MORALITAS ETNIK JAWA
7.2 Kewajiban Melaksanakan Integrasi
Integrasi ummat manusia atau wahdatul ummah merupakan kewajiban yang tidak dapat ditawar-tawar lagi yang harus dilaksanakan oleh penganut agama
Allah. Persatuan dan kesatuan umat pengangut agama Allah itu merupakan
manifestasi dari nilai-nilai yang luhur, lahir dari kesadaran kesatuan kemanusiaan,
merupakan pernyataan dari kesadaran keagamaan yang mendalam, dan lahir dari
ketaatan dan penyerahan diri kepada yang mutlak yakni Allah swt., sehingga
mewujudkan persatuan yang dijalin oleh rasa kasih sayang persaudaraan yang tiada
Sebagaimana telah dikemukakan, bahwa doktrin Wahdatul Ummah itu
merupakan ketentuan dan perintah atau kewajiban dari Allah Swt., serta berakar
pada kesatuan kemanusiaan sebagai suatu ikatan kekeluargaan yang diperintahkan
Allah untuk memeliharanya, maka perpecahan itu dengan sendirinya merupakan
pengingkaran terhadap perintah Allah, merupakan perbuatan yang menyimpang dari Syari‘at Islam, menunjukkan kemerosotan budi pekerti dan berarti pemutusan ikatan yang diperintahkan Allah untuk memeliharanya. Karena itu kaum muslimin
diperingatkan dengan keras agar menjaga diri dari perpecah-belahan dan harus
selalu berpegang kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul, terutama di dalam
menyelesaikan perselisihan dan perbedaan pendapat yang terjadi di antara mereka.
Sesuatu perjuangan tidak akan dapat mencapai kemenangan tanpa adanya
kekuatan, dan tidak akan ada kekuatan yang mampu untuk memenangkan
perjuangan tanpa adanya persatuan. Karena itu, persatuan merupakan syarat mutlak
bagi kemenangan perjuangan. Sebab hanya dengan persatuanlah kekuatan
perjuangan dapat digalang, baik berupa kekuatan manusia maupun kekuatan materil,
semangat, moral dan daya tahan perjuangan.
Dalam pada itu keutuhan persatuan akan hancur dengan timbulnya
perselisihan dan pertentangan yang tidak dikendalikan dan tidak disalurkan oleh
disiplin, kode-etik, norma-norma dan kaidah-kaidah persatuan. Sebab perselisihan
dan pertentangan yang tidak terkendalikan itu akan membawa kepada perpecahan
ummat sehingga menimbulkan penggolongan dalam masyarakat yang melemahkan
dan membuyarkan potensi perjuangan. Dengan timbulnya perpecahan itu kekuatan
perjuangan akan hancur, daya tahannya menjadi lemah dan moralnya pun runtuh.
Hukum bahwa golongan kecil yang bersatu dapat mengalahkan golongan
besar yang berpecah-belah, Bangsa Indonesia, yang semenjak masuknya kaum
penjajah hingga tercapainya kemerdekaan, merupakan kekuatan pembebas
tercapainya kemerdekaan, peranannya itu semakin lama semakin menurun, sehingga
kekuatannya yang semula bagaikan gelombang yang paling besar dan paling dasyat
dalam samudera revolusi bangsa Indonesia, kemudian telah terbalik hampir
seolah-olah hanya merupakan buih-buih yang diombang-ambingkan oleh
kekuatan-kekuatan lainnya. Adanya degradasi potensi ini terutama disebabkan oleh
pertentangan dan perpecahan yang membuyarkan pemusatan kekuatannya.
Pertentangan dan perpecah-belahan itu merupakan pola perilaku yang dipasang oleh
kaum penjajah selama masa penjajahan, dan setelah tercapainya kemerdekaan, kita
secara tidak sadar masih hidup dalam pola tersebut bahkan kadang-kadang lebih
memperkuatnya.
Integrasi tidaklah dapat diartikan dengan hanya sekedar bertemu dan
berkumpul. Integrasi adalah merupakan persatupaduan yang melahirkan kesatuan
tekad, tujuan dan tindakan. Integrasi yang tidak merupakan kesepaduan lahir dan
batin yang tidak melahirkan satu kesatuan adalah merupakan integrasi semu. Secara
lahiriah seolah-olah bersatu, tetapi pada hakikatnya masih berpecah-belah. Integrasi
itu ada apabila telah ada kesepaduan lahir dan batin serta pembulatan seluruh potensi
perjuangan, sehingga mewujudkan satu kesatuan bangsa yang tidak terpecah-belah
kepada partai-partai dan golongan-golongan.
