METODOLOGI PENELITIAN
E. Teknik Analisis Data
Menganalisisasuatu data agar dapat tersusun secara sistematis, untuk menghubungkan suatu informasi pada saat melakukan melakukan proses analisis itu, peneliti mencari pola dan hubungan di antara data yang telah terkumpul. Untuk melakukan analisis, peneliti menghubungkan data tertentu dengan konsep, dan kemudian mengidentifikasi suatu tema agar menjadi lebih terperinci. Analisis
memungkinkan peneliti meningkatkan pemahaman, mengembangkan teori, dan memajukan pengetahuan.401 Sedangkan menurut Patton bahwadanalisis data merupakan sebuah prosesvmengatur suatu data, mengorganisasikannya keddalam suatudpola, kategori,ddan satuanduraian dasar.402 Hampir semua penelitian pustakakmenggunakan metode verstehen sebagai suatu langkahddalam menganalisis datadyang dihimpun, baik datadverbal,dyang sifatnya deskriptif dalam suatu uraian kalimat yang panjang. Kendatifdemikian, ruang lingkup penelitian yang dilakukan secara verbal dan non-verbal sudah ditentukan objeknya.403
Analisis verstehen dilakukan untuk menangkap inti atau esensi yang terkandung di dalam verbal kebahasaan.404 Jadi, setelah langkah di atas dilakukan, penulis menganalisa data secara deskiptif dan analitik dengan menggunakan teknik (metode) verstehen atau pemahaman. Objek penelitian yang berupa kehidupan sosial atau kejiwaan manusia, sistem nilai serta simbol-simbol kebudayaan, tidak mungkin ditangkap dan dipahami hanya secara parsial. Esensi yang akan dipersepsi oleh peneliti adalah berupa makna yang sifatnya nonempiris, holistis dan tidak dapat secara langsung ditangkap oleh indera manusia. Perangkat yang paling memadai untuk menganalisis fenomena seperti ini adalah dengan pendekatan verstehen. Pendekatan yang mencoba menghidupkan kembali nilai-nilai serta makna dengan memahami seluk-beluk kehidupan, pemikiran-pemikiran serta sistem nilai, di dalam pola pengalaman atas keseluruhan hidup manusia.
Pendekatan ini mengalami perkembangan sebagai suatu reaksidterhadap aliranfpositivisme yangfmengembangkan modeldpenelitian dengan menggunakan pendekatandkuantitatif. Dalam antropologi budaya, Margaret Mead seorang antropolog terkenal, mengembangkan pendekatan fenomenologis yang disebut sebagai ‘symbolic interaction’ dan sekaligus mengembangkan metode verstehen. Pendekatan holistik, melalui teknik observasi-partisipasi merupakan pendekatan utama dalam menangkap makna yang terkandung dalam objek penelitian. Dalam
401Neuman, Metodologi, h. 559.
402Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kulitatif (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006), h. 103.
403Ibid., h. 81.
hubungan inilah Mead mengembangkan metodefverstehen dalamfmeneliti gejala-gejalafbudaya; baikfyang menyangkutfnilai-nilai, simbol-simboldserta perilaku manusiawdalam mengekspresikanwbudayanya.405
Katawverstehen, yang berasal dari bahasa Jerman, berarti pemahaman yang berempati (yakni, pemahaman mendalam dengan makna bersama).406 Verstehen merupakan cara dalam penelitian dalam memahami objekdpenelitian melalui ‘insight’,f‘einfuehlung’, sertadempati dalamfmenangkap dansmemahami makna-maknaddari nilai-nilaifkebudayaan manusia407 Weber dalam Neuman mengakui bahwa ilmu sosial harus mempelajari tindakan sosialddengan tujuanftertentu. Weber menganut pemahaman bahwa kitafharus mempelajari alasandatau motiffpribadi yang membentukfperasaan internalfseseorang, dan menuntun suatufkeputusan bertindak dalam cara-cara tertentu.408
Menurut Dilthey dalam Kaelan, pemahaman merupakan upaya untuk mengetahuidyang dialamifoleh orangflain lewatfsuatu tiruanfpengalamanfsendiri. Esensieverstehen adalahfmenghidupkan kembali pengalaman seseorangfsebagai objekfpenelitian, danddiproyeksikan sebagaifsubjek penelitian.fPemahaman tentunya lebih luas daripada mengetahui. Verstehen atau memahami merupakan sumber dasar, dan kepada sumber dasar tersebut peneliti (subjek) senantiasa harus kembali guna memeroleh kekuatan dan kepastian baru dalam penglihatan.409
Tahapan-tahapan yang dapat dilakukan dengan pendekatan verstehen adalah sebagai berikut:
1. Tahap pertama peneliti menangkap objekfmaterial yanggberupa datadempiris; baikdberupa kebudayaandmanusia, teks,dgejala-gejala sosialdatau psikologi. Misalnya datadempiris bahasa berupadsatuan frasa,fklausa, kalimatfsampai wacana.fTaraf permulaan ini baru melakukan semacam inventarisasi obek-objek data empiris yang merupakan semacam ‘simple ideas’. Tahap pertama ini menurut Ricoeur, memahami simbol-simbol (tahap simbolik).
