KATA
SAMBUTAN
Assalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.
Syukur Alhamdulillah kami ucapkan ke hadirat Allah SWT atas selesainya penyusunan Buku Profil Daerah Kabupaten Kutai Barat. Publikasi ini merupakan lanjutan dari buku tahun sebelumnya yang menyajikan gambaran potensi, sumberdaya dan capaian pembangunan di Kabupaten Kutai Barat. Kami berharap informasi yang disajikan dalam buku ini dapat dipergunakan oleh semua pihak guna memahami perkembangan sumberdaya, sarana dan prasarana serta menjadi bahan masukkan dalam pengambilan kebijakan dalam perencanaan pembangunan daerah di Kabupaten Kutai Barat.
Menggambarkan keseluruhan Kutai Barat dalam satu buku adalah pekerjaan yang tidak mudah. Untuk itu kami berharap, dengan segala keterbatasannya buku ini mampu menjadi gambaran sekilas wajah Kutai Barat serta menjadi pemantik bagi pembaca untuk menggali informasi tentang Kutai Barat dari berbagai sumber lain.
Selamat membaca.
Wassalamu ’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Sendawar, Oktober 2018 Kepala BP3D Kutai Barat,
Ir.H. Achmad Sofyan, MM.
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI... ii
DAFTAR TABEL ... v
DAFTAR GAMBAR ... ix
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Landasan Hukum ... 2
1.3Tujuan dan Sasaran ... 2
1.3.1Tujuan Kegiatan ... 2
1.3.2Sasaran Kegiatan ... 3
BAB 2 GAMBARAN UMUM ... 4
2.1 Sejarah Pembentukan Kabupaten Kutai Barat ... 4
2.2 Arti dan Makna Lambang Daerah ... 5
2.3 Motto dan Maskot Kabupaten Kutai Barat ... 6
2.3.1 Motto Kabupaten Kutai Barat ... 6
2.3.2 Maskot Kabupaten Kutai Barat ... 7
2.4 Visi, Misi dan Program Prioritas Pembangunan ... 7
2.4.1 Visi ... 7
2.4.2 Misi ... 8
2.4.3 Tujuan dan Sasaran ... 8
2.4.4 Isu Strategis ... 10
2.4.5 Arah Kebijakan ... 13
2.5 Kondisi Fisik ... 18
2.5.1Geografi ... 18
2.5.2Topografi ... 19
2.5.3 Geologi ... 21
2.5.4Fisiografi ... 22
2.5.5Klimatologi ... 22
2.5.6Penggunaan Lahan ... 23
2.6Sumber Daya dan Lingkungan ... 26
2.6.1Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup ... 26
2.6.2Sumber Daya Pariwisata, Kelembagaan dan Budaya ... 26
3.2 Perangkat Daerah ... 32
3.3 Aparatur Pemerintahan ... 36
3.3.1 Pegawai Struktural ... 37
3.3.2 Pegawai Fungisional ... 38
3.3.3 Pegawai Honorer ... 38
BAB 4 SOSIAL BUDAYA ... 39
4.1Kependudukan ... 40
4.1.1Jumlah dan Kepadatan Penduduk ... 40
4.1.2Komposisi Penduduk ... 42
4.1.3Penduduk Menurut Kelompok Umur ... 43
4.2Ketenagakerjaan ... 45
4.2.1Pencari Kerja ... 45
4.2.2Pengangguran ... 46
4.3 Pendidikan ... 48
4.3.1 Sarana pendidikan ... 48
4.3.2 Kualitas Tenaga Pendidik ... 51
4.3.3 Indikator pencapaian pendidikan ... 53
4.4 Kesehatan ... 56
4.4.1Sarana Kesehatan ... 56
4.4.2Sarana Industri, Distribusi Obat, dan Alat Kesehatan ... 59
4.4.3Tenaga Kesehatan ... 59
4.4.4Kondisi Kesehatan Masyarakat ... 60
4.4.5Pasangan Usia Subur dan Akseptor KB ... 63
4.5Kesejahteraan Sosial ... 63
4.5.1Penduduk Miskin ... 63
4.5.2Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial ... 64
4.5.3Panti Sosial ... 65
4.6Agama ... 66
BAB 5 SUMBER DAYA ALAM ... 70
5.1 Pertanian ... 71
5.1.1Tanaman Pangan ... 71
5.2Perkebunan ... 76
5.3 Peternakan ... 80
5.4Perikanan ... 82
5.5Kehutanan ... 83
5.6 Pertambangan ... 85
BAB 6 INFRASTRUKTUR ... 87
6.1Prasarana Jalan dan Jembatan ... 87
6.2Perhubungan dan Transportasi ... 89
6.3Pariwisata ... 92
6.4Pos dan Telekomunikasi ... 98
6.5Listrik ... 99
6.6Air Minum ... 100
BAB 7 INDUSTRI, PEDAGANGAN, KOPERASI DAN LEMBAGA KEUANGAN ... 102
7.1 Industri ... 102
7.2 Perdagangan ... 105
7.3 Koperasi dan Lembaga Keuangan ... 106
7.3.1Koperasi ... 106
7.3.2Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) ... 108
7.3.3Lembaga Keuangan ... 113
BAB 8 EKONOMI DAN KEUANGAN DAERAH ... 114
8.1. Kondisi Perekonomian ... 114
8.2. Perkembangan Ekonomi Regional ... 115
8.3. Pertumbuhan Ekonomi ... 116
8.4. Struktur Ekonomi ... 117
8.5. Keuangan Daerah ... 119
BAB 9 POLITIK, HUKUM DAN KEAMANAN ... 127
9.1 Supra Struktur dan Infrastruktur Politik... 127
9.2 Hukum ... 135
9.2.1 Pelanggaran Hukum ... 135
9.2.2 Lembaga Hukum ... 137
9.3Keamanan dan Ketertiban Masyarakat ... 137 PENUTUP
Tabel 2.1 Nama – Nama Bupati dan Wakil Bupati Kutai Barat ... 5
Tabel 2.2 Luas Wilayah Masing-Masing Kecamatan di Kabupaten Kutai Barat ... 19
Tabel 2.3 Jenis dan Luasan Penggunaan Lahan di Kabupaten Kutai Barat ... 25
Tabel 3.1 Jumlah Kecamatan dan Kelurahan Kabupaten Kutai Barat Tahun 2018 ... 29
Tabel 3.2 Jumlah Kampung dan Kelurahan di Kabupaten Kutai Barat ... 30
Tabel 3.3 Jumlah Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten Kutai Barat ... 34
Tabel 3.4 Jumlah Pegawai Negeri Sipil Kabupaten Kutai Barat Menurut Tingkat Pendidikan Tahun 2014 – 2018 ... 36
Tabel 3.5 Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Lingkungan Pemkab Kutai Barat Menurut Golongan (Kepangkatan) Tahun 2014 – 2018 ... 37
Tabel 3.6 Pejabat Struktural di Lingkungan Pemkab Kutai Barat ... 37
Tabel 3.7 Jumlah PNS Kutai Barat yang Mengikuti Diklat Pimpinan ... 38
Tabel 4.1 Luas Wilayah, Banyaknya Rumah Tangga, Penduduk dan Kepadatan Penduduk Menurut Kecamatan Tahun 2017 ... 41
Tabel 4.2 Penduduk Kutai Barat Berdasarkan Komposisi Jenis Kelamin dan Sex Ratio Per Kecamatan Tahun 2017 ... 43
Tabel 4.3 Penduduk Kutai Barat Menurut Kelompok Umur Tahun 2017 ... 44
Tabel 4.4 Data Pencari Kerja dan Penempatan Tenaga Kerja ... 46
Tabel 4.5 Data Pencari Kerja Menurut Pendidikan Akhir Tahun 2014 – 2018 ... 46
Tabel 4.6 Jumlah Taman Kanak-Kanak, Murid dan Guru ... 49
Tabel 4.7 Jumlah Sekolah Dasar, Murid dan Guru ... 49
Tabel 4.8 Jumlah SMP, Murid dan Guru ... 50
Tabel 4.9 Jumlah SMA/SM,Murid dan Guru ... 51
Tabel 4.10 Jumlah Pendidik dengan Status PNS berdasarkan Tingkat Pendidikan di Kabupaten Kutai Barat Tahun 2017 ... 52
Tabel 4.11 Jumlah Pendidik dengan Status Non PNS berdasarkan Tingkat Pendidikan di Kabupaten Kutai Barat Tahun 2017 ... 52
Tabel 4.12 Jumlah Guru dan Pengawas PNS serta guru Non PNS yang Telah Lulus Sertifikasi Tahun 2014 – 2017 ... 53
Tabel 4.13 Angka Partisipasi Kasar (APK) di Kabupaten Kutai Barat ... 54
Tabel 4.14 Angka Partisipasi Murni (APM) di Kabupaten Kutai Barat ... 54
Tabel 4.15 Angka Kelulusan (AK) di Kabupaten Kutai Barat ... 55
Tabel 4.16 Perkembangan Posyandu Di Kabupaten Kutai Barat ... 56
Tabel 4.17 Puskesmas di Kabupaten Kutai Barat ... 57
Tabel 4.18 Sarana Industri, Distributor Obat, Alat Kesehatan yang direkomendasikan Pemkab Kutai Barat Tahun 2014 – 2018 ... 59
Tabel 4.19 Banyaknya Tenaga Kesehatan di Kabupaten Kutai Barat Menurut Bidang Keahlian Tahun 2014 - 2018 ... 60
Tabel 4.20 Jumlah PUS, KB Aktif, KB Baru dan Klinik KB ... 63
Tabel 4.21 Perkembangan Angka Kemiskinan di Kutai Barat ... 64
Tabel 4.22 Garis Kemiskinan Kabupaten Kutai Barat ... 64
Tabel 4.23 Data Penduduk Rawan Sosial Kabupaten Kutai Barat ... 65
Tabel 4.24 Jumlah Peserta PKH Kabupaten Kutai Barat Yang Sudah Menerima Komplementaritas ... 66
Tabel 4.25 Banyaknya Sarana Peribadatan di Kabupaten Kutai Barat Tahun 2014 – 2018 ... 68
Tabel 4.26 Banyaknya Sarana Pendidikan dan Pengajaran di Kabupaten Kutai Barat Tahun 2016 – 2018 ... 69
Tabel 5.1 Sentra Produksi Tanaman Palawija di Kabupaten Kutai Barat ... 71
Tabel 5.2 Luas Tanam, Produksi dan Produktivitas Tanaman Padi dan Palawija di Kabupaten Kutai Barat Tahun 2014 - 2017 ... 72
Tabel 5.3 Sentra Produksi Holtikultura di Kabupaten Kutai Barat ... 73
