• Tidak ada hasil yang ditemukan

C. Pengaturan Kewajiban dan Larangan Bagi Notaris Berdasarkan Revisi Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan

1. Kewajiban Notaris Menurut revisi Undang-Undang Nomor.30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris

Kewajiban notaris selain sebagai kewajiban hukum, juga sebagai kewajiban moral. Sebab Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Jabatan Notaris menentukan bahwa sebelum menjalankan jabatannya, notaris wajib mengucapkan sumpah/janji menurut agamanya di hadapan Menteri atau pejabat yang ditunjuk. Konsekuensi dari pengucapan sumpah/janji untuk melaksanakan kewajiban sesungguhnya seseorang yang disumpah terikat

90

Pasal 15 ayat (6) UU No.4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-Benda Yang Berkaitan Dengan Tanah.

91

M. Marwan dan Jimmy P., Kamus Hukum, (Surabaya: Reality Publisher, 2009), hal. 361.

92

hubungan moralitas dengan tuhannya. Itu berarti mengandung selain sanksi hukum juga mengandung sanksi moral.

Sumpah/janji notaris sebagaimana ditentukan Pasal 4 ayat (2) Undang-Undang Jabatan Notaris, “Bahwa saya akan menjaga sikap, tingkah laku saya, dan akan menjalankan kewajiban saya sesuai dengan kode etik profesi, kehormatan, martabat, dan tanggung jawab saya sebagai Notaris”. Jika notaris ternyata tidak menjalankan sumpah/janjinya, maka notaris telah nyata-nyata melanggar sumpah, dan setiap orang yang bersumpah akan berimplikasi pada dosa bukan sanksi hukum saja.

Sesuai dengan apa yang disumpahkan/dijanjikan notaris pada saat pengambilan sumpah/janjinya, maka kewajiban notaris yang akan dijalankannya itu ditentukan dalam Pasal 16 revisi Undang-Undang Jabatan Notaris, sebagai berikut:

(1) Dalam menjalankan jabatannya, Notaris berkewajiban:

a. Bertindak amanah, jujur, saksama, mandiri, tidak berpihak, dan menjaga kepentingan pihak yang terkait dalam perbuatan hukum; b. Membuat akta dalam bentuk minuta akta dan menyimpannya sebagai

bagian dari protokol notaris;

c. Melekatkan surat dan dokumen serta sidik jari penghadap pada Minuta Akta.

d. Mengeluarkan grosse akta, salinan akta, atau kutipan akta berdasarkan minuta akta;

e. Memberikan pelayanan sesuai dengan ketentuan dalam undang-undang ini, kecuali ada alasan untuk menolaknya;

f. Merahasiakan segala sesuatu mengenai akta yang dibuatnya dan segala keterangan yang diperoleh guna pembuatan akta sesuai dengan sumpah/janji jabatan, kecuali undang-undang menentukan lain;

g. Menjilid akta yang dibuatnya dalam 1 (satu) bulan menjadi buku yang memuat tidak lebih dari 50 (lima puluh) akta, dan jika jumlah akta

tidak dapat dimuat dalam satu buku, akta tersebut dapat dijilid menjadi lebih dari satu buku, dan mencatat jumlah minuta akta, bulan, dan tahun pembuatannya pada sampul setiap buku;

h. Membuat daftar dari akta protes terhadap tidak dibayar atau tidak diterimanya surat berharga;

i. Membuat daftar akta yang berkenaan dengan wasiat menurut urutan waktu pembuatan akta setiap bulan;

j. Mengirimkan daftar akta sebagaimana dimaksud dalam huruf h atau daftar nihil yang berkenaan dengan wasiat ke daftar pusat wasiat departemen yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang kenotariatan dalam waktu 5 (lima) had pada minggu pertama setiap bulan berikutnya;

k. Mencatat dalam repertorium tanggal pengiriman daftar wasiat pada setiap akhir bulan;

l. Mempunyai cap/stempel yang memuat lambang negara republik indonesia dan pada ruang yang melingkarinya dituliskan nama, jabatan, dan tempat kedudukan yang bersangkutan;

m.Membacakan akta di hadapan penghadap dengan dihadiri oleh paling sedikit 2 (dua) orang saksi dan ditandatangani pada saat itu juga oleh penghadap, saksi, dan notaris;

n. Menerima magang calon notaris.

