BAB III KEWENANGAN LEMBAGA ADAT SULANG SILIMA
F. Peranan Lembaga Adat Sulang Silima Dalam Peralihan Hak
Hak ulayat diakui oleh UUPA, tetapi pengakuan itu disertai 2 (dua) syarat yaitu mengenai “eksistensinya” dan mengenai pelaksanaannya, hak ulayat diakui sepanjang menurut kenyataannya masih ada. Di daerah-daerah di mana hak tidak ada lagi, tidak akan dihidupkan kembali. Di daerah-daerah di mana tidak ada pernah ada hak ulayat tidak akan dilahirkan hak baru. Pelaksanaan hak ulayat diatur dalam pasal 3 UUPA.
“Pelaksanaan hak ulayat harus sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kepentingan nasional dan Negara, yang berdasarkan atas persatuan bangsa serta tidak boleh
bertentangan dengan Undang-Undang dan Peraturan-Peraturan lain yang lebih tinggi”69
Ketentuan dalam pasal 3 UUPA berpangkal pada pengakuan adanya hak ulayat dalam hukum tanah nasional, yang sebagaimana dinyatakan dalam uraian di atas merupakan hak penguasaan tertinggi dalam lingkungan masyarakat hukum adat tertentu atas tanah yang merupakan kepunyaan bersama para warganya. Tanah itu sekaligus merupakan wilayah daerah kekuasaan masyarakat hukum yang bersangkutan, pengakan tersebut disertai 2 syarat, yaitu pertama mengenai eksistensinya dan kedua mengenai pelaksanaannya.
Hak ulayat diakui eksistensinya bilaman menurut kenyataannya dilingkungan kelompok warga masyarakat hukum adat tertentu yang bersangkutan memang masih ada. Jika memang ternyata masih ada, pelaksanaannya harus sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kepentingan nasional dan Negara yang berdasar atas persatuan bangsa.
Pelaksanaannyapun tidak boleh bertentangan dengan Undang-Undang dan Peraturan-Peraturan yang lebih tinggi. Demikian dinyatakan dalam pasal 3 UUPA dan dijelaskan dalam penjelasan umum II angka (3).70
Apa yang menjadi kriteria bagi masih adanya hak ulayat dilingkungan kelompok warga masyarakat hukum adat tertentu itu tidak terdapat ketentuannya baik dalam
69 Boedi Harsono (a), menuju penyempurnaan hukum tanah nasional, Universitas Trisakti, Jakarta, cetakan kedua, hal 190
UUPA itu sendiri maupun penjelasannya. Kiranya masih adanya hak ulayat diketahui dari kenyataan mengenai :
1. Masih adanya suatu kelompok orang-orang yang merupakan warga suatu masyarakat hukum adat tertentu.
2. Masih adanya tanah yang merupakan wilayah masyarakat hukum adat tersebut, yang didasari sebagai kepunyaan bersama para warga masyarakat hukum adat itu “lebensraum”-nya. Selain itu eksistensi hak ulayat masyarakat hukum adat yang bersangkutan juga diketahui dari kenyataan, masih adanya. 3. Kepala adat dan para tetua adat yang pada kenyataannya dan diajui oleh para
warganya, melakukan kegiatan sehari-hari, sebagai pengemban tugas kewenangan masyarakat hukum adatnya, mengelola, mengatur peruntukan, penguasaan dan penggunaan tanah bersama tersebut.
Menurut kenyataannya memang terdapat masyarakat-masyarakat hukum adat di mana hak ulayat itu masih ada, tetapi insentitas eksistensinya diberbagai daerah sangat bervariasi. Kenyataannya tidak mungkin dikatakan secara umum bahwa disuatu daerah tertentu masih ada hak ulayat atau tidak pernah terdapat atau tidak terdapat lagi hak ulayatnya. Kepastian mengenai eksistensi hak ulayat disuatu masyarakat hukum adat tertentu hanya dapat diperoleh dengan cara meneliti keadaan masyarakat hukum adat tersebut.
