• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III KEWENANGAN LEMBAGA ADAT SULANG SILIMA

D. Kewenangan Lembaga Adat Sulang Silima Marga Dalam

Tentang Pendaftaran Tanah

60

Hak atas tanah mempunyai peran yang amat penting dalam kehidupan manusia oleh karenanya di dalam UUPA telah ditentukan bahwa tanah-tanah diseluruh wilayah Negara Republik Indonesia harus di inventarisasikan sedemikian rupa sehingga benar-benar membantu usaha meningkatkan kesejahteran rakyat dalam rangka mewujudkan keadilan sosial.61

Untuk usaha investarisasi tersebut telah diupayakan penyelenggaraan pendaftaran tanah. Untuk itu telah terbit Peraturan Pemerintah No.10/1961. Peraturan Pemerintah tersebut di Undangkan dalam Lembaga Negara Republik Indonesia No.57 tahun 1997 sedang penjelasannya dalam tambahan lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3696.

1. Pengertian Pendaftaran Tanah

Pendaftaran berasal dari kata cadastre (bahasa Belanda Kaadaster) suatu istilah teknis untuk suatu rekod (rekaman), menunjukkan kepada luas, nilai dan kemilikan (atau lain-lain atas hak) terhadap suatu bidang tanah.62

Syamsul Bahri telah mengutip pendapat dari:

a. Sotendik /mulder, kadaster is een seen instellingdie door middel van plans of kaarten en register, opgemaaks naar aanleiding van maiting en schatting, ons een beeld eneenb schrijving van her grondheir van saat in all zine onder delen en greens/geeh. Kadaster berasal dari kata capirastrum yang berarti suatu daftar umum dimana berisi nilai-nilai serta sifat-sifat bahasa Prancis disebut cadaster, italia disebut kadaster.

b. Jaarsma, mengatakan kadaster is een instelling diery door middel kaarten en register eneen omchjuring gurf van alle stkuken her gebide van ded staar gelegen (kadaster adalah suatu badan dengan peta-peta dan daftar-daftar 61

Harun Al Rashid, 1986,Sekilas Tentang Jual Beli Tanah (Berikan Peraturan-Peraturan), Ghalia Indonesia, Jakarta, hal 82.

memberikan uraian semua bidang tanah yang terletak dalam suatu wilayah negara.

c. Van huls merumuskan kadaster is een boekhouding op netground wijverbaardiging waaven deland meetkunden toepassing vindt(kadaster itu sebagai seperti pembukuan mengenai pemilikan tanah yang diselenggarakan dengan daftar-daftar dan peta-peta yag diperbuat menggunakan ilmu ukur.63 Dengan demikian Cadaster merupakan alat yang tepat memberikan uraian dan identifikasi dari lahan tersebut dan juga continueous recording (rekaman yang berkesinambungan) dari pada hak atas tanah.

Dalam pasal 1 ayat 1 PP 24/1997 disebutkan pengertian pendaftaran tanah adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh Pemerintah secara terus menerus berkesinambungan, pembukuan, dan penyajian serta pemeliharaan data fisik dan data yuridis, dalam bentuk peta dan daftar, mengenai bidang-bidang tanah dan satuan- satuan rumah susun, termasuk pemberian surat tanda bukti haknya bagi bidang- bidang tanah yang sudah ada haknya dan hak milik atas satuan rumah susun serta hak-hak tertentu yang membebaninya.

Pendaftaran tanah meliputi pendaftaran tanah untuk pertama kali dan kegiatan pemeliharaan data yang tersedia. Pendaftraan tanah pertama kali dapat dilakukan melalui dua cara yaitu secara Sistematik dan secara Sporadik. Pendaftaran tanah secara Sistematik adalah kegiatan pendaftaran tanah untuk pertama kali yang dilakukan secara serentak, yang meliputi semua objek pendaftaran tanah yang belum didaftar dalam wilayah atau bagian wilayah suatu Desa atau Kelurahan. Umumnya prakarsanya datang dari Pemerintah.

