• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kewajiban Melaksanakan Integrasi

Dalam dokumen Sistem Sosial Budaya Indonesia (Halaman 56-60)

MORALITAS ETNIK JAWA

7.2 Kewajiban Melaksanakan Integrasi

Integrasi ummat manusia atau wahdatul ummah merupakan kewajiban yang tidak dapat ditawar-tawar lagi yang harus dilaksanakan oleh penganut agama

Allah. Persatuan dan kesatuan umat pengangut agama Allah itu merupakan

manifestasi dari nilai-nilai yang luhur, lahir dari kesadaran kesatuan kemanusiaan,

merupakan pernyataan dari kesadaran keagamaan yang mendalam, dan lahir dari

ketaatan dan penyerahan diri kepada yang mutlak yakni Allah swt., sehingga

mewujudkan persatuan yang dijalin oleh rasa kasih sayang persaudaraan yang tiada

Sebagaimana telah dikemukakan, bahwa doktrin Wahdatul Ummah itu

merupakan ketentuan dan perintah atau kewajiban dari Allah Swt., serta berakar

pada kesatuan kemanusiaan sebagai suatu ikatan kekeluargaan yang diperintahkan

Allah untuk memeliharanya, maka perpecahan itu dengan sendirinya merupakan

pengingkaran terhadap perintah Allah, merupakan perbuatan yang menyimpang dari Syari‘at Islam, menunjukkan kemerosotan budi pekerti dan berarti pemutusan ikatan yang diperintahkan Allah untuk memeliharanya. Karena itu kaum muslimin

diperingatkan dengan keras agar menjaga diri dari perpecah-belahan dan harus

selalu berpegang kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul, terutama di dalam

menyelesaikan perselisihan dan perbedaan pendapat yang terjadi di antara mereka.

Sesuatu perjuangan tidak akan dapat mencapai kemenangan tanpa adanya

kekuatan, dan tidak akan ada kekuatan yang mampu untuk memenangkan

perjuangan tanpa adanya persatuan. Karena itu, persatuan merupakan syarat mutlak

bagi kemenangan perjuangan. Sebab hanya dengan persatuanlah kekuatan

perjuangan dapat digalang, baik berupa kekuatan manusia maupun kekuatan materil,

semangat, moral dan daya tahan perjuangan.

Dalam pada itu keutuhan persatuan akan hancur dengan timbulnya

perselisihan dan pertentangan yang tidak dikendalikan dan tidak disalurkan oleh

disiplin, kode-etik, norma-norma dan kaidah-kaidah persatuan. Sebab perselisihan

dan pertentangan yang tidak terkendalikan itu akan membawa kepada perpecahan

ummat sehingga menimbulkan penggolongan dalam masyarakat yang melemahkan

dan membuyarkan potensi perjuangan. Dengan timbulnya perpecahan itu kekuatan

perjuangan akan hancur, daya tahannya menjadi lemah dan moralnya pun runtuh.

Hukum bahwa golongan kecil yang bersatu dapat mengalahkan golongan

besar yang berpecah-belah, Bangsa Indonesia, yang semenjak masuknya kaum

penjajah hingga tercapainya kemerdekaan, merupakan kekuatan pembebas

tercapainya kemerdekaan, peranannya itu semakin lama semakin menurun, sehingga

kekuatannya yang semula bagaikan gelombang yang paling besar dan paling dasyat

dalam samudera revolusi bangsa Indonesia, kemudian telah terbalik hampir

seolah-olah hanya merupakan buih-buih yang diombang-ambingkan oleh

kekuatan-kekuatan lainnya. Adanya degradasi potensi ini terutama disebabkan oleh

pertentangan dan perpecahan yang membuyarkan pemusatan kekuatannya.

Pertentangan dan perpecah-belahan itu merupakan pola perilaku yang dipasang oleh

kaum penjajah selama masa penjajahan, dan setelah tercapainya kemerdekaan, kita

secara tidak sadar masih hidup dalam pola tersebut bahkan kadang-kadang lebih

memperkuatnya.

Integrasi tidaklah dapat diartikan dengan hanya sekedar bertemu dan

berkumpul. Integrasi adalah merupakan persatupaduan yang melahirkan kesatuan

tekad, tujuan dan tindakan. Integrasi yang tidak merupakan kesepaduan lahir dan

batin yang tidak melahirkan satu kesatuan adalah merupakan integrasi semu. Secara

lahiriah seolah-olah bersatu, tetapi pada hakikatnya masih berpecah-belah. Integrasi

itu ada apabila telah ada kesepaduan lahir dan batin serta pembulatan seluruh potensi

perjuangan, sehingga mewujudkan satu kesatuan bangsa yang tidak terpecah-belah

kepada partai-partai dan golongan-golongan.

