WAWASAN KEBANGSAAN DAN KHILAFAH ISLAMIYAH
D. Khilafah Islamiyah dalam Lintasan Sejarah
Konsep Khilafah Islamiyah dalam politik Islam tidak bisa lepas dari konteks sejarahnya. Dalam sejarahnya, kekhalifahan dimulai dari wafatnya Nabi Muhammad saw. Wafatnya Nabi Muhammad saw. meninggalkan kevakuman pemimpin yang hampir tidak mungkin digantikan oleh orang lain. Sebab posisinya bukan saja seseorang pemimpin negara, tetapi juga seorang nabi, pembuat undang-undang, guru spiritual, dan pribadi yang mempunyai visi transendental.84 Para sahabat mulai sibuk mencari pengganti beliau sebagai kepala negara. Alotnya proses mencari pengganti Nabi sebagai kepala negara membuat penguburan Nabi menjadi soal yang kedua bagi para sahabat dan sejak itu pula istilah khalifah atau khilafah timbul.85 Para sahabat
83
Abdul Majid an-Najar, Khilafah: Tinjauan Wahyu dan Akal, (Jakarta: Gema Insani Press, 1998), Cet. Ke-1, h. 33-34.
84
Ashgar Ali Engineer, Asal-usul dan Perkembangan Islam: Analisis Pertumbuhan Sosial-Ekonomi, (Yogyakarta, Pustaka-Insist, 1999), Cat. Ke-1, h. 215.
85
Harun Nasution, Teologi Islam: Aliran, Sejarah, Analisa Perbandingan, (Jakarta: UI Press, 1986), Cet. Ke-5, h. 3.
lxi
yang cukup dekat dengan Rasul dan cukup senior kemudian berkumpul disuatu tempat yakni Saqifah Bani Saidah. Melalui perundingan yang cukup alot dan sengit, para sahabat kemudian memilih Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai khalifah pasca Rasulullah.86
Namun terpilihnya Abu Bakar tidak kemudian menyelesaikan persoalan dalam politik Islam, terutama dalam hal pengganti Rasulullah sebagai kepala negara. Terpilihnya Abu Bakar melalui proses perundingan itu, kemudian melahirkan dua golongan besar Islam, yakni Sunni dan Syi’ah. Sebagian masyarakat muslim waktu itu memandang bahwa proses pemilihan yang dilakukan para sahabat di Saqifah Bani Saidah adalah tidak benar. Sebab mereka yakin bahwa Nabi sebenarnya telah menunjukan Ali bin Abi Thalib sebagai penggantinya.87 Kelompok ini kemudian digolongkan ke dalam kelompok Syiah. Sebaliknya, masyarakat yang setuju dan menerima dengan proses pemilihan khalifah di Saqifah Bani Saidah berpendapat bahwa Nabi Muhammad tidak menunjuk seorang pengganti sepeninggal beliau. Kelompok ini kemudian digolongkan ke dalam kelompok Sunni. Adanya perselisihan dalam kekhalifahan (kekuasaan politik), menurut Esposito, memiliki dua orientasi, yaitu menyangkut isu tentang hak warisan pimpinan dan masalah tentang berbagi
86
Muhammad Iqbal, Fiqh Siyasah: Kontekstualisasi Doktrin Politik Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2001), Cet. Ke-1, h.45-46.
87
John L. Esposito, Ancaman Islam: Mitos atau Realitas?, alih bahasa: Alwiyyah Abdurrahman, (Bandung: Mizan, 1996), Cet. Ke-3, h. 41. Mereka yang meyakini Ali sebagai pengganti Nabi berdasarkan pendapat mereka pada peristiwa Ghadir Khumm, dimana Nabi pernah berwasiat: “Inilah Ali, wasiatku, khalifah untukmu. Dengarlah dan taati dia”.
kekuasaan atau perang saudara.88 Berkaitan dengan peristiwa ini, Harun Nasution menilai, bahwa persoalan yang pertama-tama timbul dalam sejarah Islam, bukanlah persoalan tentang keyakinan, tetapi masalah politik.89
Praktek kekhalifahan selama enam abad pertama Islam, dapat dibagi ke dalam tiga periode utama: (1) Khulafa ar-Rasyidun di Madinah (632-661 M); (2) Kekhalifahan Bani Umayyah (661-750 M) di Damaskus; dan (3) Kekhalifahan Bani Abbasiyyah (750-1258 M) di Baghdad. Sedangkan sisanya adalah zaman Utsmaniyah Turki di Istanbul (1299-1924 M).90
Pemerintahan Khulafa ar-Rasyidun dimulai dengan tampilnya Abu Bakar ash-Shiddiq sebagai khalifah (11 H/632 M – 13 H/634 M). Kekhalifahan Abu Bakar merupakan awal terbentuknya pemerintahan model khalifah dalam sejarah Islam yang berpusat di Madinah. Sepeninggal Abu Bakar, Umar Ibn Khatab mendapat kepercayaan sebagai khalifah kedua. Pada waktu itu Sayidina Umar merupakan penasihat Abu Bakar. Tampilnya Umar sebagai khalifah (13 H/634 M – 23 H/644M) tidak melalui proses yang sama seperti Abu Bakar, melainkan melalui penunjukan atau wasiat oleh pendahulunya.91 Sementara itu, Utsman Ibn Affan menjadi khalifah
88
Esposito, Islam dan Politik, h. 8.
89
Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, (Jakarta: UI Press, 1985), Cet. Ke-5, h. 92.
