IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2. Kinerja Keuangan Bank
1. Capital Adiquency Ratio (CAR)
Modal merupakan faktor penting bagi bank dalam rangka pengembangan usaha dan menampung resiko kerugiannya. Permodalan bank merupakan salah satu hal penting yang harus diperhatikan agar perbankan indonesia dapat berkembang dengan sehat dan mampu bersaing dengan perbankan nasional, maka permodalan bank perlu disesuaikan dengan ukuran yang berlaku secara internasional. Ketentuan mengenai kewajiban penyediaan modal minimum bagi bank, yang didasarkam kepada standar yang ditetapkan oleh Bank for Internasional Settlements
(BIS) dan sesuai dengan Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No. 26/20/Kep/DIR dan Surat Edaran Bank Indonesia No. 26/2/BPPP masing- masing tanggal 29 Mei 2003 ditetapkan standar untuk rasio CAR sebesar 8%.
Semakin tinggi rasio CAR suatu bank mengindikasikan bank tersebut semakin sehat permodalannya. Presentase rasio CAR pada bank persero dan swasta nasional dominasi asing yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2011 dapat dilihat pada Gambar 19.
Gambar 19 menunjukan CAR tertinggi adalah Bank of India Indonesia sebesar 26,9% pada tahun 2010 dan tahun 2011 sebesar 23,29%, dan CAR paling rendah adalah Bank ICB Bumiputera sebesar 12,63% dan pada tahun 2011 sebesar 10,47%. Tingginya CAR Bank of India Indonesia disebabkan oleh adanya aliran modal masuk yang lebih tinggi yang di dominasi oleh penanaman modal asing (PMA). Aliran modal masuk menyebabkan meningkatnya jumlah modal Bank of India Indonesia sebesar 4,98% dari Rp291,83 miliar diakhir tahun 2009 menjadi sebesar Rp306,92 miliar tahun 2010. Peningkatan ATMR Rp173,65 miliar atau 19,58% dari akhir tahun 2009 sebesar Rp886,94 miliar menjadi sebesar Rp1.060,58 miliar. Dengan tingkat permodalan yang kuat ini masih memberikan keleluasaan bagi manajemen Bank of India Indonesia untuk meningkatkan ekspansi usahanya (Annual Report Bank of India Indonesia, 2010-2011). Sedangkan CAR pada Bank ICB Bumiputera selama dua tahun berturut-turut, yaitu tahun 2010-2011 paling rendah di antara bank lain yang menjadi objek penelitian. Penyebabnya adalah Bank ICB Bumiputera menunda rencana peningkatan modal, karena kondisi pasar yang tidak menguntungkan. Penurunan CAR dari tahun sebelumnya lebih disebabkan oleh rugi bersih yang dialami Bank ICB Bumiputera dan aset tertimbang menurut risiko kredit juga menurun seiring dengan penurunan aset kredit dan meningkatnya NPL bank. Meskipun demikian rasio CAR tersebut masih berada di atas ketentuan Bank Indonesia sebesar 8% (Annual Report Bank ICB Bumiputera, 2010-2011).
2. Non Performing Loans (NPL) gross
NPL gross adalah perbandingan antara kredit yang tidak dikembalikan lagi oleh si peminjamnya (kredit macet), atau dikembalikan tapi tersendat sendat, dengan total kredit yang disalurkan oleh bank ke masyarakat. Kredit merupakan sumber pendapatan dan keuntungan terbesar bagi pihak bank, disamping itu kredit merupakan salah satu penyebab utama bank dalam menghadapi masalah. Keberhasilan bank
dalam mengelola kredit merupakan salah satu yang mempengaruhi stabilitas usaha bank. Bank Indonesia menetapkan NPL gross maksimum sebesar 5%, sesuai dengan peraturan Bank Indonesia No.13/3/PBI/2011 tentang penetapan status dan tindak lanjut pengawasan bank.
Semakin rendah rasio NPL suatu bank mengindikasikan bank tersebut semakin sehat dari segi tingkat likuiditasnya. Presentase rasio NPL gross pada bank persero dan swasta nasional dominasi asing yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2011 dapat diliat pada Gambar 20.
