dengan kerusakan lingkungan sebagai akibat dari eksploitasi sumber daya alam dari berbagi aktivitas ekonomi baik industri, kehutanan, pertambangan dan lainnya.

Pemerintah Kabupaten Kutai Barat dalam merencanakan anggaran pendapatan daerah tetap mempertimbangkan serta memperhatikan secara cermat karakteristik sumber-sumber pendapatan.Perencanaan sumber-sumber pendapatan yang bersifat dinamis seperti pajak daerah dilakukan melalui analisis potensi, kondisi makro ekonomi, tingkat kesadaran masyarakat, dan lain-lain.

Demikian juga perencanaan sumber-sumber pendapatan yang lain dilakukan melalui pendekatan yang serupa. Perencanaan yang bersumber dari dana perimbangan sejak beberapa tahun sebelumnya dilaksanakan secara hati-hati yang dikarenakan pada saat penetapan APBD, dana perimbangan yang dialokasikan untuk daerah masih bersifat global sewaktu-waktu bisa terjadi perubahan dan masih harus ditindak lanjuti secara rinci per daerah, Departemen Teknis dengan melalui Keputusan Menteri pada masing-masing departemen terkait. Untuk itu alokasi dana perimbangan yang ditetapkan dalam APBD tahun 2015 dan 2016 berdasarkan anggaran riil, sedangkan untuk pembagian didasarkan atas angka realisasi.

Selain yang tersebut diatas, pendapatan asli daerah (PAD) merupakan salah satu komponen pendapatan yang bersumber dari kemampuan daerah sendiri yang diharapkan dapat memberikan kontribusi yang cukup besar dalam APBD, sedangkan komponen dana perimbangan yang bersumber dari sektor SDA seperti: Migas, Pertambangan Umum, dan Kehutanan merupakan sumber penerimaan negara yang bersifat fluktuatif dan sangat rentan terhadap perubahan kondisi makro ekonomi yang mempengaruhi terhadap

8.5.1. Penerimaan Daerah

Pendapatan Daerah Tahun Anggaran 2017 terealisasi sebesar Rp1.674.630.102.115,82 atau sebesar 89,16 persen

Tabel 8.2 Target dan Realisasi Pendapatan Daerah Tahun Anggaran 2017

No. Uraian Target

(Rp)

Realisasi

(Rp) % Bertambah

(Berkurang) 1 Pendapatan 1.878.150.006.305,11 1.674.630.102.115,82 89,16 (203.519.904.189,29) 1.1 Pendapatan Asli

Daerah (PAD)

157.907.294.944,71 131.723.322.776,82 83,42 (26.183.972.167,89)

1.1 Pendapatan Pajak Daerah

29.610.000.000,00 36.097.154.408,45 121,91 6.487.154.408,45

1.2 Hasil Retribusi Daerah

3.030.500.000,00 1.710.687.428,68 56,45 (1.319.812.571,32)

1.3 Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan

4.648.982.539,31 4.648.982.539,31 100,00 0,00

1.4 Lain-lain PAD Sah 120.617.812.405,40 89.266.498.400,38 74,01 (31.351.314.005,02) 2 Dana Perimbangan 1.501.229.371.099,40 1.324.348.257.578,00 88,22 (176.881.113.521,40) 2.1 Dana Bagi Hasil

Pajak/bagi hasil bukan pajak

635.081.973.099,40 464.838.553.125,00 73,19 (170.243.419.974,40)

2.2 DAU 600.687.747.000,00 600.687.747.000,00 100,00 0,00 2.3 Dana Alokasi

Khusus Fisik

54.246.898.000,00 52.274.215.891,00 96,36 (1.972.682.109,00)

2.4 Alokasi Dana Desa 149.709.702.000,00 149.709.702.000,00 100,00 0,00 2.6 Dana Alokasi

Khusus Non Fisik

54.003.051.000,00 49.338.039.562,00 91,36 (4.665.011.438,00)

2.7 DID 7.500.000.000,00 7.500.000.000,00 100,00 0,00

3 Lain-Lain Pendapatan Sah

219.013.340.261,00 218.558.521.761,00 99,79 (454.818.500,00)