405Ibid, h. 72.
406Neuman, Metodologi, h. 115. 407Kaelan, Metode Penelitian, h. 71. 408Neuman, Metodologi, h.115. 409Kaelan, Metode Penelitian, h. 72.
2. Datadyang sudah dinventarisir dan pemahaman terhadap suatu dimensi, unsur-unsur, serta ada kaitannya dengan sistem yang ada. Tahap ini disebutkan bahwa dalam meggali suatu informasi harus sesuai dengan makna yang terkdapat dalam objek penelitian. Misalnya objek gamelan serta tarian Pendet yang merupakan data kebudayaan di Bali, tidak hanya memiliki nilai seni belaka, melainkan juga mengandung unsur-unsur relasi dengan nilai-nilai relegius yang ada di masyarakat adat Bali.
3. Setelah ditemukandkandungan danvunsur-unsur yang terdapat di dalamnya, sertadmemiliki kaitannya dengandnilai-nilai yangdada, kemudianddilakukan pemahamandmelalui insight,deinfuehlung sertadakal budidmanusia. Pada tahapdinidRicoeur menyebutnya sebagai tahapdkehidupan simboldsecara esensialdfilosofis. Prosesdini dilakukanddengan menghubungkandobjek data tadiddengan pengetahuanddalam diridmanusia secaradholistis baikdmoral, relegius,destetis sertadnalar. Pada taraf ini hubungan antara pengetahuan dan objek data ada pada tingkat konstruktif.
Konsekwensi logis setelah dilakukannya analisis data dengan metode verstehen, maka analisis data berikutnya diikuti dengan menggunakan metode interpretasi.410 Dengan begitu, peneliti yang juga adalah interpretator hanya menyampaikan dan merumuskan tentang maknaryang terdapat dalamdrealitas. Artinya,dberupaya menyingkapfhal-hal yangdterselubung dalamdbahasa atau simboldlainnya sehinggafmaknanya menjadifterang danddapat dipahamidoleh manusia.dSecara sederhanadproses interpretasidadalah membuatdsuatu makna yangdterkandung dalamdrealitas sebagaidobjek penelitiandyang sukardditangkap danddipahami, sehinggadmenjadi dapatdditangkap danddipahami. Sesungguhnya, metode verstehen,sinterpretasi dan hermeneutika merupakan metode yang tak
dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya.411
Sebangun dengan teknik analisis data di atas, maka pendekatan fenomenologi juga dapat dilakukan dalam menganalisa penelitian ini. Melalui pendekatan fenomenologi peneliti akan memberi makna terhadap teks. Dalam
410Ibid., h. 172.
Kaelan, diungkapkan bahwa pendekatan ini berupaya menangkap makna pada objek penelitian melalaui gejala-gejala yang dapat ditangkap. Penelitian dengan menggunakan pendekatan fenomenologi yang dipengaruhidoleh EdmundwHusserl dan AlfredqSchultz.412
Fenomenologidtidak berasumsifbahwa penelitidmengetahui artidsesuatu bagisobjek yangdditeliti. Fenomenologidmenekankan pada aspek subjektif,dartinya sangdpeneliti berusahadmasuk ke duniadkonseptual daridobjek yangfditelitinya.413 Pendekatan lain yang digunakan adalah hermeneutika. Sebuah teori penafsiran yang berawal pada abad ke-19. Istilah ini berasal berdasarkan mitologi Yunani. Dewa yang bertugas menyampaikan pesan kepada manusia adalah dewa Hermes. Halditu “secaradharfiah, berartifmembuat yang sama menjadi biasa”. Sebagai penekanan terhadap dalam membaca naskah secara terperinci agar mendapatkandpemahaman yangfmendalam. Naskah tersebut dapat berupa dialog, kata-katartertulis, gambardatau simbol. Pembacaan dilakukan untuk menemukan makna agar lebih dalam dan kaya yang terkandung di dalam teks tersebut. Setiap pembaca memberikan pengalaman subjektifnya terhadap teks tersebut.dDengan katadlain, maknadsebenarnya yang jarangfterlihat. Makna hanya dapat dicapai melalui penyelidikan mengenai teks, dengan merenungkan berbagai pesannya dan mencari kaitan antar bagiannya.414
Metode-metode ini dimaksudkan sebagai alat untuk menganalisis segala aktivitas -terutama pidato atau khutbah dan surat-surat- Khalifah Ali ibn Abi Thalib dalam masa menjalankan pemerintahannya. Tegasnya, analisis ini dilakukan untuk menggali makna dari simbol-simbol, perilaku atau berupa teks yang pernah diungkapkan Khalifah Ali ibn Abi Thalib ketika menjalankan pemerintahannya ditinjau dari perspektif komunikasi politik. Jadi, dalam penelitian ini teknik analisis data merupakandanalisis ilmiahftentang suatu informasi dalam komunikasi politik yang dilakukan oleh Khalifah Ali bin Abu Thalib sebagai kepala negara.
412Ibid., h. 29.
413Ibid., h. 29