Gambar 20. Grafik NPL gross tahun 2010-2011
Gambar 20 menunjukan NPL gross terendah adalah Bank Ekonomi Raharja sebesar 0,35% pada tahun 2010 dan pada tahun 2011 sebesar 0,74%. Hal ini disebabkan karena Bank Ekonomi Raharja melakukan pengendalian bisnis untuk menjaga kesehatan bank melalui penerapan manajemen resiko yang lebih terstruktur (Annual Report Bank Ekonomi Raharja, 2010-2011). Sedangkan NPL gross tertinggi adalah Bank ICB Bumiputera sebesar 4,34% pada tahun 2010 dan pada tahun 2011 sebesar 6,25%. Sebenarnya NPL gross ICB Bumiputera 2010 mengalami perbaikan dari NPL gross tahun sebelumnya. Karena Bank ICB
Bumiputera mencoba menerapkan kerangka manajemen resiko kredit yang lebih baik, tinjauan yang terperinci mengenai persetujuan kredit, pemeliharaan rekening yang lebih baik dan koreksi yang sangat kuat. Perbaikan NPL gross dari tahun sebelumnya adalah wujud keberhasilan perbaikan dalam pengelolaan kualitas portofolio kredit dan proses persetujuan kredit yang ketat dan selektif tanpa menambah waktu pemrosesan. Hal ini didukung manajemen NPL di antaranya melalui implementasi sistem monitoring atas rekening-rekening nasabah dan pelaksanaan conference calls dengan cabang. Pada tahun 2011, NPL gross
Bank ICB Bumiputera melebihi batas maksimum NPL gross yang ditetapkan oleh BI sebesar 5%, untuk itu Bank ICB Bumiputera harus memperbaiki manajemen resiko kreditnya (Annual Report Bank ICB Bumiputera, 2010-2011).
3. Return On Assets (ROA)
Rasio Return On Assets (ROA) menunjukan tingkat efisiensi pengelolaan aset yang dilakukan oleh bank yang bersangkutan. ROA merupakan indikator kemampuan perbankan untuk memperoleh laba atas sejumlah aset yang dimiliki oleh bank. Berdasarkan Matriks Kriteria Penetapan Peringkat Komponen Earnings (rentabilitas) pada Lampiran 2d Surat Edaran Bank Indonesia No.6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004 ditetapkan standar untuk rasio ROA berkisar antara 0,5% sampai dengan 1,25 %, hal ini menunjukan perolehan laba cukup tinggi.
Semakin tinggi rasio ROA suatu bank mengindikasikan bank tersebut semakin baik tingkat efisiensi pengelolaan aset yang dilakukan oleh bank dan memperoleh laba semakin banyak. Presentase rasio ROA pada bank persero dan swasta nasional dominasi asing yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2011 dapat diliat pada Gambar 21.
Gambar 21. Grafik ROA tahun 2010-2011
Gambar 21 menunjukan ROA tertinggi adalah BRI sebesar 4,64% pada tahun 2010 dan pada tahun 2011 adalah 4,93%. Tingginya ROA BRI karena membaiknya komposisi kredit di mana komposisi kredit mikro yang memberikan yield tinggi semakin besar, meningkatnya kontribusi
feebased income, dan meningkatnya leverage, menyebabkan ROA BRI mengalami tren peningkatan. ROA BRI meningkat menjadi 4,93% pada posisi Desember 2011 dari 4,64% pada posisi tahun sebelumnya jauh di atas ROA perbankan nasional (Annual Report Bank Rakyat Indonesia, 2010-2011). Sedangkan ROA terendah selama dua tahun berturut-turut adalah Bank ICB Bumiputera sebesar 0,24% pada tahun 2010 dan pada tahun 2011 mengalami penurunan menjadi sebesar -1,64%. Hal tersebut disebabkan karenatotal aset menurun 16% ke Rp 7,30 triliun terutama dari penurunan pinjaman sebesar Rp1,02 triliun. Penurunan pada total pinjaman utamanya dari Pinjaman Konsumer setelah adanya pergeseran pinjaman Otomotif dari channeling ke executing. Pinjaman Bisnis juga menurun 10% terutama dari sengitnya persaingan dan pengambilalihan oleh bank lain. Sebagai dampaknya, Bank ICB Bumiputera mencatat rugi bersih sebesar Rp95,33 miliar untuk tahun buku 2011, akibat penurunan signifikan pada kontribusi pendapatan seiring penurunan beberapa segmen
Ratio menjadi 20% secara signifikan meningkatkan laba ditahan BRI sehingga memperkuat ekuitas BRI. Peningkatan ekuitas BRI yang lebih tinggi dibandingkan peningkatan laba bersih BRI menyebabkan ROE BRI tahun 2011 lebih rendah dibandingkan ROE BRI tahun 2010 (Annual Report Bank Rakyat Indonesia, 2010-2011).
