• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III KETENTUAN KEWARISAN CUCU YATIM

C. Kewarisan Cucu Yatim Menurut Pendapat Ulama

1. Kewarisan Cucu Dari Anak Laki-Laki Menurut Pendapat Ulama

Ulama ahlu sunah memperluas makna walad atau anak dalam An-Nisa ayat 11 kepada cucu dan membatasinya kepada cucu dari anak laki-laki saja dan cucu dari anak perempuan tidak termasuk ke dalamnya.32Sehingga dapat dikatakan cucu (perempuan dan laki-laki) dari anak laki-laki merupakan bagian dari kelompok ashabul furudh atau ahli waris yang memperoleh bagian tertentu berdasarkan nash. Berikut adalah bagian kewarisan cucu laki-laki dari anak laki-laki:

b. Jika pewaris tidak mempunyai ahli waris selain cucu laki-laki dari anak laki-laki maka semua harta diberikan kepada cucu laki-laki karena menjadi ashabah.

c. Jika pewaris hanya mempunyai ahli waris dua cucu laki-laki dari anak laki-laki maka harta waris dibagi sama rata antara cucu-cucu itu, karena keduanya adalah ashabah yang sederajat. d. Jika pewaris hanya mempunyai ahli waris cucu perempuan dan cucu laki dua atau lebih dari anak laki, maka tiap cucu laki-laki mendapat dua bagian dan tiap cucu perempuan mendapat satu bagian.

e. Jika pewaris mempunyai ahli waris ibu, bapak, istri atau suami, anak perempuan, dan cucu laki-laki, maka keluarkan dahulu

31 Abu Muhammad Ali bin Ahmad bin Sa’id bin Hazm, ed, Al Muhalla Jilid 12,

Penerjamah Andi Amir, Jakarta: Pustaka Azzam, 2016, h.443.

bagian waris ibu, suami atau istri, bapak dan sisanya diberikan kepada cucu laki-laki karena menjadi ashabah.

Dapat dilihat bahwa cucu laki-laki dapat berkedudukan sebagai ashabah jika tidak ada anak laki-laki pewaris. Terdapat dalil yang menjelaskan cucu laki-laki berhak menjadi ashabah, yaitu:33

َانْب َلا ُدَل َو : تِب َاث ُنْبُدْيَز َل َاق َانْب َلا ِةَل ِزْنَمِب ِء ْمُهُرَك َذ .ُء َانْبَا ْمُهَن ْوُد ْنُكَي ْمَل اَذِا ِء َي َن ْوُث ِرَي اَمَكَن ْوُث ِرَي ْمُه َاثْن ُاَك ْمُه َاثْنُا َو ْمِه ِرَكَذَك ْوُبُجْحَي َن ْوُث ِرَي َلا َو ،َن ْوُبُجْحَي اَمَك َن ْوُبُجْح َن ُث ِرَيَلا َو ،َن ْوُبُجْحَي َامَك ْن ِاَف ، رَكَذ ِنْبا َعَم ِنْبا ُدَل َو ْو َت ُفْصِ نلا ِتْنِبْلِلَف رَك َذ ِنْبا َنْبا َو ًةَنْبا َك َر ]ةمجرت ى ر اخبلا [ .َيِقَب اَم ِنْب ِ ْلاا ِنْب ِلا َو

Artinya: “Zaid bin Tsabit berkata: Anak laki-laki punya anak-anak sederajat dengan anak laki-laki apabila tidak meninggalkan anak, yaitu yang laki-laki sama dengan laki-laki; dan yang perempuan sama dengan perempuan. Mereka jadi ahli waris sebagaimana anak-anak jadi ahli waris, mereka jadi hajib sebagaimana anak-anak-anak-anak jadi hajib: dan anak laki-laki punya anak laki-laki tidak dapat warisan selama ada anak laki-laki, jika si mati meninggalkan seorang anak perempuan dan seorang cucu laki-laki, maka anak itu, dapat separuh dan sisanya untuk cucu laki-laki.” (Hadits Riwayat Bukhari)

Hadits tersebut menjelaskan bahwa, cucu laki-laki dari anak laki-laki berhak mendapatkan ashabah jika pewaris hanya mempunyai ahli waris anak perempuan dan tidak mempunyai anak laki-laki. Pada dasarnya cucu akan terhalang jika pewaris mempunyai ahli waris anak laki-laki, karena terdapat konsep ahli waris terdekat akan menghalangi ahli waris terjauh.

