Perkembangan industri BPR secara nasional pada triwulan III-2015 masih menunjukkan kinerja yang cukup baik, terlihat dari peningkatan total aset BPR sebesar Rp3,5 triliun (3,70%, qtq) dari triwulan sebelumnya sebesar Rp94 triliun menjadi sebesar Rp97,5 triliun. Hal tersebut juga didukung dengan peningkatan pada penghimpunan DPK dan penyaluran kredit yang meningkat masing-masing sebesar 4,11% (qtq) dan 0,71% (qtq).
Secara umum, kinerja BPR pada triwulan III-2015 masih cukup baik, walaupun apabila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya terdapat penurunan beberapa indikator umum BPR. Beberapa indikator umum BPR yang menurun antara lain ROA yang menurun sebesar 17 bps dari 2,90% menjadi 2,73% (masih diatas threshold 1,2%), dan peningkatan NPL net sebesar 25 bps dari 3,56% menjadi 3,80% (masih dibawah threshold 5%). Selain itu, juga didukung oleh permodalan yang memadai tercermin dari peningkatan CAR sebesar 57 bps dari 20,75% menjadi 21,32%.
Tabel A.3.1 Indikator Umum BPR
TW I '15 TW II '15 TW III '15
Total Aset (Rp milyar) 91,550 93,987 97,469 3.70%
Kredit (Rp milyar) 70,409 73,749 74,275 0.71%
Dana Pihak Ketiga (Rp milyar) 60,540 61,550 64,078 4.11%
- Tabungan (Rp milyar) 18,691 18,064 19,276 6.71%
- Deposito (Rp milyar) 41,849 43,486 44,802 3.03%
NPL Gross (%) 5.46 5.70 6.05 0.35
NPL Net (%) 3.42 3.56 3.80 0.25
ROA (%) 3.01 2.90 2.73 (0.17)
LDR (%) 80.26 82.60 80.34 (2.26)
CR (%) 15.53 13.77 15.91 2.14
KAP (%) 3.65 3.90 4.07 0.17
ROE (%) 27.59 26.50 24.64 (1.86)
BOPO (%) 81.55 82.05 82.27 0.22
CAR (%) 22.32 20.75 21.32 0.57
Posisi
Rasio ∆ TW III'15
(qtq)
Ket: menunjukkan peningkatan pertumbuhan menunjukkan penurunan pertumbuhan
Sumber: Statistik Perbankan Indonesia (SPI), September 2015
3.1 Permodalan
Kondisi permodalan BPR masih terjaga baik, tercermin dari CAR yang mencapai 21,32%
meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 20,75%. Dari 1.644 BPR, sebagian besar telah memiliki CAR sesuai ketentuan yang berlaku (sebesar 8%), namun masih terdapat 30 BPR yang memiliki CAR dibawah persyaratan minimum 8% dengan rata-rata CAR -14,2%). Jumlah BPR yang memiliki CAR dibawah persyaratan minimum bertambah satu BPR yaitu dari 29 BPR pada triwulan sebelumnya menjadi 30 BPR. Terdapat tren meningkat untuk jumlah BPR dengan CAR negatif sejak triwulan I-2015 yang dipicu oleh masih lemahnya pengelolaan BPR baik dari sisi tata kelola (GCG), sistem informasi, dan kompetensi SDM.
Tabel A.3.1.1
BPR Dengan CAR Dibawah Threshold
Jumlah Bank CAR *) Jumlah Bank CAR *) Jumlah Bank CAR *) Jumlah CAR Jumlah CAR
28 0,54 29 -4,80 30 -14,19 1 -9,38 -4 -4,73
2015
TW III'15 - TW II'15
qtq yoy
TW III'15 - TW III'14
TW III TW II
TW I
Sumber: OJK
3.2 Dana Pihak Ketiga
Pertumbuhan DPK yang merupakan sumber dana utama BPR, pada triwulan III-2015 secara umum mengalami peningkatan sebesar 4,11% (qtq), yaitu dari Rp61,6 triliun menjadi Rp64
Tabel A.3.1 Indikator Umum BPR
TW I '15 TW II '15 TW III '15
Total Aset (Rp milyar) 91,550 93,987 97,469 3.70%
Kredit (Rp milyar) 70,409 73,749 74,275 0.71%
Dana Pihak Ketiga (Rp milyar) 60,540 61,550 64,078 4.11%
- Tabungan (Rp milyar) 18,691 18,064 19,276 6.71%
- Deposito (Rp milyar) 41,849 43,486 44,802 3.03%
NPL Gross (%) 5.46 5.70 6.05 0.35
Ket: menunjukkan peningkatan pertumbuhan menunjukkan penurunan pertumbuhan
Sumber: Statistik Perbankan Indonesia (SPI), September 2015
3.1 Permodalan
Kondisi permodalan BPR masih terjaga baik, tercermin dari CAR yang mencapai 21,32%
meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 20,75%. Dari 1.644 BPR, sebagian besar telah memiliki CAR sesuai ketentuan yang berlaku (sebesar 8%), namun masih terdapat 30 BPR yang memiliki CAR dibawah persyaratan minimum 8% dengan rata-rata CAR -14,2%). Jumlah BPR yang memiliki CAR dibawah persyaratan minimum bertambah satu BPR yaitu dari 29 BPR pada triwulan sebelumnya menjadi 30 BPR. Terdapat tren meningkat untuk jumlah BPR dengan CAR negatif sejak triwulan I-2015 yang dipicu oleh masih lemahnya pengelolaan BPR baik dari sisi tata kelola (GCG), sistem informasi, dan kompetensi SDM.
