• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR PUSTAKA

3.4. Populasi dan Sampel 1 Populasi

Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah bank umum persero dan swasta nasional yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2011. Jumlah bank umum persero dan swasta nasional yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2011 sebanyak 29 bank.

3.4.2 Sampel

Penelitian ini menggunakan teknik pengambilan sampel sesuai dengan tujuan penelitian yaitu purposive sampling. Karena fokus penelitian ini adalah menganalisis hubungan struktur kepemilikan dengan kinerja keuangan pada bank umum persero dan swasta nasional dominasi asing, maka sampel yang digunakan adalah bank-bank yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2011 dan dibagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama adalah bank persero dan kelompok kedua adalah bank swasta nasional dominasi asing dengan kepemilikan asing di atas 51%.

Tabel 2. Hasil seleksi sampel dengan menggunakan metode

purposive sampling

Sumber : Data Bursa Efek Indonesia tahun 2010-2011

Berdasarkan Tabel 1 terlihat dari 29 bank yang terdiri dari bank umum persero dan swasta nasional yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2011, terdapat 4 (empat) bank pada kelompok pertama dan 7 (tujuh) bank pada kelompok kedua. Nama-nama bank yang diteliti dapat dilihat pada Tabel 3 dan 4.

Tabel 3. Daftar Bank Persero yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2011

Sumber : Data Bursa Efek Indonesia tahun 2010-2011

1 Bank 1 Bank

4 Bank 7 Bank Bank yang kepemilikannya didominasi oleh bank milik pemerintah (anak

perusahaan)

Bank dalam penanganan khusus (didominasi oleh lembaga penjamin simpanan)

Bank yang kepemilikannya didominasi oleh pemerintah di atas 51% (Persero)

Bank yang kepemilikannya didominasi oleh asing di atas 51% periode 2010 - 2011

Bank yang kepemilikannya didominasi oleh asing di atas 51% hanya tahun

2011 1 Bank

Kepemilikan Bank Umum Persero dan Swasta Nasional yang

terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2011 Jumlah

Jumlah populasi

Bank yang kepemilikannya tanpa ada dominasi salah satu pihak pemilik saham

Bank yang kepemilikan sahamnya dikuasai publik (di atas 51%) Bank yang kepemilikannya didominasi oleh salah satu pihak (perseorangan atau perusahaan swasta dalam negeri)

29 Bank 5 Bank 3 Bank 7 Bank

1 Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Pemerintah 60.00 60.00

2 Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Pemerintah 56.75 56.75

3 Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Pemerintah 71.91 71.91

4 Bank Mandiri (Persero) Tbk Pemerintah 66.77 60.00

Presentase Kepemilikan 2010 Pemilik Saham

Mayoritas

No Nama Bank Presentase

Tabel 4. Daftar Bank Swasta Nasional dominasi asing dengan kepemilikan asing di atas 51% yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2011

Sumber : Data Bursa Efek Indonesia tahun 2010-2011

3.5. Pengolahan dan Analisis Data

Penelitian ini melakukan analisis data dengan menggunakan metode analisis deskriptif yang menjelaskan data dalam ukuran-ukuran nilai angka yang dapat menggambarkan karakteristik data dengan menyajikan data dalam tabel, grafik, ukuran pemusatan data, dan penyebaran data. Analisis deskriptif menggambarkan struktur kepemilikan bank umum persero dan swasta nasional dominasi asing yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2011 dan menggambarkan kinerja keuangan pada bank tersebut tahun 2010-2011.

Penelitian ini juga menggunakan statistik non-parametrik, alat bantu non-parametrik yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji Kruskal-Wallis dan uji korelasi Spearman. Uji Kruskal-Wallis digunakan pada statistik uji non-parametrik untuk membandingkan dua atau lebih nilai rata-rata populasi secara bersamaan dan membandingkan kinerja keuangan pada bank umum persero dan swasta nasional dominasi asing yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2011, sedangkan uji korelasi Spearman

untuk menganalisis hubungan struktur kepemilikan dengan kinerja keuangan pada bank umum persero dan swasta nasional dominasi asing yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2011.