33 Sudarsono, Hukum Waris Dan Sistem Bilateral, (Jakarta: Rineka Cipta, 1994), h.122.

60

Sedangkan untuk bagian cucu perempuan dari anak laki-laki para ulama sepakat bahwa cucu perempuan berkedudukan seperti anak perempuan,34 berikut adalah pembagiannya:

a. Jika pewaris hanya mempunyai ahli waris cucu perempuan dari anak laki-laki, maka cucu perempuan mendapat seperdua atau setengah dari harta peninggalan pewaris.

b. Jika pewaris mempunyai ahli waris dua cucu perempuan dari anak laki-laki, maka cucu perempuan mendapat duapertiga dan duapertiga tersebut dibagi sama rata.

c. Jika pewaris mempunyai ahli waris cucu laki-laki dan cucu perempuan dua orang atau lebih dari anak laki-laki, maka cucu mendapat semua harta dengan dua bagian untuk cucu laki-laki dan satu bagian untuk cucu perempuan.

d. Jika pewaris mempunyai ahli waris seorang anak perempuan dan seorang atau lebih cucu perempuan, maka anak perempuan mendapat seperdua dan cucu perempuan mendapat seperenam. e. Jika pewaris mempunyai ahli waris seorang anak perempuan dan

cucu laki-laki serta cucu perempuan, maka bagian anak perempuan adalah seperdua, dan sisanya diberikan kepada cucu dengan bagian cucu laki-laki mendapat dua bagian dan cucu perempuan mendapat satu bagian.

Sehingga cucu dari anak laki-laki berhak mendapatkan warisan dari kakek atau nenek jika tidak ada halangan apapun. Halangan yang dimaksud adalah hijab atau terhalangnya seseorang sebagai ahli waris dari sebagian atau seluruhnya harta peninggalan karena adanya ahli waris lainnya yang lebih utama. 35Seperti cucu laki-laki dan cucu perempuan akan terhalang jika terdapat anak laki-laki dari

34 Aulia Muthiah dan Novy Sri Pratiwi, Hukum Waris Islam: Cara Mudah dan

Praktis Memahami dan Menghitung Warisan, (Yogyakarta: Medpress Digital, 2015), h.54.

pewaris. Hal ini dikarenakan anak laki-laki sebagai ahli waris terdekat dan sebagai ashabah.

Hukum kewarisan Islam mengenal adanya konsep “ahli waris terdekat menghijab ahli waris terjauh”. Pada kasus kewarisan cucu dari anak laki-laki yang terhalang oleh pamannya disebut dengan hajb al-Hirman. Hajb al-Hirman merupakan terhalangnya seseorang menjadi ahli waris karena adanya seseorang yang lebih dekat kekerabatannya dengan pewaris.36 Paman dapat menghalangi kewarisan cucu karena paman lebih terhubung langsung hubungan nasabnya dengan pewaris dan paman merupakan ashabah terdekat. Selain terhalang oleh pamannya, cucu juga dapat terhalang oleh bapak dari pewaris.