Tabel 5.4 Luas Panen dan Produksi Tanaman Sayur-Sayuran menurut Jenis (Kw) di Kabupaten Kutai Barat Tahun 2014 – 2017 ... 74
Tabel 5.5 Luas Panen dan Produksi Tanaman Buah-Buahan menurut Jenis (Kw) .... 75
Tabel 5.6 Luas Areal, Produksi dan Produktivitas Komoditi Perkebunan di Kabupaten Kutai Barat Tahun 2014 – 2017 ... 77
Tabel 5.7 Luas Areal dan Produksi Kelapa Sawit Perkebunan Besar Swasta ... 79
Tabel 5.8 Populasi Ternak dan Produksi Jenis Ternak di Kabupaten Kutai Barat Tahun 2014 – 2018 ... 81
Tabel 5.9 Produksi Perikanan di Kabupaten Kutai Barat Tahun 2014– 2017 ... 83
Tabel 5.10 Luas Fungsi Kawasan Hutan per Kecamatan di Kabupaten Kutai Barat Tahun 2017 ... 84
Tabel 5.11 Pemegang Ijin Usaha Pemamfaatan Hasil Hutan Kayu dan Hak Pengelolaan Hutan Desa ... 85
Tabel 6.1 Kondisi Jalan Kecamatan di Kutai Barat ... 88
Tabel 6.2 Produk Akhir Jalan Kecamatan Kutai Barat ... 89
Tabel 6.3 Jumlah Sarana dan Prasarana Transportasi ... 91
Tabel 6.4 Jumlah Sarana dan Prasarana Perhubungan ... 92
Tabel 6.5 Jumlah Wisatawan Asing dan Domestik Yang Datang Berkunjung ... 93
Tabel 6.6 Obyek Wisata Unggulan di Kabupaten Kutai Barat ... 96
Tabel 6.7 Banyaknya Pelanggan Menurut Jenis Pelanggan dan Unit PLN ... 99
Tabel 6.8 Banyaknya Sambungan Air yang dilayani PDAM Kutai Barat ... 101
Tabel 7.1 Perkembangan Sektor Industri Kecil dan Menengah (IKM)... 102
Tabel 7.2 Data Industri Kecil dan Menengah (IKM) di Kabupaten Kutai Barat Menurut Kecamatan Tahun 2018 ... 103
Tabel 7.3 Pemberian Dana Pinjaman Modal Kredit Bergulir bagi UMKM... 104
Tabel 7.4 Jumlah Sarana Perdagangan dan Jenis Bangunan Pasar ... 105
Tabel 7.5 Perkembangan Koperasi di Kabupaten Kutai Barat ... 106
Tabel 7.6 Penyertaan Modal Bagi Koperasi di Kutai Barat dan Mahakam Ulu Tahun 2007-2014 ... 107
Tabel 7.7 Data Pemberian Pinjaman /Pembiayaan bagi UMKM ... 110
Tabel 7.8 Dashboard Pemohon UMKM ... 112
Tabel 7.9 Progress Perkembangan Target Pendapatan Dana Bergulir UMKM ... 112
Tabel 7.10 Progress Perkembangan Investasi Non Permanen Blud Dana Bergulir Koperasi Dan UMKM ... 113
Tabel 8.1 PDRB Menurut lapangan Usaha (persen) ... 118
Tabel 8.2 Target dan Realisasi Pendapatan Daerah Tahun Anggaran 2017 ... 120
Tabel 8.3 Pertumbuhan Komponen Pendapatan Daerah ... 121
Tabel 8.4 Target dan Realisasi Belanja Daerah Tahun Anggaran 2017... 123
Tabel 8.5 Realisasi Total Belanja Daerah Kabupaten Kutai Barat ... 123
Tabel 8.6 Pertumbuhan Komponen Pendapatan Daerah ... 125
Tabel 9.1 Komisi DPRD Kabupaten Kutai Barat ... 128
Tabel 9.2 Anggota DPRD Kabupaten Kutai Barat menurut jenis kelamin dan Tingkat Pendidikan ... 129
Tabel 9.3 Partai Politik Peserta Pemilu Tahun 2014 Kabupaten Kutai Barat ... 130
Tabel 9.4 Organisasi Profesi yang Terdaftar Tahun 2014 ... 130
Tabel 9.5 Organisasi Keagamaan yang Terdaftar Tahun 2014 ... 131 Tabel 9.6 Lembaga Swadaya Masyarakat yang Terdaftar Tahun 2014 ... 133 Tabel 9.7 Rekapitulasi Kriminalitas ... 136 Tabel 9.8 Jumlah Anggota Keamanan dan Ketertiban Masyarakat
Kabupaten Kutai Barat Tahun 2014 – 2018 ... 138
Gambar 2.1 Tugu Macan Dahan di Komplek Perkantoran Kab. Kutai Barat ... 7
Gambar 2.2 Peta Administrasi Kabupaten Kutai Barat ... 18
Gambar 2.3 Peta Wilayah Kabupaten Kutai Barat ... 20
Gambar 2.4 Peta Geologi Kabupaten Kutai Barat ... 21
Gambar 2.5 Peta Jenis Tanah Kabupaten Kutai Barat ... 22
Gambar 2.6 Peta Penggunaan Lahan Kabupaten Kutai Barat ... 25
Gambar 3.1 Pola Mekanisme Hubungan Kerja dan Koordinasi Perangkat Daerah di Kabupaten Kutai Barat ... 35
Gambar 4.1 Jumlah dan Kepadatan Penduduk ... 39
Gambar 4.2 Perbandingan jumlah penduduk laki-laki dan perempuan di Kabupaten Kutai Barat Tahun 2017 ... 42
Gambar 4.3 Angka Pengangguran Kutai Barat Tahun 2014 - 2017 ... 47
Gambar 4.4 Angka Melak Huruf Kutai Barat Tahun 2014 - 2017 ... 55
Gambar 4.5 Puskesmas Kecamatan Barong ... 57
Gambar 4.6 Rumah Sakit Umum Daerah-Harapan Insan Sendawar (RSUD-HIS) ... 58
Gambar 4.7 Angka Harapan Hidup (AHH) Kabupaten Kutai Barat ... 61
Gambar 4.8 Angka Kematian Bayi (AKB) Kabupaten Kutai Barat ... 62
Gambar 4.9 Angka Kamatian Ibu (AKI) Kabupaten Kutai Barat ... 62
Gambar 4.10 Salah Satu Masjid ... 67
Gambar 4.11 Salah Satu Gereja ... 67
Gambar 5.1 Salah Satu Perekebunan Karet Rakyat di Kutai Barat ... 76
Gambar 8.1 PDRB Perkapita (Juta Rp) Tahun 2014─2017 ... 115
Gambar 8.2 Laju Pertumbuhan Ekonomi ... 116
Gambar 8.3 Realisasi Pendapatan Kabupaten Kutai Barat Tahun 2014 - 2017 ... 121
Gambar 8.4 Kontribusi Pendapatan Daerah Kab. Kutai Barat Tahun 2017 ... 122
Gambar 8.5 Target dan Realisasi Belanja Kabupaten Kutai Barat ... 124
Gambar 8.6 Proporsi Realisasi Belanja Tidak Langsung dan Belanja Langsung Daerah Tahun 2014-2017 ... 126
abupaten Kutai Barat adalah salah satu kabupaten di Provinsi Kalimantan Timur Indonesia yang merupakan pemekaran dari wilayah Kabupaten Kutai yang telah ditetapkan berdasarkan UU Nomor 47 Tahun 1999. Secara geografis Kabupaten Kutai Barat terletak antara 114°45’33,15”- 116°32’03,79” Bujur Timur, 00°38’07,45” Lintang Utara dan 01°09’17,36” Lintang Selatan. Sebelum pemekaran jumlah kecamatan di Kabupaten Kutai Barat sebanyak 21 Kecamatan terdiri dari 236 Kampung dan 4 Kelurahan. Namun setelah keluarnya Undang-Undang No. 2 Tahun 2013 tentang Pembentukan Kabupaten Mahakam Ulu di Provinsi Kalimantan Timur maka 5 Kecamatan yaitu Long Apari, Long Pahangai, Long Bagun, Laham dan Long Hubung secara resmi menjadi wilayah Kabupaten Mahakam Ulu, sehingga jumlah Kecamatan di Kabupaten Kutai Barat berkurang menjadi 16 Kecamatan, terdiri dari 190 kampung dan 4 kelurahan
K
Provinsi Kalimantan Timur
Ibukota Sendawar
Luas Wilayah 20.381,56 km² (2.038.156 hektar) Batas Wilayah Utara : Kabupaten Mahakam Ulu
Timur : Kabupaten Kutai Kartanegara Selatan : Kabupaten Penajam Paser Utara Barat : Provinsi Kalimantan Tengah
1.2 Landasan Hukum
Undang - Undang No.25 Tahun 2004 Tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional ;
Undang – Undang Nomor 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan
Peraturan Menteri Dalam Negeri No 9 tahun 1998, Tentang Tata Cara Peran Serta Masyarakat dalam Proses Perencanaan Tata Ruang di Daerah ;
Kegiatan Penyusunan Profil Daerah ini mempunyai beberapa tujuan, terutama memberikan gambaran yang menyeluruh dan menyajikan informasi yang secara khusus meliputi :
a. Memberikan informasi yang akurat kepada pemerintah, masyarakat dan pihak swasta dalam rangka pengembangan investasi daerah, yang meliputi informasi mengenai kondisi, potensi dan keunggulan yang dimiliki oleh Kabupaten Kutai Barat.
b. Membangun database profil daerah yang mengambarkan seluruh potensi dan sumber daya yang dimiliki oleh daerah
Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah ;
Undang – Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah;
Peraturan Pemerintah No. 38 tahun 2007 Tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota ;
1.3 Tujuan dan Sasaran 1.3.1 Tujuan Kegiatan
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 86 Tahun 2017 tentang Tata Cara Perencanaan, Pengendalian dan Evaluasi Pembangunan Daerah, Tata Cara Evaluasi Rancangan Peraturan Daerah Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, serta Tata Cara Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah;
Peraturan Daerah Kabupaten Kutai Barat Nomor 03 Tahun 2016 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Kutai Barat Tahun 2016- 2021.
