• Tidak ada hasil yang ditemukan

LANDASAN TEORI

F. Khalifah Ali ibn Abi Thalib

Kata khalifah disebutkan di dalam al-Quran sekitar dua puluh dua kali. Di antaranya dua kalindalam suratnal-Baqarah ayatn30 dannsurat as-Shad ayatm26. Dalamnbentuk pluralnseperti khala`if disebut empat kali (Q.S. Al-An’am ayatn165, Q.S Yunusnayat 14ndan 73, Q.S. Fathirnayat 39). Khulafa` disebut sebanyak tiga kali (Q.S. Al-A’raf ayat 69 dan 74, Q.S. Al-Naml ayat 62). Masing-masing kata memiliki makna yang berbeda dengan yang lainnya.374 Kata khalifah berasal dari bahasa Arab, khalafa yang berarti di belakang. Dan bahkan kata khalifah itu sendiri diartikan sebagai pengganti.375 Mengutip Raghib Isfahani, bahwa kata pengganti di sini bukanlah sebagai penerus kenabian, melainkan meneruskan kepemimpinan Islam

374M. Quraish Shihab, Membumikan Alquran: Fungsi dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan

Masyarakat (Bandung: Mizan, 2004), h. 157.

375M. Quraish Shihab, Secercah Cahaya Ilahi: Hidup Bersama Alquran (Jakarta: Mizan, 2013), h. 65.

yang ditinggalkan oleh nabi Muhammad. Karena adanya ketakutan yang dialami oleh para sahabat pada waktu itu akan terjadi kekacauan jika umat Islam tidak ada pemimpin. Dan jelas ketika Abu Bakar menjadi khalifah, banya orang-orang yang murtad, tidak mau membayar zakat dan mengaku sebagai nabi. Ini merupakan sebuah kekacauan yang pada akhirnya dapat diatasi oleh Abu Bakar.376

Berdasarkan penafsiran ayat-ayat seputar masalah khalifah pengertiannya bisa disimpulkan sebagai berikut: Pertama, para khalifah adalah wakil atau pengganti Allah swt. di muka bumi. Sebab itu, para khalifah harus menjadikan kehendak (hukum-hukum) Allah sebagai dasar bagi pemerintahannya. Kedua, ayat-ayat al-Quran memberikan isyarat bahwankekhalifahan terdirinatas wewenang yang dianugerahkannnAllah swt., makhluknyang diserahkan tugas,ndan wilayahntempat bertugas. Ketiga, para khalifah memiliki sejumlah kompetensi sebelum mengemban amanah sebagai pemimpin. Keempat, seorang khalifah memiliki potensi untuk berbuat keliru, bahkan bisa melakukan kekeliruan akibat mengikuti hawa nafsu. Nabi Adam dan Nabi Daud diberi peringatan oleh Allah swt. agar mereka tidak mengikuti hawa nafsu.377

Seorang khalifah merupakan pengganti kepemimpinan nabi, tetapi bukan sebagai seorang nabi, melainkan sebagai penerus kepeimpinan nabi. Fungsi dari seorang khalifah ialah sebagai kepala negara ang mengurusi pemerintahan dan urusan keagamaan.378 Orang yang pertama kali menyandang gelar khalifah ialah Abu Bakar. Institusi politik bernama khilafah ini muncul sejak terpilihnyanAbu Bakar sebagainpemimpin umat Islam menggantikannNabi Muhammadnsehari setelah kewafatannya. Berturut-turut,nsetelah Abu Bakar kemudian kekhalifahan ini diteruskan oleh Umar IbnaKhattab, Usman ibnnAffan, dan terakhir Alinibn Abu Thalib. Ada dua masalah pokok dalam mengangkat seorang khalifah, di antaranya:

1. Ketidakjelasan prosedur pengangkatan seorang khalifah. Karena nabi tidak pernah memberikan penjelasan kriteria calon pemimpin setelahnya.

376Shihab, Membumikan, h. 157.

377Ja’far, Dialog Agama Dalam Berbagai Perspektif, jilid 3 (Banda Aceh: Pena, 2013), h. 48-50.

2. Setiap pengganti nabi Muhammad dalam memimpin umat Islam memiliki wewenang dalam memimpin umat.379

Kedua pengertian ini dikaitkan dengan kekuasaan atau pemerintahan yang dipimpinnya. Abu Bakar terpilih secara aklamasi di Tsaqifah bani Saidah sebuah balai pertemuan di Madinah. Umar Ibn Khattab ditunjuk langsung secara tunggal oleh Abu Bakar. Sedang Usmanndipilih melalui “Dewan Syura”, yangndibentuk oleh Umar ibn Khattab. Khalifah Ali sendiri dipilih oleh sekelompok orang Mesir, orang Kufah dan orang-orang Bashrah yang saat itu berada di Madinah pasca terbunuhnya Usman.

