Yang Mengutamakan Keinginan Allah
1. Keyakinan kepada Allah SWT
Yakin pada Allah merupakan paling tingginya derajat kekayaan. Karena, jika manusia yakin pada rahmat, luthf, akan terkabulnya permohonannya. kemahapemberian rizki, belas kasih, kepenyayangan, rahmat yang terus menerus bersam bung tanpa putus, khazanah rahmat yang tidak pernah habis terkuras dan seringnya Allah memberi yang hanya berarti tambahan kemahadermawanan-Nya, maka dia tidak akan pernah merasa fakir dan tersiksa selamanya.
Seseorang pasti akan merasakan kefakiran jika ia tidak mempunyai keyakinan ini atau jika keimanannya kepada Allah belum sampai pada batas ini. Sebab, keyakinan kepada Allah merupakan peringkat keimanan paling tinggi dan pemberian Allah paling agung yang dianugrahkan kepada hamba-hamba- Nya. la adalah kunci kekayaan. Amirul
Mukminin Ali as berkata: "Kunci kekayaan adalah keyakinan". Dan tak ada lagi kekayaan melebihi keyakinan ini.
Imam Al-Bâqir as berkata: "Cukuplah keyakinan seba gai kekayaan dan ibadah sebagai kesibukan"
2. Ketakwaan
Ketakwaan merupakan bagian penting dari faktor penye bab kekayaan. Karena, jika manusia melaksanakan ketentuan-ketentuan Allah SWT dan berpegang teguh kepadanya, maka Allah akan memberikan perasaan kaya dalam jiwanya dan menjauhkannya kefakiran jiwa.
Rasulullah SAWW bersabda: "Cukuplah ketakwaan seba gai kekayaan.
Imam Al-Bâqir as berkata: "Wahai Jabir, orang-orang yang bertakwa adalah orang-orang yang kaya. Mereka dikaya kan dengan sedikit harta dan tuntutan hidup mereka seder hana. Jika kamu lupa kebaikan, mereka akan mengingatkanmu dan jika kamu mau melakukan kebaikan mereka akan membantumu. Mereka mengakhirkan syahwat dan mendahulukan keta atan kepada Allah"
Imam Ash-Shâdiq as berkata: "Barang siapa yang di keluarkan oleh Allah dari kehinaan maksiat menuju kemu liaan takwa, maka berarti Allah telah mengayakannya tanpa harta benda, memuliakannya tanpa keluarga dan menemani nya tanpa teman"
Nash ini sangat jelas dan menukik dalam menerangkan arti kekayaan jiwa yang bisa terjadi tanpa harta. Sebagaimana manusia bisa dimuliakan Allah tanpa keluarga dan dihilangkan keterasingannya tanpa teman.
Ketakwaan adalah sumber kekayaan, kemuliaan dan ke akraban (uns) dalam jiwa manusia. Karena, orang yang ber takwa kepada Allah dan melaksanakan perintah- perintah-Nya dan hukum-hukumNya, maka berarti Allah telah mengayakan jiwanya dan menjauhkan kefakiran, kehinaan dan keterasingan (wahsyah atau alienasi) dari jiwanya. Dalam sebuah hadis qudsi disebutkan yang intinya: "Ti daklah seorang hamba mengutamakan keinginan-Ku di atas keinginannya (nafsunya), kecuali Aku akanjadikan kekayaan nya dalam jiwanya"
Penentangan hawa nafsu adalah penerjemahan yang pasif dari ketakwaan, sedangkan penerjemahan yang aktifnya adalah melakukan hukum-hukum Allah SWT
3. Kesadaran
Jika keyakinan dan ketakwaan adalah dua kunci keka yaan, maka kesadaran adalah merupakan kunci yang membuka jalan kepada keyakinan dan ketaqwaan.
Manusia tidak bakalan meninggalkan kesadaran dan ke takwaaan kecuali akibat dari kebodohan dan ketiadan kesa daran. Dan kesadaran yang dimaksud di sini ialah keberakalan atau inteleksi (ta'aqqul).
Banyak nash yang menegaskan pengertian di atas. Imam Ali as berkata: "Tiada kekayaan (yang lebih agung) daripada akal"
Imam Ali as juga pernah berkata: "Paling kayanya keka yaan adalah akal"
Beliau juga pernah berkata demikian: "Kekayaan orang yang berakal dengan ilmunya dan kekayaan orang bodoh (jahil) dengan hartanya"
Imam Musa Al-Kâzhim as dalam sebuah ucapannya yang populer kepada Hisyam berkata: "Wahai Hisyam! Siapa yang menginginkan kekayaan tanpa harta, ketentraman hati dari sifat dengki, dan keselamatan dalam agama, maka dia harus tunduk patuh kepada Allah SWT dalarn perkara-Nya dan agar menyempurnakan akalnya"
Pengaruh-pengaruh Kekayaan Jiwa dalam Kehidupan Manusia
Kekayaan jiwa mempunyai beragam keuntungan yang besar dalam kehidupan manusia. Orang yang telah dikayakan jiwanya oleh Allah, akan selalu merasa berhubungan dengan- Nya dan bersama-Nya.