1 Bank ICB Bumi Putra Tbk ICB Financial Group

Holdings AG (Switzerland) 69,99 69,90 2 Bank Ekonomi Raharja Tbk HSBC Asia Pacific

Holdings (UK) Limited 98,94 98,94 3 Bank Nusantara Parahyangan Tbk Acom Co., Ltd (Jepang) 60,31 60,31 4 Bank CIMB Niaga Tbk CIMB Groups Sdn

BBhd-Non Tradi 96,91 96,00

5 Bank Internasional Indonesia Tbk Maybank 97,38 97,50

6 Bank of India Indonesia Tbk Bank of India 76,00 76,00

7 Bank NISP OCBC Tbk OCBC Bank (Singapore) 81,90 85,10

Presentase Kepemilikan 2010 Pemilik Saham

Mayoritas

No Nama Bank Presentase

3.5.1 Variabel Penelitian

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel yang dapat menggambarkan kinerja keuangan bank tersebut, meliputi: 1. Capital Adequacy Ratio (CAR)

CAR merupakan rasio equitas yang diklasifikasikan terhadap jumlah kredit yang disalurkan, yang menunjukkan kemampuan permodalan dan cadangan yang digunakan untuk menunjang kegiatan operasi perusahaan (Siamat, 1993). Persamaannya dapat dituliskan sebagai berikut :

2. Non Performing Loan (NPL) Gross

NPL gross adalah perbandingan antara kredit yang tidak dikembalikan lagi oleh si peminjamnya (kredit macet), atau dikembalikan tapi tersendat-sendat, dengan total kredit yang disalurkan oleh bank ke masyarakat. Persamaannya dapat dituliskan sebagai berikut :

3. Return On Assets (ROA)

ROA yang juga disebut sebagai rentabilitas ekonomi merupakan perbandingan antara net income dengan total aset yang digunakan untuk menghasilkan laba tersebut (Siamat, 1993). Persamaannya dapat dituliskan sebagai berikut :

…..………..….. (3)

………. (2)

4. Return on Equity (ROE)

ROE merupakan salah alat utama investor yang paling sering digunakan dalam menilai suatu saham. Dalam perhitungannya, secara umum ROE dihasilkan dari pembagian laba dengan ekuitas selama setahun terakhir. ROE bisa memberikan gambaran tiga hal pokok:

1. Kemampuan perusahaan menghasilkan laba (profitability) 2. Efisiensi perusahaan dalam mengelola aset (assetsmanagement) 3. Hutang yang dipakai dalam melakukan usaha (financialleverage) Persamaannya dapat dituliskan sebagai berikut :

5. Rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) BOPO merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat efiseinsi dan kemampuan bank dalam melakukan kegiatan operasinya.

Semakin kecil rasio ini berarti semakin efisien biaya operasional yang dikeluarkan bank yang bersangkutan sehingga kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin kecil (Farah Margaretha, 2007). Persamaannya dapat dituliskan sebagai berikut :

6. Loan to Deposits Ratio (LDR)

LDR menggambarkan kemampuan bank membayar kembali penarikan-penarikan yang dilakukan oleh nasabah dan deposan dengan mengandalkan kredit yang diberikan sebagai sumber likuiditasnya. Semakin tinggi rasio ini semakin rendah pula

……….... (4)

kemampuan likuiditas bank. LDR dapat pula digunakan untuk menilai strategi manajemen suatu bank, manajemen bank yang konservatif cenderung memiliki LDR yang relatif rendah, begitu pula sebaliknya. Persamaan LDR dapat dituliskan sebagai berikut (Siamat, 1993) :

7. Price Earning Ratio (PER)

PER adalah perbandingan harga saham dengan laba per saham yang kemudian menjadi ukuran penting yang menjadi landasan pertimbangan seorang investor membeli saham sebuah perusahaan. Persamaannya dapat dituliskan sebagai berikut :

8. Price to Book Value (PBV)

PBV adalah rasio yang menggambarkan seberapa besar pasar menghargai nilai buku saham suatu perusahaan (Tjiptono dan Hendry, 2001). Semakin tinggi resiko ini berarti pasar percaya akan prospek perusahaan tersebut. Persamaannya dapat dituliskan sebagai berikut :

3.5.2 Analisis Deskriptif

1. Menggambarkan struktur kepemilikan bank umum persero dan swasta nasional dominasi asing yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2011 dengan menggunakan diagram pie

sehingga dapat terlihat jelas struktur kepemilikan bank tersebut.

