• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyaluran Kredit UMKM

Dalam dokumen LAPORAN PROFIL INDUSTRI PERBANKAN (LPIP) (Halaman 65-68)

Profil Risiko Perbankan

1.2 Penyaluran Kredit UMKM

Berdasarkan alokasi kredit kepada Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), porsi kredit UMKM pada triwulan III-2015 masih dibawah threshold yang telah ditetapkan dalam PBI No.14/22/PBI/2012 tentang “Pemberian Kredit atau Pembiayaan oleh Bank Umum dan Bantuan Teknis Dalam Rangka Pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah”

yang mewajibkan bank mengucurkan kredit UMKM minimal 20% dari total kredit, yaitu sebesar 18,08%. Presentase tersebut menurun dibandingkan dengan triwulan II-2015 yang sebesar 18,57%.

Porsi penyaluran UMKM terpusat pada sektor perdagangan besar dan eceran sebesar 52,67%, diikuti oleh industri pengolahan sebesar 10,56%, dan pertanian, perburuan dan kehutanan sebesar 8,17%. NPL kredit UMKM sebesar 4,53% dimana 51,48% disumbang oleh sektor perdagangan besar dan eceran. Hal ini mencerminkan penyaluran UMKM pada sektor perdagangan besar dan eceran antara lain kurang didukung dengan analisa yang memadai.

Tabel B.1.1.2

Konsentrasi Kredit Sektor Ekonomi Berdasarkan Kepemilikan Bank

BUMN BUSD BUSND BPD Campuran KCBA

1 Pertanian, Perburuan dan Kehutanan 10.00 2.38 0.63 1.46 3.00 1.83

2 Perikanan 0.10 0.13 0.09 0.11 0.12 0.00

3 Pertambangan dan Penggalian 4.04 1.92 0.42 0.08 4.59 7.51

4 Industri Pengolahan 18.19 19.60 9.10 0.89 44.98 34.27

5 Listrik, Gas, dan Air 3.09 0.34 0.07 0.30 0.96 0.65

6 Konstruksi 3.72 5.01 4.69 3.22 1.14 0.74

7 Perdagangan besar dan eceran 15.78 21.32 27.25 6.62 16.44 8.87

8 Penyediaan komodasi dan Penyediaan makan minum 1.00 3.42 3.06 0.89 0.30 0.07

9 Transportasi, Pergudangan, dan Komunikasi 3.76 4.53 2.50 0.24 4.08 2.06

10 Perantara Keuangan 1.37 3.52 6.42 0.76 5.00 12.36

11 Real Estate, usaha persewaan, dan jasa perusahaan 2.35 7.25 4.37 0.61 2.66 1.09 12 Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan jaminan sosial 0.72 0.00 0.00 0.02 0.00 0.01

13 Jasa Pendidikan 0.08 0.15 0.08 0.05 0.02 0.00

14 Jasa Kesehatan dan kegiatan sosial 0.27 0.42 0.76 0.18 0.04 0.00

15 Lainnya 0.79 1.21 1.59 1.10 0.38 0.04

16 Jasa Perorangan yang melayani rumah tangga 0.01 0.01 0.06 0.02 0.00 0.00

17 Badan Internasional dan badan ekstra internasional lainnya 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00

18 Kegiatan yang belum jelas batasannya 0.20 0.02 0.01 0.00 0.08 0.01

19 Rumah Tangga 19.44 8.88 8.91 43.72 1.41 0.17

20 Bukan lapangan usaha lainnya 0.66 0.70 0.14 17.79 0.50 0.03

No. Kredit Berdasarkan Sektor Triwulan III-2015

Sistem Informasi Perbankan OJK, September 2015

Dengan porsi yang cukup besar pada sektor rumah tangga, perdagangan besar dan eceran, dan industri pengolahan, maka perlu dicermati apabila terjadi permasalahan pada sektor-sektor tersebut karena dapat mempengaruhi NPL perbankan secara signifikan.

1.2 Penyaluran Kredit UMKM

Berdasarkan alokasi kredit kepada Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), porsi kredit UMKM pada triwulan III-2015 masih dibawah threshold yang telah ditetapkan dalam PBI No.14/22/PBI/2012 tentang “Pemberian Kredit atau Pembiayaan oleh Bank Umum dan Bantuan Teknis Dalam Rangka Pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah”

yang mewajibkan bank mengucurkan kredit UMKM minimal 20% dari total kredit, yaitu sebesar 18,08%. Presentase tersebut menurun dibandingkan dengan triwulan II-2015 yang sebesar 18,57%.

Porsi penyaluran UMKM terpusat pada sektor perdagangan besar dan eceran sebesar 52,67%, diikuti oleh industri pengolahan sebesar 10,56%, dan pertanian, perburuan dan kehutanan sebesar 8,17%. NPL kredit UMKM sebesar 4,53% dimana 51,48% disumbang oleh sektor perdagangan besar dan eceran. Hal ini mencerminkan penyaluran UMKM pada sektor perdagangan besar dan eceran antara lain kurang didukung dengan analisa yang memadai.