Peraturan Menteri Dalam Negeri No 98 Tahun 2018 tentang Sistem Informasi Pembangunan Daerah ;
Secara garis besar tujuan pokok dari kegiatan ini adalah melaksanakan amanat Undang–Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dalam pengelolaan pembangunan daerah, baik dari segi manajemen beserta unsur-unsur yang ada di dalamnya, pembangunan ekonomi wilayah, teknologi pembangunan, pengelolaan pembangunan wilayah, serta stabilitas daerah.
1.3.2 Sasaran Kegiatan
Sasaran merupakan tahapan-tahapan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Sasaran umum dari kegiatan ini adalah tersusunnya data profil daerah yang sekaligus merupakan hasil kinerja pemerintah daerah Kabupaten Kutai Barat yang mempunyai muatan–muatan materi sebagai berikut :
a. Tersedianya informasi yang up to date (mutahir) mengenai profil Kabupaten Kutai Barat yang dapat menggambarkan kondisi Kabupaten Kutai barat dari seluruh aspek pembangunan.
b. Tersedianya informasi mengenai potensi daerah Kabupaten Kutai Barat terutama dari aspek perekonomian daerah.
c. Tersedianya informasi mengenai peluang investasi terhadap aktivitas-aktivitas perekonomian di Kabupaten Kutai Barat
Hari Jadi 5 November 2001 berdasarkan Peraturan Daerah Nomor: 17 Tahun 2002 tertanggal 04
November Tahun 2002.
Lahan Perkantoran yang awalnya hanya 35 ha menjadi lahan 135 ha, dimana luas 84 ha akan digunakan sebagai ” Hutan Kota ” sedangkan 51
Ha untuk lokasi Perkantoran Pemerintah Kabupaten Kutai Barat.
Hal ini berdasarkan Surat Keputusan Bupati Kutai Barat tertanggal 11 Juni 2001, Nomor : 004.1/K.049/2001
Tentang Pembentukan Panitia Pengadaan Tanah Pembangunan untuk pelaksanaan Pembangunan Ibu
Kota Kabupaten Kutai Barat
BAB 2 GAMBARAN UMUM
2.1 Sejarah Pembentukan Kabupaten Kutai Barat
ermula dengan terbentuknya Kewedanaan pada tanggal 05 November 1952 di Barong Tongkok, kemudian pada tahun 1964 menjadi penghubung Bupati dari Tenggarong di Barong Tongkok, akhirnya paada tanggal 4 Oktober 1999, dengan lahirnya Undang – Undang No. 47
secara kongkret bersama – sama Kabupaten/
Kota lainnya terbentuklah Kabupaten Kutai Barat dengan dilantiknya Pejabat Bupati Ir.
Rama A Asia pada oleh Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah tanggal 12 Oktober 1999 di Jakarta. Kemudian dilanjutkan oleh Gubernur Kalimantan Timur dalam rangka meresmikan Kabupaten Kutai Barat serta melantik Aparatur Eselon II dan III pada tanggal 5 Nopember 1999 di Sendawar.
Pembentukan Lembaga Legislatif yang pertama dengan dilantiknya Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Kutai Barat pada tanggal 15 Desember tahun 2000 dengan Bapak Drs. Y Juan Jenau, MBA sebagai ketua DPRD Kabupaten Kutai Barat yang pertama.
B
Tabel 2.1 Nama – Nama Bupati dan Wakil Bupati Kutai Barat
NAMA BUPATI DAN WAKIL BUPATI TAHUN PEMERINTAHAN
Ir. Rama A Asia & Ismail Thomas, SM.
Hk
Periode : 2001 - 2006
Pelantikan : 19 April 2001 Ismail Thomas, SH & H. Didik Effendi,
S.Sos
Periode : 2006 - 2011
Pelantikan : 19 April 2006 Ismail Thomas, SH, M.Si & H. Didik
Effendi, S.Sos, M.Si
Periode : 2011 - 2016
Pelantikan : 19 April 2011 FX. Yapan, SH & H. Edyanto Arkan, SE Periode : 2016 - 2021
Pelantikan : 19 April 2016
Berdasarkan : Keputusan Menteri Dalam Negeri RI Nomor 131.64-3524 Tahun 2016 Tentang pengesahan Pengangkatan Bupati Kutai Barat Provinsi Kalimantan Timur dan Keputusan Menteri dalam Negeri Republik Indonasia Nomor 132.64- 3525 Tahun 2016 Tentang Pengesahan Pengangkatan Wakil Bupati Kutai Barat Provinsi Kalimantan Timur
Sumber : BP3D 2018
2.2 Arti dan Makna Lambang Daerah
Lambang Kabupaten Kutai Barat berbentuk perisai dengan warna dasar hijau, dibagian tengahnya terdapat gambar lamin yang merupakan rumah adat beberapa suku pribumi. Lamin tersebut dinaungi seraung dan dilindungi perisai yang daipit oleh padi dan kapas. Berikut makna lambang Kabupaten Kutai
2.3 Motto dan Maskot Kabupaten Kutai Barat 2.3.1 Motto Kabupaten Kutai Barat
Berdasarkan Peraturan Bupati Kutai Barat Nomor : 66 Tahun 2011 tanggal 01 November 2011 maka Motto Kabupaten Kutai Barat yang semula “Sendawar Kota BERADAT”
Bersih, Asri, Damai, Adil dan Tenteram diubah menjadi Kutai Barat Kabupaten BERADAT “ Bersih, Asri, Damai, Adil dan Tenteram”.
Perubahan dimaksud tanpa mempengaruhi arti dan makna dari kata “BERADAT” tetapi lebih meningkatkan cakupannya yang semula hanya di Sendawar sebagai Ibu Kota Lambang dengan warna dasar
hijau
Kesuburan dan kedamaian.
Lambang berbentuk perisai bersudut lima
Lambang berbentuk perisai bersudut lima Bintang bersudut lima berarti Pancasila sebagai dasar dan falsafah Negara Republik Indonesia.
Tulisan Kabupaten Kutai Barat Nama daerah dan wilayah hukum Pemerintahan Kabupaten Kutai Barat.
Seraung yang dilengkapi dengan rumbai berjumlah LIMA kotak warna - warni berjumlah SEBELAS dan bulatan kecil melingkari seraung berjumlah
SEMBILAN PULUH
SEMBILAN
Kabupaten Kutai Barat resmi berdiri tanggal 5 November 1999, merupakan tonggak sejarah dimulainya roda pemerintahan di Kabupaten Kutai Barat.
Lamin beratap sirap dengan ornamen Asoq Lejau diujung bubungan kiri kanan, berdinding papan kayu dan tampak tiang kokoh berjumlah delapan
Didalam penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan, Pemerintah Kabupaten Kutai Barat senantiasa mengutamakan adanya kebersamaan, kerukunan, menjunjung tinggi rasa kesatuan dan persatuan, setia serta taat pada pimpinan dibawah satu atap.
Perisai dengan motif ornamen Asoq Lejau
Pimpinan dan pejuang sejati yang perkasa, berwibawa dalam membela kepentingan dan keutuhan
mesyarakat, sebagai penuntun dan mengayomi masyarakat Kutai Barat.
Mandau dan sumpit yang melekat pada perisai
Melambangkan kewaspadaan sebagai alat pembelaan masyarakat dalam memperjuangkan dan melindungi masyarakat.
Padi dan Kapas Keadilan sosial.
Tulisan Tanna Purai Ngeriman Tanna adalah Tanah atau alam dan Negeri.
Purai adalah Subur.
Ngeriman adalah rezeki yang melimpah tanpa akhir.
Arti Warna Hijau berarti kesuburan; Merah berarti keberanian;
Putih berarti kesucian; Hitam berarti kesungguhan;
Kuning berarti kejayaan, keagungan
Kabupaten Kutai Barat, menjadi lebih luas lagi mencakup di seluruh wilayah Kabupaten Kutai Barat.
Untuk lebih memacu kinerja pemerintah dan masyarakat Kabupaten Kutai Barat di segala bidang Bupati FX Yapan, SH dan Wakil Bupati H. Ediayanto Arkan SE. mencetuskan motto “Semoga Hari Esok Lebih Baik Dari Pada Hari Ini”. Moto ini bermakna bahwa pemerintah dan masyarakat Kabupaten Kutai Barat selalu berusaha dan berdoa untuk menjadi lebih baik dalam segala bidang dari waktu ke waktu.
2.3.2 Maskot Kabupaten Kutai Barat
Gambar 2.1 Tugu Macan Dahan di Komplek Perkantoran Kab. Kutai Barat
Maskot dari Kabupaten Kutai Barat adalah “Macan Dahan”dengan nama latin Neofelis diardi yang keberadaannya sekarang terancam punah sehingga masuk dalam kategori hewan langka yang dilindungi dunia. Hal ini sangat menjadi perhatian Pemerintah sehingga selain mensosialisasi agar masyarakat menjaga kelestarian hewan langka tersebut tetapi juga mengabadikannya dengan membangun Patung Macan Dahan, sesuai yang terletak di Pusat Perkantoran Pemerintah Kabupaten Kutai Barat.