Pendaftaran secara Sporadik adalah kegiatan pendaftaran tanah untuk pertama kali mengenai satu atau untuk beberapa objek pendaftaran tanah dalam wilayah atau bagian wilayah suatu Desa atau Kelurahan secara individual

Penyempurnaan yang diadakan melipui penegasan berbagai hal yang belum jelas dari peraturan yang lama, antara lain pengertian pendaftaran tanah itu sendiri, azas-azas dan tujuan penyelenggaraanya yang disamping untuk menghimpun dan menyajikan informasi yang lengkap mengenai data fisik dan data yuridis mengenai tanah yang bersangkutan.64

S. Rowton Simpson mengemukakan maksud pendaftran tanah paling tidak dapat dibedakan untuk mencapai dua tujuan yaitu :

a. Tujuan yang bersifat Fiskal, diantaranya diperlukan untuk perencanaan pembangunan dan perpajakan.

b. Tujuan yang bersifat hukum, antara lain untuk menjamin kepastian hukum mengenai hak-hak atas tanah.65

Pendaftaran tanah dengan tujuan yang bersifat Fiscal mempunyai fungsi yang berhubungan dengan kepentingan Negara yaitu untuk keperluan pemungutan pajak tanah. Sedangkan tujuan pendaftaran tanah yang kedua menginginkan kepastian mengenai siapa pemegang hak milik atau hak-hak lain atau sebidang tanah. Ini dipandang dari segi hukum. Selanjutnya oleh Simpson dikemukakan agar kedua fungsi pendaftaran tanah tersebut dibedakan secara jelas.

Mengenai hal ini A.P. Parlindungan mengatakan bahwa pendaftaran tanah ini adalah pendaftaran hukum (rechts cadaster) bukan fiscal cadaster.66

Dalam hukum inggris istilah cadaster masih tetap dipergunakan, dan dibedakan sama sekali dari pendaftara tanah yang bersifat hukum yang disebut dengan istilah “land registration”.

64

A.P. Parlindungan, Op. Cit, hal 17 65

S. Rowton Simpson, 1976,Land And Regristation, Cambridge University Press, London, hal 3

Objek pendaftaran tanah meliputi (pasal 9 PP No. 24 tahun 1997) :

a. Bidang-bidang tanah yang dipunyai dengan hak milik, hak guna usaha, hak guna bangunan dan hak pakai.

b. Tanah hak pengelolaan c. Tanah wakaf

d. Hak milik atas satuan rumah susun e. Hak tanggungan

f. Tanah Negara

2. Kegiatan Pendaftaran Tanah Untuk Pertama Kali Meliputi (Pasal 12 PP No. 24 Tahun 1997 ):

a. Pengumpulan dan pengolahan data fisik. b. Pembuktian hak dan pembukuannya c. Penerbitan sertifikat

d. Penyajian data fisik dan data yuridis, e. Penyimpanan daftar umum dan dokumen

Dalam rangka pengumpulan dan pengolahan data fisik, dilakukan kegiatan pengukuran dan pemetaan. Kegiatan pembuktian hak meliputi:67

1. Pembuktian hak baru 2. Pembuktian hak lama 3. Pembukuan hak

67

Budi Harsono, 1997, Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah, Makalah Seminar Nasional, Kerjasama Fakultas Hukum Universitas Trisakti dengan Badan Pertanahan Nasional, Jakarta, hal 10

Pembuktian hak dan pembukuannya yang berarti sebelum hak atas tanah tersebut dibukukan harus dibuktikan terlebih dahulu adanya hak tersebut dan tentunya siapa pemiliknya.

Pembuktian hak baru yaitu hak-hak yang baru diberikan atau diciptakan sejak mulai berlakunya Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997, dan pembuktian hak- hak lama yaitu terutama hak-hak atas tanah yang berasal dari konversi hak-hak yang ada pada waktu UUPA mulai berlaku dan hak-hak pemberian baru atau yang diciptakan sejak mulai berlakunya UUPA yang belum didaftar menurut Peraturan Pemerintah Nomor 10 tahun 1961.68

E. Kewenangan Yang Dilakukan Oleh Lembaga Adat Sulang Silima Dalam

Dokumen terkait