Dalam ketentuan UUPA, jual-beli, warisan, hibah tanah milik adat merupakan bagian dari peralihan hak atas tanah. Boedi Harsono menyebutkan bahwa pada dasarnya peralihan hak atas tanah dapat terjadi karena 2 (dua) sebab yaitu :
1. Pewarisan tanpa wasiat yakni peralihan hak atas tanah karena pemegang suatu hak atas tanah meninggal dunia, dengan kata lain hak tersebut beralih kepada ahli warisnya, sementara siapa ahli warisnya dan berapa bagian masing- masing ditentukan berdasarkan hukum waris pemegang hak bersangkutan. 2. Permindahan hak yakni hak atas tanah tersebut sengaja dialihkan kepada
pihak lain. Bentuk peralihan hak bias berupa jual beli, sewa menyewa, hibah, pemberian menurut adat, pemasukan dalam perusahaan atau inbreng dan juga termasuk hibah wasiat.71
Jadi dapat dijelaskan bahwa pengertian beralih dan dapat dialihkan dalam hal ini mempunyai arti sebagai berikut :
1. Beralih adalah suatu peralihan hak yang dikarenakan seseorang yang mempunyai suatu hak meninggal dunia, sehingga dengan sendirinya hak itu beralih menjadi milik ahli warisnya. Ketentuan mengenai peralihan karena warisan terdapat dalam Pasal 42 PP Nomor 24 Tahun 1997 yang berbunyi peralihan hak karena warisan terjadi hukum adat saat pemegang hak yang bersangkutan meninggal dunia. Sejak itu ahli waris menjadi pemegang hak yang beru.72
2. Dialihkan adalah suatu peralihan hak yang dilakukan dengan sengaja supaya hak tersebut terlepas dari pemilik semula. Dengan kata lain peralihan hak ini
71Boedi Harsono,Hukum Agraria IndonesiaSejarah Pembentukan Undang-Undang Pokok Agraria, Isi
dan Pelaksanaannya,Djambatan, jakarta, 1982Hal 318 72
terjadi karena adanya perbuatan hukum tertentu seperti : jual-beli, sewa menyewa, hibah wasiat, hibah, wasiat dan sebagainya.
Peralihan hak atas tanah merupakan suatu peristiwa dan /atau perbuatan hukum yang mengakibatkan terjadinya pemindahan hak atas tanah dari pemilik ke pihak lain. Peralihan tersbut meliputi jual-beli, sewa menyewa, hibah, pemberian dengan wasiat dan perbuatan hukum lain yang bertujuan atau bermaksud memindahkan hak kepemilikan tanah. Tetapi peralihan yang banyak terjadi dalam masyarakat adalah peralihan dalam bentuk transaksi jual-beli.
Peralihan hak atas tanah sebelum berlakunya UUPA yang terdapat dualism hukum, yakni status tanah adat tunduk pada hukum adat dan status tanah barat tunduk pada hukum barat. Di dalam ketentuan hukum tanah barat prinsip nasionalitas tidak dianut, dalam artian bahwa setiap orang boleh saja memiliki hak eigendom asal saja mau tunduk pada ketentuan-ketentuan penundukan diri pada KHUPerdata Barat73 sehingga karena hal tersebut di atas Pemerintah mengeluarkan ketentuan untuk mengawasi pemindahan hak atas tanah bagi yang tunduk pada hukum barat yakni Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1954 yang memuat ketentuan tentang ketentuan bahwa setiap peralihan hak terhadap tanah dan barang-barang tetap lainnya hanya dapat dilakukan bila telah mendapat izin dari Menteri Kehakiman dan bila tetap dilakukan maka peralihan tersebut batal demi hukum.
Bagi Pemerintah langkah ini dilakukan bertujuan untuk mengurangi jatuhnya kemungkinan tanah-tanah tersebut berikut rumah dan bangunan-bangunan di atasnya
ke tangan-tangan orang-orang dan badan hukum asing74. Karena sebelum ketentuan tersebut dikeluarkan banyak non pribumi selain bisa memiliki tanah hak adat walaupun diperoleh dengan cara-cara tertentu, karena pada kenyataannya tanah hak adat tidak dipasarkan dengan bebas dan tidak diperjual belikan.
Sehubungan dengan hal tersebut di atas, Boedi Harsono dalam hal ini mengartikan bahwa hukum tanah adat berkonsepsi Komunalistik, yang mewujudkan semangat gotong royong, kekeluargaan dan diliputi suasana religius. Tanah merupakan tanah bersama kelompok territorial dan genealogic. Sehingga hak-hak perseorangan terhadap tanah secara langsung atau tidak langsung bersumber pada tanah bersama. Hukum tanah adat yang mengandung unsur kebersamaan tersebut dikenal dengan hak ulayat. Ketentuan ini masih berlangsung disebagian wilayah di Indonesia terutama di pedesaan.75
Ketentuan yang sangat dominan dalam pelaksanaan peralihan hak atas tanah tersebut adalah PP Nomor 24 Tahun 1997 tentang pendaftaran tanah, yang didukung dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Agraria RI Nomor 3 Tahun 1997 tentang Peraturan Pelaksanaan PP Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah sebagai pelaksanaan dari Undang-Undang Pokok Agraria.
