BAB II KRITERIA AKAD YANG MENGANDUNG UNSUR
A. Khiyar (Hak Opsi)
Hukum Islam memberikan dan membenarkan kepada para pihak yang melakukan akad perjanjian untuk menggunakan semacam pilihan yang telah disediakan oleh Syariat Islam untuk memasuki kontrak supaya dalam pelaksanaanya benar-benar akan memberikan hasil yang memuaskan bagi para pihak, dan pilihan itu idealnya dituangkan dalam atau dicantumkan dalam redaksi akad yang dibuat oleh para pihak saat akan memulai transaksi bisnis atau muamalah diantara keduanya, karena Islam menghendaki transaksi bisnis itu dilaksanakan tertulis berbasis keridhoan diantara para pihak96
Dalam Hukum Islam, pilihan ini disebut dengankhiyaratau hak pilih. Dimana
khiyar ini ditetapkan syariat Islam bagi mereka yang melakukan transaksi perdata agar tidak dirugikan dalam transaksi yang mereka lakukan dikemudian harinya, sehingga kemashlahatan yang dituju dalam suatu transaksi tercapai dengan sebaik- baiknya sesuai dengan yang diharapkan.97
Secara etimologi, khiyar artinya adalah “memilih, menyisihkan, dan mengayak”. Secara umum artinya adalah menentukan yang terbaik dari dua hal (atau lebih) untuk dijadikan orientasi.98
96Syahril Sofyan,Op. Cit.,hal: 128
97Hasballah Thaib, Hukum Aqad (Kontrak) Dalam Fiqih Islam dan Praktek Di Bank Sistem
Syari’ah, (Medan: Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, 2005), hal: 22
Secara terminologis, al-Zuhaily mendefenisikan khiyar adalah hak pilih bagi salah satu atau kedua belah pihak yang melaksanakan kontrak untuk meneruskan atau tidak meneruskan kontrak dengan mekanisme tertentu.99
Pengertian Khiyar menurut Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (KHES) Pasal 20 ayat (8) adalah hak pilih bagi penjual dan pembeliuntuk melanjutkan atau membatalkan akad jual beli yang dilakukannya.
Ada beberapa hikmah yang disampaikan ulama fiqh dalam pensyariatan al- Khiyar, diantaranya100:
1. Membuktikan dan mempertegas adanya kerelaan dari kedua belah pihak. Oleh sebab itu, syariat hanya menetapkan dalam kondisi tertentu saja, atau ketika salah satu pihak yang bertransaksi menegaskannya sebagai persyaratan. 2. Memperkecil kelemahan transaksi dipermulaan karena tidak adanya informasi
yang lengkap. Bisa juga ada keraguan dan sejenisnya yang menyebabkan kerugian para transaktor (pelaku transaksi).
3. Memberikan kesempatan kepada pelaku transaksi untuk melihat kembali transaksinya agar mendapatkan kebaikan dan menutupi kebutuhannya dalam jual beli.
4. Memberikan kesempatan untuk bermusyawarah dan berfikir ulang dengan cara memberikan waktu merujuk kepada para ahli yang ia percayai tentang kesesuaian harga dan barang, sehingga terlepas dari perasaan dibohongi atau dirugikan sekali.
5. Memberikan kemudahan kepada pemilik harta dan menutup kesempatan orang yang rakus berbuat sesuka hati. Hal ini dengan menjadikan adanya kesempatan untuk melihat dan memeriksa barangnya. Tujuannya agar para pelaku bisnis bertransaksi di atas ilmu dan kejelasan sehingga tidak terjadi penyesalan setelah terjadinya transaksi tersebut.
6. Memberikan kesempatan kepada pelaku transaksi untuk menggagalkannya apabila terjadi kesalahan atau adanya penolakan untuk memperbaiki keadaannya.
