TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Teori Pemekaran Daerah
2.2.1 Kinerja Ekonomi Daerah
Kinerja ekonomi daerah sebuah keadaan dimana kondisi perekonomian yang dibangun oleh sebuah pemerintahan dapat ditunjukkan. Melalui kinerja ekonomi ini, daerah dapat menunjukkan sejauh apa mereka melakukan pembangunan ekonomi. Kinerja ekonomi daerah dapat digunakan apakah sebuah daerah mampu melakukan tujuan awal diberlakukannya otonomi daerah. Kinerja ekonomi daerah dapat diukur dengan beberapa variabel yang menggambarkan
pembangunan daerah. Keberhasilan Otonomi daerah dapat dilihat dengan kinerja ekonomi yang menggambarkan pembangunan daerah, dimana ada delapanbelas indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui keberhasilan pembangunan daerah. Delapanbelas indikator menurut Badan Perencanaan Pembangunan Nasional ( BAPPENAS ) tahun 2012 :
1. Persentase Kabupaten / kota yang Memiliki Pelaporan Wajar Tanpa Pengecualian
2. Rata-rata Lama Sekolah
3. Angka Melek Huruf 15 Tahun ke Atas 4. Laju Pertumbuhan Penduduk
5. Angka Harapan Hidup 6. Angka Kematian Bayi 7. Angka Kematian Ibu
8. Persentasi Jumlah Penduduk Miskin 9. Indeks Gini
10.Nilai Tukar Petani 11.Nilai Tukar Nelayan
12.. Persentase Jalan Nasional dalam Kondisi Baik
13.Persentasi Rumah Tangga Dengan Sumber Air Minum Yang Layak 14.Rasio Elektrifikasi
15.Indeks Pembangunan Manusia 16.Tingkat Pengangguran Terbuka
18.Pertumbuhan Ekonomi
Pembangunan Daerah erat kaitannya dengan Kinerja Daerah. Ada 3 (tiga) Indikator kinerja daerah meliputi 3 (tiga) aspek kinerja yaitu: aspek kesejahteraan masyarakat; aspek pelayanan umum; serta aspek daya saing daerah.
1. Aspek kesejahteraan masyarakat
diukur melalui indikator makro yang merupakan indikator gabungan (indikator komposit) dari berbagai kegiatan pembangunan ekonomi maupun sosial seperti:Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP), Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE), Inflasi, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), Angka Partisipasi Angkatan Kerja, Indeks Gini, Persentase Penduduk Miskin terhadap Total Penduduk, Indek Pembangunan Manusia (IPM) dan lain-lain.
2. Aspek pelayanan umum
Merupakan segala bentuk pelayanan yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangan atau urusan yang telah diserahkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat seperti pendidikan, kesehatan, pekerjaan umum, perumahan, perhubungan dan urusan pilihan yang menjadi kewenangan pemerintah provinsi.
3. Aspek daya saing daerah
merupakan indikator yang mengukur kemampuan perekonomian daerah dalam mencapai pertumbuhan tingkat kesejahteraan yang tinggi dan berkelanjutan. Indikator yang diukur antara lain: laju pertumbuhan
investasi, pendapatan per kapita, laju pertumbuhan ekspor, laju pertumbuhan PMA, dan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara.
Kinerja Ekonomi Daerah dapat tercapai dengan adanya program Pembangunan Daerah terutama pembangunan pada daerah baru seperti daerah pemekaran, dengan kepastian bahwa daerah dapat memberikan manfaat bagi masyarakat terutama pada segi ekonomi melalui Pembangunan Daerah. Keberhasilan Pembangunan Daerah merupakan ukuran dari keberhasilan Kinerja Ekonomi Daerah itu sendiri.
Dimana hal inilah yang menjadi variabel dependen dalam penelitian ini, untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel-variabel lainnya seperti Kemiskinan, Angka Melek Huruf (AMH), Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) perkapita menurut harga konstan, Pertumbuhan Ekonomi (PE), dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dapat mempengaruhi pembangunan daerah demi keberhasilan kinerja ekonomi daerah.
Dimana target indikator kinerja disusun setelah indikator kinerja ditetapkan. Target indikator kinerja menunjukkan sasaran kinerja spesifik yang akan dicapai oleh Kementerian/ Lembaga, Program, dan kegiatan dalam periode waktu yang telah ditetapkan. Dalam menetapkan target indikator kinerja perlu diperhatikan standar kinerja yang dapat diterima. Salah satu cara menentukan standar kinerja adalah dengan mengacu kepada tingkat kinerja Institusi/Negara lain yang sejenis sebagai perwujudan best practices. Standar kinerja dan target indikator kinerja dinyatakan dengan jelas pada awal siklus perencanaan (dapat dilakukan pada tahap perencanaan strategis atau awal tahun anggaran). Hal ini
untuk menjamin aspek akuntabilitas pencapaian kinerja. Kriteria dalam menentukan target indikator kinerja adalah dengan menggunakan pendekatan “SMART” yaitu :
1. Specific : sifat dan tingkat kinerja dapat di identifikasi dengan jelas
2. Measurable : target kinerja dinyatakan dengan jelas dan terukur baik bagi indikator yang dinyatakan dalam bentuk kuantitas, kualitas, dan biaya
3. Achievable : target kinerja dapat dicapai terkait dengan kapasitas dan sumber daya yang ada
4. Relevant : mencerminkan keterkaitan (relevansi) antara target output dalam rangka mencapai target outcome yang ditetapkan, serta antara target outcome dalam rangka mencapai target impact yang ditetapkan