Sedangkan ROE terendah adalah Bank ICB Bumiputera sebesar 2,31% pada tahun 2010 dan kembali menurun pada tahun 2011 sebesar - 18,96%. Meskipun ROE Bank ICB Bumiputera terendah, tetapi ROE Bank ICB Bumiputera tahun 2010 sebenarnya meningkat dari ROE tahun sebelumnya. Peningkatan ROE ini dikarenakan total aset ROA meningkat menjadi Rp8.659,89 miliar, ini menunjukan peningkatan sebesar 23,6%. Pertumbuhan kredit juga meningkat sebesar 15,06% menjadi Rp6.129,04 miliar. Di sisi lain DPK meningkat sebesar 21,39% menjadi Rp7.213,67 miliar, laba sebelum pajak naik 54,85% menjadi Rp17,53 miliar dan laba setelah pajak mencapai Rp12,17 miliar naik 141,28% dari tahun 2009. ROE ICB Bumiputera tahun 2011 menurun menjadi -18,96%, hal ini juga disebabkan karenatotal aset menurun 16% ke Rp7,30 triliun terutama dari penurunan pinjaman sebesar Rp1,02 triliun dan Bank ICB Bumiputera mencatat rugi bersih sebesar Rp95,33 miliar untuk tahun buku 2011 (Annual Report Bank ICB Bumiputera, 2010-2011).
5. Biaya Operasional Biaya terhadap Pendapatan Operasional (BOPO)
Rasio Biaya Operasional Biaya terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam mengendalikan biaya operasional terhadap pendapatan operasional. Berdasarkan Matriks Kriteria Penetapan Peringkat Komponen Earnings
(rentabilitas) pada Lampiran 2d Surat Edaran Bank Indonesia No.6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004 ditetapkan standar untuk rasio BOPO berkisar antara 94% sampai dengan 96%, hal ini menyatakan tingkat efisiensi cukup baik.
Semakin kecil rasio ini berarti semakin efisensi biaya operasional yang dikeluarkan bank yang bersangkutan sehingga kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin kecil. Presentase rasio BOPO pada bank persero dan swasta nasional dominasi asing yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2011 dapat diliat pada Gambar 23.
Gambar 23. Grafik BOPO tahun 2010-2011
Gambar 23 menunjukan BOPO terendah pada tahun 2010 adalah Bank Mandiri sebesar 65,63%. Salah satu penyebabnya adalah pendapatan operasional lainnya pada tahun 2010 mengalami peningkatan dari sebesar Rp5.484 miliar pada tahun 2009 menjadi Rp8.433 miliar. Pendapatan bersih atas transaksi valuta asing mengalami penurunan sebesar 6,6% dari Rp637 miliar pada tahun 2009 menjadi Rp595 miliar pada tahun 2010. Pendapatan lain-lain meningkat sebesar 510,4% dari Rp536 miliar pada tahun 2009 menjadi Rp2.736 miliar pada tahun 2010 (Annual Report Bank mandiri, 2010). Sedangkan pada tahun 2011 BOPO terendah adalah BRI hanya sebesar 66,69%, turun dibanding tahun 2009 yang tercatat sebesar 77,66% dan tahun 2010 yang tercatat sebesar 70,86%. Meningkatnya kualitas penyaluran kredit, tingginya rasio imbal hasil, terjaganya tingkat NIM, serta meningkatnya LDR BRI didukung oleh peningkatan efisiensi
kegiatan operasional yang telah dilakukan oleh BRI menyebabkan BRI mampu menekan BOPO di tahun 2011 (Annual Report Bank Rakyat Indonesia, 2011).