99Wahbah Al-Zuhaily, Al-Fiqh al Islami wa Adillatuhu, Dar al Fikr al Mu’ashir, Damaskus,
Jilid 4, 1997, hal: 3086-3095 dalam Abdul Manan, Hukum ekonomi Syariah Dalam Perspektif kewenangan Peradilan Agama,(Jakarta:Kencana, 2012), hal: 98
Pada dasarnyakhiyaritu sendiri boleh bersumber dari kedua belah pihak yang berakad, dengan syarat harus ada kesepakatan diantara keduanya untuk memasukkan klausulakhiyar tersebut dalam akad atau perjanjian yang akan dibuat. Adapun jenis- jeniskhiyardalam Hukum Islam adalah sebagai berikut:
1. Khiyar Majlis atau hak pilih dilokasi perjanjian (Khiyar al-Majlis)101, yaitu hak pilih bagi kedua belah pihak yang berakad untuk membatalkan akad, selama keduanya masih berada dalam satu majelis (ruangan toko) dan belum berpisah badan. Artinya, suatu transaksi baru dianggap sah apabila kedua belah pihak yang melaksanakan akad telah berpisah badan atau salah seorang di antara mereka telah melakukan pilihan untuk menjual dan atau membeli.
Khiyarseperti ini hanya berlaku dalam suatu transaksi yang bersifat mengikat kedua belah pihak yang melaksanakan transaksi, seperti jual beli dan sewa menyewa. Dasar hukum adanya khiyar majlis ini adalah sebagaimana sabda Rasulullah Saw:
“Apabila dua orang melakukan akad jual beli, maka masing-masing pihak mempunyai hak pilih, selama keduanya belum berpisah badan,,”(HR al- Bukhari dan Muslim dari Abdullah ibn ‘Umar)
Para pakar hadis menyatakan bahwa yang dimaksudkan Rasullah Saw dengan kalimat “berpisah badan” adalah setelah melakukan akad jual beli, barang diserahkan kepada pembeli dan harga barang diserahkan kepada penjual. Akan tetapi, terdapat perbedaan pendapat ulama mengenai keabsahan Khiyar
Majlis ini. Ulama Syafi’iyah dan Hanabilah berpendapat bahwa masing- masing pihak yang melakukan akad berhak mempunyaiKhiyar Majlis, selama mereka masih dalam majelis akad. Sekalipun akad telah sah dengan adanya
ijab (ungkapan jual dari penjual) dan qabul (ungkapan beli dari pembeli), selama keduanya masih dalam majelis akad, maka masing-masing pihak berhak untuk melanjutkan atau membatalkan jual beli itu, karena akad jual beli ketika itu dianggap masih belum mengikat. Akan tetapi, apabila setelah ijab dan qabul masing-masing pihak tidak menggunakan hak khiyar-nya dan mereka berpisah badan, maka jual beli itu dengan sendirinya menjadi mengikat; kecuali apabila masing-masing pihak sepakat menyatakan bahwa keduanya masih berhak dalam jangka waktu tiga hari untuk membatalkan jual beli itu. Alasan yang mereka kemukakan adalah hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh di atas al-Bukhari dan Muslim di atas. Sedangkan menurut ulama Hanafiyah dan Malikiyah suatu akad sudah sempurna dengan ada ijab danqabuldari pembeli. Alasan mereka adalah suatu akad sudah dianggap sah apabila masing-masing pihak telah menunjukkan kerelaannya, dan kerelaan itu diungkapkan melalui ijab dan qabul. Hal ini sejalan dengan irman Allah dalam surat An-Nisa ayat 29 yang berbunyi: ”…kecuali dengan jalan perdagangan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu,,”Menurut mereka, hadis tentangKhiyar Majlistidak boleh diterima, karena bertentangan dengan firman Allah dalam surat Al-Maidah ayat 1 yang berbunyi : “Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu..” Maksudnya, apa bila
suatu akad telah dipenuhi, kedua belah pihak sudah saling rela, maka akad telah sah dan tidak ada lagi peluang di tempat itu untuk membatalkan akad. Menurut ulama Hanafiyah dan Malikiyah, hadis itu bertujuan untuk menunjukkan selesai akad jual beli, bukan berpisahnya badan masing-masing dari majelis akad. Oleh sebab itu, sebelum selesainya akad, masing-masing pihak memilki hak untuk meneruskan atau membatalkan jual beli.
Sebenarnya tidak ada pertentangan antara khiyar majlis dengan semangat ayat-ayat Al-Qur’an di atas. Hal ini disebabkan karena akad yang sempurna dan memiliki kekuatan untuk dijalankan (lazim) adalah akad yang selain sudah memenuhi segenap syarat dan rukunnya, juga tidak mengandung
khiyar di dalamnya. Justru khiyar ini disyariatkan untuk menegaskan dan mengokohkan kesempurnaan “berlaku suka sama suka di antara kamu”.