Peraturan tersebut secara singkat menerangkan bahwa setiap perjanjian yang bermaksud memindahkan hak atas tanah memberikan sesuatu hak baru atas tanah, menggadaikan tanah atau meminjam uang dengan hak atas tanah sebagai tanggungan
74Boedi Harsono,Opcithal 105-106 75Ibid
harus dibuktikan dengan suatu akta yang dibuat oleh dan dihadapan PPAT, dimana akta tersebut dapat berfungsi sebagai alat pembuktian untuk melakukan pendaftaran hak atas kepemilkan tanah pada kantor pertanahan.
Seperti yang telah disebutkan penulis dalam bab sebelumnya bahwa Pasal 37 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah yang menyebutkan “peralihan hak atas tanah melalui jual – beli, sewa menyewa, hibah, pemasukan dalam perusahaan dan perbuatan hukum pemindahan hak lainnya, hanya dapat didaftarkan jika dapat dibuktikan dengan akta yang dibuat PPAT yang berwenang sesuai ketentuan yang berlaku”. Dari pasal – pasal tersebut diatas dapat dikatakan bahwa pada prinsipnya segala bentuk mutasi hak dan sebagainya harus melalui seorang PPAT.
Dalam hal ini J Kartini Soedjendro menyatakan bahwa sistem pertanggung jawaban petugas PPAT lebih terarah pada pejabat umum dan bersifat administrasi saja artinya dalam hal ini dia hanya merupakan pejabat Agraria yang membantu Menteri Agraria membuat akta dalam hal pemindahan hak atas tanah, pemberian suatu hak baru atas tanah, penggadaian tanah dan pemberian hak tanggungan atas tanah76PPAT juga sebagai pelaksana tugas diantaranya membantu mengisi formulir permohonan izin pemindahan hak atas tanah dan mengirimkannya kepada instansi Agraria yang berwenang kemudian membantu membuat surat permohonan penegasan
76 J.Kartini Soejindro, Perjanjian Hak atas Tanah yang berpotensi konflik, Kanisius, Yogyakarta 2001 halaman 16
konversi hak – hak adat di Indonesia atas tanah dan pendaftaran hak – hak berkas konversi.
Berdasarkan hasil penelitian, secara umum di Sidikalang khususnya Kelurahan Batang Beruh dan Kelurahan Sidiangkat eksistensi masyarakat adat Pakpak masih diakui keberadaannya dan memiliki peranan ditengah-tengah masyarakat. Salah satu peranan yang dilakukan oleh Lembaga Adat Sulang Silima masyarakat Pakpak adalah yang berkaitan dengan pertanahan di Sidikalang.
Dulunya kepala adat di Tanah Pakpak disebut dengan Pertaki atau Kappung (Kepala Kampung) yang menjadi pimpinan dan penanggung jawab dari suatu Lebbuh atau Kuta dengan Sulang Silima sebagai pelaksana tugasnya, seiring perkembangan zaman dan perkembangan di daerah istilah Pertaki ini perlahan-lahan menghilang keberadaannya dan Sulang Silima yang dianggap sebagai ketua adatnya. Lambat laun Sulang Silima yang tadinya terdiri dari 5 (lima) unsur yaitu : Perisang-Isang (anak paling besar), Pertulang Tengah (anak tengah), Perekur-Ekur (anak paling kecil), Perpunya Ndiadep (anak perempuan), dan Perbetekken (satu marga), juga mengalami perubahan. Sulang silima yang dikenal sekarang adalah Sulang Silima yang terdiri dari anggota marga-marga (Pakpak).
Saat ini istilah Pertaki atau Kappung tidak dipergunakan lagi tetapi sudah berganti menjadi Kepala Desa sesuai dengan yang diatur oleh Pemerintah dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah. Dulunya Pertaki menjadi penguasa penuh dalam pelaksanaan hukum adat terutama yang berkaitan dengan pertanahan, setelah Pertaki atau Kappung tidak dikenal lagi maka
yang berpengaruh saat ini khususnya soal pertanahan adalah Lembaga Adat Sulang Silima Marga.