Tabel A.3.1.1
BPR Dengan CAR Dibawah Threshold
Jumlah Bank CAR *) Jumlah Bank CAR *) Jumlah Bank CAR *) Jumlah CAR Jumlah CAR
28 0,54 29 -4,80 30 -14,19 1 -9,38 -4 -4,73
Pertumbuhan DPK yang merupakan sumber dana utama BPR, pada triwulan III-2015 secara umum mengalami peningkatan sebesar 4,11% (qtq), yaitu dari Rp61,6 triliun menjadi Rp64
triliun. Peningkatan tersebut bersumber dari peningkatan tabungan dan deposito masing-masing sebesar 6,71% (qtq) dan 3,03% (qtq).
Komposisi sumber dana BPR didominasi oleh DPK (79,52%), diikuti dengan pinjaman yang diterima (16,90%) dan antar bank passiva (3,58%). Dari total DPK tersebut, sebesar 69,92%
disumbang oleh deposito (menurun dari triwulan sebelumnya 70,65%) dan 30,08% oleh tabungan (meningkat dari triwulan sebelumnya 29,35%).
Penyebaran DPK masih terkonsentrasi di pulau Jawa (61,45%), diikuti oleh pulau Sumatera (19,34%), Bali-NTB-NTT (11,82%), Sulampua (4,96%), dan pulau Kalimantan (2,43%).
Dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, terdapat peningkatan porsi penyebaran di pulau Jawa dan Bali-NTB-NTT. Dilihat dari pertumbuhannya, secara umum DPK meningkat di semua wilayah di Indonesia dengan pertumbuhan DPK tertinggi berada di Pulau Jawa sebesar 4,60% (qtq) (Tabel A.3.2.1).
Tabel A.3.2.1 Penyebaran DPK
Total DPK Porsi (%) Total DPK Porsi (%) Nominal %
Pulau Sumatera 12,0 19,58 19,3412,4 0,3 2,84%
*) Total DPK dalam miliar rupiah
Wilayah TW II'15 TW III'15 Perkembangan
Sumber: Statistik Perbankan Indonesia (SPI), September 2015
3.3 Kredit
Fungsi intermediasi BPR selama triwulan III-2015 berjalan cukup baik. Hal ini tercermin dari kredit BPR yang tumbuh 0,71% (qtq) meskipun menurun dari pertumbuhan pada triwulan sebelumnya (2,84%, qtq). Dari penyaluran kredit tersebut, 48,47% disalurkan untuk Kredit Konsumsi (KK), 45,22% untuk Kredit Modal Kerja (KMK), dan 6,31% untuk Kredit Investasi (KI). Dilihat dari pertumbuhannya, pertumbuhan tertinggi berada pada KK sebesar 1,10%
(qtq) menjadi Rp36 miliar, diikuti oleh pertumbuhan pada KI sebesar 0,86% (qtq) menjadi Rp4,69 miliar dan pertumbuhan KMK sebesar 0,28% (qtq) menjadi Rp33,58 miliar (Grafik A.3.3.1).
Grafik A.3.3.1
Kredit BPR Berdasarkan Penggunaan (dalam Rp. Miliar)
Sumber: Statistik Perbankan Indonesia (SPI), September 2015
Berdasarkan sektor ekonomi, kredit BPR sebagian besar disalurkan kepada sektor bukan lapangan usaha lainnya sebesar 44,19%, diikuti penyaluran pada perdagangan besar dan eceran (25,48%), dan pada sektor pertanian, perburuhan, dan kehutanan (6,32%). Dilihat dari pertumbuhannya, pertumbuhan kredit BPR mengalami penurunan dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan sebelumnya (4,74%, qtq). Penurunan tersebut utamanya disebabkan oleh penurunan pada kredit kepada sektor pertambangan dan penggalian (-25,52%) yang dipengaruhi oleh merosotnya harga minyak dan batu bara di pasar global.