Sedangkan BOPO tertinggi adalah Bank ICB Bumiputera sebesar 96,96% pada tahun 2010 dan tahun 2011 sebesar 114,63%. Penyebabnya adalah pendapatan operasional Bank ICB Bumiputera mengalami penurunan sebesar Rp7,3 miliar atau 9,5% lebih rendah dibandingkan tahun 2010 yang sebesar Rp77,4 miliar. Penurunan terbesar berasal dari menurunnya keuntungan penjualan surat berharga sebesar Rp13,0 miliar atau 30,4%, diikuti oleh penurunan pendapatan komisi sebesar Rp7,9 miliar. Beban umum dan administrasi meningkat sebesar Rp24,3 miliar atau 11,7% menjadi Rp231,5 miliar pada tahun 2011. Hal ini dipengaruhi oleh adanya beban umum dan administrasi terkait dengan pembukaan cabang micro banking yang di mulai pada semester kedua tahun 2010, seperti beban komunikasi data dan sewa komputer yang naik sebesar Rp8,5 miliar, biaya sewa gedung dan pemeliharaan yang naik sebesar Rp3,5 miliar, biaya penyusutan yang naik sebesar Rp2,1 miliar dan biaya komisi yang naik sebesar Rp3,6 miliar (Annual Report Bank ICB Bumiputera, 2010-2011).
6. Loan To Deposits Ratio (LDR)
Rasio yang menyatakan seberapa jauh bank telah menggunakan uang para penyimpan (depositor) untuk memberikan pinjaman kepada nasabahnya. Berdasarkan Matriks Kriteria Penetapan Peringkat Komponen Likuiditas pada Lampiran 2e Surat Edaran Bank Indonesia No.6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004 ditetapkan standar untuk rasio LDR berkisar 85 % <
Rasio ≤ 100 % atau Rasio ≤ 50 %.
Semakin tinggi rasio ini semakin rendah pula kemampuan likuiditasnya. Presentase rasio LDR pada bank persero dan swasta nasional dominasi asing yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2011 dapat diliat pada Gambar 24.
Gambar 24. Grafik LDR tahun 2010-2011
Gambar 24 menunjukan LDR tertinggi selama dua tahun adalah BTN, rasio Kredit terhadap Simpanan (LDR) menurun dari 108,42% di 2010 menjadi 102,57% di 2011, yang disebabkan oleh peningkatan simpanan sebagai sumber pembiayaan yang lebih tinggi dari peningkatan kredit sebagai aset pada tahun 2011. Dari sisi kredit, posisi kredit dan pembiayaan Bank BTN telah mencapai Rp63,56 triliun. Sedangkan dari sisi dana pihak ketiga, Bank BTN pun mampu menghimpun dana masyarakat sebesar Rp61,97 triliun. Memiliki visi untuk menjadi bank terkemuka dalam pembiayaan perumahan, bisnis inti Bank BTN adalah penyaluran kredit perumahan. Hal ini ditunjukkan lewat alokasi kredit 2011 yang sebesar 87,62% di sektor ini. Total penyaluran pinjaman naik 23,31% menjadi Rp63,56 triliun dibandingkan Rp51,55 triliun di 2010.
Mengacu kepada strategi bisnis, Bank BTN menargetkan komposisi antara kredit perumahan dengan kredit non-perumahan maksimal di posisi 85% : 15%. Hingga Desember 2011, 87,62% kredit yang disalurkan merupakan kredit perumahan yang terdiri dari 69,23% untuk KPR, 11,31% untuk kredit konstruksi perumahan serta sisanya kredit bagi industri terkait perumahan. Pangsa pasar Bank BTN di Indonesia per akhir Desember 2011 mencapai 25%.
Dalam hal pangsa pasar kredit subsidi Pemerintah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), BTN tetap menjadi bank penyalur pembiayaan KPR Bersubsidi tertinggi, yaitu 99%, berdasarkan jumlah kredit baru yang dicairkan per akhir Desember 2011. Selama 2011, BTN telah mendistribusikan KPR subsidi sebesar Rp25 triliun, yang meningkat 20% dari 2010.
Sedangkan untuk penyaluran kredit perumahan non subsidi, selama 2011 Bank BTN berhasil mencapai Rp7,23 triliun, atau lebih tinggi 34,64% dari 2010 sebesar Rp5,37 triliun. Dari jumlah itu, penyaluran KPR BTN Platinum masih memberikan kontribusi terbesar, yakni Rp4,49 triliun.
Tingginya rasio LDR BTN memberikan indikasi semakin rendahnya kemampuan likuiditas BTN. Hal ini disebabkan jumlah dana yang diperlukan untuk membiayai kredit menjadi semakin besar (Annual Report Bank Tabungan Negara, 2010-2011).