(2) Kewajiban menyimpan Minuta Akta sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b tidak berlaku, dalam hal Notaris mengeluarkan akta dalam bentuk Akta in originali.

(3) Akta in originali sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah akta: a. Akta pembayaran uang sewa, bunga, dan pensiun;

b. Akta penawaran pembayaran tunai;

c. Akta protes terhadap tidak dibayarnya atau tidak diterimanya surat berharga;

d. Akta kuasa;

e. Akta Keterangan kepemilikan; atau

f. Akta lainnya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.

(4) Akta in originali sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dibuat lebih dari 1 (satu) rangkap, ditandatangani pada waktu, bentuk, dan isi yang sama, dengan ketentuan pada setiap akta tertulis kata-kata “BERLAKU SEBAGAI SATU DAN SATU BERLAKU UNTUK SEMUA”.

(5) Akta in originali yang berisi kuasa yang belum diisi nama penerima kuasa hanya dapat dibuat dalam 1 (satu) rangkap.

(6) Bentuk dan ukuran cap/stempel sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf l ditetapkan dengan Peraturan Menteri.

(7) Pembacaan akta sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf m tidak wajib dilakukan, jika penghadap menghendaki agar akta tidak dibacakan karena penghadap telah membaca sendiri, mengetahui, dan memahami isinya,

dengan ketentuan bahwa hal tersebut dinyatakan dalam penutup akta serta pada setiap halaman Minuta Akta diparaf oleh penghadap, saksi, dan Notaris.

(8) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat 7 dikecualikan terhadap pembacaan kepala Akta, komparisi, penjelasan pokok Akta secara singkat dan jelas serta penutup Akta.

(9) Jika salah satu syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf m dan ayat 7 tidak terpenuhi, Akta yang bersangkutan hanya mempunyai kekuatan pembuktian sebagai Akta dibawah tangan.

(10) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (9) tidak berlaku untuk pembuatan Akta Wasiat.

(11) Notaris yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a sampai dengan huruf l dapat dikenai sanksi berupa :

a. Peingatan tertulis.

b. Pemberhentian sementara. c. Pemberhentian dengan hormat. d. Pemberhentian dengan tidak hormat.

(12)Selain dikenai sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (11) , pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 16 ayat (1) huruf j dapat menjadi alasan bagi pihak yang menderita kerugian untuk menuntut penggantian biaya, ganti rugi, dan bunga kepada Notaris.

(13) Notaris yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf n dapat dikenai sanksi berupa peringatan tertulis.

Kewajiban notaris pada umumnya adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat yang memerlukan jasanya dengan dijiwai oleh Pancasila, sadar dan taat kepada hukum dan peraturan perundang-undangan, revisi Undang-Undang Jabatan Notaris, Kode Etik Notaris, sumpah jabatan dengan bekerja secara jujur, mandiri, tidak berpihak dan penuh rasa tanggung

jawab.93

1. Memiliki moral, ahlak, sera kepribadian yang baik

Secara khusus kewajiban notaris diatur dalam revisi Undang-Undang Jabatan Notaris, dan Kode Etik Notaris sesuai dengan sifat munculnya kewenangan notaris dilahirkan karena undang-undang (kewenangan atribusi).

Pada Pasal 3 Kode Etik maka Notaris dan orang lain yang memangku jabatan Notaris wajib :

2. Menghormati dan menjunjung harkat dan martabat Jabatan Notaris 3. Menjaga dan membela kehormatan Perkumpulan

4. Bertindak jujur, m,andirir, tidak berpihak, penuh rasa tanggung jawab, berdasarkan peraturan perundangundangan dan isis sumpah jabatan Notaris.