2.4 Visi, Misi dan Program Prioritas Pembangunan 2.4.1 Visi
Visi Daerah jangka menengah yang tertuang dalam RPJMD Kutai Barat Tahun 2016-2021 adalah sebagai berikut :
“Terwujudnya Kutai Barat Yang Semakin Adil, Mandiri Dan Sejahtera Berlandaskan Ekonomi Kerakyatan Dan Peningkatan Kualitas Sumber Daya
Manusia”.
2.4.2 Misi
Untuk mewujudkan Visi di atas, perlu di pandu melalui misi, hal ini tidak lepas dari pemaknaan misi yaitu perwujudan dari keinginan menyatukan langkah dan gerak dalam mencapai Visi yang telah di tetapkan. Sedangkan Misi untuk mewujudkan Visi di atas di tetapkan Tujuh butir sebagai berikut:
1. Peningkatan pembangunan infrastruktur dasar publik yang semakin merata ke seluruh wilayah Kutai Barat;
2. Peningkatan kualitas SDM melalui penyediaan pelayanan kesehatan dan pendidikan yang semakin berkualitas dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat;
3. Reformasi tata kelola pemerintahan dalam upaya menciptakan pemerintahan yang bersih dan pelayanan publik yang semakin cepat, mudah, dan murah;
4. Pembangunan ekonomi berbasis ekonomi kerakyatan dan sektor ekonomi potensial dalam upaya penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat, dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan hidup;
5. Penanggulangan kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat lokal, terutama masyarakat miskin dan tidak mampu;
6. Penerapan nilai-nilai keagamaan dan budaya luhur dalam upaya menciptakan lingkungan dan hubungan sosial yang harmonis, tertib dan aman berbasiskan sikap toleransi, tenggang rasa, dan gotong royong;
7. Pemberdayaan peran kampung, pemuda dan perempuan sebagai basis pembangunan masyarakat.
2.4.3 Tujuan dan Sasaran a. Tujuan
Sejalan dengan visi pembangunan tersebut di atas, maka tujuan pembangunan yang ingin dicapai meliputi:
1. Mengurangi kesenjangan pembangunan antar wilayah dan memacu pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui peningkatan cakupan sarana dan prasarana dasar publik ke kecamatan-kecamatan dan kampung-kampung yang relatif terbelakang;
2. Meningkatkan derajat pendidikan masyarakat;
3. Peningkatan derajat kesehatan masyarakat;
4. Mendorong peningkatan kinerja dalam pengelolaan pembangunan dan pemerintahan, sehingga terciptanya pemerintahan yang bersih dan bebas KKN;
5. Menciptakan lapangan kerja dan kesempatan berusaha dalam upaya meningkatkan pendapatan masyarakat;
6. Meningkatkan kemampuan masyarakat miskin dan rentan dalam memenuhi kebutuhan dasar (basic needs) dan meningkatkan derajat kehidupan masyarakat miskin pada kehidupan yang lebih bermartabat;
7. Menciptakan lingkungan dan hubungan sosial yang lebih harmonis, tertib dan aman bagi masyarakat;
8. Meningkatkan peran pemerintahan kampung, pemuda dan perempuan dalam pembangunan daerah.
b Sasaran
Mengacu kepada misi yang telah ditetapkan, maka sasaran yang hendak dicapai atau dihasilkan dalam kurun waktu 5 tahun adalah sebagai berikut:
1. Peningkatan pembangunan infrastruktur dasar publik yang semakin merata ke seluruh wilayah Kutai Barat
2. Peningkatan kualitas SDM melalui penyediaan pelayanan kesehatan dan pendidikan yang semakin berkualitas dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat
3. Reformasi tata kelola pemerintahan dalam upaya menciptakan pemerintahan yang bersih dan pelayanan publik yang semakin cepat, mudah, dan murah.
4. Pembangunan ekonomi berbasis ekonomi kerakyatan dan sektor ekonomi potensial dalam upaya penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat, dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan hidup.
5. Penanggulangan kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat lokal, terutama masyarakat miskin dan tidak mampu.
6. Penerapan nilai-nilai keagamaan dan budaya luhur dalam upaya menciptakan lingkungan dan hubungan sosial yang harmonis, tertib dan aman berbasiskan sikap toleransi, tenggang rasa, dan gotong royong.
7. Pemberdayaan peran kampung, pemuda dan perempuan sebagai basis pembangunan masyarakat, dengan sasaran: Terciptanya partisipasi dan peran aktif pemuda, perempuan dan organisasi kemasyarakatan dalam pembangunan daerah.
2.4.4 Isu Strategis
Beberapa permasalahan dan isu strategis yang harus dimanfaatkan dan diantisipasi oleh pemerintah Kabupaten Kutai Barat adalah sebagai berikut:
1 Tujuan Global dalam Sustainable Development Goals (SDG’s) Sebagai Kelanjutan Dari Tujuan Millenium Development Goals
Sustainable Development Goals (SDG’s) merupakan kelanjutan dari apa yang sudah dibangun pada Millenium Development Goals (MDG’s). Peraturan Presiden No.59 Tahun 2017 tentang Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan merupakan tonggak utama, yang menetapkan struktur dan mekanisme tata kelola SDGs nasional untuk perencanaan, penganggaran, pembiayan, pemantauan dan pelaporan menjadi landasan pemerintah daerah untuk melanjutkan hal tersebut.
2 AEC
(Asean Economy Community)
AEC atau Komunitas Ekonomi Asean adalah kerjasama perdagangan dan ekonomi di wilayah ASEAN termasuk Indonesia. AEC ini menjadi sebuah jalan baru untuk Kutai Barat membuka arus investasi. Sesuai dengan pernyataan Bupati Kutai Barat yang menginginkan Kutai Barat menjadi Kabupaten yang ramah terhadap investor.
Penguatan pasar lokal dan regional menjadi perhatian utama guna mempersiapkan pasar bebas yang berimplikasi pada eksistensi pengusaha lokal untuk dapat berdaya saing dengan pengusaha asing.
3 Laju Inflasi Laju inflasi yang tidak terkendali dapat memicu penurunan daya beli masyarakat, terutama masyarakat miskin yang tidak memiliki tabungan. Selain itu, tingginya laju inflasi juga memberikan dampak semakin melebarnya tingkat distribusi pendapatan di masyarakat.
Inflasi yang tinggi juga berpotensi menghambat investasi produktif. Hal ini karena tingginya tingkat ketidakpastian (mendorong investasi jangka pendek) dan tingginya bunga, dalam jangka panjang inflasi yang tinggi dapat menyebabkan pertumbuhan ekonomi terhambat.
4 Terbukanya Persaingan Ekonomi Global.
Era globalisasi memiliki banyak tantangan yang harus siap dilakukan oleh setiap pelaku pembangunan untuk bisa berbenah diri dalam peningkatan SDM, termasuk pula upaya meningkatkan kualitas dan kuantitas ekonomi.
Globalisasi yang sudah pasti dihadapi oleh bangsa Indonesia menuntut adanya efisiensi dan daya saing dalam dunia usaha. Hal ini menjadi sebuah ancaman tersendiri bagi perekonomian dalam negeri khususnya perekonomian lokal. Jika tidak siap dan tidak mampu bersaing dapat di pastikan kedepan perekonomian lokal akan lumpuh dan di kuasai oleh asing.
5 Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Perkembangan IPTEK mampu membantu manusia dalam beraktifitas yang berdampak pada kegiatan perindustrian, kesehatan telekomunikasi, serta pertanian.
6 Pengaruh perubahan iklim
Perubahan iklim memberikan dampak pada kenaikan suhu dan perubahan curah hujan sehingga membawa
terhadap sektor Pertanian
dampak negatif bagi sektor pertanian. Output sektor pertanian turun seiring dengan adanya dampak perubahan iklim. Meningkatnya frekuensi banjir dan kekeringan akan memberikan dampak negatif terhadap produksi lokal.
7 Pelaksanaan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI)
Pelaksanaan MP3EI diharapkan mampu menjadi mesin penggerak pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja, sekaligus mendorong pemerataan pembangunan wilayah di seluruh wilayah tanah air.
Tujuan dari pelaksanaan MP3EI adalah untuk mempercepat dan memperluas pembangunan ekonomi melalui pengembangan delapan program utama yang meliputi sektor manufaktur, pertambangan, pertanian, kelautan, pariwisata, telekomunikasi, energi dan pengembangan kawasan strategis nasional.
8 Masterplan Percepatan dan Perluasan Penurunan Kemiskinan
Indonesia (MP3KI)
MP3KI merupakan dokumen perencanaan yang menjabarkan konsep dan desain, arah kebijakan, strategi penanggulangan kemiskinan, Rencana Kerja Pemerintah dan sebagainya. MP3KI menitikberatkan pada pengembangan livelihood melalui berbagai kebijakan peningkatan kapasitas masyarakat untuk mewujudkan taraf hidup masyarakat yang lebih baik.
9 Pembangunan Trans Kalimanatan
Pada tahap pertama, kami berencana membangun jalan sekitar 190 km dari kabupaten Kutai Barat hingga pelabuhan di kota Balikpapan,” ungkap Shigaev kepada koresponden RBTH Indonesia mengenai realisasi proyek RZD di Kalimantan tersebut. Pada tahap kedua, akan ada perpanjangan jalan ke provinsi Kalimantan Tengah dengan transisi menggunakan traksi listrik. Dari beberapa tahapan yang sudah dilakukan, Direktur Utama PT Kereta Api Borneo Andrey Shigaev mengatakan bahwa Proyek Pembangunan jalur kereta api yang dirintis sejak tahun 2013 lalu sudah berjalan, dan Jalur kereta api Kalimantan Timur akan mulai beroperasi pada tahun 2020 mendatang.
10 Universal Health Coverage, Jaminan Kesehatan
Nasional dan Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial
Dalam Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 di tegaskan bahwa setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh pelayanan kesehatan yang aman, bermutu dan terjangkau. Sehingga pemerintah membuat sistem Universal Health Coverage yang memastikan semua orang menerima pelayanan kesehatan tanpa mengalami kendala financial hardship.Untuk mewujudkan komitmen global dan konstitusi di atas, pemerintah bertanggung jawab atas pelaksanaan jaminan kesehatan masyarakat melalui Jaminan kesehatan Nasional (JKN) bagi kesehatan perorangan. Undang- Undang nomor 24 tahun 2011 juga menetapkan, jaminan Sosial Nasional akan di selenggarakan oleh BPJS yang terdiri atas BPJS kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan.