………...…. (6)

………….…….... (8)

2. Menganalisis kinerja keuangan bank umum persero dan swasta nasional dominasi asing yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2011. Penelitian ini mengunakan indikator kinerja keuangan yang digunakan untuk menilai tingkat kesehatan bank dan kinerja saham, terdiri dari rasio Capital Adequacy Ratio (CAR), Non Performing Loan (NPL) Gross, Return On Assets (ROA), Return On Equity (ROE), Loan to Deposits Ratio (LDR), Rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO), Price Earning Ratio (PER), dan Price to Book Value (PBV).

3.5.3 Statistik Non-parametik

Statistik non-parametik tidak memerlukan asumsi kenormalan data, mudah dan tidak memerlukan perhitungan yang rumit (Suharyadi dan Purwanto, 2004).

Penelitian ini mengunakan analisis korelasi dengan mengunakan statistik non-parametik. Pengunaan statistik non-parametik ini karena ukuran sampel sedemikian kecil sehingga distribusi sampel atau populasi tidak mendekati normal, dan tidak ada asumsi yang dapat dibuat tentang bentuk distribusi populasi yang menjadi sumber populasi.

Uji non-parametik digunakan bila asumsi-asumsi pada uji parametik tidak dipenuhi. Asumsi yang paling lazim pada uji parametik adalah sampel acak berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Bila asumsi ini dipenuhi, atau paling tidak penyimpangan terhadap asumsinya sedikit, maka uji parametik masih bisa diandalkan. Tetapi bila asumsi tidak dipenuhi maka uji non-parametik menjadi alternatif.

Keuntungan uji non-parametik terutama pada tidak perlunya mengetahui bentuk distribusi populasi data. Selain itu, perhitungan-perhitungan biasanya singkat dan syarat skala pengukuran datanya tidak terlalu ketat.

Uji non-parametik dalam penelitian ini mengunakan alat bantu, yaitu :

a. Uji KruskalWallis

Uji Kruskal-Wallis (H Test) pertama kali diperkenalkan Willian H.Kruskall dan Allen Wallis pada tahun 1952. Uji Kruskal-Wallis dikenal juga sebagai uji H.

Uji Kruskal-Wallis merupakan pengembangan dari uji

Mann-Whitney. Metode ini merupakan metode non-parametrik dengan mempergunakan teknik rank (urutan). Uji ini digunakan untuk menguji asumsi pertama yang menjelaskan adanya sifat kenormalan dari distribusi data. Uji ini digunakan untuk membandingkan rata-rata dua sample atau lebih secara bersamaan, sehingga merupakan alternatif dari analisis varian untuk 1 arah (ANOVA) atau pengujian hipotesa 3 rata-rata atau lebih dengan mengunakan distribusi F untuk satu arah dari uji parametrik.

Uji Kruskal-Wallis membutuhkan pemenuhan asumsi yang lebih longgar dari pada ANOVA satu arah, yaitu:

1. Sampel-sampel berasal dari populasi independen. Pengamatan satu dan yang lainya independen.

2. Sampel dicuplik secara acak dari populasi masing-masing. 3. Data diukur minimal dalam skala ordinal.

Jadi, uji Kruskal-Wallis adalah uji yang digunakan untuk menguji kemaknaan perbedaan (jika memang ada perbedaan) beberapa (k) sampel independen dengan data berskala ordinal.