Dia selalu percaya akan dawamnya pertolongan dan ban tuan Allah. Karena, Allah tidak pernah berpisah darinya atau memberatkannya kapanpun juga. Maka dalam lubuk jiwanya, dia akan merasakan kepercayaan yang mutlak, kedamaian, keteguhan, kemantapan dan kesenangan kalbu dan dhamîr.
Dia tidak akan pernah dihinggapi penyakit ambisius, deng ki, rakus, atau gelisah. Karena, semua sifat ini merupakan sifat-sifat kefakiran jiwa, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam hadis Imam Al-Kâzhim as di atas.
Imam Ash-Shâdiq as berkata: "Sekaya-kayanya orang adalah yang tidak menjadi tawanan kerakusannya"
Imam Ali as berkata: "Paling mulianya kekayaan adalah meninggalkan angan-angan"
Amirul Mukminin Ali as juga pernah berkata: "Keka yaan yang paling besar adalah keputusasaan akan segala yang ada di tangan manusia.
Harta yang tidak melahirkan kekayaan jiwa adalah sum ber kegelisahan dan ketersiksaan manusia. Malahan, ia akan menambah kerakusan, kegelisahan dan ketersiksaannya. Allah SWT berfirman: "Sesunguhnya Allah menghendaki dengan (rnemberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir.." Q.S. At- Taubah:55.
Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya Allah menghen daki akan mengazab mereka di dunia dengan harta dan anak-anak itu dan agar melayang nyawa mereka, dalam keadaan kafir..." Q.S. At-Taubah:85.
II. Langit dan Bumi Menjamin Ui/.kinya
Ini adalah bagian kedua dari balasan orang-orang yang mendahulukan keinginan Allah di atas keinginan dirinya dan menjadikan hukum dan kehendak Allah di atas berbagai keingi nan dan nafsu pribadinya.
Orang-orang yang demikian itu akan diganjar oleh Allah SWT sebagai berikut:
Pertama, Allah akan menjadikan kekayaannya dalam jiwanya, sebagaimana yang telah saya jelaskan secara terperinci pada pembahasan yang lalu.
Kedua, langit dan bumi akan menjamin rizkinya. Seba gaimana yang akan saya jelaskan dibawah ini. Kami tidak perlu menjelaskan bahwa butir ini tidak berarti bahwa manusia dapat berlepas tangan untuk mencari rizki, tapi maksudnya adalah bahwa Allah akan memberinya taufiq (kemudahan atau akomo dasi) dalam usaha dan harkatnya.
Taufiq (akomodasi)
Taufiq ini adalah maksud dari jaminan langit dan bumi yang diberikan Allah kepada manusia. Betapa banyak usaha manusia yang hilang sia-sia dan tidak membuahkan hasil. Ter kadang bertahun-tahun usia seorang dihabiskan dalam upaya yang terus menerus, tapi dia tidak menggapai apa yang dike hendakinya. Dan betapa banyak pekerjaan yang kecil dan usaha yang sederhana, tapi membuahkan hasil yang baik dan ber kah. Yang pertama adalah gambaran "jeleknya taufiq" dan yang kedua adalah gambaran "baiknya taufiq". Sedangkan Allahlah pemilik (wali) segala taufiq.
Jaminan yang diberikan langit dan bumi melalui perintah Allah SWT itu kepada rizki sang mukmin sebab dia mendahu lukan keinginan Allah SWT atas keinginan dirinya itulah yang disebut taufiq. Taufiq bermakna bahwa Allah menjadikan usa ha dan gerak- geriknya pada tempat yang bermanfaat. Seperti curahan hujan yang mengenai tanah yang subur dan gemuk.
Betapa banyak air hujan yang turun ke bumi tanpa bisa menumbuhkan dan menghasilkan apa-apa. Namun, sebaliknya, betapa banyak gerimis yang mengenai tanah yang subur dan dalam cuaca yang baik dapat menghasilkan kebaikan yang banyak dan menyuburkan bumi. Inilah gambaran taufiq. la adalah suatu perkara yang tidak berhubungan dengan usaha dan gerak-gerik manusia (secara langsung), meski dia sedikit memiliki "andil" di dalamnya. Karena sebab-sebab taufiq yang misterius dan tak dapat dicapai manusia jauh lebih banyak daripada yang dimilikinya dan, tentunya, kesemuanya ada di tangan Allah SWT. Maka, jika Allah telah memudahkan (mem beri taufiq) hamba-Nya, maka hidup, usaha dan pekerjaannya pun akan menjadi berkah. Sebagaimana yang difirmankan Allah
melalui lisan Maryam as: "Dan Dia menjadikan aku seo rang yang diberkati di mana saja aku berada ". Q.S. Maryam: 31.
Selagi seorang tidak diberi taufiq oleh Allah SWT, dan Allah tidak menghendaki kebaikan baginya, maka pasti dia tidak akan mendapatkan "sebab-sebab kebaikan" dari upa yanya dan akalnya kecuali sedikit sekali.
