59 ruang | kreativitas tanpa batas
telah memfasilitasi berbagai gerakan
sosial. Beberapa ”Buzz” gerakan sosial memiliki jangkauan yang luas, namun langsung dan personal.
Menurut Pontoh (2012), seorang pakar media sosial, Indonesia adalah
satu-satunya ”negara maritim kepulauan terbesar di dunia”. Ini menentukan
perilaku sosial masyarakatnya yang unik yang berbeda dari seluruh dunia. Masyarakat Indonesia memiliki perilaku orang maritim yang sangat ramah dan terbiasa saling membantu orang di sekitarnya serta berkolaborasi dalam keragaman yang damai. Itulah sebabnya masyarakat Indonesia cenderung senang untuk berkumpul. Ini dapat dilihat melalui warisan kearifan lokal seperti pada arisan, pengajian, atau sekedar nongkrong di warung kopi. Seperti halnya keramahan dan sambutan selamat datang untuk tamu yang tercermin melalui pembagian dapur yang kering dan dapur yang basah pada rumah-rumah masyarakatnya. Dengan alasan tersebut, masyarakat Indonesia cenderung sangat mudah untuk dikumpulkan atau diminta bantuan jika ada sesuatu yang menarik, yang lain pun ikut bergabung, dengan kata
lain sering disebut ”latah”. Fenomena
ini juga yang timbul di era media sosial sekarang ini, yang membuat pembentukan komunitas online dan mengumpulkan anggotanya untuk
bertemu secara isik sangatlah mudah
di Indonesia. Hal ini juga menunjukkan bahwa aktivitas komunitas online telah membawa konektivitas baru manusia. kehidupan perkotaan dengan cara
mereklamasi ruang publik. Komunitas ini mempertanyakan kembali peran kota dan kejujuran kota di dalam kehidupan sehari-hari. Keuken juga berusaha mengungkapkan kesenjangan yang hilang di antara dua hal menarik antara kenikmatan nafsu makan sehari-hari dan kebutuhan ruangnya pada waktu yang sama. Keuken merayakan perebutan ruang kota dengan kemeriahan kebutuhan dasar manusia, yaitu makan. Keuken berusaha mengumpulkan kaum muda kota dengan memangaatkan potensi laten dari budaya nongkrong dalam masyarakat Indonesia dikombinasikan dengan atraksi makanan jalanan. Keuken mempertemukan masyarakat lokal dan komunitas kreatif untuk berkomunikasi dan bertukar pikiran. Setidaknya untuk satu hari, kota dengan warga dan masyarakatnya dapat mempertontonkan bakat dan potensinya masing-masing. Lebih dekat untuk berbicara dan melakukan sesuatu yang memungkinkan untuk kota.
Belajar dari kasus komunitas-komunitas online di atas, dapat dilihat bahwa gerakan atau aksi komunitas dapat dimobilisasi dengan jaringan yang besar. Kemajuan informasi dan teknologi komunikasi di era ini
KEMUDAHAN PENYEBARAN KOMUNITAS ONLINE DI INDONESIA
60
61 ruang | kreativitas tanpa batas
Ruang publik alternatif: kebun komunitas yang tercipta oleh komunitas Indonesia Berkebun. (Foto: Indonesia Berkebun)
62
edisi #9: Komunitas
memakai area jalanan ataupun taman untuk dimanfaatkan para anggota komunitasnya maupun warga kota Bandung secara keseluruhan sebagai ruang publik bersama dengan merayakannya dengan cara membuat festival kuliner dan acara-acara menarik lainnya.
Ruang-ruang publik baru tercipta oleh komunitas-komunitas online tersebut yang masing-masing mempunyai tujuan dan visi yang positif. Mereka menggunakan kekuatan komunitas dengan perencanaan bottom-up yang akan terus tumbuh, setelah perencanaan dengan metode top-down terus-menurus ”gagal” untuk
memberikan kebutuhan ruang publik. Namun secara intuitif, seharusnya gerakan akar rumput ini tetaplah bersifat informal. Komunitas-komunitas ini harus tetap berbentuk komunitas dengan aksi mereka yang walaupun bersifat informal namun harus dapat mempengaruhi kebijakan dan legalitas yang sifatnya formal. Karakter ini harus tetap dipertahankan sebagai sebuah sistem bipolar dan oposisi: komunitas dan pemilik modal dengan pemerintah. Dengan dualisme ini, kedua entitas akan terus tumbuh dan saling mengevaluasi kota dan kebijakannya; sebagai sebuah putaran apropriasi, evaluasi dan perancangan kota kembali yang menerus..