Sedangkan LDR terkecil tahun 2010-2011 adalah Bank Ekonomi Raharja sebesar 62,44% tahun 2010 dan tahun 2011 sebesar 70,06% (Annual Report). Salah satu penyebab kecilnya rasio LDR Bank Ekonomi Raharja adalah Bank Ekonomi Raharja melakukan proses sentralisasi aktivitas penyaluran kredit. Sebelumnya, setiap cabang dapat melakukan semua kegiatan termasuk pinjaman. Saat ini, kegiatan tersebut dipusatkan pada area tertentu berdasarkan lokasi geografis. Kecilnya rasio LDR Bank Ekonomi Raharja mengidikasi semakin besarnya kemampuan likuiditas Bank Ekonomi Raharja (Annual Report Bank Ekonomi Raharja, 2010- 2011).
7. Price Earning Ratio (PER)
Rasio Price Earning Ratio mencerminkan mencerminkan beberapa hal. Pertama, ia mencerminkan murah atau mahalnya harga satu saham. Semakin tinggi PER, semakin mahal harga sahamnya. Meski begitu bukan berarti harga yang mahal tidak diminati investor. Karena itu, yang kedua,
PER juga merefleksikan tingkat kepercayaan investor atau pelaku pasar terhadap performance saham tersebut. Jika ada saham yang diperdagangkan dengan PER tinggi, tetapi tetap diminati investor artinya investor atau pelaku pasar memiliki tingkat kepercayaan kepada saham dan atau perusahaan tersebut. Ketiga, PER juga mencerminkan rentang waktu pengembalian investasi, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk pengembalian investasi yang dilakukan.
Presentase rasio PER pada bank persero dan swasta nasional dominasi asing yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2011 dapat diliat pada Gambar 25.
Gambar 25. Grafik PER tahun 2010-2011
Gambar 25 menunjukan PER tertinggi adalah BII sebesar 79,31 kali. pada tahun 2010 dan tahun 2011 sebesar 34,50 kali. BII memiliki tingkat pertumbuhan tinggi yang tercermin dari tingginya rasio PER BII, disebabkan karena harga saham BII tahun 2010 meningkat drastis dan pada tahun 2011 juga mengalami peningkatan. Hal ini menunjukan bahwa pasar mengharapkan pertumbuhan laba di masa mendatang. Sedangkan PER terendah tahun 2010 adalah Bank Nusantara Parahyangan sebesar 11,07 kali dan tahun 2011 PER terendah dimiliki oleh Bank ICB Bumiputera sebesar -36,79 kali. Rendahnya rasio PER pada Bank
Nusantara Parahyangan tahun 2010 disebabkan karena peningkatan laba per lembar saham Bank Nusantara Parahyangan dan ICB Bumiputera tahun 2011 mencerminkan tingkat pertumbuhan yang rendah, hal ini disebabkan oleh menurunnya harga saham Bank ICB Bumiputera dan Bank ICB bumiputera mengalami rugi bersih.
8. Price To Book value (PBV)
Price to Book Value (PBV) adalah angka rasio yang menjelaskan seberapa kali seorang investor bersedia membayar sebuah saham untuk setiap nilai buku per sahamnya. Saham yang memiliki PBV tinggi dapat dianggap sebagai saham yang harganya lebih mahal dibandingkan harga saham lain yang sejenis. Saham yang tinggi harganya biasanya mencerminkan kualitas kinerja perusahaan tersebut yang baik dan pertumbuhannya yang cukup pesat. PBV yang tinggi diharapkan akan menghasilkan return yang tinggi pula dari suatu saham seiring pertumbuhan perusahaan tersebut pada masa akan datang.
Presentase rasio PBV pada bank persero dan swasta nasional dominasi asing yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2011 dapat dilihat pada Gambar 26.
Gambar 26 menunjukan PBV tertinggi pada tahun 2010 adalah Bank Internasional Indonesia sebesar 6,27%, disebabkan oleh tahun 2010 harga saham BII meningkat drastis dan tahun 2011 PBV tertinggi adalah BRI sebesar 4,15%, disebabkan oleh meningkatnya saham BRI pada tahun 2011. Sedangkan PBV terendah pada tahun 2010 adalah Bank Nusantara Parahyangan sebesar 1,27% disebabkan oleh penurunan harga saham Bank Nusantara Parahyangan dan PBV terendah tahun 2011 adalah Bank ICB Bumiputera sebesar -36,79% oleh menurunnya harga saham Bank ICB Bumiputera.
4.3. Uji Non-parametik