Desa dianggarkannya dana alokasi desa (DAD) dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Poin penting dalam Undang-Undang Desa yaitu soal penghasilan kepala desa dan perangkat desa, yang mengatur masa maksimal jabatan kades selama tiga periode.
12 Undang-undang Nomor 24 tahun 2013 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 23 tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan
Diterapkannya undang-undang sistem kependudukan baru yaitu Undang-Undang Nomor 24 tahun 2013 tentang perubahan atas UU Nomor 23 tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan, membuat Pendapatan Asli Daerah setiap daerah akan berkurang karena aturan UU baru tersebut, seluruh Dinas Dukcapil di Indonesia tidak boleh lagi memungut retribusi untuk semua pembuatan administrasi kependudukan. Retribusi yang dihapuskan di antaranya pembuatan KTP baru, perpanjangan KTP, pembuatan kartu keluarga (KK), akta kelahiran, akta kematian.
13 Peningkatan Akses dan Kualitas Layanan Pendidikan
Merupakan solusi untuk mengurangi ketimpangan akses dan kualitas pendidikan antar wilayah kecamatan di Kabupaten Kutai Barat. Peningkatan kualitas sarana dan prasarana pendidikan dan peningkatan kualitas pendidik akan menjadi pemicu peningkatan capaian indikator- indikator pendidikan di seluruh wilayah kecamatan Kabupaten Kutai Barat.
14 Peningkatan Derajat Kesehatan Masyarakat
Melalui penyediaan berbagai fasilitas kesehatan dan penyuluhan kesehatan agar masyarakat dapat berperilaku hidup sehat.
15 Peningkatan kesempatan kerja
Peningkatan kesempatan kerja harus dilakukan dengan berbagai upaya dan inovasi sehingga pemerintah kabupaten Kutai Barat mampu memberikan informasi dan kesempatan kerja kepada masyarakat semaksimal mungkin.
16 Pengoptimalan Penanggulangan Kemiskinan
Upaya yang dapat ditempuh adalah: Pemberdayaan lembaga dan organisasi masyarakat perdesaan dalam pemanfaatan sumber daya setempat; Pengembangan industri perdesaan yang didukung oleh pembinaan kemampuan, regulasi yang tidak menghambat, dan fasilitasi akses pasar; Pengembangan pusat layanan informasi perdesaan berkaitan dengan pelayanan kepada masyarakat miskin; dan Revitalisasi kelembagaan koperasi perdesaan yang berbasis masyarakat.
17 Percepatan penanganan infrastruktur jalan kabupaten dan jalan desa
Memperhatikan kondisi infrastruktur jalan khususnya jalan kabupaten dan desa yang membutuhkan adanya prioritas penanganan secaral, karena menjadi kebutuhan mendesak untuk mendukung pelaksanaan pembangunan dalam rangka meningkatkan kinerja pemerintahan daerah, meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan wilayah serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
2.4.5 Arah Kebijakan
Adapun Arah Kebijakan dan Strategi dan Fokus Prioritas Pembangunan di Kabupaten Kutai Barat yang merupakan kebutuhan paling urgen dan mendesak bagi masyarakat Kutai Barat saat ini, disini dan mendatang sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Kutai Barat 2016- 2021 adalah :
a. Arah Kebijakan Pembangunan Kutai Barat
1. Meningkatkan keterbukaan akses, antar wilayah kecamatan dan kampung maupun dengan daerah lain diarahkan dalam upaya peningkatan kualitas dan pembangunan jalan, jembatan , drainase/gorong-gorong dan talud, peningkatan kualitas perencanaan jalan dan jembatan melalui penguatan sistem informasi jalan dan jembatan;
2. Meningkatnya aksesbilitas masyarakat berpenghasilan rendah terhadap hunian yang layak dan terjangkau dengan pembangunan perumahan dan permukiman diarahkan pada upaya menciptakan lingkungan pemukiman yang sehat;
3. Meningkatnya cakupan penyediaan sarana dan prasarana perhubungan dan telekomunikasi diarahkan pada upaya untuk membuka akses seluas luasnya bagi masyarakat terhadap arus transportasi dan informasi;
4. Rencana tata ruang harus dijadikan sebagai landasan atau acuan kebijakan spasial bagi pembangunan lintas sektor maupun wilayah agar pengendalian pemanfaatan ruang dapat sinergis, serasi, dan berkelanjutan;
5. Pembangunan pendidikan diarahkan pada upaya peningkatan akses masyarakat untuk memperoleh pendidikan yang layak dan berkualitas dalam upaya untuk meningkatkan harkat, martabat dan kualitas manusia sehingga mampu bersaing dalam era global dengan tetap berlandaskan pada norma kehidupan masyarakat dan tanpa diskriminasi. Pelayanan pendidikan yang mencakup semua jalur, jenis dan jenjang yang bermutu dan terjangkau disertai dengan pembebasan biaya pendidikan pada jenjang pendidikan dasar, penyediaan sarana dan prasarana pendidikan, peningkatan kualitas dan distribusi pendidik dan tenaga kependidikan dan perbaikan manajemen pendidikan, baik secara pelayanan pendidikan formal dan non formal;
6. Peningkatan kesadaran akan pentingnya pendidikan dan minat masyarakat untuk membaca dan belajar diarahkan pada upaya penyediaan dan
pengembangan sarana dan prasarana pendukung peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam artian luas;
7. Pembangunan kesehatan diarahkan dalam upaya memberikan akses bagi masyarakat terhadap pelayanan kesehatan guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat;
8. Upaya peningkatan standarisasi sarana dan prasarana kesehatan diarahkan pada upaya peningkatan kesehatan masyarakat dan peningkatan jumlah, jaringan dan kualitas puskesmas hingga ke daerah terpencil;
9. Upaya peningkatan partisipasi masyarakat dalam ber-KB diarahkan pada upaya peningkatan akses dan kualitas pelayanan keluarga berencana;
10. Pembangunan bidang pemerintahan umum diarahkan pada upaya peningkatan pelayanan publik yang semakin berkualitas dan menjangkau seluruh wilayah dan lapisan masyarakat. Penerapan prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik (good governance) dan pemerintahan yang bersih (clean government) dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat akan didukung dengan peningkatan kapabilitas dan kuantitas sumber daya manusia aparatur; pembangunan fasilitas-fasilitas publik dan penempatan aparatur hingga ke daerah-daerah terpencil dan terisolir dalam upaya untuk mendekatkan pelayanan publik kepada masyarakat, mengurangi tingkat penyalahgunaan wewenang serta korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) pada semua lapisan birokrasi melalui penerapan prinsip-prinsip good governance and clean government dan penerapan hukum secara adil, penataan dan pemberdayaan birokrasi yang bersih dan responsif serta profesional akan dilakukan secara terus menerus melalui peningkatan kualitas dan kuantitas aparatur pemerintah dan pendelegasian jenis pelayanan tertentu kepada kecamatan dan kampung akan dilakukan dalam upaya peningkatan tata kelola pemerintah yang bersih;
Peningkatan kualitas perencanaan dan pengendalian pembangunan yang efektif dan efisien diarahkan pada upaya meningkatkan partisipasi masyarakat, transparansi dan akuntanbilitas dalam penyusunan dokumen perencanaan daerah;
11. Upaya menciptakan tata tertib administrasi dan peningkatan kualitas pelayanan kependudukan dan catatan sipil diarahkan pada upaya penataan dan penguatan sistem administrasi kependudukan;
12. Penyelenggaraan administrasi kearsipan diarahkan pada upaya untuk meciptakan tertib administrasi kearsipan dan penyelamatan, pelestarian, dokumen/arsip daerah
13. Upaya peningkatan investasi daerah dan perbaikan pelayanan perijinan diarahkan pada upaya untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif dan prosedur serta mekanisme perijinan yang lebih cepat (faster), lebih mudah (easier) dan lebih murah (cheaper), diarahkan pada peningkatan upaya promosi dan kerjasama investasi penanaman modal baik antar lembaga pemerintahan maupun dengan pihak wisata;
14. Diarahkan pada upaya untuk daya saing koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Kutai Barat, sehingga mampu menjadi soko guru perekonomian menumbuhkembangkan jiwa kewirausahaan dan keunggulan kompetitif usaha kecil dan menengah bagi masyarakat lokal dan menjadi bagian integral dari keseluruhan kegiatan ekonomi dan memperkuat basis ekonomi daerah;
15. Peningkatan efisiensi, modernisasi, dan nilai tambah pertanian dalam arti luas diarahkan pada upaya untuk mengembangkan pertanian menuju agribisnis dan peningkatan daya saing sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani;
16. Peningkatan distribusi dan akses pangan bagi masyrakat, terutama bagi masyarakat miskin kronis dan transien diarahkan pada upaya mendukung kebijakan kedaulatan pangan di tingkat lokal, regional dan nasional;
17. Pengembangan kemitraan pariwisata, baik anatar pemerintah, maupun antara pemerintah daerah dengan pelaku usaha wisata yang ada di tingkat lokal, nasional maupun internasional diarahkan pada upaya pengembangan destinasi atau objek dan daya tarik wisata yang potensial di Kutai Barat, untuk meningkatkan jati diri Kabupaten Kutai Barat, meningkatkan pendapatan daerah dan berdampak secara luas pada aktivitas ekonomi masyarakat dengan tetap memperhatikan upaya menjaga kelestarian lingkungan hidup secara berkesinambungan, artinya bahwa pembangunan pariwisata dapat didukung secara ekologis dalam jangka panjang sekaligus layak secara ekonomi, serta adil secara etika dan sosial terhadap masyarakat. Untuk itu perlu upaya terpadu dan terorganisasi untuk mengembangkan kualitas hidup dengan cara mengatur
penyediaan, pengembangan, pemanfaatan dan pemeliharaan sumber daya secara berkelanjutan;
18. Pembangunan ketenagakerjaan diarahkan pada upaya untuk mendorong terciptanya sebanyak mungkin lapangan kerja formal serta meningkatkan kesejahteraan pekerja di pekerjaan informal. Pasar kerja yang fleksibel, hubungan industrial yang harmonis dengan perlindungan yang layak, keselamatan kerja yang memadai, serta terwujudnya proses penyelesaian industrial yang memuaskan semua pihak. Selain itu, pekerja didorong memiliki produktivitas yang tinggi sehingga dapat bersaing serta menghasilkan nilai tambah yang tinggi dengan pengelolaan pelatihan dan pemberian dukungan bagi program-program pelatihan yang strategis untuk efektivitas dan efisiensi peningkatan kualitas tenaga kerja sebagai bagian integral dari investasi SDM;
19. Pembangunan kehutanan diarahkan pada upaya untuk mendorong pembangunan hutan secara berkelanjutan, melibatkan partisipasi masyarakat secara luas dan memperkuat basis produksi, dan meningkatkan rehabilitasi hutan, perlindungan dan konservasi sumber daya hutan, Hal ini merupakan faktor strategis karena berkenaan dengan pembangunan daerah terisolir, perkampungan, pengentasan kemiskinan dan pemerataan, dan ketahanan pangan.