Seluruh umat manusia sebagai satu kesatuan, karena itu kesatua ummat
wajib dibina, dipelihara dan dipertahankan oleh seluruh manusa. Barang siapa
memecah-belah kesatuan, maka ia telah mengadakan penyelewengan dan
penyimpangan dari ajaran dan sistem kehidupan yang telah direncanakan
penciptanya, tindakannya sama dengan memecah-belah dan dipandang sebagai
penghianat amanat Allah.
Ummat manusia harus tetap dalam kesatuan kemanusiaan, tidak boleh mengasingkan dan memisahkan diri dari jama‘ahnya serta memecah-belah. Apabila ummat Islam tetap dalam kesatuan jama‘ahnya, tidak terpecah-belah kepada
partai-partai dan golongan-golongan segala persoalannya dipecahkan dalam musyawarah,
serta keputusannya dijadikan keputusan bersama yang dipegang dan dilaksanakan oleh seluruh jama‘ah, maka masyarakat Islam itu akan menjadi masyarakat yang tangguh dan kuat, dan segala keputusan, gerak dan langkahnya akan berada di atas
petunjuk dan jalan serta arah yang tepat dan benar. Sebab apabila ummat Islam itu
bersatu, maka seluruh potensi perjuangannya pun akan dapat dipersatukan dengan
bulat, dan segala gerak dan langkahnya akan langsung tertuju kepada tujuan dan
cita-cita Islam, semata-mata untuk menegakkan Kalimah Allah, sebagaimana umat
Nabi Isa al Masih yang bercita-cita menegakkan kerajaan Allah di Muka Bumi pada
abad pertengahan. Tidak akan terhalangi atau menyimpang kepada maksud-maksud
dan tujuan lainnya. Tetapi apabila keadaan ummat Islam itu berpecah-belah kepada
partai-partai dan golongan-golongan, aliran agma, maka potensi perjuangannya pun
akan berpecah-belah, dan segala keputusan, gerak dan langkah perjuangannya akan
lebih mendahulukan dan mementingkan kepentingan golongannya daripada
kepentingan Islam (penyerahan diri kepada Alklah secara total, sehingga akan
terjatuhkan kepada kelemahan dan kesesatan.
Manusia merupakan satu kesatuan keturuan, berasal dari nenek-moyang
yang sama, yaitu Adam dan Hawa. Dari keduanya manusia itu berkembang
membentuk bangsa-bangsa dan kabilah-kabilah. Adanya bangsa-bangsa dan
suku-suku bangsa itu bukanlah untuk saling bermusuh-musuhan, melainkan untuk saling
kenal-mengenal dan bekerjasama denga baik. Pertentangan dan permusuhan terjadi
karena manusia telah tidak sadar akan sal kejadiannya, lupa akan asal keturunannya
dan menyeleweng dari petunjuk-petunjuk Tuhan dan kepercayaan yang benar.
Karena itulah Tuhan mengutus para Nabi dan rasul dengan membawa Kitab
petunjuk untuk mengembalikan manusia ke jalan yang benar.
Demikianlah ukhuwah Islamiyah itu dibina di atas dasar keyakinan
kesadaran akan kesatuan kemanusiaan inilah yang telah mempertalikan hati seluruh
manusia yang berserah diri kepada Allah dalam satu ikatan persaudaraan,
seabagimana telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw. Ketika membangun
masyarakat Islam di madinah. Rasulullah telah mempersaudarakan Muhajirin dan
Anshar sehingga menimbulkan satu keluarga Islam yang terlepas dari ikatan-ikatan
asal keturunan, kebangsaan dan kesukuan, satu keluarga yang hanya mengenal satu
ikatan, yaitu ikatan Islam. Bagi umat yang mempertahankan agama yang di anutnya
tetap diperstaukan dalam kesatuan kemanusian dan kesatuan kedaulatan negara
sehingga Persaudaraan telah menghasilkan satu kesatuan masyarakat yang kokoh
kuat, diliputi oleh rasa kasih sayang, tolong menolong dan perasaan senasib
seperjuangan, sehingga keutuhan kesatuannya telah diibaratkan oleh Rasulullah saw,
sebagai sebuah bangunan yang bagian-bagiannya kuat menguatkan, atau sebagai
satu kesatuan tubuh (organisme) yang mempuyani satu kesatuan perasaan, yang
apabila salah satu anggota dari tubuh itu merasa sakit, dirasakan pula kesakitan itu
oleh seluruh tubuh.