0,002,50 5,007,50 10,00 12,50 15,00 17,50 20,00 22,50 25,00 27,50 30,00 32,50 35,00 37,50
TW II'15 TW III'15 TW II'15 TW III'15 TW II'15 TW III'15
Modal Kerja Investasi Konsumsi
Sulawesi, Maluku dan Papua
Bali dan Nusa Tenggara Pulau Kalimantan Pulau Jawa Pulau Sumatera 33,49 33,58
4,65 4,69
35,61 36
Grafik A.3.3.1
Kredit BPR Berdasarkan Penggunaan (dalam Rp. Miliar)
Sumber: Statistik Perbankan Indonesia (SPI), September 2015
Berdasarkan sektor ekonomi, kredit BPR sebagian besar disalurkan kepada sektor bukan lapangan usaha lainnya sebesar 44,19%, diikuti penyaluran pada perdagangan besar dan eceran (25,48%), dan pada sektor pertanian, perburuhan, dan kehutanan (6,32%). Dilihat dari pertumbuhannya, pertumbuhan kredit BPR mengalami penurunan dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan sebelumnya (4,74%, qtq). Penurunan tersebut utamanya disebabkan oleh penurunan pada kredit kepada sektor pertambangan dan penggalian (-25,52%) yang dipengaruhi oleh merosotnya harga minyak dan batu bara di pasar global.
0,002,50
TW II'15 TW III'15 TW II'15 TW III'15 TW II'15 TW III'15
Modal Kerja Investasi Konsumsi
Kredit BPR Berdasarkan Sektor Ekonomi
TW II '15 TW III'15 TW II '15 TW III '15
Real Estate, Usaha Persewaan, dan
Jasa Perusahaan 1.622 1.738 2,20% 2,34% 7,11%
Kegiatan Usaha yang Belum Jelas Batasannya
3.283
3.646 4,45% 4,91% 11,05%
Bukan Lapangan Usaha - Rumah Tangga
Sumber: Statistik Perbankan Indonesia (SPI), September 2015
Menurut lokasi, kredit BPR banyak disalurkan di wilayah Jawa sebesar 57,42% dan wilayah Sumatera sebesar 20,39%. Dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, penyebaran kredit di Pulau Jawa mengalami penurunan sebesar 0,31% (sebelumnya 58,01%). Penurunan tersebut terjadi dikarenakan adanya penurunan KMK dan KK di Pulau Jawa. Sementara, peningkatan kredit tertinggi terjadi di pulau Sulawesi, Maluku dan Papua, dengan peningkatan pertumbuhan kredit sebesar 3,18% menjadi Rp5,9 miliar (Tabel A.3.3.2).
Tabel A.3.3.2
Kredit BPR Berdasarkan Lokasi Penyaluran
Total Kredit Porsi (%) Total Kredit Porsi (%) Nominal % Pulau Sumatera 14,90 20,21 20,3915,15 0,24 1,64%
*) Total kredit dalam miliar rupiah
Wilayah TW II'15 TW III'15 Perkembangan
Secara umum, kredit BPR pada triwulan III-2015 meningkat sebesar 0,71% (qtq).
Peningkatan penyaluran kredit tersebut diikuti dengan meningkatnya rasio NPL gross yang tercatat sebesar 6,05% dari sebelumnya sebesar 5,70% pada triwulan II-2015. Beberapa kondisi yang menyebabkan terjadinya peningkatan NPL pada BPR, yaitu:
i. Karakteristik debitur BPR tergolong unbankable sehingga aspek legal dari pengikatan jaminan cenderung lemah yang pada akhirnya mendorong peningkatan kredit macet.
ii. Usaha debitur yang dibiayai merupakan usaha kecil dan individual sehingga apabila terjadi permasalahan individual pada debitur tersebut akan mempengaruhi kualitas kredit debitur yang bersangkutan.
iii. Dari sisi internal bank, antara lain (a) belum terpenuhinya komposisi Direksi sesuai ketentuan mengenai GCG sebagaimana diatur dalam POJK No.4/POJK.03/2015 tentang Penerapan Tata Kelola Bagi BPR yang mulai berlaku sejak 31 Maret 2015 dengan masa peralihan selama 2 tahun, (b) sistem pengawasan debitur belum berjalan dengan baik sebagai dampak dari masih sederhananya teknologi IT BPR yang mempengaruhi keakuratan data monitoring, dan (c) kompetensi SDM yang belum memadai sehingga mempengaruhi kedalaman hasil analisis kredit.