PENCIPTAAN RUANG PUBLIK BARU OLEH KOMUNITAS ONLINE
Komunitas-komunitas online kreatif seperti di atas, selain menciptakan ruang publik di dunia maya juga menciptakan ruang-ruang bersama
secara isik di ranah publik sesuai
dengan tujuan dan visi mereka masing-masing. Melalui dunia maya seperti media sosial, anggota komunitas saling berinteraksi dan berkomunikasi yang membentuk dialog dan diskursus hingga akhirnya mereka memutuskan untuk melakukan aktivitas atau gerakannya secara ofline. Dengan pertemuan secara ofline tersebut, ruang bersama di ranah publik tercipta. Indonesia Berkebun dan Keuken Bandung mengampanyekan visi masing-masing melalui media sosial. Dan setelah diputuskan oleh penggiat ataupun hasil diskusi dengan anggota-anggota komunitasnya, mereka berkumpul dan melakukan kegiatannya masing-masing. Indonesia Berkebun dengan 40 jejaring-nya di seluruh Indonesia memanfaatkan lahan di area perkotaan untuk dijadikan lahan pertanian kota sebagai sebuah ruang publik bersama yang baru untuk dimanfaatkan warga sekitarnya. Keuken Bandung
63 ruang | kreativitas tanpa batas
komunitas online dan kemudian mengumpulkan anggotanya untuk kopi darat atau bertemu secara
isik sangatlah mudah di Indonesia.
Dengan pertemuan secara ofline tersebutlah akhirnya ruang bersama di ranah publik tercipta. Mereka menggunakan kekuatan komunitas dengan perencanaan memakai metode bottom-up yang akan terus tumbuh, setelah perencanaan dengan metode top-down terus-menurus
”gagal” untuk memberikan kebutuhan
ruang publik. Sejalan dengan perkembangan
jaman, ruang publik pun telah meluas
melampaui ranah isik dan geograis
yang dapat dinikmati secara langsung, namun ruang publik juga terdapat di dunia maya dengan kecanggihan teknologi. Masyarakat Indonesia cenderung senang untuk berkumpul, ini dapat dilihat melalui warisan kearifan lokal seperti di dalam arisan, pengajian, atau sekedar nongkrong di warung kopi. Fenomena ini juga yang timbul di dalam era media sosial sekarang ini, di mana membentuk
1) BASUKI, Yudi., PRADONO, AKBAR, Roos., and MIHARJA, Miming. (2012). Online Community: Human Connectivity in a Virtual Space and its Implications to Human Movement. Bandung. Proceeding of Arte-Polis 4 International Conference.
2) HARDIMAN, Fresco Budi. (2009). Demokrasi Deliberatif. Yogyakarta. Penerbit Kanisius.
3) HUTAPEA, Hodlan. (2012). Mengembalikan Fungsi Ruang Publik. Harian Analisa. http://www. analisadaily.com. Accessed on 5 December 2012.
4) INDONESIA BERKEBUN, (2011). Indonesia Berkebun Concept. Jakarta
5) JULIANERY, BE. (2007). Kembalikan Ruang Publik. Klik Nusa. http://kliknusa.blogspot.com. Accessed on 1 December 2012.
6) NASUTION, Ivan. (2012). Open Source City: Towards Collective Place Making. Bandung. Proceeding of Arte-Polis 4 International Conference.
7) KUSUMAWIJAYA, Sigit. (2012). Urban Farming as an Act for Community Empowerment. Bandung. Proceeding of Arte-Polis 4 International Conference.
8) PONTOH, Shaiq. (2012). How Conversation Become a Movement. Jakarta. Provetic.
9) PROJECT FOR PUBLIC SPACE (PPS). Eleven Principles for Creating Great Community Places http:// www.pps.org. Accessed on 1 December 2012.
10) TANUWIDJAJA, Gunawan. Menciptakan Ruang Kreatif Publik di Surabaya. http://diy.c2o-library.net. Accessed 5 December 2012.
11) WILLIAMS, RN and Slife BD. (1995). What’s behind the research: Discovering hidden assumptions in the behavioral sciences, Sage Publikations, Inc, Printed in the United Stated of America.