2. Kewarisan Cucu Yatim dari Anak Perempuan Menurut Pendapat Ulama

Menurut kewarisan patrilineal, cucu melalui anak perempuan tidak menempati posisi anak yang sudah meninggal terlebih dahulu. Cucu melalui anak perempuan mempunyai posisi tersendiri yang disebut sebagai dzawil arham atau keluarga yang mempunyai hubungan kekerabatan dengan pewaris namun dianggap jauh.37 Secara bahasa al-arham merupakan bentuk jamak dari rahim, yang bermakna tempat janin di dalam perut. Secara bahasa dapat bermakna hubungan kekerabatan yang dimiliki beberapa orang karena sebab kelahiran yang dinamakan rahim. Secara istilah dzawil arham adalah kerabat yang tidak termasuk ke dalam ashabul furudh dan ashabah.

Para ulama berbeda pendapat mengenai warisan dzawil arham, perbedaan pendapat tersebut dikarenakan tidak adanya nash qath’i yang

36 Tinuk Dwi Cahyani, Hukum Waris Islam: Dilengkapi Contoh Kasus dan

Penyelesainnya, (Malang: UMM Press,2018), h.48.

37 Sayuti Thalib, Hukum Kewarisan Islam Edisi Revisi, (Jakarta: Sinar Grafika, 2018), h.109.

62

menjelaskan kepastian mengenai bagian pasti dzawil arham apakah mereka mendapatkan warisan atau tidak. Terdapat dua pendapat mengenai kewarisan dzawil arham, diantaranya adalah:

a. Mazhab Pertama

Mazhab ini berpendapat bahwa dzawil arham tidak berhak mendapat warisan sedikitpun. Ulama yang termasuk ke dalam golongan ini adalah Zaid bin Tsabit, Ibnu Abbas, Said bin Musayyab, dan Said bin Jubair, ulama Malikiyyah, Syafi’iyyah, dan Zhahiriyyah.38 Malik dan Syafii berpendapat jika pewaris hanya memiliki ahli waris dari golongan dzawil arham maka harta tersebut lebih berhak diberikan kepada Baitul Mal. Pendapat tersebut didasarkan pada beberapa argumentasi di antaranya :

1) Rasulullah Saw ditanya mengenai warisan bibi dari pihak ayah dan bibi dari pihak ibu, lalu Rasulullah Saw, bersabda:

َامُهَل َء ْيَش َلا ْنَا ُلْي ِرْب ِج ْيِن َرَبْخ َأ

Artinya: “Jibril memberitahuku bahwa keduanya tidak mendapat apa-apa.”

2) Permasalahan waris-mewarisi tidak dapat ditetapkan oleh seseorang jika tidak ada nash atau ijma ulama yang telah menetapkannya. Tidak ada satupun nash atau ijma ulama mengenai dzawil arham. Allah Swt telah menetapkan siapa saja yang termasuk dalam ashabul furudh dan ashabah. Jika memang dzawil arham berhak mendapatkan bagian maka tentu Allah akan menjelaskannya dalam Al-Aquran, karena pada dasarnya Allah Swt tidak akan pernah lupa. Seperti yang disebutkan dalam Q.s.Maryam (19): 64:

ِل ىَطْع َأ َّالله َّن ِا ُهَّقَح قَح ْي َذ َّلُك

Artinya: “Sesungguhnya Allah memberikan hak bagi pemiliknya.”

38Komite Fakultas Syariah Universitas Al-Azhar. ed, Ahkamul-Mawaarits

Jadi, pendapat pertama menyebutkan bahwa dzawil arham tidak berhak mendapatkan warisan sedikitpun karena tidak adanya nash ataupun dalil yang mengaturnya.

a. Mazhab Kedua

Dzawil Arham berhak mendapatkan warisan jika tidak terdapat ashabul furudh dan ashabah.39 Ulama yang termasuk ke dalam pendapat ini adalah Umar Ibnul Khatab, Ali bin Abi Thalib, Abdullah Ibnu Mas’ud, Mu’adz bin Jabal, Abu Darda, serta dari kalangan Hanafiyyah, Hanabilah, Zaidiyah, Ibnu Abi Laila. Dan Ishaq bin Rahwaih. Bahkan, Abu Hanifah dan Ahmad berpendapat bahwa dzawil arham berhak mendapatkan wasiat. Adapun dalil-dalil yang dijadikan argumentasi oleh para ulama adalah sebagai berikut:40

1) Firman Allah dalam Q.s. Al-Ahzab (33): 6:

.. يِف ضْعَبِب ىَل ْوَا ْمُهُضْعَب ِم َاح ْر َ ْلاا ْوُل ْوُاَو . تِك

...ِالله ِب َا

Artinya: “...orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah...”

