• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perdamaian (Al Sulh) Di Antara Para Pihak

BAB II KRITERIA AKAD YANG MENGANDUNG UNSUR

B. Perdamaian (Al Sulh) Di Antara Para Pihak

1. Pengertian Perdamaian (Al-Sulh)

Mayoritas ulama berpendapat bahwa asal dari semua transaksi adalah halal. Namun asal dari persyaratan memang masih diperselisihkan. Mayoritas ulama berpendapat bahwa persyaratan itu harus diikat dengan nash-nash atau kesimpulan- kesimpulan dari nash dan ijtihad. Kalangan Hambaliyah dan ibnu Syurmah serta bagian para pakar hukum Islam di kalangan malikiyah berpendapat lain. Mereka menyatakan bahwa transaksi dan persyaratan itu bebas.135 Namun demikian telah disepakati bahwa asal perjanjian itu adalah keridhaan kedua belah pihak, konsekuensinya apa yang telah disepakati bersama harus dilakukan.

134Ibid.

135Abdullah al Muslih dan Shalah Ash Shawi,Ma la Yasa’ut jahluhu, terjemahan Abu Umar

Terhadap perselisihan yang terjadi di antara pihak yang berakad dalam upaya penyelesaian perselisihan tersebut maka dapat menggunakan jalan perdamaian (sulh)

antara kedua pihak.

Secara bahasa, ‘sulh”berarti meredam pertikaian, sedangkan menurut istilah

“sulh” berrati suatu jenis akad atau perjanjian untuk mengakhiri perselisihan/pertengkaran antara dua pihak yang bersengketa secara damai.136. menyelesaikan sengketa berdasarkan perdamaian untuk mengakhiri suatu perkara sangat dianjurkan oleh Allah SWT sebagaimana tersebut dalam Surat An-nisa Ayat 126 yang artinya :”Perdamaian itu adalah hal yang baik”.

Sulh juga mempunyai bentuk lain yaitu Al Islah yang memilki arti memperbaiki, mendamaikan dan menghilangkan sengketa atau kerusakan. Islah

merupakan kewajiban umat Islam, baik secara personal maupun sosial. Penekanan

islah ini lebih terfokus pada hubungan antara sesama umat manusia dalam rangka pemenuhan kewajiban kepada Allah SWT.137

Biasanya dalam kontrak bisnis sudah disepakati dalam kontrak yang dibuatnya untuk menyelesaikan sengketa yang terjadi di kemudian hari di antara mereka. Untuk penyelesaian sengketa dapat diserahkan kepada forum-forum tertentu sesuai dengan kesepakatan. Ada yang memilih hanya dengan perdamaian (al suhl)

dan ada juga yang memilih untuk langsung ke lembaga Pengadilan. Selain itu, dalam 136AW Munawir, Kamus Al Munawir, pondok pesantren Al Munawir, Yogyakarta, 1984,

hal:843 dalam Rachmansyah Purba,Penyelesaian Sengketa Pada Perbankan Syariah Pasca Undang- undang nomor 3 tahun 2006 tentang Peradilan Agama, Tesis, Pascasarjana Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, 2009, hal: 27

137Hasballah thaib dan Zamakhsyari Hasballah,Tafsir Tematik Al-Qur’an V, (Medan: Pustaka

klausul yang dibuat para pihak ditentukan pula hukum mana yang disepakati untuk dipergunakan apabila di kemudian hari terjadi sengketa di antara mereka. Bagi mereka yang sepakat mengadakan Akad pada perbankanSyari’ahsudah tentu hukum yang dipakai menggunakan prinsipSyari’ah

Bagi para pihak yang ingin melakukan upaya hukum melalui perdamaian

(shulh) harus memperhatikan rukun perdamaian (shulh) yang dikemukakan oleh jumhur ulama,yang terdiri dari empat rukun, yaitu:

a. ‘aqidain,yaitumushalihain, yakni dua orang yang melakukan perdamaian; b. Mushalah ‘anhu, yaitu hak yang disengketakan;

c. Mushalah ‘alaih,yaitu benda yang menjadi penggantisulh, dan d. Shighat, yaituijabdanqabul138

Dan juga memperhatikan mengenai syarat-syarat sahnya suatu perjanjian damai yang dapat diklasifikasi kepada beberapa hal, yaitu:

1. Hal yang menyangkut subyek

Tentang subyek atau orang yang melakukan perdamaian harus orang cakap bertindak menurut hukum. Selain dari itu orang yang melaksanakan perdamaian harus orang yang mempunyai kekuasaan atau mempunyai wewenang untuk melepaskan haknya atau hal-hal yang dimaksudkan dalam perdamaian tersebut. Belum tentu setiap orang yang cakap bertindak mempunyai kekuasaan atau wewenang. Orang yang cakap bertindak menurut hukum tetapi tidak mempunyai wewenang untuk mewakili seperti pertama: wali atas harta benda orang yang berada dibawah perwaliannya, kedua: pengampu atas harta benda orang yang berada dibawah pengampuannya, ketiga: nazir (pengawas) wakaf atas hak milik wakaf yang ada dibawah pengawasannya.

2. Hal yang menyangkut obyek

Tentang obyek dari perdamaian harus memenuhi ketentuan yakni pertama: berbentuk harta, baik berwujud maupun yang tidak berwujud seperti hak milik intelektual, yang dapat dinilai atau dihargai, dpat diserahterimakan dan bermanfaat, kedua: dapat diketahui secara jelas sehingga tidak melahirkan

kesamaran dan ketidakjelasan, yang pada akhirnya dapat pula melahirkan pertikaian baru terhadap obyek yang sama.