Sumber: Statistik Perbankan Indonesia (SPI), September 2015

Penyebaran penyaluran UMKM sebagian besar masih terpusat di pulau Jawa dan Sumatera, dimana total porsi lima provinsi terbesar (DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sumatera Utara) sebesar 58,64%, meningkat dibandingkan dengan porsi pada triwulan II-2015 sebesar 53,33%. Adapun kelima provinsi terbesar tersebut memiliki porsi penyaluran UMKM antara lain DKI Jakarta (15,92%), diikuti Jawa Timur (13,22%), Jawa Barat (12,39%), Jawa Tengah (10,74%), dan Sumatera Utara (6,37%). Dibandingkan dengan porsi penyaluran pada triwulan II-2015, peningkatan porsi terjadi di seluruh provinsi terbesar kecuali di wilayah Jawa Barat.

Hal ini jauh berbeda bila dibandingkan dengan penyebaran di Indonesia bagian timur dan tengah (Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Bali, Maluku, dan Papua) yang hanya sebesar 21,88%. Rendahnya penyaluran kredit UMKM di wilayah Indonesia bagian timur dan tengah antara lain disebabkan belum optimalnya infrastruktur di wilayah tersebut dan biaya yang relatif tinggi karena faktor geografis.

Grafik B.1.2.1

Penyebaran UMKM berdasarkan Wilayah

Sumber: Diolah dari Statistik Perbankan Indonesia (SPI), September 2015 57,69%

Sementara dilihat berdasarkan kelompok bank, sebagian besar kredit UMKM disalurkan oleh kelompok BUMN (50,45%), diikuti oleh kelompok BUSN (39,42%), kelompok BPD (7,23%) serta kelompok KCBA dan bank Campuran sebesar 2,90%. Dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, penyaluran kredit UMKM berdasarkan kelompok bank relatif stabil dan tidak menunjukkan perubahan signifikan.

Tabel B.1.2.2

Porsi UMKM berdasarkan Kelompok Bank (Rp Miliar) Kel. Bank Baki Debet

Juni '15 Persentase

TW II'15 Baki Debet

Sept '15 Persentase TW III'15

BUMN 356,506 50.15% 360,866 50.45%

BPD 53,035 7.46% 51,731 7.23%

BUSN 282,210 39.70% 282,028 39.42%

KCBA dan Campuran 19,136 2.69% 20,735 2.90%

Total UMKM 710,888 100% 715,360 100%

Sumber: Statistik Perbankan Indonesia (SPI), September 2015

Dalam rangka pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Koperasi (UMKMK), penciptaan lapangan kerja, dan penanggulangan kemiskinan, Pemerintah menerbitkan Paket Kebijakan yang bertujuan meningkatkan Sektor Riil dan memberdayakan UKMK. Kebijakan pengembangan dan pemberdayaan UMKMK mencakup:

a. Peningkatan akses pada sumber pembiayaan b. Pengembangan kewirausahan

c. Peningkatan pasar produk UMKMK, dan d. Reformasi regulasi UMKMK

Upaya peningkatan akses pada sumber pembiayaan antara lain dilakukan dengan memberikan penjaminan kredit bagi UMKMK melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR)24. Pada tanggal 5 November 2007, Presiden meluncurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan fasilitas penjaminan kredit dari Pemerintah melalui PT Askrindo dan Perum Jamkrindo.

Adapun Bank Pelaksana yang menyalurkan KUR ini adalah Bank BRI, Bank Mandiri, Bank BNI, Bank BTN, Bank Syariah Mandiri, dan Bank Bukopin.

Skema KUR untuk tahun 2015 yang merupakan skema kredit berpenjaminan dengan subsidi bunga, termasuk didalamnya imbal jasa penjaminan (Tabel B.1.2.3).

24 KUR adalah kredit/pembiayaan yang diberikan oleh perbankan kepada UMKMK yang feasible tapi belum bankable atau usaha tersebut memiliki prospek bisnis yang baik dan memiliki kemampuan untuk mengembalikan. UMKM dan Koperasi yang diharapkan dapat mengakses KUR adalah yang bergerak di sektor usaha produktif antara lain: pertanian, perikanan dan kelautan, perindustrian, kehutanan, dan jasa keuangan simpan pinjam. Penyaluran KUR dapat dilakukan langsung, maksudnya UMKM dan Koperasi dapat langsung mengakses KUR di Kantor Cabang atau Kantor Cabang Pembantu Bank Pelaksana. Untuk lebih mendekatkan pelayanan kepada usaha mikro, maka penyaluran KUR dapat juga dilakukan secara tidak langsung, maksudnya usaha mikro dapat mengakses KUR melalui Lembaga Keuangan Mikro dan KSP/USP Koperasi,

Sementara dilihat berdasarkan kelompok bank, sebagian besar kredit UMKM disalurkan oleh kelompok BUMN (50,45%), diikuti oleh kelompok BUSN (39,42%), kelompok BPD (7,23%) serta kelompok KCBA dan bank Campuran sebesar 2,90%. Dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, penyaluran kredit UMKM berdasarkan kelompok bank relatif stabil dan tidak menunjukkan perubahan signifikan.