5. Time Bond : waktu atau periode kinerja dapat ditetapkan.
2.3 Kemiskinan
Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi kekurangan hal-hal yang biasa untuk dipunyai seperti makanan, pakaian, tempat berlindung dan air minum, hal-hal ini berhubungan erat dengan kualitas hidup .Kemiskinan kadang juga berarti tidak adanya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan yang mampu mengatasi masalah kemiskinan dan mendapatkan kehormatan yang layak sebagai warga negara.Kemiskinan merupakan masalah global.ketidakmampuan individu dalam memenuhi kebutuhan dasar minimal untuk hidup layak.
Dalam arti proper, kemiskinan dipahami sebagai keadaan kekurangan uang dan barang untuk menjamin kelangsungan hidup. Dalam arti luas. Chambers dalam Suryawati (2005) mengatakan bahwa kemiskinan adalah suatu intergrated
concept yang memiliki lima dimensi yaitu : 1) kemiskinan (proper), 2)
ketidakberdayaan (powerless), 3) kerentanan menghadapi situasi darurat (state of
emergency), 4) ketergantungan (depedence), dan 5) keterasingan (isolation) baik
secara geografis maupun sosiologis.
World Bank (2010) mendefinisikan kemiskinan sebagai kekurangan dalam
kesejahteraan, dan terdiri dari banyak dimensi. Ini termasuk berpenghasilan rendah dan ketidakmampuan untuk mendapatkan barang dasar dan layanan yang diperlukan untuk bertahan hidup dengan martabat. Kemiskinan juga meliputi rendahnya tingkat kesehatan dan pendidikan,akses masyarakat miskin terhadap air bersih dan sanitasi, keamanan fisik yang tidak memadai, kurangnya suara, dan kapasitas memadai dan kesempatan untuk hidup yang lebih baik itu.
Castells (1998) mengemukakan kemiskinan adalah suatu tingkat kehidupan yang berada dibawah standard kebutuhan hidup minimum agar manusia dapat bertahan hidup. Adapun standard kebutuhan hidup minimum dimaksud pada umumnya ditetapkan berdasarkan kebutuhan pokok pangan.
Kemiskinan terkat dengan masalah kekurangan pangan dan gizi, keterbelakangan pendidikan, kriminalisme, pengangguran, prostitusi, dan masalah-masalah lain yang bersumber dari rendahnya tingkat pendapatan perkapita penduduk. Kemiskinan merupakan masalah yang sangat kompleks dan tidak sederhana penanganannya. Menurut Mulyono dalam Bappenas (2010) kemiskinan berarti ketiadaan kemampuan dalam seluruh dimensinya. Dengan demikian, kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, tempat berlindung,
pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan kesehatan.
Terdapat empat bentuk kemiskinan yang mana setiap bentuk memiliki arti tersendiri :
Keempat bentuk tersebut adalah kemiskinan absolut dan kemiskinan relatif yang melihat kemiskinan dari segi pendapatan, sementara kemiskinan struktural dan kemiskinan kultural yang melihat kemiskinan dari segi penyebabnya(Jamasy, 2004:31).
1. Kemiskinan absolut adalah apabila tingkat pendapatannya dibawah garis kemiskinan atau sejumlah pendapatannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan minimun, antara lain kebutuhan pangan, sandang, kesehatan, perumahan dan pendidikan yang diperlukan untuk meningkatkan kapasitas agar bisa hidup dan bekerja.
2. Kemiskinan relatif adalah kondisi dimana pendapatannya berada pada posisi di atas garis kemiskinan, namun relatif lebih rendah dibanding pendapatan masyarakat sekitarnya.
3. Kemiskinan struktural ialah kondisi atau situasi miskin karena pengaruh kebijakan pembangunan yang belum menjangkau seluruh masyarakat sehingga menyebabkan ketimpangan pada pendapatan.
4. Kemiskinan kultural mengacu pada persoalan sikap seseorang atau masyarakat yang disebabkan oleh faktor budaya, seperti tidak mau
berusaha untuk memperbaiki tingkat kehidupan, malas, pemboros, tidak kreatif, meskipun ada usaha dari pihak luar untuk membantunya.