Mazhab Syafi’i dan hambali berpandangan bahwa jika akad telah disepakati oleh kedua belah pihak dengan ijab dan qabul, maka kedudukan akad ini menjadijaizselama kedua pihak masih berada di dalammajlis akad. Pada saat itu masing-masing pihak masih memperolehkhiyaruntuk menetapkan apakah transaksi dibatalkan atau terus dilanjutkan. Untuk menentukan bagaimana hakekat perpisahan yang mengandung konsekuensi keluar dari majlis akad dan khiyar majlis telah dilampaui sehingga transaksi hukum syara’ telah
dinilai berlangsung, diserahkan kepada urf atau kebiasaan yang berlaku dimasyarakat itu.102
2. Khiyar asy- Syarat, yaitu hak pilih yang ditetapkan bagi salah satu pihak yang berakad atau keduanya atau bagi orang lain untuk meneruskan atau membatalkan jual beli, selama masih dalam tenggang waktu yang ditentukan. Misalnya, pembeli mengatakan “saya beli barang ini dari engkau dengan syarat saya berhak memilih antara meneruskan atau membatalkan akad selama satu minggu”. Para ahli hukum Islam sepakat bahwa khiyar asy-syarat ini dibenarkan dalam satu kontrak dengan tujuan untuk mmelihara hak-hak para pihak dari unsur penipuan yang mungkin terjadi. Khiyar asy-syarat hanya berlaku dalam kontrak yang bersifat mengikat kedia belah pihak seperti jual beli, sewa menyewa, perserikatan dagang, dan jaminan utang. Transaksi yang sifatnya tidak mengikat kedua belah pihak seperti hibah, pinjam meminjam, perwakilan (wakalah) dan wasiat tidak diperbolehkan atau tidak berlaku. Demikian juga dengan transaksi jual beli dengan pesanan(bai’ as-Salam)dan jual beli mata uang(ash-Sharf), khiyar asy-Syaratini tidak berlaku sekalipun kedua kontrak ini bersifat mengikat kedua belah pihak yang mlaksanakan kontrak. Hal ini disebabkan karena dalam kontrak jual beli yang bersifat pesanan, disyaratkan pihak pembeli menyerahkan seluruh harga barang ketika kontrak disetujui, dan dalam kontrak ash-sharf disyaratkan nilai tukar uang 102Mukhamad Aziz, dalam tulisannya berjudul “FIKIH MUAMALAT;KHIYAR,
http://ashabulkhahfi-its.blogspot.om/2012/05/fikih-muamalat-khiyar_26.html, diakses pada tanggal 12 Juni 2013
yang dijualbelikan harus diserahkan dan dapat diserahterimakan setelah persetujuan diapai dalam kontrak yang dibuatnya. Khiyar asy-Syarat
menentukan bahwa baik barang maupun nilai atau harga barang baru dapat dikuasai secara hukum, setelah masa waktukhiyaryang disepakati itu selesai. Jadi dalam khiyar asy-syarat masalah tenggang waktu merupakan hal yang sangat penting dan tenggang waktu ini ditentukan sesuai dengan keperluan dan boleh berbeda untuk setiap objek kontrak. Misalnya untuk buah-buahan,
khiyar diperlukan waktu yang singkat, karena kalau lama akan terancam busuk. Adapun untuk objek lain seperti tanah atau rumah diperlukan waktu yang lebih lama sesuai dengan waktu yang pantas diperjanjikan.
Dasar disyariatkannya hak pilih ini adalah hadits Ibnu Umar yang berbunyi: “Seorang menyampaikan kepada Nabi bahwa ia tertipu dalam jual beli. Maka beliau menjawab: “Kalau engkau membeli sesuatu, katakanlah:” Tidak ada hak merampas”. Demikian juga keumuman firman Allah dalam Al- Qur’an Surat Al-Maidah Ayat 1 yang berbunyi :” Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu.” Dan sabda Rasululah: “Kaum Muslimin ada pada syarat-syarat mereka.”