20. Pembangunan lingkungan hidup diarahkan pada upaya untuk mewujudkan fungsi sumber daya alam dan lingkungan hidup yang serasi dalam mendukung fungsi ekonomi, sosial dan budaya masyarakat secara berkesinambungan, peningkatan upaya pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup serta efektifitas pengelolaan dan konservasi SDA;
21. Penanggulangan kemiskinan diarahkan pada penghormatan, perlindungan dan pemenuhan hak-hak dasar rakyat secara bertahap dengan mengutamakan prinsip demokrasi, partisipasi, kesetaraan dan non diskriminasi. Kebijakan penanggulangan kemiskinan juga diarahkan pada peningkatan mutu penyelenggaraan otonomi daerah sebagai bagian dari upaya pemenuhan hak- hak dasar masyarakat miskin;
22. Upaya tanggap darurat penanggulangan bencana diarahkan dengan mengedepankan pencegahan dini dan penanggulangan korban bencana secara tepat dan tepat dan meminimalisir kerugian materiil dan non materiil akibat bencana daerah dengan melibatkan partisipasi semua pihak;
23. Kebijakan dalam upaya menciptakan rasa aman, toleransi, saling pengertian dan kebersamaan antar etnik dan golongan dalam kehidupan bermasyarakat diarahkan pada upaya untuk meciptakan keamanan, ketentraman, ketertiban dan pencegahan tindak kriminal dalam kehidupan masyarakat;
24. Upaya pengembangan nilai budaya yang berorientasi pada pelestarian dan akuntabilitas dan budaya lokal diarahkan pada upaya peran serta dan apresiasi masyarakat dalam pengembangan dan pelestarian budaya untuk memperkuat jatidiri daerah dan menanamkan nilai-nilai budaya leluhur melalui jalur keluarga, sekolah, masyarakat, dan media massa, sehingga adat istiadat dan budaya leluhur Kutai Barat tidak saja terjaga kelestariannya, tetapi juga menjadi jalan hidup (way of life) bagi masyarakat Kutai Barat, serta dikenal di luar wilayah Kutai Barat;
25. Upaya meningkatkan peran aktif, partisipasi masyarakat diarahkan dalam pembanguanan dan pemberdayaan pemerintahan kampung;
26. Upaya meningkatkan partisipasi dan peran aktif pemuda dan organisasi kemasyarakatan dalam pembanguanan daerah diarahkan pada upaya untuk mendorong kreativitas, dan inovasi;
27. Upaya meningkatkan partisipasi dan peran aktif perempuan dan organisasi kemasyarakatan dalam pembanguanan daerah diarahkan pada upaya peningkatan kualitas hidup dan perlindungan perempuan dan anak;
b. Fokus Prioritas Pembangunan Kutai Barat :
1. Pengurangan kesenjangan pembangunan antar wilayah dan memacu pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui peningkatan cakupan sarana dan prasarana dasar publik ke kecamatan-kecamatan dan kampung-kampung yang telatif masih terbelakang;
2. Meningkatkan derajat pendidikan masyarakat;
3. Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat;
4. Mendorong peningkatan kinerja dalam pengelolaan pembangunan dan pemerintahan, sehingga terciptanya pemerintahan yang bersih dan bebas KKN;
5. Mendorong pertumbuhan ekonomi, peningkatan pendapatan masyarakat dan menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat;
6. Meningkatkan kemampuan masyarakat miskin dan rentan dalam memenuhi kebutuhan dasar (basic needs) dan meningkatkan derajat kehidupan masyarakat
7. Menciptakan lingkungan dan hubungan sosial yang lebih harmonis, tertib dan aman bagi masyarakat;
8. Meningkatkan peran Pemerintahan kampung, pemuda dan perempuan sebagai basis pembangunan masyarakat;
2.5 Kondisi Fisik 2.5.1 Geografi
Kabupaten Kutai Barat merupakan salah satu dari 10 Kabupaten/ Kota yang ada di Provinsi Kalimantan Timur. Kabupaten Kutai Barat dengan ibu kota Sendawar hasil pemekaran dari wilayah Kabupaten Kutai yang telah ditetapkan berdasarkan UU Nomor 47 tahun 1999 tentang pembentukan Kabupaten Nunukan, Kabupaten Malinau, Kabupaten Kutai Barat, Kabupaten Kutai Timur dan Kota Bontang tertanggal 4 Oktober 1999. Secara simbolis diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri R.I. pada 12 Oktober 1999 di Jakarta dan secara operasional diresmikan oleh Gubernur Kalimantan Timur pada tanggal 5 November 1999 di Sendawar.
Secara geografis Kabupaten Kutai Barat terletak antara 114°45’33,15”- 116°32’03,79” Bujur Timur, 00°38’07,45” Lintang Utara dan 01°09’17,36” Lintang Selatan. Luas wilayah Kabupaten Kutai Barat mencapai 20.381,56 km² (2.038.156 hektar) atau kurang lebih 15,00 % dari luas wilayah Provinsi Kalimantan Timur. Secara administratif, batas wilayah Kabupaten Kutai Barat di sebelah utara adalah Kabupaten Mahakam Hulu, sebelah timur Kabupaten Kutai Kartanegara, sebelah selatan Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebelah barat adalah Provinsi Kalimantan Tengah.
Sumber : BP3D 2018
Gambar 2.2 Peta Administrasi Kabupaten Kutai Barat
Sebelum pemekaran jumlah kecamatan di Kabupaten Kutai Barat sebanyak 21 Kecamatan terdiri dari 236 Kampung dan 4 Kelurahan. Namun setelah keluarnya Undang-Undang No. 2 Tahun 2013 tentang Pembentukan Kabupaten Mahakam Ulu di Provinsi Kalimantan Timur maka 5 Kecamatan yaitu Long Apari, Long Pahangai, Long Bagun, Laham dan Long Hubung secara resmi menjadi wilayah Kabupaten Mahakam Ulu, sehingga jumlah Kecamatan di Kabupaten Kutai Barat berkurang menjadi 16 Kecamatan, terdiri dari 190 kampung dan 4 kelurahan.
Tabel 2.2 Luas Wilayah Masing-Masing Kecamatan di Kabupaten Kutai Barat
No. Kecamatan Luas
Km² %
1. Barong Tongkok 405,9 2
2. Bentian Besar 1.856,10 9,1
3. Bongan 2.305,30 11,31
4. Damai 2.027,50 9,95
5. Jempang 744,50 3,65
6. Linggang Bigung 2.299,10 11,28
7. Long Iram 2.499,50 12,26
8. Mook Manoor Bulatn 2.961,60 14,53
9. Melak 179,2 0,88
10. Muara Lawa 436,7 2,14
11. Muara Pahu 1.110,60 5,45
12. Nyuatan 1.343,30 6,6
13. Penyinggahan 192,1 0,94
14. Sekolaq Darat 49,3 0,24
15. Siluq Ngurai 1.629,10 8
16. Tering 341,80 1,67
Luas Kabupaten Kutai Barat 20.381,60
Sumber : BP3D, 2018
2.5.2 Topografi
Berdasarkan data topografi, Kabupaten Kutai Barat setelah pemekaran Kabupaten Mahakam Ulu dengan luas wilayah mencapai 2.038.159,00 hektar (20.381,6 Km2), didominasi oleh topografi datar sampai dengan bergelombang sedang yakni sebesar 64,48% atau 1.314.128,10 hektar, topografi sangat curam (17,20%) dan curam (18,32%).
Wilayah dengan topografi pegunungan mencapai 350.653,07 hektar atau kurang dari 18%
dari luas seluruhnya dan berada di bagian Utara dan Selatan Kabupaten Kutai Barat.
Wilayah berbukit dan bergunung dijumpai di Kecamatan Bongan kawasan gunung Meratus, Kecamatan Linggang Bigung bagian Barat dan Utara dan Kecamatan Long Iram bagian Utara.
Kondisi Topografi Kabupaten Kutai Barat Kondisi wilayah dengan topografi tersebut berpotensi menimbulkan bahaya alami berupa gerakan tanah baik dalam volume besar (longsor) atau pun volume kecil (tanah retak). Besar kecilnya volume gerakan tanah tersebut dipengaruhi surface runoffyang dipengaruhi oleh besarnya curah hujan, jenis tanah,serta kemiringan lereng. Berdasarkan peta bahaya lingkungan yang dikeluarkan oleh BAKOSURTANAL tahun 1999, di wilayah Kabupaten Kutai Barat potensial terjadi bahaya tanah longsor karena mempunyai jenis tanah dengan tekstur berlempung, curah hujan yang tinggi, dan terutama pada daerah yang memiliki kemiringan lereng yang besar. Keberadaan bahaya alami berupa gerakan tanah tersebut dapat mengancam keberadaan sarana-prasarana yang dibangun di Kabupaten Kutai Barat. Oleh sebab itu, diperlukan teknik khusus dalam melakukan pembangunan sarana-prasarana di wilayah tersebut.