Pada penelitian ini uji Kruskal-Wallis ini digunakan untuk membandingkan kinerja keuangan yang terdiri dari Capital Adequacy Ratio (CAR), Non Performing Loan (NPL) Gross,

Return On Assets (ROA), Return On Equity (ROE), Loan to Deposits Ratio (LDR), Rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO), Price Earning Ratio (PER), dan

Price to Book Value (PBV) antara bank umum persero dan swasta nasional dominasi asing yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2011.

b. Uji Korelasi Spearman

Korelasi rank (jenjang) Spearman adalah sebuah metode yang diperlukan untuk mengukur keeratan hubungan antara dua variabel di mana dua variabel itu tidak mempunyai joint normal distribution dan conditional variance-nya tidak diketahui sama. Korelasi rank dipergunakan apabila pengukuran kuantitatif secara eksak tidak mungkin atau sulit dilakukan. Dalam mengukur koefisien korelasinya, disyaratkan bahwa pengukuran kedua variabelnya sekurang-kurangnya dalam skala ordinal sehingga individu-individu yang diamati dapat diberi jenjang dalam dua rangkaian berurutan. Dalam analisis ini, hipotesis nihil yang akan diuji mengatakan bahwa dua variabel yang diteliti dengan nilai jenjangnya itu independen; artinya bahwa tidak ada hubungan antara jenjang variabel yang satu dengan jenjang dari variabel lainnya. Pengujian dapat didasarkan pada sampel kecil ataupun

sampel besar (apabila n ≥ 10).

Korelasi ini dapat juga disebut sebagai korelasi bertingkat, korelasi berjenjang, korelasi berurutan, atau korelasi berpangkat. Korelasi rank dipakai apabila :

1. Kedua variabel yang akan dikorelasikan itu mempunyai tingkatan data ordinal

2. Jumlah anggota sampel di bawah 30 (sampel kecil) 3. Data tersebut memang diubah dari interval ke ordinal 4. Data interval tersebut ternyata tidak berdistribusi normal

Besarnya hubungan antara dua variabel atau derajat hubungan yang mengukur korelasi berpangkat disebut koefisien korelasi berpangkat atau koefisien korelasi Spearman yang

dinyatakan dengan lambang rs. Korelasi rank berguna untuk mendapatkan :

1. Kuatnya hubungan dua buah data ordinal

2. Derajat kesesuaian dari dua penilai terhadap kelompok yang sama

3. Validitas konkuren alat pengumpul data

Uji korelasi Spearman digunakan karena objek penelitian sedikit (kurang dari 30) untuk menganalisis hubungan struktur kepemilikan dengan kinerja keuangan pada bank umum persero dan swasta nasional dominasi asing yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2011.

3.5.4 Perumusan dan Pengujian Hipotesis

Hipotesis merupakan pernyataan dan jawaban mengenai suatu uji yang diharapkan dapat teruji kebenarannya serta mampu memberikan gambaran terbaik dalam menyelesaikan permasalahan yang telah dirumuskan sebelumnya.

Perumusan hipotesis pada uji Kruskal-Wallis adalah sebagai berikut :

Ho : Dinyatakan bahwa tidak ada perbedaan kinerja keuangan pada bank umum persero dan swasta nasional dominasi asing yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2011.

Ha : Dinyatakan bahwa ada perbedaan kinerja keuangan pada bank umum persero dan swasta nasional dominasi asing yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2011.

Perumusan hipotesis pada uji korelasi Spearman adalah sebagai berikut :

Ho : Dinyatakan bahwa tidak terdapat kaitan antara struktur kepemilikan dengan kinerja keuangan pada bank umum

persero dan swasta nasional dominasi asing yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2011. Ha : Dinyatakan bahwa terdapat kaitan antara struktur

kepemilikan dengan kinerja keuangan pada bank umum persero dan swasta nasional dominasi asing yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2011.

Dimana Ho menunjukkan bahwa hipotesis nol dan Ha menunjukkan hipotesis alternatif. Pengujian hipotesis tersebut perlu dilakukan untuk melihat kelayakan model yang dirancang serta untuk mengetahui apakah variabel independennya memiliki pengaruh yang signifikan atau tidak terhadap variabel dependen. Uji signifikansi terhadap konstanta dan masing-masing variabel independen ditujukan oleh besarnya nilai probabilitas hasil output, dan nilai ini dapat diketahui dari p-value-nya, F hitung, dan t hitung.