Di sisi lain, memang sangat dibutuhkan hak pilih semacam ini. Buat apa hak pilih semacam ini? Untuk memberikan kesempatan kepada calon pembeli merenung dan menimbang kembali pilihannya. Tenggang waktu itu diperlukan karena mungkin pengalaman berniaga yang minim dan perlu bermusyawarah dengan orang lain, atau karena alasan lainnya. Demikian juga
hal ini selaras dengan prinsip at-taradhi(suka sama suka) sehingga sebagian ulama telah menyebutkan bahwa seluruh ulama telah sepakat tentang kebolehan persyaratan seperti ini.103
Hak pilih ini juga bisa dimiliki oleh selain pihak-pihak yang sedang terikat dalam perjanjian. Menurut mayortas ulama demi merealisasikan hikmah yang sama dari disyariatkannya persyaratan hak pilih bagi pihak- pihak yang terikat tersebut. Pendapat ini ditentang oleh Zufar dan Imam Asy- Syafi’I dalam salah satu pendapat beliau. Namun pendapat mayoritas ulama dalam persoalan ini lebih tepat. Hak pilih persyaratan masuk dalam berbagai perjanjian permanen yang bisa dibatalkan. Nikah, thalaq, khulu’ dan sejenisnyatidak menerima yang satu ini, karena semua akad tersebut secara asal tidak bisa dibatalkan. Mengenai masa tenggangkhiyar syaratpara ulama berselisih pendapat tentang hal ini, namun umumnya mereka sepakat bahwa tenggang waktu bagi khiyar asy-syarat harus ditentukan secara tegas dan jelas, sebab kalau tidak akad termacam fasad (menurut Hanafi) dan batal (menurut Syafi’iyah dan Hambaliyah). Adapun masa tenggang khiyar ini mulai berlaku sesudah akad disepakati bersama. Pada garis besarnya perbedaan mereka mengenai lamanya masa tenggang ini dapat dikelompokkan kepada tiga macam:
a. Hanafiyah dan Syafi’iyah berpendapat masanya tidak boleh lebih dari tiga hari karena hadis yang menetapkankhiyarini menyebutkan masa tiga hari: “ Jika kamu menjual maka katakanlah : Tidak ada kecurangan. Dan saya memilkikhiyarselama tiga hari”. H.R. Bukhori.
Menurut mereka bahwa masa tiga hari sudah dirasa cukup bagi pembeli untuk menjatuhkan pilihannya. Karena itu jika ia melanggar lebih dari tiga hari, akadnya menjadifasaddanbatil.
b. Mazhab Hambali dan sebagian Hanafiyah berpendapat bahwa waktu tenggang bagi khiyar syarat ini tidak harus merujuk kepada hadis tersebut melainkan kepada kesepakatan pihak-pihak yang melakukan transaksi meskipun pada akhirnya melebihi dari tiga hari. Hal ini disebabkan karena khiyar asy-syarat ditetapkan oleh syara’ untuk memudahkan transaksi dan bermusyawarh. Masa tiga hari kadang-kadang tidak cukup untuk mengambil keputusan yang bijak. Meskipun dalam hadis tersebut dinyatakan tiga hari dan itu dianggap cukup, namun bagi orang-orang tertentu tiga hari belum tentu cukup. Karena itu persoalan lamanya tenggang ini diserahkan kepada pihak yang melangsungkan transaksi.
c. Madzhab Maliki berpendapat bahwa tenggang waktu khiyar asy-syarat
ditentukan oleh kebutuhan di lapangan dan ini akan berbeda-beda tergantung kepada keadaan masing-masing barang. Kalau barang yang dibeli itu mudah rusak seperti buah-buahan, masanya cuma sehari; kalau pakaian dan barang-barang tahan lama bisa mencapai tiga hari; tetapi kalau barang itu jauh dari jangkauan si pembeli, maka bisa melebihi dari tiga hari.
Selain itu, Khiyar asy-syarth menurut para pakar fiqih, akan berakhir apabila104:
a. Akad dibatalkan atau dianggap sah oleh pemilik khiyar, baik melalui pernyataan maupun tindakan.
b. Tenggang waktu khiyar jatuh tempo tanpa pernyataan batal atau diteruskan jual beli itu dan pemilik khiyar, dan jual beli menjadi sempurna dan sah.
c. Obyek yang diperjualbelikan hilang atau rusak di tangan yangberhak
khiyar. Apabila khiyar milik penjual, maka jual beli menjadi batal, dan apabilakhiyarmenjadi hak pembeli, maka jual beli itu menjadi mengikat, hukumnya berlaku, dan tidak boleh dibatalkan lagi oleh pembeli.