Seluruh umat manusia sebagai satu kesatuan, karena itu kesatua ummat

wajib dibina, dipelihara dan dipertahankan oleh seluruh manusa. Barang siapa

memecah-belah kesatuan, maka ia telah mengadakan penyelewengan dan

penyimpangan dari ajaran dan sistem kehidupan yang telah direncanakan

penciptanya, tindakannya sama dengan memecah-belah dan dipandang sebagai

penghianat amanat Allah.

Ummat manusia harus tetap dalam kesatuan kemanusiaan, tidak boleh mengasingkan dan memisahkan diri dari jama‘ahnya serta memecah-belah. Apabila ummat Islam tetap dalam kesatuan jama‘ahnya, tidak terpecah-belah kepada

partai-partai dan golongan-golongan segala persoalannya dipecahkan dalam musyawarah,

serta keputusannya dijadikan keputusan bersama yang dipegang dan dilaksanakan oleh seluruh jama‘ah, maka masyarakat Islam itu akan menjadi masyarakat yang tangguh dan kuat, dan segala keputusan, gerak dan langkahnya akan berada di atas

petunjuk dan jalan serta arah yang tepat dan benar. Sebab apabila ummat Islam itu

bersatu, maka seluruh potensi perjuangannya pun akan dapat dipersatukan dengan

bulat, dan segala gerak dan langkahnya akan langsung tertuju kepada tujuan dan

cita-cita Islam, semata-mata untuk menegakkan Kalimah Allah, sebagaimana umat

Nabi Isa al Masih yang bercita-cita menegakkan kerajaan Allah di Muka Bumi pada

abad pertengahan. Tidak akan terhalangi atau menyimpang kepada maksud-maksud

dan tujuan lainnya. Tetapi apabila keadaan ummat Islam itu berpecah-belah kepada

partai-partai dan golongan-golongan, aliran agma, maka potensi perjuangannya pun

akan berpecah-belah, dan segala keputusan, gerak dan langkah perjuangannya akan

lebih mendahulukan dan mementingkan kepentingan golongannya daripada

kepentingan Islam (penyerahan diri kepada Alklah secara total, sehingga akan

terjatuhkan kepada kelemahan dan kesesatan.

Manusia merupakan satu kesatuan keturuan, berasal dari nenek-moyang

yang sama, yaitu Adam dan Hawa. Dari keduanya manusia itu berkembang

membentuk bangsa-bangsa dan kabilah-kabilah. Adanya bangsa-bangsa dan

suku-suku bangsa itu bukanlah untuk saling bermusuh-musuhan, melainkan untuk saling

kenal-mengenal dan bekerjasama denga baik. Pertentangan dan permusuhan terjadi

karena manusia telah tidak sadar akan sal kejadiannya, lupa akan asal keturunannya

dan menyeleweng dari petunjuk-petunjuk Tuhan dan kepercayaan yang benar.

Karena itulah Tuhan mengutus para Nabi dan rasul dengan membawa Kitab

petunjuk untuk mengembalikan manusia ke jalan yang benar.

Demikianlah ukhuwah Islamiyah itu dibina di atas dasar keyakinan

kesadaran akan kesatuan kemanusiaan inilah yang telah mempertalikan hati seluruh

manusia yang berserah diri kepada Allah dalam satu ikatan persaudaraan,

seabagimana telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw. Ketika membangun

masyarakat Islam di madinah. Rasulullah telah mempersaudarakan Muhajirin dan

Anshar sehingga menimbulkan satu keluarga Islam yang terlepas dari ikatan-ikatan

asal keturunan, kebangsaan dan kesukuan, satu keluarga yang hanya mengenal satu

ikatan, yaitu ikatan Islam. Bagi umat yang mempertahankan agama yang di anutnya

tetap diperstaukan dalam kesatuan kemanusian dan kesatuan kedaulatan negara

sehingga Persaudaraan telah menghasilkan satu kesatuan masyarakat yang kokoh

kuat, diliputi oleh rasa kasih sayang, tolong menolong dan perasaan senasib

seperjuangan, sehingga keutuhan kesatuannya telah diibaratkan oleh Rasulullah saw,

sebagai sebuah bangunan yang bagian-bagiannya kuat menguatkan, atau sebagai

satu kesatuan tubuh (organisme) yang mempuyani satu kesatuan perasaan, yang

apabila salah satu anggota dari tubuh itu merasa sakit, dirasakan pula kesakitan itu

oleh seluruh tubuh.

Dalam dokumen Sistem Sosial Budaya Indonesia (Halaman 56-60)