Jadi, jika dalam pembagian harta waris tidak terdapat ashabul furudh dan ashabah maka harta tersebut berhak diberikan kepada dzawil arham yang masih termasuk ke dalam kerabat yang mempunyai hubungan rahim, sekalipun jauh nasabnya. Sebab, berdasarkan ayat tersebut mereka dinilai lebih berhak mendapat warisan karena masih mempunyai hubungan satu sama lain.

2) Hadits Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Miqdam bin Ma’dikarib Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa yang meninggalkan harta, maka hartanya itu untuk ahli warisnya. Aku adalah ahli waris orang yang tidak mempunyai ahli waris. Aku bisa

39

Muhammad Ali Ash-Shabuni, Pembagian Waris Menurut Islam, (Depok: Gema Insani, 1995), h.145.

40Komite Fakultas Syariah Universitas Al-Azhar. ed, Ahkamul-Mawaarits

64

mengikat dan mewarisi. Paman dari oihak ibu adalah ahli waris yang tidak mempunyai ahli waris. Dia bisa mengikat dan mewarisi.”(HR Ahmad, Abu Daud, dan Ibnu Majah)

3) Para ulama yang termasuk dalam mazhab kedua berdalih dengan logika: “ Apabila pewaris hanya memiliki ahli waris dzawil arham dan tidak mempunyai ahli waris ashabul furudh dan ashabah maka seluruh harta akan diberikan kepada baitulmal kaum muslimin.” Jika diperhatikan sekilas antara dzawil arham dan baitulmal mempunyai satu ikatan yang sama yaitu ikatan agama. Namun selain ikatan agama, dzawil arham juga mempunyai ikatan kekerabatan yang harus lebih didahulukan. Dengan demikian, harta waris lebih berhak diberikan kepada dzawil arham jika tidak ada ahli waris yang lebih utama dari mereka. Rasulullah Saw, bersabda:

ْث إ ِمْح َّرلا ى ِذ َىلَع َو ٌةَق َدَص نْيِمِلْسُمْلا ىَلَع ةَق َدَّصلا ٌةَل ِص َو ٌةَق َدَص َاهَّن َل ِن َاتَن

Artinya: “Bersedekah kepada kaum muslimin mendapatkan satu pahala, sedangkan bersedekah kepada kerabat mendapatkan dua pahala, yakni pahala sedekah dan pahala penyambung kekerabatan.”(HR Ahmad, Turmudzi, Abu Daud, dan an-Nasa’i)

Dari kedua pendapat tersebut, pendapat mazhab kedua yang paling kuat karena dalilnya lebih tepat dan kuat. Dalil yang digunakan oleh ulama mazhab pertama bersifat lemah karena hadits atha yang mereka pegang bisa jadi hadits lemah atau hadits mursal yang tidak bisa mengalahkan keuatan hadits yang dikutip oleh ulama mazhab kedua.41 Jadi, dari kedua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa dzawil arham berhak mendapat warisan jika tidak ada ahli waris ashabul furudh dan ashabah. Sehingga cucu dari anak perempuan berhak mendapatkan warisan selama tidak ada ahli waris ashabul furudh dan ashabah. Hal ini sangat berbeda dengan

41 Komite Fakultas Syariah Universitas Al-Azhar. ed, Ahkamul-Mawaarits

posisi kewarisan cucu dari anak laki-laki yang masih mempunyai peluang besar untuk mendapatkan warisan.

D. Ketentuan Kewarisan Cucu Yatim Dalam Hukum Keluarga di

Dokumen terkait