3.4 Likuiditas
Likuiditas BPR pada triwulan III-2015 menunjukkan kondisi yang cukup baik tercermin dari Cash Ratio (CR)20 yang masih jauh diatas threshold 4,05% yaitu sebesar 15,91% meningkat dari 13,77% pada triwulan sebelumnya. Peningkatan tersebut disebabkan oleh kemungkinan adanya peningkatan modal yang tidak disalurkan untuk kredit melainkan disalurkan kepada penempatan tabungan pada bank lain. Kondisi tersebut berdampak pada pertumbuhan alat likuid yang melebihi pertumbuhan hutang lancar. Hal ini juga tercermin dari menurunnya LDR21 sebesar 2,26% dari 82,60% menjadi 80,34% pada triwulan III-2015 dikarenakan pertumbuhan kredit yang lebih rendah dibandingkan pertumbuhan DPK.
3.5 Rentabilitas
Rentabilitas BPR selama periode triwulan III–2015 mengalami penurunan, tercermin dari menurunnya ROA menjadi 2,73% dari triwulan sebelumnya sebesar 2,90%. Penurunan ini
20Cash Ratio adalah perbandingan antara alat likuid terhadap hutang lancar sebagaimana diatur dalam ketentuan Bank Indonesia tentang Tatacara Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Perkreditan Rakyat dan perubahannya (PBI No.3/5/PBI/2001 tentang Penetapan Status BPR dalam Pengawasan Khusus dan Pembekuan Kegiatan Usaha).
21Kriteria score LDR sebagaimana diatur dalam ketentuan tentang Tingkat Kesehatan BPR adalah: Sehat
Secara umum, kredit BPR pada triwulan III-2015 meningkat sebesar 0,71% (qtq).
Peningkatan penyaluran kredit tersebut diikuti dengan meningkatnya rasio NPL gross yang tercatat sebesar 6,05% dari sebelumnya sebesar 5,70% pada triwulan II-2015. Beberapa kondisi yang menyebabkan terjadinya peningkatan NPL pada BPR, yaitu:
i. Karakteristik debitur BPR tergolong unbankable sehingga aspek legal dari pengikatan jaminan cenderung lemah yang pada akhirnya mendorong peningkatan kredit macet.
ii. Usaha debitur yang dibiayai merupakan usaha kecil dan individual sehingga apabila terjadi permasalahan individual pada debitur tersebut akan mempengaruhi kualitas kredit debitur yang bersangkutan.
iii. Dari sisi internal bank, antara lain (a) belum terpenuhinya komposisi Direksi sesuai ketentuan mengenai GCG sebagaimana diatur dalam POJK No.4/POJK.03/2015 tentang Penerapan Tata Kelola Bagi BPR yang mulai berlaku sejak 31 Maret 2015 dengan masa peralihan selama 2 tahun, (b) sistem pengawasan debitur belum berjalan dengan baik sebagai dampak dari masih sederhananya teknologi IT BPR yang mempengaruhi keakuratan data monitoring, dan (c) kompetensi SDM yang belum memadai sehingga mempengaruhi kedalaman hasil analisis kredit.
3.4 Likuiditas
Likuiditas BPR pada triwulan III-2015 menunjukkan kondisi yang cukup baik tercermin dari Cash Ratio (CR)20 yang masih jauh diatas threshold 4,05% yaitu sebesar 15,91% meningkat dari 13,77% pada triwulan sebelumnya. Peningkatan tersebut disebabkan oleh kemungkinan adanya peningkatan modal yang tidak disalurkan untuk kredit melainkan disalurkan kepada penempatan tabungan pada bank lain. Kondisi tersebut berdampak pada pertumbuhan alat likuid yang melebihi pertumbuhan hutang lancar. Hal ini juga tercermin dari menurunnya LDR21 sebesar 2,26% dari 82,60% menjadi 80,34% pada triwulan III-2015 dikarenakan pertumbuhan kredit yang lebih rendah dibandingkan pertumbuhan DPK.
3.5 Rentabilitas
Rentabilitas BPR selama periode triwulan III–2015 mengalami penurunan, tercermin dari menurunnya ROA menjadi 2,73% dari triwulan sebelumnya sebesar 2,90%. Penurunan ini
20Cash Ratio adalah perbandingan antara alat likuid terhadap hutang lancar sebagaimana diatur dalam ketentuan Bank Indonesia tentang Tatacara Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Perkreditan Rakyat dan perubahannya (PBI No.3/5/PBI/2001 tentang Penetapan Status BPR dalam Pengawasan Khusus dan Pembekuan Kegiatan Usaha).
21Kriteria score LDR sebagaimana diatur dalam ketentuan tentang Tingkat Kesehatan BPR adalah: Sehat
terjadi karena peningkatan pendapatan bunga BPR lebih kecil daripada peningkatan aset BPR.
Dari 1.644 BPR, pada triwulan III-2015 terdapat 310 BPR yang memiliki ROA negatif dengan rata-rata sebesar -7,82%. Jumlah BPR yang memiliki ROA negatif meningkat sebanyak 9 BPR dibandingkan jumlah pada triwulan sebelumnya yaitu 301 BPR.
Tabel A.3.5.1 BPR dengan ROA Negatif
Sumber: OJK