5. Meningkatkan ilmu pengetahuan yang te;lah dimilikitidak terbatas pada ilmu pengetahuan dan HUKUM kenotariatan.

6. Mengutamakan pengabdian kepada kepentingan masyarakat dan Negara

7. Memberikan jasa pembuatan akta dan jasa kenotarisan lainnya untuk masyarakat yang tidak mampu tanpa memungut honorarium.

8. Menetapkan satu kantor di tempat kedudukan dan kantor tersebut merupakan satu-satunya kantor bagi Notaris yang bersangkutan dalam melaksanakan tuigas jabatan sehari-hari

9. Memasang satu buah papan nama didepan/di lingkungan kantornya dengan pilih ukuran yaitu 100cmx40cm, 150cmx60cm atau 200cmx80cm yang memuat : Nama lengkap dan gelar yang sah, tanggal dan nomor surat pengangkatan, tempat kedudukan, alamat kantor dan nomor telpon dan fax

10.Hadir berpartisipasi dan ikut dalam setiap kegiatan yang diselenggarakan oleh perkumpulan, menghormati, memeatuhi, dan me;laksanakan setiap keputusan perkumpulan

11.Membayar uang iuran perkumpulan secara lengkap 12.Membayar uang duka untuk membantu ahli waris Notaris

13.Mematuhi dan melaksanakaan semua ketentuan tentang honorarium yang ditetapkan perkumpulan

14.Menjalankan jabatan Notaris terutama dalam pewmbuatan, pembacaan dan penandatanganan akta yang dilakukan di kantornya kecuali karena alsanalsan yang sah

93

15.Menciptakan suasana kekeluargaan dan kebersamaan dalam melaksanakan tugas jabatan dan kegiatan sehari-hari

16.Memperlakukan klien yang dating dengan baik, tidak membedakan status ekonomi atau status social

17.Melakukan prbuatan-prvbuatan yang secara umum disebut sebagai kewajiban untuk ditaati dan dilaksanakan antara lain namun tidak terbatas pada ketentuan yang tercantum dalam :

a. Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang revisi Undang-Undang Jabatan Notaris

b. Penjelasan Pasal 19 ayat 2 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang revisi Undang-Undang Jabatan Notaris

c. Isi Sumpah Jabatan Notaris

d. Anggaran Dasar dan anggaran rumah tangga Ikatan Notaris Indonesia.

Terhadap akta yang dibuat dengan tidak melaksanakan ketentuan Pasal 16 ayat (1) huruf m revisi Undang-Undang Jabatan Notaris, tidak dapat dijatuhi sanksi yang terdapat pada Pasal 84 dan Pasal 85 Undang-Undang Jabatan Notaris.94

94

Pasal 84 UUJN menentukan:

Tindakan pelanggaran yang dilakukan oleh Notaris terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) huruf i, Pasal 16 ayat (1) huruf k, Pasal 41, Pasal 44, Pasal 48, Pasal 49, Pasal 50, Pasal 51, atau Pasal 52 yang mengakibatkan suatu akta hanya mempunyai kekuatan pembuktian sebagai akta di bawah tangan atau suatu akta menjadi batal demi hukum dapat menjadi alasan bagi pihak yang menderita kerugian untuk menuntut penggantian biaya, ganti rugi, dan Bunga kepada Notaris.

Pasal 85 UUJN menentukan:

Pelanggaran ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7, Pasal 16 ayat (1) huruf a, Pasal 16 ayat (1) huruf b, Pasal 16 ayat (1) huruf c, Pasal 16 ayat (1) huruf d, Pasal 16 ayat (1) huruf e, Pasal 16 ayat (1) huruf f, Pasal 16 ayat (1) huruf g, Pasal 16 ayat (1) huruf h, Pasal 16 ayat (1) huruf i, Pasal 16 ayat (1) huruf j, Pasal 16 ayat (1) huruf k, Pasal 17, Pasal 20, Pasal 27, Pasal 32, Pasal 37, Pasal 54, Pasal 58, Pasal 59, dan/atau Pasal 63, dapat dikenai sanksi berupa:

Pelanggaran terhadap Pasal 16 ayat (1) huruf m revisi Undang-Undang Jabatan Notaris,tidak dapat dikenakan sanksi bahwa akta yang dibuatnya hanya mempunyai kekuatan pembuktian sebagai akta di

a. Teguran lisan; b. Teguran tertulis;

c. Pemberhentian sementara;

d. Pemberhentian dengan hormat; atau e. Pemberhentian dengan tidak hormat.

bawah tangan atau akta tersebut tidak menjadi batal demi hukum. Tentunya jika akta batal demi hukum tetapi pelanggaran terhadap Pasal 16 ayat (1) huruf m revisi Undang-Undang Jabatan Notaris dapat dikenai sanksi sebagaimana yang diatur pada Pasal 9 revisi Undang-Undang Jabatan Notaris , maka hal ini akan merugikan kepada para pihak padahal pelanggarannya hanya karena akta tidak dibacakan di hadapan para pihak.

Pasal 16 ayat (1) huruf m revisi Undang-Undang Jabatan Notaris meskipun termasuk sebagai kewajiban notaris tetapi jika notaris tidak melakukannya, maka terhadap notaris tidak dapat dikenakan sanksi apapun.95

Berarti berdasarkan ketentuan tersebut di atas, dalam kasus perkara

aquo “mengirimkan akta” dan “tidak dibacakannya akta di hadapan para penghadap” tidak dapat dijadikan ukuran pelanggaran kewajiban sebagaimana dimaksud dalam revisi Undang-Undang Jabatan Notaris. Pelanggaran kewajiban “mengirimkan akta” hanya berlaku untuk “pembuatan daftar akta yang berkenaan dengan wasiat” (Pasal 16 ayat 1 huruf i dan huruf j revisi Jika notaris tidak membacakan akta di hadapan para penghadap dengan dihadiri oleh paling sedikit 2 (dua) orang saksi dan ditandatangani pada saat itu juga oleh penghadap, saksi, dan notaris, maka notaris tidak bisa dikenakan sanksi apapun. Menurut Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 setelah adanya revisi Undang-Undang maka Notaris dikenakan sanksi sesuai dengan Pasal 9 revisi Undang-Undang Jabatan Notaris.

95

Undang-Undang Jabatan Notaris) yang sanksinya kemungkinan dapat mengakibatkan suatu akta hanya mempunyai kekuatan pembuktian sebagai akta di bawah tangan atau suatu akta menjadi batal demi hukum (Pasal 84 Undang-Undang Jabatan Notaris) atau terhadap notaris dapat dikenai sanksi berupa: teguran lisan, teguran tertulis, pemberhentian sementara, pemberhentian dengan hormat, atau pemberhentian dengan tidak hormat (Pasal 85 Undang-Undang Jabatan Notaris).

Tetapi untuk sanksi akibat pelanggaran karena “tidak dibacakannya akta di hadapan para penghadap”, jika diperhatikan ketentuan Pasal 84 dan Pasal 85 Undang-Undang Jabatan Notaris tidak dapat dikenakan sanksi kepada notaris atau terhadap akta tersebut. Anehnya majelis hakim dalam Putusan Nomor: 09/Pdt.G/2010/PN-Mbo, memutuskan terhadap perbuatan para tergugat (I, II, dan II) dijatuhkan putusan “perbuatan melawan hukum”. Tidak jelas “perbuatan melawan hukum” yang mana yang dimaksudkan oleh majelis hakim. Putusan tersebut tidak menentukan apakah melanggar hukum sebagaimana dalam Undang-Undang Jabatan Notaris atau sebagaimana dalam KUH Perdata.

Jika notaris tersebut “tidak membacakan akta di hadapan para penghadap”, juga tidak berakibat diperolehnya sanksi bagi notaris yang beritikad baik, tetapi “tidak membacakan akta di hadapan para penghadap” dapat dijadikan pula sebagai pertimbangan hakim untuk memperkuat argumentasi terhadap notaris yang beritikad buruk sehubungan dengan

“dikirimkannya akta” dan “tidak dibacakannya akta di hadapan para penghadap”. Padahal pembacaan akta di hadapan para penghadap merupakan satu di antara kewajiban-kewajiban notaris.