Adapun pedoman yang digunakan untuk menerima atau menolak Hipotesa adalah sebagai berikut :

1. Ho diterima jika F atau t hitung lebih kecil dari F atau t tabel, dan atau nilai p-value pada kolom sig lebih besar dari level of significant (α), sehingga Ha ditolak.

2. Ha diterima jika F atau t hitung lebih besar dari F atau t tabel, dan atau nilai p-value pada kolom sig lebih kecil dari level of significant (α), Sehingga Ho ditolak.

Tingkat = 1 persen dipilih karena untuk memperkecil toleransi kesalahan yang mungkin akan terjadi.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Struktur Kepemilikan Bank

1. Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk

Bank Negara Indonesia menawarkan saham perdana kepada masyarakat dan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya pada tahun 1996. Hal ini menjadikan BNI sebagai bank pemerintah pertama yang menjadi perusahaan terbuka. BNI melakukan penambahan modal dari pemerintah melalui program rekapitulasi perbankan Indonesia tahun 1999. Pada tahun 2007, BNI menerbitkan saham baru yang dicatatkan di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya, bersamaan dengan program divestasi saham pemerintah. Dengan selesainya kedua program tersebut, kepemilikan publik meningkat menjadi 23,64%. Pada tahun 2010, BNI menerbitkan saham baru melalui Penawaran Umum Terbatas (Rights Issue) sehingga kepemilikan publik meningkat menjadi 40%.

Gambar 3. Struktur Kepemilikan BNI tahun 2010-2011

Hal tersebut menjadikan struktur kepemilikan BNI tahun 2010 hingga akhir 2011 berubah, dapat dilihat pada Gambar 3 sebesar 60% dimiliki oleh pemerintah Republik Indonesia dan 40% saham selebihnya

Pemerintah 60,00% Public Asing 22,99% Public domestik 17,01%

dimiliki oleh pemegang saham publik baik individu maupun institusi, domestik, dan asing (Annual Report Bank Negara Indonesia, 2010-2011).

2. Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk

Sejak 1 Agustus 1992 berdasarkan Undang-Undang Perbankan No. 7 tahun 1992 dan Peraturan Pemerintah RI No. 21 tahun 1992 status BRI berubah menjadi perseroan terbatas. Kepemilikan BRI saat itu masih 100% di tangan Pemerintah Republik Indonesia. Pada tahun 2003, Pemerintah Indonesia memutuskan untuk menjual 30% saham bank ini, sehingga menjadi perusahaan publik dengan nama resmi PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., yang masih digunakan sampai dengan saat ini. Saat ini, saham BRI tergabung dalam indeks saham LQ-45 dan menjadi salah satu saham unggulan (blue chip) di BEI. Pada tanggal 11 Januari 2011, BRI telah melaksanakan pemecahan nilai nominal saham dengan perbandingan 1 : 2.

Gambar 4. Struktur Kepemilikan BRI tahun 2010-2011

Pada tahun 2010, BRI melakukan penjualan saham kembali, sehingga presentase kepemilikan saham BRI berubah. Gambar 4 menunjukan struktur kepemilikan BRI tahun 2010 hingga akhir 2011, dapat terlihat pemerintah Republik Indonesia memegang mayoritas saham BRI, yaitu sebesar 56,75%, dan sisanya sebesar 43,25% dimiliki oleh pemegang saham publik (Annual Report Bank Rakyat Indonesia, 2010-2011).

Pemerintah 56,75% Public

3. Bank Tabungan Negara (Persero), Tbk

Bank Tabungan Negara menjadi bank pertama di Indonesia yang melakukan sekuritisasi aset melalui pencatatan transaksi Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragunan Aset (KIK-EBA) di Bursa Efek Indonesia. Pada tahun yang sama, Bank BTN melepaskan 2.360.057.000 lembar saham, setara dengan 27,08% dari total saham Bank BTN, dan tercatat sebagai emisi IPO terbesar di tahun 2009 dengan nilai dana sebesar Rp1,88 triliun.