d. Terdapatnya pertambahan nilai obyek yang diperjualbelikan di tangan pembeli dan hak khiyar ada di pihaknya. Apabila penambahan itu berkaitan erat dengan obyek jual beli dan tanpa campur tangan pembeli, seperti susu kambing, atau penambahan itu akibat dan perbuatan pembeli, seperti rumah di atas tanah yang menjadi obyek jual beli, maka hakkhiyar
menjadi batal. Akan tetapi apabila penambahan itu bersifat terpisah dan obyek yang diperjualbelikan seperti anak kambing yang lahir atau buah- buahan di kebun, maka hak khiyar tidak batal, karena obyek jual beli dalam hal ini adalah kambing atau tanah dan pohon, bukan hasil yang lahir dan kambing atau pohon itu.
e. Menurut ulama Hanafiyah dan Hanabilah, khiyar juga berakhir dengan wafatnya pemilik khiyar, karena hak khiyar bukanlah hak yang boleh diwariskan. Menurut ulama Malikiyah dan Syafi’iyah hak khiyar tidak batal, karena menurut mereka, hak khiyar boleh diwarisi ahli waris. Hal ini, demikian kata mereka, sejalan dengan sabda Rasulullah SAW yang mengatakan: “Siapa yang meninggalkan harta dan hak, maka semuanya itu untuk ahli waris”. (H.R. Ahmad Ibn Hanbal,abu Daud, dan Ibn Majah)
3. Khiyar at- Ta’yin, yaitu hak pilih bagi pembeli dalam menentukan barang yang menjadi objek kontrak. Khiyar at-Ta’yin berlaku apabila objek aqad (kontrak) hanya satu dari sekian banyak barang yang berbeda kualitas dan harganya dan satu pihak pembeli, misalnya diberi hak menentukan mana yang akan dipilihnya. Khiyar ta’Yin dibolehkan apabila identitas barang yang menjadi objek kontrak belum jelas. Oleh sebab itu,khiyar at-Ta’yinberfungsi untuk menghindarkan agar aqad (kontrak) tidak terjadi terhadap sesuatu yang tidak jelas(majhul).105
Contoh adalah dalam pembelian keramik, ada yang berkualitas super (KW1) dan sedang (KW2). Akan tetapi, pembeli tidak mengetahui secara pasti mana keramik yang super dan mana keramik yang berkualitas sedang. Untuk menentukan pilihan itu ia memerlukan bantuan pakar keramik dan arsitek. Khiyar seperti ini, menurut ulama Hanafiyah adalah boleh. Dengan alasan bahwa produk sejenis yang berbeda kualitas sangat banyak, yang kualitas itu tidak diketahui secara pasti oleh pembeli, sehingga ia memerlukan bantuan seseorang pakar. Agar pembeli tidak tertipu dan agar produk yang ia cari sesuai dengan keperluannya, makakhiyar at-ta’yindibolehkan.106
Akan tetapi, jumhur ulama fiqh tidak menerima keabsahan khiyar at- tayin yang dikemukakan ulama Hanafiyah. Alasan mereka, dalam akad jual beli ada ketentuan bahwa barang yang diperdagangkan (as-sil’ah) harus jelas
105Abdul Manan,Op. Cit.,hal : 101 106Hasballah Thaib,Op. Cit, hal; 26
baik kualitas maupun kuantitasnya. Dalam persoalankhiyar at-ta’yin, menurut mereka, kelihatan bahwa identitas barang yang akan dibeli belum jelas, oleh sebab itu, ia termasuk ke dalam jual beli al-ma’dum(tidak jelas identitasnya) yang dilarangsyara’.107
Menurut Ali Haidar108, para ulama Hanafiyah memperbolehkan dilakukan khiyar at-ta’yindalam suatu kontrak dan untuk pelaksanaan khiyar at-ta’yinini diperlukan tiga syarat, yakni:
a. pilihan dilakukan terhadap barang sejenis yang berkualitas; b. barang itu berbeda harganya;
c. tenggang waktu untukkhiyar at-Ta’yinitu harus ditentukan.