3. Persoalan yang boleh didamaikan(disulh-kan)

Para ahli hukum Islam sepakat bahwa hal-hal yang dapat dan boleh didamaikan hanya dalam bentuk pertikaian harta benda yang dapat di nilai dan sebatas hanya kepada hak-hak manusia yang dapat di ganti. Dengan kata lain, persoalan perdamaian itu hanya diperbolehkan dalam bidang muamalah

saja, sedangkan hal-hal yang menyangkal hak-hak Allah tidak dapat didamaikan.

4. Pelaksanaan perdamaian

Pelaksana perjanjian damai bisa dilaksanakan dengan dua cara, yakni di luar sidang pengadilan atau melalui sidang pengadilan. Diluar sidang pengadilan, penyelesaian sengketa dapat dilaksanakan oleh mereka sendiri (yang melakukan perdamaian) tanpa melibatkan pihak lain, atau meminta bantuan orang lain untuk menjadi penengah (wasit), itulah kemudian yang disebut dengan arbitrase, atau dalam syariat Islam disebut denganhakam.

Perjanjian perdamaian (sulh) yang dilaksanakan sendiri oleh kedua belah pihak yang berselisih atau bersengketa, dalam praktek di beberapa negara Islam, terutama dalam hal perbankan syari’ah disebut dengan “tafawud” dan “taufiq”

(perundingan dan penyesuaian). Kedua hal terakhir ini biasanya dipakai dalam mengatasi persengketaan antara intern bank, khususnya bank dan lembaga-lembaga keuangan pemerintah.

Adapun yang dimaksud dengan pelaksanaan perdamaian di sini adalah menyangkut tempat dan waktu pelaksanaan perjanjian perdamaian yang diadakan oleh para pihak yang dapat diklasifikasikan kepada139:

1. Perdamaian di luar sidang pengadilan

Telah kita ketahui bahwa dalam setiap persengketaan selalu terdapat dua atau lebih pihak yang sedang bertikai. Di dalam penyelesaian persengketaan, dapat saja mereka menyelesaikan sendiri, misalnya mereka minta bantuan kepada sanak keluarga, pemuka masyarakat atau pihak lainnya, dalam upaya mencari penyelesaian persengketaan ini di luar sidang secara damai sebelum 139Chairuman Pasaribu dan Suhrawardi,Op. Cit. hal: 30-32

persengketaan itu diajukan atau bahkan selama proses persidangan berlangsung, dengan cara ini banyak yang berhasil.

Namun sering pula terjadi, dikemudian hari sengketa yang sama mungkin timbul lagi, misalnya dalam hal sengketa tanah sawah, di mana mereka telah berjanji untuk mengadakan perdamaian, dan salah satu pihak telah pula menyerahkan kembali tanah itu secara damai, namun beberapa waktu kemudian diambil/ dikuasai kembali oleh pihak yang menyerahkan.

Untuk menghindari timbulnya kembali persoalan yang sama di kemudian hari, maka dalam praktik sering perjanjian perdamaian itu dilaksanakan secara tertulis, yaitu dibuat akta perjanjian perdamaian. Agar akta perjanjian perdamaian ini mempunyai kekuatan hukum tentulah harus dibuat secara autentik, yaitu dibuat di hadapan Notaris.

Akta asli perjanjian perdamaian itu lazimnya disimpan oleh Notaris sebagai minut, dan pihak-pihak yang mengadakan perdamaian diberikan turunan atau salinan dari akta tersebut (sebagai pegangan). Dan jika kelak di kemudian hari salah satu pihak (dapat saja keturunannya) melanggar kesepakatan yang telah diadakan (tentunya dengan alasan tidak ada perdamaian) maka pihak yang lainnya dapat menunjukkan bukti yang autentik bahwa perdamaian telah dilangsungkan. Dan dia dapat mengemukakan bahwa suatu perjanjian perdamaian tidak dapat dibatalkan secara sepihak.

2. Melalui Sidang Pengadilan

Perdamaian melalui sidang pengadilan berlainan caranya dengan perdamaian di luar sidang pengadilan, perdamaian melalui sidang pengadilan dilangsungkan pada saat perkara tersebut di progres di depan sidang pengadilan (gugatan sedang berjalan). Di dalam ketentuan perundang- undangan ditentukan, bahwa sebelum perkara itu diproses (dapat juga selama diproses, bahkan sebelum mempunyai kekuatan hukum tetap) hakim harus menganjurkan agar para pihak yang bersengketa berdamai. Dalam hal ini tentunya peranan hakim sangat menentukan.

Andainya hakim berhasil untuk mendamaikan para pihak yang bersengketa, maka dibuatlah akta perdamaian dan kedua belah pihak yang bersengketa di hukum untuk menaati isi dari akta perjanjian perdamaian tersebut. Lazimnya dalam praktik di istilahkan dengan “Akta Dading”. Dapat ditambahkan bahwa, karena perdamaian ini bersifat kerelaan atau mau sama mau, maka terhadap akta perdamaian yang dibuat melalui sidang pengadilan tingkat terakhir, diajukan banding dengan kata lain telah mempunyai kekuatan hukum tetap.

Penyelesaian perselisihan dengan jalan musyawarah ini merupakan prinsip penyelesaian dalam hukum Islam, lagipula penyelesaian sengketa dengan jalan perdamaian atau musyawarah merupakan suatu penyelesaian yang sesuai dengan

kultur masyarakat yang beradat dan bersendikan syara’. Namun untuk menangani perselisihan dengan menempuh jalan perdamaian ini, diperlukan sumberdaya manusia yang berilmu, professional, jujur, adil dan bijaksana, sehingga nilai-nilai terkandung dalam syariat Islam dilaksanakan secara utuh(kaffah).140