Gambar 5. Struktur Kepemilikan BTN tahun 2010-2011

BTN melakukan penjualan saham kembali ke masyarakat, sehingga presentase kepemilikan saham BTN berubah. Perubahan presentase kepemilikan BTN tahun 2010 hingga akhir 2011 dapat terlihat pada Gambar 5, yaitu sebesar 71,91% dimiliki pemerintah dan sisanya sebesar 28,09% dimiliki oleh pemegang saham publik (Annual Report Bank Tabungan Negara, 2010-2011).

4. Bank Mandiri (Persero), Tbk

Setelah melalui proses panjang dan persiapan yang sangat berat, pada tanggal 14 Juli 2003 akhirnya Bank Mandiri melaksanakan pencatatan saham perdana dengan kode saham BMRI di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya. Pada penawaran saham perdana tersebut, saham Bank Mandiri mengalami oversubscribed sebesar lebih dari 7 kali.

Proses divestasi saham Pemerintah pada Bank Mandiri tersebut didasarkan pada Peraturan Pemerintah No.27 Tahun 2003 tentang

Pemerinta h 71,91% Public

Penjualan Saham Negara Republik Indonesia pada Bank Mandiri. Dalam Peraturan Pemerintah tersebut dijelaskan bahwa penjualan saham Bank Mandiri akan dilakukan melalui Pasar Modal dan atau kepada mitra strategis dengan jumlah maksimal 30% dari jumlah saham yang telah dikeluarkan dan disetor penuh.

Dalam pelaksanaan IPO tersebut, Bank Mandiri telah menawarkan 20% dari jumlah saham yang telah dikeluarkan dan disetor penuh atau sejumlah 4.000.000 (empat juta) Saham Biasa Atas Nama Seri B milik Negara Republik Indonesia dengan nilai nominal sebesar Rp.500 per saham dan harga penawaran sebesar Rp.675 pe saham.

Pada tahun 2004, Pemerintah merencanakan untuk melakukan divestasi lanjutan sebesar 10% sebagaimana persetujuan divestasi saham Pemerintah pada Bank Mandiri sesuai PP No.27 Tahun 2003 sebesar maksimum 30%.

Rapat Umum Pemegang Saham pada tanggal 29 Mei 2003 telah memberikan persetujuan program ESOP (Employee Stock Option Plan) dalam bentuk ESA (Employee Stock Alocation) kepada seluruh pegawai dan tambahan program MSOP (Management Stock Option Plan) untuk manajemen dengan kriteria tertentu. ESA dilakukan melalui pemberian saham bonus (Bonus Share Plan) dan penjatahan saham dengan diskon (Share Purchase at Discount).

Gambar 6. Struktur Kepemilikan Bank Mandiri tahun 2010 Pemerinta

h 66,77% Public

Bank Mandiri melakukan penjualan saham kembali ke masyarakat, sehingga presentase kepemilikan saham Bank Mandiri berubah. Perubahan presentase kepemilikan Bank Mandiri tahun 2010 dapat terlihat pada Gambar 6 yang menunjukan 66,77% dimiliki oleh pemerintah dan 33,23% dimiliki oleh publik (Annual Report Bank Mandiri, 2010).

Gambar 7. Struktur Kepemilikan Bank Mandiri tahun 2011

Tahun 2011 pemerintah Republik Indonesia tetap menjadi pemilik mayoritas saham Bank Mandiri walaupun saham yang dimiliki pemerintah berkurang presentasenya dari tahun sebelumnya, yaitu sebesar 60% dan sisanya sebesar 40% dimiliki oleh pemegang saham publik dapat terlihat pada Gambar 7 (Annual Report Bank Mandiri, 2011).

5. Bank ICB Bumiputera, Tbk

Bank ICB Bumiputera mulai beroperasi sejak 12 Januari 1990 dengan nama Bank Bumiputera, sebagai perusahaan yang dimiliki oleh AJB Bumiputera 1912, perusahaan asuransi jiwa tertua di Indonesia. Bank berhasil bertahan pada krisis keuangan tahun 1998 sebagai Bank yang sehat dengan kategori A dan tidak melakukan rekapitulasi. Pada tahun 2002 Bank mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia dengan struktur pemegang saham sebagai berikut : AJB Bumiputera (37,50%), PT Cipta Usaha Citra Dana (37,50%), dan masyarakat (25%).