Gambar 2.3 Peta Wilayah Kabupaten Kutai Barat
Sumber: BP3D, 2018
Kondisi morfologi yang khas di Kabupaten Kutai Barat secara tidak langsung akan menghambat perkembangan kegiatan perkotaan. Hal tersebut disebabkan karena adanya faktor penghambat alam berupa kemiringan lereng yang menyebabkan luasan lahan untuk menempung kegiatan perkotaan menjadi berkurang. Selain itu, kondisi fisik wilayah yang merupakan daerah pegunungan juga akan menyebabkan kesulitan dalam mengakses daerah tersebut.
Untuk memecahkan keterisolasian wilayah yang disebabkan karena kondisi morfologi wilayah maka pemerintah Kabupaten Kutai Barat membagi Kabupaten Kutai Barat menjadi tiga wilayah Pembangunan yaitu Wilayah Pembangunan Hulu Riam (sekarang masuk Kabupaten Mahulu), Wilayah Pembangunan Daratan Tinggi, dan
Wilayah Pembanguanan Dataran Rendah. Selain pegunungan, Kutai Barat juga memiliki sungai-sungai besar sebanyak 14 sungai dengan panjang puluhan kilometer. Sungai terpendek adalah sungai Barong sepanjang 28,5 km dan sungai terpanjang adalah Sungai Mahakam sepanjang 229,42 km.
2.5.3 Geologi
Dari seluruh wilayah yang ada, kecamatan Barong Tongkok merupakan kecamatan yang memiliki jumlah kampung paling banyak yaitu 21 kampung sedangkan kecamatan dengan jumlah kampung paling sedikit adalah Kecamatan Melak dan Penyinggahan yang masing-masing memiliki 6 kampung. Kabupaten Kutai Barat menjadi daerah di Kalimantan Timur, yang memiliki persentase jumlah desa terbanyak di daerah lembah atau daerah aliran sungai. Berdasarkan data BPS 2010, sebanyak 158 desa/kampung atau 66,39% desa diKabupaten Kutai Barat berlokasi di daerah aliran sungai, kemudian 64 desa/kampung atau 26,89% desa berlokasi di dataran, dan sisanya 16 desa/kampung atau 6,72% desa berlokasi di lereng pegunungan atau bukit.
Kondisi wilayah dengan topografi tersebut berpotensi menimbulkan bahaya alam berupa gerakan tanah baik dalam volume besar (longsor) atau pun volume kecil (tanah retak). Besar-kecilnya volume gerakan tanah tersebut dipengaruhi surface runoff yang dipengaruhi oleh besar curah hujan, jenis tanah, serta besar kemiringan lereng.
Sumber: BP3D, 2018
Gambar 2.4 Peta Geologi Kabupaten Kutai Barat
2.5.4 Fisiografi
Fisiografi Kutai Barat bersama dengan Mahakam Ulu dapat dikelompokan menjadi delapan (8) yaitu : Alluvial Jalur Kelokan, Rawa-rawa, Lembah, Teras-teras, Dataran, Perbukitan dan Pegunungan, bentuk lahan dominan adalah daerah dataran (38%), perbukitan (22%) dan pegunungan (32%).
Gambar 2.5 Peta Jenis Tanah Kabupaten Kutai Barat
Sumber : BP3D, 2018
Jenis tanah yang ditemui mencakup Ultisol seluas 2.229 ribu ha atau 70,74 %, Inceptisol seluas 799 ribu ha atau 25,25% (diwilayah hulu sungai mahakam); Hitisol seluas 54 ribu ha 1,72 % (di Kecamatan Muara Pahu, sekitar Danu Jempang dan Muara Kedang); Entisol seluas 32 ribu ha atau 1,02 % (di Kecamatan Muara Pahu dan Melak);
Mosol seluas 3 ribu ha atau 0,11 % (di Kecamatan Long Bagun dan Long Hubung); dan Spodosol seluas 0,6 ribu ha atau 0,02 % (di Kecamatan Muara Pahu).
2.5.5 Klimatologi
Dalam aspek klimatologi, unsur iklim yang utama adalah curah hujan, temperatur, kecepatan angin dan kelembapan udara. Karakteristik Iklim di Kabupaten Kutai Barat adalah iklim tropika humid yang ditandai dengan intensitas hujan yang tinggi dan nilai curah hujan yang besar. Daerah beriklim tropika humid tidak mempunyai batas yang jelas antara musim kemarau dan musim hujan. Temperatur berkisar antara 220-300.
Temperatur minimum umumnya terjadi pada bulan Oktober sampai dengan Januari sedangkan temperatur maksimum terjadi antara bulan Juli sampai dengan bulan Agustus.
Daerah beriklim seperti ini tidak mempunyai perbedaan yang jelas antara musim hujan
dan musim kemarau. Pada musim angin barat hujan turun sekitar sekitar bulan Agustus sampai bulan Maret, sedangkan pada musim timur hujan relatif kurang, hal ini terjadi pada sekitar bulan April sampai bulan September.
Dengan keragaman curah hujan pada berbagai wilayah, akan menjadikan daerah ini semakin kaya dengan potensi jenis tanaman yang dapat dibudidayakan. Secara geografis wilayah Kabupaten Kutai Barat terbagi menjadi 4 tipe daerah hujan yaitu:
1). Kawasan dengan curah hujan antara 2.000 - 2.500 mm/ tahun. Kawasan ini terletak pada ujung bagian timur Kabupaten Kutai Barat di sepanjang wilayah Kecamatan Penyinggahan, Tanjung Isui dan Muara Kedang.
2). Kawasan dengan curah hujan antara 2.500 - 3.000 mm/ tahun. Kawasan ini terletak di bagian tengah meliputi daerah sekitar Kecamatan Melak, Muara Pahu, Damai, Muara Lawa, Jempang dan Bongan.
3). Kawasan dengan curah hujan antara 3.000 - 3.500 mm/ tahun. Kawasan ini terletak di sebelah barat Melak meliputi Kecamatan Barong Tongkok sampai bagian selatan Kecamatan Barong Tongkok.
4). Kawasan dengan curah hujan antara 3.500 - 4.000 mm/ tahun. Kawasan ini terletak di wilayah Kecamatan Long Iram.
2.5.6 Penggunaan Lahan
Luas Kawasan Budidaya Non Kehutanan (KBNK) Kabupaten Kutai Barat adalah sebesar ± 779.048,76 Ha, dengan luasan lahan potensial sebesar 765.493,78 Ha. Yang sudah dimanfaatkan untuk Bidang Pertanian seluas 680.786 Ha yang terdiri dari Tanaman Pangan dan Hortikultura seperti padi, palawija dan Buah-buahan menggunakan lahan pertanian sebesar 10,37% atau 70.582 ha. Kemudian pengembangan potensi Perkebunan seperti Karet, Kemiri, Kelapa, dan Kopi untuk Perkebunan Rakyat adalah seluas 40.493 Ha (5,95%) , dan perkebunan besar swasta mencapai 80,47% atau 547.836 Ha (Potensi sesuai dengan Ijin yang dikeluarkan Pemerintah Kabupaten Kutai Barat), dengan realisasi penanaman sampai dengan Juni 2010 adalah seluas 22.119 Ha. Sedangkan untuk pemanfaatan lahan peternakan seluas 1.435 Ha dan untuk perikanan seluas 20.439 Ha.
Dengan demikian potensi pengembangan pertanian yang tersebar di 21 Kecamatan masih seluas 159.461 Ha yang belum dimanfaatkan.
Luas kawasan hutan di Kabupaten Kutai Barat ± 940.621,69 ha yang terdiri atas hutan produksi, hutan lindung dan cagar alam. Hutan di Kutai Barat didominasi oleh Dipterocarpaceae atau meranti (85 %), sedangkan sisanya (15 %) ditumbuhi hutan jenis
Penggunaan lahan untuk sektor Kehutanan di kabupaten Kutai Barat sebagian besar pada Hutan Sekunder seluas ± 874.580,00 Ha, dimana hutan merupakan sebuah kekayaan alam yang melimpah di Kabupaten ini, namun hendaknya pemanfaatan kekayaan hasil hutan ini dilakukan secara bijak dan berkelanjutan. Selanjutnya adalah belukar seluas ± 267.984,11 Ha dan hutan primer seluas ± 243.888,33 Ha, yang tersebar di Kecamatan Linggang Bigung, Nyuatan, Damai, Bentian Besar dan Bongan. Hutan primer ini memiliki fungsi khusus yang dilindungi keberadaannya sebagai wujud perhatian terhadap keseimbangan alam. Selanjutnya terdapat seluas ± 15.830,87Ha lahan pertanian kering campur dan disusul belukar rawa seluas ± 94.936,67Ha, Permukiman mengalami peningkatan dari seluas ± 4.082 Ha menjadi seluas ± 6.050,84 Ha dan Perkebunan baik sektor swasta maupun perkebunan masyarakat dan tradisional seluas ± 150.493,15 Ha.
Berdasarkan Peta dan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : SK.718/Menhut- II/2014, tentang kawasaan Budidaya Non Kehutanan (KBNK) wilayah administrasi Kabupaten Kutai Barat memiliki Kawasan Hutan seluas ± 17,109.07 KM², dengan rincian menurut masing-masing fungsi kawasan sebagai berikut :
a. Kawasan Suaka Alam seluas ± 47.85 KM² b. Hutan Lindung seluas ± 2,063.85 KM²
c. Hutan produksi Terbatas seluas ± 3,172.92 KM² d. Hutan Produksi Tetap seluas ± 4,044.54 KM²
e. Hutan Produksi yang dapat dikonversi seluas ± 131.24 KM² f. Areal Penggunaan Lain / KBNK seluas ± 7,648.67 KM²
Berdasarkan Peta Penutupan Lahan (penafsiran citra landsat tahun 2013) didapatkan penutupan lahan wilayah Kabupaten Kutai Barat terdiri dari Hutan Lahan Kering Primer seluas ± 1,132.97 KM², Hutan Lahan Kering Sekunder seluas ± 6,049.08 KM², Hutan Rawa Primer seluas ± 42.29 KM², Hutan Rawa Sekunder seluas ± 1,837.65 KM², Hutan Tanaman seluas ± 10.05 KM², Semak Belukar seluas ± 3,698.23 KM², Semak Belukar Rawa seluas ± 326.54 KM², Pertanian Lahan Kering Campur Semak seluas ± 1,973.67 KM², Perkebunan seluas ± 317.25 KM², Pertambangan seluas ± 130,12 KM², Tanah Terbuka seluas ± 588.78 KM², Rawa seluas ± 15.64 KM² dan Badan Air seluas ± 120.17 KM².