Khiyar at-Ta’yin menurut ulama Hanafiyah hanya berlaku dalam transaksi yang bersifat pemindahan hak milik yang berupa benda dan mengikat bagi kedua belah pihak, misalnya jual beli. Khiyar at-Ta’yin
dipandang telah batal bila pembeli telah menentukan pilihan secara jelas barang tertentu yang dibeli, atau pembeli telah memperlakukan barang-barang yang diperjualbelikan dengan cara menunjukkan bahwa ia telah memilih dan menentukannya. Jika pembeli meninggal dunia sebelum habis masa khiyar,
hak khiyar itu dilanjutkan oleh ahli warisnya sebab dalam hak khiyar at- Ta’yindapat diwariskan.109
107Ibid
108Ali Haidar, Ad,Durar al Hukkam Syarh Majallah al Ahkam al”Adliyah, Dar al Kutub al
Ilmiyyah, Beirut,tanpa tahun, hal: 256-260 dalam Abdul Manan,Op. Cit,.
4. Khiyar ar- Ru’yah atau hak pilih melihat, yakni hak pilihan untuk meneruskan akad atau membatalkannya, setelah barang yang menjadi objek akad dilihat oleh pembeli. Hal ini terjadi dalam kondisi dimana barang yang menjadi objek akad tidak ada di majelis akad, kalaupun ada hanya contohnya saja, sehingga pembeli tidak tahu apakah barang yang dibelinya itu baik atau tidak. Setelah pembeli melihat langsung kondisi barang yang dibelinya, apabila setuju, ia bisa meneruskan jual belinya dan apabila tidak setuju, ia boleh mengembalikannya kepada penjual, dan jual beli dibatalkan, sedangkan harga dikembalikan seluruhnya kepada pembeli.110
Hak pilih melihat ini memang masih diperselisihkan oleh para ulama berdasarkan perselisihan mereka terhadap boleh tidaknya menjual barang- barang yang tidak terlihat wujudnya. Sebagian ulama membolehkannya, namun ada juga yang melarangnya. Ulama yang membolehkannya itu membolehkan dengan satu persyaratan, dan bila tanpa persyaratan itu mereka melarangnya.
Jumhur ulama Hanafiyah, Malikiyah, Hanabilah, dan Zahiriyah memboleh
khiyar ar-Ru’uyah ini, dengan alasan hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dan Ibnu Abbas bahwa Rasulullah bersabda:” Siapa yang membeli sesuatu yang belum ia lihat, maka ia berhak khiyar apabila telah melihat barang itu.”
Atas dasar tersebut jumhur ulama membolehkan jual barang yang ghaib (tidak ada di majelis akad), tanpa menyebutkan sifat, dan kepada pembeli diberikan hak khiyar ar-Ru’yah, atau dengan disebutkan sifatnya yang dikehendaki, dan kepadanya (pembeli) diberikan khiyar sifat. Dalam konteks ini apabila pembeli telah melihat barang yang menjadi objek akad jual beli, maka ia boleh memilih antara meneruskan jual beli atau membatalkannya dan
110
barang dikembalikan kepada penjual, baik barangnya sesuai dengan sifat yang dikemukakan atau tidak.111
Lain halnya dengan ulama kalanganSyafi’yahdalamqaul jadidmengatakan bahwa jual beli yangghaibtidak sah, baik barang itu disebutkan sifatnya waktu kontrak dilaksanakan atau tidak disebutkan. Oleh karena itu lah menurut mereka khiyar ar-Ru’yah tidak berlaku, karena kontrak itu mengandung unsur penipuan yang boleh membawa kepada perselisihan. Hal ini sejalan dengan hadis Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW melarang jual beli yang mengandung penipuan.112 Disamping mengandung unsur ghara
(penipuan) karena ketidakjelasan objek, jual beli tersebut juga termasuk jual beli barang yang tidak ada pada tangan seseorang, yakni tidak ada di majelis akad dan tidak bisa di lihat oleh pembeli. Jual beli semacam ini jelas dilarang berdasarkan hadis:
“Dari Hakim bin Hizam ia berkata: Saya berkata, Wahai Rasulullah, seorang laki-laki datang kepadaku menanyakan tentang jual beli, saya tidak memiliki barang yang bisa dijual, kemudian saya beli dari pasar. Nabi kemudian bersabda: Janganlah kamu menjual barang yang tidak ada disisimu”.( HR. lima ahli hadis)113
111 Wahbah Zuhaili,Loc.cit., dalam Ahmad Wardi Muslich, Op.Cit , hal: 237 112 Abdul Manan,Op. Cit.,hal : 104
113Muhammad bin Ali Asy-Syaukani, Nayl Al-Authar, Juz 5, Dar Al-Fikr, t.t., hal: 252 dalam