Berdasarkan persetujuan Bank Indonesia, maka tanggal 8 Mei 2007 telah dilakukan penjualan seluruh saham dan waran milik Tum Daim Zainuddin (pemilik PT. Cipta Usaha Dana) kepada ICB Financial Group

Pemerintah 60% Public

Holdings AG selaku pembeli. Komposisi kepemilikan saham Bank setelah penjualan saham menjadi sebagai tersebut : ICB Financial Group Holdings AG (67,071%), AJB Bumiputera 1912 (5,983%), dan masyarakat (26,946%).

Gambar 8. Struktur Kepemilikan Bank ICB Bumiputera tahun 2010

Selama Tahun 2010, terdapat transaksi saham dan penerbitan saham baru dari penukaran waran sehingga komposisi kepemilikan menjadi sebagai berikut: ICB Financial Group Holdings AG (69,99%), SGBT (7,29%), AJB Bumiputera 1912 (5,46%), dan masyarakat (17,26%) yang dapat dilihat pada Gambar 8 (Annual Report Bank ICB Bumiputera, 2010).

Gambar 9. Struktur Kepemilikan Bank ICB Bumiputera tahun 2011

Setelah adanya transaksi saham selama tahun 2011, dapat dilihat pada Gambar 9 susunan pemegang saham serta komposisi kepemilikan menjadi : ICB Financial Group Holdings AG (69,90%), SGBT (11,41%), AJB Bumiputera 1912 (5,46%), dan Masyarakat (13,23%) (Annual Report

Bank ICB Bumiputera, 2011).

ICB Financial Group Holdings 69,99% SGBT 7,29% AJB Bumiputer a 5,46% Public 17,26% ICB Financial Group Holdings 69,90% SGBT 11,41% AJB Bumiputera 5,46% Public 13,23%

6. Bank Ekonomi Raharja, Tbk

Bank Ekonomi adalah perusahaan publik yang telah mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia. Sejak 22 Mei 2009, Bank Ekonomi menjadi bagian dari grup institusi keuangan internasional, HSBC Holdings Plc., melalui anak perusahaannya, HSBC Asia Pacific Holdings (UK) Limited. Grup HSBC mengambil alih 88,89% saham Bank Ekonomi dan kemudian melalui penawaran tender, kepemilikannya meningkat menjadi 98,94% pada tahun 2010 sampai akhir 2011, 1,01% saham dimiliki oleh PT Surya Sakti Investments, dan masyarakat sebesar 0,04%, seperti dapat dilihat pada Gambar 10 (Annual Report Bank Ekonomi Raharja, 2010-2011).

Gambar 10. Struktur Kepemilikan Bank Ekonomi Raharja tahun 2010-2011 7. Bank Nusantara Parahyangan, Tbk

Berdasarkan keputusan RUPSLB tanggal 15 September 2000, Bank BNP mengubah status perusahaan menjadi perusahaan publik (terbuka) dan menawarkan 50.000.000 saham biasa kepada masyarakat dengan harga nominal Rp.500,- per lembar sahamnya, disertai dengan penerbitan waran sejumlah 20.000.000 lembar yang dicatatkan pada Bursa Efek Jakarta tanggal 10 Januari 2001, sehingga jumlah saham beredar saat itu menjadi sebanyak 150.000.000 saham dan sebagai akibat adanya

exercise waran sebanyak 8.275.000 lembar pada tahun 2004, maka jumlah saham beredar bertambah menjadi 158.275.000 saham.

HSBC 98,94% PT.Surya Sakti Investments 1,01% Public 0,04%

Pada bulan Juli 2006 dilakukan Penawaran Umum Terbatas (PUT 1) kepada pemegang saham atas sejumlah 158.275.000 lembar saham dengan harga penawaran terbesar Rp.550,- per saham, sehingga jumlah saham yang beredar yang telah dikeluarkan Bank BNP menjadi 316.550.000 saham. Tahun 2007 kepemilikan mayoritas saham Bank BNP telah beralih kepada ACOM CO.,LTD. Japan (ACOM) dan Bank of

Dokumen terkait