3.3 Dana Bagi Hasil pajak dari Propinsi dan pemerintah Daerah lainnya

122.440.084.500,00 124.680.266.000,00 101,83 2.240.181.500,00

3.4 Dana Penyesuaian

96.573.255.761,00 93.878.255.761,00 97,21 (2.695.000.000,00)

Sumber : BKADTahun 2018

Gambar 8.3 Realisasi Pendapatan Kabupaten Kutai Barat Tahun 2014 - 2017

Sumber : BKAD 2018

Jika membandingkan pendapatan daerah per komponen, selama periode 2014 - 2017 pertumbuhan realisasi pendapatan disajikan dalam tabel berikut.

Tabel 8.3 Pertumbuhan Komponen Pendapatan Daerah Selama Tahun 2014-2017

Uraian

TAHUN

Rata -Rata

2014 2015 2016 2017

Pendapatan 1.788.574.637.990,50 2.061.582.342.110,48 1.847.068.701.137,67 1.674.630.102.115,82 Pertumbuhan

(%) 85.47 80.47 90.05 89.16 86.29

Pendapatan

Asli Daerah 106.477.282.476,50 83.297.356.154,48 82.989.130.200,67 131.723.322.776,82 Pertumbuhan

(%) 106.27 55.73 69.62 83.42 78.76

Dana

Perimbangan 1.295.021.217.664,00 1.557.481.084.006,00 1.568.571.149.937,00 1.324.348.257.578,00 Pertumbuhan

(%) 81.98 81.22 96.26 88.22 86.92

Lain-Lain Pendapatan Sah

387.076.137.850,00 420.803.901.950,00 195.508.421.000,00 218.558.521.761,00

Pertumbuhan

(%) 93.78 85.05 64.66 99.79 85.82

1.788.574.637.990,50

2.061.582.342.110,48

1.847.068.701.137,67

1.674.630.102.115,82

0,00 500.000.000.000,00 1.000.000.000.000,00 1.500.000.000.000,00 2.000.000.000.000,00 2.500.000.000.000,00

2014 2015 2016 2017

DALAM RUPIAH

REALISASI PENDAPATAN DAERAH KABUPATEN KUTAI BARAT TAHUN 2014 - 2017

Gambar 8.4

Kontribusi Pendapatan Daerah Kab. Kutai Barat Tahun 2017

Dari grafik di atas mencerminkan bahwa Kabupaten Kutai Barat masih sangat tergantung pada bantuan dari pusat untuk membiayai segala kebutuhannya terkait dengan pembangunan dan pemerintahan. Tingkat kemandirian atau DOF (Derajat Otonomi Fiskal) Kabupaten Kutai Barat yang tercermin dari nilai proporsi antara Pendapatan Asli Daerah dengan Total Pendapatan Daerah baru mencapai rata-rata sebesar 7,87 %. Angka ini menggambarkan bahwa peran PAD sebagai sumber utama pelaksanaan otonomi masih rendah, karena sebagian besar penerimaan daerah sebesar 79,08 % masih bersumber dari pendapatan di luar PAD.

8.5.2. Pengeluaran Daerah

Penerimaan daerah secara garis besar dipergunakan untuk membiayai pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan. Pengeluaran rutin ditujukan untuk membiayai operasi penyelenggaraan pemerintah, sedangkan pengeluaran pembangunan ditujukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah.

Total Anggaran Belanja yang ditargetkan pada tahun 2017 adalah sebesar Rp 1.967.333.256.026,25. Dari target tersebut terealisasi sebesar Rp 1.539.116.361.765,22 atau sebesar 78,23 %. Dilihat dari realisasi belanja pada tahun 2017 mengalami penurunan jika dibandingkan dengan realisasi belanja tahun 2016. Pada tahun 2017 realisasi belanja sebesar 78,23 persen, sedangkan pada tahun 2016 realisasi belanja sebesar 85,92 persen. Gambaran mengenai realisasi anggaran belanja terdapat pada tabel 8.5 dibawah ini:

7,87; 8%

79,08; 79%

13,05; 13%

Kontribusi Pendapatan Daerah Kabupaten Kutai Barat

Pendapatan Asli Daerah Dana Perimbangan

Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah

Tabel 8.4 Target dan Realisasi Belanja Daerah Tahun Anggaran 2017

1 BELANJA 1.967.333.256.026,25 1.539.116.361.765,22 78,23 (428.216.894.261,03) 1.1. Belanja

Operasi 1.436.709.312.387,91 1.195.041.202.432,37 83,18 (241.668.109.955,54) 1.1.1 Belanja Pegawai 707.434.034.539,32 637.733.318.945,00 90,15 (69.700.715.594,32) 1.1.2 Belanja Barang 349.456.649.783,04 281.256.357.833,37 80,48 (68.200.291.949,67) 1.1.2 Belanja Subsidi 5.755.394.000,00 1.777.276.500,00 30,88 (3.978.117.500,00) .1.3 Belanja Hibah 60.405.144.908,14 51.290.490.000,00 84,91 (9.114.654.908,14) 1.1.4 Belanja Bantuan

Sosial 33.462.049.425,00 14.626.366.363,00 43.71 (18.835.683.062,00) 1.1.6 Belanja Bantuan

Keuangan 280.196.039.732,41 208.357.392.791,00 74,36 (71.838.646.941,41) 1.2 Belanja Modal 530.123.943.638,34 343.857.977.370,85 64,86 (186.265.966.267,49) 1.2.1 Belanja Tanah 2.258.396.837,00 742.941.300,00 32,90 (1.515.455.537,00)

1.2.2 Belanja Peralatan dan Mesin

85.120.885.379,19 30.090.303.446,35 35,35 (55.030.581.932,84)

1.2.3 Belanja Bangunan dan Gedung

32.140.796.365,40 24.473.768.554,80 76,15 (7.667.027.810,60)

1.2.4 Belanja Jalan, Irigasi dan Jaringan

407.909.776.256,75 286.578.988.269,70 70,26 (121.330.787.987,05) 1.2.5 Belanja Aset

Tetap Lainnya 2.694.088.800,00 1.971.975.800,00 73.20 (722.113.000,00) 1.3 Belanja Tak

Terduga 500.000.000,00 217.181.962,00 43,44 (282.818.038,00) 1.3.1 Belanja Tak

Terduga 500.000.000,00 217.181.962,00 43,44 (282.818.038,00)

Sumber: BKAD Tahun 2018

Dilihat dari total belanja dalam kurun waktu 4 tahun terakhir (2014 s.d 2017), Pemerintah Kutai Barat telah membelanjakan anggaran sebesar Rp 7.319.436.456.091,71.

Tabel 8.5 Realisasi Total Belanja Daerah Kabupaten Kutai Barat Tahun 2014–2017

Tahun Anggaran (Rp)

Realisasi

(Rp) % Selisih

(Rp)

2014 2.270.644.690.789,75 1.828.208.959.997,45 80,51 442.435.730.793,30 2015 2.692.624.010.293,40 2.143.841.249.156,03 79,62 548.782.761.137,37 2016 2.104.508.628.070,40 1.808.269.885.173,01 85,92 296.238.742.897,39 2017 1.967.333.256.026,25 1.539.116.361.765,22 78,23 428.216.894.261,03 TOTAL 9.035.110.585.179,80 7.319.436.456.091,71 81,01 1.715.674.129.088,09 Sumber : BKAD Tahun 2018

Dari komposisi tabel di atas, menunjukkan adanya peningkatan target dan realisasi anggaran dari tahun 2014 sampai tahun 2016. Tetapi terjadi penurunan belanja di tahun 2017 dibandingkan dengan tahun 2016, hal ini sejalan dengan adanya penurunan anggaran pada tahun 2017.

Gambar 8.5

Target dan Realisasi Belanja Kabupaten Kutai Barat Tahun 2014-2017

Sumber : BKAD Tahun 2018

Pada sisi pertumbuhan, belanja daerah selama kurun waktu 4 tahun terakhir mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar -9,45 %. Belanja daerah mengalami tingkat pertumbuhan tertinggi pada kurun waktu tahun 2014 ke tahun 2015, yaitu sebesar 17.26%. Sumbangan terbesar pertumbuhan pada kurun waktu tersebut berasal dari belanja tidak langsung yang tumbuh sebesar 20.54 %, diikuti oleh belanja langsung yang tumbuh sebesar 15.77%. Pertumbuhan komponen belanja daerah selama tahun 2014 sampai dengan tahun 2017 tersaji dalam tabel 8.7.