Dengan sistem pemilihan yang berbeda-beda untuk setiap khalifah, menunjukkan bahwa Khalifah Ali adalah pemimpin atau khalifah yang dipilih secara syah. Khalifah Ali menjadi bagian yang utuh dari al-Khalifah al-Rasyidin merujuk pada pemerintahan awal pasca wafatnya Rasulullah saw. Dengan demikian, beliau memiliki wewenang sebagai pengganti Rasulullah saw. dalam pemerintahan Islam awal. Sama seperti khalifah-khalifah sebelumnya, Khalifah Ali memiliki legalitas kekuasaan dan kepemimpinan dalam menjalankan pemerintahan Islam di masa itu. G. Kajian Penelitian Terdahulu

Penelitian terbaru tentang komunikasi politik dan berkaitan dengan politik kekinian penulis akses dari dua buku terbitan tahun 2014 dari Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI), yang bertemakan tentang: Masa Depan Komunikasi, Masa Depan Indonesia. Buku tersebut berjudul Transformasi Komunikasi Politik dan

Demokratisasi Masyarakat Plural. Buku ini merupakan kumpulan hasil penelitian

dari ahli komunikasi yang terhimpun dalam ISKI.

Muhammad Aras dalam penelitiannya mengenai “FenomenanKomunikasi Politik,nMedia Massa,ndan LembaganPolitik di Indonesia”,nmenjelaskan bagaimana saling ketergantungan antara media massa dan lembaga politik dalam melakukan komunikasi politik. Berdasarkannhasil analisisndan diskusi yangntelah dikemukakan dalamnkajian ini, maka hasil dalam penelitian ditemukan bahwa proses komunikasi politik yang dilakukan politisi, aktivis atau pegiat politik dan lainnya sangat membutuhkan peranan media massa. Peranan itu berupa mensosialisasikan dan

melancarkan program kerja mereka demi kepentingan rakyat dan bukan kepentingan pribadi masing-masing. Demikian pula sebaliknya, media massa juga membutuhkan komunikator politik, orang, organisasi atau lembaga politik tersebut untuk kepentingan agenda media massa. Oleh karena itu, antara politikus, aktivis atau pegiat politik dan lembaga politik lainnya dengan media massa saling ketergantungan satu sama lain. Tentunya kesemua itu dilakukan berdasarkan aspirasi, kepentingan dan kesejahteraan rakyat dan negara.380

“Komunikasi Politik dan Media Massa: Pergulatan Pemerintah dan Terorisme dalam Berita Televisi”, merupakan penelitian dari Dicky Andika. Kesimpulan yang diambil peneliti adalah: Penelitian ini mengkaji bagaimana Metro TV yang mengambil sudut pandang berbeda tentang pemberitaan terorisme. Pemberitaan ini kadang melenceng dari pembahasan dan berbeda. Semacam adanya rasa ketidaksukaan terhadap umat Islam sehingga yang muncul dalam pemberitaan selalu berita yang menyudutkan umat Islam. 381

Umaimah Wahid meneliti tentang “Diskursus PolitiknUndang-Undang Pilkadan2014 AnalisisnHegemoni CounternHegemoni antaranPolitical Societyndan

CivilnSociety atasnHak PolitiknRakyat dalamnProses PolitiknIndonesia”. Peneliti berkesimpulan bahwa perdebatan RUU Pilkada telah melibatkan KoalisinMerah Putih dannKoalisi IndonesianHebat dalamnkoalisi politik yang mengarah kepada perdebatan kelompok masyarakat politik seperti politisi, para profesional dan aktivis politik. Dalam konteks perang opini, Media berhasil memenangkan opini publik menyangkut pentingnya pilkada langsung. Namun dalam realitas politik di parlemen, Media masih gagal membuat keputusan yang sesuai keinginan publik. Masyarakat politik sipil berupaya menggunakan Media, sosial media dan new

media sebagai alat kampanye dan propaganda untuk mengkonstruksi kepentingan

politik. Kekuatan politik praktis harus diperjuangkan, namun alasan perjuangan menjadi penting karena akan memberikan kekuatan dalam berindak. Dasar

380Muhammad Aras, “Fenomena Komunikasi Politik, Media Massa, dan Lembaga Politik di Indonesia”, dalam Irwansyah (ed), Transformasi Komunikasi Politik (Jakarta: ISKI, 2014), h. 214-235.