Pembacaan akta di hadapan para penghadap berdasarkan Pasal 16 ayat 1 huruf m revisi Undang-Undang Jabatan Notaris adalah kewajiban notaris. Hal ini berarti merupakan suatu kewajiban yang harus dilaksanakan. Dalam praktiknya pembacaan akta di hadapan para penghadap memberikan manfaat baik terhadap notarisnya sendiri, terhadap para penghadap, maupun terhadap akta itu sendiri karena dapat meminimalisir kemungkinan adanya kesalahan penulisan atau kesalahan isi akta. Sehingga akta yang dibuat dengan benar-benar sesuai dengan kehendak dan maksud para penghadap.

Pasal 16 ayat (7) revisi Undang-Undang Jabatan Notaris menentukan: “Pembacaan akta sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf l tidak wajib dilakukan, jika penghadap menghendaki agar akta tidak dibacakan karena penghadap telah membaca sendiri, mengetahui, dan memahami isinya, dengan ketentuan bahwa hal tersebut dinyatakan dalam penutup akta serta pada setiap halaman Minuta Akta diparaf oleh penghadap, saksi, dan Notaris”.

Ketentuan di atas berarti pembacaan akta sebagaimana dimaksud pada ayat 16 ayat (1) huruf m revisi Undang-Undang Jabatan Notaris tidak wajib dilakukan jika dikehendaki oleh para penghadap agar akta tidak dibacakan karena penghadap telah membaca sendiri, mengetahui, dan memahami isinya, dengan ketentuan bahwa hal tersebut dinyatakan dalam penutup akta (akhir

akta) serta pada setiap halaman minuta akta diparaf oleh penghadap, saksi, dan notaris.

Prinsip pernyataan kehendak adalah penting dalam pembuatan akta artinya notaris akan melaksanakan tugas dan kewajibannya jika apa yang dikehendaki para penghadap untuk dibuatkan aktanya yang dibenarkan oleh hukum, maka notaris tersebut wajib melaksanakan hal itu, termasuk kehendak para pihak untuk membacakan akta tersebut di hadapan para penghadap.

Muatan Pasal 15 ayat (1) revisi Undang-Undang Jabatan Notaris mengandung kewenagan notaris membuat akta otentik mengenai semua perbuatan, perjanjian, dan ketetapan yang diharuskan oleh peraturan perundang-undangan dan/atau yang dikehendaki oleh yang berkepentingan untuk dinyatakan dalam akta otentik. Selanjutnya Pasal 38 ayat (3) huruf c revisi Undang-Undang Jabatan Notaris menentukan bahwa badan akta memuat isi akta yang merupakan kehendak dan keinginan dari pihak yang berkepentingan.

Mengenai pembacaan akta memiliki arti dan tujuan pembacaan akta di hadapan para penghadap, menurut Nuzuarlita Permata Sari Harahap:96

Pembacaan akta notaris, merupakan kewajiban di mana pembacaan akta dilakukan di hadapan penghadap dengan dihadiri oleh saksi-saksi yang berjumlah paling sedikit 2 (dua) orang. Pembacaan ini tidak diwajibkan kepada notaris, apabila penghadap telah membaca sendiri dan mendapat penjelasan dari notaris serta mengetahui isi dari akta

96

tersebut, dengan persyaratan khusus bahwa pada setiap halaman menita akta itu wajib dibubuhkan paraf para penghadap dan saksi-saksi serta notaris. Pembacaan yang dilakukan oleh notaris maupun dibaca sendiri oleh para penghadap, bertujuan agar para penghadap yang menandatangani akta mengerti aka isi dari akta tersebut sehingga akta notaris benar-benar membuat kehendak atau sesuai dengan kehendak mereka yang menandatangani.

Kewajiban notaris membacakan akta atau tidak dibacakan harus dicantumkan pada pada bagian akhir akta. Tujuannya agar masing-masing pihak mengetahui apakah pada waktu pembuatan akta tersebut dibacakan atau tidak. Hal ini juga dapat menjadi bahan pertimbangan bagi majelis hakim yang memeriksa akta tersebut dalam pembuktian. Oleh karena sudah dibacakan, maka masing-masing para penghadap dianggap sudah tahu isi akta tersebut.