Dalam sebuah hadis disebutkan: "Tidak akan berguna ketekunan usaha tanpa taufiq" Jika Allah menghendaki suatu kebaikan kepada seorang hamba dan memberinya taufiq, maka berarti Allah meletakkan usahanya di tempat "sebab-sebab kesuksesan dan keuntungan" yang pada akhirnya segala upaya manusia itu akan membuah kan hasil. Amirul Mukminin Ali as berkata: "Sebaik-baiknya kete kunan (usaha) adalah yang disertai dengan taufiq"
Ada sebuah hadis yang berbunyi demikian: "Taufiq ada lah paling utamanya dua 'keberuntungan’”
Penjelasannya demikian. Keberuntungan pertama -yang sangat tidak berarti- adalah yang didapat manusia melalui sebab-sebab kebahagiaan dan kebaikan akibat ketekunan usa ha, hasil pemikiran dan berbagai potensi yang telah diberikan Allah kepadanya. Sedangkan keberuntungan lainnya ialah bahwa Allah memberikan hidayah padanya untuk sesuatu yang tidak diketahumya atau tidak terjangkau olehnya dari sebab- sebab yang akan mengantarkannya kepada kebaikan. Kemu dian, Allah meletakkannya di terapat sebab- sehab kebahagian dan kebaikan. Inilah keberuntungan kedua sebagaimana yang disinggung dalam hadis tersebut.
Tak diragukan lagi bahwa taufiq merupakan aksi ghayb (gaib) yang datang dari "dunia luar" yang meletakkan manusia di tempat-tempat dan sebab-sebab kebaikan. Taufiq tidak sama dengan potensi-potensi intelektual yang bersifat htri dan daya yang telah dianugrahkan Allah pada jiwa manusia. Karena potensi-potensi itu secara berdiri sendiri tidak akan mampu menggiring dan mengarahkan manusia kepada sebab-sebab kebaikan atau menjauhkannya dari sebab-sebab kejahatan.
Apabila Allah telah menghendaki bagi seorang hamba suatu kebaikan, maka Allah akan menolongnya dengan menata keseriusannya (usahanya) dan meletakkan potensi- potensinya di tempat-tempat yang menyebabkan datangnya kebaikan. Ha dis berikut ini secara tepat menjelaskan hakikat tersebut.
Diriwayatkan bahwa ada seorang lelaki bertanya kepa da Imam Ash-Shâdiq as: "Wahai putra Rasulullah SAWW, bu kankah aku mampu melaksanakan sesuatu yang telah diti tahkan kepadaku?”
Dia menjawab: "Kekuatan untuk bertindak?”
Beliau berkata: "Kamu bisa memilikinya kalau pertolo ngan (ma'ûnah) diberikan kepadamu!"
"Apakah ma'unah itu?", Tanyanya lagi. Beliau menjawab: "Taufiq!"
Dia menyoal lagi: "Mengapa harus diberikan taufiq?”
Imam menjawab: "Apakah dengan kekuatan itu belaka kamu mampu menangkis mara bahaya dan mengambil manfaat tanpa pertolongan Allah SWT?”
Lelaki itu menjawab:"Tidak!"
Kemudian beliau berkata: "Kalau demikian, mengapa ka mu menganggap bisa (melakukan sesuatu) yang kamu tidak mampu atasnya?"
Kemudian beliau melanjutkan: "Bagaimana sikapmu atas suatu pernyataan hamba yang saleh berikut ini: "Dan tiada taufig bagiku melainkan dengan Allah..." Q.S. Hûd: Riwayat ini mengklasifikasikan kemampuan yang aktif dan efektif dalam kehidupan manusia itu dalam tiga kelompok berikut ini:
1. Hukum-hukum natural dan sosial (sunnatullah) yang mengarahkan manusia menuju kebaikan atau kejelekan.
2. Berbagai kemampuan yang telah diletakkan Allah pada manusia dan digunakannya untuk merealisasikan sebab-sebab kebaikan atau kejelekan di alam dan masyarakat. 3. Taufiq dan pertolongan Ilahi yang dengannya Dia me nunjukkan para hamba-Nya sebab-sebab kebaikan yang tidak tampak bagi mereka dan menolong mereka agar memperoleh semuanya.
Al-Karâjikî dalam kitabnya Al-Kanz, meriwayatkan uca pan Imam Ash-Shâdiq as sebagai berikut: "Tidak semua orang yang berniat pada sesuatu mampu (melaksanakannya). Tidak semua orang yang mampu (melaksanakan) sesuatu mendapat taufiq untuknya. Dan tidak semua orangyang mendapat taufiq, bisa mencapai tujuan. Karenanya, bila niat, kemampuan (qud rah), taufiq dan ketepatan tujuan (ishâbah) telah berkumpul, maka sempurnalah kebahagiaan seseorang"
Taufiq ialah salah satu pintu yang lebar untuk mengenal Allah. Ada tiga pintu manusia untuk mendapat hidayat me ngenal Allah:
B. Akal (Baca: bukti-bukti rasional)