Tabel B.1.2.2

Porsi UMKM berdasarkan Kelompok Bank (Rp Miliar) Kel. Bank Baki Debet

KCBA dan Campuran 19,136 2.69% 20,735 2.90%

Total UMKM 710,888 100% 715,360 100%

Sumber: Statistik Perbankan Indonesia (SPI), September 2015

Dalam rangka pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Koperasi (UMKMK), penciptaan lapangan kerja, dan penanggulangan kemiskinan, Pemerintah menerbitkan Paket Kebijakan yang bertujuan meningkatkan Sektor Riil dan memberdayakan UKMK. Kebijakan pengembangan dan pemberdayaan UMKMK mencakup:

a. Peningkatan akses pada sumber pembiayaan b. Pengembangan kewirausahan

c. Peningkatan pasar produk UMKMK, dan d. Reformasi regulasi UMKMK

Upaya peningkatan akses pada sumber pembiayaan antara lain dilakukan dengan memberikan penjaminan kredit bagi UMKMK melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR)24. Pada tanggal 5 November 2007, Presiden meluncurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan fasilitas penjaminan kredit dari Pemerintah melalui PT Askrindo dan Perum Jamkrindo.

Adapun Bank Pelaksana yang menyalurkan KUR ini adalah Bank BRI, Bank Mandiri, Bank BNI, Bank BTN, Bank Syariah Mandiri, dan Bank Bukopin.

Skema KUR untuk tahun 2015 yang merupakan skema kredit berpenjaminan dengan subsidi bunga, termasuk didalamnya imbal jasa penjaminan (Tabel B.1.2.3).

24 KUR adalah kredit/pembiayaan yang diberikan oleh perbankan kepada UMKMK yang feasible tapi belum bankable atau usaha tersebut memiliki prospek bisnis yang baik dan memiliki kemampuan untuk mengembalikan. UMKM dan Koperasi yang diharapkan dapat mengakses KUR adalah yang bergerak di sektor usaha produktif antara lain: pertanian, perikanan dan kelautan, perindustrian, kehutanan, dan jasa keuangan simpan pinjam. Penyaluran KUR dapat dilakukan langsung, maksudnya UMKM dan Koperasi dapat langsung mengakses KUR di Kantor Cabang atau Kantor Cabang Pembantu Bank Pelaksana. Untuk lebih mendekatkan pelayanan kepada usaha mikro, maka penyaluran KUR dapat juga dilakukan secara tidak langsung, maksudnya usaha mikro dapat mengakses KUR melalui Lembaga Keuangan Mikro dan KSP/USP Koperasi,

Tabel B.1.2.3 Skema KUR Tahun 2015

Jenis KUR Suku Bunga (%) Target Penerima

Mikro 12 UMKM di sektor pertanian, industri, perikanan,

perdagangan, dan beberapa jasa

Ritel 12

TKI 12 TKI Purna, keluarga pekerja (termasuk TKI)

berpenghasilan tetap yang memiliki usaha mikro, dan buruh yang terkena PHK

Sampai dengan triwulan III-2015, realisasi penyaluran KUR baru mencapai 13,39% (Rp4,01 triliun) dari target yang ditetapkan yaitu sebesar Rp30 triliun. Dari tujuh bank yang ditetapkan sebagai penyalur KUR, realisasi penyaluran KUR tertinggi dilakukan oleh BRI (16,33%) diikuti oleh Bank Mandiri (10,91%) dan BNI (5,34%) (Tabel B.1.2.4). Rendahnya pencapaian KUR disebabkan karena program KUR tahun 2015 baru diresmikan sejak tanggal 14 Agustus 2015, sehingga waktu pencapaian target menjadi sangat terbatas (sekitar empat bulan).

Tabel B.1.2.4

Sumber: OJK

Untuk KMK BPR terdapat dukungan pendanaan dari Bank Umum melalui linkage program25. Adapun jumlah BPR yang terkait dengan linkage program dari Bank Umum berjumlah 346 BPR, sementara Bank Umum yang terkait dengan linkage program kepada BPR sebanyak 40 bank, dengan total kredit yang disalurkan sebesar Rp6.805 juta. Linkage program juga

25Linkage programadalah program yang meneruspinjamkan KUR dari penyalur KUR kepada penerima KUR berdasarkan perjanjian kerjasama lembaga linkage yang meliputi koperasi sekunder, koperasi primer, BPR/BPRS, perusahaan pembiayaan, perusahaan modal ventura, lembaga keuangan mikro, lembaga

Realisasi NPL Realisasi NPL

TOTAL 30,000,000 215,536 0% 4,015,742 0% 13.39%

BANK Agustus 2015 September 2015

Plafond

Dalam dokumen LAPORAN PROFIL INDUSTRI PERBANKAN (LPIP) (Halaman 65-68)