90
Esposito, Ancaman Islam: Mitos atau Realitas?, h. 41.
91
Faisal Ismail, Momentum Historis Gerakan Pencerahan Islam: Peranan Nabi Muhammad saw dan Para Khalifah al-Rasyidin Membangun Masyarakat Madani, (Jakarta: Mitra Cendekia, 2004), Cet. Ke-2, h. 118-119.
lxiii
ketiga (23 H/644 M – 35 H/656 M) dipilih oleh sekelompok orang yang terdiri dari enam orang yang ditentukan oleh Umar sebelum wafat.92
Setelah Umar wafat dibunuh oleh seorang hamba Parsi yang bernama Abu Lu'lu'ah, keenam orang itu kemudian bermusyawarah. Atas inisiatif Abdurrahman, terjadilah permusyawaratan yang akhirnya sepakat memilih Utsman ibn Affan dengan pertimbangan usianya yang lebih tua dan sifatnya yang lebih lunak. Utsman kemudian berakhir masa jabatannya setelah terbunuh di dalam rumahnya sendiri oleh para pemberontak yang tidak puas hati dengan pemerintahannya. Pada waktu itu para pemberontak dari berbagai daerah mencari beberapa sahabat senior seperti Thalhah, Zubeir, dan Sa’ad ibn Waqqash untuk dibai’at menjadi khalifah. Namun di antara mereka tidak ada yang bersedia. Akhirnya, mereka menoleh Ali ibn Abi Thalib sebagai khalifah, namun Sayidina Ali menolak. Tetapi selepas didesak oleh pengikutnya, beliau akhirnya menerima untuk menjadi khalifah. Pada masa kepemimpinannya memerintah selama lima tahun (35 H/656 M – 40 H/661 M). Ali pun berakhir masa jabatannya setelah terbunuh ketika beliau hendak bershalat subuh oleh para pemberontak93.
Pasca berakhirnya masa Khulafa’ ar-Rasyidun, kekhalifahan dilanjutkan oleh Dinasti Umayyah yang memerintah di Damaskus (661-750 M) dengan Muawiyah bin Abu Sufyan sebagai khalifah pertama. Namun, kata “khalifah” pada masa Dinasti
92
Enam orang tersebut adalah Utsman ibn Affan, Ali ibn Abi Thalib, Talhah, Zubair ibn Awwam, Sa’ad ibn Waqqash, dan Abdurrahman bin Auf.
93
Umaiyah mulai mengalami pergeseran makna. Pergeseran tersebut bisa dilihat dari dua hal; Pertama, Pemilihan khalifah tidak lagi melalui cara yang “demokratis”, tapi melalui pengangkatan putra mahkota (wilayatul ‘ahdi) yang ditentukan oleh khalifah sebelumnya. Kedua, khalifah terfokus pada masalah politik, sementara agama diserahkan kepada ulama yang menguasai masalah agama, berbeda dengan khalifah sebelumnya yang merupakan ahli agama yang menetapkan hukum keagamaan berdasarkan ijtihad mereka baik sendiri maupun bersama-sama.94 Sistem Monarki dalam pemerintahan Islam dimulai pada khalifah Muawiyah yang mengangkat putranya Yazid bin Muawiyah sebagai pewaris kepemimpinan sang ayah (khalifah).
Setelah berhasil menggulingkan marwan II, khalifah terakhir Bani Umaiyah pada tahun 750 M, Abu al-Abbas al-Saffah memproklamirkan berdirinya kerajaan Bani Abbas. Meskipun al-Saffah merupakan pendiri dinasti ini, orang yang berjasa mengembangkannya adalah Abu Ja’far al-Mansur (754-775 M). Pada masa khalifah al-Mansur kata khalifah mengalami perubahan makna yang cukup mendasar, khalifah sudah berkonotasi Khaliffatullah yang berarti pengganti atau wakil Allah di muka bumi, dan menamkan dirinya sebagai Sultanullah fi al-Ardh (penguasa Tuhan di muka bumi). Berdasarkan prinsip ini, kekuasaan bersifat absolut dan tidak boleh diganti kecuali setelah ia meninggal.95
94
Departemen Agama RI, “Khilafah” Ensiklopedi Islam, (Jakarta: CV. Anda Utama, 1993) jilid kedua, h. 607.
95
lxv
Proses pergantian kekhalifahan pada Dinasti Abbasiyah tidak jauh berbeda dengan Umaiyah. Kekhalifahan ini kemudian berakhir ketika pasukan Hulagu Khan dari Mongolia menghancurkan Baghdad dan membunuh khalifah terakhir, yakni al-Mu’tashim.96 Setelah itu, jabatan khalifah dipegang oleh keturunan Mamluk Abbasiyah di Kairo. Sementara itu, pusat kekuasan baru timbul di Istambul pada 699 H/1299 M yang dipimpin oleh Utsman I yang kemudian terkenal dengan sebutan Dinasti Utsmaniyah. Dinasti ini memerintah sampai dengan tahun 1342 H/1924 M dengan khalifah terakhir Abdul Hamid II. Kekhalifahan yang muncul pada akhir abad ke-14 tersebut, secara formal dihapuskan oleh Republik Turki pada tahun 1924 M oleh Mustafa Kemal Pasha. Keruntuhan kekhalifahan terakhir karena akibat perseteruan antara kaum nasionalis dan agamais dalam masalah kemunduran ekonomi Turki.