2014 2015 2016 2017

REALISASI 1.828.208.959.997,45 2.143.841.249.156,03 1.808.269.885.173,01 1.539.116.361.765,22 TARGET 2.270.644.690.789,75 2.692.624.010.293,40 2.104.508.628.070,40 1.967.333.256.026,25

0,00 1.000.000.000.000,00 2.000.000.000.000,00 3.000.000.000.000,00 4.000.000.000.000,00 5.000.000.000.000,00 6.000.000.000.000,00

TARGET DAN REALISASI BELANJA KAB. KUTAI BARAT PERIODE 2013 s.d 2016 (DALAM RUPIAH)

Tabel 8.6 Pertumbuhan Komponen Pendapatan Daerah Selama Tahun 2014- 2017

Belanja Subsidi 11.498.171.000,00 15.057.468.521,00 9.772.980.000,00 1.777.276.500,00

Pertumbuhan (%) 69,39 100,00 93,93 30,88 -34,86

Sosial 32.191.289.656,00 26.593.623.853,00 28.806.104.827,00 14.626.366.363,0 0

Terduga 3.190.941.441,26 869.558.418,00 2.598.130.714,92 217.181.962,00

Pertumbuhan (%) 86,21 55,74 40,87 43,44 12,08

Sumber : BKAD Kutai Barat Tahun 2018

Berdasarkan tabel di atas, maka ada beberapa hal yang dapat dijelaskan terkait angka pertumbuhan belanja daerah yang cukup signifikan, baik pertumbuhan positif maupun negatif. Kontribusi rata-rata terbesar belanja daerah selama tahun anggaran 2014 sampai dengan tahun 2017 masih ada pada belanja langsung. Tren proporsi belanjalangsung terhadap belanja daerah menunjukkan peningkatan positif. Dengan proporsi belanja langsung yang lebih besar menunjukkan komposisi yang ideal, mengingat belanja langsung banyak memberikan manfaat langsung bagi publik.

Meskipun tidak sepenuhnya benar karena dalam komponen belanja tidak langsung, selain belanja pegawai terdapat belanja hibah dan belanja bantuan sosial yang merupakan kerangka regulasi daerah dalam mendukung pencapaian tujuan pembangunan daerah.

Pelaksanaan kegiatan dalam belanja hibah dan belanja bantuan sosial adalah oleh kelompok masyarakat, sehingga kemanfaatan atas hasil kegiatan tentunya secara langsung dirasakan oleh masyarakat.

Perkembangan proporsi realisasi belanja langsung dan belanja tidak langsung terhadap total belanja pada periode tahun 2014-2017 yang tersaji dalam grafik berikut.

Sumber: BKAD Kutai Barat Tahun 2018

Pada komponen belanja tidak langsung, terdiri dari belanja pegawai, subsidi, hibah, bantuan sosial, bantuan keuangan kepada provinsi/kabupaten/kota dan pemerintahan desa dan belanja tidak terduga. Proporsi belanja terbesar adalah untuk gaji pegawai, dimana pada tahun 2014 proporsinya sebesar 86,73 %. Urutan rata-rata proporsi komponen lainnya yang ada di belanja tidak langsung adalah belanja hibah sebesar 86,57 persen dan bantuan keuangan kepada provinsi/kabupaten/kota dan Pemerintahan Desa sebesar 96,28 persen, belanja bantuan sosial 79,45 persen, belanja Subsidi 86,94 persen dan belanja tidak terduga sebesar 86,21 persen.

0 20 40 60 80 100 120 140 160 180

2014 2015 2016 2017

77,97 74,46 83,61 76,39

86,73 93,19 89,34

80,77

Gambar 8.6

Proporsi Realisasi Belanja Tidak Langsung dan Belanja Langsung Daerah Tahun 2014-2017

Belanja Tidak Langsung Belanja Langsung

Dalam dokumen Ir.H. Achmad Sofyan, MM. (Halaman 129-137)

Dokumen terkait