Undang-Undang Jabatan Notaris menganut prinsip kewajiban ingkar (verschoningsplicht) bagi notaris.97

1. Siapa yang ada pertalian kekeluargaan darah dalam garis samping dalam derajat kedua atau semenda dengan salah satu pihak;

Kewajiban ingkar notaris diatur dalam Pasal 1909 BW. Notaris yang diminta sebagai saksi dapat menolak atau dibebaskan dari kewajibannya untuk memberikan kesaksian sebagaimana dalam Pasal 1909 BW, bila menyangkut:

2. Siapa yang ada pertalian darah dalam garis lurus tidak terbatas dan dalam garis samping dalam derajat kedua dengan suami atau istri salah satu pihak;

97

3. Segala siapa yang karena kedudukannya, pekerjaannya atau jabatannya menurut undang-undang diwajibkan merahasiakan sesuatu, namun hanyalah semata-mata mengenai hal-hal yang pengetahuannya dipercayakan kepadanya sebagai demikian.

Berdasarkan ketentuan Pasal 1909 BW tersebut tampak ketentuan pada Pasal 1909 ayat (3) BW dibolehkan bagi notaris diwajibkan merahasiakan segala sesuatu mengenai akta yang dibuatnya. Notaris sebagai saksi dapat meminta dibebaskan dari kewajibannya untuk memberikan kesaksian, karena jabatannya menurut Undang-Undang yang diwajibkan untuk merahasiakannya.

Notaris mempunyai kewajiban ingkar bukan untuk kepentingan diri notaris, tetapi untuk kepentingan para pihak (klien) yang telah mempercayakan kepada notaris, bahwa notaris dipercaya oleh para pihak karena jabatannya mampu menyimpan semua keterangan/pernyataan para pihak yang pernah diberikan dihadapan notaris yang berkaitan dalam pembuatan akta.

Kewajiban ingkar notaris juga ditentukan dalam Pasal 16 ayat (1) huruf e revisi Undang Jabatan Notaris dan huruf f revisi Undang-Undang Jabatan Notaris, notaris diwajibkan memberikan pelayanan sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang Jabatan Notaris, kecuali ada alasan untuk menolaknya untuk merahasiakan tentang segala akta yang dibuatnya. Ketentuan penolakan ini merupakan kewajiban ingkar notaris, jika

pengingkaran kewajiban ini tidak dilaksanakan oleh notaris, maka perbuatan notaris dapat dikatakan melakukan pelanggaran hukum.

Ketentuan kewajiban pengingkaran notaris terdapat pula pada Pasal 16 ayat (1) huruf f revisi Undang-Undang Jabatan Notaris, ditentukan kewajiban notaris untuk merahasiakan segala sesuatu mengenai akta yang dibuatnya dan segala keterangan yang diperolehnya sesuai dengan sumpah/janji jabatan. Ketentuan ini dikecualikan dari kewajibannya jika terkait dengan suatu akta yang berkaitan dengan pelanggaran hukum, maka akta tersebut harus dibuka atau disampaikan oleh notaris kepada pihak berwajib untuk sebagai bukti.98

Bahkan kerahasiaan diwajibkan dalam Pasal 16 ayat (1) huruf f revisi Undang-Undang Jabatan Notaris bahwa dalam menjalankan jabatannya, “Notaris berkewajiban: merahasiakan segala sesuatu mengenai akta yang dibuatnya dan segala keterangan yang diperoleh guna pembuatan akta sesuai dengan sumpah/janji jabatan, kecuali undang-undang menentukan lain”. Namun kerahasiaan bukanlah mutlak bagi notaris tetapi ada pula hak ingkar bagi notaris untuk mengungkap rahasia itu dalam hal yang dibenarkan oleh peraturan perundang-undangan.99

98 Ibid. 99

2. Larangan Terhadap Notaris Berdasarkan Revisi Undang-Undang

Dokumen terkait