Sulang Silima merupakan sumber hukum adat tertinggi dalam masyarkat Pakpak dan menjadi penentu serta pembuat keputusan yang berkaitan dengan pertanahan, hukum pewarisan, hukum perkawinan, dan juga mengatur tentang kekerabatan pada masyarakat pakpak, di mana dalam pelaksanaannya di luar dari kelima unsur yang ada dalam Sulang Silima diangkatlah satu orang dengan marga yang sama sebagai kepala adat, fungsi kepala adat disini hanyalah sebagai perantara masyarakat dengan kelima unsur Sulang Silima, kepala adat di sini tidak berhak unutuk mengambil keputusan dalam pelaksanaan adat, kepala adat ini hanya berfungsi dengan baik pada saat acara-acara adat saja, sedangkan peranan Sulang Silima sama dengan peranan Pertaki atau Kappung (Kepala Kappung) sebelumya. Kelima unsur yang ada di Lembaga Adat Sulang Silima bukan satu ketetapan yang mana isi dari kelima unsur masih merupakan satu keluarga dari satu garis keturunan.
Adapun peranan Sulang Silima yang terlihat sekarang adalah bagaimana Lembaga Adat Sulang Silima Marga melestarikan warisan budaya dan adat istiadat nenek moyang masyarakat Pakpak. begitupun dalam melestarikan dan mengelola harta benda yang diwariskan oleh nenek moyang mayarakat Pakpak secara umum.
Dan berkaitan dengan pertanahan peranan Lembaga Adat Sulang Silima terlihat dengan terlibatnya Lembaga Adat Sulang Silima dalam peralihan hak atas tanah warisan, jual-beli, hibah, mengagunkan. Peranan tersebut adalah Lembaga Adat Sulang Silima memberikan pengesahan dan mengetahui kepada pihak-pihak lain yang
datang memohon agar tanah-tanah yang diperoleh mereka baik melalui warisan, hibah, jual-beli, mengagunkan memenuhi syarat administrasi yang sering menjadi kebiasaan pada masyarakat Pakpak di Sidikalang. Hal ini dikarenakan dulunya tanah- tanah yang mereka peroleh berasal dari tanah marga yang telah diserahkan oleh Lembaga Adat Sulang Silima, Pertaki ataupun yang diperoleh dikarenkan menguasai sebidang tanah tertentu dengan jangka waktu yang lama sehingga dengan demikian mereka mempunyai hak untuk memiliki sebidang tanah tersebut. Dan hal ini membutuhkan pengesahan dari Lembaga Adat Sulang Silima Marga.77
Dan untuk tanah-tanah marga yang masih belum dilakukan penyerahan ataupun beralih kepada pihak lain, maka apabila hendak dikeluarkan statusnya dari tanah marga untuk diserahkan kepada pihak lain harus mendapatkan persetujuan dari Lembaga Adat Sulang Silima. Penyerahan dari Lembaga Adat Sulang Silima Marga harus mendapatkan persetujuan dari seluruh pengurus Lembaga Adat Sulang Silima. Dan setelah mendapatkan persetujuan dari Lembaga Adat Sulang Silima maka Lembaga Adat Sulang Silima akan menerbitkan surat hak alas tanah yang biasanya dibuat dihadapan pejabat yang berwenang (Camat).78
Sulang Silima yang sekarang di kenal di Sidikalang dan masih diakui keberadaannya Lembaga Adat Sulang Silima yang dibentuk dan anggotanya dipilih sendiri oleh para marganya. Walaupun Sulang Silima ini menjadi satu kesatuan, tetapi
77Hasil Wawancaradengan Raja Ardin Ujung Ketua Lembaga Adat Sulang Silima Marga Ujung Tanggal 24 Mei 2013
78Hasil Wawancaradengan Raja Ardin Ujung Ketua Lembaga Adat Sulang Silima Marga Ujung Tanggal 24 Mei 2013
dalam pembentukannya juga masih berdasarkan kelima unsur yang diharuskan tetapi sudah menjadi satu kesatuan bukan lagi berdasarkan keturunan keluarga satu Empungnya (Kakek).
Masih diketahui keberadaannya sebagai salah satu kelompok masyarakat yang mempraktekkan adat sebagai sebuah peranan Lembaga Adat Sulang Silima dalam kehidupan masyarakat sangat penting. Eksistensi pemangku dan pengkuan masyarakat bahwa Lembaga Adat Sulang Silima masih dihormati sebagai pemangku wilayah khususnya tanah marga, menyebabkan Lembaga Adat Sulang Silima Marga terlibat aktif dan pasif dalam kaitannya dengan pertanahan di Kecamatan Sidikalang.