Adapun rincian jenis penggunaan lahan di Kabupaten Kutai Barat dapat dilihat pada tabel 2.3 dibawah ini.
Tabel 2.3 Jenis dan Luasan Penggunaan Lahan di Kabupaten Kutai Barat
No. Penggunaan Lahan Luasan (Ha)
1. Tubuh Air 25.436,06
2. Belukar 267.984,11
3. Belukar Rawa 94.936,67
4. Hutan Primer 243.888,33
5. Hutan Rawa Sekunder 65.896,40
6. Hutan Sekunder 874.580,00
7. Hutan Tanaman 27.223,52
8. Perkebunan Kelapa Sawit 30.807,46
9. Kebun Campur 6.87,54
10. Kebun Karet 118.998,15
11. Permukiman 6.050,84
12. Pertanian Lahan Kering Campur 15.830,87
13. Semak 55.956,73
14. Rawa 12.685,00
15. Sawah 2.006,00
16. Tambang 7.892,67
17. Tanah Terbuka 45.300,73
Sumber : Analisis Landcover Citra Alos 2010, BP3D 2018
Gambar 2.6 Peta Penggunaan Lahan Kabupaten Kutai Barat
Sumber: BP3D, 2018
2.6 Sumber Daya dan Lingkungan
2.6.1 Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup
Sumber daya alam adalah sumber daya yang terbentuk melalui kekuatan atau gaya alamiah, misalnya tanah, air dan perairan, biotis, udara dan sinar matahari, mineral, nemtangan alam, panas dan gas bumi, angin, pasang atau arus laut. Adapun lingkungan hidup adalah sistem kehidupan dimana terdapat campur tangan manusia dalam mengelola sumber daya alam yang ada di sekitarnya. Sumberdaya Tambang, Kabupaten Kutai Barat memiliki berbagai macam sumberdaya tambang dan dalam jumlah besar yang meliputi emas, antimonit, besi, perak, batu gamping, intan, kaolin, kristal dan pasir kuarsa serta tembaga. Namun demikian secara umum produk unggulannya adalah emas dan batu bara.
Pembangunan yang sedang dan akan dilaksanakan di Kabupaten Kutai Barat selalu mempertimbangkan faktor lingkungan dan faktor sumber daya alam yang ada.
Pembangunan di wilayah ini hendaknya selalu didasarkan kepada pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana.Potensi sumber daya alam yang terdapat di Kabupaten Kutai Barat sangat melimpah.
Sumberdaya Perikanan, dari sekitar 190 Kampung berada di lembah atau daerah aliran sungai (DAS) yang sebagian besarnya wilayahnya dilalui Sungai Mahakam yang panjangnya mencapai 920 km dengan anak-anak sungai yang cukup besar. Potensi air yang cukup besar tersebut didukung oleh kawasan hutan tropis yang mampu menghasilkan debit air yang sangat besar di daerah hulu, disamping itu danau-danau yang ada seperti danau Jempang yang luasnya mencapai 15.000 ha, dan danau Barong 25 ha ikut menunjang potensi perikanan di daerah ini.
2.6.2 Sumber Daya Pariwisata, Kelembagaan dan Budaya
Sumberdaya Pariwisata, kekhasan budaya daerah pedalaman dengan berbagai ragam upacara adat masyarakat Dayak serta Sentra yang dikelola oleh masyarakat lokal merupakan aset pariwisata yang sangat besar. Potensi wisata yang ada di Kutai Barat diantaranya adalah : Taman Budaya Sendawar, seni budaya tradisional dan kerajinan suku dayak Benuaq, lamin adat, seni budaya tradisional suku dayak Tunjung, air terjun (Jantur), Danau Aco dan lain-lain. Potensi wisata yang lain yang mempunyai potensi untuk dikembangkan adalah : Danau Jempang yang secara utuh didukung oleh hutan belantara dimana dapat dijumpai berbagai jenis pakis, rotan, bambu, dan aneka ragam pohon buah-buahan, taman anggrek Kersik Luway yang terdapat di Kecamatan Sekolaq Darat atau didataran tinggi Tunjung dimana terdapat berbagai macam anggrek, termasuk
anggrek hitam yang tergolong langka dan dilindungi serta berbagai jenis ular dan satwa serta ikan di perairan air tawar seperti rawa, sungai dan danau.
Sumberdaya Kelembagaan, Lembaga Pemerintah (DPRD) secara aktif menjalankan fungsi legislasi dan kontrol terhadap Lembaga Pemerintah dan Adat yang berakar pada kearifan-kearifan tradisional yang pernah ada, sehingga hasil karya budaya lokal dapat digali dan dikembangkan untuk mendukung terciptanya “good governance”. Dalam rangka menyalurkan aspirasi masyarakat Kabupaten Kutai Barat yang berada dalam komunitas Kampung, maka dibentuk Badan Perwakilan Kampung (BPK) dan disamping itu Pemerintah juga mendorong terbentuknya Lembaga Kepemudaan seperti Karang Taruna yang tumbuh dari inisiatif dan kepentingan masyarakat sehingga Lembaga tersebut dapat berperan menumbuh kembangkan inovasi-inovasi dan aktifitas kepemudaan secara mendiri.
BAB 3 PEMERINTAHAN UMUM
3.1 Administrasi Pemerintah
Pemerintah Kabupaten Kutai Barat secara
administratif terdiri dari 16 Kecamatan yang
terbagi dalam 190 Kampung dan 4 Kelurahan.
Tabel 3.1 Jumlah Kecamatan dan Kelurahan di Kabupaten Kutai Barat Tahun 2018
KECAMATAN JUMLAH KELURAHAN JUMLAH KAMPUNG
1. Barong Tongkok 2 19
2. Bentian Besar - 9
3. Bongan - 16
4. Damai - 17
5. Jempang - 12
6. Linggang Bigung - 11
7. Long Iram - 11
8. Mook Manor Bulatn - 16
9. Melak 2 4
10. Muara Lawa - 8
11. Muara Pahu - 12
12. Nyuatan - 10
13. Penyinggahan - 6
13. Siluq Ngurai - 16
14. Sekolaq Darat - 8
16. Tering - 15
Jumlah 4 190
Sumber : Dinas Pemberdayaan Masyrakat dan Kampung, 2018
Berbeda dengan daerah lain secara kebanyakan yang mengenal istilah desa, di Kabupaten Kutai Barat lebih desa dikenal dengan sebutan kampung, dimana setiap kampung dipimpin oleh seorang Petinggi. Sampai tahun 2018, belum ada pemekaran kampung yang ada di Kabupaten Kutai Barat namun ada perubahan pada nama Kampung di Kecamatan Linggang Bigung, Kecamatan Tering, dan Kecamatan Long Iram, sehingga jumlah kampung yang ada di Kabupaten Kutai Barat sebanyak 190 kampung, dimana Kecamatan Barong Tongkok mempunyai kampung terbanyak dengan 19 Kampung dan 2 Kelurahan. Jika dilihat dari akses ke Ibukota Kabupaten maka Kecamatan Bongan mempunyai jarak akses paling jauh sedangkan Kecamatan Barong Tongkok merupakan Kecamatan yang paling dekat dengan Ibukota Kabupaten.
Tabel 3.2 Jumlah Kampung dan Kelurahan di Kabupaten Kutai Barat
NO KECAMATAN KAMPUNG/KELURAHAN
1 Barong Tongkok
1. Asa
2. Engkuni Pasek 3. Geleo Asa 4. Baloq Asa 5. Ombau Asa 6. Juhan Asa 7. Mencimai 8. Ngenyan Asa 9. Belempung Ulaq 10. Ongko Asa 11. Juaq Asa
12. Muara Asa 13. Pepas Asa 14. Geleo Baru 15. Gemuhan Asa 16. Rejo Basuki 17. Sumber Sari 18. Sendawar 19. Pepas Eheng
20. Barong Tongkok (kelurahan) 21. Simpang Raya (kelurahan)
2 Bentian Besar
1. Suakong 2. Anan Jaya 3. Sambung 4. Randa Empas 5. Tukuq
6. Tende 7. Jelmu Sibak 8. Penerong 9. Dilang Puti
3 Bongan
1. Siram Makmur 2. Siram Jaya 3. Bukit Harapan 4. Muara Gusik 5. Gerunggung 6. Muara Siram 7. Jambuk Makmur 8. Pering Talik
9. Tanjung Soke 10. Deraya 11. Lemper 12. Resak 13. Jambuk 14. Penawai 15. Muara Kedang 16. Tanjung Sari
4 Damai
1. Muara Bomboi 2. Kelian
3. Damai Seberang 4. Mendika
5. Mantar 6. Benung 7. Sempatn 8. Besiq
9. Muara Nyahing
10. Bermai 11. Muara Nilik 12. Lumpat Dahuq 13. Muara Tokong 14. Jengan Danum 15. Keay
16. Tepulang 17. Damai Kota
5 Jempang
1. Tanjung Isuy 2. Muara Ohong 3. Perigiq 4. Tanjung Jan 5. Pulau Lanting 6. Tanjung Jone
7. Pentat 8. Lembonah 9. Muara Nayan 10. Mancong 11. Muara Tae
12. Bekokong Makmur 6 Linggang Bigung 1. Linggang Bigung
2. Linggang Kebut
6. Linggang Melapeh 7. Linggang Bigung Baru