381Dicky Andika, “Komunikasi Politik dan Media Massa: Pergulatan Pemerintah dan Terorisme dalam Media Berita Televisi”, dalam Irwansyah (ed), Transformasi Komunikasi Politik (Jakarta: ISKI, 2014), h. 261-273.

perjuangan adalah mencapai kekuatan hegemoni yang mensejahterakan dan diperjuangkan dengan landasan moral dan intelektual, sehingga perjuangan dilakukan dengan lemah lembut dan bukan dengan revolusi. Dalam proses perjuangan yang dilakukan secara bersama-sama inilah diharapkan pertukaran posisi berlangsung.382

Komunikasi,nbudaya politikndalam praktikndemokrasi dinIndonesia”, merupakan penelitian dari AgusmAprianti. Penelitian ini menemukan bahwa diskusi melalui focus group discussion menghasilkan komunikasi dan budaya politik, erat kaitannya dengan pada praktik demokrasi di Indonesia. Hal itu disebabkan adanya suatu tujuan kelompok politik atau partai politik yang pada akhirnya turut memengaruhi praktek demokrasi di Indonesia. Media massa memiliki peran penting dalam praktik demokrasi di Indonesia. Secara sadar media menggiring masyarakat untuk bebas berpendapat dan menentukan pilihan, akan tetapi pada praktik demokrasi di Indonesia menekankan pada budaya politik kaula, di mana masyarakat tidak memiliki kekuatan dalam menentukan kebijakan dalam pemerintahan.383

Penelitian lain adalah “Polical Marketing, Money Politic dan Hegemony pada Pilpres 2014” diangkat oleh Ulviah Muallivah. Penelitian ini menunjukkan bahwa sehebat apa pun penerapan political marketing yang dilakukan oleh para capres, akan berakhir dengan sia-sia karena adanya praktik money politic yang melibatkan penyelenggara pemilu dan aparat pemerintah serta hegemonisasi penguasa. Rekomendasi dari penelitian adalah untuk pileg 2019 akan datang. Kerabat dekat penguasa daerah (gubernur/bupati/walikota) diharapkan tidak ikut sebagai peserta pileg untuk menjaga tegaknya demokrasi di Indonesia. Untuk menghasilkan data yang akurat, hasil penghitungan suara oleh KPU dikomparasi dengan hasil intelijen

382Umaimah Wahid, “Diskursus Politik Undang-Undang Pilkada 2014 Analisis Hegemoni

Counter Hegemoni antara Political Society dan Civil Society atas Hak Politik Rakyat dalam Proses

Politik Indonesia”, dalam Irwansyah (ed), Transformasi Komunikasi Politik (Jakarta: ISKI, 2014), h. 1-26.

383Agus Aprianti, “Komunikasi, Budaya Politik dalam Praktik Demokrasi di Indonesia”, dalam Irwansyah (ed), Demokrasi Masyarakat Plural (Jakarta: ISKI, 2014), h. 35-49.

TNI dan kepolisian sehingga kecurangan yang terstruktur, sistematis dan massif dapat dieliminasi.384

Ramon Kaban dan Suwan Sumartias melakukan penelitian mengenai “OptimalisasinKomunikasi PolitiknAnggota DPRDnProvinsi SumateranUtara MelaluinPemanfaatan TeknologinInformasi dannKomunikasi”. Persoalan umum yang dihadapi politisi adalah belum optimalnya mereka dalam menjalankan tugas dan fungsi. Di lain pihak citra atau reputasi lembaga DPR atau DPRD masih dipandang negatif oleh masyarakat luas dan atau media massa. Berbagai kasus terungkapnya politisi bermasalah dengan tindakan melanggar hukum dan etika, seringkali dinilai dengan predikat 4D (datang, duduk, diam duit). Masyarakat menilai lembaga DPR atau DPRD menjadi kumpulan manusia yang kerap melupakan fungsinya sebagai wakil rakyat.

Meskipun sama-sama menekankan pada matra komunikasi politik, penelitian terdahulu tak memiliki efek langsung untuk diterapkan pada penelitian yang sedang dikaji ini. Substansi kedua penelitian ini sangat jauh berbeda. Kebanyakan hasil penelitian terdahulu yang dipaparkan di atas lebih banyak fokus pada persoalan politik praktis kekinian, seperti pemilihan kepala daerah, pemilihan umum legislatif, kampanye pemilu, pemasaran politik, money politic dan fungsi media massa.

Sementara, pada penelitian ini mengangkat persoalan Khalifah Ali ibn Abi Thalib dengan perspektif komunikasi politik yang lebih menitikberatkan pada bentuk-bentuk komunikasi politik:, retorika, dan lobi.

Tegasnya, dalam penelitian ini titik berat yang dikaji terletak pada bentuk komunikasi politik yang dijalankan Khalifah Alinibn AbunThalib dalam pemerintahannya, kebijakan politik yang dijalankan Khalifah Alinibn AbunThalib dalam pemerintahannya, ideologi politik yang dijalankan Khalifah Ali ibn Abi Thalib dalam pemerintahannya. Serta menganalisa pidato-pidato dan surat-surat yang berkaitan dengan kebijakan-kebijakan pemerintahan semasa Khalifah Ali ibn Abi Thalib.

384Ulviah Muallivah, “Polical Marketing, Money Politic dan Hegemony pada Pilpres 2014”, dalam Irwansyah (ed), Demokratisasi Masyarakat Plural(Jakarta: ISKI, 2014), h. 176-189.

BAB III